{"id":592,"date":"2016-01-25T13:20:48","date_gmt":"2016-01-25T04:20:48","guid":{"rendered":"https:\/\/catatanstefano.wordpress.com\/?p=592"},"modified":"2016-01-25T13:20:48","modified_gmt":"2016-01-25T04:20:48","slug":"ayam-dan-bebek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/catatanstefano.ddns.net\/?p=592","title":{"rendered":"Ayam dan Bebek"},"content":{"rendered":"<p>Oleh Ajahn Brahm<\/p>\n<p>Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan:<br \/>\n\u201cKuek ! Kuek !\u201d<br \/>\n\u201cDengar, itu pasti suara ayam\u201d, kata si istri.<br \/>\n\u201cBukan, bukan. Itu suara bebek, \u201ckata si suami.<br \/>\n\u201cNggak, aku yakin itu ayam,\u201d si istri bersikeras.<br \/>\n\u201cMustahil. Suara ayam itu \u2018kukuruyuuuuk !\u2019, bebek itu \u2018kuek ! kuek !&#8217;. Itu bebek, sayang \u201c, kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.<br \/>\n\u201cKuek ! kuek !\u201d terdengar lagi.<br \/>\n\u201cNah, tuh ! Itu suara bebek, \u201c kata si suami.<br \/>\n\u201cBukan, sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,\u201d tanda si istri sembari<br \/>\nmenghentakkan kaki.<br \/>\n\u201cDengar ya ! Itu a\u2026da\u2026lah\u2026. Be\u2026bek. B-E-B-E-K. Bebek ! Mengerti ?\u201d si suami berkata dengan gusar.<br \/>\n\u201cTapi itu ayam\u201d, masih saja si istri bersikeras.<br \/>\n\u201cItu jelas-jelas bue..bebek, kamu\u2026kamu\u2026.\u201d (terdengar lagi suara \u201cKuek ! Kuek !\u201d sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.)<br \/>\nSi istri sudah hampir menangis, \u201cTapi itu ayam\u2026. \u201c<br \/>\nSi suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, \u201cMaafkan aku, sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.\u201d<br \/>\n\u201cTerima kasih, sayang, \u201c kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.<br \/>\n\u201cKuek ! Kuek !\u201d, terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.<\/p>\n<p>Maksud dari cerita di atas bahwa si suami akhirnya sadar adalah siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam indah itu. Berapa banyak hubungan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal \u201cayam atau bebek\u201d?<br \/>\nKetika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek.<\/p>\n<p>Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin , amat sangat mantap, mutlak bahwa kita itu benar, namun belakangan ternyata kita salah. Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!<\/p>\n<p>Sumber Buku : Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Ajahn Brahm Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: \u201cKuek ! Kuek !\u201d \u201cDengar, itu pasti suara ayam\u201d, kata si istri. \u201cBukan, bukan. Itu suara bebek, \u201ckata si suami. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[11,25],"class_list":["post-592","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel-pengembangan-diri","tag-ajahn-brahm","tag-ayam-dan-bebek"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/catatanstefano.ddns.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/592","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/catatanstefano.ddns.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/catatanstefano.ddns.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanstefano.ddns.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanstefano.ddns.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=592"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/catatanstefano.ddns.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/592\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/catatanstefano.ddns.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=592"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanstefano.ddns.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=592"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanstefano.ddns.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=592"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}