Category: Artikel Pengembangan Diri

  • Daun Besar yang Berjasa

    Pada sebatang pohon kecil, hiduplah beberapa daun yang tumbuh bersama. Di antara daun-daun tersebut terdapat sebuah daun yang sangat besar dan kuat. Daun itu diagung-agungkan karena kekuatannya. Dialah yang dianggap pelindung bagi daun-daun lainnya dari badai, hujan, panas matahari yang terik, dan bahaya lainnya.

    Suatu ketika datanglah musim kemarau yang panjang. Daun-daun di pohon kecil itu mulai layu karena tidak mendapat air dan makanan. Daun besar yang tadinya kuat dan besar mulai terlihat keriput. Ia berusaha melindungi daun-daun lainnya dari matahari yang bersinar sangat terik sehingga daun-daun sahabatnya itu tidak kehilangan air lebih banyak lagi. Hari berganti hari, daun besar itu sudah
    sampai pada puncak usahanya. Ia mulai sobek-sobek sehingga sinar matahari mulai menembusnya. Ia mulai kehilangan kekuatannya dan daun-daun lainnya pun sudah mulai mengabaikannya karena ia tidak kuat lagi seperti dulu.

    Beberapa hari kemudian daun besar itu merasa tidak kuat lagi akhirnya ia berkata kepada teman-temannya, “ Teman-teman, aku tidak lagi mempunyai kekuatan untuk melindungi kalian, aku akan gugur. Selamat tinggal.” Setelah berkata demikian akhirnya daun besar itu pun gugurlah.

    Musim kemarau terus berlanjut, daun-daun di pohon kecil itu saling bertahan untuk hidup. Mereka sama sekali sudah melupakan daun besar yang telah berjasa melindungi mereka sehingga mereka dapat bertahan sampai sekarang.

    Musim kemarau tidak juga berakhir. Daun-daun di pohon kecil itu sudah mulai kehilangan harapan. Mereka merasa sangat kelaparan, kehausan dan akan mati. Di saat mereka putus asa, tiba tiba dirasakan adanya air dan makanan dari tanah. Mereka terheran-heran akan adanya keajaiban itu. Setelah lama mencari-cari, mereka menyadarinya. Mereka melihat bahwa daun besar itu sudah membusuk dan menghasilkan air dan sari makanan bagi mereka. Akhirnya dengan air dan sari makanan dari daun besar tadi, daun daun di pohon kecil itu berhasil bertahan sampai musim hujan datang.

    Daun-daun di pohon kecil itu sangat menyesal karena telah melupakan daun besar itu. Padahal sampai akhir hayatnya daun besar itu tetap menjadi pahlawan bagi daun-daun lainnya.

    Janganlah menilai seseorang dengan penampilan dan kekuatannya. Tuhan memberikan bantuan kepada kita melalui siapa saja bahkan melalui orang yang kita anggap telah jatuh dan hina.

  • Ini Juga Akan Berlalu

    Alkisah, Raja memanggil semua orang bijak dan bertanya kepada mereka, “Apakah ada mantra atau saran yang bekerja dalam setiap situasi, dalam setiap keadaan, di setiap tempat, dan di setiap waktu? Dalam setiap sukacita, setiap kesedihan, setiap kekalahan, dan setiap kemenangan? Satu jawaban untuk semua pertanyaan? Sesuatu yang dapat membantu saya? Katakan padaku apakah ada mantra atau apapun? Bisakah di antara kalian yang bisa memberikan nasihat?”

    Semua orang bijak itu bingung dengan pertanyaan Raja. Mereka berpikir dan berpikir. Setelah diskusi panjang, seorang pria tua menyarankan sesuatu yang menarik bagi mereka semua. Mereka pergi menghadap Raja dan memberinya sesuatu yang tertulis di atas kertas, namun Raja tidak boleh melihatnya karena penasaran.

    Hanya dalam bahaya ekstrim, ketika Raja sedang sendirinya, dan tidak ada jalan lain, Raja boleh membacanya. Akhirnya Raja menempatkan kertas itu di bawah cincin berliannya.

    Beberapa waktu kemudian, para tetangga kerajaan menyerang kerajaaan itu. Raja dan pasukannya bertempur melawan dengan gagah berani. Sayangnya, Raja kalah perang. Raja melarikan diri dengan kudanya. Musuh-musuh mengikutinya, semakin dekat, dan semakin mendekat.

    Tiba-tiba Raja menemukan dirinya berdiri di ujung jalan buntu, dan ia tidak bisa ke mana-mana. Di bawahnya ada jurang berbatu besar. Jika ia melompat, ia akan mati, dan ia tidak bisa kembali lagi karena itu jalan kecil. Suara kuda musuh kembali terdengar mendekat. Raja sangat gelisah. Tampaknya tidak ada cara lain.

    Tiba-tiba Raja teringat cincin berliannya yang terkena sinar matahari. Ia pun ingat pesan yang tersembunyi di bawah cincin berliannya itu. Ia membuka berlian dan membaca pesan tersebut. Dalam secarik kertas, pesan itu tertulis “Ini juga akan berlalu”.

    Raja membacanya. Sekali lagi membacanya. Tiba-tiba sesuatu mengingatkannya. Ya! Ini pun akan berlalu. Hanya beberapa hari yang lalu, aku menikmati kerajaanku. Aku adalah raja terkuat dari semua raja-raja.

    Namun hari ini, kerajaan dan semua kesenanganku telah hilang. Aku di sini mencoba untuk melarikan diri dari musuh. Seperti hari-hari kemewahan telah berlalu, hari ini bahaya pun akan berlalu.

    Tenang pun terhias di wajah Raja. Ia terus berdiri di tempatnya sekarang berdiri. Ia berdiri dengan menikmati keindahan alam di sekitarnya. Ia tidak pernah tahu bahwa tempat yang indah itu juga merupakan bagian dari kerajaannya.

    Pesan itu ternyata memiliki efek yang besar pada dirinya. Raja pun santai dan lupa terhadap orang-orang yang mengejarnya. Setelah beberapa menit ia menyadari bahwa suara kuda dan kedatangan musuh pun surut. Mereka telah pindah ke bagian lain dari pegunungan di dekatnya.

    Raja pun bangkit keberaniannya. Ia melakukan organisasi ulang dengan pasukannya dan berjuang lagi. Akhirnya ia mengalahkan musuh dan mengambil alih kembali kerajaannya. Ketika ia kembali ke dalam kerajaannya dengan kemenangan, ia disambut rakyatnya dengan sukacita. Semua orang bersukacita karena kemenangan itu.

    Semua orang dalam suasana hati yang bersukacita. Orang-orang menari dan bernyanyi. Bunga-bunga bertebaran di sana-sini. Untuk sesaat Raja berkata kepada dirinya sendiri, “Akulah Raja paling berani dan paling besar. Tidak mudah mengalahkanku.” Penerimaan dan perayaan yang agung itu memunculkan kembali ego Raja.

    Tiba-tiba berlian di cincinnya kembali bersinar terkena sinar matahari. Raja pun teringat pada secarik pesan di dalamnya. Ia membukanya dan membacanya lagi “Ini juga akan berlalu”.

    Raja diam. Wajahnya mengalami perubahan total. Rasa egoisnya berubah menjadi rendah hati. Jika hal ini juga akan berlalu, berarti ini bukan milikmu. Kekalahan itu bukan milikmu, kemenangan itu bukan milikmu.

    Engkau hanyalah penonton. Semuanya akan berlalu. Kita adalah saksi dari semuanya ini. Kita adalah pengamat. Kehidupan datang dan pergi. Kebahagiaan datang dan pergi. Kesedihan datang dan pergi.

    Tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua hal berubah kecuali hukum perubahan. Kita melihat semua perubahan. Kita telah selamat dari kemunduran, kekalahan, dan penderitaan. Suka dan duka adalah dua wajah dari mata uang yang sama. Mereka pun akan berlalu.

  • “Cahaya” Makin Terang Saat Kita Berbagi

    Di sebuah kota, tinggal satu keluarga dengan dua orang anak laki-laki. Si sulung berusia 15 tahun, sedangkan si bungsu berusia 10 tahun.

    Karena keluarga itu tidak terlalu kaya, kedua anak mereka tidur dalam satu kamar. Mereka selalu akrab, si sulung adalah anak yang cerdas, nilai-nilainya selalu baik dan si bungsu selalu ingin tahu akan segala hal, nilai-nilai sekolahnya juga sama baiknya dengan sang kakak.

    Pada suatu malam, si bungsu bertanya pada si sulung, “Kakak, kenapa kita harus berbagi dengan orang lain. Kalau kita sering memberi dan berbagi pada orang lain, apa yang kita miliki akan habis diberikan pada orang lain, iya kan?” ujarnya dengan polos.

    Sang kakak tersenyum mendengar pertanyaan dari adiknya, dia selalu senang jika mendapat sebuah pertanyaan, berarti dia akan belajar satu hal baru dari pertanyaan tersebut.

    “Sebelum kakak menjawab, kita akan melakukan sebuah percobaan kecil,” ujar si sulung. Dia langsung mengambil lima batang lilin kecil dan korek api yang tersimpan di dalam meja belajar. Orang tua mereka sengaja menyimpan benda tersebut agar pada saat pemadaman listrik, mereka berdua tidak bingung mencari lilin di dapur.

    Si sulung membuat empat lilin tersebut berdiri di sudut kamar dan memegang satu lilin. “Sekarang, matikan lampu kamar!” perintah si sulung pada adiknya dengan nada lembut.

    Pada saat lampu telah mati, si sulung bertanya pada adiknya, “Apa yang bisa kamu lihat sekarang?”

    “Aku tidak melihat apa-apa, kak, kamar kita jadi gelap,” jawab si bungsu.

    “Baiklah…” si sulung lalu menyalakan lilin yang dia pegang dengan sebatang korek. Ruangan sudah sedikit terang, tetapi belum sepenuhnya terang. “Sekarang, lilin yang aku pegang akan membagikan sinarnya pada lilin yang lain,” Si sulung menyalakan satu lilin dengan lilin yang dia pegang. Ruangan lebih terang. Lalu lilin kedua, ruangan lebih terang lagi. Begitu seterusnya hingga lilin kelima menyala.

    “Lihat, sekarang ruangan kita sudah terang,” ujar si sulung sambil tersenyum. “Kamu bisa menyimpulkan apa yang sudah kakak lakukan?”

    Si bungsu mengangguk, “Aku mengerti, jika kakak tidak membagi sinar lilin pada lilin yang lain, kamar kita tidak akan terang. Tetapi karena kakak membagi sinar lilin pada lilin yang masih mati, kakak secara tidak langsung mendapat sinar yang lebih terang. Lilin bisa menyala, dan ruangan semakin terang,”

    Sang kakak tersenyum, “Ya, itulah kekuatan dari memberi. Percayalah, kita tidak akan kekurangan karena memberikan sesuatu baik dari segi materi, pikiran atau tenaga pada orang lain. Karena apa yang kita berikan akan menjadi umpan balik yang jauh lebih besar. Tetapi ingat, saat memberi, jangan menghitung apa yang telah kita berikan, karena Tuhan selalu punya perhitungan dengan cara-Nya sendiri.”

    Keduanya tersenyum. Malam itu, sang adik mendapat pelajaran baru yang sekiranya bisa menjadi sebuah pelajaran agar kita semua tidak pelit untuk saling berbagi pada orang lain dan lingkungan yang ada di sekitar kita.

  • Sebuah Renungan Tentang Bosan

    Pada awalnya manusialah yang menciptakan kebiasaan. Namun lama kelamaan, kebiasaanlah yang menentukan tingkah laku manusia.

    Alkisah, ada seorang yang hidupnya amat miskin. Namun walaupun ia miskin ia tetap rajin membaca. Hingga suatu hari secara tak sengaja ia membaca sebuah buku kuno. Buku itu mengatakan bahwa di sebuah pantai tertentu ada sebuah batu yang hidup, yang bisa mengubah benda apa pun menjadi emas. Setelah mempelajari isi buku itu dan memahami seluk-beluk batu tersebut, iapun berangkat menuju pantai yang disebutkan dalam buku kuno itu.

    Dikatakan dalam buku itu bahwa batu ajaib itu agak hangat bila dipegang, seperti halnya bila kita menyentuh makhluk hidup lainnya. Setiap hari pemuda itu memungut batu, merasakan suhu batu tersebut lalu membuangnya ke laut dalam setelah tahu kalau batu dalam genggamannya itu dingin-dingin saja.

    Satu batu, dua batu, tiga batu dipungutnya dan dilemparkannya kembali ke dalam laut. Satu hari, dua hari, satu minggu, setahun ia berada di pantai itu. Kini menggenggam dan membuang batu telah menjadi kebiasaannya.

    Suatu hari secara tak sadar, batu yang dicari itu tergenggam dalam tangannya. Namun karena ia telah terbiasa membuang batu ke laut, maka batu ajaib itupun tak luput terbang ke laut dalam.

    Lelaki miskin itu melanjutkan ‘permainannya’ memungut dan membuang batu. Ia kini lupa apa yang sedang dicarinya.

    Pernahkah kita merasakan kalau hidup ini hanyalah suatu rentetan perulangan yang membosankan? Dari kecil, kita sebenarnya sudah dapat merasakannya, kita harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah, lalu siang harinya kita pulang, mungkin sambil melakukan aktivitas lain seperti belajar, menonton TV, tidur, lalu pada malam harinya, makan malam, kemudian tidur. Dan keesokan harinya kita kembali bangun pagi untuk bersekolah, dan seterusnya. Hal itu kita lakukan berulang kali bertahun-tahun. Hingga akhirnya kita bekerja pun, sejumlah aktivitas kita lakukan berulang-ulang bertahun-tahun.

    Sampai kapan kita melakukannya? Pernahkah kita merasa bosan dengan aktivitas hidup kita? Bila hiidup ini hanyalah sebuah renteta perulangan yang membosankan, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menemukan nilai baru di balik setiap peristiwa hidup.

    Janganlah melihat aktivitas kita sebagai suatu kebiasaan atau rutinitas. Tapi, maknailah setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang baru, yang berlum pernah kita ketahui sebelumnya.

  • Kita Selalu Bisa Memilih

    Hidup ini begitu indah. Karena banyak pilihan yang ada di depan mata, semuanya tergantung kepada kita.

    Ketika bangun pagi, kita selalu punya pilihan untuk menyikapi hari tersebut, apakah dengan suka cita atau dengan beban yang berat.

    Ketika berada di kemacetan, kita punya pilihan untuk mengeluh atau menikmati duduk di mobil sambil mendengarkan lagu.

    Ketika dimarahi atasan, kita bisa memilih untuk membencinya atau menganggapnya sebagai guru yang memberi nasihat kepada muridnya.

    Kalau seseorang mengatakan saya tidak punya pilihan dalam hidup ini, dan akhirnya mencoba mengakhiri hidupnya, berarti orang tersebut belum memaknai hidupnya dengan baik dan benar.

    Apa pun yang kita alami saat ini, lihatlah selalu dari sudut pandang yang positif. Jangan terlalu bereaksi dengan hal yang negatif yang justru memperkeruh situasi dan  merusak pola pikir kita.

    Jika kita sedang kebingungan, sehingga tidak tahu ada pilihan lain, tenangkan sejenak pikiran kita. Ambil waktu untuk melakukan refleksi diri dengan melihat satu masalah dari dua pandangan. Pilihan kita untuk melihat sisi positif akan mengubah hidup kita dan keputusan kita.

    Ingatlah, keputusan besar dimulai dari pikiran kita sendiri.

  • Kisah Dua Kuda

    Di dekat rumah ada sebuah bidang tanah, dengan dua ekor kuda di tanah itu. Dari kejauhan, masing-masing kuda tidak ada bedanya dengan kuda lain. Tetapi jika Anda melihat lebih dekat, Anda akan melihat sesuatu yang sangat menarik. Ya, salah satu kuda itu buta.

    Pemiliknya sebenarnya tidak ingin memiliki kuda itu, tetapi ia telah membuatkan kandang yang aman dan nyaman untuk kuda itu. Ini belum cukup. Jika Anda berdiri di dekatnya dan mendengarkan, Anda akan mendengar suara bel. Itu berasal dari kuda yang satunya lagi. Melekat pada kalung kuda, sebuah lonceng kecil berwarna tembaga. Ini memungkinkan temannya yang buta tahu di mana kuda lain berada, sehingga ia bisa mengikuti kuda itu.

    Ketika kita berdiri melihat kedua ekor kuda itu, kita akan melihat kuda yang buta selalu  mengikuti kuda yang satunya lagi dengan mendengarkan suara lonceng kecil. Kuda buta itu percaya bahwa temannya tidak akan menyesatkannya. Ketika mereka akan kembali ke kandang setiap malamnya, kuda yang sehat itu akan berhenti sesekali untuk melihat ke belakang, memastikan temannya yang buta tidak terlalu jauh di belakangnya.

    Seperti halnya pemiliki kedua kuda itu, Tuhan pun tidak akan membuang kita hanya karena kita tidak sempurna. Atau karena kita memiliki masalah dan tantangan yang besar. Dia selalu  mengawasi kita bahkan membawa orang lain ke dalam hidup kita untuk membantu ketika kita membutuhkan bantuan.

    Kadang-kadang kita seperti kuda buta, yang perlu dibantu oleh suara lonceng kecil yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita. Di lain waktu, kita seperti kuda yang satunya lagi, yang membantu orang lain untuk menemukan jalan keluar bagi mereka.

  • Ternyata, Hidup Ini Sederhana

    Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh yang mewawancarai, akhirnya dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

    Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

    Ada seorang murid bekerja di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tersebut. Selain memperbaiki sepeda, anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Teman-temannya menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, anak ini diajak bekerja di tempat si empunya sepeda.

    Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

    Seorang anak berkata kepada ibunya, “Ibu hari ini sangat cantik.” Sang Ibu bertanya, “Mengapa?” Anak menjawab, “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah.”

    Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

    Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja dengan giat di sawah. Temannya berkata, “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.” Petani menjawab, “Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku.”

    Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.

    Seorang pelatih bola berkata kepada anak didiknya, “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?” Ada yang menjawab, “Cari mulai dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab, “Cari di rerumputan yang cekung ke dalam.” Dan ada yang menjawab, “Cari di rumput yang paling tinggi.” Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat, “Setapak demi setapak cari dari ujung rumput yang sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana.”

    Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat – loncat.

    Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan , “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.” Katak di pinggir jalan menjawab, “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.” Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa katak itu sudah mati dilindas mobil yang lewat.

    Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.

    Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya, “Mengapa engkau begitu santai?” Dia menjawab sambil tertawa, “Karena barang bawaan saya sedikit.”

    Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.

  • Putus Asa Karena Gagal? Jangan!

    Dua orang bersaudara memutuskan untuk menggali lubang di belakang rumah mereka. Saat mereka bekerja, beberapa pria melihat apa yang mereka lakukan.

    “Apa yang kalian lakukan?” tanya seorang pria.

    “Kami berencana untuk menggali lubang untuk membuat jalan di bawah tanah,” jawab salah seorang saudara itu penuh semangat.

    Para pria yang menonton mulai menertawakan mereka, mana mungkin menggali jalan di bawah tanah.

    Setelah diam beberapa saat, salah satu penggali mengambil botol penuh laba-laba, cacing, dan berbagai macam serangga. Ia membuka tutup dan menunjukkan isinya kepada orang yang mengejek mereka.

    Lalu ia berkata pelan dan penuh percaya diri, “Jika kita tidak menggali semua jalan di bawah tanah, lihat apa yang kami temukan di sepanjang  galian.”

    Tujuan merek memang terlalu ambisius. Tujuan membuat kita bergerak ke arah yang telah kita pilih, kita telah diatur untuk menggali.

    Tetapi tidak setiap tujuan akan tercapai. Tidak setiap pekerjaan akan berakhir dengan sukses. Tidak setiap hubungan akan bertahan. Tidak setiap harapan akan terjadi. Tidak setiap cinta akan berlangsung terus. Tidak setiap usaha akan selesai. Tidak semua mimpi akan terwujud.

    Tetapi ketika kita tidak mencapai tujuan, mungkin kita bisa mengatakan, “Ya, tapi lihatlah apa yang saya temukan di sepanjang jalan! Lihatlah hal-hal indah yang datang ke dalam hidup saya, karena saya mencoba melakukan sesuatu!”

  • Jangan Lukai Diri Sendiri

    Suatu malam seekor ular mencari makanan, ia masuk ke bengkel tukang kayu. Tukang kayu, adalah seorang pria yang tidak rapi, selalu meninggalkan peralatan tergeletak di lantai. Salah satunya adalah gergaji.

    Ular itu berputar-putar di dalam bengkel, ia melingkari gergaji, yang ternyata memberinya luka kecil. Ular itu berpikir, gergaji itu menyerangnya, maka ia berbalik menggigitnya begitu keras hingga mulutnya mulai berdarah.

    Ini membuat ular itu sangat marah. Ia pun menyerang lagi dan lagi sampai gergaji itu berlumuran darah dan tetap tidak bergerak.

    Sekarat karena luka-lukanya sendiri, ular itu memutuskan untuk memberikan satu gigitan keras lalu pergi. Keesokan paginya, tukang kayu itu terkejut menemukan ular mati di depan pintu rumahnya.

    Kadang-kadang bila kita mencoba menyakiti orang lain, kita hanya menyakiti diri kita sendiri.

  • Kualitas Pensil

    Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat, “Nenek sedang menulis tentang pengalaman kita ya? Atau tentang aku?”

    Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Sebenarnya Nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang Nenek pakai”.

    “Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar si nenek lagi.

    Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si Nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang Nenek pakai.

    “Tapi Nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya,” ujar si cucu.

    Nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini.”
    “Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.”

    Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

    “Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya” .

    “Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.

    “Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.

    “Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.

    “Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”.