Tag: teman

  • Pentingnya Punya Teman

    Sekali waktu, elang kesepian tinggal di atas pohon di tepi sungai. Ia masih muda dan tampan, tapi tidak mempunyai teman. Suatu hari, ia melihat seekor elang betina di pohon lain, dan elang itu bermaksud menikahinya. Tapi elang betina itu menolak karena elang jantan itu tak punya teman.

    “Maukah kau menikah denganku jika aku punya tiga teman?” tanya elang jantan. Elang betina pun mengiyakan.

    Elang jantan kemudian pergi mencari teman-teman. Sementara terbang di tepi sungai, ia melihat kura-kura besar. Elang terbang ke arahnya dan berkata, “Kura-kura, maukah kau menjadi temanku dan membantuku jika aku memerlukanmu?” Kura-kura setuju untuk menjadi temannya, dan berkata, “Hubungi aku kapanpun kau membutuhkanku dan aku akan ke tempatmu.”

    Elang juga berjanji kepada kura-kura untuk membantunya setiap saat, kemudian ia terbang untuk mencari teman kedua. Tak lama ia mendapati seekor elang laut. Elang jantan itu pun bertanya apakah ia bisa  menjadi temannya dan membantunya saat ia membutuhkan. Elang laut sangat senang menerima tawaran persahabatan itu dan menawarinya bantuan apabila elang jantan membutuhkannya.

    Elang senang, ia telah memiliki dua teman.

    Ia pun terbang melanjutnya mencari teman ketiga. Ia terbang di atas hutan dan melihat harimau. Ia pun mendekati harimau dan meminta ia untuk menjadi temannya. Harimau siap menerima persahabatan dan berkata, “Mulai sekarang dan seterusnya, aku temanmu. Tak seorang pun akan merugikanmu. Jika ada yang mencoba menyakitimu, hubungi aku dan aku akan bersamamu untuk membantumu.”

    Elang itu sangat bahagia. Ia mengucapkan terima kasih pada harimau, dan terbang kembali mendapati elang betina, dan berkata, “Saya telah mempunyai tiga teman, kura-kura, elang laut, dan harimau. Maukah kau menikah denganku sekarang?”

    Elang betina itu pun setuju menikah dengannya. Segera, pernikahan pun berlangsung dengan dihadiri ketiga teman baru elang jantan. Setelah beberapa bulan mereka mempunyai dua bayi elang. Mereka pun hidup bahagia dalam sarang mereka.

    Suatu hari, dua pemburu datang dan duduk di bawah pohon tempat sarang keluarga elang. Mereka lelah dan lapar. Mereka tidak mampu berburu binatang apapun. Mereka memutuskan untuk menangkap ikan. Tapi mereka tidak bisa melakukannya.

    Hari mulai gelap dan pemburu memutuskan untuk menghabiskan malam di bawah pohon itu. Untuk menghangatkan diri, mereka membuat api unggun. Api membumbung tinggi. Bayi elang yang ada di atas pohon tidak tahan dengan asap dari api unggun. Mereka mulai menangis.

    Pemburu mendengar teriakan mereka. Salah satu dari mereka berkata, “Hei, ada burung di pohon ini. Mari kita tangkap mereka. Dan kita panggang untuk makanan kita.” Pemburu yang lain pun setuju.

    Elang-elang pun mendengar perkataan mereka, yang sangat mengkhawatirkan keamanan bayi mereka. Elang betina menyarankan agar elang jantan mencari bantuan teman-teman mereka. Elang pergi ke tempat elang laut dan menceritakan masalahnya. Elang laut berkata,” Pulanglah dan lindungi bayimu. Aku akan mengatasi pemburu.”

    Elang laut terjun ke sungai dan kemudian terbang di atas api. Air mambasahi api. Ia berulang kali menyelam ke sungai dan terbang di atas api. Api pun padam. Para pemburu menyalakan lagi, namun setiap kali elang laut menyiramnya dengan air.

    Sementara itu, elang jantan pergi menemui kura-kura. Ketika kura-kura mendengar masalah elang, ia berkata padanya, “Jangan khawatir teman, aku akan berada di sana dalam waktu singkat dan mengatasi para pemburu dengan caraku sendiri. Pulanglah dan lindungi keluargamu.”

    Elang terbang ke pohon bersama kura-kura itu. Kura-kura itu cukup dekat dengan tempat pemburu yang mencoba menyalakan api. Para pemburu melihat kura-kura dan salah satu dari mereka berkata, “Lihat ada kura-kura besar. Mari kita lupakan elang dan menangkap kura-kura ini.”

    Pemburu lain setuju. Mereka mencoba membuat tali dengan merobek baju mereka. Lalu mengikat kura-kura dan menariknya. Namun, kekuatan kura-kura itu rupanya jauh lebih besar daripada para pemburu itu. Kura-kura menarik kedua orang itu ke dalam air. Para pemburu berupaya keras melepaskan diri dari kura-kura. Mereka pun memotong tali yang mengikat kura-kura.

    Untuk itu, mereka akhirnya tidak memakai baju. Mereka kembali ke daratan, dan karena kedinginan mereka bermaksud membuat api lagi dengan mengumpulkan ranting dan dahan.

    Elang jantan khawatir melihat ini. Ia terbang ke hutan dan menemui teman ketiganya, harimau. Ia menemukan harimau di tepi hutan. Ketika mendengar masalah elang, ia langsung bergegas menuju tepi sungai.

    Pemburu yang telah menyalakan api dan salah satu dari mereka sedang berusaha memanjat pohon untuk mengambil bayi elang. Saat itu, harimau pun mencapai pohon. Melihat harimau, para pemburu berlarian dan tidak pernah kembali lagi.

    Elang mengucapkan terima kasih kepada ketiga temannya untuk segala bantuan mereka yang tepat waktu. Ia menyadari pentingnya memiliki teman. Sungguh bijaksana elang betina itu yang menasihatinya untuk memiliki teman sebelum menikahinya.

  • Menciptakan Teman atau Musuh, Pilihan di Tangan Kita

    Alkisah di suatu waktu pada zaman Tiongkok Kuno ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak dan kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba petani.

    Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia tidak mau peduli. Hingga suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa kambing sehingga terluka parah.

    Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim. Hakim mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata, “Saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?”

    Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.

    “Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi agar domba-domba Anda tetap aman dan tetangga Anda pun akan tetap sebagai teman.” Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.

    Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi dari pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, tentu saja mereka menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

    Untuk menjaga mainan baru anak-anaknya, si pemburu itu pun mengurung anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing sang pemburu tidak pernah lagi menggangu domba-domba pak tani.

    Sebagai rasa terima kasihnya kepada petani atas kebaikan terhadap anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruannya kepada petani. Dan sebagai balasannya, petani pun mengirimkan daging domba dan keju buatannya.

    Dalam waktu singkat, pemburu dan petani itu pun berteman dengan baik.

  • Siapakah Teman Sejatimu?

    Terkadang orang selalu berbicara tentang nilai sebenarnya dari persahabatan tanpa mengetahui yang sebenarnya. Persahabatan sejati adalah satu, di mana masing-masing tidak perlu menjaga formalitas satu sama lain.

    Persahabatan sejati adalah berbagi situasi, meski pada tahap yang tidak sesuai, namun persahabatan tetap berjalan mulus. Teman terbaik tidak perlu sering bertemu untuk memastikan bahwa persahabatan tetap konstan.

    Kepercayaan antara sahabat sedemikian rupa sehingga jika salah satu teman berada dalam kesulitan, yang lain tidak perlu berpikir dua kali untuk membantu. Jika ikatan antara dua orang teman itu kuat, teman sejati dapat bertahan meski terpisahkan oleh jarak. Bagi mereka, pemisahan geografis hanyalah bagian dari kehidupan. Ini tidak akan mempengaruhi persahabatan.

    Persahabatan sejati tidak pernah memudar. Bahkan, tumbuh lebih baik seiring waktu. Persahabatan sejati berkembang pada kepercayaan, inspirasi, dan kenyamanan. Teman terbaik datang, ketika orang lain dalam kesulitan. Hanya dengan mendengarkan kata “halo” saja melalui telepon, sudah cukup bagi mereka. Mereka dapat memahami dalam keheningan masing-masing.

    Teman sejati tidak meninggalkan satu sama lain ketika seseorang sedang menghadapi masalah. Mereka akan menghadapinya bersama-sama dan saling mendukung, meskipun itu harus bertentangan dengan kepentingan orang lain. Mereka menerima satu sama lain dengan sifat-sifat positif dan negatif. Tidak ada yang perlu disembunyikan di antara teman sejati.

    Mereka tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing. Mereka tidak akan saling mengalahkan. Mereka akan menghormati individualitas masing-masing. Bahkan akan memahami persamaan dan menghormati perbedaan. Teman terbaik tidak akan tahan bila orang lain berkomentar atau mengkritik persahabatan mereka, bahkan mereka melawan jika perlu.

    Teman sejati tidak oportunis. Mereka saling membantu bukan karena ingin mendapatkan sesuatu. Persahabatan sejati ditandai dengan tidak mementingkan diri sendiri. Teman terbaik mendukung satu sama lain, meski seluruh dunia menentang mereka.

    Tidak mudah mendapatkan teman sejati untuk seumur hidup. Jika Anda memiliki, meski hanya satu, teman sejati, Anda beruntung. Ingatlah, semua sahabat adalah teman, tapi tidak semua teman bisa menjadi sahabat. Hormati dan akuilah sahabat Anda, untuk seumur hidup. (inspire)f

  • [Cerita] Santo Thomas Aquinas dan sapi terbang

    Pada suatu ketika, Thomas yang masih bersekolah sedang duduk di mejanya. Tiba-tiba teman-temannya berteriak “Lihat, ada sapi terbang!”. Thomas pun segera bergegas ke jendela untuk melihatnya. Dan yang seperti bisa kita duga, tidak ada sapi yang terbang.

    Teman-temannya pun menertawakan dia. Thomas dengan bijak menjawab “Lebih baik saya percaya bahwa ada seekor sapi yang bisa terbang, dibandingkan saya percaya bahwa teman-teman saya menipu saya”.

  • [Cerita] Kura-kura dan Kalajengking

    Suatu hari, karena tak mampu berenang, seekor kalajengking meminta kepada seekor kura-kura agar memberinya tumpangan di punggungnya untuk menyeberangi sungai.

    “Apa kamu gila?” teriak kura-kura, “Kamu pasti akan menyengatku pada saat aku berenang dan aku akan tenggelam.”

    Kalajengking itu tertawa sambil menjawab, “Kura-kura yang baik, jika aku menyengatmu, kamu akan tenggelam, dan aku akan ikut bersamamu. Kalau begitu, apa gunanya? Aku tak akan menyengatmu karena ini berarti kematianku sendiri!”

    Untuk beberapa saat, kura-kura itu berpikir tentang logika dari jawaban tersebut. Akhirnya ia berkata, “Kamu benar…. Naiklah!”

    Kalajengking itu naik ke punggung kura-kura tadi. Namun baru setengah jalan, ia menyengat kura-kura itu dengan sengit.

    Sementara kura-kura mulai tenggelm perlahan-lahan menuju dasar sungai dengan kalajengking di atas punggungnya, ia mengerang dengan sedih, “Kamu ‘kan sudah berjanji, tapi sekarang kamu menyengatku! Mengapa? Sekarang kita sama-sama celaka.”

    Kalajengking yang tenggelam itu menjawab dengan sedih, “Aku tidak dapat menahan diri. Memang sudah tabiatku untuk menyengat.”

    Sahabat, ingatlah! Pelajari karakter seseorang sebelum menjadikannya sebagai teman. Peran yang dia mainkan akan mempengaruhi kehidupan Anda. Bagaikan tombol lift, teman itu akan membawa kita naik atau turun. Siapa bergaul dengan orang bijak akan menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal akan malang.