Author: stefano

  • [Cerita] Kura-kura dan Kalajengking

    Suatu hari, karena tak mampu berenang, seekor kalajengking meminta kepada seekor kura-kura agar memberinya tumpangan di punggungnya untuk menyeberangi sungai.

    “Apa kamu gila?” teriak kura-kura, “Kamu pasti akan menyengatku pada saat aku berenang dan aku akan tenggelam.”

    Kalajengking itu tertawa sambil menjawab, “Kura-kura yang baik, jika aku menyengatmu, kamu akan tenggelam, dan aku akan ikut bersamamu. Kalau begitu, apa gunanya? Aku tak akan menyengatmu karena ini berarti kematianku sendiri!”

    Untuk beberapa saat, kura-kura itu berpikir tentang logika dari jawaban tersebut. Akhirnya ia berkata, “Kamu benar…. Naiklah!”

    Kalajengking itu naik ke punggung kura-kura tadi. Namun baru setengah jalan, ia menyengat kura-kura itu dengan sengit.

    Sementara kura-kura mulai tenggelm perlahan-lahan menuju dasar sungai dengan kalajengking di atas punggungnya, ia mengerang dengan sedih, “Kamu ‘kan sudah berjanji, tapi sekarang kamu menyengatku! Mengapa? Sekarang kita sama-sama celaka.”

    Kalajengking yang tenggelam itu menjawab dengan sedih, “Aku tidak dapat menahan diri. Memang sudah tabiatku untuk menyengat.”

    Sahabat, ingatlah! Pelajari karakter seseorang sebelum menjadikannya sebagai teman. Peran yang dia mainkan akan mempengaruhi kehidupan Anda. Bagaikan tombol lift, teman itu akan membawa kita naik atau turun. Siapa bergaul dengan orang bijak akan menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal akan malang.

  • [Humor] Jangan menghujat DPR

    Tolong jangan menghujat DPR sebagai Wakil Rakyat karena menyetujui kenaikan BBM, sebab para anggota DPR sebenarnya sudah mati2an kerja keras dan MEWAKILI semua kepentingan kita (RAKYAT) :
    1. RAKYAT pengen KAYA sudah diwakili MEREKA
    2. RAKYAT pengen pake MOBIL MEWAH sudah diwakili MEREKA
    3. RAKYAT pengen RUMAH MEWAH sudah diwakili MEREKA
    4. RAKYAT pengen GAJI GEDE sudah diwakili MEREKA
    5. RAKYAT pengen TEMPAT KERJA NYAMAN sudah diwakili MEREKA
    6. RAKYAT pengen JALAN2 KE LUAR NEGERI sudah diwakili MEREKA
    jadi semua sudah TERWAKILI oleh MEREKA (DPR), jadi apa lagi?????
    sampai ke NERAKA pun MEREKA mau mewakili KITA (RAKYAT) thanks to all DPR.

    Selamat hari minggu. Stay happy 🙂

  • Kakek Dobri Dobrev

    98 year old Dobri Dobrev, a man who lost most of his hearing in the second world war, has traveled 25 kilometers every day for decades from his village in his homemade clothes and leather shoes to the city of sofia – a trip he made by foot until recently – where he spends the day begging for money.

    Though a well recognized fixture around several of the city’s churches, known for his prostrations of thanks to all donors, it was only recently discovered that he has donated every penny he has collected — over 40,000 Euros (~ $52,000) — towards the restoration of decaying Bulgarian monasteries and churches and the utility bills of orphanages. He is living entirely off his monthly state pension of 80 euros and the kindness of others.

  • [Cerita]Dosen Cerdas

    Ada 4 orang mahasiswa yang kebetulan telat ikut ujian semester karena bangun kesiangan. Mereka lantas menyusun strategi untuk kompak kasih alasan yang sama agar dosen mereka berbaik hati memberi ujian susulan.

    Mahasiswa A: “pak, maaf kami telat ikut ujian semester.”

    mahasiswa B: “iya pak. Kami berempat naik angkot yg sama dan ban angkot…nya meletus.”

    Mahasiswa C: “iya kami kasihan sama supirnya…. Jadinya kami bantu dia pasang ban baru.”

    Mahasiswa D: “oleh karena itu kami mohon kebaikan hati bapak untuk kami mengikuti ujian susulan.”

    Sang dosen berpikir sejenak dan akhirnya memperbolehkan mereka ikut ujian susulan. Keesokan hari ujian susulan dilaksanakan, tapi keempat mahasiswa diminta mengerjakan ujian di 4 ruangan yg berbeda.

    “Ah, mungkin biar tidak menyontek,” pikir para mahasiswa. Ternyata ujiannya cuma ada 2 soal. Dengan ketentuan mereka baru diperbolehkan melihat dan mengerjakan soal kedua setelah selesai mengerjakan soal pertama.

    Soal pertama sangat mudah dengan bobot nilai 10. Keempat mahasiswa mengerjakan dengan senyum senyum.

    Giliran membaca soal kedua dengan bobot nilai 90. Keringat dingin pun mulai bercucuran.

    Di soal kedua tertulis:

    “Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus..?

    =====

    Dalam kehidupan perkuliahan, seorang mahasiswa juga sering melakukan tindakan kebohongan dengan berbagai tujuan dan alasan. Salah satu tujuannya adalah melindungi teman atau bertujuan untuk kebaikan.

    Contohnya seperti tindakan “titip” absen yang sering dilakukan oleh beberapa mahasiswa. Seorang mahasiswa sering meminta temannya untuk memalsukan tanda tangan daftar hadir (absen) ketika tidak bisa menghadiri kelas. Tindakan seperti ini merupakan salah satu tindakan yang dapat berupa kebohongan langsung ataupun kebohongan demi kebaikan tergantung pada alasan dari penindak kebohongan.

    Sekecil apapun kebohongan yg kita lakukan tetap akan terungkap. Dan sebuah kebohongan bukanlah solusi dalam menyelesaikan masalah namun akan menambah masalah. Dan kejujuran itu lebih indah, setidaknya akan membuat kita lega setelah jujur.

  • [Video] Pendapat Deddy Corbuzier mengenai Pendidikan di Indonesia

    Aku tidak bilang kalau sekolah tidak perlu. Sekolah diperlukan agar anak-anak bisa mendapat bekal yang cukup untuk masa depannya. Yang menarik adalah bagaimana kita merespon performa si anak di sekolah? Jika ada nilainya yang merah, apa tindakan yang sebaiknya kita lakukan?

    Silahkan tonton video berikut, dan coba renungkan. Kalau mau diskusi disini, juga boleh.

  • Kisah 4 Anak dan Pohon Pir

    Seorang ayah menyuruh ke-4 anaknya ke hutan melihat sebuah pohon pir.

    Anak 1 pergi pada musim DINGIN,
    Anak 2 pada musim SEMI,
    yang 3 pada musim PANAS,
    dan yg ke 4 pada musim GUGUR.

    Anak 1: pohon pir itu tampak sangat jelek dan batangnya bengkok.
    Anak 2: pohon itu dipenuhi kuncup-kuncup hijau yg menjanjikan.
    Anak 3: pohon itu dipenuhi dengan bunga-bunga yang menebarkan bau yang harum.
    Anak 4: ia tidak setuju dengan saudaranya, ia berkata bahwa pohon itu penuh dengan buah yang matang dan ranum.

    Kemudian sang ayah berkata bahwa kalian semua benar, hanya saja kalian melihat di waktu yg berbeda.

    Ayahnya berpesan “Jangan pernah menilai kehidupan hanya berdasarkan satu masa yg sulit. Ketika kita sedang mengalami masa-masa sulit, segalanya terlihat tidak menjanjikan, banyak kegagalan dan kekecewaan, jangan cepat menyalahkan diri dan orang lain bahkan berkata bahwa kita tidak mampu, bodoh dan bernasib sial. Ditangan Tuhan hidup kita berarti, tidak ada istilah “nasib sial” bagi orang percaya.

    Kerjakan yang menjadi bagian kita dan percayalah Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya…

    Jika kita tidak bersabar ketika berada dimusim dingin, maka kita akan kehilangan musim semi dan musim panas yang menjanjikan harapan, dan kita tidak akan memanen hasil dimusim gugur.

    Kegelapan malam tidak selamanya bertahan, esok akan datang fajar yg akan mengusir kegelapan malam.

    Sumber: unknown

  • Pencurian di dalam pencurian

    Sebuah cerita menarik. Menunjukkan bahwa di dunia ini, hal-hal di dunia tidak lah sesimpel hitam dan putih. Be smart.

    During a robbery in Guangzhou, China, the bank robber shouted to everyone in the bank: “Don’t move. The money belongs to the State. Your life belongs to you.”

    Everyone in the bank laid down quietly. This is called “Mind Changing Concept” Changing the conventional way of thinking.

    When a lady lay on the table provocatively, the robber shouted at her: “Please be civilized! This is a robbery and not a rape!”

    This is called “Being Professional” Focus only on what you are trained to do!

    When the bank robbers returned home, the younger robber (MBA-trained) told the older robber (who has only completed Year 6 in primary school): “Big brother, let’s count how much we got.”

    The older robber rebutted and said: “You are very stupid. There is so much money it will take us a long time to count. Tonight, the TV news will tell us how much we robbed from the bank!”

    This is called “Experience.” Nowadays, experience is more important than paper qualifications!

    After the robbers had left, the bank manager told the bank supervisor to call the police quickly. But the supervisor said to him: “Wait! Let us take out $10 million from the bank for ourselves and add it to the $70 million that we have previously embezzled from the bank”.

    This is called “Swim with the tide.” Converting an unfavorable situation to your advantage!

    The supervisor says: “It will be good if there is a robbery every month.”

    This is called “Killing Boredom.” Personal Happiness is more important than your job.

    The next day, the TV news reported that $100 million was taken from the bank. The robbers counted and counted and counted, but they could only count $20 million. The robbers were very angry and complained: “We risked our lives and only took $20 million. The bank manager took $80 million with a snap of his fingers. It looks like it is better to be educated than to be a thief!”

    This is called “Knowledge is worth as much as gold!”

    The bank manager was smiling and happy because his losses in the share market are now covered by this robbery.

    This is called “Seizing the opportunity.” Daring to take risks!

    So who are the real robbers here?

  • Hadiah Dari Hati

    Ada sebuah legenda yang bertutur tentang penyikapan kita terhadap suatu pemberian. Bagaimana penerimaan dengan hati akan menempatkan pemberian itu lebih dari sebuah barang.

    Alkisah, seorang pemuda menjelajahi gurun dan menemukan air yang sebening kristal. Begitu dicecap, air itu terasa begitu manis. Pemuda itu lalu mengisi kantung kulitnya untuk gurunya saat ia kembali. Setelah perjalanan empat hari, ia memberikan air itu untuk gurunya yang kemudian meminumnya. Sang guru tersenyum hangat dan berterima kasih kepada muridnya untuk air manis itu. Pemuda itu kembali ke desanya dengan senang hati.

    Air itu masih bersisa dan guru mempersilakan murid lain untuk mencicipinya. Namun, apa yang terjadi? Banyak yang setelah mencecap air itu lalu memuntahkannya kembali. “Guru, air itu sudah busuk. Mengapa Anda berpura-pura seperti itu?”

    Sang guru menjawab, ”Kalian hanya mencicipi air. Saya mencicipi hadiah. Air itu hanyalah wadah untuk tindakan cinta kasih dan tidak ada yang lebih manis dari itu.”

    Pelajaran terbaik dari cerita itu adalah ketika kita menerima hadiah, hargailah itu dan ungkapkan rasa syukur telah diberi hadiah. Bisa jadi itu hanya sebuah nampan keramik atau gelang imitasi.

    Syukur tidak selalu datang secara spontan. Sayangnya, kebanyakan anak-anak dan orang dewasa hanya menghargai apa yang diberikan daripada perasaan yang terkandung di dalamnya. Kita harus mengingatkan diri kita sendiri dan mengajarkan anak-anak kita tentang keindahan dan kemurnian perasaan dan ungkapan terima kasih. Setelah semua, hadiah dari hati benar-benar karunia hati yang terdalam.

  • Jangan Ragu Untuk Memberi

    Jangan ragu untuk menolong seseorang dengan apa yang kita miliki meskipun hanya sedikit. Karena suatu saat kita pun akan memperoleh pertolongan kembali, entah bagaimana caranya.

    Sekali waktu seorang pria mendengar bahwa di tempat asing yang jauh ada pembakaran api suci. Ia bangkit dan meninggalkan rumahnya untuk mencari api suci dan ingin membawanya pulang ke rumahnya. Ia berpikir, “Ketika saya memiliki api ini, maka saya akan memiliki kebahagiaan dan kehidupan orang yang saya cintai akan memilikinya juga.”

    Ia pun melakukan perjalanan jauh, jauh, dan akhirnya menemukan api suci, yang menyala cahayanya. Dalam perjalanan kembali ia hanya punya satu kekhawatiran, “Bagaimana jika cahayanya mati.”

    Dalam perjalanan pulang ia bertemu seseorang yang kedinginan dan tidak memiliki apa pun. Api suci itu memintanya untuk memberikan sedikit apinya. Pria dengan api suci itu ragu-ragu sejenak. Bukankah cahaya itu terlalu berharga, terlalu suci untuk diberikan kepada seseorang yang biasa saja? Meskipun ragu, ia memutuskan memberikan sedikit apinya kepada orang yang kedinginan itu.

    Pria itu melanjutkan perjalanan pulang dan ketika ia hampir mencapai rumahnya, badai mengerikan datang. Ia mencoba untuk melindungi api suci itu dari hujan dan badai, tetapi akhirnya api itu malah mati.

    Untuk kembali ke tempat api suci itu diambil, rasanya tidak mungkin, ia tidak memiliki cukup kekuatan untuk kembali sejauh itu. Tapi ia cukup kuat untuk kembali kepada seseorang yang telah ia bantu dalam perjalanan pulang tadi.

    … dan dengan api yang diberikannya tadi, ia dapat menyalakan apinya kembali.

  • Kisah Nonoko dan Pencuri

    Nonoko adalah seorang Guru Zen tua yang hidup sendiri di salah satu pondok di kaki sebuah gunung. Pada suatu malam ketika ia sedang bermeditasi, masuklah seorang asing ke dalam pondoknya sambil mengacungkan pedang ke arahnya, meminta uangnya. Nonoko tidak menghentikan meditasinya sementara ia berkata kepada orang itu, “Semua uang saya ada di dalam mangkuk pada rak di atas sana. Ambillah semua yang kauinginkan, tetapi sisakan lima yen untuk saya. Minggu depan saya harus membayar pajak.”

    Orang asing itu mengambil semua uang yang ada di dalamnya dan mengembalikan lagi lima yen ke dalamnya. Ia juga mengambil jambangan yang sangat berharga di rak.

    “Bawalah jambangan itu dengan hati-hati,” kata Nonoko. “Jambangan itu mudah pecah.”

    Orang asing itu sekali lagi melihat sekeliling ruangan kecil yang kosong dan akan segera pergi.

    “Engkau belum mengucapkan terima kasih,” kata Nonoko.

    Orang itu mengucapkan terima kasih dan pergi.

    Hari berikutnya seluruh desa ribut. Banyak orang mengatakan bahwa mereka dirampok. Seseorang melihat jambangan tidak ada lagi pada rak di dalam pondok Nonoko dan bertanya apakah ia pun menjadi korban perampokan, “Tidak,” kata Nonoko. “Saya memberikan jambangan itu kepada seorang asing, dengan sejumlah uang. Ia mengucapkan terima kasih kepada saya dan pergi. Ia seorang  yang menyenangkan, hanya sedikit sembrono dengan pedangnya!” (The Prayer of The Frog)