Tag: jodoh

  • Realita Di Balik “Pria Pemilih”

    Tulisan ini aku ambil dari Hitman System

    Ada sebuah sesi yang selalu saya, Lex dan Kei tunggu-tunggu setiap kali memulai workshop , yakni Tell Your Stories. Para peserta akan menceritakan latar belakang, motivasi mengikuti HSEW, serta kisah-kisah sedih dari kehidupan romance
    mereka. Kenapa sesi ini sangat kami sukai? Karena sesi selalu membawa saya, Kei, dan Lex kembali melayang ke masa lalu, saat kami masih melakukan apa yang mereka lakukan serta mendapatkan hasil yang sama.

    Patah Hati.

    Kesedihan.

    Menangis.

    Dada terkoyak.

    Dan berbagai sindrom pilu lainnya.

    Jadi ketika salah seorang peserta HSEW XV kemarin mengaku, “Iya nih, gue nungguin satu wanita yang sama selama 9 tahun,” jantung saya seketika kehilangan irama normalnya.

    DEG!!! Saya nyaris melompat dari kursi saat mendengarnya, berbarengan dengan para crew yang menggeleng-geleng kepala dengan
    takjub. Kemudian saat saya, Kei, dan Lex mulai mempreteli setiap paragdima mereka dan alasan mengapa mereka terus gagal dalam romance, peserta mengaku ‘digantung’ oleh wanita selama bertahun-tahun di atas itu mengeluarkan celetukan, “Eh, temen wanita gue banyak kok, tapi gue emang tipe pemilih aja sih, jadinya susah untuk dapetin yang pas.”

    Pada detik itu juga saya ingin menghajarnya dengan asbak di atas meja. Tapi berhubung biaya pelatihan tidak termasuk premi asuransi jiwa, maka saya mengurungkan niat tersebut. Jadi yang bisa saya lakukan hanya berkata, “BULLSHIT!!! Gak ada pria yang gak dapet wanita karena dia pemilih. Elo gak dapet wanita ya karena emang lo ada melakukan kesalahan, bukan karena elo tipe pria pemilih! Justru karena elo emang gak punya pilihan dan tidak mampu menciptakan pilihan makanya elo jadi nunggu satu wanita selama 9 tahun!” sambil membayangkan menghajarnya bolak-balik dengan mesin peluncur rudal antar-benua. Kasar? Kejam? Terlalu vulgar dalam bertata-bahasa?

    That’s what we do in every workshop. Kami menghajar peserta dengan keras karena mereka telah mengeluarkan uang untuk dihajar sekeras-kerasnya untuk dapat bangkit dan sadar dari tidur nyenyaknya. Guys, salah satu proses menjadi Glossy adalah mengenal diri sendiri dan membuang ilusi-ilusi bodoh di dalam diri kita. Salah satunya adalah ilusi alasan bahwa Anda adalah seorang ‘pria pemilih.’

    Saya teringat beberapa tahun yang lalu saat masih duduk di SMA, saya sering kali berkata seperti itu, “Ah gue emang tipe pemilih sih”, “Gue milih-milih wanita, man, musti liat semuanya dulu baru gue bakalan PDKT,” atau ratusan omong kosong lainnya seputar alasan serupa lainnya mengapa saya belum pacaran atau terlihat dekat dengan wanita manapun.

    ‘Pria pemilih’ menjadi realita palsu yang selalu saya gunakan dahulu. Mungkin Anda termasuk pria yang menggunakannya juga dalam kehidupan Anda sehari-hari sekarang ini. Saat itu, realita ‘pria pemilih’ begitu kental melekat dengan diri saya, bahkan saya anggap sebuah kebenaran yang absolut.

    Bertahun-tahun kemudian, saya baru mulai menyadari kekonyolan tindakan itu. Alasan ‘pria pemilih’ yang sering saya dan Anda pakai dalam konteks tersebut adalah sebuah defense mechanism yang berguna untuk sebagian atau malah seluruh alasan berikut ini:
    • mencegah saya terlihat atau dinilai tidak laku oleh teman-teman,
    • menutupi bahwa saya juga sebenarnya tidak tahu bagaimana cara mendekati lawan jenis,
    • memberikan asumsi bahwa saya memiliki cita rasa tertentu dan setiap wanita harus melalui proses seleksi yang cukup ketat, bukannya seperti pria putus-asa yang siap menerima siapa saja yang datang ke arahnya

    Anda keberatan? Tidak masalah, tunggu saja beberapa tahun lagi, Anda pasti akan mengerti maksud saya. Ketika saya menyadari hal-hal di atas, alasan dan realita bahwa saya adalah ‘pria pemilih’ menjadi sesuatu yang tolol bin menyedihkan.

    Mari beranalogi bersama-sama.
    Cerita A: Seorang pria masuk ke toko CD. Ia berjalan mengelilingi lorong musik Jazz, Pop, dan RnB. Setelah sibuk melihat sana dan sini, membaca track lagu, membandingkan sejumlah musisi, ia akhirnya membeli album terbaru Level 42.

    Cerita B: Pria lainnya masuk ke toko yang sama. Ia langsung menuju lorong musik RnB. Setelah sibuk melihat sana sini mencari sebuah judul album, berputar untuk mengecek di sejumlah rak dan lorong yang berbeda, dan bertanya pada shop assistant, ia keluar tanpa menenteng apa-apa.

    Cerita C: Pria ketiga masuk ke toko CD yang sama, berjalan di setiap lorong yang tersedia di sana, melirik kesana-kemari, lalu keluar tanpa membeli apa-apa. Temannya yang menunggu di luar bertanya, “Kok gak jadi beli? Kan banyak yang bagus-bagus?” Dia menjawab, “Ah, gue kalo beli CD tuh milih-milih. Tadi gak ada yang bagus sih,” dan temannya mengangguk-angguk sambil berkata, “Oh gue juga sih, pemilih banget deh soal musik.”

    Melihat kasus di atas, pria A dan B
    kemungkinan besar memang sudah
    mempersiapkan diri dengan sejumlah
    kemampuan yang diperlukan, misalnya persediaan finansial, pengetahuan tentang musik dan minat sejumlah genre, atau fokus pada sebuah album tertentu. Sekalipun pria B dan C sama-sama tidak keluar menenteng tas belanjaan, namun ada perbedaan yang dapat dibedah. Mempertimbangkan sejumlah alasan, maka kita akan sampai pada kedua kemungkinan logis di bawah ini tentang pria C di atas:
    • dia tidak membawa cukup uang, jadi supaya tidak malu dia tinggal mengaku dirinya tipe pemilih.
    • dia tidak tahu musik mana yang bagus karena hidupnya hanya seputar online game, chatting, Friendster, dan sejenisnya. Apa yang dia tahu seputar musik hanya soundtrack Winning Eleven atau game lainnya serta ringtone handphone. Namun agar tidak malu, dia tinggal mengaku dirinya tipe pemilih.

    Itulah sebabnya pria A dan B lebih tepat dan masuk akal bila di sebut jelas adalah tipe pria pemilih dalam pengertian yang sebenarnya! Seorang pria layak menyebut dirinya ‘pria pemilih’ bila dia mampu mendapatkan pilihan yang diinginkan , atau setidaknya berada dalam realita bahwa dia memiliki sejumlah pilihan, atau sanggup menciptakan pilihan! Anda bisa mengerti sekarang mengapa alasan ‘pria pemilih’ oleh pria B itu terdengar sangat menyedihkan? Apakah Anda pernah melakukannya untuk konteks romance?

    Mari kita kupas lebih dalam. Hanya ketika Anda memiliki Power to Bargain atau Power to Buy, Anda boleh memakai paradigma dan realita ‘pria pemilih’ karena hal tersebut akan memungkinkan Anda untuk memilih dan memutuskan ‘produk’ terbaik yang Anda inginkan. Ketika Anda tidak memiliki kemampuan di atas, Anda hanya berlagak saja memiliki pilihan dan menjadi seorang pemilih dalam petualangan romantis Anda.

    Pada kenyataannya, bukan saja Anda tidak mampu memilih sebuah ‘produk’ yang Anda inginkan, bahkan Anda sendiri kemungkinan besar belum memiliki pilihan apapun. Ilusi realita ‘pria pemilih’ yang Anda pakai juga memiliki dampak lainnya. Misalnya saat Anda gagal mendekati dan mendapatkan wanita yang diinginkan , Anda akan mengumandangkan kembali pada alasan, “Ah, santai aja, toh wanita itu emang bukan tipe gue.”

    Defense mechanism yang muncul
    untuk menyelamatkan ego Anda tersebut akan menghalangi untuk belajar kesalahan atau kekurangan apa yang perlu Anda perbaiki untuk memastikan Anda tidak berakhir dengan hasil yang sama lain kali. Anda memilih untuk menipu diri, daripada menelan rasa malu untuk mengakui bahwa diri Anda tidak memiliki kekuatan untuk mendapatkan wanita yang Anda mau, rasa malu untuk mengakui kalau Anda sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang bagaimana caranya mendapatkan wanita yang diinginkan. Kalau Anda sekarang ini baru saja ditolak oleh wanita yang Anda suka, atau Anda sudah belasan tahun menjomblo dan usaha Anda mendekati wanita selalu gagal, dan sering memakai alasan, “Gue tipe pemilih sih man. Si Jennifer itu bukan tipe gue banget. Malesin deh, makanya gue mundur aja.”

    Tanyakan pada diri Anda sendiri sekarang:
    Apa Anda memang benar-benar menyadari dan merasa memiliki kemampuan untuk memilih wanita manapun yang Anda inginkan untuk dijadikan partner?

    Atau pikiran dan perasaan itu hanya muncul agar Anda terhindar dari rasa malu bahwa Anda terus-menerus jomblo, tidak mengerti banyak soal cara mendekati wanita, dan selalu berakhir pada penolakan?

    Silakan jawab pada hati nurani Anda sendiri.

    Setelah itu, mulai detik ini biasakan untuk berseru, “Bullshit!” kepada setiap teman Anda yang menyatakan bahwa dirinya adalah ‘cowo pemilih,’ sementara kenyataannya Anda bisa melihat sendiri itu adalah alasan superfisial yang lebih nyaring daripada tong kosong manapun. Jangan lupa untuk berseru, “Bullshit!” pada diri Anda sendiri setiap kali Anda mendapati mulut dan kepala Anda ingin memakai realita bodoh itu.

    ‘Cowo pemilih’ adalah salah satu ilusi
    berbahaya yang menjadi masalah utama banyak pria di luar sana. Ilusi tersebut mencegah Anda untuk melihat ke dalam diri sendiri. Ilusi tersebut mencegah Anda untuk
    mengenali lebih kekurangan yang Anda miliki, terlebih lagi mengakuinya. Ilusi tersebut membuat Anda berpikir kalau Anda mampu membuat pilihan sementara kenyataannya tidak pernah ada pilihan sama sekali. Ilusi tersebut menghambat diri Anda untuk memperbaiki diri, terus tenggelam dalam pusaran yang gelap, sampai akhirnya ketika Anda sadar dan ingin mengubah keadaan, semuanya sudah terlambat.

    Guys, wake up and smell the coffee.
    Coba jadi jujur dengan hati Anda, dan tidak perlu malu atau terkejut bila menemukan ternyata Anda suka berlindung dibalik alasan ‘pria pemilih.’ Be proud that finally you are strong enough to admit it, and realize that you’re not alone. I’ve been there. Lex and Kei have been there also.

    Together, we can walk you to the glossy reality.

    Are you coming?

    Sahabat Anda,

    Jet Veetlev

  • Benarkah Dia Belahan Jiwaku?

    by Corneliusluxveritatis7.wordpress.com
    November 20

    “I, N. N., take thee, N. N., for my lawful wife (husband), to have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, until death do us part.” – Catholic Marriage Vows

    Orang yang sedang mabuk asmara tentunya tidak jarang menanyakan pertanyaan berikut: “apakah ia belahan jiwaku?”; “mungkinkan ia cinta sejatiku?”. Sedangkan bagi orang Katolik yang pemahamannya memadai dan pernah belajar sedikit tentang Teologi Tubuh, maka pertanyaannya berupa “apakah ia sungguh pasangan yang dikehendaki Tuhan bagiku? Mungkin saya perlu melakukan discernmentuntuk itu.”

    Pertanyaan ini muncul karena dalam diri manusia terdapat kebutuhan untuk menjalin sebuah keintiman dengan seorang yang berbeda jenis, seseorang yang mengasihi kita dan mau menerima kita sebagaimana adanya. Lantas, sebenarnya apa yang ada di benak kita bila kita menggunakan istilah belahan jiwa atau jodoh tersebut?

    Belahan jiwa atau jodoh kelihatannya berarti orang yang tepat dan cocok untuk menjadi pendamping hidup kita. Seolah-olah, merekalah cinta sejati kita dan dengan hidup bersama, kita akan mengalami kebahagiaan. Tidak jarang kebahagiaan di sini berarti bahwa jodoh kita akan memenuhi semua kebutuhan kita, kita tidak akan berkekurangan dan menderita. Semua akan tampak baik. “Dan mereka hidup bahagia selamanya”, seperti yang dikatakan di akhir cerita dongeng. Padahal, kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai.

    Lalu, untuk menemukan jodoh yang tepat ini, mungkin orang Katolik akan mulai melakukan discernment untuk mengetahui apakah Ia memang dikehendaki Allah bagi kita. Namun, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa ia memang diciptakan Tuhan untuk menjadi pendamping hidup kita? Apa kita bisa sungguh yakin? Harus seberapa akuratdiscernement yang kita lakukan?

    Artikel dari Unam Sanctam berjudul “Courtship and Dating”menjabarkan bahwa konsep discernment hanya diterapkan untuk mengetahui apakah seseorang terpanggil menjalani hidup selibat atau hidup berkeluarga. Tidak pernah ada pemahaman “discernment untuk mengetahui siapa yang menjadi jodoh saya menurut kehendak Allah”. Persoalan siapa yang akan kita nikahi, merupakan hal yang tidak semestinya dipandang sebagai usaha mencari tahu kehendak Allah tentang jodoh kita secara pasti, melainkan dilihat sebagai kebijaksanaan manusia dalam mengambil keputusan.

    Tujuh Dampak Negatif dari Konsep Soulmate

    Namun, apa yang terjadi bila kita menganggap dengan serius bahwa memang ada jodoh kita di luar sana, yang harus kita temukan? Bagaimana bila pemikiran kita sungguh terpusat untuk menemukan belahan jiwa kita, cinta sejati kita, dengan kepercayaaan yang tidak disadari bahwa sang belahan jiwa akan memberikan kebahagiaan yang meniadakan kesusahan hidup? Ada beberapa jawaban yang bisa saya berikan.

    Pertama, akan muncul rasa tidak aman (insecure). Rasa tidak aman ini muncul bila kita melihat kelemahan pasangan kita, yang mungkin menimbulkan konflik. Kita akan tergoda untuk ragu dan bertanya-tanya, “apa benar ia sungguh jodoh saya? Bagaimana bila tidak demikian? Kalau begitu, saya harus sangat berhati-hati agar tidak salah memilih. Saya tidak mau hidup dengan orang yang salah.”

    Kedua, rasa cemburu juga akan tampil ke permukaan, karena bisa saja kita berpikir kalau di luar sana, akan ada pria atau wanita yang lebih baik, lebih sempurna, lebih cantik, lebih pengertian, dst daripada pasangan kita. Dampaknya, muncullah rasa cemburu terhadap invisible man or woman, sebuah sosok tanpa wajah yang tidak kita kenal, yang ada di luar sana, yang dapat membahayakan relasi yang sedang dibangun.

    Ketiga, rasa tidak aman dan cemburu ini juga berdampak pada melemahnya rasa saling percaya di antara pasangan. Kita terlalu takut kehilangan orang yang kita cintai. Kita resah memikirkan kemungkinan bahwa bisa saja pria atau wanita yang sedang berinteraksi dengan pasangan kita, dianggap sebagai belahan jiwa yang lebih sempurna. Akibatnya, timbullah rasa curiga yang berlebihan.

    Keempat, keyakinan tentang adanya soulmate malah menempatkan beban yang begitu besar ke pundak pasangan kita, karena kita memiliki keyakinan bahwa jodohku harus sempurna, ia bisa membahagiakan saya, memenuhi kebutuhan saya, tidak membuat saya menderita, dsb. Akibatnya, bisa saja pernikahan yang baru berjalan sebentar menjadi rapuh dan pecah. Seseorang merasa salah dalam memilih, dan tidak tahan menanggung kesulitan. Akibatnya, perceraian pun terlihat sebagai sebuah godaan yang menggiurkan, sebuah pintu yang akan menyelesaikan segala persoalan.

    Kelima, bila kita beranggapan bahwa soulmate kita harus memenuhi semua kebutuhan kita dan membahagiakan kita, ada kemungkinan bahwa kebahagiaan kita bergantung pada orang lain. Sebagai orang Katolik, satu-satunya sumber kebahagiaan kita ialah Allah. Dan kita disebut berbahagia bila kita menjalani delapan Sabda Bahagia dengan sungguh-sungguh. Bukan berarti kita ataupun pasangan kita boleh berhenti untuk mengasihi, melainkan bahwa tidak selayaknya kita mengharuskan atau menuntut kesempurnaan yang sangat tinggi terhadap mereka.

    Keenam, pemahaman soulmate yang serba sempurna akan membuat kita mudah kecewa kita menghadapi konflik dan bertemu dengan kelemahan ia yang menjadi pasangan kita. Kekecewaan ini dapat berujung pada sebuah perpisahan, dikarenakan kita merasa yakin ia bukan orang yang tepat bagi kita, bukan cinta sejati kita. Bila kita tidak berhati-hati, kita akan menjadi takut untuk membuat komitmen seumur hidup, atau kita akan terus melakukan pencarian cinta sejati tanpa henti, karena di luar sana akan tetap selalu ada orang yang lebih baik dari pasangan kita.

    Ketujuh, gambaran soulmate yang terlalu idealis dapat membuat kita sulit untuk berpuas diri terhadap kelemahan seseorang. Padahal, sikap kita seharusnya ialah mensyukuri apa yang sudah dipercayakan pada kita, termasuk pasangan kita. Ketidaksempurnaan pasangan kita, itulah yang dapat menguduskan kita, asal kita dapat mengolahnya dengan baik.

    Menemukan Konsep Pasangan Hidup yang Sejati

    Bila konsep belahan jiwa ini menimbulkan efek negatif, maka pertanyaannya ialah, sebagai seorang Katolik, bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan pencarian seorang pribadi yang hendak menjadi pasangan hidup kita?

    Suatu hari saya pernah bertanya kepada Bapa Pengakuan saya, “Romo, bagaimana saya bisa mengetahui kalau pacar saya itu sungguh merupakan pasangan hidup yang Tuhan kehendaki bagi saya?”, sang romo hanya menjawab demikian: “Kalau relasi kita sungguh intim dengan Allah, kita mungkin bisa tahu dengan pasti (maksudnya ialah kita dapat langsung bertanya dan mendengarkan jawaban Allah secara langsung), namun bila tidak, kita hanya bisa membaca tanda-tanda: apakah ia setia, apakah ia orangnya baik secara moral, rajin ke Gereja, tekun bekerja, dst.”

    Kita tidak pernah bisa merasa yakin secara absolut bahwa seseorang yang kita cintai memang sungguh dikehendaki Tuhan bagi kita. Kita tidak bisa berharap Allah akan membisikkan kata-kata di telinga kita, “Ya, dia adalah jodohmu!”

    Namun yang bisa kita lakukan ialah mengenal kepribadiannya. Kita perlu tahu apakah ia mengutamakan Tuhan dalam hidupnya, apakah ia sungguh berusaha menjalani hidup yang kudus dan murni, apakah ia memiliki karakter yang diperlukan untuk dapat menjalani hidup bersama, apakah ia berusaha mengembangkan keutamaan, tekun berdoa dan bekerja, setia dan rela berkorban, serta semua kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Setelah menimbang semua ini, dengan kejernihan hati dan budi, barulah kita dapat mengambil keputusan: Ya, saya ingin membangun keluarga dan menghabiskan seluruh hidup saya bersamanya.

    Oleh karena itulah maka dalam Misa Pernikahan, imam tidak pernah bertanya, apakah kalian saling mencintai, tetapiapakah kamu bersedia menerima dia sebagai suami atau istrimu? Bukan cinta, melainkan kehendak bebas, tekad, keputusan, atau komitmen yang seharusnya menjadi fondasi sebuah hubungan.

    Tidak ada yang namanya cinta sejati yang siap pakai, atau belahan jiwa yang sempurna tanpa cacat cela, karena akan selalu ada orang yang lebih baik daripada pasangan kita. Yang ada hanyalah sebuah ketegasan: Ya, saya mau mengasihinya dalam kerapuhannya, mau menjadi sempurna bersamanya dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, sampai maut memisahkan kita.

    Saat kita memutuskan untuk menikahinya, kita tidak akan pernah bisa tahu secara mutlak, apakah ia sungguh “jodoh saya.” Melainkan, kita baru akan mengetahuinya, ketika kita telah menjadi tua dan melihat ke belakang, memandang setiap momen yang telah dijalani dalam suka dan dukanya, lalu dapat berkata dengan tulus, “setelah semua yang terjadi, saya bersyukur telah memilih kamu sebagai istri [atau suami] saya.”

    Kita menikahi pasangan kita bukan karena ia adalah jodoh kita, melainkan karena kita bertekad untuk menjadikannya pendamping hidup kita, sampai maut yang memisahkan. Dan ini merupakan sebuah taruhan seumur hidup.

    Sebagai penutup, saya kira perkataan Tolkien berikut merangkum esensi artikel ini:

    “Nearly all marriages, even happy ones, are mistakes: in the sense that almost certainly (in a more perfect world, or even with a little more care in this very imperfect one) both partners might be found more suitable mates. But the real soul-mate is the one you are actually married to.” – J.R.R. Tolkien

  • Mencari yang Sempurna

    Seorang pemuda yang hidup di Perth telah mencapai usia dimana ia merasa harus mencari pasangan hidup. Jadi ia mencari gadis sempurna di seluruh negeri untuk dinikahinya. Setelah berhari-hari, berminggu-minggu mencari, ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik, jenis gadis yang bisa menghiasi sampul majalah perempuan bahkan tanpa make-up atau kosmetik! Namun, meski dia kelihatan sempurna, pemuda itu tak ingin menikahinya. Sebab gadis itu tidak bisa masak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya.

    Lalu ia mencari lagi, selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan akhirnya ia menemukan gadis yang bahkan lebih cantik lagi, dan kali ini masakan gadis itu luar biasa
    lezat, lebih baik dari yang bisa Anda dapatkan
    di restoran terbaik di Australia, bahkan lebih
    baik dari yang bisa Anda dapatkan di
    restoran keluarga. Gadis ini bahkan menjalankan usaha restorannya sendiri! Namun pemuda ini tak ingin menikahinya pula. Sebab kekurangan gadis itu adalah dia bodoh. Dia tak bisa menjalin percakapan sama sekali, sama sekali tidak cerdas. Dia belum menamatkan pendidikan, segala yang ia tahu cuma memasak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya.

    Maka ia mencari selama berminggu-minggu,
    berbulan-bulan, hingga ia akhirnya menemukan gadis yang satu ini! Ia begitu cantik, masakannya melebihi restoran bintang lima, bahkan ia punya tiga restoran sendiri: ala Thai, ala Jepang dan ala Italia. Dan ia begitu cerdas, ia punya dua gelar doktor, pengetahuannya begitu luas, bisa menjalin percakapan begitu hebat, begitu baik, begitu welas asih. Ia sempurna! Tapi, pemuda ini tak bisa menikahinya.

    Sebab gadis ini mencari pria yang sempurna!