Author: stefano

  • Solusi Ada Jika Kita Percaya ‘Dia’ Ada

    Seorang ayah meninggal dan meninggalkan 3 orang anak laki-laki dengan 17 unta.

    Setelah beberapa hari sepeninggal ayah mereka, anak-anaknya membuka surat wasiat. Dalam wasiatnya sang ayah menyatakan bahwa anak sulung mendapatkan setengah dari 17 unta, sementara anak tengah mendapatkan 1/3 nya. Sedangkan si bungsu harus diberikan 1/9 dari 17 unta.

    Karena tidak mungkin untuk membagi 17 unta menjadi setengah atau dibagi menjadi 3 atau 9, ketiga anak itu mulai bertengkar.

    Akhirnya, tiga anak laki-laki itu pun memutuskan untuk mendatangi orang bijak.

    Si bijak mendengarkan dengan sabar tentang kisah mereka. Akhirnya, ia memberikan solusi, membawakan satu unta dan menambahkan pada seluruh unta. Jadi, jumlah unta sekarang menjadi 18 ekor.

    Sekarang, ia mulai membaca wasiat almarhum ayah mereka. Setengah dari 18 menjadi 9. Lalu, ia memberikan si sulung 9 ekor unta. Sepertiga dari 18 adalah 6, jadi ia memberikan si tengah 6 ekor unta. Dan sepersembilan dari 18 adalah 2, jadi ia memberikan si bungsu 2 ekor unta.

    Nah, sekarang jumlahkan kembali, 9 ditambah 6 ditambah 2 hasilnya adalah 17. Sisa satu ekor unta, akhirnya si bijak kembali mengambil untanya.

    Untuk mencapai solusi, langkah pertama adalah percaya bahwa ada solusi. Jika kita berpikir tidak ada solusi, maka kita tidak akan dapat mencapai apapun.

  • Kompetisi Pemancing Ikan

    Di suatu pulau yang terkenal keindahan pantainya, diadakan kompetisi memancing. Hadiah uang yang diperebutkan cukup menarik penduduk sekitar dan para wisatawan yang ada di sana. Hadiah itu diperuntukkan bagi peserta yang dapat menangkap ikan yang terbesar dan terbanyak sepanjang kompetisi itu berlangsung.

    Adalah tiga pemuda yang bersahabat dan sedang berwisata di sana berminat mengikuti kompetisi. Segeralah mereka menyiapkan peralatan dan perbekalannya masing-masing.

    Waktu berkompetisi tiba, ketiga pemuda itu memilih untuk berada dalam satu kapal karena persahabatan mereka. Pemuda pertama memilih berada di sisi kanan kapal, pemuda kedua di sisi kiri dan pemuda ketiga di buritan. Kapal dinakhodai oleh penduduk setempat yang mengetahui daerah-daerah yang banyak ikannya. Oleh nakhoda tersebut kapal diarahkan pada rute–rute yang menarik pemandangan alamnya.

    Pemuda pertama begitu serius memancing hingga tak menyadari bahwa kapal baru saja melewati palung dan gunung laut yang indah, ikan-ikan terbang dan lumba-lumba yang berlompatan. Waktu terasa begitu lama sebelum strike pertama ia dapatkan. Strike berikutnya saling susul menyusul dan pada akhirnya banyak ikan yang ia dapatkan meski bukan yang terbesar.

    Pemuda yang kedua sibuk mencari posisi duduk yang teraman karena tiap kapal terguncang oleh ombak yang besar maka airpun membasahi bajunya. Hingga di tengah perjalanan akhirnya iapun mendapatkan tempat teraman di belakang nakhoda namun umpan pancingnya hanya sekali disambar oleh ikan hingga waktu kompetisi berakhir.

    Pemuda ketiga juga memasang pancingnya di buritan kapal. Namun saat kapal melewati palung dan gunung laut maka ia segera berfoto bersama beberapa kru kapal, begitu pula ketika lumba-lumba berlompatan di dekat kapal ia pun segera mendekati sisi kapal yang terdekat, hingga bajunya basah namun tidak ia hiraukan karena tenggelam dalam rasa kagum. Kadang umpan pancingnya disambar meski tak semua dapat diselesaikannya dengan baik. Pada akhir kompetisi ia mendapatkan beberapa ikan yang kemudian dibagi-bagikannya pada kru kapal seusai penimbangan.

    Ketiga pemuda yang bersahabat akhirnya menyelesaikan kompetisi memancing. Pemuda pertama memenangkan kompetisi kategori pemancing yang mendapatkan ikan paling banyak dan merekapun kembali ke rumahnya masing-masing dengan membawa cerita dan kesan yang berbeda-beda.

    Terkadang kita memainkan peran kita seperti pemancing pertama, kedua, ataupun ketiga. Kita yang memilih sendiri hidup kita ingin seperti apa dan bagaimana. Apakah kita sudah bahagia? Bahagia seperti apa? Hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya. (BMSPS)

  • 1000 Kelereng

    Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.

    Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.

    Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara “Bincang-bincang Sabtu Pagi”. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.

    “Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.

    Ia melanjutkan: “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.

    Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya. “Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun.

    Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting.”

    “Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini,” sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.

    “Lalu aku pergi ke toko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya.” 

    “Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu.”

    “Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku befikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Tuhan telah memberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi.”

    “Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”

    Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.

    “Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan,” kataku, “Lho, ada apa ini…?” tanyanya tersenyum. “Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial,” jawabku,” Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.” (KR)

  • Berteriak saat Marah, Saling Tatap saat Jatuh Cinta

    Sang Guru sedang mengunjungi sungai Gangga untuk mandi.

    Ia menemukan sekelompok anggota keluarga di tepi sungai yang saling berteriak dengan nada marah pada satu sama lain. Ia berbalik kepada murid-muridnya, tersenyum dan bertanya, “Mengapa orang berteriak marah satu sama lain?”

    Murid-muridnya berpikir sejenak, salah satu dari mereka berkata, “Karena kita kehilangan ketenangan, maka kita pun berteriak.”

    “Tapi, mengapa Kau harus berteriak padahal hanya ada orang lain di sebelahmu? Bukankah bisa mengatakan dengan cara yang lembut,” tanya Sang Guru.

    Para murid berebutan memberikan sejumlah jawaban, tetapi tidak ada yang memuaskan.

    Akhirnya Guru menjelaskan, “Ketika dua orang marah, hati mereka saling menjauh. Untuk menutupi jarak, mereka harus berteriak agar dapat mendengar satu sama lain. Semakin mereka marah, maka mereka harus berteriak semakin kuat agar dapat mendengar satu sama lain yang ‘jarak hatinya’ semakin jauh.

    Apa yang terjadi ketika dua orang jatuh cinta? Mereka tidak berteriak satu sama lain tetapi berbicara lembut. Karena hati mereka sangat dekat. Jarak antara mereka juga tidak ada, atau sangat kecil.

    Ketika mereka saling mencintai, apa yang terjadi? Mereka tidak berbicara, hanya berbisik. Mereka saling dekat satu sama lain dalam cinta mereka.

    Akhirnya bahkan mereka tidak perlu berbisik, mereka hanya melihat satu sama lain saja. Itulah seberapa dekat dua orang ketika mereka saling mencinta.”

    Guru menatap murid-muridnya dan berkata, “Jadi, ketika kalian berdebat, jangan biarkan hati saling menjauh. Jangan ucapkan kata-kata yang membuat jarak satu sama lain. Atau yang lain akan datang ketika jarak begitu besar karena kalian tidak menemukan jalan untuk kembali.”

  • [Humor] Interview

    INTERVIEW
    Interviwer: There are 500 bricks on a plane. You drop one outside. How many are left?
    Applicant: That’s easy, 499

    Interviewer: What are the three steps to put an elephant into a fridge?
    Applicant: Open the fridge. Put the elephant in. Close the fridge.

    Interviewer: What are the four steps to put a deer into the fridge?
    Applicant: Open the fridge. Take the elephant out. Put the deer in. Close the fridge.

    Interviewer: It’s lion’s birthday, all the animals are there except one, why?
    Applicant: Because the deer is in the fridge. 

    Interviewer: How does an old woman cross a swamp filled with crocodiles?
    Applicant: She just crosses it because the crocodiles are at the lion’s birthday. 

    Interviewer: Last question. In the end the old lady still died. Why?
    Applicant: Err….I guess she drowned?
    Interviewer: No! She was hit by the brick you dropped. You may leave now.

  • Kebenaran yang Menyesatkan

    Ada seorang pelaut yang bekerja di kapal yang sama selama tiga tahun. Pada suatu malam, ia mabuk. Ini adalah pertama kalinya hal itu terjadi. Kapten kapan menulisnya dalam buku catatan, “Pelaut itu mabuk malam ini.”

    Pelaut itu membacanya, dan ia tahu komentar ini akan mempengaruhi kariernya, maka ia pergi menghadap Kapten. Ia meminta maaf, dan meminta Kapten untuk menambahkan dalam tulisannya bahwa itu hanya terjadi sekali dalam tiga tahun ia bekerja. Ia berharap Kapten menuliskan kebenaran secara lengkap. Kapten menolak dan berkata, “Apa yang saya tulis dalam buku catatan adalah kebenaran.”

    Hari berikutnya giliran pelaut menulis dalam buku catatan. Ia menulis, “Kapten tidak mabuk malam ini.” Kapten membaca komentar itu dan meminta pelaut itu untuk mengubah atau menambahkan penjelasan untuk melengkapi kebenaran. Karena dalam catatan tersebut menjadi tersirat kalau kapten mabuk setiap malam. Pelaut itu mengatakan kepada kapten bahwa apa yang ia tulis dalam buku catatan adalah kebenaran.

    Kedua pernyataan itu benar, tetapi mereka menyampaikan pesan-pesan yang menyesatkan bagi orang lain yang membaca buku catatan tersebut. Untuk itu, waspadalah pada hal-hal tersebut.

  • Kisah Genghis Khan dan Rajawali Kesayangannya

    Suatu hari, bersama burung rajawali kesayangannya, Genghis Khan berkuda memasuki hutan. Tanpa sadar, ternyata dia sudah berkuda lebih lama dari yang dia perkirakan. Khan pun mulai merasa sangat letih dan haus.

    Sayang, upayanya mencari air ternyata tidak mudah. Hampir semua mata air yang ditemuinya telah kering. Maka, betapa senangnya dia, ketika menemukan ada air yang menetes dari bebatuan yang berdiri persis di depannya.

    Si rajawali dia lepaskan dari lengannya. Kemudian Khan mengambil cangkir perak yang ada di pelana kudanya. Segera dia mengisi cangkir tersebut dengan air, lalu langsung mengarahkan cangkir tersebut ke mulutnya. Namun, si rajawali tiba-tiba menghampiri Khan dan menjatuhkan cangkir tersebut sebelum meminum airnya.

    Kejadian berulang beberapa kali hingga akhirnya, dengan dipenuhi amarah, Khan mengeluarkan pedangnya. Si rajawali seolah tidak peduli dengan pedang di salah satu tangan Khan saat dia kembali menjatuhkan cangkir Khan. Tanpa basa-basi Khan langsung menghunuskan pedang tersebut di dada sang rajawali.

    Setelah itu ternyata tetesan air justru berhenti. Khan terpaksa mengikuti jejaknya, menuju pusat mata air. Betapa kagetnya Khan saat melihat seekor ular dengan bisa paling mematikan  mengambang di tengah mata air. Seandainya tadi dia sempat meminum air tersebut, dia pasti sudah mati.

    Khan pun kembali ke perkemahan dengan membawa sang rajawali yang sudah mati dalam pelukannya. Kemudian dia memerintahkan seorang seniman membuatkan patung emas burung itu.

    Di salah satu sayap patung tersebut tertulis:

    Saat seseorang sahabat melakukan hal yang tidak berkenan di hatimu sekalipun, dia tetaplah sahabatmu.

    Sementara di sayap satunya tertulis:

    Tindakan apapun yang dilakukan dalam angkara murka hanya akan membuahkan kegagalan.

    (Paolo Coelho dalam “Seperti Sungai yang Mengalir”)

  • Beberapa Orang Selalu Memandang Negatif

    Ada seorang pemburu yang membeli seekor ras anjing. Anjing itu bisa berjalan di atas air. Ia tidak bisa percaya jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri keajaiban itu. Pada saat itu, ia sangat senang dan ia bermaksud memamerkan perolehan barunya itu kepada teman-temannya.

    Ia mengundang teman-temannya untuk pergi berburu bebek. Setelah beberapa waktu, mereka menembak beberapa bebek dan pria itu memerintahkan anjingnya untuk pergi mengambil bebek yang tertembak. Sepanjang hari, anjing itu berlari di atas air dan terus mengambil bebek.

    Pemburu itu mengharapkan komentar dan pujian terhadap anjingnya yang luar biasa, tetapi tidak satu pun ia dapatkan. Saat mereka berjalan pulang, ia menanyakan temannya apakah ia melihat suatu yang aneh terhadap anjingnya. Temannya menjawab, “Ya, kenyataannya aku melihat sesuatu yang tidak biasa. Anjingmu tidak bisa berenang.”

    Ternyata, beberapa orang selalu melihat sisi negatif. (*)

  • Motivasi Positif atau Negatif

    Ini adalah kisah dua bersaudara. Salah satunya adalah seorang pecandu narkoba dan pemabuk yang sering memukuli keluarganya. Yang lain adalah seorang pengusaha yang sangat sukses dan dihormati dalam masyarakat serta memiliki keluarga yang luar biasa.

    Beberapa orang ingin mengetahui mengapa dua bersaudara dari orangtua yang sama ini dan dibesarkan di lingkungan yang sama, bisa begitu berbeda. Seseorang bertanya kepada pemuda pertama, “Mengapa Anda melakukan apa yang Anda lakukan saat ini? Anda adalah pecandu narkoba, pemabuk, dan Anda memukuli anggota keluarga Anda. Apa yang memotivasi Anda?”

    Pemuda itu menjawab, “Ayah saya.”

    Mereka bertanya lagi, “Memangnya kenapa dengan ayahmu?”

    Jawab pemuda itu, “Ayah saya adalah seorang pecandu narkoba, pemabuk, dan ia sering memukuli keluarga. Apa yang Anda harapkan dariku? Itulah saya.”

    Mereka lalu pergi ke saudara pemuda pertama itu yang melakukan segalanya dengan benar dan bertanya pertanyaan yang sama, “Kenapa Anda melakukan segalanya dengan benar? Apa sumber motivasi Anda?”

    Coba tebak, apa jawaban pemuda itu? “Ayah saya. Ketika saya masih kecil, saya terbiasa melihat ayah saya mabuk dan melakukan semua hal yang salah. Saya membuat pikiran saya bahwa itu bukanlah apa yang saya inginkan.”

    Kedua pemuda itu mendapatkan kekuatan dan motivasi mereka dari sumber yang sama, tapi ada yang menggunakannya secara positif dan lainnya secara negatif.

    Motivasi negatif membawa keinginan untuk memperoleh segala hal dengan cara yang lebih mudah namun terkadang berakhir dengan cara yang lebih menyakitkan. (*)

  • [Gambar] Be Grateful

    image

    Be thankful and stop complaining.
    (Buka di browser untuk dapat melihat gambarnya)