Lebih mudah mana? Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di setiap jalanan, atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka?
Lebih mungkin mana? Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman, atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri?
Lebih mudah mana? Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan, atau menjaga hati kita sendiri agar tak mudah tersinggung?
Lebih penting mana? Berusaha menguasai orang lain, atau belajar menguasai diri sendiri?
Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku, melainkan bagaimana aku berusaha baik pada semua orang. Karena bukan orang lain yg membuat aku bahagia, tapi Sikapkulah yg menentukan, aku bahagia atau tidak.
Tag: positif
-
Think Positive
-
Berpikir Positif pada Orang Lain
Kisah ini bermula dari seorang murid yang setia dalam menempuh berbagai jalan dalam menuntut ilmu.
Setelah sekian lama si murid berjuang demi mencapai tingkat akademik yang lebih tinggi, tiba akhirnya Sang Guru memberikan ujian terakhir. Jika si murid bisa menjawab pertanyaan yang akan diberikannya, ia akan dinyatakan lulus dan harus pergi untuk mengamalkan segala ilmu yang telah dimilikinya.
Sang Guru yang tampak arif dan bijaksana bertanya kepada murid kesayangannya.
“Muridku, hari ini aku akan memberimu satu pertanyaan dan aku harap kamu bisa menjawabnya dengan tepat,” kata Sang Guru.
“Baik Guru, apa pertanyaannya?”
“Kamu akan aku beri waktu selama 3 hari untuk mencari makhluk yang dalam pandanganmu sangat buruk.”
Dengan penuh percaya diri si murid pun pergi meninggalkan gurunya untuk merenung dan mencari jawaban yang diberikan oleh Sang Guru tadi.
Pada hari pertama, si murid bertemu dengan orang yang gemar berjudi, mabuk-mabukan yang hampir setiap hari tidak pernah berdoa kepada Tuhan.
Maka terbesitlah dalam hatinya, “Mungkin orang ini lebih buruk dari aku karena dia berbuat maksiat sedangkan aku tergolong ahli ibadat.”
Maka pulanglah si murid ke rumahnya. Sampai di rumah ia berpikir, apakah benar ia lebih baik dari penjudi dan pemabuk yang dijumpainya tadi? Lantas si murid menyadari, bahwa manusia bukanlah robot yang bisa diprogram dengan satu tingkah laku yang tidak pernah bisa berubah. Manusia adalah makhluk yang dikarunia akal dan pikiran dan diberi kesempatan untuk bertobat kepada Tuhan.
Maka si murid pun menyimpulkan bahwa dirinya tidak lebih baik dari pemabuk dan penjudi itu selagi masih menjalani hidup di dunia yang penuh dengan cobaan ini. Karena, boleh jadi seorang yang larut dalam dosa-dosa yang melimpah lantas bertobat dan mengakhiri hidupnya dengan akhir yang indah lagi sempurna. Ia akan lebih baik dari seorang ahli ibadah yang tidak pernah ikhlas dalam menjalankan ketaatan kepada Tuhan.
Pada hari kedua, si murid keluar rumah lagi dan menjumpai seekor anjing jelek buruk rupa dan penyakitan. Si murid bergumam, “Mungkin anjing inilah makhluk yang lebih buruk dari aku di dunia ini.” Dengan semangat si murid merasa mempunyai jawaban untuk pertanyaan gurunya itu. Ia pun kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, si murid mulai merenung kembali, “Seekor anjing walaupun buruk rupa dan penyakitan, ia tidak lebih buruk dari aku. Karena ketika tiba hari akhir seekor anjing tidak akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah, sedangkan aku akan dimintai pertanggungjawaban. Jika aku tidak bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan selama di dunia ini maka hancur dan habislah diriku. Sungguh, aku tidak lebih baik dari anjing itu.”
Pada hari ketiga akhirnya si murid menghadap Sang Guru. Maka bertanyalah Sang Guru, “Sudahkah kamu menemukan jawaban dari pertanyaanku, muridku?”
“Sudah, Guru,” jawab si murid. “Ternyata makhluk yang paling buruk adalah saya, Guru.”
Sang Guru mengangguk dan tersenyum, “Kamu telah berhasil muridku. Kamu lulus.”
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Seseorang tidak berhak menganggap dirinya paling suci dan paling beriman dari orang lain. Karena hanya Tuhanlah yang bisa menilai keikhlasan iman dan pelayanan seseorang. Seringkali kesombongan yang ada dalam diri seseorang akan menghancurkan dirinya sendiri.
Maka, selama kita masih sama-sama menjalani hidup di dunia ini, mulailah belajar berpikir positif terhadap orang lain. (*)
-
Motivasi Positif atau Negatif
Ini adalah kisah dua bersaudara. Salah satunya adalah seorang pecandu narkoba dan pemabuk yang sering memukuli keluarganya. Yang lain adalah seorang pengusaha yang sangat sukses dan dihormati dalam masyarakat serta memiliki keluarga yang luar biasa.
Beberapa orang ingin mengetahui mengapa dua bersaudara dari orangtua yang sama ini dan dibesarkan di lingkungan yang sama, bisa begitu berbeda. Seseorang bertanya kepada pemuda pertama, “Mengapa Anda melakukan apa yang Anda lakukan saat ini? Anda adalah pecandu narkoba, pemabuk, dan Anda memukuli anggota keluarga Anda. Apa yang memotivasi Anda?”
Pemuda itu menjawab, “Ayah saya.”
Mereka bertanya lagi, “Memangnya kenapa dengan ayahmu?”
Jawab pemuda itu, “Ayah saya adalah seorang pecandu narkoba, pemabuk, dan ia sering memukuli keluarga. Apa yang Anda harapkan dariku? Itulah saya.”
Mereka lalu pergi ke saudara pemuda pertama itu yang melakukan segalanya dengan benar dan bertanya pertanyaan yang sama, “Kenapa Anda melakukan segalanya dengan benar? Apa sumber motivasi Anda?”
Coba tebak, apa jawaban pemuda itu? “Ayah saya. Ketika saya masih kecil, saya terbiasa melihat ayah saya mabuk dan melakukan semua hal yang salah. Saya membuat pikiran saya bahwa itu bukanlah apa yang saya inginkan.”
Kedua pemuda itu mendapatkan kekuatan dan motivasi mereka dari sumber yang sama, tapi ada yang menggunakannya secara positif dan lainnya secara negatif.
Motivasi negatif membawa keinginan untuk memperoleh segala hal dengan cara yang lebih mudah namun terkadang berakhir dengan cara yang lebih menyakitkan. (*)