Category: Artikel Religius

  • Pandangan Gereja Katolik Mengenai Homoseksual

    Sekali lagi, tulisan ini aku buat setelah membaca artikel tentang kampanye mendukung pernikahan homoseksual di facebook. Banyak orang yang mengganti gambar profilnya dengan tanda “=” yang menyimbolkan mereka mendukung perjuangan kaum homoseksual dalam meminta peresmian pernikahan homoseksual.

    Aku kemudian menemukan artikel ini yang membahas apa pandangan Gereja Katolik tentang homoseksual. Intinya adalah:
    1. Gereja menolak adanya hubungan sesama jenis, karena melanggar kodrat dari Tuhan dimana laki-laki ditakdirkan bersatu dalam hubungan pernikahan dengan wanita, kecuali laki-laki atau wanita tersebut memilih hidup selibat.
    2. Gereja menolak operasi terhadap bagian tubuh yang bukan didasarkan atas alasan medis, contoh operasi kosmetik, operasi plastik, operasi kelamin, dan lain-lain, karena berarti orang tersebut menolak pemberian dari Tuhan. Artikel mengenai operasi kelamin
    3. Gereja mengakui adanya kasus langka dimana seseorang mungkin saja memiliki alat kelamin ganda. Dalam hal ini, pertimbangan lebih lanjut harus dilakukan secara medis untuk dapat benar-benar memastikan jenis kelamin orang tersebut. Pada akhirnya, jika orang tersebut ingin menikah, maka status kelaminnya harus sudah jelas terlebih dahulu.
    4. Memiliki orientasi homoseksual berbeda dengan melakukan orientasi homoseksual. Jika seseorang memiliki orientasi homoseksual, dia tidaklah berdosa selama dia masih mampu menguasai dirinya dan tidak menuruti keinginannya tersebut. Dia bisa saja meminta pertolongan beberapa pihak untuk membantu mengubah orientasinya kembali ke normal. Namun ketika dia mulai tunduk kepada orientasinya tersebut, maka dia berdosa.
    5. “Hate the sin, love the sinner”. Gereja membenci tindakan homoseksual, tapi bukan berarti Gereja menjauhi dan mengucilkan orang-orang homoseksual. Gereja selalu membuka tangan kepada mereka, dan akan selalu berupaya untuk mengembalikan mereka ke orientasi heteroseksual.

    Mudah-mudahan hal ini menambah pengetahuan kita 🙂

  • Pandangan Gereja Katolik Mengenai Bayi Tabung

    Awalnya aku gak sengaja nemu artikel ini Sperma menjadi komoditas ekspor di Amerika. Cukup menarik membaca artikelnya, dimana di amerika sana, mendonorkan sperma bisa menjadi pemasukan sampingan buat pria. Terlepas dari masalah moralnya, ternyata banyak sekali kostumer untuk sperma beku ini. Kalau dulu pembelinya cuma pasangan suami istri yang memang susah mendapatkan anak, sekarang pembelinya mulai ada wanita single yang memang tidak ingin menikah, atau pun pasangan lesbian. Aku sendiri tau ada beberapa kenalan yang melakukan program bayi tabung, dan sudah melahirkannya.

    Kemudian aku jadi penasaran, apa pandangan Gereja Katolik mengenai teknologi pembuahan bayi secara buatan ini? Maka aku coba cek ke katolisitas.org, dan menemukan artikel tentang bayi tabung. Pada intinya, Gereja memandang bahwa proses itu adalah dosa. Tapi (dan ini penting untuk diingat), bayi yang dilahirkan adalah sama seperti bayi-bayi lainnya, dimana dia merupakan anugerah dari Tuhan, dan wajib dipandang sebagai manusia yang sama dengan manusia-manusia lainnya. Ya, proses pembuatannya berdosa, tapi yang berdosa adalah orang tuanya. Bayinya sendiri tidak lah berdosa, karena dia bisa tercipta lahir karena ijin Tuhan, sama seperti bayi yang dihasilkan dari proses alami.
    Ya, banyak perdebatan bahwa tujuan proses ini kan mulia, untuk melanjutkan keturunan, dilakukan karena memang tidak bisa mempunyai anak, dkk. Tapi ingat, Tuhan sendiri mengingatkan bahwa niat yang baik saja tidak cukup. Niat yang baik, tapi kalau dilaksanakan secara salah, maka itu adalah dosa. Contoh lain yang juga relevan adalah tentang white lies (berbohong demi kebaikan) dan dongeng Robin Hood.

    Semoga 2 artikel diatas bisa menambah pengetahuan kita 🙂

  • Berdoa Dengan Benar Secara Katolik

    Mengapa kita berdoa?
    “Prayer is the raising of one’s mind and heart to God or the requesting of good things from God.” But when we pray, do we speak from the height of our pride and will, or “out of the depths” of a humble and contrite heart? He who humbles himself will be exalted; humility is the foundation of prayer. Only when we humbly acknowledge that “we do not know how to pray as we ought,” are we ready to receive freely the gift of prayer. “Man is a beggar before God.” (CCC, 2559)

    KGK 2559 “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik”. Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis.

    Itulah sebuah pemahaman tentang arti doa dari ajaran Gereja Katolik. Berdoa adalah getaran hati suara nurani yang menyapa Allah. Suatu permohonan dan syukur kepada Allah. Oleh karena itu tidaklah dapat dipungkiri bahwa berdoa merupakan suatu bagian penting bagi orang beriman. Tanpa doa iman kita akan lemah tanpa daya, kering dan tidak berbobot, tapi dengan berdoa iman kita dikuatkan, diteguhkan, ditopang hingga kokoh kuat tak tergoyahkan. Maka kebiasaan berdoa bagi umat Katolik sangatlah penting mulai dari anak-anak hingga orang tua dan kakek nenek tak terkecuali wajib berdoa. Namun berdoa macam mana yang benar secara Katolik? Itulah yang menjadi pokok persoalan kita.

    Kemarin pada tgl 7 Desember 2010 ketika terjadi pertemuan darat tim katolisitas.org dengan para pengunjung umat katolik di Jakarta, saya menyinggung perihal berdoa secara benar dan katolik. Sudah banyak kali saya mendengarkan orang Katolik berdoa tidak sesuai dengan iman Katolik. Doanya mengambang, intensi tidak berisi dan kesulitan dalam mengakhiri doanya. Lalu bagaimana berdoa secara benar dan Katolik?

    Menurut pengalaman rohani dari St Theresa dari Lisieux, doa adalah:
    “For me, prayer is a surge of the heart; it is a simple look turned toward heaven, it is a cry of recognition and of love, embracing both trial and joy” (suatu gelora, sentakan dalam hati, sebuah penglihatan kembali untuk ke depan menuju tahta surgawi, sebuah jeritan pengetahuan akal budi dan cinta yang memeluk keduanya dalam suatu cobaan dan sukacita (bdk. St. Therese of Lisieux, Manuscrits autobiographiques, C 25r.).

    Berdoalah menurut pola ”Doa Bapa Kami”.
    Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
    datanglah Kerajaan-Mu,
    jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
    Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
    seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
    dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
    tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
    [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] (Matius 6:9-13).

    Dalam doa Bapa Kami ada 3 pokok penting yang mendapat perhatian saat kita hendak doa:
    1). Menyebut nama Allah dengan atributnya (kemahakuasaan Allah). Menyapa Allah sebagai Bapa yang sungguh dekat di hati manusia. Dia yang tidak jauh namun ada dan tinggal di antara kita sebagai Bapa kita. Memohon datangnya
    kerajaan-Nya di dunia.
    2). Intensi (permohonan) kita kepada Allah Bapa yakni rezeki setiap hari, kesehatan jiwa dan badan.
    3) Menutup doa dengan memohon agar dikuatkan iman kita sehingga tidak jatuh dalam pencobaan. Terakhir setiap doa yang benar dan katolik ditutup dengan rumusan panjang lengkap bersifat trinitaris Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, atau rumusan pendek kristologis, yaitu “
. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami.” Pola doa Bapa Kami juga memberikan contoh kepada kita untuk berdoa secara benar dan sungguh Katolik (di bawah artikel ini diberikan contoh yang benar).

    Sifat-sifat yang menyertai doa yang benar:
    a) Berdoalah dengan tekun.
    Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius 7:7). Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut
    akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan
    tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? (Lukas 18:1-7). Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama,
 (Kisah Para Rasul 1:14)
    b) Berdoalah secara tersembunyi dengan rendah hati.
    Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Matius 6:6). Tempat
    tersembunyi yang dimaksudkan dalam sabda Tuhan ini adalah di dalam hati. Hati adalah tempat kita berjumpa dengan Tuhan. Kerendahan hati adalah dasar dari doa yang benar. Berdoalah dengan rendah hati dan dengan pertobatan. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (Lukas 18:13).
    c) Berdoalah dengan tidak bertele-tele.
    Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan (Matius 6:7). Ia berkata kepada mereka: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Lukas 22:40).
    d) Berdoalah dalam pribadi Tuhan Yesus.
    Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yohanes 14:13-14). Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya (Yohanes 15:7). Berdoalah dengan iman dan keyakinan bahwa doamu sedang dikabulkan. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu
    minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu (Markus.11:24).
    e) Berdoalah dengan kuasa dari Roh Kudus.
    ”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Lukas 11:13). ”Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” (Lukas 24:49). ”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8)
    f) Berdoa itu mempersatukan umat beriman dengan Allah Bapa.
    Hal ini ditekankan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus (Efesus 3:18-21): “Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat
    mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi
    dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. Bagi Dialah
    kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya”. Teks dari “Catechism of the Catholic Church” (Katekismus Gereja Katolik) di bawah ini menambah pemahaman kita tentang berdoa.
    “In the New Covenant, prayer is the living relationship of the children of God with their Father
    who is good beyond measure, with his Son Jesus Christ and with the Holy Spirit. The grace of the Kingdom is “the union of the entire holy and royal Trinity
.with the whole human spirit.” Thus, the life of prayer is the habit of being in the presence of the thrice-holy God and in communion with him. This communion of life is always possible because, through Baptism, we have already been united with Christ. Prayer is Christian insofar as it is communion with Christ and extends throughout the Church, which is his Body. Its dimensions are those of Christ’s love” (CCC, 2565).
    KGK 2565 Dalam Perjanjian Baru, doa adalah hubungan yang hidup anak-anak Allah dengan
    Bapanya yang tidak terhingga baiknya, bersama Putera-Nya Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus. Rahmat Kerajaan Allah adalah “persatuan seluruh
    Tritunggal Mahakudus dengan seluruh jiwa” manusia (Gregorius dari Nasiansa, or. 16,9). Dengan demikian, kehidupan doa berarti bahwa kita selalu berada dalam hadirat Allah yang tiga kali kudus dan dalam persekutuan dengan Dia. Persekutuan hidup ini memang selalu mungkin, karena melalui Pembaptisan kita sudah menjadi satu dengan Kristus (Bdk. Rm 6:5). Doa itu Kristen, sejauh ia merupakan persekutuan dengan Kristus dan menyebar luas di dalam Gereja, Tubuh Kristus. Ia merangkum segala sesuatu, sama seperti cinta kasih Kristus (Bdk. Ef 3:18-2).

    Contoh doa pribadi yang benar dan Katolik.
    Allah Bapa kami yang mahabaik, kami bersyukur untuk hari baru ini yang telah Kau anugerahkan bagi kami. Engkau telah melindungi kami selama semalam yang telah berlalu dan memberikan begitu banyak rezeki hingga saat ini. Kami mohon berikanlah kami hati yang sanggup bersyukur dan hati yang selalu memberi kepada orang lain dari anugerah yang telah kami terima daripada-Mu.
    Semoga kami sanggup melakukan itu dengan menolong sesama yang berkekurangan. Doa ini kami sampaikan kepadamu dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup bersama Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin. (Penutup doa bersifat trinitaris: Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus)

    Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas penyertaanmu sepanjang hari ini. Kami menyadari bahwa banyak kesalahan dan kekurangan telah kami lakukan sepanjang hari ini. Kami mohon pengampunan darimu dan berilah kami kekuatan untuk bangkit dari kesalahan kami. Semoga besok kami mampu menjadi murid-Mu yang sejati. Karena Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
    (Penutup doa bersifat kristologis di mana Kristus menjadi pengantara kita satu-satunya dan bersifat universal kepada Allah Bapa).

    Sumber: Katolisitas

  • [Gambar] Christ took me seriously

    Everybody thinks I’m crazy. They say, “You take the Jesus thing too seriously”. Well I don’t know, but Christ took me pretty seriously when He died for me on the Cross.

  • 3 Tipe Orang Yang Datang Ke Misa Minggu

    Dalam homili misa Kamis Putih hari ini, romonya memberikan beberapa hal yang menarik. Salah satunya mengenai 3 tipe orang yang datang ke gereja.

    Tipe pertama adalah orang-orang yang datang ke gereja karena kerinduan untuk bertemu dengan Allah. Karena kerinduan itu, maka biar pun ada halangan, mereka akan selalu berupaya semaksimal mungkin untuk bisa mengikuti misa.

    Tipe kedua adalah orang-orang yang mengikuti misa karena kebutuhan. Mereka menginginkan sesuatu dari Tuhan, jadi mereka datang ke misa. Orang-orang ini akan sangat rajin dan religius ketika mereka mempunyai itensi. Tapi setelah itensinya terpenuhi atau tidak terpenuhi setelah lama meminta, maka mereka akan “menghilang” dari gereja.

    Tipe ketiga adalah orang-orang yang terpaksa datang ke misa. Mereka biasanya mendapatkan tekanan agar datang ke misa. Entah dari orang tua, dari pasangan, atau tekanan yang lain.

    Mari kita bersama-sama berusaha untuk menjadi tipe pertama 🙂

  • Testimoni Dr Richard Teo Keng Siang (1972-2012)

    Aku mau bagikan testimoni dari Dr
    Richard, seorang dokter kaya yang terkena kanker, dan meninggal. Mohon maaf, testimonialnya dalam bahasa inggris.

    Ringkasan saja: Dr. Richard Teo Keng Siang adalah seorang ‘biasa’ yg berjuang, bekerja keras dan
    sukses luar biasa sebagai dokter kecantikan, kaya luar biasa. Di usia 40 tahun, single, dia punya segalanya: ketenaran, kekayaan, cakep dan dia rajin fitnes juga (6x seminggu/tiap hari). Waktu dia diajak ke gereja dia akan bilang: “saya sangat sibuk di pagi hari, suruh gereja itu undurkan kebaktiannya menjadi jam 2, baru saya datang”. Dia arogan sekali
    karena dia merasa punya uang, punya segalanya..

    Dia bilang begini: coba saja, apa yg Tuhan bisa. lakukan untuk membuat aku pergi ke gereja
    Maret 2012, dia lagi fitness, dia merasa gak enak di punggung, singkatnya (ntar baca yah) dia kena kanker stadium 4 langsung, dia kaget banget dan ga percaya. Pertama-tama dia menyangkal dan
    menyalahkan Tuhan, kenapa disaat2 TOP nya dia kok Tuhan beri itu. Akhirnya dia sadar, hanya itu 1-1nya cara Tuhan untuk membuat dia mengerti dan bersaksi.

    16 oct 2012 kemarin dia meninggal dunia di usia 40 tahun. Tapi kesaksiannya yang direkam
    dan disebarkan oleh teman2 ikatan dokter kristen di Singapore, menyadarkan banyak orang kalo uang tanpa Tuhan itu kosong, HIDUP TANPA TUHAN itu sia2.

    Recorded at the Dental Christian Fellowship , on 24 Nov 2011, 8 months after his diagnosis.

    Richard would have liked to share this with you. We are doing this to continue his work.

    Please have a read and leave it behind for someone else to benefit from his sharing.

    If you would like a copy, please let any of his family or close friends know and we will be able to provide both the audio recording as well as the transcript.

    Thank you, and may God bless you richly.

    Below is the transcript of the talk of Dr. Richard Teo, who was a 40-year-old millionaire and cosmetic surgeon with a stage-4 lung cancer, sharing at a Dental Christian Fellowship Meeting. He would have liked to share this with you too.

    HIS BACKGROUND

    Hi good morning to all of you. My voice is a bit hoarse from the chemotherapy, so please bear with me. I thought I’ll just introduce myself. My name is Richard, I’m a friend of Danny’s, who invited me here.

    I’d just begin to say that I’m a typical product of today’s society. Before this, I was talking about how the media influences us etc. So I’m a typical product of what the media portrays. From young, I’ve always been under the influence and impression that to be happy, is to be successful. And to be successful, is to be wealthy. So I led my life according to this motto.

    Coming from a poor average family, back in those days, I was highly competitive, whether in sports, studies, leadership. I wanted it all. I’ve been there, done that. But at the end of the day, it’s still about money.

    So in my recent last years, I was a trainee in ophthalmology, but I was getting impatient, cos I had friends of mine who were going out into private practise, making tonnes of money. And there I was, stuck in a traineeship. So I said, ‘Enough, it’s getting too long.’ At that time, there was a surge in protĂ©gĂ©s of aesthetic medicine. I’m sure you’re aware, aesthetic medicine had peaked over the last few years, and I saw good money in there. So much so that I said, ‘Forget about ophthalmology, I’m gonna do aesthetic medicine.’ So that’s what I did.

    The truth is, nobody makes heroes out of the average GP in the neighbourhood. They don’t. They make heroes out of rich celebrities, politicians, rich and famous people. So I wanted to be one of these. I dived straight into aesthetic medicine. People were not willing to pay when I was doing locum back in those days. Anything more than $30, they would complain that “Wah, this lo kun (doctor) jing qwee (very expensive)”. They made noise and they were not happy. But the same people were willing to pay $10 000 for a liposuction. So I said, ‘Well, let’s stop healing the sick, I’m gonna become a beautician; a medically-trained beautician.’

    And that was what I did – liposuction, breast augmentation, eyelid surgeries, you name it, we do it. It was very good money. My clinic, when we started off, waiting time was 1 week; 1 month; became 2 months; became 3 months. There was so much demand that people were literally queuing up to have aesthetic work done on them. Vain women – easy life!

    So the clinic grew. I was so overwhelmed, from 1 doctor, I employed 2, then 3, then 4 doctors, and carried on. Nothing is ever enough. I wanted more and more and more. So much so that we set up shop in Indonesia to lure all the Indonesian tai tai’s. We set up shop, set up a team of people there, to get more Indonesian patients to come in.

    So, things were doing well. I’m there, my time has arrived.

    Around some time in February last year, I said, ‘OK, I have so much spare cash, it’s time to get my first Ferrari. So there I was, getting ready for the deposit. ‘OK! There comes my first Ferrari!’ I was looking for land, to share with some of my friends. I have a banker friend who makes $5 million a year. So I thought, ‘Come, let’s come together. Let’s buy some land and build our houses.’

    I was at my prime, getting ready to enjoy. At the same time, my friend Danny had a revival. They were going back to church, some of my close friends. They told me, ‘Richard, come, join us, come back to church.’

    I have been a Christian for 20 years; I was baptised 20 years ago, but it was because it was fashionable to be a Christian then. All my friends were becoming Christians then. It was fashionable! I wanted to be baptised, so that when I filled in a form, I could put there “Christian” – feels good. In truth, I had never had a bible; I don’t know what the bible is all about.

    I went to church for a while, after some time, I got tired. I said it’s time to go to NUS, stop going to church. I had a lot more things to pursue in NUS – girls, studies, sports etc. After all, I had achieved all these things without God today, so who needs God? I myself can achieve anything I want.

    In my arrogance, I told them, “You know what? You go tell your pastor to change your sermon to 2pm. I will consider coming to church.” Such arrogance! And I said 1 statement in addition to that – till date, I don’t know I’ve regretted saying that – I told Danny and my friends, “If God really wanted me to come back to church, He will give me a sign.”. Lo and behold, 3 weeks later, I was back at church.

    THE DIAGNOSIS

    In March 2011, out of the blues – I was still running around, ‘cause I’m a gym freak and I always go to the gym training, running, swimming 6 days a week. I had some backache, and that’s all I had, but it was persistent. And so I went for an MRI to exclude prolapsed disc. And the day before I had my scan, I was still in the gym, lifting heavy weights, doing my squats. And the next day, they found that half my spine had bone marrow replacement. I said, “Woah, sorry, what’s that?”

    We had a PET scan the next day, and they diagnosed that I had terminal lung cancer, stage 4B. It had spread to the brain, half the spine, whole of my lungs were filled with tumour, liver, adrenals


    I said, “Can’t be, I was just at the gym last night, what’s going on?” I’m sure you know how it feels – though I’m not sure if you know how it feels. One moment I was there at the peak, the next day, this news came and I was totally devastated. My whole world just turned upside down.

    I couldn’t accept it. I have a hundred relatives on both sides, my mom and my dad. 100 of them. And not a single one has cancer. To me, in my mind, I have good genes, I’m not supposed to be having this! Some of my relatives are heavy chain smokers. Why am I having lung cancer? I was in denial.

    HIS ENCOUNTER WITH GOD

    So the next day, I was still in a state of denial, still unable to accept what was going on. There I was lying in an operating theatre in a hospital, for a needle biopsy (for histology). There I was, just completed the biopsy, and lying in the operating theatre. The nurses and doctors had left; told me I had to wait for 15 minutes to do a check X-ray to make sure there’s no pneumothorax (a complication).

    And there I was, lying on the operating table, staring blankly at the ceiling in a cold, quiet operating theatre. Suddenly I just heard an inner voice; it was not like coming from outside. It was inside. This small inner voice that I had never felt before. And it said very specifically, it said, “This has to happen to you, at your prime, because it’s the only way you can understand.”

    I said, “Woah, why did that come from?” You know, when you speak to yourself, you’d say, “OK, what time should I leave this place? Where shall I have dinner after this?” You’d speak from a first person point of view. You don’t say, “Where should YOU go after this?” Whereas the voice that came spoke as a third party. It said, “This has to happen to YOU, at YOUR prime, because this is the only way YOU can understand.” At that time, my emotions just overflowed and I broke down and cried, alone there. And I knew then, subsequently, what it means to understand that why this is the only way.

    Because I had been so proud of myself, my whole life, I needed nobody else. I was gifted with things that I could do, why do I need anybody else? I was just so full of myself that there was no other way I could have turned back to God.

    In fact, if I were diagnosed with stage 1 or 2, I would have been looking around busily for the best cardiothoracic surgeon, remove a section of the lobe (do a lobectomy), do preventive chemotherapy
The chances of it being cured is extremely high. Who needs God? But I had stage 4B. No man can help, only God can.

    A series of events happened after that. I wasn’t sold after that, because of the inner voice, I became believing, prayers, all that. No I wasn’t. To me, it was just ‘maybe there was a voice; or maybe that was just me talking to myself.’ I didn’t buy the story.

    What happened next was that I was being prepared for chemotherapy. I started off with a whole brain radiation therapy first; takes about 2 -3 weeks. In the meantime they prepared me for chemotherapy, supplements etc. One of the things they used for chemo was a thing called Zometa. Zometa – they use it to strengthen the bones; once the bone marrow (replacement) is cured of cancer cells, it becomes hollow, so we need Zometa to strengthen the bone to prevent compression fractures.

    One of the side effects of Zometa is that it can cause osteonecrosis (bone death) of the jaw, and I had to have my wisdom teeth removed. Years ago, I had my upper wisdom teeth removed, cos it was giving me trouble. The lower ones didn’t give me trouble so I said, “Forget it, just leave it.” So of cause, Danny volunteered to remove it for me.

    So there I was, lying there in a dental chair, asking myself, suffering all the side effects of radiotherapy, and now I have to go through wisdom tooth surgery. As if I’ve not had enough to suffer! So I asked Danny, “Eh, bro, is there any other way? Can I not go though this?” He said, “Yes, you can pray.”

    I said, “What’s there to lose? Ok lah, pray lah!” And so we prayed. And we did an X-ray after that. Everything was all there, all the appliances and everything. And lo and behold, the Xray showed that there was no wisdom teeth in the lower jaw. I know most people have 4 wisdom teeth, maybe some have none, but to be missing one or 2, as I understand – I’m not too sure, as I understand – is not that common.

    Still I was, “Nah, I don’t care about that.” To me, as long as I didn’t have to take out the tooth, I was happy. At that point, I still wasn’t sold on prayers. Maybe it was just a coincidence – for whatever it’s worth.

    I continued meeting my oncologist, asking him, “How long do I have?” I asked him. He said, not more than 6 months. I said, “Even with chemotherapy?” About 3 – 4 months, he said.

    I couldn’t grasp that. It was difficult to come to terms. And even as I went through radiotherapy, I was struggling everyday, especially when I wake up, hoping that it’s just a nightmare; when I wake up, it’s all over.

    As I was struggling, day after day, I went into depression, which is the typical denial, depression blah blah blah that you go through. But for 1 reason, I don’t know why, there was this specific day that I was supposed to meet my oncologist. At about 2pm, I felt this sudden surge of peace, comfort, and in fact, a little happiness. It was just overflowing. For no rhyme or reason, it just came about 2pm, as I was getting ready, dressing up to meet my oncologist. So much so that I whats-apped all my friends that, “Bros, I just feel so good suddenly! I don’t know why, it just came!”

    And it was only days, or was it weeks after, that Danny revealed to me that he had fasted for 2 days for me, and he was bargaining with God, and fasted for 2 dyas, and he ended his fast at that exact same point, about 2pm thereabouts, that this surge of sensation came to me for no rhyme or reason. And I didn’t know that he was fasting for me. And when he ended the fast, I felt that sensation!

    Whoa, things were getting a bit too coincidental. I was starting to buy a bit of the story, but still I wasn’t sold. As days passed by, I completed my radiotherapy, about 2 weeks plus. Getting ready for chemo, so they let me rest for a few days.

    See, the mortality rate of lung cancer : Lung cancer has the highest mortality rate. If you add up breast, colorectal (colon) cancer, and prostate cancer (the top few cancers in Singapore for men and women), if you add up the mortality rate of these 3, it still doesn’t add up to lung cancer. Simply because, you understand, you can remove the prostate, the colon, the breast, but you cannot remove your lungs.

    But there’s about 10% of lung cancer patients who do pretty well for some reasons, because they have this specific mutation; we call it the EGFR mutation. And it happens, only 90% of the time, in Asian ladies who never smoked in their lives. Me, first of all, I’m male. 2ndly, I’m a social smoker. I take one a day after dinner; weekends, when my friends offer me, I take it as well. I’m a light smoker, not a social smoker. But still, my oncologist was still not hopeful for me to have this mutation.

    The chances of it happening for me was maybe 3-4% for me to get it. That’s why I was being primed to go for chemo. But through all the intense prayers, friends like Danny, people that I don’t even know, it turned out that, during my waiting for chemo, the results came back that I was EGFR positive. I was like, “Woah, good news!” Cos now I don’t have to undergo chemo at that time, because there’s this oral tablet that you can use to control this disease.

    Just to share with you some idea – this is a CT scan – thorax – of my lungs, before treatment.

    AFTER BEFORE

    Every single dot there is a tumour. You can see all the mets (metastasis) there. This is just one single plane. Literally I had it in both lungs, and I had literally tens of thousands of tumour. That’s why the oncologist told me, even with chemo, at most 3-4 months.

    But because of this mutation, they have this oral medication. This is what happened after 2 months of treatment. As you can see over here; this is what God can do. And that’s why I’m still here having this opportunity to share with you. As you can see over here, the difference between before and after treatment.

    At that point, I said, “Well, it’s to be expected, isn’t it? The medicine is good.” I’m still not buying the story. Well, the guys prayed for me and the tumour markers started to come down. 90% of the tumours were wiped out, and the tumour markers came down to more than 90% over the next few months.

    But still, you know, once you have the clinical knowledge, you know the statistics. One year survival, two year survival; having all this knowledge is not a good thing. Cos you live with the knowledge that even with all this, the cancer cells are so unstable, they keep mutating. They will overcome and become resistant to the drugs, and eventually you’re gonna run out of medication.

    So living with this knowledge is a huge mental struggle, a huge mental torture. Cancer is not just about a physical struggle, it’s a huge mental torture. How do you live with no hope? How do you live with not being able to plan for the next few years? The oncologist tells you to bear with it for the next 1 – 2 months. So it’s a lot of struggles as I went through: March, then April. April was my lowest point, in deep depression, struggling even as I was recovering.

    HIS ACCEPTANCE & PEACE

    And one of those days, I was there in bed, struggling in the afternoon, asking God, “Why? Why do I have to go through this suffering? Why do I have to endure this hardship, this struggle? Why me?”

    As I fell asleep, in my dreamy state, a vision just came, that says Hebrews 12:7-8.

    Now mind you, at this time, I had not read the bible. I have no clue what’s Hebrews, I don’t even know how many chapters there are. Totally clueless.

    But it says Hebrews 12:7-8, very specifically.

    I didn’t think too much of it. I just continued sleeping. Then I woke up, and I said, “What’s there to lose? I’d just check it out lah!” Danny had bought me a bible; it’s still quite new. I said, “It’s ok, just try.” So I flipped to the Old Testament. Hebrews to me sounds like something ancient, so it should be in the Old Testament right? So I flipped through the Old Testament. No Hebrews there. I was so disappointed.

    Then I said, “Maybe New Testament, let’s have a look!”. WOW – New Testament, there’s Hebrew’s!! It says Hebrews 12:7-8. It says, “Endure hardship as discipline as God is treating you as His children.”

    I said, “WAH!! Where did that come from?” I was getting goose pimples all over my body. I said, “This can’t be, right?” I mean, what’s the chance of somebody, who has never read the bible, to have a vision of a chapter of a specific verse, that answers my question directly?

    I think God called to me directly as I was there sleeping, struggling with it, asking God, “Why do I have to suffer? Why do I have to suffer this?” And God says “Endure hardship as discipline as God is treating you as His child.”

    At this point, the chance of that happening is even lesser than my EGFR being positive. There’s just no way; there’s so many millions of thousands of verses in the bible, how can I just conjure up something like that?

    So at that point, I was sold I said, “YOU WIN! YOU WIN!!”

    Ok , I was convinced. And so from that day onwards, I started believing in my God. And the last time I heard that inner voice was the end of April. And that inner voice, same thing, in the afternoon, as I was sleeping (this time I wasn’t struggling, just going to sleep). In a dreamy state I just heard Him say, “Help others in hardship.”

    It was more like a command, rather than a statement. And that’s when I embarked on this journey, helping others in hardship. And I realised that hardship is not just about being poor. In fact, I think a lot of poor people are probably happier than a lot of us here. They are so easily contented with whatever they have, they’re probably pretty happy.

    Hardship can happen to rich people; it can be physical hardship, mental hardship, social, etc. And also over the last few months, I started to understand what this true joy is about. In the past, I substituted true joy with the pursuing of wealth. I thought true joy is about pursuing wealth. Why? Cos let me put it to you this way, in my death bed, I found no joy whatsoever in whatever objects I had – my Ferrari, thinking of the land I was going to buy to build my bungalow etc, having a successful business.

    It brought me ZERO comfort, ZERO joy, nothing at all. Do you think I can hold onto this piece of metal and it’s going to give true joy? Nah, it’s not going to happen.

    True joy comes from interaction with other people. And at a lot of times, it is a short term pride, the past. When you pursue your wealth, Chinese New Year is the best time to do it. Drive my Ferrari, show off to my relatives, show off to my friends, do my rounds, and then you thought that was true joy? You really think that those guys who sold you your Ferrari, they share their joy with you? And your relatives, wow, they share this joy with you? In truth, what you have done is just to illicit envy, jealousy, and even hatred. They are not sharing the joy with you, and what I have is that short-term pride that wow, I have something you don’t have! And I thought that was joy!

    So what we have is basically a short-term pride at the expense of somebody else. And that wasn’t true joy. And I found no joy at all on my deathbed, thinking of my Ferrari – to hold on to it, sayang it?!?

    True joy I discovered comes from interaction. Over the last few months I was so down. Interaction with my loved ones, my friends, my brothers in Christ, my sisters in Christ, and only then was I able to be motivated, able to be uplifted. To share your sorrow, to share your happiness – that’s true joy.

    And you know what makes you smile? True joy comes from helping others in hardship, and because I’ve gone through this, I know what hardship entails. In fact, there’re some cancer patients who tell me a lot of times, people come up to them and tell them, “Stay positive. Stay positive.” Yah, right. You come in my shoes and you try to stay positive! You don’t know what you’re talking about!

    But I have the licence. So I’ve been going out to meet other fellow cancer patients, to share with them, encourage them. And I know, because I’ve been through it, and it’s easier for me to talk to them.

    And most importantly, I think true joy comes from knowing God. Not knowing about God – I mean, you can read the bible and know about God – but knowing God personally; getting a relationship with God. I think that’s the most important. That’s what I’ve learnt.

    So if I were to sum it up, I’d say that the earlier we sort out the priorities in our lives, the better it is. Don’t be like me – I had no other way. I had to learn it through the hard way. I had to come back to God to thank Him for this opportunity because I’ve had 3 major accidents in my past – car accidents. You know, these sports car accidents – I was always speeding , but somehow I always came out alive, even with the car almost being overturned. And I wouldn’t have had a chance. Who knows, I don’t know where else I’d be going to! Even though I was baptised it was just a show, but the fact that this has happened, it gave me a chance to come back to God.

    Few things I’d learnt though:
    1. Trust in the Lord your God with all your heart – this is so important.
    2. Is to love and serve others, not just ourselves.

    There is nothing wrong with being rich or wealthy. I think it’s absolutely alright, cos God has blessed. So many people are blessed with good wealth, but the trouble is I think a lot of us can’t handle it. The more we have, the more we want. I’ve gone through it, the deeper the hole we dig, the more we get sucked into it, so much so that we worship wealth and lose focus. Instead of worshipping God, we worship wealth. It’s just a human instinct. It’s just so difficult to get out of it.

    We are all professionals, and when we go into private practise, we start to build up our wealth – inevitably. So my thought are, when you start to build up wealth and when the opportunity comes, do remember that all these things don’t belong to us. We don’t really own it nor have rights to this wealth. It’s actually God’s gift to us. Remember that it’s more important to further His Kingdom rather than to further ourselves.

    Anyway I think that I’ve gone through it, and I know that wealth without God is empty. It is more important that you fill up the wealth, as you build it up subsequently, as professionals and all, you need to fill it up with the wealth of God.

    I think that’s about it. It’s good to share. Thanks.

    Artikel Asal

  • Asal-Usul Perayaan Halloween Menurut Gereja Katolik

    TRICK OR TREAT!!!!

    Ketika penghujung Oktober tiba, banyak orang di berbagai negara di belahan bumi, sibuk menghias diri dengan berbagai macam kostum. Ada kostum malaikat, bentuk-bentuk hantu yang muncul dari budaya lokal, Banyak rumah dihias dengan berbagai bentuk. Yang paling diingat adalah –setidaknya di kawasan Amerika – adalah “Jack-O-Lantern”, labu
    kuning menyala dengan mulut menyeringai –dan tentu saja kumpulan anak kecil dengan kostum serba aneh yang menagih permen, trick or treat!!! Yup, it’s
    Halloween!!!

    Walaupun di Indonesia mungkin paling banter hanya dirasakan di kawasan-kawasan tertentu kota-kota besar –dan paling hanya dalam bentuk kemeriahan pesta kostum –tidak bisa dipungkiri bahwa liburan Halloween telah menyedot arus konsumerisme, seperti halnya Natal. Apa sebenarnya Halloween itu?

    Halloween berasal dari kata Hallow’s eve. Hallow adalah kata bahasa Inggris kuno untuk “Saint”. Maka Hallow’s eve adalah malam para orang kudus. Hal ini dikarenakan pada tanggal 1 November, umat Katolik di seluruh dunia merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus, dimana Gereja Katolik secara khusus menghormati semua orang kudus baik mereka yang “terdaftar”(di-kanonisasi) maupun yang tidak.
    (Sedangkan sehari setelahnya, pada tanggal 2 November, seluruh Gereja Katolik memperingati
    Peringatan Arwah Semua Orang Beriman/All Souls Day).

    Asal usul Hari Raya Orang Kudus sendiri dalam Gereja Katolik memiliki kisah yang panjang. Sampai pada abad ke-9, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Orang Kudus pada tanggal 13 Mei, dalam suasana sukacita Paskah. Dalam terang iman ini, Gereja Katolik melihat bahwa para martir adalah sungguh-sungguh merupakan teladan dan sumber inspirasi. Hari Raya Orang Kudus/Solemnity of All Saints adalah suatu hari raya meriah untuk menghormati para kudus yang ada
    di surga. Adalah Paus Gregorius III yang kemudian menggeser tanggal tersebut menjadi tanggal 1 November untuk Gereja di Roma, Penetapan tanggal ini kemudian disebarluaskan ke seluruh Gereja Katolik di dunia oleh Paus Gregorius IV.

    Lalu bagaimana dengan arwah umat beriman? Selama seribu tahun era awal kekristenan, tidak pernah ada hari khusus untuk mengenang arwah orang yang
    meninggal. Namun hingga abad ke-7, banyak biara yang menyelenggarakan Misa Arwah tahunan bagi para arwah. Gagasan penyelenggaraan tahunan ini akhirnya mengakar juga di lapisan umat di luar biara. Sekitar tahun 1048, seorang abbas (kepala biara) menggagas tanggal 2 November, sebagai hari
    peringatan arwah. Tanggal ini dipilih untuk menegaskan bahwa dalam ajaran Katolik, hubungan
    antara orang kudus di surga (Gereja Jaya), para arwah yang menanti surga dalam api penyucian (Gereja Menderita), dan umat yang masih mengembara dunia (Gereja Peziarah), tidak pernah terputus, berdasarkan ikatan Roh Kudus dalam apa yang disebut oleh Gereja Katolik sebagai “Tubuh Mistik Kristus”.

    Ketika tanggal 2 November kemudian ditetapkan Gereja Katolik sebagai hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman yang berlaku universal, maka konsekuensinya, tanggal 31 Oktober akhirnya menjadi Vigili (malam penantian) untuk dua event besar tersebut. Tanggal 31 Oktober pula yang akhirnya
    menjadi tanggal yang dipilih oleh kaum “reformator” (cikal bakal Protestan) untuk memakukan 95 dalil di pintu Gereja Wittenberg, dengan demikian mereka secara eksplisit dan implisit menyatakan
    menolak ajaran Gereja Katolik sejak kebangkitan Kristus, yaitu persekutuan para kudus (dalam
    pengertian Katolik) dan praktik berdoa untuk kedamaian arwah orang beriman yang sudah meninggal.

    Banyak orang yang menghubungkan Halloween dengan tradisi suku Celtic. Sebenarnya, tidak ada bukti yang cukup kuat bahwa kedua Paus yang menetapkan Hari Raya Orang Kudus, sebagai inkulturasi terhadap budaya Celtic. Bahkan opini ini baru muncul ribuan tahun setelah Hari Raya Orang Kudus ditetapkan berlaku universal. Tetapi memang tidak bisa disangkal, apa yang saat ini berkembang dalam perayaan
    Halloween, memang berasal dari budaya pagan Celtic. Lalu apakah sebagai seorang Katolik, tidak boleh merayakan Halloween?

    Tentu saja boleh, karena seperti halnya Malam Natal, Malam Hari raya Orang Kudus, juga sepatutnya
    mendapat tempat di hati umat Katolik. Tidak salah mengadakan pesta kostum, tapi akan lebih baik jika pesta kostum itu diarahkan pada pengenalan akan tokoh-tokoh orang kudus, dan bukan sekadar acara pesta. Mungkin karena di Indonesia peringatan Halloween belum membudaya (karena dipandang sebagai budaya Amerika), maka keluarga-keluarga
    Katolik dapat berkumpul di rumah-rumah mereka, saling berbagi cerita mengenai riwayat hidup santo/a pelindung masing-masing, atau bisa juga membahas riwayat orang kudus yang belum terlalu dikenal bersama anak-anak. Mari kembalikan “budaya Amerika” ini menjadi “budaya Katolik”!

    🙂

    Have a blessed All Hallow’s Eve!!

    Sumber artikel

  • Bukankah Mereka Saudaramu?

    Yesus berkata: Lembu dan keledai kamu lepaskan untuk mendapatkan makanan dan minuman, maka wajarlah jika wanita yang telah menderita selama 18 tahun ini mendapatkan pelepasan dari deritanya (Luk
    13:16)

    Memelihara binatang tentunya baik, apalagi kalau itu menjadi hobby dan kesenangan kita. Membeli makanan yang mahal dan memberi yang enak kepada
    binatang adalah tanda bahwa engkau sungguh merawat/memeliharanya.

    Aku hanya membisikkan kata hatiku kepadamu sebagai sahabatku bahwa kadang harga
    bahkan makanan binatang piaraan kita lebih enak dari makanan saudara-saudara kita yang miskin di pinggir jalan kehidupan kita. Binatang piaraan mendapatkan
    jatah makan 3 kali sehari tapi kadang kita tak rela membiarkan remah-remah dari meja makan kita atau sisa-sisa duit di dompet kita setelah membeli barang mahal untuk mengenyangkan perut yang lapar dari saudara-saudari kita.

    Aku hanya mengatakan ini kepadamu; “Jika engkau senang dan mampu memelihara binatang karena engkau mempunyai uang maka tentunya tidak ada
    larangannya, tapi bila karena hanya seekor binatang maka engkau mengabaikan saudara-saudarimu di pinggir jalan kehidupanmu maka inilah kesempatan bagimu untuk memeriksa kembali suara hatimu. Aku tidak mengajarimu tentang cara hidup dan berbuat baik, tapi hanya mengingatkanmu akan kenyataan bahwa banyak binatang peliharaan kita lebih bahagia
    daripada saudara-saudari kita.
    Engkau boleh marah dan mengeritik aku tapi aku takkan
    pernah membiarkan pikiranku memadamkan gelora cinta di hatiku untuk selalu mengingatkanmu akan nilai-nilai kehidupan sebagai seorang murid Kristus.

    Mengapa? karena berapa pun besar cintamu pada binatang peliharaanmu, tapi takkan pernah engkau akan menjumpainya lagi di kehidupan berikutnya. Tapi bila
    engkau membantu saudara-saudarimu yang miskin dan papa di dunia ini, maka kuyakinkan engkau bahwa suatu saat engkau dan dia akan duduk bersama di satu meja di Rumah Sang Bapa untuk merasakan enaknya
    masakan surgawi.

    Sumber artikel

  • Pengampunan Dari Tuhan

    Pada suatu hari seorang misionaris di salah satu kepulauan Pasifik terkejut melihat seorang perempuan memasuki gubuknya sambil membawa sejumlah pasir
    yang masih basah dengan air laut.

    “Tahukah Anda apa ini?” tanyanya.

    “Sepertinya pasir,” jawab misionaris itu.

    “Tahukah Anda mengapa saya membawa pasir ini ke sini?” tanyanya.

    “Tidak, saya tidak tahu mengapa,” jawab pastor itu.

    “Inilah dosa-dosa saya,” jelas wanita itu, “dosa-dosa saya tidak terhiting banyaknya seperti pasir di laut. Bagaimana saya bisa mendapatkan pengampunan bagi
    semua dosa ini?”

    “Kamu mengambil pasir itu dari pantai, bukan?” kata misionaris itu. “Sekarang, kembalikanlah ke sana dan buatlah gundukan pasir.
    Lalu duduk dan lihatlah bagaimana ombak datang dan mengikis habis gundukan itu perlahan-lahan tapi pasti. Itulah cara bekerjanya pengampunan Tuhan. Belas kasih-Nya seluas lautan. Menyesallah sungguh-sungguh, maka Tuhan akan mengampuni engkau.”

  • Katakan YA Kepada Tuhan

    Kemarin adalah hari ulang tahun isteri

    Inilah yang saya lakukan untuknya selama beberapa hari kemarin:

    (1) Saya memberinya sebuah hadiah istimewa. Saya membeli sebuah notebook yang indah dan saya mengisi setiap halamannya dengan sebuah daftar hal-hal yang dilakukannya yang membuat saya semakin mencintainya. Dan ia sangat menyukainya, ia menangis beberapa saat ketika membaca notebook itu. Salah satu sifat yang saya sukai darinya: Sangat mudah membuatnya senang. Notebook itu seharga Rp 50.000,-.

    (2) Di depan 5.000 orang lebih pada acara Feast, saya memberinya sebuah buket bunga mawar merah mudah dan menyanyikan sebuah lagu cinta untuknya.

    (3) Kami mengadakan perayaan makan siang yang menyenangkan bersama keluarganya dan keluarga saya.

    (4) Saya membawanya ke sebuah hotel yang bagus. Menginap semalam.

    Saya menikmati relasi saya dengan isteri saya karena pada suatu ketika, saya mengatakan Ya kepada Tuhan untuk mencintai isteri saya seumur hidup saya.

    Jika saya menengok ke belakang, saya perhatikan bahwa semua hal besar dalam hidup saya dimulai dengan kata yang indah itu: Ya.

    Tuhan Memanggil Anda Untuk Mengatakan Ya

    Suatu ketika Maria dipanggil Tuhan.

    Dan mengatakan Ya kepada panggilan itu mengubah hidupnya selamanya.

    Alkitab menggambarkan panggilan Maria: Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret (Lukas 1:26-

    Lewat cerita ini, Tuhan meminta Anda untuk juga mengatakan Ya kepadaNya.

    Sekalipun jika Anda pikir Anda seorang

    “Tak Ada Seorang Pun Yang Biasa!”

    Maria tinggal di Nazaret. Jika Anda hidup di jaman itu, Anda akan mengatakan, “Naza
apa? Di manakah itu?”

    Nazaret adalah sebuah kota yang sangat kecil dan miskin. (Saya yakin tidak ada KFC atau Indomaret di sana.) Nazaret begitu kecil, mungkin ada sekitar 20 keluarga yang tinggal di sana, dan semuanya miskin.

    Jika Anda perhatikan, kriteria Tuhan untuk memilih ibu Yesus sangat berbeda dari kriteria kita.

    Jika Tuhan menggunakan kriteria kita, Ia mungkin akan memilih seorang wanita dari kekaisaran Roma atau dari keluarga rohani di Yerusalem. Ia mungkin akan memilih seorang puteri yang cantik. Seorang dari keluarga bangsawan. Seorang yang terpelajar. Tapi tidak. Ia memilih seorang wanita muda miskin dari sebuah kota kecil yang tidak diketahui orang banyak.

    Mengapa? Karena Ia ingin memberitahukan satu hal pada dunia: BagiNya, tak ada seorang pun yang biasa. Tuhan mengatakan pada Anda sekarang, “Engkau tidak biasa.”

    Pikirkan itu. Maria sama sekali bukan siapa-siapa. Maria tidak punya apa-apa. Maria tidak terpelajar. Tapi Tuhan memilihnya untuk menjadi ibu Yesus.

    Mengapa? Ketika Tuhan melihat Maria, Ia tidak hanya melihat seorang gadis berusia 14 tahun dari Nazaret yang jauh. Tuhan sudah melihat wanita yang disebutkan dalam kitab Wahyu – seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari 12 bintang di atas kepalanya.

    Dengarkan baik-baik. Tuhan berhubungan dengan Anda tidak didasarkan pada riwayat Anda tetapi pada nasib Anda. Ia berelasi dengan Anda tidak didasarkan pada siapa Anda sekarang, tetapi siapa Anda nanti.

    Jadi sekalipun jika Anda berpikir Anda seorang yang biasa katakan Ya kepadaNya.

    Mengapa Anda Perlu Mengatakan Ya

    Ini suatu kenyataan: Segala hal yang baru hanya dimulai dengan Ya.

    Suatu relasi yang baru tidak mulai jika Anda tidak mengatakan Ya. Suatu pekerjaan baru tidak mulai jika Anda tidak mengatakan Ya. Sebuah latihan, atau diet, atau proyek, atau pelayanan, atau berkat, atau keajaiban tidak mulai kecuali Anda mengatakan Ya.

    Anda tidak memasuki tahap baru dalam hidup Anda jika Anda tidak mengatakan Ya.

    Maria berkata, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu itu.”

    Inilah jawaban Ya dari Maria. Dan Natal

    Ketika saya berumur 12 tahun, saya mengatakan Ya kepada Tuhan. Dan sejak itu saya terus mengatakan Ya.

    Mengatakan Ya mengubah hidup saya.

    Ketika Anda mengatakan Ya, Anda mengubah hidup Anda selamanya.

    Mengatakan Ya berarti tiga hal penting:

    1. YA Berarti Memberi Kepercayaan Anda

    Beberapa orang mengatakan bahwa menjadi seorang yang rohani akan membuat hidup Anda membosankan. Biasa-biasa. Tidak

    Saya sangat tidak setuju!

    Ketika saya mengatakan Ya kepada Tuhan, hidup saya menjadi petualangan yang seru, mendebarkan, membuat detak jantung berhenti, dan memompa adrenalin. Dibandingkan dengan hidup saya, hidup Indiana Jones cukup membosankan!

    Karena saya mengatakan Ya kepadaNya, saya telah melalui petualangan yang luar biasa. (Semua karena belas kasih Tuhan. Tak ada hubungannya dengan saya!)

    Ketika saya berumur 13 tahun, saya mengatakan Ya untuk memberi kotbah pertama saya di sebuah persekutuan doa kecil. Saya tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya saya akan berkotbah di 14 negara di seluruh penjuru dunia – dan berkotbah untuk 5.000 orang lebih setiap hari Minggu dalam acara Feast di Philippine International Convention Center (PICC).

    Ketika saya berumur 14 tahun, saya memimpin persekutuan doa pertama dari Light of Jesus Family. Itu adalah sebuah kelompok kecil terdiri dari 30 orang yang berkumpul di garasi yang sempit. Saya tidak pernah menyangka kalau tiga dekade kemudian, kelompok itu bertumbuh menjadi sebuah pelayanan yang tersebar ke seluruh dunia.

    Ketika saya berumur 14, saya tinggal di perkampungan kumuh, melakukan pelayanan di antara yang termiskin dari yang miskin. Saya tidak pernah menyangka kalau suatu hari, saya akan tinggal di daerah terpencil selama tiga tahun, tanpa listrik dan air leding, membangun pelayanan Anawim kami bagi orang-orang lanjut usia yang terlantar.

    Ketika saya berumur 20, saya menulis buku pertama saya. Saya tidak pernah menyangka kalau suatu hari, saya akan menjadi seorang pengarang dari 21 buku yang akan dibaca oleh ratusan ribu orang. (Baru-baru ini, seorang wanita datang kepada saya dengan berlinangan air mata dan berkata, “Bo, bukumu menyelamatkan hidup saya. Saya begitu depresi, dan kemudian saya mengambil bukumu, dan saya disembuhkan.” Pengalaman mengharukan seperti ini yang membuat semua upaya saya menulis buku tidak sia-sia.)

    Ketika Anda mengatakan Ya kepada Tuhan, Anda mengatakan Ya kepada Yang Tidak Diketahui.

    Ia akan membimbing Anda ke tempat yang bahkan tidak dapat Anda bayangkan sekarang.

    Anda tidak tahu persis apa yang akan

    Karena itulah Ya membutuhkan Kepercayaan.

    Penundukkan diri berarti percaya.

    Anda perlu percaya bahwa yang terbaik akan datang.

    2. YA Berarti Memberikan Kebebasan Anda

    Sekarang saya belajar bahwa kebebasan tidak datang dari memaksakan keinginan Anda sendiri. Kebebasan tidak datang dengan menjadi keras kepala.

    Kebebasan berasal dari penundukkan

    Sebaliknya, ketika Anda mengikatkan diri Anda kepada Tuhan, ketika Anda membuang diri Anda ke dalam pelukanNya, ketika Anda menyerahkan kebebasan Anda kepada Tuhan, itulah saatnya Anda mengalami kebebasan yang sesungguhnya.

    Teman, tundukkan diri Anda kepada Tuhan hari ini!

    Tanpa alasan!

    Yang akan membawa kita pada arti ketiga dari Ya.

    3. YA Berarti Memberikan Keterbatasan Anda

    Setelah Malaikat memberitahu Maria kalau ia akan melahirkan Yesus, Maria berkata kepada malaikat, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

    Tokoh lain dalam Alkitab juga mempunyai alasan lain ketika Tuhan memanggil mereka.

    Musa mengatakan, “Aku tidak pandai bicara.”

    Yeremia mengatakan, “Aku terlalu muda.”

    Abraham mengatakan, “Aku terlalu tua.”

    Petrus mengatakan, “Aku juga berdosa.”

    Orang-orang belum berubah. Sifat alami manusia belum berubah.

    Hingga hari ini, kita senang berdalih. Kita senang menjelaskan mengapa panggilan Tuhan adalah tidak mungkin:

    “Saya terlalu miskin.”

    “Saya tidak punya waktu.”

    “Saya terlalu sibuk.”

    “Saya tidak cukup pandai.”

    “Saya tidak cukup kaya.”

    “Saya tidak bisa apa-apa.”

    Tapi inilah yang saya temukan tentang alasan-alasan: Alasan Anda adalah alasan Tuhan untuk mewujudkan kuasaNya. Berikan keterbatasan Anda padaNya. Karena keterbatasan Anda adalah panggung Tuhan untuk mukjizatNya.

    Apa keterbatasan Anda? Kelemahan

    Persembahkan itu kepada Tuhan sekarang.

    Katakan Ya kepadaNya.

    Biarkan Ia memakai Anda – dan menyambut Anda ke suatu dunia yang belum Anda bayangkan.

    Semoga impian Anda menjadi kenyataan, Bo Sanchez

    (Diterjemahkan oleh: Jessica Jeanne Pangestu)