Tag: Tuhan

  • Taat dan Setialah KepadaNya

    Seorang pria bertemu Tuhan yang memberinya pekerjaan mendorong batu besar di depan pondoknya dengan seluruh kekuatannya.
    Pria itu mengerjakannya setiap hari, sejak matahari terbit hingga terbenam. Namun, batu itu tak kunjung bergeser. Hingga pria itu merasa lelah, sedih, dan sia-sia.
    Ketika ia mulai putus asa, iblis pun mengacaukan pikirannya dan mulai menggodanya, “Tugas itu sangat tak masuk akal. Engkau tidak akan pernah dapat memindahkannya.”
    Pikiran tersebut membuat pria itu makin putus asa. “Lebih baik aku berhenti berusaha.”
    Namun, suara kecil di hatinya mengajaknya berdoa, membawa kesedihannya kepada Tuhan.
    “Tuhan,” katanya, “Aku telah bekerja keras melayaniMu dengan segenap kekuatanku. Tetapi sampai sekarang aku tidak dapat menggerakkan batu itu setengah milimeterpun. Mengapa aku gagal, Tuhan?”
    Tuhan berkata dengan penuh kasih, “Anakku, ketika Aku memintamu melayaniKu, yang Kuminta adalah mendorong batu itu dengan seluruh kekuatanmu. Tak sekalipun Aku memintamu menggesernya. Tugasmu hanya mendorong. Dan kini kau datang padaKu, berpikir kau gagal. Benarkah? Lihatlah dirimu! Lenganmu kuat berotot, punggungmu tegap, dan kakimu menjadi kokoh. Kau bertumbuh dan kemampuanmu melebihi sebelumnya. Meski batu itu belum tergeser, panggilan hatimu adalah menuruti perkataanKu, terus mendorong, belajar setia, dan percaya akan hikmatKu. Anakku, sekarang Aku yang akan memindahkan batu itu.”
    Kita cenderung memakai pikiran dan logika untuk menganalisa keinginanNya, bukan dengan hati.

  • Rencana Tuhan Indah Pada Waktunya

    Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawanya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

    Sayang sekali, ketika tiba saatnya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan ia menyalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

    Amarahnya mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam rumah ibadat. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

    Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.

    Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.

    Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Dengan masih penuh kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, “Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.”

    Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis.

    Lalu Tuhan berkata, “Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju.” Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.

    Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.

    Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu.

  • Hidup Sempurna Setelah Lalui Setiap Prosesnya

    Seorang anak memberitahu ibunya kalau sesuatu tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Ia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

    Saat itu, ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya. Dengan senang hati, anak itu berkata, “Tentu saja, aku suka kue.”

    “Nah, sekarang cicipi mentega ini,” kata ibunya menawarkan.

    “Yaiks,” ujar anaknya.

    “Bagaimana dengan telur mentah?”

    “Ah, Ibu bercanda nih..”

    “Mau mencoba tepung terigu atau baking soda?”

    “Bu, semua itu kan tidak enak dan menjijikkan!”

    Lalu sang ibu menjawab, “Ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi, jika dicampur jadi satu melalui sebuah proses yang benar, maka akan jadi kue yang enak.”

    Kadang kita bertanya dalam hati dan menyalahkan Tuhan, “Apa yang telah saya lakukan kok saya harus mengalami semua ini?” atau “Kenapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi pada saya?”

    Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya mengapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancanganNya, agar menjadi sempurna tepat pada waktunya.

  • [Humor] Tuhan Menolong Kita dengan CaraNya

    Seorang wanita sedang bekerja ketika ia menerima telepon kalau putrinya sangat demam. Ia meninggalkan pekerjaannya dan mampir ke apotek untuk membeli beberapa obat untuk putrinya.

    Ketika kembali ke mobilnya, ia melihat kunci mobil ada di dalam mobil. Ia sedang terburu-buru pulang karena anaknya sakit. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, jadi ia menelepon ke rumah dan menanyakan kepada baby sitter apa yang terjadi dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

    Baby sitter mengatakan putrinya semakin parah demamnya. Ia berkata, “Anda mungkin bisa menemukan gantungan baju dan menggunakannya untuk membuka pintu.”

    Wanita itu memandang sekeliling dan menemukan sebuah gantungan baju tua berkarat yang dibuang oleh orang lain beberapa waktu lalu atau orang lain yang juga mengambil kunci dalam mobil mereka.

    Wanita itu menatap gantungan baju itu dan berkata, “Saya tidak tahu bagaimana menggunakan ini.” Lalu ia menundukkan kepala dan meminta Tuhan untuk mengiriminya bantuan. Dalam waktu lima menit sebuah mobil tua berkarat, kotor, dan berminyak,  berhenti. Pengendaranya seorang pria berjanggut dengan kain penutup kepala bergambar tengkorak di kepalanya. Wanita itu berpikir, “Ya Tuhan. Inikah yang kau kirimkan untuk membantuku?”

    Pria itu keluar dari mobilnya dan bertanya apakah ia bisa membantu. Wanita itu berkata, “Ya, putri saya sedang sakit. Saya mampir untuk membeli obat dan kunci saya tertinggal di dalam mobil yang terkunci. Saya harus segera pulang untuk anak saya. Tolong, bisakah Anda gunakan gantungan ini untuk membuka mobil saya.”

    Pria itu berkata, “Tentu.” Ia berjalan menunju mobil, dan dalam waktu kurang dari satu menit mobil itu pun terbuka. Wanita itu memeluk pria itu dan dengan air mata yang berlinang, ia berkata, “Terima kasih banyak. Anda adalah orang yang baik.”

    Pria itu menjawab, “Bu, aku bukan orang yang baik. Aku baru saja keluar dari penjara hari ini. Aku di dalam penjara karena kasus pencurian mobil dan baru keluar sekitar satu jam yang lalu.”

    Wanita itu memeluk pria itu lagi dan dengan air mata berlinang ia berteriak keras, “Terima kasih Tuhan telah mengirim seseorang yang profesional!”

  • Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

    Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal, pagi itu menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

    Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

    “Tuhan menciptakan semuanya?” tanya Profesor sekali lagi.

    “Ya, Pak, semuanya,” kata mahasiswa tersebut.

    Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

    Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama adalah sebuah mitos.

    Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

    “Tentu saja,” jawab si Profesor,

    Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

    “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” tanya si Profesor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

    Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu – 43 derajat Celcius adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

    Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

    Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

    Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi, Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

    Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

    Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

    Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Prof,  kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

    Profesor itu pun terdiam.

    Dan, nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

  • [Cerita] God will rescue me….

    A missionary priest works in rural India among the poor. The monsoons come and the Villagers warn him that the river is rising and he must come with them to the shelters in the hills, but the missionary refuses to go, saying “God will rescue me so that you may have faith.” The river keeps rising, the priest climbs on a local roof to stay dry and a rescue boat crew comes, telling him to get in and they will bring him to safety. The priest refuses, saying “God will rescue me so that you may have faith.”
    The river rises and the priest is perched on the building chimney. A rescue helicopter comes to save him, but he says “God will rescue me so that you may have faith.”

    The priest drowns and stands before God at judgement and says “Lord, I don’t understand! I had such faith that you would save me, why am I here so young?”

    God says “What? I sent you smart villagers, a rescue boat and a helicopter. What did you expect, an engraved invitation?”