Tag: cerita

  • Ayah, anak dan keledai

    Seorang pria dan putranya pergi ke pasar dengan menuntun keledai mereka. Saat mereka berjalan di sisi keledai, seorang penduduk desa melewati mereka dan berkata: “Dasar bodoh, apa gunanya keledai selain untuk ditunggangi?”

    Maka pria itu menaikkan anaknya ke keledai dan mereka melanjutkan perjalanan. Namun, tak lama kemudian mereka melewati sekelompok pria, salah satunya berkata: “Lihat anak muda pemalas itu, dia membiarkan ayahnya berjalan sambil menunggangi keledai.”

    Maka pria itu memerintahkan anaknya untuk turun, dan naik sendiri. Namun, mereka belum berjalan jauh ketika mereka melewati dua wanita, salah satunya berkata kepada yang lain: “Malu pada orang malas itu karena membiarkan putranya yang malang berjalan dengan susah payah.”

    Nah, pria itu tidak tahu harus berbuat apa, tetapi akhirnya dia menyuruh si anak untuk ikut menunggangi si keledai. Saat itu mereka telah tiba di kota, dan orang-orang yang lewat mulai mengejek dan menunjuk mereka. Pria itu berhenti dan bertanya apa yang mereka ejek. Orang-orang itu berkata: “Tidakkah kamu malu pada dirimu sendiri karena telah membebani keledai malangmu dengan dirimu dan anakmu yang besar itu?”

    Pria dan anak itu turun dan mencoba berpikir apa yang harus dilakukan. Mereka berpikir dan berpikir, sampai akhirnya mereka menebang sebuah tiang, mengikat kaki keledai itu padanya, dan mengangkat tiang dan keledai itu ke bahu mereka. Mereka berjalan di tengah tawa semua orang yang bertemu mereka sampai mereka tiba di sebuah jembatan. Tiba-tiba keledai itu berhasil melepaskan salah satu kakinya, menendang dan menyebabkan anak itu melepaskan ujung tiangnya. Dalam pergumulan itu, keledai itu jatuh dari jembatan, dan karena kaki depannya masih terikat, keledai itu pun akhirnya tenggelam.

    “Berusaha memuaskan semua orang, dan kamu tidak akan memuaskan siapa pun.”

  • Pelajaran dari Ban

    Seorang anak memperhatikan ayahnya yang sedang mengganti ban mobil mereka.

    “Mengapa ayah mau repot-repot mengerjakan ini dan tidak memanggil orang bengkel saja untuk mengerjakannya?” tanya si bocah dengan penasaran.

    Sang ayah tersenyum. “Sini, nak, kau lihat dan perhatikan. Ada enam hal tentang ban yang bisa kita pelajari untuk hidup kita,” katanya sambil menyuruh sang bocah duduk di dekatnya. “Belajar dari ban?” Mata sang anak membelalak.

    “Lebih pintar mana ban ini daripada bu guru di sekolah?”

    Sang ayah tertawa. “Gurumu tentu pintar, Nak. Tapi perhatikan ban ini dengan segala sifat-sifatnya.

    Pertama, ban selalu konsisten bentuknya. Bundar. Apakah dia dipasang di sepeda roda tiga, motor balap pamanmu, atau roda pesawat terbang yang kita naiki untuk mengunjungi kakek-nenekmu. Ban tak pernah berubah menjadi segi tiga atau segi empat.”

    Si bocah mulai serius. “Benar juga ya, Yah. Terus yang kedua?”

    “Kedua, ban selalu mengalami kejadian terberat. Ketika melewati jalan berlubang, dia dulu yang merasakan. Saat melewati aspal panas, dia juga yang merasakan.

    Ketika ada banjir, ban juga yang harus mengalami langsung.

    Bahkan ketika ada kotoran hewan atau bangkai hewan di jalan yang tidak dilihat si pengemudi, siapa yang pertama kali merasakannya?” tanya sang ayah.
    “Aku tahu, pasti ban ya, Yah?” jawab sang bocah antusias.”Benar sekali.

    Ketiga, ban selalu menanggung beban terberat. Baik ketika mobil sedang diam, apalagi sedang berjalan. Baik ketika mobil sedang kosong, apalagi saat penuh penumpang dan barang. Coba kau ingat,” ujar sang ayah. Si bocah mengangguk.

    “Yang keempat, ban tak pernah sombong dan berat hati menolak permintaan pihak lain. Ban selalu senang bekerja sama. Ketika pedal rem memerintahkannya berhenti, dia berhenti. Ketika pedal gas menyuruhnya lebih cepat, dia pun taat dan melesat. Bayangkan kalau ban tak suka kerjasama dan bekerja sebaliknya? Saat direm malah ngebut, dan saat digas malah berhenti?”

    “Wow, benar juga Yah,” puji sang bocah sambil menggeser duduknya lebih dekat kepada sang ayah.

    “Nah, sifat kelima ban adalah, meski banyak hal penting yang dilakukannya, dia tetap rendah hati dan tak mau menonjolkan diri. Diag biarkan orang-orang memuji bagian mobil lainnya, bukan dirinya.”
    “Maksud ayah apa?” tanya si bocah bingung.
    “Kamu ingat waktu kita ke pameran mobil bulan lalu?” tanya sang ayah disambut anggukan sang bocah.
    “Ingat dong, Yah, kita masuk ke beberapa mobil kan?”

    “Persis,” jawab sang ayah. “Biasanya di show room atau pameran mobil, pengunjung lebih mengagumi bentuk body mobil itu, lalu ketika mereka masuk ke dalam, yang menerima pujian berikutnya adalah interior mobil itu.

    Sofanya empuk, AC-nya dingin, dashboardnya keren, dll. Jarang sekali ada orang yang memperhatikan ban apalagi sampai memuji ban. Padahal semua kemewahan mobil, keindahan mobil, kehebatan mobil, tak akan berarti apa-apa kalau bannya kempes atau bocor.”

    “Wah, iya ya, Yah, aku sendiri selalu lebih suka memperhatikan kursi mobil untuk tempat mainanku.”

    Sang ayah selesai mengganti bannya, dan berdiri menatap hasil kerjanya dengan puas.

    “Yang keenam tentang ban adalah, betapa pun bagus dan hebatnya mobil yang kau miliki, atau sepeda yang kau punya, atau pesawat yang kita naiki, saat ban tak berfungsi, kita tak akan bisa kemana-mana. Kita tak akan pernah sampai ke tujuan.”
    Sang anak mengangguk-angguk.

    Sang ayah menuntaskan penjelasannya, “Jadi saat kau besar kelak, meski kau menghadapi banyak masalah dibanding kawan-kawanmu, menghadapi lumpur, aspal panas, banjir, atau tak mendapat pujian sebanyak kawan-kawanmu, bahkan terus menanggung beban berat di atas pundakmu, tetaplah kamu konsisten dengan kebaikan yang kau berikan, tetaplah mau bekerja sama dengan orang lain, jangan sombong, ria dan merasa hebat sendiri, banding bandingkan dgn yg lain, jangan kamu memuji muji dirimu, hanya orang lain kelak yg bisa menilai kamu berhasil atau tdk dan yang terpenting, tetaplah menjadi penggerak di manapun kau berada. Itulah yang ayah maksud dengan hal-hal yang bisa kita pelajari dari ban untuk hidup kita.”

  • Mendidik Anak

    Kemarin saat mengobrol di teras rumah teman, tiba2 kami mendengar suara keras dari seorang anak kecil. Ternyata suara anak kecil tsb berasal dari sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah teman saya.Sesaat kemudian ada suara keras lagi yang terdengar. Kali ini suara ibu dari anak tadi. Sahut-sahutan dengan suara keras pun terjadi antara ibu dan anak.. Dan saya pun berdiri untuk mengintip karena penasaran “Emang sering gitu tu anak. Kalo lagi ngambek teriak2. Trus ibunya ikutan teriak2”, ujar teman saya. “Oooo.. Yo pantes”, balas saya.

    Hanya seekor singa yang dapat mengajarkan anaknya untuk mengaum. Hanya seekor burung yang dapat mengajarkan anaknya untuk berkicau.

    Semoga menjadi renungan yang bermanfaat bagi kita semua

  • Jendela Kereta Api

    Hari itu, di kereta api terdapat seorang pemuda bersama ayahnya. Pemuda itu berusia 24 tahun, sudah cukup dewasa. Di dalam kereta, pemuda itu memandang keluar jendela kereta, lalu berkata pada ayahnya, “Ayah lihat, pohon-pohon itu sedang
    berlarian”.

    Sepasang anak muda duduk berdekatan dengan mereka. Keduanya melihat pemuda 24 tahun tadi dengan kasihan. Bagaimana tidak, untuk seukuran usianya, kelakuan pemuda itu tampak begitu kekanakan. Namun seolah tak peduli, si pemuda tadi tiba-tiba berkata lagi dengan antusiasnya, “Ayah lihatlah, awan itu sepertinya sedang mengikut kita!”.

    Kedua pasangan muda itu tampak tak sabar, lalu berkata kepada sang ayah dari pemuda itu. “Kenapa anda tidak membawa putra anda
    itu ke seorang dokter yang bagus?” Sang Ayah hanya tersenyum, lalu berkata “Sudah saya bawa, dan sebenarnya kami ini baru saja dari rumah sakit. Anak saya ini sebelumnya buta semenjak kecil, dan ia baru mendapatkan penglihatannya hari ini.”

    Sahabat, setiap manusia di planet ini memiliki ceritanya masing-masing. Jangan langsung kita menghakimi seseorang sebelum kita mengenalnya benar. Karena kebenaran boleh jadi mengejutkan kita. Selalu berprasangka baik kepada setiap orang, karena itu yang diajarkan nabimu, dan itulah cara yang baik untuk hidup.

  • Rahasia Kebahagiaan

    Seorang pemilik toko menyuruh anaknya untuk belajar tentang rahasia kebahagiaan dari orang paling bijaksana di seluruh negeri. Anak itu melintasi padang pasir selama 40 hari, dan akhirnya tiba di sebuah kastil yang indah, tinggi di puncak gunung. Di sanalah orang bijak itu tinggal.

    Alih-alih mencari orang bijak tersebut, Si Anak malah melihat kesibukan yang sangat di dalam kastil tersebut: pedagang datang dan pergi, orang-orang bercakap-cakap di sudut-sudut, orkestra kecil sedang memainkan musik lembut, dan ada meja ditutupi dengan piring-piring makanan paling lezat di seluruh dunia. Si orang bijak berbicara dengan setiap orang, dan anak muda itu harus menunggu selama dua jam sebelum tiba gilirannya untuk dapat bertemu dengannya.

    Orang bijak mendengarkan dengan seksama penjelasan anak itu mengapa ia datang, tetapi orang bijak tersebut mengatakan bahwa ia tidak punya waktu saat itu untuk menjelaskan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan agar anak itu melihat-lihat istana dan kembali dalam dua jam. “Sementara itu, saya ingin meminta Anda untuk melakukan sesuatu”, kata orang bijak, sambil menyerahkan anak itu sebuah sendok teh berisi dua tetes minyak. “Saat Anda berjalan-jalan, bawa sendok ini bersama Anda dan jangan membiarkan minyaknya tumpah”.

    Anak itu mulai mendaki dan menuruni banyak anak tangga dalam istana, sambil matanya tertuju pada sendok. Setelah dua jam, ia kembali ke ruang di mana orang bijak itu berada. “Nah”, kata si orang bijak, “Apakah Anda melihat permadani Persia yang tergantung di ruang makanku? Apakah Anda melihat taman yang butuh waktu sepuluh tahun untuk menciptakan? Dan apakah Anda melihat perkamen indah dan koleksi di perpustakaan? ” Anak itu merasa malu, dan mengaku bahwa ia tidak sempat melihat apapun. Satu-satunya kekhawatirannya adalah menumpahkan minyak yang telah
    dipercayakan kepadanya. “Kembali dan ulangi lagi, amati dan nikmati lingkungan dan keindahan rumah ini”, kata orang bijak. “Anda tidak bisa mempercayai seseorang, kalau tidak mengenal rumahnya”.

    Merasa lega, anak itu mengambil sendok
    dan kembali menjelajahi istana, kali ini dia
    mengamati semua karya seni di langit-
    langit dan dinding. Dia melihat kebun,
    pegunungan di sekelilingnya, keindahan
    bunga-bunga, dan mencoba menikmati apa yang telah dilihatnya. Setelah itu ia kembali ke orang bijak, ia bercerita tentang apa-apa yang telah dilihatnya.

    “Tapi di mana tetes minyak yang saya percayakan kepada Anda?” tanya si orang bijak. Melihat ke bawah ke sendok di tangannya, anak itu melihat bahwa minyak telah hilang. “Nah, hanya ada satu nasihat yang bisa kuberikan Anda”, kata orang paling bijak.
    “Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjubkan di dunia dan tidak pernah melupakan tetes-tetes minyak di sendok”.

    Penulis: Paul Coelho dalam “The Alchemist”

  • Refleksi Diri

    Suatu hari 4 orang praktisi zen yang bersahabat sedang berjalan bersama. Lalu salah satu dari mereka mengajukan ide untuk bermeditasi bersama malam itu. Semuanya setuju. ‘Tapi kita harus buat kesepakatan. Supaya meditasinya berjalan khidmat, tidak boleh ada yang berbicara atau menimbulkan bunyi berisik apapun, setuju?’. Semuanya menyetujuinya.

    Malam itu, seperti dijanjikan, mereka berkumpul di rumah salah satu praktisi untuk bermeditasi bersama, dengan ditemani sebatang lilin kecil. Tiba-tiba angin kencang bertiup, dan memadamkan lilin kecil tersebut.

    Praktisi 1: Oh tidak, lilinnya sudah mati tertiup angin….
    Praktisi 2: sssstttt, bukannya kita dilarang berbicara apa-apa?
    Praktisi 3: Mengapa kalian berdua melanggar kesepakatan kita?!?!?!
    Praktisi 4: Hehehe, hanya saya yang tidak melanggar kesepakatan

    Betapa mudahnya kita ‘menyoroti’ kesalahan dan kelemahan orang lain, dan betapa sulitnya kita ‘bercermin’ pada kesalahan dan kelemahan diri kita sendiri. Bercermin tentang kesalahan dan kelemahan diri sendiri, adalah sebuah langkah pertama dalam proses pengembangan diri sendiri, menuju hasil yang lebih baik.

    Kalau langkah pertamanya saja sulit kita laksanakan, bagaimana kita mau gembar-gembor bahwa kita sedang ‘berkembang’ atau ‘mengejar nilai kehidupan yang lebih baik’ ?

  • Asah Kapak Anda

    Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran pekerjaan seorang untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin. Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

    Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

    Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan.

    “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi. Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”

    “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”, kata si penebang. “Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

    Istirahat bukan berarti berhenti Tetapi mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan
    menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !

    Dari cerita motivasi kerja diatas, kiranya Anda semua dapat menyimpulkan bagaimana cara kerja yang baik, tanpa harus selalu menguras tenaga terus menerus, untuk mendapatkan hasil kerja yang maksimal. Semoga sedikit cerita motivasi kerja ini dapat menginspirasi kita semua. Amien

    sumber: Andrie Wongso

  • Si Penjual Kerupuk

    Kisah ini diceritakan oleh Bp Chappy Hakim
    (mantan KSAU).

    Pada tahun 1969, saya mengikuti latihan para dasar, terjun payung statik di pangkalan Udara Margahayu Bandung. Menjalani latihan yang cukup berat bersama dengan lebih kurang 120 orang dan ditampung dalam dua barak panjang tempat latihan terjun tempur.

    Setiap makan pagi, siang dan malam hari yang dilaksanakan di barak, kami memperoleh makanan ransum latihan yang diberikan dengan ompreng dan atau rantang standar prajurit. Diujung barak tersedia drum berisi sayur, dan disampingnya ada sebuah karung plastik berisi kerupuk milik seorang ibu setengah baya warga sekitar asrama prajurit yang dijual kepada siapa saja yang merasa perlu untuk menambah lauk makanan yang terasa kurang lengkap bila tidak ada kerupuk.

    Sang ibu paruh baya ini, tidak pernah menunggu barang dagangannya. Setiap pagi, siang dan malam menjelang waktu makan, dia meletakkan karung plastik berisi krupuk dan disampingnya diletakkan pula kardus bekas rinso untuk uang, bagi orang yang membeli kerupuknya. Nanti setelah selesai waktu makan dia datang dan mengemasi karung plastik dengan sisa kerupuk dan kardus berisi uang pembayar kerupuk.

    Iseng, saya tanyakan, “apakah ada yang nggak bayar Bu?” Jawabannya cukup mengagetkan, dia percaya kepada semua siswa latihan terjun, karena dia sudah bertahun-tahun berdagang kerupuk di barak tersebut dengan cara demikian. Hanya meletakkan saja, tidak ditunggu dan nanti setelah semuanya selesai makan, dia baru datang lagi untuk mengambil sisa kerupuk dan uang hasil jualannya. Selama itu, dia tidak pernah mengalami defisit. Artinya tidak ada satu pun pembeli kerupuk yang tidak bayar. Setiap orang memang dengan kesadaran mengambil kerupuk, lalu membayar sesuai harganya. Bila dia harus bayar dengan uang yang ada kembaliannya, dia bayar dan mengambil sendiri uang kembaliannya di kotak rinso kosong tersebut. Demikian seterusnya.

    Beberapa pelatih terjun bercerita bahwa dalam pengalamannya, semua siswa terjun payung yang berlatih disitu dan menginap di barak latihan tidak ada yang berani mengambil kerupuk dan tidak bayar. Mereka takut, bila melakukan itu, khawatir payung nya tidak mengembang dan akan terjun bebas serta mati berkalang tanah.

    Sampai sekarang, saya selalu berpikir, mengapa orang sebenarnya bisa jujur dan dapat dipercaya, hanya karena pintu kematian berada didepan wajahnya. Yang saya pikirkan, bagaimana caranya membuat manusia setiap saat berada dalam kondisi atau suasana latihan terjun, mungkinkah?

  • Letakkan Gelas Anda

    Suatu hari seorang profesor memulai sebuah kelas dengan mengangkat gelas berisi air. Ia mengangkat gelas tersebut dan bertanya kepada siswanya, “Berapa kira-kira berat gelas ini?”
    “Satu ons!” “Dua ons!” Tiga ons!” terdengar jawaban bersahutan dari siswa-siswanya. ”Saya tidak begitu pasti sampai saya menimbangnya,” kata profesor, “tapi pertanyaan saya adalah apa yang terjadi jika saya mengangkatnya selama semenit?”

    “Tak kan terjadi apa-apa”, kata siswa-siswa tersebut.

    “Baik, jika saya mengangkatnya selama satu jam?” tanya professor.

    “Tangan Anda akan terasa pegal”, jawab para siswa.

    “Kalau saya angkat selama seharian penuh?”

    “Tangan Anda akan sakit, bahkan mungkin bisa terluka otot-ototnya dan Anda harus dirawat di rumah sakit tentunya”, jawab salah satu siswa dan disambut tawa seluruh siswa di kelas tersebut.

    “Tepat sekali”, jawab professor. “Tapi apakah kesakitan saya tersebut disebabkan karena berat gelas tersebut berubah?” lanjut profesor. “Tidak,” jawab siswa serentak, “itu karena otot-otot Anda menerima tegangan yang terlalu lama”.

    Profesor kembali bertanya, “Lalu apa yang harus saya lakukan?” Seisi kelas terdiam. Tiba-tiba salah seorang siswa menjawab, “Letakkan gelas tersebut”.

    “Excactly, tepat sekali!” jawab sang profesor. “Problem dan masalah dalam hidup dapat diibaratkan mengangkat gelas ini. Camkan kata-kata ini, mengangkatnya lebih lama akan membuatmu merasa pegal. Mengangkat lebih lama lagi dapat membahayakanmu, bahkan dapat membunuhmu.”

    “Sangat penting berpikir tentang tantangan-tantangan dalam hidup, tapi akan LEBIH PENTING meletakkannya sejenak setiap, mengakhiri hari saat kalian semua beranjak tidur dan tidak membawanya bersama tidurmu. Dengan begitu kalian tidak akan merasa tertekan, kalian bangun di pagi hari dengan rasa segar, kuat dan tegar menghadapi setiap tantangan dan masalah yang datang.”

    Pelajaran:
    “Kegagalan bukanlah suatu masalah yang besar. Anda harus pernah merasakannya untuk mengetahui apa arti sebuah kesuksesan. Banyak orang tidak siap dengan sebuah situasi kegagalan. Belajarlah dari kegagalan meski itu terjadi berkali-kali!”

  • Siapa yang Bodoh?

    Suatu hari, ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka. Tukang cukur berkata, “Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal”
    “Masak, apa iya?” jawab pengusaha. Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu menyuruh Benu memilih, “Benu, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!”
    Benu melihat ke tangan tukang cukur dimana ada uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp.1.000.

    Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, “Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang yang nilainya lebih kecil.”

    Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Benu dan bertanya, “Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp.2.000 dan Rp.1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp.1.000, kenapa tak ambil yang Rp.2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp.1.000?”

    Benu pun tertawa kecil berkata, “Saya tidak akan dapat lagi Rp.1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil uang Rp.2.000 . Kalau saya ambil yang Rp.2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari…”

    Catatan : Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga
    mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya kita jika tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. Di atas langit masih ada langit yang lain.