Author: stefano

  • Bukankah Mereka Saudaramu?

    Yesus berkata: Lembu dan keledai kamu lepaskan untuk mendapatkan makanan dan minuman, maka wajarlah jika wanita yang telah menderita selama 18 tahun ini mendapatkan pelepasan dari deritanya (Luk
    13:16)

    Memelihara binatang tentunya baik, apalagi kalau itu menjadi hobby dan kesenangan kita. Membeli makanan yang mahal dan memberi yang enak kepada
    binatang adalah tanda bahwa engkau sungguh merawat/memeliharanya.

    Aku hanya membisikkan kata hatiku kepadamu sebagai sahabatku bahwa kadang harga
    bahkan makanan binatang piaraan kita lebih enak dari makanan saudara-saudara kita yang miskin di pinggir jalan kehidupan kita. Binatang piaraan mendapatkan
    jatah makan 3 kali sehari tapi kadang kita tak rela membiarkan remah-remah dari meja makan kita atau sisa-sisa duit di dompet kita setelah membeli barang mahal untuk mengenyangkan perut yang lapar dari saudara-saudari kita.

    Aku hanya mengatakan ini kepadamu; “Jika engkau senang dan mampu memelihara binatang karena engkau mempunyai uang maka tentunya tidak ada
    larangannya, tapi bila karena hanya seekor binatang maka engkau mengabaikan saudara-saudarimu di pinggir jalan kehidupanmu maka inilah kesempatan bagimu untuk memeriksa kembali suara hatimu. Aku tidak mengajarimu tentang cara hidup dan berbuat baik, tapi hanya mengingatkanmu akan kenyataan bahwa banyak binatang peliharaan kita lebih bahagia
    daripada saudara-saudari kita.
    Engkau boleh marah dan mengeritik aku tapi aku takkan
    pernah membiarkan pikiranku memadamkan gelora cinta di hatiku untuk selalu mengingatkanmu akan nilai-nilai kehidupan sebagai seorang murid Kristus.

    Mengapa? karena berapa pun besar cintamu pada binatang peliharaanmu, tapi takkan pernah engkau akan menjumpainya lagi di kehidupan berikutnya. Tapi bila
    engkau membantu saudara-saudarimu yang miskin dan papa di dunia ini, maka kuyakinkan engkau bahwa suatu saat engkau dan dia akan duduk bersama di satu meja di Rumah Sang Bapa untuk merasakan enaknya
    masakan surgawi.

    Sumber artikel

  • Melakukan Dan Naik Ke Surga

    Ada sebuah kisah fiksi yang menarik untuk disimak.

    Dalam sebuah dongeng diceritakan bahwa seorang
    petani Jepang naik ke surga, dan hal pertama yang
    dilihatnya adalah sebuah rak panjang dengan benda-
    benda yang tampaknya aneh dan dipajang di atasnya.

    “Apa itu?” tanyanya. “Apakah itu untuk dibuat sup?”

    “Tidak,” terdengar satu suara jawabannya. “Itu adalah telinga-telingan dari orang yang ketika mereka masih hidup di dunia mendengarkan tentang hal-hal yang harus mereka lakukan, tapi mereka tidak menaruh perhatian yang sungguh-sungguh pada hal-hal itu. Maka ketika mereka meninggal, telinga mereka saja
    yang naik ke surga, bagian tubuh lainnya tidak.”

    Setelah beberapa saat petani itu melihat rak lainnya
    dengan benda-benda aneh lainnya dipanjang di
    atasnya.
    “Apa ini?” tanyanya lagi. “Apakah ini untuk dibuat sup?”

    “Tidak,” begitu terdengar suatu jawabannya. “Ini adalah lidah-lidah milik orang yang dahulu hidup di
    dunia dan yang memberi tahu orang lain untuk
    berbuat baik dan hidup baik, tapi mereka sendiri tidak
    melakukannya. Maka ketika mereka meninggal, lidah-lidah mereka saja yang naik ke surga, bagian tubuh lainnya tidak.”

  • Pengampunan Dari Tuhan

    Pada suatu hari seorang misionaris di salah satu kepulauan Pasifik terkejut melihat seorang perempuan memasuki gubuknya sambil membawa sejumlah pasir
    yang masih basah dengan air laut.

    “Tahukah Anda apa ini?” tanyanya.

    “Sepertinya pasir,” jawab misionaris itu.

    “Tahukah Anda mengapa saya membawa pasir ini ke sini?” tanyanya.

    “Tidak, saya tidak tahu mengapa,” jawab pastor itu.

    “Inilah dosa-dosa saya,” jelas wanita itu, “dosa-dosa saya tidak terhiting banyaknya seperti pasir di laut. Bagaimana saya bisa mendapatkan pengampunan bagi
    semua dosa ini?”

    “Kamu mengambil pasir itu dari pantai, bukan?” kata misionaris itu. “Sekarang, kembalikanlah ke sana dan buatlah gundukan pasir.
    Lalu duduk dan lihatlah bagaimana ombak datang dan mengikis habis gundukan itu perlahan-lahan tapi pasti. Itulah cara bekerjanya pengampunan Tuhan. Belas kasih-Nya seluas lautan. Menyesallah sungguh-sungguh, maka Tuhan akan mengampuni engkau.”

  • Renungan Harian 10 Nov 2012

    Mutiara Iman, Sabtu 10 November 2012
    Pw. St.Leo Agung, PausPujG (P)

    “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar”(Luk. 16:10)


    LECTIO :

    Flp. 4:10-19;
    Mzm. 112:1-2,5-6,8a,9;
    Luk. 16:9-15;

    MEDITATIO : Suatu kali saya bertemu dengan seorang pengusaha. Kebetulan saat ini perusahaannya bertumbuh dengan baik. Ketika saya tanyakan, bagaimana ia awalnya dia terjun dalam dunia usahanya ini dan cara mengembangkannya. Menurut ceritanya, dia mengawali usahanya karena didesak oleh kebutuhan menyediakan susu untuk anak-anaknya. Sebagai langkah awal dia membuat produk yang mudah namun banyak dibutuhkan orang. Dia menekuni yang sederhana itu dan sekarang ini diapun mampu membuat hal-hal yang sangat rumit dan bermutu dengan kuantitas yang sangat besar.

    Yesus bersabda, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar”. Kadang kita meremehkan perkara-perkara kecil, entah karena bila melakukan hal tersebut gengsi kita tidak terangkat, entah karena kita terobsesi pada hal-hal besar ataupun alasan-alasan yang lain. namun mengerjakan perkara-perkara kecil dengan setia akan melatih kita agar teliti, cermat dan berdaya tahan. Pelatihan ini akan membentuk karakter kita. Dan bila hal itu kita lewati, kita akan bisa melakukan yang lebih besar lagi. Bila ingin mengerjakan yang besar dengan baik, lewatilah dahulu hal-hal kecil dengan sempurna. (Petrus noegroho Agoeng,Pr)

    CONTEMPLATIO : Bayangkan Yesus berdiri di hadapanmu dan bertanya: “Apakah yang telah kau lakukan dengan talenta yang Kuberikan padamu? Apakah kamu mengembangkan atau malah menyembunyikannya?” Apa jawabanmu pada Yesus? Rasakan suasana hatimu … bersyukurlah selalu …

    ORATIO : Tuhan terimakasih atas rahmat dan talenta yang Kau berikan kepadaku. Semoga aku makin bisa mengembangkannya dengan tekun dan setia. Amin.

    MISSIO : Aku akan mempercayai bahwa Tuhan telah memberi bekal talenta pada diriku untuk hidup sehingga aku akan lebih percaya diri dan mengembangkannya dengan tekun dan setia.

    Dikutip dari Renungan Harian Mutiara Iman 2012 Tahun B/II.

  • Nasihat Bijaksana

    Seorang mursyid (arif bijaksana) pernah memberikan nasehat2 berikut di bawah ini:

    Pemberani yang suka memamerkan keberaniannya bisa terbunuh.
    Sementara pemberani yang menyembunyikan keberaniannya bisa selamat.

    Kata-kata yang bisa dipercaya tidak perlu dihias
    Kata-kata yang dihias jangan dipercaya

    orang yang baik hatinya tidak suka berdebat
    Orang yang suka berdebat tidak baik hatinya

    Orang yang arif tidak perlu banyak ilmunya
    Orang yang banyak ilmunya belum tentu arif.

    Tau mencukupkan diri kita tidak membuat diri kita menjadi hina
    Tau batas kemampuan, terhindar dari bahaya

    Ada yang bengkok, barulah ada yang mau diluruskan
    Ada yang usang, barulah ada yang baru
    Ada yang sedikit, baru kemudian ada yang banyak
    Punya yang banyak malahan membikin orang menjadi bingung.

    Tidak menonjolkan diri malah menjadi cemerlang
    Tidak merasa diri paling benar malah dipuji orang
    Tidak memperlihatkan jasa malah berjasa
    Tidak membusungkan dada bisa bertahan lama

    Orang yang tidak mau bersaing, maka di dunia ini tidak ada yang mampu menyainginya
    Orang yang mau mengalah dengan ketulusan hatinya, semua orang akan berpaling kepadanya.

  • Katakan YA Kepada Tuhan

    Kemarin adalah hari ulang tahun isteri

    Inilah yang saya lakukan untuknya selama beberapa hari kemarin:

    (1) Saya memberinya sebuah hadiah istimewa. Saya membeli sebuah notebook yang indah dan saya mengisi setiap halamannya dengan sebuah daftar hal-hal yang dilakukannya yang membuat saya semakin mencintainya. Dan ia sangat menyukainya, ia menangis beberapa saat ketika membaca notebook itu. Salah satu sifat yang saya sukai darinya: Sangat mudah membuatnya senang. Notebook itu seharga Rp 50.000,-.

    (2) Di depan 5.000 orang lebih pada acara Feast, saya memberinya sebuah buket bunga mawar merah mudah dan menyanyikan sebuah lagu cinta untuknya.

    (3) Kami mengadakan perayaan makan siang yang menyenangkan bersama keluarganya dan keluarga saya.

    (4) Saya membawanya ke sebuah hotel yang bagus. Menginap semalam.

    Saya menikmati relasi saya dengan isteri saya karena pada suatu ketika, saya mengatakan Ya kepada Tuhan untuk mencintai isteri saya seumur hidup saya.

    Jika saya menengok ke belakang, saya perhatikan bahwa semua hal besar dalam hidup saya dimulai dengan kata yang indah itu: Ya.

    Tuhan Memanggil Anda Untuk Mengatakan Ya

    Suatu ketika Maria dipanggil Tuhan.

    Dan mengatakan Ya kepada panggilan itu mengubah hidupnya selamanya.

    Alkitab menggambarkan panggilan Maria: Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret (Lukas 1:26-

    Lewat cerita ini, Tuhan meminta Anda untuk juga mengatakan Ya kepadaNya.

    Sekalipun jika Anda pikir Anda seorang

    “Tak Ada Seorang Pun Yang Biasa!”

    Maria tinggal di Nazaret. Jika Anda hidup di jaman itu, Anda akan mengatakan, “Naza…apa? Di manakah itu?”

    Nazaret adalah sebuah kota yang sangat kecil dan miskin. (Saya yakin tidak ada KFC atau Indomaret di sana.) Nazaret begitu kecil, mungkin ada sekitar 20 keluarga yang tinggal di sana, dan semuanya miskin.

    Jika Anda perhatikan, kriteria Tuhan untuk memilih ibu Yesus sangat berbeda dari kriteria kita.

    Jika Tuhan menggunakan kriteria kita, Ia mungkin akan memilih seorang wanita dari kekaisaran Roma atau dari keluarga rohani di Yerusalem. Ia mungkin akan memilih seorang puteri yang cantik. Seorang dari keluarga bangsawan. Seorang yang terpelajar. Tapi tidak. Ia memilih seorang wanita muda miskin dari sebuah kota kecil yang tidak diketahui orang banyak.

    Mengapa? Karena Ia ingin memberitahukan satu hal pada dunia: BagiNya, tak ada seorang pun yang biasa. Tuhan mengatakan pada Anda sekarang, “Engkau tidak biasa.”

    Pikirkan itu. Maria sama sekali bukan siapa-siapa. Maria tidak punya apa-apa. Maria tidak terpelajar. Tapi Tuhan memilihnya untuk menjadi ibu Yesus.

    Mengapa? Ketika Tuhan melihat Maria, Ia tidak hanya melihat seorang gadis berusia 14 tahun dari Nazaret yang jauh. Tuhan sudah melihat wanita yang disebutkan dalam kitab Wahyu – seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari 12 bintang di atas kepalanya.

    Dengarkan baik-baik. Tuhan berhubungan dengan Anda tidak didasarkan pada riwayat Anda tetapi pada nasib Anda. Ia berelasi dengan Anda tidak didasarkan pada siapa Anda sekarang, tetapi siapa Anda nanti.

    Jadi sekalipun jika Anda berpikir Anda seorang yang biasa katakan Ya kepadaNya.

    Mengapa Anda Perlu Mengatakan Ya

    Ini suatu kenyataan: Segala hal yang baru hanya dimulai dengan Ya.

    Suatu relasi yang baru tidak mulai jika Anda tidak mengatakan Ya. Suatu pekerjaan baru tidak mulai jika Anda tidak mengatakan Ya. Sebuah latihan, atau diet, atau proyek, atau pelayanan, atau berkat, atau keajaiban tidak mulai kecuali Anda mengatakan Ya.

    Anda tidak memasuki tahap baru dalam hidup Anda jika Anda tidak mengatakan Ya.

    Maria berkata, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu itu.”

    Inilah jawaban Ya dari Maria. Dan Natal

    Ketika saya berumur 12 tahun, saya mengatakan Ya kepada Tuhan. Dan sejak itu saya terus mengatakan Ya.

    Mengatakan Ya mengubah hidup saya.

    Ketika Anda mengatakan Ya, Anda mengubah hidup Anda selamanya.

    Mengatakan Ya berarti tiga hal penting:

    1. YA Berarti Memberi Kepercayaan Anda

    Beberapa orang mengatakan bahwa menjadi seorang yang rohani akan membuat hidup Anda membosankan. Biasa-biasa. Tidak

    Saya sangat tidak setuju!

    Ketika saya mengatakan Ya kepada Tuhan, hidup saya menjadi petualangan yang seru, mendebarkan, membuat detak jantung berhenti, dan memompa adrenalin. Dibandingkan dengan hidup saya, hidup Indiana Jones cukup membosankan!

    Karena saya mengatakan Ya kepadaNya, saya telah melalui petualangan yang luar biasa. (Semua karena belas kasih Tuhan. Tak ada hubungannya dengan saya!)

    Ketika saya berumur 13 tahun, saya mengatakan Ya untuk memberi kotbah pertama saya di sebuah persekutuan doa kecil. Saya tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya saya akan berkotbah di 14 negara di seluruh penjuru dunia – dan berkotbah untuk 5.000 orang lebih setiap hari Minggu dalam acara Feast di Philippine International Convention Center (PICC).

    Ketika saya berumur 14 tahun, saya memimpin persekutuan doa pertama dari Light of Jesus Family. Itu adalah sebuah kelompok kecil terdiri dari 30 orang yang berkumpul di garasi yang sempit. Saya tidak pernah menyangka kalau tiga dekade kemudian, kelompok itu bertumbuh menjadi sebuah pelayanan yang tersebar ke seluruh dunia.

    Ketika saya berumur 14, saya tinggal di perkampungan kumuh, melakukan pelayanan di antara yang termiskin dari yang miskin. Saya tidak pernah menyangka kalau suatu hari, saya akan tinggal di daerah terpencil selama tiga tahun, tanpa listrik dan air leding, membangun pelayanan Anawim kami bagi orang-orang lanjut usia yang terlantar.

    Ketika saya berumur 20, saya menulis buku pertama saya. Saya tidak pernah menyangka kalau suatu hari, saya akan menjadi seorang pengarang dari 21 buku yang akan dibaca oleh ratusan ribu orang. (Baru-baru ini, seorang wanita datang kepada saya dengan berlinangan air mata dan berkata, “Bo, bukumu menyelamatkan hidup saya. Saya begitu depresi, dan kemudian saya mengambil bukumu, dan saya disembuhkan.” Pengalaman mengharukan seperti ini yang membuat semua upaya saya menulis buku tidak sia-sia.)

    Ketika Anda mengatakan Ya kepada Tuhan, Anda mengatakan Ya kepada Yang Tidak Diketahui.

    Ia akan membimbing Anda ke tempat yang bahkan tidak dapat Anda bayangkan sekarang.

    Anda tidak tahu persis apa yang akan

    Karena itulah Ya membutuhkan Kepercayaan.

    Penundukkan diri berarti percaya.

    Anda perlu percaya bahwa yang terbaik akan datang.

    2. YA Berarti Memberikan Kebebasan Anda

    Sekarang saya belajar bahwa kebebasan tidak datang dari memaksakan keinginan Anda sendiri. Kebebasan tidak datang dengan menjadi keras kepala.

    Kebebasan berasal dari penundukkan

    Sebaliknya, ketika Anda mengikatkan diri Anda kepada Tuhan, ketika Anda membuang diri Anda ke dalam pelukanNya, ketika Anda menyerahkan kebebasan Anda kepada Tuhan, itulah saatnya Anda mengalami kebebasan yang sesungguhnya.

    Teman, tundukkan diri Anda kepada Tuhan hari ini!

    Tanpa alasan!

    Yang akan membawa kita pada arti ketiga dari Ya.

    3. YA Berarti Memberikan Keterbatasan Anda

    Setelah Malaikat memberitahu Maria kalau ia akan melahirkan Yesus, Maria berkata kepada malaikat, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

    Tokoh lain dalam Alkitab juga mempunyai alasan lain ketika Tuhan memanggil mereka.

    Musa mengatakan, “Aku tidak pandai bicara.”

    Yeremia mengatakan, “Aku terlalu muda.”

    Abraham mengatakan, “Aku terlalu tua.”

    Petrus mengatakan, “Aku juga berdosa.”

    Orang-orang belum berubah. Sifat alami manusia belum berubah.

    Hingga hari ini, kita senang berdalih. Kita senang menjelaskan mengapa panggilan Tuhan adalah tidak mungkin:

    “Saya terlalu miskin.”

    “Saya tidak punya waktu.”

    “Saya terlalu sibuk.”

    “Saya tidak cukup pandai.”

    “Saya tidak cukup kaya.”

    “Saya tidak bisa apa-apa.”

    Tapi inilah yang saya temukan tentang alasan-alasan: Alasan Anda adalah alasan Tuhan untuk mewujudkan kuasaNya. Berikan keterbatasan Anda padaNya. Karena keterbatasan Anda adalah panggung Tuhan untuk mukjizatNya.

    Apa keterbatasan Anda? Kelemahan

    Persembahkan itu kepada Tuhan sekarang.

    Katakan Ya kepadaNya.

    Biarkan Ia memakai Anda – dan menyambut Anda ke suatu dunia yang belum Anda bayangkan.

    Semoga impian Anda menjadi kenyataan, Bo Sanchez

    (Diterjemahkan oleh: Jessica Jeanne Pangestu)

  • Renungan Harian 9 Nov 2012

    Renungan oleh Romo Ign Sumarya SJ

    Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran
    Yeh 47:1-2,8-9,12 atau 1Kor 3:9b-11,16-17; Yoh 2:13-22
    “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat
    rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan”.

    Gereja Basilik Lateran adalah kapel atau gereja pribadi Paus. Telah menjadi kebiasaan juga bahwa setiap kardinal yang baru dilantik pada umumnya juga ‘diserahi’ kapel tertentu di Vatican, meskipun kemudian kardinal yang bersangkutan tidak mengunjungi kapel tersebut. Kitab Hukum Kanonik (KHK) mengatakan bahwa “dengan sebutan gereja dimaksudkan bangunan suci yang diperuntukkan bagi ibadat ilahi dimana kaum beriman berhak untuk masuk melaksanakan ibadat ilahi, terutama
    ibadat yang dilangsungkan secara publik” (KHK kan 1214). Lebih lanjut dikatakan bahwa “Hendaknya semua orang yang bersangkutan berusaha agar di gereja-gereja dipelihara kebersihan dan keindahan yang layak bagi rumah Allah dan agar segala sesuatu yang tidak cocok dengan kesucian tempat itu dijauhkan dari padanya” (KHK kan 1220 $ 1). Maka dalam rangka mengenangkan Pemberkatan Gereja Basilik Lateran, hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mengusahakan dan menjaga kesucian dan kebersihan tempat-tempat ibadat, dan untu itu marilah kita renungkan atau refleksikan sabda Yesus di bawah ini.

    “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yoh 2:6).
    Entah secara kebetulan atau sungguh merupakan panggilan Tuhan bagi saya: yang menurut catatan tgl 9 November, pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran, juga merupakan hari jadi atau ulang tahun saya (9 Nov 2012: hut saya ke 60) dan saya selama kurang lebih 10 (sepuluh tahun) bertugas sebagai Ekonom KAS, yang antara lain bertugas merencanakan, merawat dan memperhatikan pembangunan gedung gereja atau kapel. Memang selama bertugas sebagai Ekonom KAS maupun sampai kini saya merasa terpanggil untuk mengusahakan dan menjaga kesucian dan kebersihan tempat ibadat, entah itu gereja atau kapel, termasuk tempat-tempat ziarah. Selama bertugas menjadi Ekonom saya pribadi belajar banyak hal berhubungan dengan bangunan (arsitektur, lingkungan hidup dst..). Sabda Yesus di atas senantiasa mengiang-iang dalam diri saya setiap kali memasuki tempat-tempat ibadat. Apakah masih ada orang-orang yang menjadikan tempat ibadat untuk berjualan atau berbisnis alias mencari keuntungan pribadi? Hemat saya sampai kini masih ada. Ada juga yang mengkomersielkan ibadat atau Perayaan Ekaristi, misalnya pengumpulan dana atau sumbangan dengan Perayaan Ekaristi. Bahkan selama bertugas sebagai Ekonom saya juga pernah
    menegor dengan keras panitia pembangunan kapel dan seksi-seksi sosial paroki, karena pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya sungguh komersial. Kami mengajak dan mengingatkan anda semua untuk menjaga dan mengusahakan kesucian dan kebersihan tempat ibadat, maka jangan ada seorangpun yang bersikap mental materialistis atau bisnis memfungsikan tempat ibadat apalagi melakukan tindakan maksiat alias tak bermoral.

    Para pengurus dan pengelola tempat-tempat ibadat atau ziarah kami harapkan bertindak tegas dengan meneladan Yesus: mengusir mereka yang ‘berjualan’
    atau berbisnis serta mencari keuntungan pribadi tempat-tempat ibadat atau ziarah yang menjadi tanggungjawabnya. Kami juga berharap kepada siapapun bahwa dengan memasuki tempat ibadat atau ziarah anda semakin suci, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Apa-apa yang dijual di lingkungan tempat ibadat hendaknya juga mendorong atau memotivasi pembelinya semakin suci, entah itu berupa makanan atau minuman, sarana berdoa maupun tempat penginapan atau istirahat. Ada kemungkinan tempat ziarah digunakan untuk pacaran rekan-rekan muda-mudi: baiklah hal itu diawasi agar jangan melakukan tindakan amoral, dan semoga dengan berpacaran di tempat zairah anda juga semakin diperjelas dan dijernihkan serta diteguhkan dalam saling mengasihi. Kepada kita semua yang memasuki tempat ibadat atau ziarah serta beribadat atau berdoa, semoga semakin suci, semakin hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Maka selanjutnya marilah kita renungkan sapaan atau peringatan Paulus di bawah ini.
    “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu” (1Kor 3:16-17)

    Paulus mengingatkan kita semua bahwa diri kita, tubuh kita, adalah bait Allah, dan dengan demikian kita dipanggil untuk mengusahakan dan menjaga kebersihan dan kesucian tubuh kita masing-masing. Pertama-tama marilah kita sadari dan hayati bahwa kita semua diciptakan oleh Allah karena kasihNya dengan bekerjasama dengan orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi. Dengan kata lain bukankah masing-masing dari kita adalah ‘buah kasih’ atau ‘yang terkasih’? Maka mengusahakan dan menjaga agar tubuh kita tetap sebagai ‘bait Allah’ alias suci, hendaknya kita fungsikan seluruh anggota tubuh kita untuk mengasihi alias membahagiakan dan menyelamatkan orang lain.

    Kami berharap juga tidak ada orang yang mengkomersialkan tubuhnya atau mencemari diri dengan tindakan amoral. Pencemaran tubuh secara pribadi dapat terjadi dengan tindakan yang terkait dengan kenikmatan seksual, misalnya masturbasi atau onani. “Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. ‘Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat bertentangan dengan ketertiban’, karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apapun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya’. Kenikmatan seksual yang dicari karena dirinya sendiri tidak mempunyai ‘tujuan susila yang dituntut oleh hubungan seksual, yaitu yang melaksanakan arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga satu pembuahan manusiawi yang sebenarnya di dalam cinta yang
    sebenarnya” (Kamus Gereja Katolik no 2351). Kami juga berharap kepada rekan-rekan suami-isteri untuk saling setia satu sama lain, tidak berselingkuh, karena dengan berselingkuh berarti mencemari relasi suami-isteri; demikian juga hendaknya entah suami atau isteri menyeleweng dengan caranya sendiri, berganti pasangan dalam hubungan seksual. Ingatlah dan sadari penyakit kelamin atau HIV mengincar anda yang suka berselingkuh, dan dengan demikian mencemari tubuhnya sendiri. Menjaga dan mengusahakan kebersihan anggota tubuh tetap bersih kiranya juga penting, karena ketika kita menghadirkan diri di muka umum dimana secara fisik tubuh kita tidak bersih, misalnya bau tidak sedap, pasti akan mencemari pergaulan dan orang lain, karena orang lain akan menggerutu dan mengeluh, yang berarti mencemari kesucian dirinya.

    Pada masa kini juga marak usaha medis atau teknis dalam rangka mengusahakan dirinya tampan atau cantik, antara lain dengan adanya intervensi sarana medis atau teknis ke dalam tubuh, entah itu berupa suntikan atau operasi. Segala bentuk intervensi medis dan teknis ke dalam tubuh pasti akan memperlemah daya tahan tubuh dan dengan demikian juga mencemarkan tubuh. Marilah kita terima pada anggota tubuh yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita, dan hendaknya diingat bahwa yang penting adalah kebersihan dan keindahan serta kecantikan hati dan jiwa, bukan tubuh.

    “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.” (Mzm 46:2-3.5-6)

    Ign 9 November 2012