Category: Artikel Religius

  • Benarkah Dia Belahan Jiwaku?

    by Corneliusluxveritatis7.wordpress.com
    November 20

    “I, N. N., take thee, N. N., for my lawful wife (husband), to have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, until death do us part.” – Catholic Marriage Vows

    Orang yang sedang mabuk asmara tentunya tidak jarang menanyakan pertanyaan berikut: “apakah ia belahan jiwaku?”; “mungkinkan ia cinta sejatiku?”. Sedangkan bagi orang Katolik yang pemahamannya memadai dan pernah belajar sedikit tentang Teologi Tubuh, maka pertanyaannya berupa “apakah ia sungguh pasangan yang dikehendaki Tuhan bagiku? Mungkin saya perlu melakukan discernmentuntuk itu.”

    Pertanyaan ini muncul karena dalam diri manusia terdapat kebutuhan untuk menjalin sebuah keintiman dengan seorang yang berbeda jenis, seseorang yang mengasihi kita dan mau menerima kita sebagaimana adanya. Lantas, sebenarnya apa yang ada di benak kita bila kita menggunakan istilah belahan jiwa atau jodoh tersebut?

    Belahan jiwa atau jodoh kelihatannya berarti orang yang tepat dan cocok untuk menjadi pendamping hidup kita. Seolah-olah, merekalah cinta sejati kita dan dengan hidup bersama, kita akan mengalami kebahagiaan. Tidak jarang kebahagiaan di sini berarti bahwa jodoh kita akan memenuhi semua kebutuhan kita, kita tidak akan berkekurangan dan menderita. Semua akan tampak baik. “Dan mereka hidup bahagia selamanya”, seperti yang dikatakan di akhir cerita dongeng. Padahal, kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai.

    Lalu, untuk menemukan jodoh yang tepat ini, mungkin orang Katolik akan mulai melakukan discernment untuk mengetahui apakah Ia memang dikehendaki Allah bagi kita. Namun, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa ia memang diciptakan Tuhan untuk menjadi pendamping hidup kita? Apa kita bisa sungguh yakin? Harus seberapa akuratdiscernement yang kita lakukan?

    Artikel dari Unam Sanctam berjudul “Courtship and Dating”menjabarkan bahwa konsep discernment hanya diterapkan untuk mengetahui apakah seseorang terpanggil menjalani hidup selibat atau hidup berkeluarga. Tidak pernah ada pemahaman “discernment untuk mengetahui siapa yang menjadi jodoh saya menurut kehendak Allah”. Persoalan siapa yang akan kita nikahi, merupakan hal yang tidak semestinya dipandang sebagai usaha mencari tahu kehendak Allah tentang jodoh kita secara pasti, melainkan dilihat sebagai kebijaksanaan manusia dalam mengambil keputusan.

    Tujuh Dampak Negatif dari Konsep Soulmate

    Namun, apa yang terjadi bila kita menganggap dengan serius bahwa memang ada jodoh kita di luar sana, yang harus kita temukan? Bagaimana bila pemikiran kita sungguh terpusat untuk menemukan belahan jiwa kita, cinta sejati kita, dengan kepercayaaan yang tidak disadari bahwa sang belahan jiwa akan memberikan kebahagiaan yang meniadakan kesusahan hidup? Ada beberapa jawaban yang bisa saya berikan.

    Pertama, akan muncul rasa tidak aman (insecure). Rasa tidak aman ini muncul bila kita melihat kelemahan pasangan kita, yang mungkin menimbulkan konflik. Kita akan tergoda untuk ragu dan bertanya-tanya, “apa benar ia sungguh jodoh saya? Bagaimana bila tidak demikian? Kalau begitu, saya harus sangat berhati-hati agar tidak salah memilih. Saya tidak mau hidup dengan orang yang salah.”

    Kedua, rasa cemburu juga akan tampil ke permukaan, karena bisa saja kita berpikir kalau di luar sana, akan ada pria atau wanita yang lebih baik, lebih sempurna, lebih cantik, lebih pengertian, dst daripada pasangan kita. Dampaknya, muncullah rasa cemburu terhadap invisible man or woman, sebuah sosok tanpa wajah yang tidak kita kenal, yang ada di luar sana, yang dapat membahayakan relasi yang sedang dibangun.

    Ketiga, rasa tidak aman dan cemburu ini juga berdampak pada melemahnya rasa saling percaya di antara pasangan. Kita terlalu takut kehilangan orang yang kita cintai. Kita resah memikirkan kemungkinan bahwa bisa saja pria atau wanita yang sedang berinteraksi dengan pasangan kita, dianggap sebagai belahan jiwa yang lebih sempurna. Akibatnya, timbullah rasa curiga yang berlebihan.

    Keempat, keyakinan tentang adanya soulmate malah menempatkan beban yang begitu besar ke pundak pasangan kita, karena kita memiliki keyakinan bahwa jodohku harus sempurna, ia bisa membahagiakan saya, memenuhi kebutuhan saya, tidak membuat saya menderita, dsb. Akibatnya, bisa saja pernikahan yang baru berjalan sebentar menjadi rapuh dan pecah. Seseorang merasa salah dalam memilih, dan tidak tahan menanggung kesulitan. Akibatnya, perceraian pun terlihat sebagai sebuah godaan yang menggiurkan, sebuah pintu yang akan menyelesaikan segala persoalan.

    Kelima, bila kita beranggapan bahwa soulmate kita harus memenuhi semua kebutuhan kita dan membahagiakan kita, ada kemungkinan bahwa kebahagiaan kita bergantung pada orang lain. Sebagai orang Katolik, satu-satunya sumber kebahagiaan kita ialah Allah. Dan kita disebut berbahagia bila kita menjalani delapan Sabda Bahagia dengan sungguh-sungguh. Bukan berarti kita ataupun pasangan kita boleh berhenti untuk mengasihi, melainkan bahwa tidak selayaknya kita mengharuskan atau menuntut kesempurnaan yang sangat tinggi terhadap mereka.

    Keenam, pemahaman soulmate yang serba sempurna akan membuat kita mudah kecewa kita menghadapi konflik dan bertemu dengan kelemahan ia yang menjadi pasangan kita. Kekecewaan ini dapat berujung pada sebuah perpisahan, dikarenakan kita merasa yakin ia bukan orang yang tepat bagi kita, bukan cinta sejati kita. Bila kita tidak berhati-hati, kita akan menjadi takut untuk membuat komitmen seumur hidup, atau kita akan terus melakukan pencarian cinta sejati tanpa henti, karena di luar sana akan tetap selalu ada orang yang lebih baik dari pasangan kita.

    Ketujuh, gambaran soulmate yang terlalu idealis dapat membuat kita sulit untuk berpuas diri terhadap kelemahan seseorang. Padahal, sikap kita seharusnya ialah mensyukuri apa yang sudah dipercayakan pada kita, termasuk pasangan kita. Ketidaksempurnaan pasangan kita, itulah yang dapat menguduskan kita, asal kita dapat mengolahnya dengan baik.

    Menemukan Konsep Pasangan Hidup yang Sejati

    Bila konsep belahan jiwa ini menimbulkan efek negatif, maka pertanyaannya ialah, sebagai seorang Katolik, bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan pencarian seorang pribadi yang hendak menjadi pasangan hidup kita?

    Suatu hari saya pernah bertanya kepada Bapa Pengakuan saya, “Romo, bagaimana saya bisa mengetahui kalau pacar saya itu sungguh merupakan pasangan hidup yang Tuhan kehendaki bagi saya?”, sang romo hanya menjawab demikian: “Kalau relasi kita sungguh intim dengan Allah, kita mungkin bisa tahu dengan pasti (maksudnya ialah kita dapat langsung bertanya dan mendengarkan jawaban Allah secara langsung), namun bila tidak, kita hanya bisa membaca tanda-tanda: apakah ia setia, apakah ia orangnya baik secara moral, rajin ke Gereja, tekun bekerja, dst.”

    Kita tidak pernah bisa merasa yakin secara absolut bahwa seseorang yang kita cintai memang sungguh dikehendaki Tuhan bagi kita. Kita tidak bisa berharap Allah akan membisikkan kata-kata di telinga kita, “Ya, dia adalah jodohmu!”

    Namun yang bisa kita lakukan ialah mengenal kepribadiannya. Kita perlu tahu apakah ia mengutamakan Tuhan dalam hidupnya, apakah ia sungguh berusaha menjalani hidup yang kudus dan murni, apakah ia memiliki karakter yang diperlukan untuk dapat menjalani hidup bersama, apakah ia berusaha mengembangkan keutamaan, tekun berdoa dan bekerja, setia dan rela berkorban, serta semua kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Setelah menimbang semua ini, dengan kejernihan hati dan budi, barulah kita dapat mengambil keputusan: Ya, saya ingin membangun keluarga dan menghabiskan seluruh hidup saya bersamanya.

    Oleh karena itulah maka dalam Misa Pernikahan, imam tidak pernah bertanya, apakah kalian saling mencintai, tetapiapakah kamu bersedia menerima dia sebagai suami atau istrimu? Bukan cinta, melainkan kehendak bebas, tekad, keputusan, atau komitmen yang seharusnya menjadi fondasi sebuah hubungan.

    Tidak ada yang namanya cinta sejati yang siap pakai, atau belahan jiwa yang sempurna tanpa cacat cela, karena akan selalu ada orang yang lebih baik daripada pasangan kita. Yang ada hanyalah sebuah ketegasan: Ya, saya mau mengasihinya dalam kerapuhannya, mau menjadi sempurna bersamanya dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, sampai maut memisahkan kita.

    Saat kita memutuskan untuk menikahinya, kita tidak akan pernah bisa tahu secara mutlak, apakah ia sungguh “jodoh saya.” Melainkan, kita baru akan mengetahuinya, ketika kita telah menjadi tua dan melihat ke belakang, memandang setiap momen yang telah dijalani dalam suka dan dukanya, lalu dapat berkata dengan tulus, “setelah semua yang terjadi, saya bersyukur telah memilih kamu sebagai istri [atau suami] saya.”

    Kita menikahi pasangan kita bukan karena ia adalah jodoh kita, melainkan karena kita bertekad untuk menjadikannya pendamping hidup kita, sampai maut yang memisahkan. Dan ini merupakan sebuah taruhan seumur hidup.

    Sebagai penutup, saya kira perkataan Tolkien berikut merangkum esensi artikel ini:

    “Nearly all marriages, even happy ones, are mistakes: in the sense that almost certainly (in a more perfect world, or even with a little more care in this very imperfect one) both partners might be found more suitable mates. But the real soul-mate is the one you are actually married to.” – J.R.R. Tolkien

  • [Cerita] Kudanya Dalam Pengiriman

    Ada keluarga yang mempunyai dua anak perempuan kembar. Yang satu (sebut saja A) selalu bersyukur atas segala sesuatu yang dimilikinya. Saudarinya (sebut sajaB) malah kebalikannya, selalu saja mengeluh atas semua yang dimilikinya. Suatu saat, ketika 1 minggu menjelang hari ulang tahun mereka, si ibu curhat kepada seorang psikolog.

    “Bagaimana ya cara supaya si B bisa eniru si A yang selalu bersyukur?” tanya si ibu.

    “Caranya gampang,” kata si psikolog. “Untuk si B, belikan kado terbagus yang dia inginkan. Untuk si A, berikan dia kotoran kuda.”

    Spontan si ibu kaget. “Hah? Kotoran kuda??!!” tanya si ibu.

    “Iya, kotoran kuda” respon si psikolog. “Lakukan saja, dan lihat apa hasilnya”

     

    Si ibu melakukan apa yang diminta si psikolog. Untuk si A, dia menaruh kotoran kuda di kamar si A. Sedangkan di kamar si B, dia menaruh mainan rumah-rumahan yang mahal.

    Ketika si B masuk ke kamarnya dan melihat kadonya, awalnya dia sangat senang. Namun kemudian, dia mulai mengeluh tentang kadonya itu. “Mainannya kok dari plastik ya?” “Pintunya kurang bagus” dan lain-lain. Ketika si ibu melihat kalau si B mulai mengeluh, dia mengajak si B untuk pergi ke kamar si A. Dan ketika si ibu membuka pintu kamar si A, si ibu yang sudah tahu apa kado si A, terkejut melihat si A yang sedang lompat-lompat gembira.

    “Asikkk… asiikk” teriak si A.

    “Kenapa kamu gembira nak?” tanya si ibu. “Kadomu kan kotoran kuda”

    “Iya, aku dapat kotoran kuda, artinya kudanya masih dalam pengiriman kan” jawab si A dengan nada gembira. “Asik dapat kudaa…. dapat kudaaaa…”

    Si ibu yang tidak tega melihat si A yang sudah sangat gembira, dan untuk memberikan pelajaran kepada si B, akhirnya membelikan seekor kuda sungguhan untuk si A.

     

    Moral dari cerita ini: ketika kita sekarang baru mendapatkan “kotoran kuda” yang mungkin bau, penuh lalat, gak enak dilihat, percayalah kalau kita bisa bergembira seperti anak itu, Bapa kita akan memberikan kita “kuda sungguhan” 🙂

    Katakan saja dalam hati kita “Kudanya masih dalam pengiriman!!!!” 🙂

  • Syukuri Hidupmu

    Berapa banyak dari kita yang mengucap syukur kepada Tuhan karena kita masih bisa hidup sampai sekarang, terlepas dari segala masalah yang kita hadapi?

    Banyak orang suka mengeluh kepada Tuhan “kenapa begini, kenapa begitu, aku maunya begini, aku mau itu”, tapi mereka tidak pernah berkata “Terima kasih untuk hidupku hari ini”.

    Jangan menganggap remeh kehidupan kita, sebelum kita menyesalinya suatu ketika.

    Sebuah kutipan yang selalu menempel di kepalaku

    Yesterday is history. Tomorrow is mystery. Today is a gift.

    That’s why they call it Present

  • Ayat Alkitab mengenai kekuatiran

    Matius 6:27, 34
    27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
    34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

  • Renungan Injil 9 Februari 2014

    Kita dipanggil oleh Tuhan bukan untuk menjadi ikan salmon yang mahal, bukan daging wagyu, bukan juga lobster, tapi hanya menjadi garam. Bumbu makanan yang murah, tapi diperlukan hampir di semua masakan. Namun walau diperlukan, jarang orang berkata “makanan ini enak karena garamnya”. Orang akan berkata “makanan ini enak karena dagingnya” atau “kokinya hebat”.
    Yesus mengajak kita menjadi pribadi yang bisa membaur dengan siapa saja, bisa berkarya dalam hal apa saja, dan tidak pernah meminta pujian. Walau mungkin kita belum mendapat pujian dari karya kita di rumah, di sekolah/kampus, di kantor, di gereja, atau pun di masyarakat, percayalah kita sudah bekerja sesuai keinginan Tuhan, dan itu yg penting.

  • Kejadian di hidupmu

    Things (bad or good) aren’t happened TO you. They are happened FOR you. There is always a lesson behind everything.

    Kejadian (baik atau buruk) bukan terjadi KEPADA kamu. Mereka terjadi UNTUK kamu. Selalu ada pelajaran dibalik semuanya.

  • Taat dan Setialah KepadaNya

    Seorang pria bertemu Tuhan yang memberinya pekerjaan mendorong batu besar di depan pondoknya dengan seluruh kekuatannya.
    Pria itu mengerjakannya setiap hari, sejak matahari terbit hingga terbenam. Namun, batu itu tak kunjung bergeser. Hingga pria itu merasa lelah, sedih, dan sia-sia.
    Ketika ia mulai putus asa, iblis pun mengacaukan pikirannya dan mulai menggodanya, “Tugas itu sangat tak masuk akal. Engkau tidak akan pernah dapat memindahkannya.”
    Pikiran tersebut membuat pria itu makin putus asa. “Lebih baik aku berhenti berusaha.”
    Namun, suara kecil di hatinya mengajaknya berdoa, membawa kesedihannya kepada Tuhan.
    “Tuhan,” katanya, “Aku telah bekerja keras melayaniMu dengan segenap kekuatanku. Tetapi sampai sekarang aku tidak dapat menggerakkan batu itu setengah milimeterpun. Mengapa aku gagal, Tuhan?”
    Tuhan berkata dengan penuh kasih, “Anakku, ketika Aku memintamu melayaniKu, yang Kuminta adalah mendorong batu itu dengan seluruh kekuatanmu. Tak sekalipun Aku memintamu menggesernya. Tugasmu hanya mendorong. Dan kini kau datang padaKu, berpikir kau gagal. Benarkah? Lihatlah dirimu! Lenganmu kuat berotot, punggungmu tegap, dan kakimu menjadi kokoh. Kau bertumbuh dan kemampuanmu melebihi sebelumnya. Meski batu itu belum tergeser, panggilan hatimu adalah menuruti perkataanKu, terus mendorong, belajar setia, dan percaya akan hikmatKu. Anakku, sekarang Aku yang akan memindahkan batu itu.”
    Kita cenderung memakai pikiran dan logika untuk menganalisa keinginanNya, bukan dengan hati.

  • Rencana Tuhan Indah Pada Waktunya

    Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawanya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

    Sayang sekali, ketika tiba saatnya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan ia menyalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

    Amarahnya mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam rumah ibadat. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

    Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.

    Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.

    Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Dengan masih penuh kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, “Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.”

    Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis.

    Lalu Tuhan berkata, “Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju.” Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.

    Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.

    Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu.

  • Resolusi Tahun 2014 oleh Paus Fransiskus

    'GOSSIP KILLS.' Pope Francis denounces gossip as murder. File photo by Luca Zennaro/EPA/Pool

    ‘GOSSIP KILLS.’ Pope Francis denounces gossip as murder. File photo by Luca Zennaro/EPA/Pool

    1. Don’t gossip.

    It’s one of our hobbies. For Francis, it’s also one of the most evil activities.

    The Catholic leader denounces gossip as “murder.”

    He feels so strongly about it that in less than a year as pontiff, Francis has preached against gossip in at least 6 different instances. Read the following homilies by Francis as well as a recent speech:

    (READ: Be professional and don’t gossip, Pope tells Church officials)

    He says when we gossip, we “are doing what Judas did,” and “begin to tear the other person to pieces.”

    “Every time we judge our brother in our hearts or worse when we speak badly of them with others, we are murdering Christians,” Francis says. “There is no such thing as innocent slander.”

    FOR THE POOR. Voicing concern for the neglected, Pope Francis slams the 'culture of waste' that leads to the 'globalization of indifference.' Francis speaks with migrants during his visit to the island of Lampedusa, southern Italy, on July 8. File photo by Alessandra Tarantino/EPA/Pool

    FOR THE POOR. Voicing concern for the neglected, Pope Francis slams the ‘culture of waste’ that leads to the ‘globalization of indifference.’ Francis speaks with migrants during his visit to the island of Lampedusa, southern Italy, on July 8. File photo by Alessandra Tarantino/EPA/Pool

    2. Finish your meals.

    No leftovers, please.

    Named after a 12th-century saint who lived in poverty, Francis slams a “culture of waste” that neglects the plight of the hungry. (READ: Pope: Wasting food is stealing from the poor)

    Nearly 870 million people suffer from chronic malnutrition, says the Food and Agriculture Organization. (VISIT: #HungerProject)

    The Pope says: “We should all remember… that throwing food away is like stealing from the tables of the poor, the hungry! I encourage everyone to reflect on the problem of thrown away and wasted food to identify ways and means that, by seriously addressing this issue, are a vehicle of solidarity and sharing with the needy.”

    WISH GRANTED. Pope Francis invites and chats with Leandro Martins, a non-Catholic biker who randomly requests a meeting with him. Photo courtesy of Leandro Martins

    WISH GRANTED. Pope Francis invites and chats with Leandro Martins, a non-Catholic biker who randomly requests a meeting with him. Photo courtesy of Leandro Martins

    3. Make time for others.

    Tending to 1.2 billion members, Francis seems too busy for anything else.

    That is, until he calls up strangers. Or entertains a random biker. Or sends a handwritten letter to a Jesuit he has never met.

    FROM THE POPE. Fr James Martin gets a handwritten 'thank you' note from Pope Francis. Photo courtesy of Fr James Martin

    FROM THE POPE. Fr James Martin gets a handwritten ‘thank you’ note from Pope Francis. Photo courtesy of Fr James Martin

    The Jesuit who got the letter, Fr James Martin, says Francis inspires him “to be more generous in my own life with my time.”

    Martin says: “If the Pope can find time to be kind to others, if he can pause to say thank you, if he can take a moment make someone feel appreciated, then so can I. So can we.” (READ: Making time for others: the Pope’s way)

    'HUMBLE CAR.' This handout picture released by the Vatican Press Office on September 10 shows Pope Francis speaking with collaborators next to a white Renault 4L offered by Fr Don Renzo Zocca (unseen) on September 7 at the Vatican. File photo by Ossevatore Romano/AFP

    ‘HUMBLE CAR.’ This handout picture released by the Vatican Press Office on September 10 shows Pope Francis speaking with collaborators next to a white Renault 4L offered by Fr Don Renzo Zocca (unseen) on September 7 at the Vatican. File photo by Ossevatore Romano/AFP

    4. Choose the ‘more humble’ purchase.

    Take it from the head of state who rides a 29-year-old Renault.

    In July, he warns against luxurious lives that seek “the joy of the world in the latest smartphone, the fastest car.” (READ: Pope hits priests, nuns with brand-new cars)

    “Cars are necessary,” he says, “but take a more humble one. Think of how many children die of hunger and dedicate the savings to them.”

    The Pope preaches against materialism. “Certainly, possessions, money, and power can give a momentary thrill, the illusion of being happy, but they end up possessing us and making us always want to have more, never satisfied. ‘Put on Christ’ in your life, place your trust in him, and you will never be disappointed!” (READ: Pope warns youth against materialism)

    He calls for a “sober and essential lifestyle.” (READ: Pope: Choose ‘sober’ lifestyle, share wealth)

    'IN THE FLESH.' This handout picture released by the Vatican press office shows Pope Francis (R) kissing the feet of a young offender after washing them during a Mass at the church of the Casal del Marmo youth prison on the outskirts of Rome as part of Holy Thursday. Photo by Osservatore Romano/AFP

    ‘IN THE FLESH.’ This handout picture released by the Vatican press office shows Pope Francis (R) kissing the feet of a young offender after washing them during a Mass at the church of the Casal del Marmo youth prison on the outskirts of Rome as part of Holy Thursday. Photo by Osservatore Romano/AFP

    5. Meet the poor ‘in the flesh.’

    Sure, we donate to charity. But this is not enough for Francis.

    Commitment to the poor, he says, must be “person to person, in the flesh.” (READ: #ReliefPH: Pope Francis on disaster, charity)

    Known as pro-poor even when he was archbishop, he explains more in the book On Heaven and Earth, which was published 3 years before he became pontiff. “It is not enough to mediate this commitment through institutions, which obviously help because they have a multiplying effect, but that is not enough. They do not excuse us from our establishing personal contact with the needy. The sick must be cared for, even when we find them repulsive and repugnant. Those in prison must be visited.”

    He calls for long-term commitment. “Hospitality in itself isn’t enough. It’s not enough to give a sandwich if it isn’t accompanied by the possibility of learning to stand on one’s own feet. Charity that does not change the situation of the poor isn’t enough.” (READ: Pope Francis and Zamboanga’s refugees)

    'DON'T JUDGE.' Pope Francis reminds priests and bishops to avoid prejudice. File photo by Antonio Lacerda/EPA

    ‘DON’T JUDGE.’ Pope Francis reminds priests and bishops to avoid prejudice. File photo by Antonio Lacerda/EPA

    6. Stop judging others.

    In the same way he denounces gossip, Francis condemns prejudice.

    He reminds “intolerant” Catholics, for one, to respect atheists. “If we, each doing our own part, if we do good to others, if we meet there, doing good, and we go slowly, gently, little by little, we will make that culture of encounter: we need that so much. We must meet one another doing good.” (READ: Pope to ‘intolerant’ Catholics: Good atheists exist)

    He also says of gays: “If someone is gay and seeks the Lord with good will, who am I to judge?” (READ: Pope Francis is gay magazine’s Person of the Year)

    Francis urges us “to keep watch over ourselves.” “Let us not forget that hatred, envy, and pride defile our lives!” (READ: Pope’s 1st clarion call: Protect creation)

    CHARISMATIC PONTIFF. Pope Francis even prays for one of his worst critics. File photo from Luca Zennaro/EPA/PoolCHARISMATIC PONTIFF. Pope Francis even prays for one of his worst critics. File photo from Luca Zennaro/EPA/Pool

    7. Befriend those who disagree.

    What can we do to our worst critics? We can take our cue from Francis.

    In November, Francis surprises Mario Palmaro, a traditionalist who wrote the article, ‘The Reason Why We Don’t Like This Pope.’” “He just wanted to tell me that he is praying for me,” says Palmaro, who is gravely ill, in an article by the Catholic News Agency.

    Francis does this in line with what he calls a “culture of encounter.”

    He says in July: “When leaders in various fields ask me for advice, my response is always the same: dialogue, dialogue, dialogue. It is the only way for individuals, families, and societies to grow, the only way for the life of peoples to progress, along with the culture of encounter, a culture in which all have something good to give and all can receive something good in return. Others always have something to give me, if we know how to approach them in a spirit of openness and without prejudice.”

    FRUIT OF MARRIAGE. Pope Francis holds a baby, the fruit of a sacrament that he says is not 'out of fashion.' File photo by Vincenzo Pinto/AFP

    FRUIT OF MARRIAGE. Pope Francis holds a baby, the fruit of a sacrament that he says is not ‘out of fashion.’ File photo by Vincenzo Pinto/AFP

    8. Make commitments, such as marriage.

    Don’t be afraid to say “forever.”

    Francis advises the youth, for instance, not to fear marriage. (READ: Pope: Marriage not ‘out of fashion’)

    The Pope says: “Today, there are those who say that marriage is out of fashion; in a culture of relativism and the ephemeral, many preach the importance of ‘enjoying’ the moment. They say that it is not worth making a life-long commitment, making a definitive decision, ‘forever,’ because we do not know what tomorrow will bring.”

    “I ask you, instead, to be revolutionaries, to swim against the tide; yes, I am asking you to rebel against this culture that sees everything as temporary and that ultimately believes that you are incapable of responsibility, that you are incapable of true love. I have confidence in you and I pray for you. Have the courage ‘to swim against the tide.’ Have the courage to be happy,” he says.

    SEEKING THE LORD. Pope Francis leads the global day of prayer and fasting for Syria in September. File photo by Alessandro di Meo/EPA

    SEEKING THE LORD. Pope Francis leads the global day of prayer and fasting for Syria in September. File photo by Alessandro di Meo/EPA

    9. Make it a habit to ‘ask the Lord.’

    Bothered about the future?

    Pray, the Pope urges us especially the youth.

    “Dear young people,” he says, “some of you may not yet know what you will do with your lives. Ask the Lord, and he will show you the way. The young Samuel kept hearing the voice of the Lord who was calling him, but he did not understand or know what to say, yet with the help of the priest Eli, in the end he answered: ‘Speak, Lord, for I am listening’ (cf. 1 Sam 3:1-10). You too can ask the Lord: What do you want me to do? What path am I to follow?”

    'JOY OF THE GOSPEL.' Challenging his flock to share joy with others, Pope Francis embraces a disfigured man in November. Photo by Claudio Peri/EPA

    ‘JOY OF THE GOSPEL.’ Challenging his flock to share joy with others, Pope Francis embraces a disfigured man in November. Photo by Claudio Peri/EPA

    10. Be happy.

    The true Christian, says the Pope, exudes great joy. He says keeping this joy to ourselves “will make us sick in the end.”

    So important is joy to him that his first apostolic exhortation, the first major document he wrote on his own, is titled “Evangelii Gaudium” (The Joy of the Gospel).

    “Sometimes these melancholy Christians’ faces have more in common with pickled peppers than the joy of having a beautiful life,” Francis says in a homily. “Joy cannot be held at heel: it must be let go. Joy is a pilgrim virtue. It is a gift that walks, walks on the path of life, that walks with Jesus: preaching, proclaiming Jesus, proclaiming joy, lengthens and widens that path.”

    Francis says, “The Christian sings with joy, and walks, and carries this joy.”

    This joy, he reminds us, should translate to love of neighbor.

    A joyful New Year to all!

  • Pelajaran dari kerang

    Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.
    “Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.”

    Si ibu terdiam, sejenak, “Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.

    Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

    Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

    Cerita di atas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan “kerang biasa” menjadi “kerang luar biasa”. Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah “orang biasa” menjadi “orang luar biasa”.

    Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa’ yang disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara’.
    Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja’.

    Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka. Cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan katakan dalam hatimu “Air mata ku diperhitungkan Tuhan dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara!”