Positive Thinking
Positive thinking adalah saat kamu berjalan dan menengadah keatas dan tiba-tiba burung menjatuhkan kotorannya tepat ke mukamu.
Dan kamu tidak marah dan tidak menangis, bahkan bersyukur bahwa kebo tidak bisa terbang seperti burung
Suatu ketika, Lao Tsu sedang bepergian dengan murid-muridnya dan mereka menemukan hutan dimana para penebang pohon sedang menebangi semua pohon, kecuali sebuah pohon besar dengan ribuan cabang. Pohon itu begitu rindang hingga banyak orang bisa berteduh di bawahnya. Waktu murid-murid Lao Tsu disuruh bertanya kenapa pohon itu tak ditebang, para penebang berkata, “Pohon ini sama sekali tak berguna. Mau bikin apa dari pohon seperti ini karena setiap cabangnya penuh benjolan dan tidak lurus”.
Waktu jawaban itu disampaikan pada guru, Lao Tsu tertawa.
“Jadilah seperti pohon itu. Bila kau tampak cantik dan tanpa cacat benjolan kau akan menjadi komoditi di pasar. Jadilah seperti pohon yang tak ditebang ini yang meskipun kelihatan tak berguna, tapi sesungguhnya ia memberi kesejukan bagi banyak orang”.
Kelirumologi adalah istilah humoris untuk merujuk kepada beberapa kekeliruan logika dalam pembentukan frasa dan kata yang sudah terlalu sering dipakai pengguna Bahasa Indonesia sehingga dianggap benar. Dari judul artikel ini, tentulah yang akan saya bahas adalah kekeliruan logika dalam pembentukan istilah “Kristen dan Katolik”.
Banyak umat Katolik di Indonesia terjebak pada istilah yang salah kaprah yaitu “Kristen dan Katolik” di mana umat Katolik berpikir bahwa Katolik bukanlah Kristen. Ada pula yang ditanya, “Anda seorang Kristen?”; tetapi umat Katolik tersebut malah menjawab “Bukan, saya seorang Katolik”. Salah kaprah di Indonesia termasuk dalam pembuatan KTP menyebabkan istilah yang tidak tepat “Kristen dan Katolik” mendarah-daging di mana pemahamannya nama “Kristen” itu merujuk kepada Protestan sementara “Katolik” kepada Katolik. Sayangnya, karena kesalahkaprahan yang sudah mendalam ini, sulit sekali untuk mengoreksinya secara luas. Meskipun begitu, umat Katolik hendaknya berprinsip membiasakan yang benar daripada membenarkan kebiasaan.
Permasalahan ini ternyata sudah pernah dijelaskan dan dipecahkan oleh seorang Bapa Gereja, St. Pacianus (310-391 M), Uskup Barcelona dari tahun 365-391 M. St. Pacianus menulis sebuah surat-surat (epistula) kepada Sympronianus yang berisi Seruan Pertobatan dan Penjelasan Mengenai Pembaptisan. Pada surat pertamanya, St. Pacianus berbicara mengenai nama “Katolik”.
St. Pacianus berkata:
“Kristen adalah nama saya, tetapi Katolik adalah nama belakang saya (my surname). Yang pertama memberikan saya sebuah nama, yang terakhir membedakan saya. Oleh yang satu saya diterima, oleh yang lainnya saya ditandai.”
St. Pacianus melanjutkan:
“Dan bila pada akhirnya kita harus memberikan pertanggungjawaban atas kata “Katolik” dan mengambilnya dari bahasa Yunani oleh interpretasi Latin; [makna] “Katolik” adalah “di seluruh” atau sebagaimana orang terpelajar pikir “ketaatan dalam semuanya” yaitu dalam semua perintah Allah. Yang dari Rasul [Paulus], “apakah kamu taat dalam segala sesuatu” (2 Kor 9:12) dan lagi “sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.” (Rom 5:19). Oleh karena itu, barangsiapa adalah Katolik, orang yang sama adalah taat. Barangsiapa adalah taat, orang yang sama adalah seorang Kristen dan dengan demikian Katolik adalah Kristen. Oleh karena itu, umat kita (our people), ketika dinamai Katolik, dipisahkan oleh sebutan ini dari nama yang sesat (heretical name).”
Dari pernyataan St. Pacianus dari Barcelona di atas, kita dapat melihat bahwa seorang Katolik pastilah seorang Kristen. Perlulah umat Katolik pahami bahwa identitas kita adalah Kristen Katolik, yaitu Pengikut Kristus (Kristen) di dalam Gereja Katolik yang kita imani sebagai satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus.
Sebagaimana yang dinyatakan St. Pacianus dari Barcelona di atas, nama “Katolik” digunakan untuk membedakan Gereja Kristus yang benar dari kelompok-kelompok sesat. Memang benar bahwa Gereja Kristus ini pada mulanya belum memiliki nama. Tetapi, kemunculan kelompok-kelompok yang mengajarkan ajaran sesat (di mana mereka juga mengaku Kristen) pada abad-abad pertama akhirnya membuat Gereja yang didirikan Kristus ini bernama Katolik. Santo Pacianus dari Barcelona menjelaskannya:
“Ketika setelah masa Para Rasul, ajaran sesat telah meledak dan menyebar dengan berbagai nama untuk merobek sedikit demi sedikit dan memecahbelah. Bukankah umat Apostolik memerlukan nama mereka sendiri untuk menandai kesatuan orang-orang yang tidak rusak? Misalkan, hari ini, saya masuk ke sebuah kota yang padat. Ketika saya menemukan Marcionit, Apolinarian, Catafrigian, Novasian dan berbagai macam dari mereka yang menyebut diri mereka Kristen; dengan nama apa saya harus mengenal jemaat saya sendiri bila bukan diberi nama Katolik?”
Arti kata “Kristen” adalah “Pengikut Kristus”. Saat ditanya “Apakah anda seorang Kristen?”, perlu diperhatikan bahwa bila kita umat Katolik menjawab “Saya bukan Kristen, saya seorang Katolik.” maka akan muncul dua hal yang keliru yaitu:
1. Anda menyangkal diri anda seorang pengikut Kristus (Kristen).
2. Anda menunjukkan bahwa Katolik bukanlah pengikut Kristus (Kristen).
Nah, apakah kita umat Katolik mau menyangkal diri kita seorang pengikut Kristus? Tentu tidak bukan. Kalau begitu, mari kita biasakan yang benar. Katolik adalah Kristen. Kita adalah Kristen Katolik, pengikut Kristus di dalam Gereja Katolik. Mungkin akan muncul pertanyaan dari non-Katolik, “Kamu tadi bilang kamu seorang Kristen tapi kenapa kamu ikut Misa di Katolik? Kan Kristen itu beda dari Katolik.” Ya dijelaskan saja kesalahkaprahan tersebut agar orang tersebut mengerti.
Jadi, saya tanya kepada anda umat Katolik: “Apakah anda seorang Kristen?” ^_^ Silahkan jawab dengan benar.
Tambahan:
1. Gereja Katolik sejak dari awal sampai sekarang memang seringkali diserang dengan berbagai ajaran yang salah dan menyimpang (bidaah). Beberapa ajaran tersebut dapat dilihat di artikel ini.
2. Pada masa sekarang ternyata muncul juga Gereja atau persekutuan gerejawi yang menggunakan nama “Katolik” tetapi sebenarnya bukan “Katolik”. Perlu diketahui bahwa ciri yang pasti dari Katolik adalah persatuan penuh dengan Paus, Uskup Roma. Mereka yang tidak bersatu dengan Paus bukanlah umat Gereja Katolik.
3. In fact, kata “Katolik” ada dalam Kitab Suci. Silahkan baca artikel ini.
Sumber : Indonesian Papist
“But how to do it?”, itu adalah ucapan seorang tamu di acara Oprah Show. Si wanita ini adalah penderita anorexia. Dia diundang oleh Oprah untuk tampil ke acaranya. Seorang tamu lainnya mencoba untuk menasihati si wanita ini “Kamu harus mengisi otakmu dengan hal-hal yang positif. Jangan biarkan otakmu mati”. Dan jawaban wanita itu sungguh simpel “But how to do it?”.
Aku rasa dalam hidup kita, kita sering sekali menyuruh atau menasihati atau menceramahi orang lain. “Kamu tuh harus gini, harus gitu, jangan gini, jangan gitu”. Tapi satu hal yang kita lupakan, kita tidak mengajari mereka bagaimana cara melakukannya. Contoh saja, kalau ada teman kita yang baru putus dengan pacarnya, kalimat yang paling sering diucapkan adalah “lupakan saja dia. Jangan tangisi dia”. But how to do it? Bukan kah lebih baik kalau kita menemani dia, mengajak dia pergi nonton Iron Man 3, pergi makan enak, atau hal-hal lain yang memang bisa membantu teman kita merasa lebih baik, dibanding dengan hanya berkata dan membiarkan temanmu memikirkan sendiri cara melakukannya.
Semoga ini bisa menjadi pembelajaran buat kita. Ketika kita mencoba menolong orang lain, mungkin lebih baik kalo kita lebih terperinci dan turut andil dalam membantu dia, dibanding hanya dengan bisa memberi pesan-pesan yang umumnya disampaikan. 🙂
Ini adalah cerita nyata dari Bapak Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment. Beliau juga sangat sukses dalam memajukan industri Reksadana di Indonesia. Apa yang diutarakan beliau adalah sangat benar sekali. Silakan baca dan dihayati.
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun.
Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas
tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas sore dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah. Pada suatu hari, ke empat anak suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-kata: “sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.
Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya:
“Anak-anakku… Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah.. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian. Sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun.”
“Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”
Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak suyatno. Mereka pun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan mereka pun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio, kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita..
”Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan”.
“Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama. Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…”
Semoga cerita ini bermanfaat untuk Anda renungkan apa “Arti Kesetiaan”, Amin.
Sebenarnya hal ini sempat terlintas di pikiranku sih. Seperti yang kita ketahui, lahan untuk pemakaman semakin susah saja, terutama di kota-kota besar. Di kotaku sekarang (Manokwari) pun, agak susah untuk mendapatkan lahan untuk pemakanan. Selain masalah lahan, masalah tetek bengek yang lain juga banyak. Jadi memang aku sempat kepikiran, bagaimana ya kalo kremasi?
Kemarin malam kebetulan nemu tulisan ini di facebook. Intinya adalah:
1. Gereja menghimbau sebaiknya dikuburkan kalau tidak ada halangan apa pun. Kenapa dikuburkan? Ada dua alasan. Pertama, kita percaya bahwa pada akhir jaman, kita akan dibangkitkan lagi oleh Tuhan, bukan cuma bangkit secara roh tapi termasuk badan kita (bagian “kebangkitan badan” di doa Aku Percaya”. Kedua, karena tubuh manusia semasa hidupnya merupakan tempat tinggal Roh Kudus, maka ketika dia sudah meninggal, hendaknya tubuh itu diperlakukan dengan hormat. Dan secara kebudayaan, manusia sejak dahulu kala selalu menguburkan orang yang meninggal. Menguburkan dan memberikan batu nisan akan memberi kehormatan kepada yang meninggal, serta merupakan pengingat kepada kita akan orang tersebut. Secara sejarah, biasanya kalau kita tidak menyukai seseorang, maka jasadnya akan dibakar.
2. Jika memang tidak dimungkinkan untuk dikuburkan, atau ada alasan-alasan lain, misal keinginan pribadi dari orang yang meninggal, maka Gereja tidak melarang proses kremasi, selama bukan dilakukan karena tidak percaya akan Kebangkitan Badan (lihat atas). Walau pun sudah dikremasi, hendaknya abu itu masih tetap diperlakukan dengan hormat, seperti diletakkan di wadah yang layak, dan disimpan di tempat yang dikhususkan (mausoleum atau sejenisnya).
3. Proses menaburkan abu jenazah di laut, di gunung, di udara, atau dimana pun tidak disarankan, karena mengurangi penghormatan kepada yang sudah meninggal.
Bagi yang ingin membaca lebih lengkap penjelasan mengenai hal ini, bisa membuka tautan ini.
Semoga bermanfaat 🙂
Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal terdampar di pulau yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya, dan setiap hari dia mengamati langit mengharapkan pertolongan, tetapi tidak ada sesuatu pun yang datang.
Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai. Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar, asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah, hilanglah semuanya.
Dia sedih dan marah. “Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?” dia menangis. Pagi-pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya. “Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?” tanya pria itu kepada penyelamatnya. “Kami melihat tanda asapmu”, jawab mereka.
Mudah sekali untuk menyerah ketika keadaan menjadi buruk. Tetapi kita tidak boleh goyah, karena Tuhan bekerja di dalam hidup kita, juga ketika kita dalam kesakitan dan kesusahan. Ingatlah, ketika gubukmu terbakar, mungkin itu “tanda asap” bagi kuasa Tuhan. Ketika ada kejadian negatif terjadi, kita harus berkata pada diri kita sendiri bahwa Tuhan pasti mempunyai jawaban yang positif untuk kejadian tersebut.
Kamu berkata, “Itu tidak mungkin.”
Tuhan berkata, “Tidak ada hal yang tidak mungkin.” (Lukas 18:27)
Kamu berkata, “aku terlalu capai.”
Tuhan berkata, “Aku akan memberikan kelegaan padamu.” (Matius 11:28)
Kamu berkata, “Tidak ada seorangpun yang mencintai aku.”
Tuhan berkata, “Aku mencintaimu.” (Yohanes 3:16-Yohanes 13:34)
Kamu berkata, “Aku tidak bisa meneruskan.”
Tuhan berkata, “Kasih karuniaKu cukup.” (2 Korintus 12:9 – Mazmur 91:15)
Wartakanlah ini pada siapa yang membutuhkan, percayalah ada saat-saat di mana kita merasa bahwa “gubuk” kita terbakar.
Decide to be a blessing to everyone you meet today. Forgive anyone who has hurt you, and leave unresolved circumstances in God’s hands.
Baru saja, pas lagi gonta-ganti channel TV, nyantol di NHK World. Mereka lagi ada acara liputan mengenai seorang reporter asing yang mewawancarai anak-anak korban tsunami Jepang Maret 2011 lalu.
Aku sih gak nonton acaranya dari awal. Aku cuma nonton pas bagian penutupnya saja. Namun disini aku mendapat sebuah pelajaran yang menarik, yang datang dari pemikiran anak-anak kecil itu.
“Janganlah kita memfokuskan kejadian tsunami itu pada kematiannya saja, namun kita harus fokus kepada kehidupan. Ingatlah untuk merawat diri kita sendiri. Cintailah dan hargailah kehidupan.”
Sebuah pemikiran yang kadang kita lupakan. Ketika kita mengingat tentang sebuah tragedi, kita cuma mengingat hal-hal buruk dari tragedi itu. Kita menjadi merasakan emosi negatif. Namun kita jarang mengambil nilai positifnya. Tragedi-tragedi yang terjadi itu menunjukkan bagaimana hidup kita begitu rentan, bisa diambil Tuhan sewaktu-waktu.
Kadang-kadang kita terlalu fokus mengejar ambisi kita sehingga kita melupakan mengenai diri kita. Padahal apa pun itu yang kita kejar, jika kita tidak hidup untuk menikmatinya, apa lah gunanya?
Live your life to its fullest. Don’t take it for granted 🙂
Bagi yang tinggal di indonesia, dan mengikuti perkembangan berita, pasti tahu rencana pemerintah untuk menetapkan dua jenis harga bensin: 4500 untuk motor dan kendaraan pelat kuning, dan 6500 untuk mobil pelat hitam dan merah. Sebagai akibat adanya dua harga ini, maka pom bensin akan dibagi dua juga, ada yang menjual bensin dengan harga 4500, dan ada yang.menjual bensin dengan harga 6500.
Kata menteri ESDM Jero Wacik, opsi ini adalah opsi tersimpel dari opsi-opsi lain yang lebih rumit. Benar kah begitu? Yang aku lihat, pemerintah hanya mencoba menghindari kemarahan orang-orang menengah ke bawah (target mereka dalam kampanye pemilu 2014), jadi mereka memilih cara ini. Tapi apakah cara ini cara terbaik?
Aku gak tahu di surabaya atau jakarta, tapi di Manokwari sini, proses penyedotan bbm dari tangki bensin kendaraan sangat umum dilakukan. Beberapa meter saja dari SPBU, ada kios kecil yang menjual BBM eceran. Disitu kamu bisa melihat alat penyedot BBMnya, dipajang begitu saja di pinggir jalan. Banyak motor yang bolak balik antara kios itu dan SPBU. Aku rasa gak perlu orang pintar untuk mengetahui apa yang terjadi. Aku herannya sih kenapa polisi atau pertamina tidak turun tangan terhadap kondisi ini. Padahal inilah yang menyebabkan kita kesulitan mencari BBM di SPBU. Terpaksa kita harus membeli BBM eceran yang jelas lebih mahal.
Dengan lebih murahnya harga bensin untuk motor dan kendaraan pelat kuning, aku mencurigai aktivitas penyedotan BBM ini akan lebih marak lagi. Kalau saja kios-kios itu menjual bensinnya dengan harga 6000 per liter, sudah bisa dijamin orang-orang gak akan membeli di SPBU. Kalau itu terjadi, maka rencana brilian pemerintah ini sama aja dengan gagal, paling gak gagal di daerah-daerah. Kalau di kota besar seperti surabaya dan jakarta, aku rasa kios-kios semacam ini mungkin akan mulai menjamur.
Jadi apakah ini memang langkah tersimpel dari semua pilihan yang rumit? Aku gak merasa begitu. Langkah ini penuh dengan celah-celah yang bisa dimanfaatkan oknum-oknum nakal. Tapi aku tahu bahwa kebijakan ini adalah langkah yang paling aman bagi pemerintahan sekarang menjelang pemilu nanti. Karena pemilik mobil biasanya adalah orang-orang menengah ke atas, yang gak akan membuang waktu dengan demo di jalan menentang kenaikan BBM. Jadi langkah ini adalah Low Risk but Big Flaws.
“Pintar” kan pemerintah kita?