Tag: belajar

  • Pernah Belajar?

    Seorang cendikiawan menumpang perahu di sebuah danau & bertanya pada tukang perahu, “Saudaraku, pernahkah belajar matematika ?”
    “Tidak”, jawab si tukang perahu
    “Sayang sekali, berarti telah kehilangan 1/4 dari kehidupan ini. Pernahkah belajar ilmu filsafat ?” Tanya si cendikiawan
    “Itu juga tidak”, jawab si tukang perahu
    “2X sayang, berarti telah kehilangan lagi 1/4 dari kehidupan ini. Sejarah ?” Tanya si cendikiawan
    “Juga tidak”, jawab si tukang perahu
    “Artinya, 1/4 lagi kehidupan ini telah hilang”, ucap si cendikiawan
    Tiba-tiba angin bertiup kencang & terjadi badai. Danau yg tadinya tenang menjadi bergelombang, perahu yang ditumpangi pun oleng. Si Cendikiawan pucat ketakutan. Dengan tenang si tukang perahu bertanya, “Apakah pernah belajar berenang ?”
    “Tidak” jawab si cendikiawan
    “Sayang sekali, berarti akan kehilangan seluruh kehidupan ini”, ucap si tukang perahu

    MORAL : Jangan sombong. Sehebat apapun, tidak mungkin menguasai semua ilmu, apalagi ketrampilan. Kita butuh orang lain, tidak peduli seberapa rendah pendidikan orang itu.
    Kalau memandang kegagalan diri & orang lain sebagai “gagal total”, kiamat & tamat riwayat, maka akan berhenti pada kegagalan & tidak akan pernah melihat keberhasilan.
    Dalam hidup, yang dikenang orang adalah
    keberhasilan & bukanlah kegagalan. Mereka yang berhasil adalah yang mampu membuat sebuah pondasi yang kokoh dari batu-batu yang dilemparkan orang lain padanya.

  • Berani Melepaskan Sesuatu

    Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Saat ia menginjakkan kakinya ke tangga bis, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi.

    Bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

    Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, “Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan, Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga?”

    Si bapak tua menjawab, “Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.”

    Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup – jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.

    Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita. Seperti bapak tua dalam kisah tadi, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu.

    Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.

    Satu sepatu hilang, dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan.

    Berkeras hati dan berusaha mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal, suatu keadaan atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.

    Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya. Karena tiada badai yang tak berlalu. Tiada pesta yang tak pernah usai. Semua yang ada didunia ini tiada yang abadi.

  • Belajar dari Merpati

    Merpati adalah burung yang tidak pernah mendua hati. Mari kita perhatikan, apakah ada merpati yang suka berganti pasangan? Jawabannya adalah “tidak”! Pasangannya cukup satu seumur hidupnya.

    Merpati adalah burung yang tahu ke mana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain? Jawabannya adalah “tidak”!

    Merpati adalah burung yang romantis. Mari kita perhatikan, ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci? Jawabannya, “tidak”!

    Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Mari kita perhatikan, ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya? Jawabannya, “tidak”!

    Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan “kepahitan” sehingga tidak menyimpan dendam.

    Jika seekor burung merpati bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa manusia tidak bisa? Hidup itu indah jika kita saling mengerti, berbagi, dan menghargai.

    Bukankah demikian?