Tag: kejahatan

  • Siklus Kejahatan

    Pernah ada seorang raja yang begitu kejam dan tidak adil memimpin sebuah kerajaan. Sampai-sampai rakyatnya merindukan kematian raja atau penurunan dari tahta. Hingga suatu hari raja mengejutkan rakyatnya dengan sebuah pengumuman bahwa ia akan membuka lembaran baru.
    “Tidak ada lagi kekejaman, tidak ada lagi ketidakadilan,” janjinya. Banyak janji-janji bagus yang ia lontarkan. Ia pun dikenal menjadi seorang Raja yang lembut.

    Satu  bulan setelah transformasi, salah satu menterinya punya cukup keberanian untuk bertanya apa yang membuat perubahan dalam diri raja itu.

    Raja itu menjawab, “Ketika aku sedang berlari melalu hutan, aku melihat seekor rubah dikejar oleh anjing. Rubah melarikan diri ke dalam lubang, tapi anjing itu sempat menggigit kakinya dan membiarkannya hidup. Kemudian aku melewati sebuah desa dan melihat anjing yang sama di sana. Ia menggonggong pada seorang pria. Saat aku melihat, pria itu mengambil batu besar dan melemparkannya pada anjing itu mengenai kakinya. Tidak jauh pria itu beranjak, ia ditendang oleh seekor kuda.  Lututnya hancur karena ia jatuh ke tanah, akhirnya pria itu cacat seumur hidup. Kuda itu pun lari tapi terperosok ke dalam lubang dan kakinya patah. Berkaca pada semua yang telah terjadi, aku berpikir bahwa kejahatan akan melahirkan kejahatan. Jika aku terus memerintah dengan cara yang jahat, aku pasti akan dikalahkan oleh kejahatan. Jadi, aku memutuskan untuk berubah.”

    Menteri yang sangat yakin akan menggulingkan rajanya dan merebut tahtanya itu pun berlalu. Tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia tidak melihat jalan di depannya. Ia pun jatuh ke dalam lubang, dan lehernya patah.

    Apa yang kita berikan kepada orang lain akan kembali kepada kita. Jika kita berbuat baik kepada orang lain, baik kepada kita pun akan terjadi. Jika kita memperlakukan orang lain dengan buruk, giliran kita juga akan datang.

  • Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

    Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal, pagi itu menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

    Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

    “Tuhan menciptakan semuanya?” tanya Profesor sekali lagi.

    “Ya, Pak, semuanya,” kata mahasiswa tersebut.

    Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

    Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama adalah sebuah mitos.

    Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

    “Tentu saja,” jawab si Profesor,

    Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

    “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” tanya si Profesor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

    Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu – 43 derajat Celcius adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

    Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

    Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

    Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi, Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

    Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

    Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

    Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Prof,  kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

    Profesor itu pun terdiam.

    Dan, nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.