Category: Artikel Pengembangan Diri

  • Ayam dan Bebek

    Oleh Ajahn Brahm

    Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan:
    “Kuek ! Kuek !”
    “Dengar, itu pasti suara ayam”, kata si istri.
    “Bukan, bukan. Itu suara bebek, “kata si suami.
    “Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.
    “Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuuk !’, bebek itu ‘kuek ! kuek !’. Itu bebek, sayang “, kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.
    “Kuek ! kuek !” terdengar lagi.
    “Nah, tuh ! Itu suara bebek, “ kata si suami.
    “Bukan, sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,” tanda si istri sembari
    menghentakkan kaki.
    “Dengar ya ! Itu a…da…lah…. Be…bek. B-E-B-E-K. Bebek ! Mengerti ?” si suami berkata dengan gusar.
    “Tapi itu ayam”, masih saja si istri bersikeras.
    “Itu jelas-jelas bue..bebek, kamu…kamu….” (terdengar lagi suara “Kuek ! Kuek !” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.)
    Si istri sudah hampir menangis, “Tapi itu ayam…. “
    Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku, sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.”
    “Terima kasih, sayang, “ kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.
    “Kuek ! Kuek !”, terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

    Maksud dari cerita di atas bahwa si suami akhirnya sadar adalah siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam indah itu. Berapa banyak hubungan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”?
    Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek.

    Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin , amat sangat mantap, mutlak bahwa kita itu benar, namun belakangan ternyata kita salah. Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

    Sumber Buku : Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.

  • Pelajaran dari Ban

    Seorang anak memperhatikan ayahnya yang sedang mengganti ban mobil mereka.

    “Mengapa ayah mau repot-repot mengerjakan ini dan tidak memanggil orang bengkel saja untuk mengerjakannya?” tanya si bocah dengan penasaran.

    Sang ayah tersenyum. “Sini, nak, kau lihat dan perhatikan. Ada enam hal tentang ban yang bisa kita pelajari untuk hidup kita,” katanya sambil menyuruh sang bocah duduk di dekatnya. “Belajar dari ban?” Mata sang anak membelalak.

    “Lebih pintar mana ban ini daripada bu guru di sekolah?”

    Sang ayah tertawa. “Gurumu tentu pintar, Nak. Tapi perhatikan ban ini dengan segala sifat-sifatnya.

    Pertama, ban selalu konsisten bentuknya. Bundar. Apakah dia dipasang di sepeda roda tiga, motor balap pamanmu, atau roda pesawat terbang yang kita naiki untuk mengunjungi kakek-nenekmu. Ban tak pernah berubah menjadi segi tiga atau segi empat.”

    Si bocah mulai serius. “Benar juga ya, Yah. Terus yang kedua?”

    “Kedua, ban selalu mengalami kejadian terberat. Ketika melewati jalan berlubang, dia dulu yang merasakan. Saat melewati aspal panas, dia juga yang merasakan.

    Ketika ada banjir, ban juga yang harus mengalami langsung.

    Bahkan ketika ada kotoran hewan atau bangkai hewan di jalan yang tidak dilihat si pengemudi, siapa yang pertama kali merasakannya?” tanya sang ayah.
    “Aku tahu, pasti ban ya, Yah?” jawab sang bocah antusias.”Benar sekali.

    Ketiga, ban selalu menanggung beban terberat. Baik ketika mobil sedang diam, apalagi sedang berjalan. Baik ketika mobil sedang kosong, apalagi saat penuh penumpang dan barang. Coba kau ingat,” ujar sang ayah. Si bocah mengangguk.

    “Yang keempat, ban tak pernah sombong dan berat hati menolak permintaan pihak lain. Ban selalu senang bekerja sama. Ketika pedal rem memerintahkannya berhenti, dia berhenti. Ketika pedal gas menyuruhnya lebih cepat, dia pun taat dan melesat. Bayangkan kalau ban tak suka kerjasama dan bekerja sebaliknya? Saat direm malah ngebut, dan saat digas malah berhenti?”

    “Wow, benar juga Yah,” puji sang bocah sambil menggeser duduknya lebih dekat kepada sang ayah.

    “Nah, sifat kelima ban adalah, meski banyak hal penting yang dilakukannya, dia tetap rendah hati dan tak mau menonjolkan diri. Diag biarkan orang-orang memuji bagian mobil lainnya, bukan dirinya.”
    “Maksud ayah apa?” tanya si bocah bingung.
    “Kamu ingat waktu kita ke pameran mobil bulan lalu?” tanya sang ayah disambut anggukan sang bocah.
    “Ingat dong, Yah, kita masuk ke beberapa mobil kan?”

    “Persis,” jawab sang ayah. “Biasanya di show room atau pameran mobil, pengunjung lebih mengagumi bentuk body mobil itu, lalu ketika mereka masuk ke dalam, yang menerima pujian berikutnya adalah interior mobil itu.

    Sofanya empuk, AC-nya dingin, dashboardnya keren, dll. Jarang sekali ada orang yang memperhatikan ban apalagi sampai memuji ban. Padahal semua kemewahan mobil, keindahan mobil, kehebatan mobil, tak akan berarti apa-apa kalau bannya kempes atau bocor.”

    “Wah, iya ya, Yah, aku sendiri selalu lebih suka memperhatikan kursi mobil untuk tempat mainanku.”

    Sang ayah selesai mengganti bannya, dan berdiri menatap hasil kerjanya dengan puas.

    “Yang keenam tentang ban adalah, betapa pun bagus dan hebatnya mobil yang kau miliki, atau sepeda yang kau punya, atau pesawat yang kita naiki, saat ban tak berfungsi, kita tak akan bisa kemana-mana. Kita tak akan pernah sampai ke tujuan.”
    Sang anak mengangguk-angguk.

    Sang ayah menuntaskan penjelasannya, “Jadi saat kau besar kelak, meski kau menghadapi banyak masalah dibanding kawan-kawanmu, menghadapi lumpur, aspal panas, banjir, atau tak mendapat pujian sebanyak kawan-kawanmu, bahkan terus menanggung beban berat di atas pundakmu, tetaplah kamu konsisten dengan kebaikan yang kau berikan, tetaplah mau bekerja sama dengan orang lain, jangan sombong, ria dan merasa hebat sendiri, banding bandingkan dgn yg lain, jangan kamu memuji muji dirimu, hanya orang lain kelak yg bisa menilai kamu berhasil atau tdk dan yang terpenting, tetaplah menjadi penggerak di manapun kau berada. Itulah yang ayah maksud dengan hal-hal yang bisa kita pelajari dari ban untuk hidup kita.”

  • What Lies Beneath

    A cruise ship met with an accident at sea. On the ship was a couple who, after having made their way to the lifeboat, they realized that there was only space for one person left.

    At this moment, the man pushed the woman .behind him and jumped onto the lifeboat himself. The lady stood on the sinking ship and shouted one sentence to her husband.

    The teacher stopped and asked, “What do you think she shouted?” Most of the students excitedly answered, “I hate you! I was blind!”

    Now, the teacher noticed a boy who was silent throughout, she got him to answer and he replied, “Teacher, I believe she would have shouted – Take care of our child!”

    The teacher was surprised, asking “Have you heard this story before?”
    The boy shook his head, “Nope, but that was what my mum told my dad before she died to disease”.

    The teacher lamented, “The answer is right”. The cruise sunk, the man went home and brought up their daughter single-handedly.

    Many years later after the death of the man, their daughter found his diary while tidying his belongings. It turns out that when parents went onto the cruise ship, the mother was already diagnosed with a terminal illness. At the critical moment, the father rushed to the only chance of survival. He wrote in his diary, “How I wished to sink to the bottom of the ocean with you, but for the sake of our daughter, I can only let you lie forever below the sea alone”. The story is finished, the class was silent.

    The teacher knows that the student has understood the moral of the story, that of the good and the evil in the world, there are many complications behind them which are hard to understand. Which is why we should never only focus on the surface and judge others without understanding them first.

    Those who like to pay the bill, do so not because they are loaded but because they value friendship above money.

    Those who take the initiative at work, do so not because they are stupid but because they understand the concept of responsibility.

    Those who apologize first after a fight, do so not because they are wrong but because they value the people around them.

    Those who are willing to help you, do so not because they owe you any thing but because they see you as a true friend.

    Those who often text you, do so not because they have nothing better to do but because you are in their heart.

    One day, all of us will get separated from each other; we will miss our conversations of everything & nothing; the dreams that we had. Days will pass by, months, years, until this contact becomes rare..

  • What Lies Beneath

    A cruise ship met with an accident at sea. On the ship was a couple who, after having made their way to the lifeboat, they realized that there was only space for one person left.

    At this moment, the man pushed the woman .behind him and jumped onto the lifeboat himself. The lady stood on the sinking ship and shouted one sentence to her husband.

    The teacher stopped and asked, “What do you think she shouted?” Most of the students excitedly answered, “I hate you! I was blind!”

    Now, the teacher noticed a boy who was silent throughout, she got him to answer and he replied, “Teacher, I believe she would have shouted – Take care of our child!”

    The teacher was surprised, asking “Have you heard this story before?”
    The boy shook his head, “Nope, but that was what my mum told my dad before she died to disease”.

    The teacher lamented, “The answer is right”. The cruise sunk, the man went home and brought up their daughter single-handedly.

    Many years later after the death of the man, their daughter found his diary while tidying his belongings. It turns out that when parents went onto the cruise ship, the mother was already diagnosed with a terminal illness. At the critical moment, the father rushed to the only chance of survival. He wrote in his diary, “How I wished to sink to the bottom of the ocean with you, but for the sake of our daughter, I can only let you lie forever below the sea alone”. The story is finished, the class was silent.

    The teacher knows that the student has understood the moral of the story, that of the good and the evil in the world, there are many complications behind them which are hard to understand. Which is why we should never only focus on the surface and judge others without understanding them first.

    Those who like to pay the bill, do so not because they are loaded but because they value friendship above money.

    Those who take the initiative at work, do so not because they are stupid but because they understand the concept of responsibility.

    Those who apologize first after a fight, do so not because they are wrong but because they value the people around them.

    Those who are willing to help you, do so not because they owe you any thing but because they see you as a true friend.

    Those who often text you, do so not because they have nothing better to do but because you are in their heart.

    One day, all of us will get separated from each other; we will miss our conversations of everything & nothing; the dreams that we had. Days will pass by, months, years, until this contact becomes rare..

  • Keyboard Warrior

    Tahu kah anda tentang istilah “Keyboard Warrior”? Mereka adalah orang-orang yang sangat agresif di dunia maya. Mereka suka sekali menghina orang, menghakimi orang, berargumentasi, menggunakan kata-kata kasar, dan lain-lain, di dunia maya. Biasanya ada beberapa tipe ” Keyboard Warrior”. Ada yang sudah level “Master”, dimana semua hal yang ada bisa dibuat menjadi bahan ejekannya. Ada juga yang masih tahap ” Newbie”, dimana mereka hanya akan muncul ketika ada masalah yang (menurut mereka) melanggar etika.

    Ada sebuah artikel menarik dari laman NY Times, yang mencoba menyadarkan semua “Keyboard Warrior”, baik Master ataupun Newbie, tentang akibat dari tulisan mereka. Kadang kita merasa ” Ah, kan hanya sebuah tulisan saja. Gak akan menghancurkan hidup seseorang”. Coba lah berpikir lagi.

    Artikelnya panjang, jadi aku malas untuk menerjemahkannya. Jadi bisa dibaca langsung di artikel aslinya.

  • Realita Di Balik “Pria Pemilih”

    Tulisan ini aku ambil dari Hitman System

    Ada sebuah sesi yang selalu saya, Lex dan Kei tunggu-tunggu setiap kali memulai workshop , yakni Tell Your Stories. Para peserta akan menceritakan latar belakang, motivasi mengikuti HSEW, serta kisah-kisah sedih dari kehidupan romance
    mereka. Kenapa sesi ini sangat kami sukai? Karena sesi selalu membawa saya, Kei, dan Lex kembali melayang ke masa lalu, saat kami masih melakukan apa yang mereka lakukan serta mendapatkan hasil yang sama.

    Patah Hati.

    Kesedihan.

    Menangis.

    Dada terkoyak.

    Dan berbagai sindrom pilu lainnya.

    Jadi ketika salah seorang peserta HSEW XV kemarin mengaku, “Iya nih, gue nungguin satu wanita yang sama selama 9 tahun,” jantung saya seketika kehilangan irama normalnya.

    DEG!!! Saya nyaris melompat dari kursi saat mendengarnya, berbarengan dengan para crew yang menggeleng-geleng kepala dengan
    takjub. Kemudian saat saya, Kei, dan Lex mulai mempreteli setiap paragdima mereka dan alasan mengapa mereka terus gagal dalam romance, peserta mengaku ‘digantung’ oleh wanita selama bertahun-tahun di atas itu mengeluarkan celetukan, “Eh, temen wanita gue banyak kok, tapi gue emang tipe pemilih aja sih, jadinya susah untuk dapetin yang pas.”

    Pada detik itu juga saya ingin menghajarnya dengan asbak di atas meja. Tapi berhubung biaya pelatihan tidak termasuk premi asuransi jiwa, maka saya mengurungkan niat tersebut. Jadi yang bisa saya lakukan hanya berkata, “BULLSHIT!!! Gak ada pria yang gak dapet wanita karena dia pemilih. Elo gak dapet wanita ya karena emang lo ada melakukan kesalahan, bukan karena elo tipe pria pemilih! Justru karena elo emang gak punya pilihan dan tidak mampu menciptakan pilihan makanya elo jadi nunggu satu wanita selama 9 tahun!” sambil membayangkan menghajarnya bolak-balik dengan mesin peluncur rudal antar-benua. Kasar? Kejam? Terlalu vulgar dalam bertata-bahasa?

    That’s what we do in every workshop. Kami menghajar peserta dengan keras karena mereka telah mengeluarkan uang untuk dihajar sekeras-kerasnya untuk dapat bangkit dan sadar dari tidur nyenyaknya. Guys, salah satu proses menjadi Glossy adalah mengenal diri sendiri dan membuang ilusi-ilusi bodoh di dalam diri kita. Salah satunya adalah ilusi alasan bahwa Anda adalah seorang ‘pria pemilih.’

    Saya teringat beberapa tahun yang lalu saat masih duduk di SMA, saya sering kali berkata seperti itu, “Ah gue emang tipe pemilih sih”, “Gue milih-milih wanita, man, musti liat semuanya dulu baru gue bakalan PDKT,” atau ratusan omong kosong lainnya seputar alasan serupa lainnya mengapa saya belum pacaran atau terlihat dekat dengan wanita manapun.

    ‘Pria pemilih’ menjadi realita palsu yang selalu saya gunakan dahulu. Mungkin Anda termasuk pria yang menggunakannya juga dalam kehidupan Anda sehari-hari sekarang ini. Saat itu, realita ‘pria pemilih’ begitu kental melekat dengan diri saya, bahkan saya anggap sebuah kebenaran yang absolut.

    Bertahun-tahun kemudian, saya baru mulai menyadari kekonyolan tindakan itu. Alasan ‘pria pemilih’ yang sering saya dan Anda pakai dalam konteks tersebut adalah sebuah defense mechanism yang berguna untuk sebagian atau malah seluruh alasan berikut ini:
    • mencegah saya terlihat atau dinilai tidak laku oleh teman-teman,
    • menutupi bahwa saya juga sebenarnya tidak tahu bagaimana cara mendekati lawan jenis,
    • memberikan asumsi bahwa saya memiliki cita rasa tertentu dan setiap wanita harus melalui proses seleksi yang cukup ketat, bukannya seperti pria putus-asa yang siap menerima siapa saja yang datang ke arahnya

    Anda keberatan? Tidak masalah, tunggu saja beberapa tahun lagi, Anda pasti akan mengerti maksud saya. Ketika saya menyadari hal-hal di atas, alasan dan realita bahwa saya adalah ‘pria pemilih’ menjadi sesuatu yang tolol bin menyedihkan.

    Mari beranalogi bersama-sama.
    Cerita A: Seorang pria masuk ke toko CD. Ia berjalan mengelilingi lorong musik Jazz, Pop, dan RnB. Setelah sibuk melihat sana dan sini, membaca track lagu, membandingkan sejumlah musisi, ia akhirnya membeli album terbaru Level 42.

    Cerita B: Pria lainnya masuk ke toko yang sama. Ia langsung menuju lorong musik RnB. Setelah sibuk melihat sana sini mencari sebuah judul album, berputar untuk mengecek di sejumlah rak dan lorong yang berbeda, dan bertanya pada shop assistant, ia keluar tanpa menenteng apa-apa.

    Cerita C: Pria ketiga masuk ke toko CD yang sama, berjalan di setiap lorong yang tersedia di sana, melirik kesana-kemari, lalu keluar tanpa membeli apa-apa. Temannya yang menunggu di luar bertanya, “Kok gak jadi beli? Kan banyak yang bagus-bagus?” Dia menjawab, “Ah, gue kalo beli CD tuh milih-milih. Tadi gak ada yang bagus sih,” dan temannya mengangguk-angguk sambil berkata, “Oh gue juga sih, pemilih banget deh soal musik.”

    Melihat kasus di atas, pria A dan B
    kemungkinan besar memang sudah
    mempersiapkan diri dengan sejumlah
    kemampuan yang diperlukan, misalnya persediaan finansial, pengetahuan tentang musik dan minat sejumlah genre, atau fokus pada sebuah album tertentu. Sekalipun pria B dan C sama-sama tidak keluar menenteng tas belanjaan, namun ada perbedaan yang dapat dibedah. Mempertimbangkan sejumlah alasan, maka kita akan sampai pada kedua kemungkinan logis di bawah ini tentang pria C di atas:
    • dia tidak membawa cukup uang, jadi supaya tidak malu dia tinggal mengaku dirinya tipe pemilih.
    • dia tidak tahu musik mana yang bagus karena hidupnya hanya seputar online game, chatting, Friendster, dan sejenisnya. Apa yang dia tahu seputar musik hanya soundtrack Winning Eleven atau game lainnya serta ringtone handphone. Namun agar tidak malu, dia tinggal mengaku dirinya tipe pemilih.

    Itulah sebabnya pria A dan B lebih tepat dan masuk akal bila di sebut jelas adalah tipe pria pemilih dalam pengertian yang sebenarnya! Seorang pria layak menyebut dirinya ‘pria pemilih’ bila dia mampu mendapatkan pilihan yang diinginkan , atau setidaknya berada dalam realita bahwa dia memiliki sejumlah pilihan, atau sanggup menciptakan pilihan! Anda bisa mengerti sekarang mengapa alasan ‘pria pemilih’ oleh pria B itu terdengar sangat menyedihkan? Apakah Anda pernah melakukannya untuk konteks romance?

    Mari kita kupas lebih dalam. Hanya ketika Anda memiliki Power to Bargain atau Power to Buy, Anda boleh memakai paradigma dan realita ‘pria pemilih’ karena hal tersebut akan memungkinkan Anda untuk memilih dan memutuskan ‘produk’ terbaik yang Anda inginkan. Ketika Anda tidak memiliki kemampuan di atas, Anda hanya berlagak saja memiliki pilihan dan menjadi seorang pemilih dalam petualangan romantis Anda.

    Pada kenyataannya, bukan saja Anda tidak mampu memilih sebuah ‘produk’ yang Anda inginkan, bahkan Anda sendiri kemungkinan besar belum memiliki pilihan apapun. Ilusi realita ‘pria pemilih’ yang Anda pakai juga memiliki dampak lainnya. Misalnya saat Anda gagal mendekati dan mendapatkan wanita yang diinginkan , Anda akan mengumandangkan kembali pada alasan, “Ah, santai aja, toh wanita itu emang bukan tipe gue.”

    Defense mechanism yang muncul
    untuk menyelamatkan ego Anda tersebut akan menghalangi untuk belajar kesalahan atau kekurangan apa yang perlu Anda perbaiki untuk memastikan Anda tidak berakhir dengan hasil yang sama lain kali. Anda memilih untuk menipu diri, daripada menelan rasa malu untuk mengakui bahwa diri Anda tidak memiliki kekuatan untuk mendapatkan wanita yang Anda mau, rasa malu untuk mengakui kalau Anda sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang bagaimana caranya mendapatkan wanita yang diinginkan. Kalau Anda sekarang ini baru saja ditolak oleh wanita yang Anda suka, atau Anda sudah belasan tahun menjomblo dan usaha Anda mendekati wanita selalu gagal, dan sering memakai alasan, “Gue tipe pemilih sih man. Si Jennifer itu bukan tipe gue banget. Malesin deh, makanya gue mundur aja.”

    Tanyakan pada diri Anda sendiri sekarang:
    Apa Anda memang benar-benar menyadari dan merasa memiliki kemampuan untuk memilih wanita manapun yang Anda inginkan untuk dijadikan partner?

    Atau pikiran dan perasaan itu hanya muncul agar Anda terhindar dari rasa malu bahwa Anda terus-menerus jomblo, tidak mengerti banyak soal cara mendekati wanita, dan selalu berakhir pada penolakan?

    Silakan jawab pada hati nurani Anda sendiri.

    Setelah itu, mulai detik ini biasakan untuk berseru, “Bullshit!” kepada setiap teman Anda yang menyatakan bahwa dirinya adalah ‘cowo pemilih,’ sementara kenyataannya Anda bisa melihat sendiri itu adalah alasan superfisial yang lebih nyaring daripada tong kosong manapun. Jangan lupa untuk berseru, “Bullshit!” pada diri Anda sendiri setiap kali Anda mendapati mulut dan kepala Anda ingin memakai realita bodoh itu.

    ‘Cowo pemilih’ adalah salah satu ilusi
    berbahaya yang menjadi masalah utama banyak pria di luar sana. Ilusi tersebut mencegah Anda untuk melihat ke dalam diri sendiri. Ilusi tersebut mencegah Anda untuk
    mengenali lebih kekurangan yang Anda miliki, terlebih lagi mengakuinya. Ilusi tersebut membuat Anda berpikir kalau Anda mampu membuat pilihan sementara kenyataannya tidak pernah ada pilihan sama sekali. Ilusi tersebut menghambat diri Anda untuk memperbaiki diri, terus tenggelam dalam pusaran yang gelap, sampai akhirnya ketika Anda sadar dan ingin mengubah keadaan, semuanya sudah terlambat.

    Guys, wake up and smell the coffee.
    Coba jadi jujur dengan hati Anda, dan tidak perlu malu atau terkejut bila menemukan ternyata Anda suka berlindung dibalik alasan ‘pria pemilih.’ Be proud that finally you are strong enough to admit it, and realize that you’re not alone. I’ve been there. Lex and Kei have been there also.

    Together, we can walk you to the glossy reality.

    Are you coming?

    Sahabat Anda,

    Jet Veetlev

  • Mendidik Anak

    Kemarin saat mengobrol di teras rumah teman, tiba2 kami mendengar suara keras dari seorang anak kecil. Ternyata suara anak kecil tsb berasal dari sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah teman saya.Sesaat kemudian ada suara keras lagi yang terdengar. Kali ini suara ibu dari anak tadi. Sahut-sahutan dengan suara keras pun terjadi antara ibu dan anak.. Dan saya pun berdiri untuk mengintip karena penasaran “Emang sering gitu tu anak. Kalo lagi ngambek teriak2. Trus ibunya ikutan teriak2”, ujar teman saya. “Oooo.. Yo pantes”, balas saya.

    Hanya seekor singa yang dapat mengajarkan anaknya untuk mengaum. Hanya seekor burung yang dapat mengajarkan anaknya untuk berkicau.

    Semoga menjadi renungan yang bermanfaat bagi kita semua

  • Benarkah Dia Belahan Jiwaku?

    by Corneliusluxveritatis7.wordpress.com
    November 20

    “I, N. N., take thee, N. N., for my lawful wife (husband), to have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, until death do us part.” – Catholic Marriage Vows

    Orang yang sedang mabuk asmara tentunya tidak jarang menanyakan pertanyaan berikut: “apakah ia belahan jiwaku?”; “mungkinkan ia cinta sejatiku?”. Sedangkan bagi orang Katolik yang pemahamannya memadai dan pernah belajar sedikit tentang Teologi Tubuh, maka pertanyaannya berupa “apakah ia sungguh pasangan yang dikehendaki Tuhan bagiku? Mungkin saya perlu melakukan discernmentuntuk itu.”

    Pertanyaan ini muncul karena dalam diri manusia terdapat kebutuhan untuk menjalin sebuah keintiman dengan seorang yang berbeda jenis, seseorang yang mengasihi kita dan mau menerima kita sebagaimana adanya. Lantas, sebenarnya apa yang ada di benak kita bila kita menggunakan istilah belahan jiwa atau jodoh tersebut?

    Belahan jiwa atau jodoh kelihatannya berarti orang yang tepat dan cocok untuk menjadi pendamping hidup kita. Seolah-olah, merekalah cinta sejati kita dan dengan hidup bersama, kita akan mengalami kebahagiaan. Tidak jarang kebahagiaan di sini berarti bahwa jodoh kita akan memenuhi semua kebutuhan kita, kita tidak akan berkekurangan dan menderita. Semua akan tampak baik. “Dan mereka hidup bahagia selamanya”, seperti yang dikatakan di akhir cerita dongeng. Padahal, kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai.

    Lalu, untuk menemukan jodoh yang tepat ini, mungkin orang Katolik akan mulai melakukan discernment untuk mengetahui apakah Ia memang dikehendaki Allah bagi kita. Namun, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa ia memang diciptakan Tuhan untuk menjadi pendamping hidup kita? Apa kita bisa sungguh yakin? Harus seberapa akuratdiscernement yang kita lakukan?

    Artikel dari Unam Sanctam berjudul “Courtship and Dating”menjabarkan bahwa konsep discernment hanya diterapkan untuk mengetahui apakah seseorang terpanggil menjalani hidup selibat atau hidup berkeluarga. Tidak pernah ada pemahaman “discernment untuk mengetahui siapa yang menjadi jodoh saya menurut kehendak Allah”. Persoalan siapa yang akan kita nikahi, merupakan hal yang tidak semestinya dipandang sebagai usaha mencari tahu kehendak Allah tentang jodoh kita secara pasti, melainkan dilihat sebagai kebijaksanaan manusia dalam mengambil keputusan.

    Tujuh Dampak Negatif dari Konsep Soulmate

    Namun, apa yang terjadi bila kita menganggap dengan serius bahwa memang ada jodoh kita di luar sana, yang harus kita temukan? Bagaimana bila pemikiran kita sungguh terpusat untuk menemukan belahan jiwa kita, cinta sejati kita, dengan kepercayaaan yang tidak disadari bahwa sang belahan jiwa akan memberikan kebahagiaan yang meniadakan kesusahan hidup? Ada beberapa jawaban yang bisa saya berikan.

    Pertama, akan muncul rasa tidak aman (insecure). Rasa tidak aman ini muncul bila kita melihat kelemahan pasangan kita, yang mungkin menimbulkan konflik. Kita akan tergoda untuk ragu dan bertanya-tanya, “apa benar ia sungguh jodoh saya? Bagaimana bila tidak demikian? Kalau begitu, saya harus sangat berhati-hati agar tidak salah memilih. Saya tidak mau hidup dengan orang yang salah.”

    Kedua, rasa cemburu juga akan tampil ke permukaan, karena bisa saja kita berpikir kalau di luar sana, akan ada pria atau wanita yang lebih baik, lebih sempurna, lebih cantik, lebih pengertian, dst daripada pasangan kita. Dampaknya, muncullah rasa cemburu terhadap invisible man or woman, sebuah sosok tanpa wajah yang tidak kita kenal, yang ada di luar sana, yang dapat membahayakan relasi yang sedang dibangun.

    Ketiga, rasa tidak aman dan cemburu ini juga berdampak pada melemahnya rasa saling percaya di antara pasangan. Kita terlalu takut kehilangan orang yang kita cintai. Kita resah memikirkan kemungkinan bahwa bisa saja pria atau wanita yang sedang berinteraksi dengan pasangan kita, dianggap sebagai belahan jiwa yang lebih sempurna. Akibatnya, timbullah rasa curiga yang berlebihan.

    Keempat, keyakinan tentang adanya soulmate malah menempatkan beban yang begitu besar ke pundak pasangan kita, karena kita memiliki keyakinan bahwa jodohku harus sempurna, ia bisa membahagiakan saya, memenuhi kebutuhan saya, tidak membuat saya menderita, dsb. Akibatnya, bisa saja pernikahan yang baru berjalan sebentar menjadi rapuh dan pecah. Seseorang merasa salah dalam memilih, dan tidak tahan menanggung kesulitan. Akibatnya, perceraian pun terlihat sebagai sebuah godaan yang menggiurkan, sebuah pintu yang akan menyelesaikan segala persoalan.

    Kelima, bila kita beranggapan bahwa soulmate kita harus memenuhi semua kebutuhan kita dan membahagiakan kita, ada kemungkinan bahwa kebahagiaan kita bergantung pada orang lain. Sebagai orang Katolik, satu-satunya sumber kebahagiaan kita ialah Allah. Dan kita disebut berbahagia bila kita menjalani delapan Sabda Bahagia dengan sungguh-sungguh. Bukan berarti kita ataupun pasangan kita boleh berhenti untuk mengasihi, melainkan bahwa tidak selayaknya kita mengharuskan atau menuntut kesempurnaan yang sangat tinggi terhadap mereka.

    Keenam, pemahaman soulmate yang serba sempurna akan membuat kita mudah kecewa kita menghadapi konflik dan bertemu dengan kelemahan ia yang menjadi pasangan kita. Kekecewaan ini dapat berujung pada sebuah perpisahan, dikarenakan kita merasa yakin ia bukan orang yang tepat bagi kita, bukan cinta sejati kita. Bila kita tidak berhati-hati, kita akan menjadi takut untuk membuat komitmen seumur hidup, atau kita akan terus melakukan pencarian cinta sejati tanpa henti, karena di luar sana akan tetap selalu ada orang yang lebih baik dari pasangan kita.

    Ketujuh, gambaran soulmate yang terlalu idealis dapat membuat kita sulit untuk berpuas diri terhadap kelemahan seseorang. Padahal, sikap kita seharusnya ialah mensyukuri apa yang sudah dipercayakan pada kita, termasuk pasangan kita. Ketidaksempurnaan pasangan kita, itulah yang dapat menguduskan kita, asal kita dapat mengolahnya dengan baik.

    Menemukan Konsep Pasangan Hidup yang Sejati

    Bila konsep belahan jiwa ini menimbulkan efek negatif, maka pertanyaannya ialah, sebagai seorang Katolik, bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan pencarian seorang pribadi yang hendak menjadi pasangan hidup kita?

    Suatu hari saya pernah bertanya kepada Bapa Pengakuan saya, “Romo, bagaimana saya bisa mengetahui kalau pacar saya itu sungguh merupakan pasangan hidup yang Tuhan kehendaki bagi saya?”, sang romo hanya menjawab demikian: “Kalau relasi kita sungguh intim dengan Allah, kita mungkin bisa tahu dengan pasti (maksudnya ialah kita dapat langsung bertanya dan mendengarkan jawaban Allah secara langsung), namun bila tidak, kita hanya bisa membaca tanda-tanda: apakah ia setia, apakah ia orangnya baik secara moral, rajin ke Gereja, tekun bekerja, dst.”

    Kita tidak pernah bisa merasa yakin secara absolut bahwa seseorang yang kita cintai memang sungguh dikehendaki Tuhan bagi kita. Kita tidak bisa berharap Allah akan membisikkan kata-kata di telinga kita, “Ya, dia adalah jodohmu!”

    Namun yang bisa kita lakukan ialah mengenal kepribadiannya. Kita perlu tahu apakah ia mengutamakan Tuhan dalam hidupnya, apakah ia sungguh berusaha menjalani hidup yang kudus dan murni, apakah ia memiliki karakter yang diperlukan untuk dapat menjalani hidup bersama, apakah ia berusaha mengembangkan keutamaan, tekun berdoa dan bekerja, setia dan rela berkorban, serta semua kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Setelah menimbang semua ini, dengan kejernihan hati dan budi, barulah kita dapat mengambil keputusan: Ya, saya ingin membangun keluarga dan menghabiskan seluruh hidup saya bersamanya.

    Oleh karena itulah maka dalam Misa Pernikahan, imam tidak pernah bertanya, apakah kalian saling mencintai, tetapiapakah kamu bersedia menerima dia sebagai suami atau istrimu? Bukan cinta, melainkan kehendak bebas, tekad, keputusan, atau komitmen yang seharusnya menjadi fondasi sebuah hubungan.

    Tidak ada yang namanya cinta sejati yang siap pakai, atau belahan jiwa yang sempurna tanpa cacat cela, karena akan selalu ada orang yang lebih baik daripada pasangan kita. Yang ada hanyalah sebuah ketegasan: Ya, saya mau mengasihinya dalam kerapuhannya, mau menjadi sempurna bersamanya dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, sampai maut memisahkan kita.

    Saat kita memutuskan untuk menikahinya, kita tidak akan pernah bisa tahu secara mutlak, apakah ia sungguh “jodoh saya.” Melainkan, kita baru akan mengetahuinya, ketika kita telah menjadi tua dan melihat ke belakang, memandang setiap momen yang telah dijalani dalam suka dan dukanya, lalu dapat berkata dengan tulus, “setelah semua yang terjadi, saya bersyukur telah memilih kamu sebagai istri [atau suami] saya.”

    Kita menikahi pasangan kita bukan karena ia adalah jodoh kita, melainkan karena kita bertekad untuk menjadikannya pendamping hidup kita, sampai maut yang memisahkan. Dan ini merupakan sebuah taruhan seumur hidup.

    Sebagai penutup, saya kira perkataan Tolkien berikut merangkum esensi artikel ini:

    “Nearly all marriages, even happy ones, are mistakes: in the sense that almost certainly (in a more perfect world, or even with a little more care in this very imperfect one) both partners might be found more suitable mates. But the real soul-mate is the one you are actually married to.” – J.R.R. Tolkien

  • Be Grateful

    “We spend a decent amount of time talking about what else you could be doing in your life, how fortunate we are basically just by the accident of birth,” Popovich said.

    “Think about it. It all starts with the accident of birth. Because you were born to these parents or this area geographically, or this situation, you deserve more than somebody else? Put that notion away. That’s the most false notion one can imagine.”

    “But I think a lot of people forget that. They think that they’re entitled to what they have. They don’t understand the opportunity that they have compared to somebody else. And they don’t understand the other person’s lack of opportunity, why he or she is in a certain situation they’re in. So we talk about those things all the time. You have no excuse not to work your best. You have no reason not to be thankful every day that you have the opportunity to come back from a defeat, because some people never even have the opportunity. So it’s the measure of what you’re worth, what you’re made of.” Gregg Popovich, San Antonio Spurs coach.

    Be grateful that you won something, not a lot of people can won it.
    Be grateful that you lose something, because you are given a lesson that not all people can have.
    Be grateful that you can read this post, because not all people can

  • Jendela Kereta Api

    Hari itu, di kereta api terdapat seorang pemuda bersama ayahnya. Pemuda itu berusia 24 tahun, sudah cukup dewasa. Di dalam kereta, pemuda itu memandang keluar jendela kereta, lalu berkata pada ayahnya, “Ayah lihat, pohon-pohon itu sedang
    berlarian”.

    Sepasang anak muda duduk berdekatan dengan mereka. Keduanya melihat pemuda 24 tahun tadi dengan kasihan. Bagaimana tidak, untuk seukuran usianya, kelakuan pemuda itu tampak begitu kekanakan. Namun seolah tak peduli, si pemuda tadi tiba-tiba berkata lagi dengan antusiasnya, “Ayah lihatlah, awan itu sepertinya sedang mengikut kita!”.

    Kedua pasangan muda itu tampak tak sabar, lalu berkata kepada sang ayah dari pemuda itu. “Kenapa anda tidak membawa putra anda
    itu ke seorang dokter yang bagus?” Sang Ayah hanya tersenyum, lalu berkata “Sudah saya bawa, dan sebenarnya kami ini baru saja dari rumah sakit. Anak saya ini sebelumnya buta semenjak kecil, dan ia baru mendapatkan penglihatannya hari ini.”

    Sahabat, setiap manusia di planet ini memiliki ceritanya masing-masing. Jangan langsung kita menghakimi seseorang sebelum kita mengenalnya benar. Karena kebenaran boleh jadi mengejutkan kita. Selalu berprasangka baik kepada setiap orang, karena itu yang diajarkan nabimu, dan itulah cara yang baik untuk hidup.