Ada keluarga yang mempunyai dua anak perempuan kembar. Yang satu (sebut saja A) selalu bersyukur atas segala sesuatu yang dimilikinya. Saudarinya (sebut sajaB) malah kebalikannya, selalu saja mengeluh atas semua yang dimilikinya. Suatu saat, ketika 1 minggu menjelang hari ulang tahun mereka, si ibu curhat kepada seorang psikolog.
“Bagaimana ya cara supaya si B bisa eniru si A yang selalu bersyukur?” tanya si ibu.
“Caranya gampang,” kata si psikolog. “Untuk si B, belikan kado terbagus yang dia inginkan. Untuk si A, berikan dia kotoran kuda.”
Spontan si ibu kaget. “Hah? Kotoran kuda??!!” tanya si ibu.
“Iya, kotoran kuda” respon si psikolog. “Lakukan saja, dan lihat apa hasilnya”
Si ibu melakukan apa yang diminta si psikolog. Untuk si A, dia menaruh kotoran kuda di kamar si A. Sedangkan di kamar si B, dia menaruh mainan rumah-rumahan yang mahal.
Ketika si B masuk ke kamarnya dan melihat kadonya, awalnya dia sangat senang. Namun kemudian, dia mulai mengeluh tentang kadonya itu. “Mainannya kok dari plastik ya?” “Pintunya kurang bagus” dan lain-lain. Ketika si ibu melihat kalau si B mulai mengeluh, dia mengajak si B untuk pergi ke kamar si A. Dan ketika si ibu membuka pintu kamar si A, si ibu yang sudah tahu apa kado si A, terkejut melihat si A yang sedang lompat-lompat gembira.
“Asikkk… asiikk” teriak si A.
“Kenapa kamu gembira nak?” tanya si ibu. “Kadomu kan kotoran kuda”
“Iya, aku dapat kotoran kuda, artinya kudanya masih dalam pengiriman kan” jawab si A dengan nada gembira. “Asik dapat kudaa…. dapat kudaaaa…”
Si ibu yang tidak tega melihat si A yang sudah sangat gembira, dan untuk memberikan pelajaran kepada si B, akhirnya membelikan seekor kuda sungguhan untuk si A.
Moral dari cerita ini: ketika kita sekarang baru mendapatkan “kotoran kuda” yang mungkin bau, penuh lalat, gak enak dilihat, percayalah kalau kita bisa bergembira seperti anak itu, Bapa kita akan memberikan kita “kuda sungguhan” 🙂
Katakan saja dalam hati kita “Kudanya masih dalam pengiriman!!!!” 🙂
Leave a Reply