Category: Uncategorized

  • Menikah Ibarat Naik Mobil Bersama (1/3)

    Tulisan ini saya salin dari Facebook. Semoga bermanfaat.
    —–

    Selama sekian tahun ini , kalau saya seminar pra nikah atau seminar keluarga – saya memberikan beberapa gambaran tentang jalinan pernikahan. Gambaran ini saya berikan berbagai macam dengan penekanan yang berbeda supaya mempermudah peserta seminar untuk mengerti.

    Menikah saya gambarkan seperti 2 orang yang naik sampan bersama , dengan masing-masing membawa dayungnya. Butuh tujuan , latihan komunikasi , latihan keseimbangan dan latihan kesepakatan untuk sampannya sampai di tujuan dengan selamat. Kalau egois dan merasa benar sendiri , maka sampannya tidak melaju ke depan tetapi berputar-putar , karena tidak dijaga keseimbangan dan kesepakatan.

    Juga pernikahan saya gambarkan seperti 2 orang yang main badminton ganda campuran. Butuh komunikasi yang baik , latihan untuk saling mengerti , butuh saling menutupi kekurangan , butuh latihan untuk menyerang dan bertahan , butuh menjaga kekompakan. Kalau merasa hebat sendiri maka pasangannya akan dipasifkan dan dinonjobkan. Keduanya bisa merasa frustasi satu sama lain.

    Pernikahan juga saya gambarkan seperti 2 orang yang naik gunung bersama , sementara ada tali yang tidak putus di antara mereka. Tali menggambarkan ikatan yang saling mempengaruhi , juga ada batas-batas baru dibandingkan saat hidup bujang. Maka kalau 2 orang naik gunung bersama , dibutuhkan latihan sebelumnya untuk mengatasi kesulitan , komunikasi yang baik , kekuatan untuk berjalan dan bertahan , termasuk mengikuti kekuatan yang lemah supaya tetap bersama. Kalau tidak mau latihan dan bekerja sama maka salah satu akan menjadi beban buat pasangannya.

    Pernikahan juga saya gambarkan seperti 2 orang yang memasak bersama. Mereka sepakat untuk masak makanan tertentu. Diperlukan persiapan yang baik , komunikasi yang baik , juga selera yang sama atau mirip – karena makanan itu akan dinikmati bersama. Dibutuhkan kesabaran , toleransi juga keterbukaan yang membangun di antara keduanya. Kalau tidak peduli dengan selera dan persiapan , asal-asalan saja – maka ‘masakan kehidupan rumah tangga’ yang mereka olah menjadi tidak enak.

    Lalu saat mengisi acara Keluarga Bahagia di radio sekian bulan yang lalu , tercetus 1 gambaran lagi tentang pernikahan. Menikah dapat digambarkan seperti 2 orang yang naik mobil bersama.
    Kalau dulu pernikahan sering digambarkan seperti 2 orang yang naik bahtera rumah tangga mengarungi laut kehidupan – kali ini saya menggambarkannya seperti 2 orang yang naik mobil bersama.
    Mobil yang dipakai harus prima , semua bagiannya bekerja dengan baik. Mulai dari mesin , roda , rem , pintu , wiper ( penghapus kaca ) , kursinya nyaman, AC nya juga baik dan lancar.
    Kalau ada bagian yang tidak bekerja sebagaimana mestinya – maka mobil itu akan mengalami masalah di perjalanannya kelak.  Itu menggambarkan betapa sebelum menikah sebaiknya semuanya disiapkan dengan baik. Mulai dari kesepakatan 2 orang , kesepakatan 2 keluarga, pekerjaan yang mapan , tempat tinggal , latihan komunikasi di antara keduanya , juga persiapan ‘penyatuan budaya’ yang berbeda di antara keduanya. Persiapan yang baik akan mempermudah jalannya ‘mobil pernikahan’ mereka.

    Mobil juga harus di service secara berkala. Harus ganti olie mesin , olie garden , olie rem , olie persneling – juga harus di tune-up mesinnya. Distel mesinnya sehingga akan lancar bekerjanya.  Demikian juga dengan pernikahan. Pernikahan perlu juga di –service. Duduk bersama refreshing untuk menyegarkan visi pernikahan. Membangun komunikasi yang saling memahami dan saling mengasihi. Saling introspeksi diri untuk kepentingan bersama. Bahkan bila perlu ikut retreat bersama suami istri untuk menyegarkan kembali pernikahan bahkan menguatkan kembali hubungan pernikahan yang sudah sekian tahun berjalan.
    Service mobil dilakukan berkala supaya mesinnya tetap bisa digunakan dengan baik , demikian juga dengan pernikahan perlu di ‘service secara berkala’ supaya tetap kuat dan segar.

    Mobil juga perlu dijaga fungsi gas dan rem-nya. Selain ban dan remnya di periksa secara berkala , juga perlu kesepakatan bersama kapan rem dan gas digunakan. Saat harus mengerem ya harus mengerem , kalau tidak akan terjadi tabrakan. Kapan harus nge-gas ya harus di gas. Kalau tidak ‘mobil pernikahannya’ tidak melaju ke depan , tidak ada perkembangan berarti.
    Demikian juga dengan pernikahan. Suami istri mesti memahami kapan saatnya mengerem kapan saatnya nge-gas. Kalau suami maunya nge-gas tetapi istrinya mau mengerem , maka mobil itu akan diam di tempat walau gasnya ditekan pol. Selama remnya juga ditekan pol maka itulah yang disebut gas pol rem pol. Mesin akan panas dan rem akan rusak. Rumah tangga isinya perbantahan dan pertengkaran.
    Tahu kapan harus diam , kapan bicara , kapan mengalah untuk kebaikan bersama , kapan bicara mempertahankan pendapat. Tahu saatnya mendengarkan , tahu kapan saatnya bicara.
    Kalau keduanya bicara bersamaan atau diam bersamaan , maka tidak ada komunikasi yang terjalin. Tidak ada pemahaman yang dibagikan , maka tidak ada pengertian diantara keduanya.

    Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang. [ 1 Petr 3:7 ]

  • Status Media Sosial

    Renungan dari ANNE AVANTIE (diedit seperlunya, tanpa mengurangi makna tulisan)

    Status di profil menjadi karakter yang terbaca oleh orang lain, yang menelanjangi diri sendiri. Luapan hati yang harusnya tersembunyi menjadi konsumsi publik. Orang begitu gampangnya menunjukkan suasana hati yang kadang justru menjadi bumerang yg menyerang diri sendiri.

    Bahkan ada yang seperti mengumpat sehingga menimbulkan tanda tanya. Orang yang sedang bermasalah akan merasa bahwa status itu ditujukan untuknya, dan akan memicu masalah baru. Orang jadi bertanya-tanya ditujukan pada siapa status itu? Status-status yg tidak memberkati akan memicu konflik.

    Saya pernah membaca status seperti ini “hai…perempuan sundal perampas suami orang”, yang akhirnya tidak hanya membuka aib rumah tangga sendiri, tapi juga memicu pertanyaan “siapa yg disebut sundal?”. Parahnya orang itu lupa ada anak-anaknya yang membaca, yang tentu dipermalukan. Privacy yang harusnya diranah bawah atap, akhirnya dikonsumsi publik. Dan suami yang adalah ayah dari anak-anaknya dipermalukan sendiri dihadapan umum.

    Hendaknya status-status kita yang dihiasi bulatan rasa hati dipikirkan dampaknya. Tidak jarang melalui media sosial, kita berkomentar atau curcol atau komplain yang membunuh karakter dan hajat hidup orang lain. Sebenarnya apa yg kita lakukan akan kembali pada diri sendiri, cepat atau lambat, tapi pasti.

    Dari telunjuk kita, dunia bisa kita kendalikan. Jari telunjuk kita yg menekan huruf-huruf, bisa membawa duka, lara ,nestapa, sakit hati, perpecahan, fitnah, pembunuhan karakter, tapi bisa juga mendatangkan berkat dan menciptakan kedamaian.

    Tidak satupun yang kita lakukan tidak kembali pada diri sendiri. Semua tinggal menunggu waktu. Apa yg kita tabur akan kita tuai sendiri.

        (Berkah Dalem)

  • Selamat Tahun Baru 2014

    Selamat tahun baru 2014 untuk semua yang membaca tulisan ini.
    Mari mewujudkan tahun penuh kegembiraan, , penuh arti, dan penuh akan pelajaran dan kenangan. Semoga pada 31 Desember 2013, kita bisa berkata “Tahun ini adalah tahun yang luar biasa”

  • Kakek Dobri Dobrev

    98 year old Dobri Dobrev, a man who lost most of his hearing in the second world war, has traveled 25 kilometers every day for decades from his village in his homemade clothes and leather shoes to the city of sofia – a trip he made by foot until recently – where he spends the day begging for money.

    Though a well recognized fixture around several of the city’s churches, known for his prostrations of thanks to all donors, it was only recently discovered that he has donated every penny he has collected — over 40,000 Euros (~ $52,000) — towards the restoration of decaying Bulgarian monasteries and churches and the utility bills of orphanages. He is living entirely off his monthly state pension of 80 euros and the kindness of others.

  • Tips untuk mengembalikan pilihan auto download images di Whatsapp (Android)

    Buat kalian yang pake whatsapp di blackberry, pasti tau bahwa fitur ini masih ada sampai sekarang. Tapi untuk iPhone dan android, jika kalian memakai versi terbaru, maka fitur ini akan hilang jika di versi lama anda mencentang pilihan ini. Tapi kalo anda sejak awal tidak pernah mencentang, maka fitur ini akan tetap ada.

    Nah, bagaimana dong kalau dulu kita mencentang pilihan ini, tapi sekarang gak mau? Nah, ada solusinya. Ada trik yang bisa dipakai untuk mengembalikannya. Tenang, trik ini minim resiko. Kontak dan percakapan anda tidak akan hilang.

    Caranya adalah
    1. Pergi ke Application Manager, trus tekan di Whatsapp, trus pilih Force close Whatsapp
    2. Nyalakan airplane mode
    3. Install whatsapp versi 2.8.1504 tanpa menghapus program yang ada sekarang. Kalian bisa mencarinya di papktop.com
    5. Ubah tanggal ke 23 Oct, 2012.
    6. Jalankan Whatsapp.
    7. Pergi ke Settings > chat settings, matikan centang di pilihan auto download images.
    8. Matikan airplane mode, kembalikan tanggal ke tanggal terkini..
    9. Update whatsapp ke versi terkini. Kalian bisa cek bahwa pilihan auto download image akan ada.

    Sumber www.techgravy.net/disable-whatsapp-auto-download-images-android/

  • Kisah Arthur Ashe

    Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yangg memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; US Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon
    (1975). Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi bypass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima pada tahun 1983. Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya,
    “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita
    penyakit itu?”
    Ashe menjawab
    “Di dunia ini ada 50 juta anak yg mulai bermain tenis,
    diantaranya 5 juta orang yg bisa belajar bermain tenis, 500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5000 mencapai turnamen grand slam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbeldon, empat orang di semifinal, dua orang berlaga di final. Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, ‘Mengapa saya?’ Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, ‘Mengapa saya?’”

    Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan. Tetapi tidak demikian. Ia berbeda dengan kebanyakan orang. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup yg menekan berat. Ketika menerima sesuatu yg buruk, ingatlah saat-saat ketika kita menerima yg baik…

    ‘Kuda pemenang tidak tahu mengapa dia harus lari dan memenangkan perlombaan. Yang dia tau, dia harus berlari krn dipukul dan sakit..!! Hidup ini seperti sebuah perlombaan. Dan Tuhan adalah komandonya atau ibarat jokinya.. Jika engkau mengalami sakit, dihajar, menerima yg tidak enak, berpikirlah :’Tuhan ingin engkau menang !!’
    ———————————————-
    “I could never forgive myself if I elected to live without humane purpose, without trying to help the poor and unfortunate, without recognizing that the purest joy in life comes with trying to help others.” –
    Arthur Ashe

  • Kisah kakek di atas pesawat

    Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline. Karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap harinya hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton. Pada tanggal 17 juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

    Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari shanghai menuju peking, penumpang sangat penuh pada hari ini. Diantara penumpang saya melihat seorang kakek
    dari desa, merangkul sebuah karung tua, dan terlihat jelas sekali gaya desanya. Pada saat itu saya yang berdiri di pintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju, seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

    Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minum, ketika melewati baris 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku di tempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung. Kami menanyakan mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkan duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang di tempat duduknya, kami
    menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

    Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ketoilet tetapi dia takut apakah di pesawat boleh bergerak sembarang, takut merusak barang didalam pesawat. Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minum yang ke dua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang sebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakkan segelas minuman teh di meja dia. Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan
    segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan di pinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan di pinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

    Saat kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya. Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah di tingkat 3 di Peking. Anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal di kota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orangtua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking. Anak sulungnya tidak tega orangtua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama–sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri. Akhirnya dengan terpaksa disetujui dengan anaknya. Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai oleh anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan di bandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut di tempat bagasi tetapi
    dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh di tempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakkan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia
    bersedia dengan hati-hati dia meletakkan karung
    tersebut.

    Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil ? dan meminta saya meletakkan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget. Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa di mata seorang desa menjadi begitu berharga. Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh di dalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi di luar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar–benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

    Sebenarnya kami menganggap semua hal sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut menyembah kami, mengucap terima kasih bertubi–tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tau
    bagaimana mengucap terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja di lapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

    Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam penumpang saya sudah jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain–lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan,hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya.

    Janganlah kalian memandang orang dari penampilan luar, tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

  • Air dan Garam

    Suatu ketika, hiduplah seorang orang tua yg bijak. Seorang anak muda yg sedang dirundung masalah mendatanginya. Langkahnya gontai & air mukanya ruwet. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yg bijak, hanya mendengarkannya dgn seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, meminta tamunya mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan,
    “Coba minum & katakan bagaimana rasanya…”
    “Asin… Asin sekali” jawab pemuda itu, sambil meludah ke samping.
    Pak Tua itu lalu mengajak tamunya berjalan ke tepi
    telaga. Ia lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk & tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu,
    “Coba, ambil air dari telaga ini & minumlah.”
    Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi,
    “Bagaimana rasanya?”
    “Segar…” sahut tamunya
    “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya Pak Tua lagi
    “Tidak” jawab si anak muda
    “Anak muda, dengarlah… Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih & tak kurang.
    Jumlah & rasa pahit itu adalah sama, & memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yg kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yg kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu smua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan & kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

    Pesan Moral,
    Hati Yg Lapang Bisa Menampung Segala Kepahitan, Bisa Memaafkan & Memaklumi !!
    “Siapa mengejar kebaikan, berusaha untuk dikenan orang, tetapi siapa mengejar kejahatan akan ditimpa kejahatan.”
    (Amsal 11:26)

  • Hati-hati dengan barang bawaan anda di dalam pesawat

    Mau bagikan saja tulisan menarik yang aku rasa cukup berguna buat kita semua, terutama ketika berpergian dengan transportasi umum. Orang ini bercerita tentang kejadian di saat dia hendak pergi ke Hong Kong.

    I would like to draw your attention to an attempted robbery on a flight into Hong Kong last week. With an hour to go, during the flight, I thought I noticed my bag being replaced in the overhead locker. I wasn’t sure and decided it was probably a fellow passenger, moving it to access their own bag. I dismissed any thought of any wrong doing, but upon arrival in HK, something told to me to retrieve the bag, just to make sure nothing suspicious had occurred. When I opened the overhead locker (not above me) and saw my leather bag was the only one occupying the space I knew there was a problem. I examined the content, only to find all of my wife’s jewellery, along with some cash had been stolen, during the flight.

    I raised the alarm and my wife and I quickly blocked both aisles to stop anyone at the back of the plane disembarking….there were around 120 passengers…. My wife and I both shouted for assistance from the stewards and stewardesses. Eventually a steward told me that security had been called but passengers were becoming very agitated and unwilling to show patience or understanding….they just wanted to get off the plane….my wife and I were the only people controlling the passengers. I pleaded with the passengers to check their own bags at which point three fellow travellers reported they had also been robbed. It was only at this point, did I see any evidence from the cabin crew that they were willing to provide any meaningful support. I vaguely remember seeing a passenger wearing black, sporting a white base-ball cap and pleaded with the rest of the passengers to see if they could remember anyone fitting my description. It turned out to be a passenger standing in front of me, who once identified proceeded to offload money, jewelry, camera equipment and false documents, running into tens of thousand, if not hundreds of thousands of dollars worth of stolen goods.

    By this time security had boarded the plane, the Captain had been informed and was standing in the rear section watching the events unfold. Eventually a policeman boarded the plane and I was able to explain the events leading up to my apprehending the thief. I have since been informed this criminal activity is reaching epidemic proportions and the authorities caught three thieves, just last week, (with 30 already on remand since early December) on flights into HK, with all the criminals coming from the same town in China. It is estimated that only 5% are being caught judging by the reports of passengers contacting the police after they have arrived at their destination. They sit in the back row of the plane observing where bags are behind or away from the passengers and systematically pull them from the overhead lockers, while passengers rest or watch movies, take them to the back of the plane and steal any valuable contents. They prey on foreign airlines as the penalties are so lenient, the pay-off makes it worth the risk.

    I naively have never thought of robbers operating on planes, but now I have experienced it first hand, there are a few takeaways:
    1. Hand luggage should ALWAYS be locked.
    2. Do not assume luggage under your seat is safe….last week one passenger had her purse stolen by the guy sitting next to her while she slept !!
    3. If in doubt, wear or keep any valuables ON YOU at all
    times !!
    4. Don’t assume, like me, that everyone on a flight is a
    law-abiding citizen.
    5. Do not assume business class travel is secure…. robbers can be wealthy.

    Please do share this important message with your
    family and friends!

  • Kasus Pastor Rantinus di Bonaran, Sumut

    PASTOR RANTINUS MANALU JADI TERSANGKA KARENA BERPIHAK KEPADA YANG MENDERITA
    Oleh Eduardus B Sihaloho S.Ag

    Konsistensi membela dan memperjuangkan kepentingan dan hak-hak rakyat yang menderita telah membuat seorang imam dari Keuskupan Sibolga, Sumatera Utara, dua kali berurusan dengan penegak hukum atau dijadikan tersangka. Nama imam itu adalah Pastor Rantinus Manalu Pr yang kini bertugas sebagai Ketua Komisi Justice and Peace Keuskupan Sibolga. Di tahun 2009, dia pertama diperiksa oleh Polda Sumatera Utara sebagai tersangka kasus tindak pidana penggunaan dan pendudukan kawasan hutan secara tidak sah, dan tanggal 6 Februari 2013 polisi menetapkan imam itu bersama pejuang HAM, Ustad Sodikin Lubis, dan aktivis kelompok Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM), Denis Simalango, sebagai tersangka pencemaran nama baik Bupati Tapanuli Tengah, Raja Bonaran Situmeang SH, MHum. Yang menjadi pertanyaan, apa alasan yang membuat seorang imam berurusan dengan aparat penegak hukum? Dalam kasus ini, saya pastikan jawabannya adalah konsistensi membela dan memperjuangkan kepentingan dan hak-hak rakyat yang menderita.

    Saya mencoba merunut ke belakang. Sebenarnya, Bupati Raja Bonaran Situmeang dan Pastor Rantinus adalah bagian dari satu tim yang kompak menggulingkan kepemimpinan Kabupaten Tapanuli Tengah sebelumnya. Bagi masyarakat Tapanuli Tengah, kedatangan Bonaran Situmeang sebagai calon bupati pada Pemilukada 2011 dianggap sebagai “penyelamat” yang dinantikan. Anggapan itu dipegang masyarakat karena dalam kampanye dia berjanji memperjuangkan pengembalian tanah-tanah rakyat yang dicaplok oleh perusahaan-perusahaan perkebunan. Untuk memenangkan Bonaran ke kursi jabatan Bupati Tapanuli Tengah, masyarakat mendaulat Pastor Rantinus untuk menjadi Ketua Tim Sukses Pemenangan Bonaran. Kerja keras Pastor Rantinus bersama timnya tidak sia-sia. Mereka berhasil mendudukkan Raja Bonaran menjadi Bupati Tapanuli Tengah. Namun di tengah perjalanan, ternyata janji-janji politik saat kampanye tidak dijalankan. Pastor Rantinus dan kawan-kawan berkesimpulan bahwa Bonaran ingkar janji. Konflik pun terjadi karena tanggal 17 September 2012, Bupati Bonaran melaporkan Pastor Rantinus dan kawan-kawan ke Polda Sumut karena telah mencemarkan nama baiknya. Pencemaran nama baik muncul menyusul terbitnya advertorial Harian Rakyat Tapanuli edisi 8 September 2012 yang berisi ajakan untuk berdemo menuntut bupati turun dari jabatannya karena tidak memenuhi janji-janji saat kampanye. Bahkan imam itu bersama kawan-kawan menuduh bupati berbohong kepada masyarakat dengan membuat janji palsu saat kampanye hanya demi meraih dukungan pemilih, memanfaatkan mutasi dan promosi jabatan birokrasi untuk kepentingan pribadi, memalsukan data, menerima gratifikasi, dan melakukan pembohongan publik.

    “Perseteruan” antara Pastor Rantinus dan kawan-kawan dengan penguasa di kabupaten itu bukan sekali saja. Mereka pernah bertentangan dengan bupati sebelumnya. Pertentangan itu bukan demi kepentingan diri sendiri, tapi demi membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat yang terzalimi oleh penguasa dan pengusaha. Penderitaan berkepanjangan karena pencaplokan tanah rakyat membuat Pastor Rantinus dengan kelompoknya dan seluruh masyarakat yang tertindas menyatukan hati dan tujuan untuk memenangkan Raja Bonaran yang berjanji membantu mereka. Namun harapan dan cita-cita masyarakat tidak kesampaian. Raja Bonaran mengabaikan janjinya untuk mengembalikan tanah rakyat yang diambil oleh perusahaan perkebunan sawit. Rakyat pun berang dan menuntut Bonaran Situmeang mundur, dan Pastor Rantinus tersangkut masalah hukum karena pilihan hidupnya untuk langsung membela orang yang teraniaya, yang dicaplok haknya, dan yang terpinggirkan.

    Di daerah itu ada beberapa perusahaan perkebunan yang menguasai tanah-tanah yang sudah begitu lama bahkan puluhan tahun digarap masyarakat. Tanah-tanah itu sangat cocok untuk perkebunan. Maka pengusaha bersekongkol dengan penguasa setempat agar tanah-tanah yang dikuasai masyarakat itu diambil begitu saja dengan dalih telah memperoleh sertifikat HGU (Hak Guna Usaha) dari bupati. Dengan segala cara pengusaha lalu berusaha menyingkirkan masyarakat yang mengerjakan tanah-tanah itu, bahkan kekerasan dan penghilangan nyawa dianggap wajar. Ini jelas bertentangan dengan HAM. Pastor Rantinus pun gelisah dan bertekad meringankan penderitaan masyarakat. Dia mendekati masyarakat, memberikan pendampingan, bahkan mengadvokasi dan membela rakyat kecil. Menurut Ketua Komisi Justice, Peace and Integraty of Creation (JPIC) Ordo Kapusin Propinsialat Sibolga, Pastor Frans Zai OFMCap, perjuangan Pastor Rantinus murni sebagai gembala umat yang berjuang bagi rakyat kecil. “Dia adalah sosok pemimpin yang konsisten dengan sikap dan pilihannya, walaupun karena pilihan itu dia harus menghadapi aparat penegak hukum seperti yang terjadi sekarang.”

    Benar, bagi warga Tapanuli Tengah, Pastor Rantinus dikenal sebagai sahabat dan pembela korban ketidakadilan. Dia berjuang bukan untuk kepentingan sendiri, tapi kepentingan dan hak-hak masyarakat yang terjajah dan termarginalkan, bahkan tergiur untuk terjun ke dunia politik praktis, yang sebenarnya dilarang oleh Gereja, demi membantu masyarakat. Sayang sekali, upaya yang dilakukan imam itu atas Izin pimpinannya di Keuskupan Sibolga untuk memperbaiki keadaan dengan terjun langsung ke dunia politik terhalang karena bupati menyimpang dari harapan mayoritas masyarakat. Situasi ini membuatnya tidak bisa tinggal diam. Bersama teman-temannya, imam itu berbalik arah, mengambil jarak, dan mengkritisi bupati. Pilihan itu adalah pilihan keberpihakan kepada orang yang menderita, terpinggirkan, terancam, dan ketakutan. Masyarakat yang didampingi imam itu senantiasa merasa terancam oleh pengusaha dan penguasa, yang berkuasa melakukan apa yang mereka kehendaki.

    Karena itu, Pastor Rantinus terpanggil untuk bertindak. Panggilan kenabian (prophetic vocation) itu bersumber dari hati nurani dan panggilan tugas moral imamat. Namun bila dipahami lebih jauh, pilihan keberpihakan yang dilakukan oleh Pastor Rantinus merupakan tugas mulia yang sungguh bermartabat. Pilihannya untuk membela dan memperjuangkan hak-hak rakyat kecil bukan tanpa resiko. Dekanus Dekanat Tapanuli Pastor Servasius Sihotang OFMCap dalam surat 6 Februari 2013 menulis bahwa sejauh ini diamati bahwa apa diperjuangkan Pastor Rantinus Manalu Pr serta Ustad Shodiqin Lubis dan Denis Simalango masih dalam jalur yang benar dan batas-batas yang wajar. Maka, tegas imam itu, Gereja Katolik Dekanat Tapanuli mengajak seluruh umat Katolik dan rekan-rekan juang dari pastor, serta ustad dan aktivis itu untuk memberikan dukungan baik moral maupun spiritual. “Kita yakin bahwa melalui doa-doa kita, Allah akan memberikan kekuatan kepada mereka untuk tetap teguh dalam kebenaran dan keadilan. Dengan demikian untaian doa kita akan mendatangkan pembaharuan demi kepentingan seluruh masyarakat Tapanuli Tengah, terutama mereka yang tertindas dan terpinggirkan karena ketidakadilan,” tulis surat yang tembusannya dikirim ke Uskup Sibolga, direktur Puspas dan pastor paroki se-Dekanat Tapanuli.***