Author: stefano

  • Original atau Tiruan?

    John Mason, seorang penulis buku An Enemy Called Average, berkata, “Semua orang lahir original tapi kebanyakan mati sebagai tiruan.”

    Mengapa demikian? Karena banyak orang tidak melihat keunikan dan kelebihan yang ada pada diri sendiri. Mereka lebih suka melihat kelebihan orang lain, dan meniru orang lain; mulai dari gaya berpakaian, gaya rambut, cara berbicara, cara berjalan, bahkan sampai gaya hidup orang lain ditiru habis-habisan.

    Padahal Tuhan sudah mendesain hidup kita begitu sempurna pada pemandanganNya. Kita masing-masing, berharga dimataNya, dan diberikan keunikan yang berbeda satu sama lain.

    Demikian juga apa yang cocok untuk orang lain, belum tentu cocok untuk kita. Karena kita semua didesain dan diciptakan berbeda satu sama lain. Begitu uniknya kita diciptakan, hingga semua manusia yang diciptakan Tuhan di seluruh jagad raya ini, tidak akan pernah ada, yang sama persis dengan kita. Yang kembar identik saja, tetap ada perbedaan dan keunikan sendiri.

    Dalam hidup kita dituntut untuk memaksimalkan keahlian kita, mengembangkan kelebihan yang sudah Tuhan ciptakan dalam diri kita. Bukan untuk mengubah apa yang sudah diciptakan Tuhan dengan berusaha menjadi tiruan orang lain.

    Jika selama ini kita tidak pernah tahu keunikan dan kelebihan kita, inilah waktunya untuk menggali dan mengembangkannya. Bersyukurlah kepada Tuhan yang sudah mendesain diri kita sebagaimana adanya kita yang sekarang. Dia pasti sudah menciptakan kita untuk maksud yang mulia, bahkan sejak dalam kandungan ibu kita.

    Jangan menjadi korban tren. Jangan menjadi manusia tiruan. Barang tiruan itu murah, yang asli atau original itu sudah pasti lebih mahal. Tidak peduli gemuk, kurus, hitam, atau putih, kita semua berharga bagi Tuhan.


    Tambahan:
    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • Bakso dan Mangkoknya

    Pada suatu kali Andi mengikut acara rekreasi sebuah komunitas. Saat acara makan tiba, salah satu makanan favorit peserta adalah bakso. Maka, anak-anak kecil pun mengantri di depan panci bakso.Tiba-tiba terdengar suara pertengkaran. Ternyata, dua orang anak berebut.

    Andi pun datang melerai, “Kenapa berebut mangkok? Bukankah masih banyak mangkok kosong yang lain?” Rupanya kedua anak itu sama-sama ingin memakai mangkok yang bergambarkan tokoh kartun favorit mereka.  Aneh ya, kenapa malah mangkok yang diributkan, padahal yang  akan dimakan ‘kan baksonya.

    Terkadang kita pun sama seperti anak-anak itu. Kita direpotkan oleh banyak hal yang tidak penting dan menomorduakan hal yang penting. Kita meributkan “mangkok”, dan justru  mengabaikan “baksonya”. Kita sering merasa iri dengan “mangkok” milik tetangga dan tidak bahagia dengan mangkok kita. Akibatnya, kita jadi tertekan dan sulit untuk bersyukur.

    Kehidupan itu ibarat bakso, sedangkan karir, kekayaan, jabatan adalah mangkok. Mangkok hanyalah alat untuk menampung bakso. Seberapa pun bagusnya mangkok itu tidak akan mengubah rasa baksonya.

    Maka, marilah kita merawat kehidupan kita, dengan memfokuskan hidup kita pada kebenaran. (SD)

     

     


    Tambahan:
    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • 25 Kutipan Dari Film

    1. Be determined. Instead of intending to just try, do it.

    Do, or do not. There is no “try”. – Yoda, from Star Wars

    2. Learn to let go and be clear of where you really want to head for.

    Love cannot be found where it doesn’t exist,
    nor can it be hidden where it truly does. – David Schwimmer, from Kissing a Fool

    3. Your past experiences are valuable lessons to you now, learn from them.

    Oh yes, the past can hurt. But you can either
    run from it, or learn from it. – Rafiki, from The Lion King

    4. Just be yourself because you’re unique and you’ll shine.

    Why are you trying so hard to fit in when you were born to stand out? – from What a Girl Wants

    5. Life’s too short to miss out anything, try to take it slowly.

    Life moves pretty fast. If you don’t stop and look around once in a while, you could miss it. – Ferris, from Ferris Bueller’s Day Off

    6. You should love and take care of yourself because after all, it’s your own life.

    You can’t live your life for other people. You’ve got to do what’s right for you, even if it hurts some people you love. – from The Notebook

    7. Everyone has a choice. You can choose your own path in life.

    We are who we choose to be. – Green Goblin, from Spider-Man

    8. You deserve what you want when you’re trying your best to fight for it, no one can take that right from you.

    Don’t let anyone ever make you feel like you don’t deserve what you want. – Heath Ledger, from 10 Things I Hate About You

    9. There’s no perfect time for anything, do it now or you’ll regret later.

    I don’t regret the things I’ve done, but those I did not do. – from Empire Records

    10. You don’t need to hide yourself because you’re afraid of what others think of you. You have the choice to live your own life.

    It is not our abilities that show what we truly are… it is our choices. – Dumbledore, from Harry Potter and the Chamber of Secrets

    11. Just keep going, you’ll make it one day.

    “Run, Forrest, run!” – from Forrest Gump

    12. The least expected things happen at your least expected time in life.

    My momma always said, “Life is like a box of chocolates, you never know what you’re gonna get.” – from Forrest Gump

    13. Never give up on your dream, fight your hardest for it.

    Don’t ever let somebody tell you you can’t do something, not even me. Alright? You dream, you gotta protect it. People can’t do something themselves, they wanna tell you that you can’t do it. If you want something, go get it. Period. – Chris Gardner, from The Pursuit of Happyness

    14. Don’t stuck in your own little world because the purpose of life is to explore and experience.

    “To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, to draw closer, to find each other and to feel. That is the purpose of life.” – from The Secret Life of Walter Mitty

    15. Stop trying to please everyone because it’s impossible. Do what makes you comfortable.

    You cannot live your life to please others. The choice must be yours. – White Queen, from Alice in Wonderland

    16. Believe in yourself. Your confidence will lead you to success and happiness.

    After a while, you learn to ignore the names people call you and just trust who you are. – from Shrek

    17. In order to achieve your dreams and goals, you’ll go through tough times for sure but hold on!

    If you’re going to try, go all the way. Otherwise don’t even start. This could mean losing girlfriends, wives, relatives, jobs. And maybe your mind. It could mean not eating for three or four days. It could mean freezing on a park bench. It could mean jail. It could mean derision. It could mean mockery, isolation. Isolation is the gift. All the others are a test of your endurance. Of how much you really want to do it. And you’ll do it, despite rejection in the worst odds. And it will be better than anything else you can imagine. –
    from Factotum

    18. Make every moment count, enjoy your life time and don’t waste it.

    All we have to decide is what to do with the time that is given to us. – from Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring

    19. The little things you do today could make a great difference in future.

    It’s what you do right now that makes a difference. – from Black Hawk Down

    20. Don’t take missing any opportunities as a bad thing, you never know what life is trying to teach you.

    Our lives are defined by opportunities, even the ones we miss. – from The Curious Case of Benjamin Button

    21. Achieving greatness is all about how much effort you make throughout the time.

    Great men are not born great, they grow great. – Mario Puzo, from The Godfather

    22. Instead of seeking for happiness, live the moment and that’s where happiness exists.

    Me, I still believe in paradise. But now at least I know it’s not some place you can look for because it’s not where you go. It’s how you feel for a moment in your life when you’re a part of something and if you find that moment, it lasts forever. – from The Beach

    23. If you wait for others to complete you, you’ll never be able to have peace in your mind whenever you’re alone.

    Only if you find peace within yourself will you find true connection with others. – from Before Sunrise

    24. Always have hope. Be optimistic for your future.

    I know what I have to do now, I’ve got to keep breathing because tomorrow the sun will rise. Who knows what the tide could bring? – from Cast Away

    25. Before you do anything, be clear of why you want to do it. The purpose is an important reason to support what you’ll do.

    To find something, anything, a great truth or a lost pair of glasses, you must first believe there will be some advantage in finding it. – from All the King’s Men


    Tambahan:
    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • Apakah Pintar Akademis Saja Cukup?

    Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya. Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.
    Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit. Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

    Hadiah orangtua
    Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success , menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.
    Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya. Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya. Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.
    Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah. Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
    Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah. Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”. Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak.
    Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak
    keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya. Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar. Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

    Panggung orang dewasa
    Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif. Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.
    Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui. Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.
    Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya. Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.
    Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.
    Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang. Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.
    Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan. Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup. Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan. Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

    Oleh: Rhenald Kasali

    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • Syukuri Hidupmu

    Berapa banyak dari kita yang mengucap syukur kepada Tuhan karena kita masih bisa hidup sampai sekarang, terlepas dari segala masalah yang kita hadapi?

    Banyak orang suka mengeluh kepada Tuhan “kenapa begini, kenapa begitu, aku maunya begini, aku mau itu”, tapi mereka tidak pernah berkata “Terima kasih untuk hidupku hari ini”.

    Jangan menganggap remeh kehidupan kita, sebelum kita menyesalinya suatu ketika.

    Sebuah kutipan yang selalu menempel di kepalaku

    Yesterday is history. Tomorrow is mystery. Today is a gift.

    That’s why they call it Present

  • Kutipan Motivasi 20140401

    “For every minute you are angry, you lose 60 seconds of happiness.”

    Untuk setiap menit kemarahanmu, kamu sudah kehilangan 60 detik kebahagiaan

  • Kutipan Motivasi

    Alexander Graham Bell konon berkata

    When one door closes another one opens; but we so often look so long and so regretfully upon the closed door, that we don’t see the one which open for us

    Ketika satu pintu tertutup, pintu yang lain terbuka; namun, kita sering terpaku terlalu lama dengan perasaan sesal, meratapi pintu yang tertutup, sampai tidak melihat adanya pintu lain yang terbuka untuk kita

  • Anak Ranking 23

    Sebuah cerita yang bagus untuk direnungkan:

    Di kelasnya ada 50 orang murid. Setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan kepadaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

    Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main.

    Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung
    sekali. Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan kepadaku, apakah aku
    akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

    Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.

    Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami.

    Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

    Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

    Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris, kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

    Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

    Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

    Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.”

    Saya berguyon pada anakku, “kamu sudah mau jadi pahlawan”. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh:

    guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.

    Dia pelan-pelan melanjutkan:

    Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.

    Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama. Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.

    Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

    Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang
    berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

    Selama hidupnya, dia tetap dapat melewati kehidupan yang diinginkannya dengan tenang, dia juga tidak belajar hal tidak baik, sebagai orangtua yang memberikan keteladanan sikap dan tutur kata, jika dapat mengasuh anak sampai dewasa dan menjadi orang berguna dalam masyarakat, itu sudah cukup sebagai hal yang menghibur bagi leluhur, kenapa kita masih saja mengharapkan masa depan yang lebih baik lagi? Jika pun nantinya dia bisa menjadi seorang penegak hukum atau seorang arsitek, kalau tidak memiliki niat baik, lain di mulut lain di hati, lalu apa gunanya?

  • Pagar untuk Sang Kangguru

    Sebuah kebun binatang kedatangan oleh seekor kangguru. Petugas kebun binatang mengurung kangguru di tempat berumput yang telah dibatasi dengan pagar setinggi 1 meter.

    Keesokan harinya, petugas mendapatkan bahwa kangguru berada di luar kandang yang berpagar tinggi itu. Dengan segera petugas menambahkan tinggi pagar pengurung sampai 2 meter, dan mengurung kangguru itu.

    Di hari ketiga, petugas masih melihat kangguru tersebut melompat bebas di luar kandangnya. Kemudian ditambahnya ketinggian pagar sampai 3 meter, dan mengurung kangguru lagi.

    Binatang di sebelah kandang kangguru adalah jerapah, dia bertanya kepada kangguru, “Menurut kamu, Berapa tinggi pagar seharusnya, agar petugas itu bisa mengurungmu di dalam kandang ini?”

    Kangguru menjawab, “Susah ya untuk menjawabnya, bisa saja 5 meter, atau 10 meter, dan juga mungkin 100 meter, jika petugas itu masih terus lupa untuk mengunci pintu kandangnya.”

    Jika tidak dapat mencari penyebab yang tepat dari suatu kegagalan, maka walaupun kita sangat berusaha keras, akan menjadi suatu usaha yang sia-sia.

  • Jangan berasumsi!!!

    Ada seorang pria yang pergi keluar untuk mencari pekerjaan. Saat ia melewati rumah tetangganya, kertas penting jatuh dari saku pria itu.

    Tetangganya kebetulan melihat keluar jendela. Ia melihat secarik kertas jatuh, dan ia berpikir, “Ah, orang ini sengaja membiarkan kertasnya jatuh keluar dari sakunya. Ia mencoba mengacaukan halaman rumahku, dan ia benar-benar licik, keterlaluan!”

    Tapi, bukannya pergi ke luar dan mengatakan sesuatu, tetangga itu merencanakan balas dendam. Malam itu, ia mengambil keranjang sampah dan pergi ke rumah pria itu.

    Pria itu kebetulan juga melihat ke luar jendela dan melihat apa yang terjadi. Kemudian, ketika ia melihat sampah-sampah yang dibuang di beranda rumahnya, ia menemukan secarik kertas penting yang ia cari. Ia merobeknya hingga menjadi berkeping-keping. Ia berpikir tetangganya tidak hanya mengambil dari sakunya, tetapi ia telah mengacaukan rumahnya dengan sampah.

    Ia tidak mengatakan apa-apa. Sebaliknya, ia mulai merencanakan balas dendam. Malam itu ia menelepon petani untuk mengirimkan sepuluh babi dan seratus bebek. Ia meminta agar mereka dikirimkan ke rumah tetangganya.

    Tentu saja, di hari berikutnya, tetangganya kesulitan untuk keluar dari rumahnya karena begitu banyak hewan dan kotoran.

    Yakin bahwa ini menjadi trik pengecut tetangganya, ia segera menyingkirkan babi dan bebek itu. Ia pun mulai kembali merencanakan balas dendam.

    Begitu seterusnya. Mereka terus mencoba untuk saling balas dendam, semakin besar dan lebih konyol. Menjatuhkan secarik kertas, akhirnya menjadi panggilan sirine kebakaran, pelemparan batu di jendela, dan akhirnya sebuah bom yang menghancurkan rumah pria itu.

    Kini, keduanya berakhir di rumah sakit. Mereka harus menghabiskan beberapa waktu berbagi ruang di sana. Pada awalnya mereka menolak untuk berbicara satu sama lain. Tapi, suatu hari, mungkin karena lelah dengan keheningan, mereka pun berbicara.

    Seiring waktu berjalan, mereka menjadi teman, sampai suatu hari mereka akhirnya berani membahas secarik kertas penyebab insiden. Mereka menyadari bahwa semua itu telah terjadi kesalahpahaman. Jika saja mereka saling berbicara pada kesempatan pertama, semua ini tidak akan terjadi. Bahkan lebih baik lagi, mereka masih memiliki rumah mereka.

    Pada akhirnya, fakta bahwa mereka sudah saling berbicara, bahkan menjadi teman, membantu mereka untuk segera pulih dari luka-luka mereka, dan bekerja sama untuk membangun kembali rumah mereka.

    Kita tidak perlu menebak atau membayangkan niat orang lain.  Berbicara adalah langkah tepat untuk memahami orang lain, dan menjernihkan banyak masalah besar.