Status Media Sosial

Renungan dari ANNE AVANTIE (diedit seperlunya, tanpa mengurangi makna tulisan)

Status di profil menjadi karakter yang terbaca oleh orang lain, yang menelanjangi diri sendiri. Luapan hati yang harusnya tersembunyi menjadi konsumsi publik. Orang begitu gampangnya menunjukkan suasana hati yang kadang justru menjadi bumerang yg menyerang diri sendiri.

Bahkan ada yang seperti mengumpat sehingga menimbulkan tanda tanya. Orang yang sedang bermasalah akan merasa bahwa status itu ditujukan untuknya, dan akan memicu masalah baru. Orang jadi bertanya-tanya ditujukan pada siapa status itu? Status-status yg tidak memberkati akan memicu konflik.

Saya pernah membaca status seperti ini “hai…perempuan sundal perampas suami orang”, yang akhirnya tidak hanya membuka aib rumah tangga sendiri, tapi juga memicu pertanyaan “siapa yg disebut sundal?”. Parahnya orang itu lupa ada anak-anaknya yang membaca, yang tentu dipermalukan. Privacy yang harusnya diranah bawah atap, akhirnya dikonsumsi publik. Dan suami yang adalah ayah dari anak-anaknya dipermalukan sendiri dihadapan umum.

Hendaknya status-status kita yang dihiasi bulatan rasa hati dipikirkan dampaknya. Tidak jarang melalui media sosial, kita berkomentar atau curcol atau komplain yang membunuh karakter dan hajat hidup orang lain. Sebenarnya apa yg kita lakukan akan kembali pada diri sendiri, cepat atau lambat, tapi pasti.

Dari telunjuk kita, dunia bisa kita kendalikan. Jari telunjuk kita yg menekan huruf-huruf, bisa membawa duka, lara ,nestapa, sakit hati, perpecahan, fitnah, pembunuhan karakter, tapi bisa juga mendatangkan berkat dan menciptakan kedamaian.

Tidak satupun yang kita lakukan tidak kembali pada diri sendiri. Semua tinggal menunggu waktu. Apa yg kita tabur akan kita tuai sendiri.

    (Berkah Dalem)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *