Tag: Katolik

  • Benarkah Dia Belahan Jiwaku?

    by Corneliusluxveritatis7.wordpress.com
    November 20

    “I, N. N., take thee, N. N., for my lawful wife (husband), to have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, until death do us part.” – Catholic Marriage Vows

    Orang yang sedang mabuk asmara tentunya tidak jarang menanyakan pertanyaan berikut: “apakah ia belahan jiwaku?”; “mungkinkan ia cinta sejatiku?”. Sedangkan bagi orang Katolik yang pemahamannya memadai dan pernah belajar sedikit tentang Teologi Tubuh, maka pertanyaannya berupa “apakah ia sungguh pasangan yang dikehendaki Tuhan bagiku? Mungkin saya perlu melakukan discernmentuntuk itu.”

    Pertanyaan ini muncul karena dalam diri manusia terdapat kebutuhan untuk menjalin sebuah keintiman dengan seorang yang berbeda jenis, seseorang yang mengasihi kita dan mau menerima kita sebagaimana adanya. Lantas, sebenarnya apa yang ada di benak kita bila kita menggunakan istilah belahan jiwa atau jodoh tersebut?

    Belahan jiwa atau jodoh kelihatannya berarti orang yang tepat dan cocok untuk menjadi pendamping hidup kita. Seolah-olah, merekalah cinta sejati kita dan dengan hidup bersama, kita akan mengalami kebahagiaan. Tidak jarang kebahagiaan di sini berarti bahwa jodoh kita akan memenuhi semua kebutuhan kita, kita tidak akan berkekurangan dan menderita. Semua akan tampak baik. “Dan mereka hidup bahagia selamanya”, seperti yang dikatakan di akhir cerita dongeng. Padahal, kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai.

    Lalu, untuk menemukan jodoh yang tepat ini, mungkin orang Katolik akan mulai melakukan discernment untuk mengetahui apakah Ia memang dikehendaki Allah bagi kita. Namun, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa ia memang diciptakan Tuhan untuk menjadi pendamping hidup kita? Apa kita bisa sungguh yakin? Harus seberapa akuratdiscernement yang kita lakukan?

    Artikel dari Unam Sanctam berjudul “Courtship and Dating”menjabarkan bahwa konsep discernment hanya diterapkan untuk mengetahui apakah seseorang terpanggil menjalani hidup selibat atau hidup berkeluarga. Tidak pernah ada pemahaman “discernment untuk mengetahui siapa yang menjadi jodoh saya menurut kehendak Allah”. Persoalan siapa yang akan kita nikahi, merupakan hal yang tidak semestinya dipandang sebagai usaha mencari tahu kehendak Allah tentang jodoh kita secara pasti, melainkan dilihat sebagai kebijaksanaan manusia dalam mengambil keputusan.

    Tujuh Dampak Negatif dari Konsep Soulmate

    Namun, apa yang terjadi bila kita menganggap dengan serius bahwa memang ada jodoh kita di luar sana, yang harus kita temukan? Bagaimana bila pemikiran kita sungguh terpusat untuk menemukan belahan jiwa kita, cinta sejati kita, dengan kepercayaaan yang tidak disadari bahwa sang belahan jiwa akan memberikan kebahagiaan yang meniadakan kesusahan hidup? Ada beberapa jawaban yang bisa saya berikan.

    Pertama, akan muncul rasa tidak aman (insecure). Rasa tidak aman ini muncul bila kita melihat kelemahan pasangan kita, yang mungkin menimbulkan konflik. Kita akan tergoda untuk ragu dan bertanya-tanya, “apa benar ia sungguh jodoh saya? Bagaimana bila tidak demikian? Kalau begitu, saya harus sangat berhati-hati agar tidak salah memilih. Saya tidak mau hidup dengan orang yang salah.”

    Kedua, rasa cemburu juga akan tampil ke permukaan, karena bisa saja kita berpikir kalau di luar sana, akan ada pria atau wanita yang lebih baik, lebih sempurna, lebih cantik, lebih pengertian, dst daripada pasangan kita. Dampaknya, muncullah rasa cemburu terhadap invisible man or woman, sebuah sosok tanpa wajah yang tidak kita kenal, yang ada di luar sana, yang dapat membahayakan relasi yang sedang dibangun.

    Ketiga, rasa tidak aman dan cemburu ini juga berdampak pada melemahnya rasa saling percaya di antara pasangan. Kita terlalu takut kehilangan orang yang kita cintai. Kita resah memikirkan kemungkinan bahwa bisa saja pria atau wanita yang sedang berinteraksi dengan pasangan kita, dianggap sebagai belahan jiwa yang lebih sempurna. Akibatnya, timbullah rasa curiga yang berlebihan.

    Keempat, keyakinan tentang adanya soulmate malah menempatkan beban yang begitu besar ke pundak pasangan kita, karena kita memiliki keyakinan bahwa jodohku harus sempurna, ia bisa membahagiakan saya, memenuhi kebutuhan saya, tidak membuat saya menderita, dsb. Akibatnya, bisa saja pernikahan yang baru berjalan sebentar menjadi rapuh dan pecah. Seseorang merasa salah dalam memilih, dan tidak tahan menanggung kesulitan. Akibatnya, perceraian pun terlihat sebagai sebuah godaan yang menggiurkan, sebuah pintu yang akan menyelesaikan segala persoalan.

    Kelima, bila kita beranggapan bahwa soulmate kita harus memenuhi semua kebutuhan kita dan membahagiakan kita, ada kemungkinan bahwa kebahagiaan kita bergantung pada orang lain. Sebagai orang Katolik, satu-satunya sumber kebahagiaan kita ialah Allah. Dan kita disebut berbahagia bila kita menjalani delapan Sabda Bahagia dengan sungguh-sungguh. Bukan berarti kita ataupun pasangan kita boleh berhenti untuk mengasihi, melainkan bahwa tidak selayaknya kita mengharuskan atau menuntut kesempurnaan yang sangat tinggi terhadap mereka.

    Keenam, pemahaman soulmate yang serba sempurna akan membuat kita mudah kecewa kita menghadapi konflik dan bertemu dengan kelemahan ia yang menjadi pasangan kita. Kekecewaan ini dapat berujung pada sebuah perpisahan, dikarenakan kita merasa yakin ia bukan orang yang tepat bagi kita, bukan cinta sejati kita. Bila kita tidak berhati-hati, kita akan menjadi takut untuk membuat komitmen seumur hidup, atau kita akan terus melakukan pencarian cinta sejati tanpa henti, karena di luar sana akan tetap selalu ada orang yang lebih baik dari pasangan kita.

    Ketujuh, gambaran soulmate yang terlalu idealis dapat membuat kita sulit untuk berpuas diri terhadap kelemahan seseorang. Padahal, sikap kita seharusnya ialah mensyukuri apa yang sudah dipercayakan pada kita, termasuk pasangan kita. Ketidaksempurnaan pasangan kita, itulah yang dapat menguduskan kita, asal kita dapat mengolahnya dengan baik.

    Menemukan Konsep Pasangan Hidup yang Sejati

    Bila konsep belahan jiwa ini menimbulkan efek negatif, maka pertanyaannya ialah, sebagai seorang Katolik, bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan pencarian seorang pribadi yang hendak menjadi pasangan hidup kita?

    Suatu hari saya pernah bertanya kepada Bapa Pengakuan saya, “Romo, bagaimana saya bisa mengetahui kalau pacar saya itu sungguh merupakan pasangan hidup yang Tuhan kehendaki bagi saya?”, sang romo hanya menjawab demikian: “Kalau relasi kita sungguh intim dengan Allah, kita mungkin bisa tahu dengan pasti (maksudnya ialah kita dapat langsung bertanya dan mendengarkan jawaban Allah secara langsung), namun bila tidak, kita hanya bisa membaca tanda-tanda: apakah ia setia, apakah ia orangnya baik secara moral, rajin ke Gereja, tekun bekerja, dst.”

    Kita tidak pernah bisa merasa yakin secara absolut bahwa seseorang yang kita cintai memang sungguh dikehendaki Tuhan bagi kita. Kita tidak bisa berharap Allah akan membisikkan kata-kata di telinga kita, “Ya, dia adalah jodohmu!”

    Namun yang bisa kita lakukan ialah mengenal kepribadiannya. Kita perlu tahu apakah ia mengutamakan Tuhan dalam hidupnya, apakah ia sungguh berusaha menjalani hidup yang kudus dan murni, apakah ia memiliki karakter yang diperlukan untuk dapat menjalani hidup bersama, apakah ia berusaha mengembangkan keutamaan, tekun berdoa dan bekerja, setia dan rela berkorban, serta semua kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Setelah menimbang semua ini, dengan kejernihan hati dan budi, barulah kita dapat mengambil keputusan: Ya, saya ingin membangun keluarga dan menghabiskan seluruh hidup saya bersamanya.

    Oleh karena itulah maka dalam Misa Pernikahan, imam tidak pernah bertanya, apakah kalian saling mencintai, tetapiapakah kamu bersedia menerima dia sebagai suami atau istrimu? Bukan cinta, melainkan kehendak bebas, tekad, keputusan, atau komitmen yang seharusnya menjadi fondasi sebuah hubungan.

    Tidak ada yang namanya cinta sejati yang siap pakai, atau belahan jiwa yang sempurna tanpa cacat cela, karena akan selalu ada orang yang lebih baik daripada pasangan kita. Yang ada hanyalah sebuah ketegasan: Ya, saya mau mengasihinya dalam kerapuhannya, mau menjadi sempurna bersamanya dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, sampai maut memisahkan kita.

    Saat kita memutuskan untuk menikahinya, kita tidak akan pernah bisa tahu secara mutlak, apakah ia sungguh “jodoh saya.” Melainkan, kita baru akan mengetahuinya, ketika kita telah menjadi tua dan melihat ke belakang, memandang setiap momen yang telah dijalani dalam suka dan dukanya, lalu dapat berkata dengan tulus, “setelah semua yang terjadi, saya bersyukur telah memilih kamu sebagai istri [atau suami] saya.”

    Kita menikahi pasangan kita bukan karena ia adalah jodoh kita, melainkan karena kita bertekad untuk menjadikannya pendamping hidup kita, sampai maut yang memisahkan. Dan ini merupakan sebuah taruhan seumur hidup.

    Sebagai penutup, saya kira perkataan Tolkien berikut merangkum esensi artikel ini:

    “Nearly all marriages, even happy ones, are mistakes: in the sense that almost certainly (in a more perfect world, or even with a little more care in this very imperfect one) both partners might be found more suitable mates. But the real soul-mate is the one you are actually married to.” – J.R.R. Tolkien

  • Kelirumologi “Kristen dan Katolik”

    Kelirumologi adalah istilah humoris untuk merujuk kepada beberapa kekeliruan logika dalam pembentukan frasa dan kata yang sudah terlalu sering dipakai pengguna Bahasa Indonesia sehingga dianggap benar. Dari judul artikel ini, tentulah yang akan saya bahas adalah kekeliruan logika dalam pembentukan istilah “Kristen dan Katolik”.

    Banyak umat Katolik di Indonesia terjebak pada istilah yang salah kaprah yaitu “Kristen dan Katolik” di mana umat Katolik berpikir bahwa Katolik bukanlah Kristen. Ada pula yang ditanya, “Anda seorang Kristen?”; tetapi umat Katolik tersebut malah menjawab “Bukan, saya seorang Katolik”. Salah kaprah di Indonesia termasuk dalam pembuatan KTP menyebabkan istilah yang tidak tepat “Kristen dan Katolik” mendarah-daging di mana pemahamannya nama “Kristen” itu merujuk kepada Protestan sementara “Katolik” kepada Katolik. Sayangnya, karena kesalahkaprahan yang sudah mendalam ini, sulit sekali untuk mengoreksinya secara luas. Meskipun begitu, umat Katolik hendaknya berprinsip membiasakan yang benar daripada membenarkan kebiasaan.

    Permasalahan ini ternyata sudah pernah dijelaskan dan dipecahkan oleh seorang Bapa Gereja, St. Pacianus (310-391 M), Uskup Barcelona dari tahun 365-391 M. St. Pacianus menulis sebuah surat-surat (epistula) kepada Sympronianus yang berisi Seruan Pertobatan dan Penjelasan Mengenai Pembaptisan. Pada surat pertamanya, St. Pacianus berbicara mengenai nama “Katolik”.

    St. Pacianus berkata:
    “Kristen adalah nama saya, tetapi Katolik adalah nama belakang saya (my surname). Yang pertama memberikan saya sebuah nama, yang terakhir membedakan saya. Oleh yang satu saya diterima, oleh yang lainnya saya ditandai.”

    St. Pacianus melanjutkan:
    “Dan bila pada akhirnya kita harus memberikan pertanggungjawaban atas kata “Katolik” dan mengambilnya dari bahasa Yunani oleh interpretasi Latin; [makna] “Katolik” adalah “di seluruh” atau sebagaimana orang terpelajar pikir “ketaatan dalam semuanya” yaitu dalam semua perintah Allah. Yang dari Rasul [Paulus], “apakah kamu taat dalam segala sesuatu” (2 Kor 9:12) dan lagi “sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.” (Rom 5:19). Oleh karena itu, barangsiapa adalah Katolik, orang yang sama adalah taat. Barangsiapa adalah taat, orang yang sama adalah seorang Kristen dan dengan demikian Katolik adalah Kristen. Oleh karena itu, umat kita (our people), ketika dinamai Katolik, dipisahkan oleh sebutan ini dari nama yang sesat (heretical name).”

    Dari pernyataan St. Pacianus dari Barcelona di atas, kita dapat melihat bahwa seorang Katolik pastilah seorang Kristen. Perlulah umat Katolik pahami bahwa identitas kita adalah Kristen Katolik, yaitu Pengikut Kristus (Kristen) di dalam Gereja Katolik yang kita imani sebagai satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus.

    Sebagaimana yang dinyatakan St. Pacianus dari Barcelona di atas, nama “Katolik” digunakan untuk membedakan Gereja Kristus yang benar dari kelompok-kelompok sesat. Memang benar bahwa Gereja Kristus ini pada mulanya belum memiliki nama. Tetapi, kemunculan kelompok-kelompok yang mengajarkan ajaran sesat (di mana mereka juga mengaku Kristen) pada abad-abad pertama akhirnya membuat Gereja yang didirikan Kristus ini bernama Katolik. Santo Pacianus dari Barcelona menjelaskannya:
    “Ketika setelah masa Para Rasul, ajaran sesat telah meledak dan menyebar dengan berbagai nama untuk merobek sedikit demi sedikit dan memecahbelah. Bukankah umat Apostolik memerlukan nama mereka sendiri untuk menandai kesatuan orang-orang yang tidak rusak? Misalkan, hari ini, saya masuk ke sebuah kota yang padat. Ketika saya menemukan Marcionit, Apolinarian, Catafrigian, Novasian dan berbagai macam dari mereka yang menyebut diri mereka Kristen; dengan nama apa saya harus mengenal jemaat saya sendiri bila bukan diberi nama Katolik?”

    Arti kata “Kristen” adalah “Pengikut Kristus”. Saat ditanya “Apakah anda seorang Kristen?”, perlu diperhatikan bahwa bila kita umat Katolik menjawab “Saya bukan Kristen, saya seorang Katolik.” maka akan muncul dua hal yang keliru yaitu:
    1. Anda menyangkal diri anda seorang pengikut Kristus (Kristen).
    2. Anda menunjukkan bahwa Katolik bukanlah pengikut Kristus (Kristen).

    Nah, apakah kita umat Katolik mau menyangkal diri kita seorang pengikut Kristus? Tentu tidak bukan. Kalau begitu, mari kita biasakan yang benar. Katolik adalah Kristen. Kita adalah Kristen Katolik, pengikut Kristus di dalam Gereja Katolik. Mungkin akan muncul pertanyaan dari non-Katolik, “Kamu tadi bilang kamu seorang Kristen tapi kenapa kamu ikut Misa di Katolik? Kan Kristen itu beda dari Katolik.” Ya dijelaskan saja kesalahkaprahan tersebut agar orang tersebut mengerti.

    Jadi, saya tanya kepada anda umat Katolik: “Apakah anda seorang Kristen?” ^_^ Silahkan jawab dengan benar.

    Tambahan:
    1. Gereja Katolik sejak dari awal sampai sekarang memang seringkali diserang dengan berbagai ajaran yang salah dan menyimpang (bidaah). Beberapa ajaran tersebut dapat dilihat di artikel ini.

    2. Pada masa sekarang ternyata muncul juga Gereja atau persekutuan gerejawi yang menggunakan nama “Katolik” tetapi sebenarnya bukan “Katolik”. Perlu diketahui bahwa ciri yang pasti dari Katolik adalah persatuan penuh dengan Paus, Uskup Roma. Mereka yang tidak bersatu dengan Paus bukanlah umat Gereja Katolik.

    3. In fact, kata “Katolik” ada dalam Kitab Suci. Silahkan baca artikel ini.

    Sumber : Indonesian Papist

  • Dikuburkan atau Dikremasi? Pandangan Gereja Katolik Mengenai Hal Ini

    Sebenarnya hal ini sempat terlintas di pikiranku sih. Seperti yang kita ketahui, lahan untuk pemakaman semakin susah saja, terutama di kota-kota besar. Di kotaku sekarang (Manokwari) pun, agak susah untuk mendapatkan lahan untuk pemakanan. Selain masalah lahan, masalah tetek bengek yang lain juga banyak. Jadi memang aku sempat kepikiran, bagaimana ya kalo kremasi?

    Kemarin malam kebetulan nemu tulisan ini di facebook. Intinya adalah:
    1. Gereja menghimbau sebaiknya dikuburkan kalau tidak ada halangan apa pun. Kenapa dikuburkan? Ada dua alasan. Pertama, kita percaya bahwa pada akhir jaman, kita akan dibangkitkan lagi oleh Tuhan, bukan cuma bangkit secara roh tapi termasuk badan kita (bagian “kebangkitan badan” di doa Aku Percaya”. Kedua, karena tubuh manusia semasa hidupnya merupakan tempat tinggal Roh Kudus, maka ketika dia sudah meninggal, hendaknya tubuh itu diperlakukan dengan hormat. Dan secara kebudayaan, manusia sejak dahulu kala selalu menguburkan orang yang meninggal. Menguburkan dan memberikan batu nisan akan memberi kehormatan kepada yang meninggal, serta merupakan pengingat kepada kita akan orang tersebut. Secara sejarah, biasanya kalau kita tidak menyukai seseorang, maka jasadnya akan dibakar.
    2. Jika memang tidak dimungkinkan untuk dikuburkan, atau ada alasan-alasan lain, misal keinginan pribadi dari orang yang meninggal, maka Gereja tidak melarang proses kremasi, selama bukan dilakukan karena tidak percaya akan Kebangkitan Badan (lihat atas). Walau pun sudah dikremasi, hendaknya abu itu masih tetap diperlakukan dengan hormat, seperti diletakkan di wadah yang layak, dan disimpan di tempat yang dikhususkan (mausoleum atau sejenisnya).
    3. Proses menaburkan abu jenazah di laut, di gunung, di udara, atau dimana pun tidak disarankan, karena mengurangi penghormatan kepada yang sudah meninggal.

    Bagi yang ingin membaca lebih lengkap penjelasan mengenai hal ini, bisa membuka tautan ini.

    Semoga bermanfaat 🙂

  • Pandangan Gereja Katolik Mengenai Bayi Tabung

    Awalnya aku gak sengaja nemu artikel ini Sperma menjadi komoditas ekspor di Amerika. Cukup menarik membaca artikelnya, dimana di amerika sana, mendonorkan sperma bisa menjadi pemasukan sampingan buat pria. Terlepas dari masalah moralnya, ternyata banyak sekali kostumer untuk sperma beku ini. Kalau dulu pembelinya cuma pasangan suami istri yang memang susah mendapatkan anak, sekarang pembelinya mulai ada wanita single yang memang tidak ingin menikah, atau pun pasangan lesbian. Aku sendiri tau ada beberapa kenalan yang melakukan program bayi tabung, dan sudah melahirkannya.

    Kemudian aku jadi penasaran, apa pandangan Gereja Katolik mengenai teknologi pembuahan bayi secara buatan ini? Maka aku coba cek ke katolisitas.org, dan menemukan artikel tentang bayi tabung. Pada intinya, Gereja memandang bahwa proses itu adalah dosa. Tapi (dan ini penting untuk diingat), bayi yang dilahirkan adalah sama seperti bayi-bayi lainnya, dimana dia merupakan anugerah dari Tuhan, dan wajib dipandang sebagai manusia yang sama dengan manusia-manusia lainnya. Ya, proses pembuatannya berdosa, tapi yang berdosa adalah orang tuanya. Bayinya sendiri tidak lah berdosa, karena dia bisa tercipta lahir karena ijin Tuhan, sama seperti bayi yang dihasilkan dari proses alami.
    Ya, banyak perdebatan bahwa tujuan proses ini kan mulia, untuk melanjutkan keturunan, dilakukan karena memang tidak bisa mempunyai anak, dkk. Tapi ingat, Tuhan sendiri mengingatkan bahwa niat yang baik saja tidak cukup. Niat yang baik, tapi kalau dilaksanakan secara salah, maka itu adalah dosa. Contoh lain yang juga relevan adalah tentang white lies (berbohong demi kebaikan) dan dongeng Robin Hood.

    Semoga 2 artikel diatas bisa menambah pengetahuan kita 🙂

  • Berdoa Dengan Benar Secara Katolik

    Mengapa kita berdoa?
    “Prayer is the raising of one’s mind and heart to God or the requesting of good things from God.” But when we pray, do we speak from the height of our pride and will, or “out of the depths” of a humble and contrite heart? He who humbles himself will be exalted; humility is the foundation of prayer. Only when we humbly acknowledge that “we do not know how to pray as we ought,” are we ready to receive freely the gift of prayer. “Man is a beggar before God.” (CCC, 2559)

    KGK 2559 “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik”. Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis.

    Itulah sebuah pemahaman tentang arti doa dari ajaran Gereja Katolik. Berdoa adalah getaran hati suara nurani yang menyapa Allah. Suatu permohonan dan syukur kepada Allah. Oleh karena itu tidaklah dapat dipungkiri bahwa berdoa merupakan suatu bagian penting bagi orang beriman. Tanpa doa iman kita akan lemah tanpa daya, kering dan tidak berbobot, tapi dengan berdoa iman kita dikuatkan, diteguhkan, ditopang hingga kokoh kuat tak tergoyahkan. Maka kebiasaan berdoa bagi umat Katolik sangatlah penting mulai dari anak-anak hingga orang tua dan kakek nenek tak terkecuali wajib berdoa. Namun berdoa macam mana yang benar secara Katolik? Itulah yang menjadi pokok persoalan kita.

    Kemarin pada tgl 7 Desember 2010 ketika terjadi pertemuan darat tim katolisitas.org dengan para pengunjung umat katolik di Jakarta, saya menyinggung perihal berdoa secara benar dan katolik. Sudah banyak kali saya mendengarkan orang Katolik berdoa tidak sesuai dengan iman Katolik. Doanya mengambang, intensi tidak berisi dan kesulitan dalam mengakhiri doanya. Lalu bagaimana berdoa secara benar dan Katolik?

    Menurut pengalaman rohani dari St Theresa dari Lisieux, doa adalah:
    “For me, prayer is a surge of the heart; it is a simple look turned toward heaven, it is a cry of recognition and of love, embracing both trial and joy” (suatu gelora, sentakan dalam hati, sebuah penglihatan kembali untuk ke depan menuju tahta surgawi, sebuah jeritan pengetahuan akal budi dan cinta yang memeluk keduanya dalam suatu cobaan dan sukacita (bdk. St. Therese of Lisieux, Manuscrits autobiographiques, C 25r.).

    Berdoalah menurut pola ”Doa Bapa Kami”.
    Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
    datanglah Kerajaan-Mu,
    jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
    Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
    seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
    dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
    tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
    [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] (Matius 6:9-13).

    Dalam doa Bapa Kami ada 3 pokok penting yang mendapat perhatian saat kita hendak doa:
    1). Menyebut nama Allah dengan atributnya (kemahakuasaan Allah). Menyapa Allah sebagai Bapa yang sungguh dekat di hati manusia. Dia yang tidak jauh namun ada dan tinggal di antara kita sebagai Bapa kita. Memohon datangnya
    kerajaan-Nya di dunia.
    2). Intensi (permohonan) kita kepada Allah Bapa yakni rezeki setiap hari, kesehatan jiwa dan badan.
    3) Menutup doa dengan memohon agar dikuatkan iman kita sehingga tidak jatuh dalam pencobaan. Terakhir setiap doa yang benar dan katolik ditutup dengan rumusan panjang lengkap bersifat trinitaris Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, atau rumusan pendek kristologis, yaitu “…. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami.” Pola doa Bapa Kami juga memberikan contoh kepada kita untuk berdoa secara benar dan sungguh Katolik (di bawah artikel ini diberikan contoh yang benar).

    Sifat-sifat yang menyertai doa yang benar:
    a) Berdoalah dengan tekun.
    Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius 7:7). Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut
    akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan
    tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? (Lukas 18:1-7). Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama,… (Kisah Para Rasul 1:14)
    b) Berdoalah secara tersembunyi dengan rendah hati.
    Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Matius 6:6). Tempat
    tersembunyi yang dimaksudkan dalam sabda Tuhan ini adalah di dalam hati. Hati adalah tempat kita berjumpa dengan Tuhan. Kerendahan hati adalah dasar dari doa yang benar. Berdoalah dengan rendah hati dan dengan pertobatan. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (Lukas 18:13).
    c) Berdoalah dengan tidak bertele-tele.
    Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan (Matius 6:7). Ia berkata kepada mereka: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Lukas 22:40).
    d) Berdoalah dalam pribadi Tuhan Yesus.
    Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yohanes 14:13-14). Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya (Yohanes 15:7). Berdoalah dengan iman dan keyakinan bahwa doamu sedang dikabulkan. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu
    minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu (Markus.11:24).
    e) Berdoalah dengan kuasa dari Roh Kudus.
    ”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Lukas 11:13). ”Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” (Lukas 24:49). ”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8)
    f) Berdoa itu mempersatukan umat beriman dengan Allah Bapa.
    Hal ini ditekankan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus (Efesus 3:18-21): “Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat
    mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi
    dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. Bagi Dialah
    kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya”. Teks dari “Catechism of the Catholic Church” (Katekismus Gereja Katolik) di bawah ini menambah pemahaman kita tentang berdoa.
    “In the New Covenant, prayer is the living relationship of the children of God with their Father
    who is good beyond measure, with his Son Jesus Christ and with the Holy Spirit. The grace of the Kingdom is “the union of the entire holy and royal Trinity….with the whole human spirit.” Thus, the life of prayer is the habit of being in the presence of the thrice-holy God and in communion with him. This communion of life is always possible because, through Baptism, we have already been united with Christ. Prayer is Christian insofar as it is communion with Christ and extends throughout the Church, which is his Body. Its dimensions are those of Christ’s love” (CCC, 2565).
    KGK 2565 Dalam Perjanjian Baru, doa adalah hubungan yang hidup anak-anak Allah dengan
    Bapanya yang tidak terhingga baiknya, bersama Putera-Nya Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus. Rahmat Kerajaan Allah adalah “persatuan seluruh
    Tritunggal Mahakudus dengan seluruh jiwa” manusia (Gregorius dari Nasiansa, or. 16,9). Dengan demikian, kehidupan doa berarti bahwa kita selalu berada dalam hadirat Allah yang tiga kali kudus dan dalam persekutuan dengan Dia. Persekutuan hidup ini memang selalu mungkin, karena melalui Pembaptisan kita sudah menjadi satu dengan Kristus (Bdk. Rm 6:5). Doa itu Kristen, sejauh ia merupakan persekutuan dengan Kristus dan menyebar luas di dalam Gereja, Tubuh Kristus. Ia merangkum segala sesuatu, sama seperti cinta kasih Kristus (Bdk. Ef 3:18-2).

    Contoh doa pribadi yang benar dan Katolik.
    Allah Bapa kami yang mahabaik, kami bersyukur untuk hari baru ini yang telah Kau anugerahkan bagi kami. Engkau telah melindungi kami selama semalam yang telah berlalu dan memberikan begitu banyak rezeki hingga saat ini. Kami mohon berikanlah kami hati yang sanggup bersyukur dan hati yang selalu memberi kepada orang lain dari anugerah yang telah kami terima daripada-Mu.
    Semoga kami sanggup melakukan itu dengan menolong sesama yang berkekurangan. Doa ini kami sampaikan kepadamu dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup bersama Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin. (Penutup doa bersifat trinitaris: Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus)

    Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas penyertaanmu sepanjang hari ini. Kami menyadari bahwa banyak kesalahan dan kekurangan telah kami lakukan sepanjang hari ini. Kami mohon pengampunan darimu dan berilah kami kekuatan untuk bangkit dari kesalahan kami. Semoga besok kami mampu menjadi murid-Mu yang sejati. Karena Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
    (Penutup doa bersifat kristologis di mana Kristus menjadi pengantara kita satu-satunya dan bersifat universal kepada Allah Bapa).

    Sumber: Katolisitas