Author: stefano

  • Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

    Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.

    Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan SMA di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan pidato ini dikutip dari tulisan di blog berikut: http://pohonbodhi.blogspot.com/2010/09/you-are-either-with-me-or-against-me.html

    “Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

    Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

    Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

    Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

    Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

    Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.

    Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa. Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang. Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.

    Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni ITB yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.

    Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.

    Baiklah, pada bagian akhir tulisan ini saya kutipkan teks asli (dalam Bahasa Inggris) Erica Goldson di atas agar kita memahami pidato lengkapnya. Teks asli pidatonya dapat ditemukan di tautan yang ada di akhir tulisan ini.

    Here I stand

    There is a story of a young, but earnest Zen student who approached his teacher, and asked the Master, “If I work very hard and diligently, how long will it take for me to find Zen? The Master thought about this, then replied, “Ten years.” The student then said, “But what if I work very, very hard and really apply myself to learn fast – How long then?” Replied the Master, “Well, twenty years.” “But, if I really, really work at it, how long then?” asked the student. “Thirty years,” replied the Master. “But, I do not understand,” said the disappointed student. “At each time that I say I will work harder, you say it will take me longer. Why do you say that?” Replied the Master, “When you have one eye on the goal, you only have one eye on the path.”

    This is the dilemma I’ve faced within the American education system. We are so focused on a goal, whether it be passing a test, or graduating as first in the class. However, in this way, we do not really learn. We do whatever it takes to achieve our original objective.

    Some of you may be thinking, “Well, if you pass a test, or become valedictorian, didn’t you learn something? Well, yes, you learned something, but not all that you could have. Perhaps, you only learned how to memorize names, places, and dates to later on forget in order to clear your mind for the next test. School is not all that it can be. Right now, it is a place for most people to determine that their goal is to get out as soon as possible.

    I am now accomplishing that goal. I am graduating. I should look at this as a positive experience, especially being at the top of my class. However, in retrospect, I cannot say that I am any more intelligent than my peers. I can attest that I am only the best at doing what I am told and working the system. Yet, here I stand, and I am supposed to be proud that I have completed this period of indoctrination. I will leave in the fall to go on to the next phase expected of me, in order to receive a paper document that certifies that I am capable of work. But I contend that I am a human being, a thinker, an adventurer – not a worker. A worker is someone who is trapped within repetition – a slave of the system set up before him. But now, I have successfully shown that I was the best slave. I did what I was told to the extreme. While others sat in class and doodled to later become great artists, I sat in class to take notes and become a great test-taker. While others would come to class without their homework done because they were reading about an interest of theirs, I never missed an assignment. While others were creating music and writing lyrics, I decided to do extra credit, even though I never needed it. So, I wonder, why did I even want this position? Sure, I earned it, but what will come of it? When I leave educational institutionalism, will I be successful or forever lost? I have no clue about what I want to do with my life; I have no interests because I saw every subject of study as work, and I excelled at every subject just for the purpose of excelling, not learning. And quite frankly, now I’m scared.

    John Taylor Gatto, a retired school teacher and activist critical of compulsory schooling, asserts, “We could encourage the best qualities of youthfulness – curiosity, adventure, resilience, the capacity for surprising insight simply by being more flexible about time, texts, and tests, by introducing kids into truly competent adults, and by giving each student what autonomy he or she needs in order to take a risk every now and then. But we don’t do that.” Between these cinderblock walls, we are all expected to be the same. We are trained to ace every standardized test, and those who deviate and see light through a different lens are worthless to the scheme of public education, and therefore viewed with contempt.

    H. L. Mencken wrote in The American Mercury for April 1924 that the aim of public education is not “to fill the young of the species with knowledge and awaken their intelligence. … Nothing could be further from the truth. The aim … is simply to reduce as many individuals as possible to the same safe level, to breed and train a standardized citizenry, to put down dissent and originality. That is its aim in the United States.”

    To illustrate this idea, doesn’t it perturb you to learn about the idea of “critical thinking?” Is there really such a thing as “uncritically thinking?” To think is to process information in order to form an opinion. But if we are not critical when processing this information, are we really thinking? Or are we mindlessly accepting other opinions as truth?

    This was happening to me, and if it wasn’t for the rare occurrence of an avant-garde tenth grade English teacher, Donna Bryan, who allowed me to open my mind and ask questions before accepting textbook doctrine, I would have been doomed. I am now enlightened, but my mind still feels disabled. I must retrain myself and constantly remember how insane this ostensibly sane place really is.

    And now here I am in a world guided by fear, a world suppressing the uniqueness that lies inside each of us, a world where we can either acquiesce to the inhuman nonsense of corporatism and materialism or insist on change. We are not enlivened by an educational system that clandestinely sets us up for jobs that could be automated, for work that need not be done, for enslavement without fervency for meaningful achievement. We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us.

    We are more than robotic bookshelves, conditioned to blurt out facts we were taught in school. We are all very special, every human on this planet is so special, so aren’t we all deserving of something better, of using our minds for innovation, rather than memorization, for creativity, rather than futile activity, for rumination rather than stagnation? We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still.

    The saddest part is that the majority of students don’t have the opportunity to reflect as I did. The majority of students are put through the same brainwashing techniques in order to create a complacent labor force working in the interests of large corporations and secretive government, and worst of all, they are completely unaware of it. I will never be able to turn back these 18 years. I can’t run away to another country with an education system meant to enlighten rather than condition. This part of my life is over, and I want to make sure that no other child will have his or her potential suppressed by powers meant to exploit and control. We are human beings. We are thinkers, dreamers, explorers, artists, writers, engineers. We are anything we want to be – but only if we have an educational system that supports us rather than holds us down. A tree can grow, but only if its roots are given a healthy foundation.

    For those of you out there that must continue to sit in desks and yield to the authoritarian ideologies of instructors, do not be disheartened. You still have the opportunity to stand up, ask questions, be critical, and create your own perspective. Demand a setting that will provide you with intellectual capabilities that allow you to expand your mind instead of directing it. Demand that you be interested in class. Demand that the excuse, “You have to learn this for the test” is not good enough for you. Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.

    For those of you that work within the system that I am condemning, I do not mean to insult; I intend to motivate. You have the power to change the incompetencies of this system. I know that you did not become a teacher or administrator to see your students bored. You cannot accept the authority of the governing bodies that tell you what to teach, how to teach it, and that you will be punished if you do not comply. Our potential is at stake.

    For those of you that are now leaving this establishment, I say, do not forget what went on in these classrooms. Do not abandon those that come after you. We are the new future and we are not going to let tradition stand. We will break down the walls of corruption to let a garden of knowledge grow throughout America. Once educated properly, we will have the power to do anything, and best of all, we will only use that power for good, for we will be cultivated and wise. We will not accept anything at face value. We will ask questions, and we will demand truth.

    So, here I stand. I am not standing here as valedictorian by myself. I was molded by my environment, by all of my peers who are sitting here watching me. I couldn’t have accomplished this without all of you. It was all of you who truly made me the person I am today. It was all of you who were my competition, yet my backbone. In that way, we are all valedictorians.

    I am now supposed to say farewell to this institution, those who maintain it, and those who stand with me and behind me, but I hope this farewell is more of a “see you later” when we are all working together to rear a pedagogic movement. But first, let’s go get those pieces of paper that tell us that we’re smart enough to do so!

    ~~~~~~~~~~

    Pidato Erica tersebut juga dimuat di blog America dan mendapat tanggapan luas oleh publik di sana. Silakan baca di sini: http://americaviaerica.blogspot.com/2010/07/coxsackie-athens-valedictorian-speech.html

    Kalau ingin melihat video pidato Erica di Youtube, buka alamat berikut: http://www.youtube.com/watch?v=9M4tdMsg3ts

    Diambil dari Blog Rinaldi Munir

    —————————————

    Catatan : Sekarang di sisi kanan halaman blog, aku sudah menambahkan fitur baru sehingga anda bisa mengikuti blog ini lewat email anda. Setiap ada tulisan baru, akan ada email yang masuk ke inbox anda untuk memberitahukan tentang tulisan baru itu. Terima kasih 🙂

  • Kabar Baik atau Kabar Buruk?

    Kabar baik atau kabar buruk? Tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Kita bisa saja merasa pahit setelah ditipu. Tapi kita masih bisa memlih untuk melanjutkan hidup. Kisah berikut ini menggambarkan maksud tadi.

    Robert De Vincenzo, pegolf besar Argentina, setelah memenangkan sebuah turnamen, dan menerima cek kemenangan serta tersenyum di depan kamera, bersiap pergi untuk merayakan kemenangan. Ia berjalan sendirian ke mobilnya di tempat parkir dan didekati oleh seorang wanita muda.

    Wanita itu mengucapkan selamat kepada Vincenzo atas kemenangannya dan kemudian mengatakan padanya bahwa anaknya sakit parah dan hampir mati. Ia tidak tahu bagaimana bisa membayar tagihan dokter dan biaya rumah sakit.

    Vincenzo merasa tersentuh oleh kisah wanita muda itu. Ia pun mengambil pena dan menulis pada cek kemenangannya untuk pembayaran wanita itu. “Buatlah agar bayimu lebih baik,” katanya sambil menandatangani ceknya.

    Minggu berikutnya, ketika ia sedang makan siang di sebuah restoran, pengurus Asosiasi Golf Profesional mendatangi mejanya. “Minggu lalu, beberapa anak laki-laki di tempat parkir bilang bahwa kau bertemu dengan seorang wanita muda setelah memenangkan turnamen itu.”

    Vincenzo mengangguk. “Yah…,” kata pengurus golf itu, “Aku punya berita untuk Anda. Wanita itu penipu. Ia tidak memiliki bayi, menikah pun belum. Ia menipu Anda, temanku.”

    “Maksudmu, berarti tidak ada bayi yang sekarat?” tanya Vincenzo.

    “Benar,” kata pengurus golf itu lagi.

    “Itu kabar terbaik yang pernah kudengar sepanjang minggu ini,” kata Vincenzo.

    ———————————-

    Catatan : Sekarang di sisi kanan halaman blog, aku sudah menambahkan fitur baru sehingga anda bisa mengikuti blog ini lewat email anda. Setiap ada tulisan baru, akan ada email yang masuk ke inbox anda untuk memberitahukan tentang tulisan baru itu. Terima kasih 🙂

  • Berkah dari Memberi

    Tiga orang muda miskin pada suatu kisah diberi masing-masing tiga butir biji jagung oleh orang bijak, yang sekaligus memperingatkan mereka untuk pergi keluar berkeliling dunia dan menggunakan jagung tersebut untuk memperoleh keberuntungan.

    Pemuda pertama memasukkan tiga biji jagung tersebut ke dalam mangkuk kaldu panas dan memakannya.

    Pemuda kedua berpikir, saya bisa melakukan yang lebih baik, maka ia menanam tiga biji jagung itu. Dalam beberapa bulan, ia memiliki tiga batang pohon jagung. Ia mengambil jagung-jagung dari batang pohon itu, merebusnya, dan cukup untuk tiga kali makan.

    Orang ketiga berkata kepada dirinya sendiri, aku bisa melakukan lebih baik dari itu. Ia juga menanam tiga biji jagung itu. Tapi ketika tiga batang pohon jagung tumbuh, ia mengambil jagung-jagung dari pohon pertama, kemudian menanam kembali semua biji jagungnya. Kemudian ia memberikan pohon jagung yang kedua untuk seorang gadis makan, dan memakan jagung dari pohon ketiga.

    Dalam satu batang pohon jagung akhirnya memberinya 200 batang pohon jagung lagi. Dan ia terus menanam kembali biji jagungnya, ia hanya menyisihkan sedikit untuk dimakan. Akhirnya ia pun menanam seratus hektar tanah dengan jagung.

    Dengan kekayaannya itu, ia meminang gadis manis tadi dengan membeli tanah milik ayah gadis manis itu. Dan sejak saat itu ia tidak pernah kelaparan lagi.

     

    —————————————————

     

    Catatan : Sekarang di sisi kanan halaman blog, aku sudah menambahkan fitur baru sehingga anda bisa mengikuti blog ini lewat email anda. Setiap ada tulisan baru, akan ada email yang masuk ke inbox anda untuk memberitahukan tentang itu. Terima kasih 🙂

  • Kenapa sih kita diwajibkan memakai helm atau sabuk pengaman?

    Judul tulisan ini tiba-tiba muncul di pikiranku saat aku sedang memikirkan mengenai tujuan adanya undang-undang. Undang-undang setahuku dibuat untuk memastikan hubungan antar warga negara dapat berjalan baik, tanpa adanya tindakan yang merugikan orang lain (baik disengaja atau pun tidak).

    Contoh: ketika kita mengendarai kendaraan di malam hari tanpa menyalakan lampu kendaraan kita, kita beresiko mencelakakan orang lain karena mereka tidak bisa melihat kendaraan kita. Mereka bisa saja menabrak atau ditabrak kita. Mungkin mereka tidak meninggal, tapi yang pasti akan ada kerugian materi, entah terluka, atau kendaraan mereka rusak, dan lainnya. Itu sebabnya hal ini diatur dalam Undang-Undang Lalu Lintas.

    Pasal 107 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”) berbunyi:
    (1) Pengemudi Kendaraan Bermotor wajib menyalakan lampu utama Kendaraan Bermotor yang digunakan di Jalan pada malam hari dan pada kondisi tertentu.
    (2) Pengemudi Sepeda Motor selain mematuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyalakan lampu utama pada siang hari.

    Kemudian, menurut penjelasan Pasal 107 ayat (1) UU LLAJ, yang dimaksud dengan “kondisi tertentu” adalah kondisi jarak pandang terbatas karena gelap, hujan lebat, terowongan, dan kabut.

    OK, sekarang kita masuk ke pokok permasalahan, apa kerugian materi atau pun non materi yang dapat ditimbulkan kepada orang lain, hanya karena aku tidak memakai sabuk pengaman (untuk kendaraan roda empat dan lebih) atau pun helm (kendaraan roda dua)? Sabuk pengaman atau helm hanya akan berguna ketika kita mengalami kecelakaan, dan bukan penyebab kecelakaan itu sendiri. Siapa yang akan dirugikan kalau kita tidak memakai sabuk pengaman atau helm? Diri kita sendiri, kalau terjadi kecelakaan. Kalau tidak terjadi kecelakaan, tidak ada yang dirugikan. Jadi kenapa pemerintah harus mengatur sebuah hal yang jelas-jelas tidak merugikan orang lain, dan kemudian menghukum kita ketika kita sendiri sadar akan resiko yang akan terjadi ke diri kita?

    Contoh nih, di lokasi konstruksi bangunan banyak sekali bahaya yang mengintai. Paku yang bertebaran di tanah, benda-benda berat yang bisa jatuh tiba-tiba dari atas, dan lain-lain. Tapi aku tidak melihat adanya peraturan pemerintah yang mewajibkan pemakaian sepatu pengaman dan helm konstruksi di dalam lokasi konstruksi. Ya, selama ini tanpa diwajibkan pemerintah pun, orang-orang yang terlibat pasti akan memakainya, karena demi keselamatan diri sendiri. Tapi kenapa pemerintah tidak mengaturnya? Kan aneh kalau kita membandingkan dengan kasus sabuk pengaman dan helm. Sama-sama alat yang cuma berfungsi ketika ada kecelakaan, namun yang satu diatur dalam undang-undang, dan yang satu tidak. Kenapa?

    Cukup aneh menurutku ketika pemerintah merasa harus mengatur mengenai pemakaian sabuk pengaman dan helm. Ketika kita tidak memakainya, kita sadar kok resiko yang akan terjadi kalau terjadi kecelakaan. Jadi ketika kita sendiri sudah siap menerima resikonya, kenapa pemerintah yang harus sewot? Kalau begitu, kenapa tidak sekalian pemerintah mewajibkan penggunaan sarung tangan anti pisau bagi semua yang menggunakan pisau? Atau mewajibkan semua pejalan kaki menggunakan pelindung lutut dan siku, untuk melindungi kalau mereka jatuh?

  • Kisah Petani dan 3 Iblis Kecil

    Kisah ini hanyalah fiksi belaka, namun terdapat inspirasi yang menarik dan mungkin dapat kita jadikan sebuah pelajaran berharga bagi kehidupan kita.

    Ada iblis melihat seorang petani setiap hari bekerja dengan keras di lahan pertaniannya. Hasil yang didapatnya sangat minim. Namun petani itu tetap gembira, sangat bersyukur dan merasa puas. Iblis itu lalu mengutus dua iblis kecil untuk mengganggu petani ini.

    Iblis kecil pertama ini membuat lahan petani menjadi sangat keras, sengaja untuk membuat petani melepaskan niatnya bertani. Namun petani ini tanpa mengeluh tetap mencangkul seharian tanpa henti. Melihat rencananya gagal setan kecil ini hanya bisa meraba-raba hidungnya lalu meninggalkan petani ini sendirian.

    Iblis kecil kedua berpikir, membuat dia lebih susah pasti tidak akan berhasil lagi, lebih bagus saya mengambil semua miliknya, lalu dia mengambil makan siang petani ini yaitu roti dan air minumnya. Dia pikir sekali ini petani pasti akan panik dan memaki.

    Ketika si petani berhenti bekerja lalu pergi ke bawah pohon untuk beristirahat, dia menyadari makan siang dan airnya telah hilang, lalu dia berkata, “Tidak tahu siapa yang lebih malang dari nasib saya yang membutuhkan roti dan air minum saya? Jika makanan ini memang bisa mengenyangkan dia, itu adalah hal yang baik.” Iblis kecil kedua inipun gagal lagi, lalu meninggalkan tempat itu dengan tangan kosong.

    Iblis tua merasa heran, apakah tidak ada hal yang bisa membuat petani ini menjadi jahat? Pada saat ini iblis kecil ketiga muncul dan berkata kepada iblis tua, “Saya ada akal yang bisa membuat petani ini menjadi jahat.”

    Iblis kecil ini pergi menemui petani dan berteman dengan dia. Petani itu sangat gembira bisa berteman dengannya. Karena iblis kecil ini mempunyai kemampuan untuk memprediksi, ia mengatakan kepada petani tahun depan akan terjadi kekeringan, dia mengajar petani menanam padinya di sawah, petani mendengar nasehatnya melakukan hal itu.

    Benar saja, setahun kemudian terjadi kekeringan semua orang gagal panen hanya petani ini yang berhasil memanen, oleh sebab itu dia menjadi kaya.

    Iblis kecil juga mengajar petani menjual berasnya diganti dengan anggur, untuk mendapatkan lebih banyak uang. Perlahan-lahan petani mulai tidak bertani lagi, dia hanya mengandalkan nasehat iblis kecil berdagang, untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar tanpa bekerja keras.

    Dan setiap ada orang yang menamam tanah dengan anggur di belinya semuanya agar orang lain tidak bisa memproduksi dan memanennya. Sementara kehidupan tetangga petaninya tidak ada peningkataan tetapi sekarang menjadi budak dan buruh saja untuk sang petani tersebut.

    Tiap hari petani hanya memikirkan bagaimana bisa cepat kaya raya dan melindas tiap usaha yang muncul menyainginya.

    Iblis kecil berkata kepada iblis tua, “Engkau lihat!, sekarang saya akan menunjukkan prestasi saya!” Iblis tua melihat hal ini dengan memuji berkata kepada iblis kecil “Waduh! Engkau sangat hebat! Bagaimana caranya engkau dapat melakukan semua hal itu?”

    Iblis kecil berkata, “Saya hanya membiarkan dia memiliki lebih banyak dari yang dibutuhkannya, dengan demikian dapat membangkitkan sifat keserakahannya.”

  • Si Pandai dan Si Bodoh

    Suatu hari, 2 murid menghadap GURU. Mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hitungan 3×7. Murid pandai mengatakan 21, murid bodoh bersikukuh mengatakan 27. Murid bodoh menantang murid pandai untuk meminta GURU sebagai jurinya untuk mengetahui siapa yang benar diantara mereka , sambil si bodoh mengatakan : “Jika saya yang benar 3 x 7 = 27 maka engkau haruss mau dicambuk 10 kali oleh GURU, tapi jika kamu yang benar ( 3×7=21 ) maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri ha ha ha …..” demikian si bodoh menantang dengan sangat yakin dengan pendapatnya.
    “Katakan GURU mana yg benar ?”
    tanya murid bodoh. Ternyata GURU memvonis cambuk 10x bagi murid yang pandai (orang yang menjwb 21).
    Si murid pandai protes keras!!
    GURU menjawab: “Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk KETIDAK ARIFANmu yang mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tau kalo 3×7 adalah 21”
    Guru melanjutkan : “Lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi ARIF daripada GURU harus melihat 1 nyawa terbuang sia-sia!”
    Pesan Moral,
    Jika kita sibuk mmperdebatkan sesuatu yang tak berguna berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yang memulai perdebatan, sebab dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk hal yang tidak perlu.
    Bukankah kita sering mengalaminya?
    Bisa terjadi dengan pasangan hidup, rekan kerja, tetangga/kolega, dan lain-lain. Berdebat atau bertengkar untuk hal yang tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi percuma. Ada saatnya kita diam untuk menghindari perdebatan atau pertengkaran yang sia-sia.
    Diam bukan berarti kalah, bukan? Memang tidak mudah, tapi janganlah sekali-kali berdebat dengan orang bodoh yang tidak menguasai permasalahan.
    “MERUPAKAN SUATU KEARIFAN BAGI ORANG YANG BISA MENGKONTROL DIRI DAN MENGHINDARI KEMARAHAN.”

  • Penipuan investasi dengan keuntungan besar

    Baru saja aku menemukan sebuah topik yang cukup menarik dan serius (namun sebenarnya bukan berita baru) di forum Kaskus (ini topiknya). Buat yang malas baca, intinya ada bisnis online yang menawarkan investasi dengan keuntungan berlipat-lipat. Dengan hanya 100 ribu, kamu bisa mendapat uang 600 ribu. Dengan 1 juta, bisa mendapat 7 juta lebih. Semua itu hanya dalam waktu kurang dari 1 tahun. Menggiurkan bukan?

    Sekedar info saja, sebuah investasi yang normal (deposito atau investasi lain yang resiko rendah) paling besar hanya bisa menawarkan bunga 9% per tahun, rata-rata pasti menawarkan di bawah itu. Jadi kalau investasi itu bisa menawarkan bunga sampai 600% lebih, bagaimana caranya? Ya, kamu bisa bermain saham. Tapi yang namanya main saham, gak ada ceritanya untung cepat. Main saham itu mencari keuntungan jangka panjang.

    Satu saran saja sih : gunakan akal sehat!! Kalau emang benar bisa mendapat uang semudah itu, si pelaku sudah bisa menyaingi kekayaan Bill Gates dan gak perlu susah-susah buka bisnis online/investasi itu.

    Be smart 🙂

  • Menukar Sukacita dengan Hal Sepele

    Untuk memperingati ulang tahun pernikahan mereka, sepasang suami istri makan malam di sebuah restoran. Semua berjalan dengan lancar, makanan enak, suasana romantis, mereka bicara tentang hal-hal menyenangkan dan bernostalgia.

    Ketika hendak membayar tagihan, sang istri terkejut melihat ada kesalahan sebesar 10 ribu rupiah. Ia menanyakan hal tersebut dan mendapat jawaban yang tidak memuaskan dari si pelayan. Sang suami memilih untuk mengajak istrinya pulang saja, tidak usah diperdebatkan.

    Namun, di dalam mobil, sang istri tetap mengomel, termasuk kepada suaminya yang menurutnya tidak membela dirinya. Malam yang sedianya indah itu mendadak jadi tegang. Saat itulah, suaminya berkata, “Sayang, sadarkah bahwa kamu sudah menukar sukacita dan keindahan malam ini hanya dengan 10 ribu rupiah?”

    Berapa banyak kita sering bersikap demikian. Sukacita kita “tukar” dengan ucapan seseorang. Sepuluh tahun persahabatan dihapus hanya oleh sepuluh menit perselisihan. Sepuluh tahun kerjasama yang baik hancur oleh masalah uang sekian juta. Hubungan keluarga putus oleh masalah rupiah.

    Banyak hal besar dan penting tanpa sadar kita tukar begitu saja dengan hal-hal yang nilainya sebenarnya sama sekali tak sebanding. Tanpa sadar pada akhirnya hanya bisa menyesal karena telah menyia-nyiakan hal penting karena hal kecil, banyak orang juga pada akhirnya hanya bisa menyesal saat perselisihan telah terjadi, hubungan telah rusak dan sukacita menjadi hilang.

    Berapa banyak konflik dan kemarahan yang kita rasakan sebenarnya hanya terjadi karena hal yang tak layak dan tak penting seperti itu. Sesungguhnya saat kita marah karena hal-hal seperti kebiasaan, sikap atau ucapan seseorang sampai membuat hubungan kita dengannya menjadi rusak, maka kita sudah menukar posisi orang itu dengan hal-hal tadi.

    Demikian layakkah?

  • Hidup Sempurna Setelah Lalui Setiap Prosesnya

    Seorang anak memberitahu ibunya kalau sesuatu tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Ia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

    Saat itu, ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya. Dengan senang hati, anak itu berkata, “Tentu saja, aku suka kue.”

    “Nah, sekarang cicipi mentega ini,” kata ibunya menawarkan.

    “Yaiks,” ujar anaknya.

    “Bagaimana dengan telur mentah?”

    “Ah, Ibu bercanda nih..”

    “Mau mencoba tepung terigu atau baking soda?”

    “Bu, semua itu kan tidak enak dan menjijikkan!”

    Lalu sang ibu menjawab, “Ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi, jika dicampur jadi satu melalui sebuah proses yang benar, maka akan jadi kue yang enak.”

    Kadang kita bertanya dalam hati dan menyalahkan Tuhan, “Apa yang telah saya lakukan kok saya harus mengalami semua ini?” atau “Kenapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi pada saya?”

    Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya mengapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancanganNya, agar menjadi sempurna tepat pada waktunya.

  • Berikan Sedikit Waktu untuk Mengendapkan Pikiran

    Suatu hari, Buddha sedang berjalan dari satu kota ke kota lain dengan beberapa muridnya. Saat mereka berjalan, kebetulan mereka melewati sebuah danau. Mereka berhenti untuk beristirahat di sana dan Buddha meminta salah satu muridnya untuk memberinya sedikit air dari danau itu.

    Seorang murid berjalan ke danau. Ketika sampai di sana, ia melihat beberapa orang sedang mencuci pakaian di pinggir danau, dan tepat saat itu, sebuah gerobak sapi melintasi danau.

    Akibatnya, air danau menjadi sangat berlumpur. Murid itu berpikir, ”Bagaimana mungkin saya memberikan air berlumpur ini untuk Buddha minum?”

    Maka ia kembali dan mengatakan kepada Buddha, “Air danau ini sangat berlumpur. Aku berpikir air ini tidak cocok untuk diminum.”

    Setelah beberapa saat, Buddha menyuruh murid itu lagi untuk kembali ke danau dan melihat airnya.

    Murid itu patuh dan kembali lagi ke danau. Kali ini ia menemukan bahwa lumpur telah mengendap dan air sudah bersih kembali sehingga ia mengambil air itu dengan panci dan membanya kembali kepada Buddha.

    Buddha melihat air itu lalu memandang muridnya dan berkata, “Lihat apa yang telah kau lakukan untuk membuat air menjadi bersih. Biarkan saja dan lumpur pun akan mengendap. Ini juga berlaku untuk pikiran kita. Ketika pikiran terganggu, biarkan saja dulu. Berikan sedikit waktu, dan itu akan mengendap sendiri.”