Tag: orang

  • Wanita, Sandal, dan Mahkota

    Seorang pemuda berkata, “Wanita itu seperti sandal jepit, ia akan diganti dan dibuang saat ditemukan sandal lain yang lebih bagus dan pas.”

    Mendengar hal itu, kakek tua yang duduk di sebelahnya berkata, “Benar, wanita itu memang seperti sandal jepit, itu karena engkau menganggap dirimu sebagai kaki, sebagai ceker! Tapi bagiku, wanita itu seperti Mahkota, yang kuletakkan di atas kepala, kuhormati, kurawat dan kujaga sepenuh hati, takkan pernah kuganti. Itu karena aku menganggap diriku sebagai Raja.”

    Saat seseorang memperlakukan orang lain dengan buruk, karena memang pada dasarnya ia menganggap dirinya sendiri juga buruk.

    Manusia masih bisa hidup tanpa kaki, tapi tanpa kepala ia takkan lagi bernyawa. Karena itu bagi para wanita, jadikanlah dirimu seperti mahkota dengan menjaga kehormatan dan kesucian Anda dari perbuatan tidak terpuji. Dan untuk para pria, hormatilah wanita sebagaimana Anda menghormati Ibu Anda.

  • Berpikir Positif pada Orang Lain

    Kisah ini bermula dari seorang murid yang setia dalam menempuh berbagai jalan dalam menuntut ilmu.

    Setelah sekian lama si murid berjuang demi mencapai tingkat akademik yang lebih tinggi, tiba akhirnya Sang Guru memberikan ujian terakhir. Jika si murid bisa menjawab pertanyaan yang akan diberikannya, ia akan dinyatakan lulus dan harus pergi untuk mengamalkan segala ilmu yang telah dimilikinya.

    Sang Guru yang tampak arif dan bijaksana bertanya kepada murid kesayangannya.

    “Muridku, hari ini aku akan memberimu satu pertanyaan dan aku harap kamu bisa menjawabnya dengan tepat,” kata Sang Guru.

    “Baik Guru, apa pertanyaannya?”

    “Kamu akan aku beri waktu selama 3 hari untuk mencari makhluk yang dalam pandanganmu sangat buruk.”

    Dengan penuh percaya diri si murid pun pergi meninggalkan gurunya untuk merenung dan mencari jawaban yang diberikan oleh Sang Guru tadi.

    Pada hari pertama, si murid bertemu dengan orang yang gemar berjudi, mabuk-mabukan yang hampir setiap hari tidak pernah berdoa kepada Tuhan.

    Maka terbesitlah dalam hatinya, “Mungkin orang ini lebih buruk dari aku karena dia berbuat maksiat sedangkan aku tergolong ahli ibadat.”

    Maka pulanglah si murid ke rumahnya. Sampai di rumah ia berpikir, apakah benar ia lebih baik dari penjudi dan pemabuk yang dijumpainya tadi? Lantas si murid menyadari, bahwa manusia bukanlah robot yang bisa diprogram dengan satu tingkah laku yang tidak pernah bisa berubah. Manusia adalah makhluk yang dikarunia akal dan pikiran dan diberi kesempatan untuk bertobat kepada Tuhan.

    Maka si murid pun menyimpulkan bahwa dirinya tidak lebih baik dari pemabuk dan penjudi itu selagi masih menjalani hidup di dunia yang penuh dengan cobaan ini. Karena, boleh jadi seorang yang larut dalam dosa-dosa yang melimpah lantas bertobat dan mengakhiri hidupnya dengan akhir yang indah lagi sempurna. Ia akan lebih baik dari seorang ahli ibadah yang tidak pernah ikhlas dalam menjalankan ketaatan kepada Tuhan.

    Pada hari kedua, si murid keluar rumah lagi dan menjumpai seekor anjing jelek buruk rupa dan penyakitan. Si murid bergumam, “Mungkin anjing inilah makhluk yang lebih buruk dari aku di dunia ini.” Dengan semangat si murid merasa mempunyai jawaban untuk pertanyaan gurunya itu. Ia pun kembali ke rumah.

    Sesampainya di rumah, si murid mulai merenung kembali, “Seekor anjing walaupun buruk rupa dan penyakitan, ia tidak lebih buruk dari aku. Karena ketika tiba hari akhir seekor anjing tidak akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah, sedangkan aku akan dimintai pertanggungjawaban. Jika aku tidak bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan selama di dunia ini maka hancur dan habislah diriku. Sungguh, aku tidak lebih baik dari anjing itu.”

    Pada hari ketiga akhirnya si murid menghadap Sang Guru. Maka bertanyalah Sang Guru, “Sudahkah kamu menemukan jawaban dari pertanyaanku, muridku?”

    “Sudah, Guru,” jawab si murid. “Ternyata makhluk yang paling buruk adalah saya, Guru.”

    Sang Guru mengangguk dan tersenyum, “Kamu telah berhasil muridku. Kamu lulus.”

    Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Seseorang tidak berhak menganggap dirinya paling suci dan paling beriman dari orang lain. Karena hanya Tuhanlah yang bisa menilai keikhlasan iman dan pelayanan seseorang. Seringkali kesombongan yang ada dalam diri seseorang akan menghancurkan dirinya sendiri.

    Maka, selama kita masih sama-sama menjalani hidup di dunia ini, mulailah belajar berpikir positif terhadap orang lain. (*)

  • Setiap Orang Punya Cerita

    Hidup itu terbungkus oleh banyak lapisan. Terkadang kita hanya melihat lapisan luarnya saja dan tidak tahu bagaimana isi di dalamnya.

    Kita hanya melihat seorang pengusaha hebat, rumahnya besar, mobilnya mewah, hidupnya bahagia. Padahal dia mungkin sedang stres dan hidupnya penuh hutang, kerja kerasnya hanya untuk membayar bunga pinjaman, semua asetnya sudah menjadi milik bank.

    Lalu, pasangan anggun yang hadir di sebuah acara reuni begitu serasi dan mempesona, mereka pasti hidup harmonis dan bahagia. Padahal, hidup mereka penuh dengan kebencian, saling menuduh, mengkhianati, dan menyakiti, bahkan sudah dalam proses perceraian dan bagi harta.

    Ada juga seorang pemuda, lulusan sekolah terkenal dengan nilai tertinggi, pasti mudah memperoleh pekerjaan, dengan gaji besar, hidupnya pasti bahagia. Padahal, ia sudah terkena PHK sepuluh kali, jadi korban fitnah di lingkungan kerjanya. Dan sudah dua bulan belum mendapakan pekerjaan baru.

    Ada seorang ibu muda, yang selalu pergi ke diskotik, punya banyak waktu, tidak pernah pusing dengan pekerjaan rumah, hidupnya sangat santai. Dia pasti bahagia. Padahal, batinnya hampa dan kesepian, jiwanya merintih, karena suaminya tidak pernah menghargai dan menggasihinya.

    Begitu juga dengan tetangga. Anaknya sudah besar-besar, bapak-ibunya sudah boleh santai dan tenang. Mereka pasti bahagia. Namun kenyataannya orangtua mereka tak pernah bisa tidur nyenyak, karena kelakuan anak-anaknya yang tidak bermoral dan menyalahgunakan narkoba.

    Kita selalu tertipu oleh keindahan di luar dan tidak tahu bagaimana realita yang ada di dalam. Sesungguhnya semua keluarga punya masalah. Semua orang punya cerita duka. Begitulah hakekat hidup.

    Janganlah membicarakan masalah orang lain, sebenarnya siapapun tidak mau mengalami masalah. Tapi, manusia tak luput dari masalah.

    Jangan mengeluh karena masalah. Hayatilah makna di balik semua masalah karena semua masalah akan membuat hidup menjadi bermakna.

    Jangan bandingkan hidup kita dengan orang lain, karena orang lain belum tentu lebih bahagia dari kita. (*)