Tag: hidup

  • Ayah, anak dan keledai

    Seorang pria dan putranya pergi ke pasar dengan menuntun keledai mereka. Saat mereka berjalan di sisi keledai, seorang penduduk desa melewati mereka dan berkata: “Dasar bodoh, apa gunanya keledai selain untuk ditunggangi?”

    Maka pria itu menaikkan anaknya ke keledai dan mereka melanjutkan perjalanan. Namun, tak lama kemudian mereka melewati sekelompok pria, salah satunya berkata: “Lihat anak muda pemalas itu, dia membiarkan ayahnya berjalan sambil menunggangi keledai.”

    Maka pria itu memerintahkan anaknya untuk turun, dan naik sendiri. Namun, mereka belum berjalan jauh ketika mereka melewati dua wanita, salah satunya berkata kepada yang lain: “Malu pada orang malas itu karena membiarkan putranya yang malang berjalan dengan susah payah.”

    Nah, pria itu tidak tahu harus berbuat apa, tetapi akhirnya dia menyuruh si anak untuk ikut menunggangi si keledai. Saat itu mereka telah tiba di kota, dan orang-orang yang lewat mulai mengejek dan menunjuk mereka. Pria itu berhenti dan bertanya apa yang mereka ejek. Orang-orang itu berkata: “Tidakkah kamu malu pada dirimu sendiri karena telah membebani keledai malangmu dengan dirimu dan anakmu yang besar itu?”

    Pria dan anak itu turun dan mencoba berpikir apa yang harus dilakukan. Mereka berpikir dan berpikir, sampai akhirnya mereka menebang sebuah tiang, mengikat kaki keledai itu padanya, dan mengangkat tiang dan keledai itu ke bahu mereka. Mereka berjalan di tengah tawa semua orang yang bertemu mereka sampai mereka tiba di sebuah jembatan. Tiba-tiba keledai itu berhasil melepaskan salah satu kakinya, menendang dan menyebabkan anak itu melepaskan ujung tiangnya. Dalam pergumulan itu, keledai itu jatuh dari jembatan, dan karena kaki depannya masih terikat, keledai itu pun akhirnya tenggelam.

    “Berusaha memuaskan semua orang, dan kamu tidak akan memuaskan siapa pun.”

  • Permulaan dan Akhir Hidup

    Life only has one beginning and one end, and the rest is just a whole lot of middle.

    Hidup hanya mempunyai satu permulaan dan satu akhir, dan sisanya hanya lah tumpukan dari “bagian tengah”

    Ketika suatu hal buruk terjadi, itu bukanlah AKHIR dari hidupmu. Itu masih pertengahan dari hidupmu. Maju terus, lewati terus bagjan tengahmu, sampai pada akhirnya ketika kamu sampai di titik akhir 🙂


    Tambahan:
    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • Kejadian di hidupmu

    Things (bad or good) aren’t happened TO you. They are happened FOR you. There is always a lesson behind everything.

    Kejadian (baik atau buruk) bukan terjadi KEPADA kamu. Mereka terjadi UNTUK kamu. Selalu ada pelajaran dibalik semuanya.

  • Hidup di Saat Ini Dengan Bahagia

    Pada sebuah senja yang berwarna keemasan, seorang lelaki muda dengan ransel di punggung berjalain menaiki sebuah bukit hijau. Langkah gagahnya tiba-tiba terhenti. Di sudut jalan setapak yang dilaluinya, terlihat seorang lelaki tua, mungkin pertapa, sedang termangu-mangu memandang langit. Penasaran, bertanyalah si anak muda itu, “Ada apa gerangan yang membuat Anda bingung, duhai orang tua.”

    “Tingkah polah manusia di dunia ini, anakku,” jawan si orang tua.

    “Kenapa,” tanya si anak muda.

    “Karena mereka mengorbankan kesehatannya hanya demi uang, lalu mengorbankan uangnya demi Kesehatan,” kata si orang tua, “Mereka juga sangat khawatir terhadap masa depannya. Akhirnya mereka tidak Hidup pada masa depan ataupun masa kini.”

    Sambil mengelus dada, orang tua itu kembali berujar, “Para manusia bertingkah dalam hidup seakan-akan tidak akan mati, lalu mereka mati tanpa pernah benar-benar menikmati apa itu hidup.”

    Mendengar uraian tersebut, si anak muda jadi ikut gelisah. Setelah terdiam lama, dia pun bertanya. “Kalau begitu, apa yang seharusnya manusia lakukan?”

    “Sederhana saja. Jangan sombong karena kaya dan berkedudukan. Jangan minder karena miskin dan hina. Bukankah kita semua hanyalah tamu dan semua milik kita hanyalah pinjaman? Tetaplah rendah hati seberapa pun tinggi kedudukan kita. Tetaplah percaya diri seberapa pun kekurangan kita. Karena kita hadir tidak membawa apa-apa dan kembali juga tidak membawa apa-apa. Datang ditemani oleh tangis, pergi juga ditemani oleh tangis,” berkata si orang tua dengan nada lembut. 

    “Maka dari itu tetaplah bersyukur dalam segala keadaan apa pun dan hiduplah di saat yang benar-benar ada dan nyata untuk kita, yaitu saat ini. Bukan dari bayang-bayang masa lalu maupun mencemaskan masa datang yang belum lagi tiba,” ujar si orang tua sambil memegang pundak si anak muda.

  • Ternyata, Hidup Ini Sederhana

    Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh yang mewawancarai, akhirnya dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

    Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

    Ada seorang murid bekerja di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tersebut. Selain memperbaiki sepeda, anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Teman-temannya menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, anak ini diajak bekerja di tempat si empunya sepeda.

    Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

    Seorang anak berkata kepada ibunya, “Ibu hari ini sangat cantik.” Sang Ibu bertanya, “Mengapa?” Anak menjawab, “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah.”

    Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

    Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja dengan giat di sawah. Temannya berkata, “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.” Petani menjawab, “Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku.”

    Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.

    Seorang pelatih bola berkata kepada anak didiknya, “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?” Ada yang menjawab, “Cari mulai dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab, “Cari di rerumputan yang cekung ke dalam.” Dan ada yang menjawab, “Cari di rumput yang paling tinggi.” Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat, “Setapak demi setapak cari dari ujung rumput yang sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana.”

    Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat – loncat.

    Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan , “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.” Katak di pinggir jalan menjawab, “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.” Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa katak itu sudah mati dilindas mobil yang lewat.

    Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.

    Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya, “Mengapa engkau begitu santai?” Dia menjawab sambil tertawa, “Karena barang bawaan saya sedikit.”

    Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.

  • 1000 Kelereng

    Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.

    Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.

    Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara “Bincang-bincang Sabtu Pagi”. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.

    “Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.

    Ia melanjutkan: “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.

    Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya. “Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun.

    Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting.”

    “Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini,” sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.

    “Lalu aku pergi ke toko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya.” 

    “Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu.”

    “Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku befikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Tuhan telah memberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi.”

    “Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”

    Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.

    “Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan,” kataku, “Lho, ada apa ini…?” tanyanya tersenyum. “Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial,” jawabku,” Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.” (KR)

  • Hidup Saling Berkaitan

    Ada seorang petani yang memenangkan tender ekspor jagung karena kualitas jagunya yang baik. Setiap tahun ia mengekspor jagung ke sebuah negara besar.

    Seorang reporter datang mewawancarainya dan belajar sesuatu yang menarik tentang bagaimana ia berhasil. Reporter itu menemukan bahwa petani itu berbagi benih jagung dengan tetangganya.

    “Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung terbaik dengan tetangga Anda, padahal mereka juga bersaing dengan Anda setiap tahunnya?” tanya reporter itu.

    “Kenapa?” tanya petani itu. “Kau tidak tahu? Angin mengambil serbuk sari dari kebun jagung dan berputar-putar dari ladang yang satu ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung tidak berkualitas, penyerbukan silang tentunya akan menurunkan kualitas jagung saya. Jika saya bermaksud menanam jagung yang baik, maka saya pun harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung berkualitas yang baik.

    Ia sangat menyadari keterkaitan kehidupan. Jagungnya tidak bisa berkualitas baik kecuali jagung tetangganya pun berkualitas baik.

    Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang memilih untuk hidup dalam damai harus membantu tetangga mereka untuk hidup dalam damai. Mereka yang memilih untuk hidup dengan baik harus membantu orang lain untuk hidup dengan baik, nilai kehidupan diukur dengan kehidupan yang bersentuhan dengannya.

    Dan mereka yang memilih untuk menjadi bahagia harus membantu orang lain untuk menemukan kebahagiaan. Kesejahteraan masing-masing berkaitan dengan kesejahteraan semua. (*)

  • Menyia-nyiakan Hidup

    Berikut ini percakapan antara seorang gembala muda dengan seorang pria yang berpendidikan tinggi tentang apa itu menyianyiakan hidup.

    Seorang gembala yang berusia 20-an tahun sedang beritirahat di bawah pohon.

    Seorang pria yang berpendidikan baik datang dan berujar, “Anda telah menyianyiakan hidup Anda.”

    Gembala: Mengapa?

    Pria: Lihat diri Anda. Anda adalah seorang pengembara tanpa tujuan. Anda masih muda, ini saatnya Anda bekerja keras, menemukan passion­ Anda dan melakukan sesuatu yang besar…

    Gembala: Ohh, lalu selanjutnya apa yang terjadi jika aku melakukannya?

    Pria: Anda dapat membangun rumah yang besar, memiliki banyak uang dan menjadi orang yang sukses.

    Gembala: Kemudian apalagi?

    Pria: Kemudian Anda dapat bersantai dan hidup dengan bahagia.

    Gembala: Tapi…Saya sudah melakukannya saat ini juga. (InspiringShortStories)