Tag: pilihan

  • Kekuatan Sebuah Pilihan

    Di sebuah kuliah umum mahasiswa Universitas terkenal di AS, seorang wanita didaulat untuk memperkenalkan diri.

    “Saya adalah seorang anak haram, ibuku bisu tuli dan sangat miskin. Suatu hari, ibu diperkosa hingga hamil. Saya lahir tanpa pernah kenal siapa ayah saya.”

    Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca, “Kami hidup sangat miskin, hingga dalam umur yang masih muda, saya terpaksa bekerja dengan ibu agar tetap hidup.”

    Hadirin  pun tampak terdiam.

    “Saya bekerja sebagai buruh kasar di sebuah perkebunan kapas. Saya benci keadaan saat itu. Saya pernah kecewa pada Tuhan. Karena Dia tidak adil atas hidup saya. Di saat kebanyakan anak-anak menikmati hidup layak, saya harus bergumul dalam penderitaan. Sungguh, saya tidak paham kenapa dilahirkan dan tidak melihat kehidupan yang baik di masa depan.”

    Suaranya terdengar makin bergetar.

    “Suatu hari saya berbicara dengan hati nurani saya, ‘Azie, tahukah kamu, bahwa hidup ini adalah pilihan? Mau tetap seperti ini atau keluar dari ketidakbergunaan ini, pilihan itu ada di tanganmu. Perlu kamu tahu, rencana Tuhan atasmu bukan rencana kecelakaan, melainkan hari depan yang penuh harapan. Selama bisa memilih, pilihlah yang terbaik’.” Nadanya lirih penuh makna.

    “Akhirnya saya pilih keluar dari rasa kecewa dan tak berguna ini.” Nadanya menggelegar memecah keheningan.

    Singkat cerita, wanita itu mulai bekerja dengan giat untuk membiayai sekolah dan kehidupan ibunya. Ia bekerja keras dan ulet, hingga akhirnya meraih kesuksesan.

    Siapakah wanita itu? Ia adalah Azie Taylor Morton, Menteri Keuangan AS.

  • Menciptakan Teman atau Musuh, Pilihan di Tangan Kita

    Alkisah di suatu waktu pada zaman Tiongkok Kuno ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak dan kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba petani.

    Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia tidak mau peduli. Hingga suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa kambing sehingga terluka parah.

    Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim. Hakim mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata, “Saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?”

    Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.

    “Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi agar domba-domba Anda tetap aman dan tetangga Anda pun akan tetap sebagai teman.” Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.

    Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi dari pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, tentu saja mereka menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

    Untuk menjaga mainan baru anak-anaknya, si pemburu itu pun mengurung anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing sang pemburu tidak pernah lagi menggangu domba-domba pak tani.

    Sebagai rasa terima kasihnya kepada petani atas kebaikan terhadap anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruannya kepada petani. Dan sebagai balasannya, petani pun mengirimkan daging domba dan keju buatannya.

    Dalam waktu singkat, pemburu dan petani itu pun berteman dengan baik.