Author: stefano

  • Tidak Mudah Menilai Seseorang

    Seorang pemuda mendatangi Sang Guru dan bertanya, “Guru, saya tidak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat diperlukan, bukan hanya untuk penampilan, tetapi juga untuk banyak tujuan lain?”

    Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya dan berkata, “Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi terlebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di sana itu. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?”

    Melihat cincin Sang Guru yang kotor, pemuda tadi merasa ragu. “Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”

    “Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”

    Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada siapapun yang ada di pasar itu.

    Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali kepada Sang Guru dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak.”

    Sang Guru sambil tetap tersenyum arif berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di seberang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”

    Pemuda itu bergegas pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Sang Guru dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”

    Sang Guru tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya ‘para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar’ yang menilai demikian. Namun tidak bagi ‘pedagang emas’.”

  • Siapakah Teman Sejatimu?

    Terkadang orang selalu berbicara tentang nilai sebenarnya dari persahabatan tanpa mengetahui yang sebenarnya. Persahabatan sejati adalah satu, di mana masing-masing tidak perlu menjaga formalitas satu sama lain.

    Persahabatan sejati adalah berbagi situasi, meski pada tahap yang tidak sesuai, namun persahabatan tetap berjalan mulus. Teman terbaik tidak perlu sering bertemu untuk memastikan bahwa persahabatan tetap konstan.

    Kepercayaan antara sahabat sedemikian rupa sehingga jika salah satu teman berada dalam kesulitan, yang lain tidak perlu berpikir dua kali untuk membantu. Jika ikatan antara dua orang teman itu kuat, teman sejati dapat bertahan meski terpisahkan oleh jarak. Bagi mereka, pemisahan geografis hanyalah bagian dari kehidupan. Ini tidak akan mempengaruhi persahabatan.

    Persahabatan sejati tidak pernah memudar. Bahkan, tumbuh lebih baik seiring waktu. Persahabatan sejati berkembang pada kepercayaan, inspirasi, dan kenyamanan. Teman terbaik datang, ketika orang lain dalam kesulitan. Hanya dengan mendengarkan kata “halo” saja melalui telepon, sudah cukup bagi mereka. Mereka dapat memahami dalam keheningan masing-masing.

    Teman sejati tidak meninggalkan satu sama lain ketika seseorang sedang menghadapi masalah. Mereka akan menghadapinya bersama-sama dan saling mendukung, meskipun itu harus bertentangan dengan kepentingan orang lain. Mereka menerima satu sama lain dengan sifat-sifat positif dan negatif. Tidak ada yang perlu disembunyikan di antara teman sejati.

    Mereka tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing. Mereka tidak akan saling mengalahkan. Mereka akan menghormati individualitas masing-masing. Bahkan akan memahami persamaan dan menghormati perbedaan. Teman terbaik tidak akan tahan bila orang lain berkomentar atau mengkritik persahabatan mereka, bahkan mereka melawan jika perlu.

    Teman sejati tidak oportunis. Mereka saling membantu bukan karena ingin mendapatkan sesuatu. Persahabatan sejati ditandai dengan tidak mementingkan diri sendiri. Teman terbaik mendukung satu sama lain, meski seluruh dunia menentang mereka.

    Tidak mudah mendapatkan teman sejati untuk seumur hidup. Jika Anda memiliki, meski hanya satu, teman sejati, Anda beruntung. Ingatlah, semua sahabat adalah teman, tapi tidak semua teman bisa menjadi sahabat. Hormati dan akuilah sahabat Anda, untuk seumur hidup. (inspire)f

  • Hal yang Paling Indah di Dunia

    Dalam suatu masa hiduplah seorang pelukis yang ingin melukis sesuatu yang paling indah di dunia. Ia membaca kotak peralatan lukisnya dan berangkat untuk mengadakan perjalanan ke seluruh negeri, mencari hal yang paling indah di dunia tersebut.

    Suatu hari, ia bertemu dengan seorang pejuang, dan ia bertanya, “Apa hal yang paling indah di dunia itu?” Prajurit itu menjawab, “Damai.” Pelukis itu menggeleng dengan kekecewaan karena ia tidak bisa melukis perdamaian.

    Lalu ia meneruskan perjalanan, dan menemui seorang gadis muda cantik, ia bertanya lagi, “Apa hal yang paling indah di dunia?” Gadis itu menjawab tanpa ragu-ragu, “Cinta.” Pelukis itu kecewa lagi karena ia tidak bisa melukis cinta.

    Akhirnya, ia bertemu dengan seorang pengajar agama, dan ia pun bertanya, “Apa hal yang paling indah di dunia ini?” Pengajar itu menjawab, “Iman.” Pelukis itu hanya bisa menggelengkan kepala dalam kekecewaan lagi karena ia tidak bisa melukis iman. Setelah gagal menemukan hal yang paling indah di dunia, ia sedih terpaksa harus pulang.

    Saat ia tiba di depan pintu gerbang rumahnya, anaknya berlari keluar rumah dengan wajah berseri-seri dan sukacita bertemu dengannya sambil menangis, “Ayah… Ayah…” Istrinya mengikuti dan memberinya ciuman menyambutnya pulang.

    Tiba-tiba pelukis menyadari bahwa ia telah menemukan hal yang paling indah di dunia. Dari anaknya, ia menemukan iman seorang anak kecil kepada ayahnya, dan dari ciuman istri tercinta, ia menemukan cinta seumur hidup. Dan dalam cinta ini, kehangatan dan sukacita dalam keluarganya, ia menemukan kedamaian.

    Akhirnya pelukis itu pun menyelesaikan lukisan tentang hal yang paling indah dunia ini. Tak lain adalah rumahnya.

  • [Humor] Tuhan Menolong Kita dengan CaraNya

    Seorang wanita sedang bekerja ketika ia menerima telepon kalau putrinya sangat demam. Ia meninggalkan pekerjaannya dan mampir ke apotek untuk membeli beberapa obat untuk putrinya.

    Ketika kembali ke mobilnya, ia melihat kunci mobil ada di dalam mobil. Ia sedang terburu-buru pulang karena anaknya sakit. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, jadi ia menelepon ke rumah dan menanyakan kepada baby sitter apa yang terjadi dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

    Baby sitter mengatakan putrinya semakin parah demamnya. Ia berkata, “Anda mungkin bisa menemukan gantungan baju dan menggunakannya untuk membuka pintu.”

    Wanita itu memandang sekeliling dan menemukan sebuah gantungan baju tua berkarat yang dibuang oleh orang lain beberapa waktu lalu atau orang lain yang juga mengambil kunci dalam mobil mereka.

    Wanita itu menatap gantungan baju itu dan berkata, “Saya tidak tahu bagaimana menggunakan ini.” Lalu ia menundukkan kepala dan meminta Tuhan untuk mengiriminya bantuan. Dalam waktu lima menit sebuah mobil tua berkarat, kotor, dan berminyak,  berhenti. Pengendaranya seorang pria berjanggut dengan kain penutup kepala bergambar tengkorak di kepalanya. Wanita itu berpikir, “Ya Tuhan. Inikah yang kau kirimkan untuk membantuku?”

    Pria itu keluar dari mobilnya dan bertanya apakah ia bisa membantu. Wanita itu berkata, “Ya, putri saya sedang sakit. Saya mampir untuk membeli obat dan kunci saya tertinggal di dalam mobil yang terkunci. Saya harus segera pulang untuk anak saya. Tolong, bisakah Anda gunakan gantungan ini untuk membuka mobil saya.”

    Pria itu berkata, “Tentu.” Ia berjalan menunju mobil, dan dalam waktu kurang dari satu menit mobil itu pun terbuka. Wanita itu memeluk pria itu dan dengan air mata yang berlinang, ia berkata, “Terima kasih banyak. Anda adalah orang yang baik.”

    Pria itu menjawab, “Bu, aku bukan orang yang baik. Aku baru saja keluar dari penjara hari ini. Aku di dalam penjara karena kasus pencurian mobil dan baru keluar sekitar satu jam yang lalu.”

    Wanita itu memeluk pria itu lagi dan dengan air mata berlinang ia berteriak keras, “Terima kasih Tuhan telah mengirim seseorang yang profesional!”

  • Hidup Saling Berkaitan

    Ada seorang petani yang memenangkan tender ekspor jagung karena kualitas jagunya yang baik. Setiap tahun ia mengekspor jagung ke sebuah negara besar.

    Seorang reporter datang mewawancarainya dan belajar sesuatu yang menarik tentang bagaimana ia berhasil. Reporter itu menemukan bahwa petani itu berbagi benih jagung dengan tetangganya.

    “Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung terbaik dengan tetangga Anda, padahal mereka juga bersaing dengan Anda setiap tahunnya?” tanya reporter itu.

    “Kenapa?” tanya petani itu. “Kau tidak tahu? Angin mengambil serbuk sari dari kebun jagung dan berputar-putar dari ladang yang satu ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung tidak berkualitas, penyerbukan silang tentunya akan menurunkan kualitas jagung saya. Jika saya bermaksud menanam jagung yang baik, maka saya pun harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung berkualitas yang baik.

    Ia sangat menyadari keterkaitan kehidupan. Jagungnya tidak bisa berkualitas baik kecuali jagung tetangganya pun berkualitas baik.

    Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang memilih untuk hidup dalam damai harus membantu tetangga mereka untuk hidup dalam damai. Mereka yang memilih untuk hidup dengan baik harus membantu orang lain untuk hidup dengan baik, nilai kehidupan diukur dengan kehidupan yang bersentuhan dengannya.

    Dan mereka yang memilih untuk menjadi bahagia harus membantu orang lain untuk menemukan kebahagiaan. Kesejahteraan masing-masing berkaitan dengan kesejahteraan semua. (*)

  • Menyia-nyiakan Hidup

    Berikut ini percakapan antara seorang gembala muda dengan seorang pria yang berpendidikan tinggi tentang apa itu menyianyiakan hidup.

    Seorang gembala yang berusia 20-an tahun sedang beritirahat di bawah pohon.

    Seorang pria yang berpendidikan baik datang dan berujar, “Anda telah menyianyiakan hidup Anda.”

    Gembala: Mengapa?

    Pria: Lihat diri Anda. Anda adalah seorang pengembara tanpa tujuan. Anda masih muda, ini saatnya Anda bekerja keras, menemukan passion­ Anda dan melakukan sesuatu yang besar…

    Gembala: Ohh, lalu selanjutnya apa yang terjadi jika aku melakukannya?

    Pria: Anda dapat membangun rumah yang besar, memiliki banyak uang dan menjadi orang yang sukses.

    Gembala: Kemudian apalagi?

    Pria: Kemudian Anda dapat bersantai dan hidup dengan bahagia.

    Gembala: Tapi…Saya sudah melakukannya saat ini juga. (InspiringShortStories)

  • Kesalahan Jadi Berkat

    Konon, kue brownies lahir dari kesalahan. Seorang koki lupa memasukkan baking powder ke dalam adonan resep kue coklat. Akibatnya setelah dipanggang kue coklat itu tidak mau mengembang alias bantat. Herannya, meski bantat, orang yang mencicipi mengatakan bahwa itu kue coklat resep baru yang sangat enak.

    Cerita di atas sering dipakai untuk menggambarkan kreativitas. Tapi, bukti di atas juga menunjukkan jika manusia bisa menggunakan kesalahannya menjadi sesuatu yang luar biasa, bukankah terlebih lagi Tuhan?

    Rancangan Tuhan itu sempurna. Sempurna bukan berarti mulus, lancar dan tak ada masalah di dalamnya. Sempurna justru karena Tuhan bisa memakai tiap kegagalan dan kesalahan kita untuk mewujudkan rencanaNya.

    Saat Yusuf dijual menjadi budak di Mesir, itu jelas merupakan “fase kegagalan” di dalam hidupnya. Tapi, Tuhan memakainya sebagai skenarioNya. Bayi Musa yang dilepaskan di sungai Nil jelas merupakan “fase kegagalan”, tapi lewat peristiwa menyedihkan itu, sungai Nil mengantarkan bayi Musa ke istana Firaun.

    Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar dari kesalahan itu. Jangan putus asa karena kesalahan yang kita buat. Jika kita hidup di dalam Tuhan, maka kita harus percaya bahwa rencana Tuhan tidak bisa digagalkan oleh kesalahan kita (tentu bukan kesalahan yang disengaja), sebaliknya Tuhan bisa menyempurnakan rencanaNya lewat kesalahan yang kita buat. Jadi, tidak ada yang mustahil di tangan Tuhan….

    Kita doakan sahabat-sahabat kita yang sedang merayakan Idul Adha pada hari ini…..

    May All of You Have a great experience with GOD this Tuesday!!

  • Kisah Tentang Penyesalan

    Dikisahkan dua bersaudara yang tinggal di apartemen tingkat 80. Suatu hari saat pulang ke rumah, mereka menyadari lift tidak dapat dipakai, jadi mereka harus menaiki tangga darurat. Akhirnya mereka meninggalkan tas mereka yang berat di lantai bawah untuk kemudian menaiki tangga.

    Ketika berjuang sampai tingkat ke-40, sang adik mulai menggerutu dan keduanya mulai bertengkar. Mereka terus menaiki tangga sambil bertengkar hingga sampai ke lantai 60.

    Mereka kemudian menyadari bahwa tinggal 20 tingkat lagi untuk naik tangga dan memutuskan untuk berhenti bertengkar. Mereka terus mendaki dalam damai. Dalam diam mereka naik terus dan akhirnya sampailah di apartemen mereka.

    Masing-masing berdiri di depan pintu dan menunggu yang lain untuk membukakan pintu. Namun, mereka menyadari kunci mereka ada di dalam tas yang tertinggal di lantai 20.

    Cerita ini mungkin sebagai refleksi pada kehidupan kita. Banyak dari kita hidup di bawah harapan orangtua, guru, dan teman-teman kita. Kita jarang bisa melakukan hal-hal yang benar-benar kita sukai dan cintai karena berada di bawah begitu banyak tekanan dan stres. Sehingga saat usia kita 20, kita sudah merasa lelah dan memutuskan untuk meninggalkan beban ini.

    Ingin bebas dari stres dan tekanan, kita terlalu antusias dan bermimpi dengan keinginan yang ambisius. Tetapi pada saat kita mencapai usia 40 tahun, kita mulai kehilangan visi dan impian kita. Kita mulai merasa tidak puas dan mulai mengeluh serta mengkritik. Kita hidup dalam kesengsaraan karena kita tidak pernah puas.

    Mencapai usia 60, kita menyadari bahwa kita memiliki sedikit waktu yang tersisa untuk mengeluh dan mulailah berjalan dalam episode terakhir dalam damai dan ketenangan. Kita berpikir bahwa tidak ada yang tersisa untuk mengecewakan kita, hanya menyadari bahwa kita tidak bisa beristirahat dalam damai karena memiliki mimpi yang tak terpenuhi. Mimpi yang kita tinggalkan beberapa puluh tahun lalu.

    Lalu bagaimana? Ikuti impian Anda sehingga Anda tidak akan hidup dalam penyesalan.

  • Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

    Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal, pagi itu menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

    Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

    “Tuhan menciptakan semuanya?” tanya Profesor sekali lagi.

    “Ya, Pak, semuanya,” kata mahasiswa tersebut.

    Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

    Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama adalah sebuah mitos.

    Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

    “Tentu saja,” jawab si Profesor,

    Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

    “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” tanya si Profesor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

    Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu – 43 derajat Celcius adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

    Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

    Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

    Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi, Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

    Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

    Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

    Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Prof,  kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

    Profesor itu pun terdiam.

    Dan, nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

  • Cukup Terangkah Pelita Kita?

    Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera. Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? ‘Kan percuma buat saya! Saya bisa pulang kok.”

    Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.” Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!” Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

    Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!” Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!” Si buta tertegun…. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.”

    Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

    Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?”

    Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.” Senyap sejenak… secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?” Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya…,” sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

    Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”

    Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

    *Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

    *Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.

    *Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

    *Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

    *Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

    Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? Jadilah Pelita, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

    Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi. (YDA)