Category: Artikel Pengembangan Diri

  • Kutipan Motivasi

    Alexander Graham Bell konon berkata

    When one door closes another one opens; but we so often look so long and so regretfully upon the closed door, that we don’t see the one which open for us

    Ketika satu pintu tertutup, pintu yang lain terbuka; namun, kita sering terpaku terlalu lama dengan perasaan sesal, meratapi pintu yang tertutup, sampai tidak melihat adanya pintu lain yang terbuka untuk kita

  • Anak Ranking 23

    Sebuah cerita yang bagus untuk direnungkan:

    Di kelasnya ada 50 orang murid. Setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan kepadaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

    Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main.

    Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung
    sekali. Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan kepadaku, apakah aku
    akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

    Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.

    Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami.

    Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

    Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

    Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris, kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

    Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

    Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

    Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.”

    Saya berguyon pada anakku, “kamu sudah mau jadi pahlawan”. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh:

    guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.

    Dia pelan-pelan melanjutkan:

    Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.

    Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama. Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.

    Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

    Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang
    berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

    Selama hidupnya, dia tetap dapat melewati kehidupan yang diinginkannya dengan tenang, dia juga tidak belajar hal tidak baik, sebagai orangtua yang memberikan keteladanan sikap dan tutur kata, jika dapat mengasuh anak sampai dewasa dan menjadi orang berguna dalam masyarakat, itu sudah cukup sebagai hal yang menghibur bagi leluhur, kenapa kita masih saja mengharapkan masa depan yang lebih baik lagi? Jika pun nantinya dia bisa menjadi seorang penegak hukum atau seorang arsitek, kalau tidak memiliki niat baik, lain di mulut lain di hati, lalu apa gunanya?

  • Pagar untuk Sang Kangguru

    Sebuah kebun binatang kedatangan oleh seekor kangguru. Petugas kebun binatang mengurung kangguru di tempat berumput yang telah dibatasi dengan pagar setinggi 1 meter.

    Keesokan harinya, petugas mendapatkan bahwa kangguru berada di luar kandang yang berpagar tinggi itu. Dengan segera petugas menambahkan tinggi pagar pengurung sampai 2 meter, dan mengurung kangguru itu.

    Di hari ketiga, petugas masih melihat kangguru tersebut melompat bebas di luar kandangnya. Kemudian ditambahnya ketinggian pagar sampai 3 meter, dan mengurung kangguru lagi.

    Binatang di sebelah kandang kangguru adalah jerapah, dia bertanya kepada kangguru, “Menurut kamu, Berapa tinggi pagar seharusnya, agar petugas itu bisa mengurungmu di dalam kandang ini?”

    Kangguru menjawab, “Susah ya untuk menjawabnya, bisa saja 5 meter, atau 10 meter, dan juga mungkin 100 meter, jika petugas itu masih terus lupa untuk mengunci pintu kandangnya.”

    Jika tidak dapat mencari penyebab yang tepat dari suatu kegagalan, maka walaupun kita sangat berusaha keras, akan menjadi suatu usaha yang sia-sia.

  • Jangan berasumsi!!!

    Ada seorang pria yang pergi keluar untuk mencari pekerjaan. Saat ia melewati rumah tetangganya, kertas penting jatuh dari saku pria itu.

    Tetangganya kebetulan melihat keluar jendela. Ia melihat secarik kertas jatuh, dan ia berpikir, “Ah, orang ini sengaja membiarkan kertasnya jatuh keluar dari sakunya. Ia mencoba mengacaukan halaman rumahku, dan ia benar-benar licik, keterlaluan!”

    Tapi, bukannya pergi ke luar dan mengatakan sesuatu, tetangga itu merencanakan balas dendam. Malam itu, ia mengambil keranjang sampah dan pergi ke rumah pria itu.

    Pria itu kebetulan juga melihat ke luar jendela dan melihat apa yang terjadi. Kemudian, ketika ia melihat sampah-sampah yang dibuang di beranda rumahnya, ia menemukan secarik kertas penting yang ia cari. Ia merobeknya hingga menjadi berkeping-keping. Ia berpikir tetangganya tidak hanya mengambil dari sakunya, tetapi ia telah mengacaukan rumahnya dengan sampah.

    Ia tidak mengatakan apa-apa. Sebaliknya, ia mulai merencanakan balas dendam. Malam itu ia menelepon petani untuk mengirimkan sepuluh babi dan seratus bebek. Ia meminta agar mereka dikirimkan ke rumah tetangganya.

    Tentu saja, di hari berikutnya, tetangganya kesulitan untuk keluar dari rumahnya karena begitu banyak hewan dan kotoran.

    Yakin bahwa ini menjadi trik pengecut tetangganya, ia segera menyingkirkan babi dan bebek itu. Ia pun mulai kembali merencanakan balas dendam.

    Begitu seterusnya. Mereka terus mencoba untuk saling balas dendam, semakin besar dan lebih konyol. Menjatuhkan secarik kertas, akhirnya menjadi panggilan sirine kebakaran, pelemparan batu di jendela, dan akhirnya sebuah bom yang menghancurkan rumah pria itu.

    Kini, keduanya berakhir di rumah sakit. Mereka harus menghabiskan beberapa waktu berbagi ruang di sana. Pada awalnya mereka menolak untuk berbicara satu sama lain. Tapi, suatu hari, mungkin karena lelah dengan keheningan, mereka pun berbicara.

    Seiring waktu berjalan, mereka menjadi teman, sampai suatu hari mereka akhirnya berani membahas secarik kertas penyebab insiden. Mereka menyadari bahwa semua itu telah terjadi kesalahpahaman. Jika saja mereka saling berbicara pada kesempatan pertama, semua ini tidak akan terjadi. Bahkan lebih baik lagi, mereka masih memiliki rumah mereka.

    Pada akhirnya, fakta bahwa mereka sudah saling berbicara, bahkan menjadi teman, membantu mereka untuk segera pulih dari luka-luka mereka, dan bekerja sama untuk membangun kembali rumah mereka.

    Kita tidak perlu menebak atau membayangkan niat orang lain.  Berbicara adalah langkah tepat untuk memahami orang lain, dan menjernihkan banyak masalah besar.

  • Pernah Belajar?

    Seorang cendikiawan menumpang perahu di sebuah danau & bertanya pada tukang perahu, “Saudaraku, pernahkah belajar matematika ?”
    “Tidak”, jawab si tukang perahu
    “Sayang sekali, berarti telah kehilangan 1/4 dari kehidupan ini. Pernahkah belajar ilmu filsafat ?” Tanya si cendikiawan
    “Itu juga tidak”, jawab si tukang perahu
    “2X sayang, berarti telah kehilangan lagi 1/4 dari kehidupan ini. Sejarah ?” Tanya si cendikiawan
    “Juga tidak”, jawab si tukang perahu
    “Artinya, 1/4 lagi kehidupan ini telah hilang”, ucap si cendikiawan
    Tiba-tiba angin bertiup kencang & terjadi badai. Danau yg tadinya tenang menjadi bergelombang, perahu yang ditumpangi pun oleng. Si Cendikiawan pucat ketakutan. Dengan tenang si tukang perahu bertanya, “Apakah pernah belajar berenang ?”
    “Tidak” jawab si cendikiawan
    “Sayang sekali, berarti akan kehilangan seluruh kehidupan ini”, ucap si tukang perahu

    MORAL : Jangan sombong. Sehebat apapun, tidak mungkin menguasai semua ilmu, apalagi ketrampilan. Kita butuh orang lain, tidak peduli seberapa rendah pendidikan orang itu.
    Kalau memandang kegagalan diri & orang lain sebagai “gagal total”, kiamat & tamat riwayat, maka akan berhenti pada kegagalan & tidak akan pernah melihat keberhasilan.
    Dalam hidup, yang dikenang orang adalah
    keberhasilan & bukanlah kegagalan. Mereka yang berhasil adalah yang mampu membuat sebuah pondasi yang kokoh dari batu-batu yang dilemparkan orang lain padanya.

  • Ayat Alkitab mengenai kekuatiran

    Matius 6:27, 34
    27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
    34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

  • Think Positive

    Lebih mudah mana? Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di setiap jalanan, atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka?
    Lebih mungkin mana? Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman, atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri?
    Lebih mudah mana? Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan, atau menjaga hati kita sendiri agar tak mudah tersinggung?
    Lebih penting mana? Berusaha menguasai orang lain, atau belajar menguasai diri sendiri?
    Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku, melainkan bagaimana aku berusaha baik pada semua orang. Karena bukan orang lain yg membuat aku bahagia, tapi Sikapkulah yg menentukan, aku bahagia atau tidak.

  • Mencari Sumbernya

    Ada seorang dermawan yang menebar uang Rp. 5.000, Rp. 10.000, Rp. 20.000, Rp. 50.000, dan Rp. 100.000 dari atas gedung. Dibawah gedung berkerumun banyak orang sibuk saling berebut memunguti uang yg berserakan TANPA ADA YG PEDULI sumber uang itu dari SIAPA.
    Suatu saat, Sang Dermawan naik lagi keatas gedung tsb dan kali ini beralih menebar kerikil-kerikil kecil kedalam kerumunan orang dibawah; ada yg terkena di kepala, bahu, tangan, punggung dan anggota tubuh lainnya, mereka panik & marah, menengadah keatas berusaha MENCARI TAHU sumber dari krikil dijatuhkan.
    Itulah sikap dari kebanyakan manusia,
    saat BERKAT ( hal yg menguntungkan ) datang, semua sibuk tanpa peduli siapa yang MEMBERI dan sedikit sekali yang Mampu dan Mau mengucap SYUKUR.
    Namun saat MASALAH datang, maka semua akan spontan mencari sumber Masalah dan BIANG KEROK dan marah menyalahkan orang lain tanpa mau cari solusi lagi.
    “Apakah kita hanya mau menerima yang baik saja, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Tanpa mau tahu bahwa hidup ini sudah satu paket, baik & buruk, senang & susah, semuanya satu kesatuan yang tak terpisahkan.
    Bila suatu ketika anda “kena giliran” menjalani hal-hal buruk dan susah , maka jalanilah dgn tabah dan tetap Bersyukurlah ……. karena hanya itu kuncinya .

  • Memberi kepada pengemis

    DARIPADA HANYA MEMBERI ORANG SEKANTUNG UANG, LEBIH BAIK MENYADARKAN KEBAIKAN HATINYA.

    Simak cerita berikut ini:
    Ada seorang pengemis memohon sedekah kepada seorang guru. Tanpa sungkan sang guru berkata, “Tolong kamu bantu saya memindahkan batu bata itu ke halaman belakang.”
    “Saya hanya memiliki 1 tangan, Bagaimana dapat memindahkan?”
    Lalu dengan 1 tangan, sang guru memberi contoh mengambil sebuah batu bata. Si pengemis akhirnya menggunakan 1 tangannya memindahkan batu bata. Sang guru itu memberi sedikit uang.
    “Terima kasih…”
    “Tak perlu berterima kasih, ini adalah uang hasil jerih payahmu sendiri.”
    “Budi baik anda ini akan saya ingat…”

    Beberapa hari kemudian, datang lagi pengemis lain kepada guru tersebut, “Pindahkan batu bata ini ke halaman depan, saya akan memberimu uang.” Tapi pengemis yang memiliki 2 tangan ini menganggap hina pekerjaan ini, lalu di tinggalnya pergi.

    Para murid bertanya kepada sang guru,
    “Kemarin dulu anda menyuruh memindahkan batu bata dari halaman depan ke halaman belakang. Kali ini anda juga menyuruh untuk memindahkan dari halaman belakang ke halaman depan. Sebenarnya batu bata ini ingin anda letakkan dimana?”
    “Bata bata itu di letakkan di depan atau di belakang adalah sama saja, tapi mau memindahkan atau tidak bagi pengemis itu tidaklah sama.”

    Beberapa tahun kemudian, Pengemis yang memiliki 1 tangan itu berpenampilan luar biasa datang ke guru tersebut. Ia menjadi orang kaya yang ternama di daerahnya. Sebab ia bekerja dengan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri walau hanya punya 1 tangan untuk berjuang. Tapi pengemis yang memiliki 2 tangan lengkap, masih meminta sedekah.

    Di sini bisa di lihat, MENYELAMATKAN MANUSIA HARUS MENYELAMATKAN HATINYA. Dengan pengetahuan intuitif menyadarkan KEJUJURAN dan KEBAJIKAN yang ada dalam hati manusia, barulah bisa menolong manusia terlepas dari KESENGSARAAN.

    Catatan: memberi sedekah cuma-cuma kepada pengemis bukan menolong malahan mendorong ke jurang yang dalam.

  • Seseorang yang Harus Dua Kali Dihukum Gantung

    Pada masa kekuasaan Tsar Nicolas I di kekaisaran Rusia, pecah sebuah pemberontakan yang dipimpin seorang bernama Kondraty Ryleyev. Namun, pemberontakan itu berhasil ditumpas. Ryleyev, sang pemimpin, ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung.

    Namun saat tali sudah diikatkan di lehernya dan eksekusi dilaksanakan, tiba-tiba tali gantungan itu putus. Di masa itu, kejadian luar biasa seperti itu biasanya dianggap sebagai bukti bahwa terhukum tidak bersalah dan Tsar mengampuninya.

    Ryleyev yang lega dan merasa di atas angin pun menggunakan kesempatan itu untuk mengkritik, “Lihat, di pemerintahan ini sama sekali tidak ada yang betul. Bahkan, membuat talipun tidak becus!”

    Seorang pembawa pesan yang melihat peristiwa putusnya tali ini kemudian melaporkan pada Tsar. Sang penguasa Rusia itu bertanya, “Lalu, apa yang Ryleyev katakan?”

    Ketika pembawa pesan itu menceritakan komentar Ryleyev di atas, Tsar pun menjawab, “Kalau begitu, mari kita buktikan bahwa ucapannya tidak benar.”

    Ryleyev pun menjalani hukuman gantung kedua kalinya dan kali ini tali gantungannya tidak putus. Bukan hukuman yang membinasakannya, tapi ucapannya sendiri.

    Lidah itu seperti kekang kuda, kemudi sebuah kapal, yang hanya benda kecil tapi bisa mengendalikan benda raksasa. Lidah dapat menjadi seperti api kecil di tengah hutan, bahkan lebih buas dari segala hewan liar.

    Apa yang kita ucapkan sangat sering menentukan arah hidup kita. Apa saja yang kita ucapkan pada orang lain dan pada diri sendiri sangat berpengaruh terhadap kejadian-kejadian yang akan kita alami kemudian.

    Apa yang kita ucapkan seringkali menentukan apa yang kemudian kita terima. Karena itu jagalah lidah kita agar tidak berucap sembarangan.