Author: stefano

  • Realita Di Balik “Pria Pemilih”

    Tulisan ini aku ambil dari Hitman System

    Ada sebuah sesi yang selalu saya, Lex dan Kei tunggu-tunggu setiap kali memulai workshop , yakni Tell Your Stories. Para peserta akan menceritakan latar belakang, motivasi mengikuti HSEW, serta kisah-kisah sedih dari kehidupan romance
    mereka. Kenapa sesi ini sangat kami sukai? Karena sesi selalu membawa saya, Kei, dan Lex kembali melayang ke masa lalu, saat kami masih melakukan apa yang mereka lakukan serta mendapatkan hasil yang sama.

    Patah Hati.

    Kesedihan.

    Menangis.

    Dada terkoyak.

    Dan berbagai sindrom pilu lainnya.

    Jadi ketika salah seorang peserta HSEW XV kemarin mengaku, “Iya nih, gue nungguin satu wanita yang sama selama 9 tahun,” jantung saya seketika kehilangan irama normalnya.

    DEG!!! Saya nyaris melompat dari kursi saat mendengarnya, berbarengan dengan para crew yang menggeleng-geleng kepala dengan
    takjub. Kemudian saat saya, Kei, dan Lex mulai mempreteli setiap paragdima mereka dan alasan mengapa mereka terus gagal dalam romance, peserta mengaku ‘digantung’ oleh wanita selama bertahun-tahun di atas itu mengeluarkan celetukan, “Eh, temen wanita gue banyak kok, tapi gue emang tipe pemilih aja sih, jadinya susah untuk dapetin yang pas.”

    Pada detik itu juga saya ingin menghajarnya dengan asbak di atas meja. Tapi berhubung biaya pelatihan tidak termasuk premi asuransi jiwa, maka saya mengurungkan niat tersebut. Jadi yang bisa saya lakukan hanya berkata, “BULLSHIT!!! Gak ada pria yang gak dapet wanita karena dia pemilih. Elo gak dapet wanita ya karena emang lo ada melakukan kesalahan, bukan karena elo tipe pria pemilih! Justru karena elo emang gak punya pilihan dan tidak mampu menciptakan pilihan makanya elo jadi nunggu satu wanita selama 9 tahun!” sambil membayangkan menghajarnya bolak-balik dengan mesin peluncur rudal antar-benua. Kasar? Kejam? Terlalu vulgar dalam bertata-bahasa?

    That’s what we do in every workshop. Kami menghajar peserta dengan keras karena mereka telah mengeluarkan uang untuk dihajar sekeras-kerasnya untuk dapat bangkit dan sadar dari tidur nyenyaknya. Guys, salah satu proses menjadi Glossy adalah mengenal diri sendiri dan membuang ilusi-ilusi bodoh di dalam diri kita. Salah satunya adalah ilusi alasan bahwa Anda adalah seorang ‘pria pemilih.’

    Saya teringat beberapa tahun yang lalu saat masih duduk di SMA, saya sering kali berkata seperti itu, “Ah gue emang tipe pemilih sih”, “Gue milih-milih wanita, man, musti liat semuanya dulu baru gue bakalan PDKT,” atau ratusan omong kosong lainnya seputar alasan serupa lainnya mengapa saya belum pacaran atau terlihat dekat dengan wanita manapun.

    ‘Pria pemilih’ menjadi realita palsu yang selalu saya gunakan dahulu. Mungkin Anda termasuk pria yang menggunakannya juga dalam kehidupan Anda sehari-hari sekarang ini. Saat itu, realita ‘pria pemilih’ begitu kental melekat dengan diri saya, bahkan saya anggap sebuah kebenaran yang absolut.

    Bertahun-tahun kemudian, saya baru mulai menyadari kekonyolan tindakan itu. Alasan ‘pria pemilih’ yang sering saya dan Anda pakai dalam konteks tersebut adalah sebuah defense mechanism yang berguna untuk sebagian atau malah seluruh alasan berikut ini:
    • mencegah saya terlihat atau dinilai tidak laku oleh teman-teman,
    • menutupi bahwa saya juga sebenarnya tidak tahu bagaimana cara mendekati lawan jenis,
    • memberikan asumsi bahwa saya memiliki cita rasa tertentu dan setiap wanita harus melalui proses seleksi yang cukup ketat, bukannya seperti pria putus-asa yang siap menerima siapa saja yang datang ke arahnya

    Anda keberatan? Tidak masalah, tunggu saja beberapa tahun lagi, Anda pasti akan mengerti maksud saya. Ketika saya menyadari hal-hal di atas, alasan dan realita bahwa saya adalah ‘pria pemilih’ menjadi sesuatu yang tolol bin menyedihkan.

    Mari beranalogi bersama-sama.
    Cerita A: Seorang pria masuk ke toko CD. Ia berjalan mengelilingi lorong musik Jazz, Pop, dan RnB. Setelah sibuk melihat sana dan sini, membaca track lagu, membandingkan sejumlah musisi, ia akhirnya membeli album terbaru Level 42.

    Cerita B: Pria lainnya masuk ke toko yang sama. Ia langsung menuju lorong musik RnB. Setelah sibuk melihat sana sini mencari sebuah judul album, berputar untuk mengecek di sejumlah rak dan lorong yang berbeda, dan bertanya pada shop assistant, ia keluar tanpa menenteng apa-apa.

    Cerita C: Pria ketiga masuk ke toko CD yang sama, berjalan di setiap lorong yang tersedia di sana, melirik kesana-kemari, lalu keluar tanpa membeli apa-apa. Temannya yang menunggu di luar bertanya, “Kok gak jadi beli? Kan banyak yang bagus-bagus?” Dia menjawab, “Ah, gue kalo beli CD tuh milih-milih. Tadi gak ada yang bagus sih,” dan temannya mengangguk-angguk sambil berkata, “Oh gue juga sih, pemilih banget deh soal musik.”

    Melihat kasus di atas, pria A dan B
    kemungkinan besar memang sudah
    mempersiapkan diri dengan sejumlah
    kemampuan yang diperlukan, misalnya persediaan finansial, pengetahuan tentang musik dan minat sejumlah genre, atau fokus pada sebuah album tertentu. Sekalipun pria B dan C sama-sama tidak keluar menenteng tas belanjaan, namun ada perbedaan yang dapat dibedah. Mempertimbangkan sejumlah alasan, maka kita akan sampai pada kedua kemungkinan logis di bawah ini tentang pria C di atas:
    • dia tidak membawa cukup uang, jadi supaya tidak malu dia tinggal mengaku dirinya tipe pemilih.
    • dia tidak tahu musik mana yang bagus karena hidupnya hanya seputar online game, chatting, Friendster, dan sejenisnya. Apa yang dia tahu seputar musik hanya soundtrack Winning Eleven atau game lainnya serta ringtone handphone. Namun agar tidak malu, dia tinggal mengaku dirinya tipe pemilih.

    Itulah sebabnya pria A dan B lebih tepat dan masuk akal bila di sebut jelas adalah tipe pria pemilih dalam pengertian yang sebenarnya! Seorang pria layak menyebut dirinya ‘pria pemilih’ bila dia mampu mendapatkan pilihan yang diinginkan , atau setidaknya berada dalam realita bahwa dia memiliki sejumlah pilihan, atau sanggup menciptakan pilihan! Anda bisa mengerti sekarang mengapa alasan ‘pria pemilih’ oleh pria B itu terdengar sangat menyedihkan? Apakah Anda pernah melakukannya untuk konteks romance?

    Mari kita kupas lebih dalam. Hanya ketika Anda memiliki Power to Bargain atau Power to Buy, Anda boleh memakai paradigma dan realita ‘pria pemilih’ karena hal tersebut akan memungkinkan Anda untuk memilih dan memutuskan ‘produk’ terbaik yang Anda inginkan. Ketika Anda tidak memiliki kemampuan di atas, Anda hanya berlagak saja memiliki pilihan dan menjadi seorang pemilih dalam petualangan romantis Anda.

    Pada kenyataannya, bukan saja Anda tidak mampu memilih sebuah ‘produk’ yang Anda inginkan, bahkan Anda sendiri kemungkinan besar belum memiliki pilihan apapun. Ilusi realita ‘pria pemilih’ yang Anda pakai juga memiliki dampak lainnya. Misalnya saat Anda gagal mendekati dan mendapatkan wanita yang diinginkan , Anda akan mengumandangkan kembali pada alasan, “Ah, santai aja, toh wanita itu emang bukan tipe gue.”

    Defense mechanism yang muncul
    untuk menyelamatkan ego Anda tersebut akan menghalangi untuk belajar kesalahan atau kekurangan apa yang perlu Anda perbaiki untuk memastikan Anda tidak berakhir dengan hasil yang sama lain kali. Anda memilih untuk menipu diri, daripada menelan rasa malu untuk mengakui bahwa diri Anda tidak memiliki kekuatan untuk mendapatkan wanita yang Anda mau, rasa malu untuk mengakui kalau Anda sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang bagaimana caranya mendapatkan wanita yang diinginkan. Kalau Anda sekarang ini baru saja ditolak oleh wanita yang Anda suka, atau Anda sudah belasan tahun menjomblo dan usaha Anda mendekati wanita selalu gagal, dan sering memakai alasan, “Gue tipe pemilih sih man. Si Jennifer itu bukan tipe gue banget. Malesin deh, makanya gue mundur aja.”

    Tanyakan pada diri Anda sendiri sekarang:
    Apa Anda memang benar-benar menyadari dan merasa memiliki kemampuan untuk memilih wanita manapun yang Anda inginkan untuk dijadikan partner?

    Atau pikiran dan perasaan itu hanya muncul agar Anda terhindar dari rasa malu bahwa Anda terus-menerus jomblo, tidak mengerti banyak soal cara mendekati wanita, dan selalu berakhir pada penolakan?

    Silakan jawab pada hati nurani Anda sendiri.

    Setelah itu, mulai detik ini biasakan untuk berseru, “Bullshit!” kepada setiap teman Anda yang menyatakan bahwa dirinya adalah ‘cowo pemilih,’ sementara kenyataannya Anda bisa melihat sendiri itu adalah alasan superfisial yang lebih nyaring daripada tong kosong manapun. Jangan lupa untuk berseru, “Bullshit!” pada diri Anda sendiri setiap kali Anda mendapati mulut dan kepala Anda ingin memakai realita bodoh itu.

    ‘Cowo pemilih’ adalah salah satu ilusi
    berbahaya yang menjadi masalah utama banyak pria di luar sana. Ilusi tersebut mencegah Anda untuk melihat ke dalam diri sendiri. Ilusi tersebut mencegah Anda untuk
    mengenali lebih kekurangan yang Anda miliki, terlebih lagi mengakuinya. Ilusi tersebut membuat Anda berpikir kalau Anda mampu membuat pilihan sementara kenyataannya tidak pernah ada pilihan sama sekali. Ilusi tersebut menghambat diri Anda untuk memperbaiki diri, terus tenggelam dalam pusaran yang gelap, sampai akhirnya ketika Anda sadar dan ingin mengubah keadaan, semuanya sudah terlambat.

    Guys, wake up and smell the coffee.
    Coba jadi jujur dengan hati Anda, dan tidak perlu malu atau terkejut bila menemukan ternyata Anda suka berlindung dibalik alasan ‘pria pemilih.’ Be proud that finally you are strong enough to admit it, and realize that you’re not alone. I’ve been there. Lex and Kei have been there also.

    Together, we can walk you to the glossy reality.

    Are you coming?

    Sahabat Anda,

    Jet Veetlev

  • Mendidik Anak

    Kemarin saat mengobrol di teras rumah teman, tiba2 kami mendengar suara keras dari seorang anak kecil. Ternyata suara anak kecil tsb berasal dari sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah teman saya.Sesaat kemudian ada suara keras lagi yang terdengar. Kali ini suara ibu dari anak tadi. Sahut-sahutan dengan suara keras pun terjadi antara ibu dan anak.. Dan saya pun berdiri untuk mengintip karena penasaran “Emang sering gitu tu anak. Kalo lagi ngambek teriak2. Trus ibunya ikutan teriak2”, ujar teman saya. “Oooo.. Yo pantes”, balas saya.

    Hanya seekor singa yang dapat mengajarkan anaknya untuk mengaum. Hanya seekor burung yang dapat mengajarkan anaknya untuk berkicau.

    Semoga menjadi renungan yang bermanfaat bagi kita semua

  • Benarkah Dia Belahan Jiwaku?

    by Corneliusluxveritatis7.wordpress.com
    November 20

    “I, N. N., take thee, N. N., for my lawful wife (husband), to have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, until death do us part.” – Catholic Marriage Vows

    Orang yang sedang mabuk asmara tentunya tidak jarang menanyakan pertanyaan berikut: “apakah ia belahan jiwaku?”; “mungkinkan ia cinta sejatiku?”. Sedangkan bagi orang Katolik yang pemahamannya memadai dan pernah belajar sedikit tentang Teologi Tubuh, maka pertanyaannya berupa “apakah ia sungguh pasangan yang dikehendaki Tuhan bagiku? Mungkin saya perlu melakukan discernmentuntuk itu.”

    Pertanyaan ini muncul karena dalam diri manusia terdapat kebutuhan untuk menjalin sebuah keintiman dengan seorang yang berbeda jenis, seseorang yang mengasihi kita dan mau menerima kita sebagaimana adanya. Lantas, sebenarnya apa yang ada di benak kita bila kita menggunakan istilah belahan jiwa atau jodoh tersebut?

    Belahan jiwa atau jodoh kelihatannya berarti orang yang tepat dan cocok untuk menjadi pendamping hidup kita. Seolah-olah, merekalah cinta sejati kita dan dengan hidup bersama, kita akan mengalami kebahagiaan. Tidak jarang kebahagiaan di sini berarti bahwa jodoh kita akan memenuhi semua kebutuhan kita, kita tidak akan berkekurangan dan menderita. Semua akan tampak baik. “Dan mereka hidup bahagia selamanya”, seperti yang dikatakan di akhir cerita dongeng. Padahal, kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai.

    Lalu, untuk menemukan jodoh yang tepat ini, mungkin orang Katolik akan mulai melakukan discernment untuk mengetahui apakah Ia memang dikehendaki Allah bagi kita. Namun, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa ia memang diciptakan Tuhan untuk menjadi pendamping hidup kita? Apa kita bisa sungguh yakin? Harus seberapa akuratdiscernement yang kita lakukan?

    Artikel dari Unam Sanctam berjudul “Courtship and Dating”menjabarkan bahwa konsep discernment hanya diterapkan untuk mengetahui apakah seseorang terpanggil menjalani hidup selibat atau hidup berkeluarga. Tidak pernah ada pemahaman “discernment untuk mengetahui siapa yang menjadi jodoh saya menurut kehendak Allah”. Persoalan siapa yang akan kita nikahi, merupakan hal yang tidak semestinya dipandang sebagai usaha mencari tahu kehendak Allah tentang jodoh kita secara pasti, melainkan dilihat sebagai kebijaksanaan manusia dalam mengambil keputusan.

    Tujuh Dampak Negatif dari Konsep Soulmate

    Namun, apa yang terjadi bila kita menganggap dengan serius bahwa memang ada jodoh kita di luar sana, yang harus kita temukan? Bagaimana bila pemikiran kita sungguh terpusat untuk menemukan belahan jiwa kita, cinta sejati kita, dengan kepercayaaan yang tidak disadari bahwa sang belahan jiwa akan memberikan kebahagiaan yang meniadakan kesusahan hidup? Ada beberapa jawaban yang bisa saya berikan.

    Pertama, akan muncul rasa tidak aman (insecure). Rasa tidak aman ini muncul bila kita melihat kelemahan pasangan kita, yang mungkin menimbulkan konflik. Kita akan tergoda untuk ragu dan bertanya-tanya, “apa benar ia sungguh jodoh saya? Bagaimana bila tidak demikian? Kalau begitu, saya harus sangat berhati-hati agar tidak salah memilih. Saya tidak mau hidup dengan orang yang salah.”

    Kedua, rasa cemburu juga akan tampil ke permukaan, karena bisa saja kita berpikir kalau di luar sana, akan ada pria atau wanita yang lebih baik, lebih sempurna, lebih cantik, lebih pengertian, dst daripada pasangan kita. Dampaknya, muncullah rasa cemburu terhadap invisible man or woman, sebuah sosok tanpa wajah yang tidak kita kenal, yang ada di luar sana, yang dapat membahayakan relasi yang sedang dibangun.

    Ketiga, rasa tidak aman dan cemburu ini juga berdampak pada melemahnya rasa saling percaya di antara pasangan. Kita terlalu takut kehilangan orang yang kita cintai. Kita resah memikirkan kemungkinan bahwa bisa saja pria atau wanita yang sedang berinteraksi dengan pasangan kita, dianggap sebagai belahan jiwa yang lebih sempurna. Akibatnya, timbullah rasa curiga yang berlebihan.

    Keempat, keyakinan tentang adanya soulmate malah menempatkan beban yang begitu besar ke pundak pasangan kita, karena kita memiliki keyakinan bahwa jodohku harus sempurna, ia bisa membahagiakan saya, memenuhi kebutuhan saya, tidak membuat saya menderita, dsb. Akibatnya, bisa saja pernikahan yang baru berjalan sebentar menjadi rapuh dan pecah. Seseorang merasa salah dalam memilih, dan tidak tahan menanggung kesulitan. Akibatnya, perceraian pun terlihat sebagai sebuah godaan yang menggiurkan, sebuah pintu yang akan menyelesaikan segala persoalan.

    Kelima, bila kita beranggapan bahwa soulmate kita harus memenuhi semua kebutuhan kita dan membahagiakan kita, ada kemungkinan bahwa kebahagiaan kita bergantung pada orang lain. Sebagai orang Katolik, satu-satunya sumber kebahagiaan kita ialah Allah. Dan kita disebut berbahagia bila kita menjalani delapan Sabda Bahagia dengan sungguh-sungguh. Bukan berarti kita ataupun pasangan kita boleh berhenti untuk mengasihi, melainkan bahwa tidak selayaknya kita mengharuskan atau menuntut kesempurnaan yang sangat tinggi terhadap mereka.

    Keenam, pemahaman soulmate yang serba sempurna akan membuat kita mudah kecewa kita menghadapi konflik dan bertemu dengan kelemahan ia yang menjadi pasangan kita. Kekecewaan ini dapat berujung pada sebuah perpisahan, dikarenakan kita merasa yakin ia bukan orang yang tepat bagi kita, bukan cinta sejati kita. Bila kita tidak berhati-hati, kita akan menjadi takut untuk membuat komitmen seumur hidup, atau kita akan terus melakukan pencarian cinta sejati tanpa henti, karena di luar sana akan tetap selalu ada orang yang lebih baik dari pasangan kita.

    Ketujuh, gambaran soulmate yang terlalu idealis dapat membuat kita sulit untuk berpuas diri terhadap kelemahan seseorang. Padahal, sikap kita seharusnya ialah mensyukuri apa yang sudah dipercayakan pada kita, termasuk pasangan kita. Ketidaksempurnaan pasangan kita, itulah yang dapat menguduskan kita, asal kita dapat mengolahnya dengan baik.

    Menemukan Konsep Pasangan Hidup yang Sejati

    Bila konsep belahan jiwa ini menimbulkan efek negatif, maka pertanyaannya ialah, sebagai seorang Katolik, bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan pencarian seorang pribadi yang hendak menjadi pasangan hidup kita?

    Suatu hari saya pernah bertanya kepada Bapa Pengakuan saya, “Romo, bagaimana saya bisa mengetahui kalau pacar saya itu sungguh merupakan pasangan hidup yang Tuhan kehendaki bagi saya?”, sang romo hanya menjawab demikian: “Kalau relasi kita sungguh intim dengan Allah, kita mungkin bisa tahu dengan pasti (maksudnya ialah kita dapat langsung bertanya dan mendengarkan jawaban Allah secara langsung), namun bila tidak, kita hanya bisa membaca tanda-tanda: apakah ia setia, apakah ia orangnya baik secara moral, rajin ke Gereja, tekun bekerja, dst.”

    Kita tidak pernah bisa merasa yakin secara absolut bahwa seseorang yang kita cintai memang sungguh dikehendaki Tuhan bagi kita. Kita tidak bisa berharap Allah akan membisikkan kata-kata di telinga kita, “Ya, dia adalah jodohmu!”

    Namun yang bisa kita lakukan ialah mengenal kepribadiannya. Kita perlu tahu apakah ia mengutamakan Tuhan dalam hidupnya, apakah ia sungguh berusaha menjalani hidup yang kudus dan murni, apakah ia memiliki karakter yang diperlukan untuk dapat menjalani hidup bersama, apakah ia berusaha mengembangkan keutamaan, tekun berdoa dan bekerja, setia dan rela berkorban, serta semua kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Setelah menimbang semua ini, dengan kejernihan hati dan budi, barulah kita dapat mengambil keputusan: Ya, saya ingin membangun keluarga dan menghabiskan seluruh hidup saya bersamanya.

    Oleh karena itulah maka dalam Misa Pernikahan, imam tidak pernah bertanya, apakah kalian saling mencintai, tetapiapakah kamu bersedia menerima dia sebagai suami atau istrimu? Bukan cinta, melainkan kehendak bebas, tekad, keputusan, atau komitmen yang seharusnya menjadi fondasi sebuah hubungan.

    Tidak ada yang namanya cinta sejati yang siap pakai, atau belahan jiwa yang sempurna tanpa cacat cela, karena akan selalu ada orang yang lebih baik daripada pasangan kita. Yang ada hanyalah sebuah ketegasan: Ya, saya mau mengasihinya dalam kerapuhannya, mau menjadi sempurna bersamanya dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, sampai maut memisahkan kita.

    Saat kita memutuskan untuk menikahinya, kita tidak akan pernah bisa tahu secara mutlak, apakah ia sungguh “jodoh saya.” Melainkan, kita baru akan mengetahuinya, ketika kita telah menjadi tua dan melihat ke belakang, memandang setiap momen yang telah dijalani dalam suka dan dukanya, lalu dapat berkata dengan tulus, “setelah semua yang terjadi, saya bersyukur telah memilih kamu sebagai istri [atau suami] saya.”

    Kita menikahi pasangan kita bukan karena ia adalah jodoh kita, melainkan karena kita bertekad untuk menjadikannya pendamping hidup kita, sampai maut yang memisahkan. Dan ini merupakan sebuah taruhan seumur hidup.

    Sebagai penutup, saya kira perkataan Tolkien berikut merangkum esensi artikel ini:

    “Nearly all marriages, even happy ones, are mistakes: in the sense that almost certainly (in a more perfect world, or even with a little more care in this very imperfect one) both partners might be found more suitable mates. But the real soul-mate is the one you are actually married to.” – J.R.R. Tolkien

  • Be Grateful

    “We spend a decent amount of time talking about what else you could be doing in your life, how fortunate we are basically just by the accident of birth,” Popovich said.

    “Think about it. It all starts with the accident of birth. Because you were born to these parents or this area geographically, or this situation, you deserve more than somebody else? Put that notion away. That’s the most false notion one can imagine.”

    “But I think a lot of people forget that. They think that they’re entitled to what they have. They don’t understand the opportunity that they have compared to somebody else. And they don’t understand the other person’s lack of opportunity, why he or she is in a certain situation they’re in. So we talk about those things all the time. You have no excuse not to work your best. You have no reason not to be thankful every day that you have the opportunity to come back from a defeat, because some people never even have the opportunity. So it’s the measure of what you’re worth, what you’re made of.” Gregg Popovich, San Antonio Spurs coach.

    Be grateful that you won something, not a lot of people can won it.
    Be grateful that you lose something, because you are given a lesson that not all people can have.
    Be grateful that you can read this post, because not all people can

  • Jendela Kereta Api

    Hari itu, di kereta api terdapat seorang pemuda bersama ayahnya. Pemuda itu berusia 24 tahun, sudah cukup dewasa. Di dalam kereta, pemuda itu memandang keluar jendela kereta, lalu berkata pada ayahnya, “Ayah lihat, pohon-pohon itu sedang
    berlarian”.

    Sepasang anak muda duduk berdekatan dengan mereka. Keduanya melihat pemuda 24 tahun tadi dengan kasihan. Bagaimana tidak, untuk seukuran usianya, kelakuan pemuda itu tampak begitu kekanakan. Namun seolah tak peduli, si pemuda tadi tiba-tiba berkata lagi dengan antusiasnya, “Ayah lihatlah, awan itu sepertinya sedang mengikut kita!”.

    Kedua pasangan muda itu tampak tak sabar, lalu berkata kepada sang ayah dari pemuda itu. “Kenapa anda tidak membawa putra anda
    itu ke seorang dokter yang bagus?” Sang Ayah hanya tersenyum, lalu berkata “Sudah saya bawa, dan sebenarnya kami ini baru saja dari rumah sakit. Anak saya ini sebelumnya buta semenjak kecil, dan ia baru mendapatkan penglihatannya hari ini.”

    Sahabat, setiap manusia di planet ini memiliki ceritanya masing-masing. Jangan langsung kita menghakimi seseorang sebelum kita mengenalnya benar. Karena kebenaran boleh jadi mengejutkan kita. Selalu berprasangka baik kepada setiap orang, karena itu yang diajarkan nabimu, dan itulah cara yang baik untuk hidup.

  • Rahasia Kebahagiaan

    Seorang pemilik toko menyuruh anaknya untuk belajar tentang rahasia kebahagiaan dari orang paling bijaksana di seluruh negeri. Anak itu melintasi padang pasir selama 40 hari, dan akhirnya tiba di sebuah kastil yang indah, tinggi di puncak gunung. Di sanalah orang bijak itu tinggal.

    Alih-alih mencari orang bijak tersebut, Si Anak malah melihat kesibukan yang sangat di dalam kastil tersebut: pedagang datang dan pergi, orang-orang bercakap-cakap di sudut-sudut, orkestra kecil sedang memainkan musik lembut, dan ada meja ditutupi dengan piring-piring makanan paling lezat di seluruh dunia. Si orang bijak berbicara dengan setiap orang, dan anak muda itu harus menunggu selama dua jam sebelum tiba gilirannya untuk dapat bertemu dengannya.

    Orang bijak mendengarkan dengan seksama penjelasan anak itu mengapa ia datang, tetapi orang bijak tersebut mengatakan bahwa ia tidak punya waktu saat itu untuk menjelaskan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan agar anak itu melihat-lihat istana dan kembali dalam dua jam. “Sementara itu, saya ingin meminta Anda untuk melakukan sesuatu”, kata orang bijak, sambil menyerahkan anak itu sebuah sendok teh berisi dua tetes minyak. “Saat Anda berjalan-jalan, bawa sendok ini bersama Anda dan jangan membiarkan minyaknya tumpah”.

    Anak itu mulai mendaki dan menuruni banyak anak tangga dalam istana, sambil matanya tertuju pada sendok. Setelah dua jam, ia kembali ke ruang di mana orang bijak itu berada. “Nah”, kata si orang bijak, “Apakah Anda melihat permadani Persia yang tergantung di ruang makanku? Apakah Anda melihat taman yang butuh waktu sepuluh tahun untuk menciptakan? Dan apakah Anda melihat perkamen indah dan koleksi di perpustakaan? ” Anak itu merasa malu, dan mengaku bahwa ia tidak sempat melihat apapun. Satu-satunya kekhawatirannya adalah menumpahkan minyak yang telah
    dipercayakan kepadanya. “Kembali dan ulangi lagi, amati dan nikmati lingkungan dan keindahan rumah ini”, kata orang bijak. “Anda tidak bisa mempercayai seseorang, kalau tidak mengenal rumahnya”.

    Merasa lega, anak itu mengambil sendok
    dan kembali menjelajahi istana, kali ini dia
    mengamati semua karya seni di langit-
    langit dan dinding. Dia melihat kebun,
    pegunungan di sekelilingnya, keindahan
    bunga-bunga, dan mencoba menikmati apa yang telah dilihatnya. Setelah itu ia kembali ke orang bijak, ia bercerita tentang apa-apa yang telah dilihatnya.

    “Tapi di mana tetes minyak yang saya percayakan kepada Anda?” tanya si orang bijak. Melihat ke bawah ke sendok di tangannya, anak itu melihat bahwa minyak telah hilang. “Nah, hanya ada satu nasihat yang bisa kuberikan Anda”, kata orang paling bijak.
    “Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjubkan di dunia dan tidak pernah melupakan tetes-tetes minyak di sendok”.

    Penulis: Paul Coelho dalam “The Alchemist”

  • Refleksi Diri

    Suatu hari 4 orang praktisi zen yang bersahabat sedang berjalan bersama. Lalu salah satu dari mereka mengajukan ide untuk bermeditasi bersama malam itu. Semuanya setuju. ‘Tapi kita harus buat kesepakatan. Supaya meditasinya berjalan khidmat, tidak boleh ada yang berbicara atau menimbulkan bunyi berisik apapun, setuju?’. Semuanya menyetujuinya.

    Malam itu, seperti dijanjikan, mereka berkumpul di rumah salah satu praktisi untuk bermeditasi bersama, dengan ditemani sebatang lilin kecil. Tiba-tiba angin kencang bertiup, dan memadamkan lilin kecil tersebut.

    Praktisi 1: Oh tidak, lilinnya sudah mati tertiup angin….
    Praktisi 2: sssstttt, bukannya kita dilarang berbicara apa-apa?
    Praktisi 3: Mengapa kalian berdua melanggar kesepakatan kita?!?!?!
    Praktisi 4: Hehehe, hanya saya yang tidak melanggar kesepakatan

    Betapa mudahnya kita ‘menyoroti’ kesalahan dan kelemahan orang lain, dan betapa sulitnya kita ‘bercermin’ pada kesalahan dan kelemahan diri kita sendiri. Bercermin tentang kesalahan dan kelemahan diri sendiri, adalah sebuah langkah pertama dalam proses pengembangan diri sendiri, menuju hasil yang lebih baik.

    Kalau langkah pertamanya saja sulit kita laksanakan, bagaimana kita mau gembar-gembor bahwa kita sedang ‘berkembang’ atau ‘mengejar nilai kehidupan yang lebih baik’ ?

  • Asah Kapak Anda

    Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran pekerjaan seorang untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin. Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

    Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

    Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan.

    “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi. Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”

    “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”, kata si penebang. “Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

    Istirahat bukan berarti berhenti Tetapi mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan
    menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !

    Dari cerita motivasi kerja diatas, kiranya Anda semua dapat menyimpulkan bagaimana cara kerja yang baik, tanpa harus selalu menguras tenaga terus menerus, untuk mendapatkan hasil kerja yang maksimal. Semoga sedikit cerita motivasi kerja ini dapat menginspirasi kita semua. Amien

    sumber: Andrie Wongso

  • Si Penjual Kerupuk

    Kisah ini diceritakan oleh Bp Chappy Hakim
    (mantan KSAU).

    Pada tahun 1969, saya mengikuti latihan para dasar, terjun payung statik di pangkalan Udara Margahayu Bandung. Menjalani latihan yang cukup berat bersama dengan lebih kurang 120 orang dan ditampung dalam dua barak panjang tempat latihan terjun tempur.

    Setiap makan pagi, siang dan malam hari yang dilaksanakan di barak, kami memperoleh makanan ransum latihan yang diberikan dengan ompreng dan atau rantang standar prajurit. Diujung barak tersedia drum berisi sayur, dan disampingnya ada sebuah karung plastik berisi kerupuk milik seorang ibu setengah baya warga sekitar asrama prajurit yang dijual kepada siapa saja yang merasa perlu untuk menambah lauk makanan yang terasa kurang lengkap bila tidak ada kerupuk.

    Sang ibu paruh baya ini, tidak pernah menunggu barang dagangannya. Setiap pagi, siang dan malam menjelang waktu makan, dia meletakkan karung plastik berisi krupuk dan disampingnya diletakkan pula kardus bekas rinso untuk uang, bagi orang yang membeli kerupuknya. Nanti setelah selesai waktu makan dia datang dan mengemasi karung plastik dengan sisa kerupuk dan kardus berisi uang pembayar kerupuk.

    Iseng, saya tanyakan, “apakah ada yang nggak bayar Bu?” Jawabannya cukup mengagetkan, dia percaya kepada semua siswa latihan terjun, karena dia sudah bertahun-tahun berdagang kerupuk di barak tersebut dengan cara demikian. Hanya meletakkan saja, tidak ditunggu dan nanti setelah semuanya selesai makan, dia baru datang lagi untuk mengambil sisa kerupuk dan uang hasil jualannya. Selama itu, dia tidak pernah mengalami defisit. Artinya tidak ada satu pun pembeli kerupuk yang tidak bayar. Setiap orang memang dengan kesadaran mengambil kerupuk, lalu membayar sesuai harganya. Bila dia harus bayar dengan uang yang ada kembaliannya, dia bayar dan mengambil sendiri uang kembaliannya di kotak rinso kosong tersebut. Demikian seterusnya.

    Beberapa pelatih terjun bercerita bahwa dalam pengalamannya, semua siswa terjun payung yang berlatih disitu dan menginap di barak latihan tidak ada yang berani mengambil kerupuk dan tidak bayar. Mereka takut, bila melakukan itu, khawatir payung nya tidak mengembang dan akan terjun bebas serta mati berkalang tanah.

    Sampai sekarang, saya selalu berpikir, mengapa orang sebenarnya bisa jujur dan dapat dipercaya, hanya karena pintu kematian berada didepan wajahnya. Yang saya pikirkan, bagaimana caranya membuat manusia setiap saat berada dalam kondisi atau suasana latihan terjun, mungkinkah?

  • Letakkan Gelas Anda

    Suatu hari seorang profesor memulai sebuah kelas dengan mengangkat gelas berisi air. Ia mengangkat gelas tersebut dan bertanya kepada siswanya, “Berapa kira-kira berat gelas ini?”
    “Satu ons!” “Dua ons!” Tiga ons!” terdengar jawaban bersahutan dari siswa-siswanya. ”Saya tidak begitu pasti sampai saya menimbangnya,” kata profesor, “tapi pertanyaan saya adalah apa yang terjadi jika saya mengangkatnya selama semenit?”

    “Tak kan terjadi apa-apa”, kata siswa-siswa tersebut.

    “Baik, jika saya mengangkatnya selama satu jam?” tanya professor.

    “Tangan Anda akan terasa pegal”, jawab para siswa.

    “Kalau saya angkat selama seharian penuh?”

    “Tangan Anda akan sakit, bahkan mungkin bisa terluka otot-ototnya dan Anda harus dirawat di rumah sakit tentunya”, jawab salah satu siswa dan disambut tawa seluruh siswa di kelas tersebut.

    “Tepat sekali”, jawab professor. “Tapi apakah kesakitan saya tersebut disebabkan karena berat gelas tersebut berubah?” lanjut profesor. “Tidak,” jawab siswa serentak, “itu karena otot-otot Anda menerima tegangan yang terlalu lama”.

    Profesor kembali bertanya, “Lalu apa yang harus saya lakukan?” Seisi kelas terdiam. Tiba-tiba salah seorang siswa menjawab, “Letakkan gelas tersebut”.

    “Excactly, tepat sekali!” jawab sang profesor. “Problem dan masalah dalam hidup dapat diibaratkan mengangkat gelas ini. Camkan kata-kata ini, mengangkatnya lebih lama akan membuatmu merasa pegal. Mengangkat lebih lama lagi dapat membahayakanmu, bahkan dapat membunuhmu.”

    “Sangat penting berpikir tentang tantangan-tantangan dalam hidup, tapi akan LEBIH PENTING meletakkannya sejenak setiap, mengakhiri hari saat kalian semua beranjak tidur dan tidak membawanya bersama tidurmu. Dengan begitu kalian tidak akan merasa tertekan, kalian bangun di pagi hari dengan rasa segar, kuat dan tegar menghadapi setiap tantangan dan masalah yang datang.”

    Pelajaran:
    “Kegagalan bukanlah suatu masalah yang besar. Anda harus pernah merasakannya untuk mengetahui apa arti sebuah kesuksesan. Banyak orang tidak siap dengan sebuah situasi kegagalan. Belajarlah dari kegagalan meski itu terjadi berkali-kali!”