Category: Renungan Harian

  • Ayah, anak dan keledai

    Seorang pria dan putranya pergi ke pasar dengan menuntun keledai mereka. Saat mereka berjalan di sisi keledai, seorang penduduk desa melewati mereka dan berkata: “Dasar bodoh, apa gunanya keledai selain untuk ditunggangi?”

    Maka pria itu menaikkan anaknya ke keledai dan mereka melanjutkan perjalanan. Namun, tak lama kemudian mereka melewati sekelompok pria, salah satunya berkata: “Lihat anak muda pemalas itu, dia membiarkan ayahnya berjalan sambil menunggangi keledai.”

    Maka pria itu memerintahkan anaknya untuk turun, dan naik sendiri. Namun, mereka belum berjalan jauh ketika mereka melewati dua wanita, salah satunya berkata kepada yang lain: “Malu pada orang malas itu karena membiarkan putranya yang malang berjalan dengan susah payah.”

    Nah, pria itu tidak tahu harus berbuat apa, tetapi akhirnya dia menyuruh si anak untuk ikut menunggangi si keledai. Saat itu mereka telah tiba di kota, dan orang-orang yang lewat mulai mengejek dan menunjuk mereka. Pria itu berhenti dan bertanya apa yang mereka ejek. Orang-orang itu berkata: “Tidakkah kamu malu pada dirimu sendiri karena telah membebani keledai malangmu dengan dirimu dan anakmu yang besar itu?”

    Pria dan anak itu turun dan mencoba berpikir apa yang harus dilakukan. Mereka berpikir dan berpikir, sampai akhirnya mereka menebang sebuah tiang, mengikat kaki keledai itu padanya, dan mengangkat tiang dan keledai itu ke bahu mereka. Mereka berjalan di tengah tawa semua orang yang bertemu mereka sampai mereka tiba di sebuah jembatan. Tiba-tiba keledai itu berhasil melepaskan salah satu kakinya, menendang dan menyebabkan anak itu melepaskan ujung tiangnya. Dalam pergumulan itu, keledai itu jatuh dari jembatan, dan karena kaki depannya masih terikat, keledai itu pun akhirnya tenggelam.

    “Berusaha memuaskan semua orang, dan kamu tidak akan memuaskan siapa pun.”

  • Renungan Harian 15 November 2012

    Renungan oleh Romo Ign Sumarya SJ – 15 nov:

    “Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini”
    (Flm 7-20; Luk 17:20-25)

    ” Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan
    Allah ada di antara kamu.” Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Akan datang waktunya kamu ingin
    melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang
    satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini” (Luk 17:20-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

    Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
    · Kerajaan Allah berarti Allah yang meraja atau menguasai. Kapan Allah sungguh merajai atau
    menguasai kita, umat beriman? Allah sungguh merajai atau menguasai kita tidak lain adalah ketika kita hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Pada masa kini hemat saya hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur akan menghadapi banyak masalah, tantangan dan hambatan, mengingat dan
    memperhatikan kemerosotan moral menjiwai hampir semua bidang kehidupan bersama di tengah masyarakat. “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu”, demikian sabda Yesus. Memang di antara kita pasti ada orang-orang yang sungguh baik, bermoral atau berbudi pekerti luhur, demikian pula kami percaya bahwa dalam diri pribadi kita masing-masing ada kehendak baik. Maka marilah kita sharingkan kehendak baik kita kepada saudara-saudari kita serta kemudian kita sinerjikan sehingga ada satu kehendak baik milik bersama-sama untuk selanjutnya diwujudkan bersama-sama. Jika dalam kebersamaan kita pasti mampu mengatasi aneka hambatan, masalah dan tantangan, dan tentu saja kita semua harus siap sedia untuk berkorban dan berjuang, yang mungkin disertai oleh aneka penderitaan. Tak pernah ada perjuangan tanpa pengorbanan dan penderitaan.
    Perhatikan para atlit atau olahragawan yang sukses:
    bukankah mereka sungguh berjuang dengan pengorbanan dan penderitaan. Kami berharap, sekali
    lagi kami tujukan atau arahkan kepada para orangtua:
    janganlah memanjakan anak-anak anda, melainkan sedini mungkin pelan-pelan, berproses perkenalkan dan didik anak-anak bahwa untuk hidup baik,
    sejahtera, bahagia dan selamat orang harus berjuang dengan pengorbanan dan penderitaan. “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit
    dahulu, bersenang-senang kemudian”, begitulak kata sebuah pepatah yang selayaknya menjadi acuan hidup kita: bekerja keras dahulu baru gajian.

    · “Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku. Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan,tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus, mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus — dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.” (Flm 7-11). Onesimus adalah sesuatu yang berguna, menguntungkan dan bermanfaat. Yang dimaksudkan dalam kutipan di atas ini antara lain adalah Kitab Suci atau sabda-sabda Tuhan. Selama berada dalam penjara karena Kristus Yesus, Paulus tidak tinggal diam, melainkan tetap giat dan rajin membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci (dalam kesendirian tanpa diganggu orang sungguh merupakan kesempatan untuk secara pribadi bertemu dengan Tuhan). Maka marilah di Tahun Iman ini kita tingkatkan dan perdalam dalam hal membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Kita semua kiranya mendambakan keuntungan terus menerus dalam hidup dan bekerja, tetapi lebih dalam hal keselamatan jiwa. Jika kita sungguh mendambakan keuntungan terkait dengan keselamatan jiwa kita, maka jangan melupakan hidup rohani atau doa setiap hari, dan tentu saja kapan pun dan dimana pun senantiasa melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia. Akan menjadi kegembiraan besar dan tak akan mudah terlupakan jika apa yang kita lakukan sungguh menyelamatkan jiwa kita sendiri maupun jiwa orang lain yang kena dampak hidup dan kerja kita.

    “Yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN
    mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Ny
    a.TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya” (Mzm 146:7-10)

  • Renungan Harian Senin 12 November 2012

    Renungan oleh Romo Ign Sumarya SJ – 12 nov:

    “Jagalah dirimu!”
    (Tit 1:1-9; Luk 17:1-6)

    “Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

    Berefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yosafat, Uskup dan Martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
    Orang yang tak dapat menjaga atau mengurus dirinya dengan baik dan benar pasti tak mungkin atau tak dapat menjaga atau mengurus orang lain. Dengan kata lain orang yang tak dapat mengurus atau menjaga dirinya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain melakukan dosa atau tindak kejahatan. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar dalam hidup sehari-hari tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain serta dengan rela dan besar hati mengampuni siapapun yang menyalahi atau menyakiti kita alias berdosa. Pertama-tama kami mengajak dan mengingatkan kita semua di dalam Tahun iman ini hendaknya kita sungguh menjaga dan mengurus iman kita sebaik mungkin. Secara khusus kepada para gembala atau pelayan umat kami harapkan dapat menjadi contoh atau teladan dalam penghayatan iman.

    Memang setia pada iman pada masa kini sungguh merupakan bentuk penghayatan rahmat kemartiran, mengingat dan memperhatikan kemerosotan moral terjadi di sana-sini dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi saksi kasih pengampunan pada masa kini kiranya juga merupakan salah satu bentuk penghayatan rahmat kemartiran, mengingat dan
    memperhatikan bahwa banyak orang lebih suka balas dendam ketika dirinya disakiti atau dipersulit hidupnya. Yesus mengingatkan bahwa jika kita
    memiliki iman sekecil ‘biji sesawi’ saja kita dapat melakukan sesuatu yang luar biasa, termasuk menjadi
    saksi iman dalam kondisi dan situasi apapun serta mengampuni mereka yang menyalahi atau menyakiti kita. Marilah kita hidup saling mengampuni sebagai
    perwujudan iman kita kepada Tuhan, yang senantiasa mengampuni kesalahan dan dosa-dosa kita.

    “Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu,yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah,melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya” (Tit 1:5-9).

    Kutipan di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi para pelayan atau gembala umat, yaitu hendaknya “tidak bercacat, tidak angkuh, buka
    pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar”. Dari hal-hal yang bersifat negatif di atas kiranya yang baik diusahakan pada masa kini adalah ‘bukan pemarah dan tidak serakah’, dengan kata lain senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati
    dan sederhana. Jika dapat rendah hati dan sederhana maka pasti suka memberi tumpangan, yang baik, bijaksana, adil, saleh dan dapat menguasai diri.

    Menguasai diri berarti mengendalikan diri dan ketika
    orang dapat menguasai diri maka sikap terhadap orang lain pasti akan melayani, sebaliknya jika orang tak dapat menguasai diri maka sikap terhadap yang lain pasti menindas dan mencelakakan. Kesederhanaan dalam cara hidup dan cara bertindak para pelayan atau gembala umat sangat diharapkan. Maka jika ada pelayan atau gembala umat tidak hidup sederhana hendaknya umat tidak takut menegor dan mengingatkannya.

    “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.”Siapakah yang
    boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?””Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.” (Mzm 24:1-4)

    Ign 12 November 2012

  • Renungan Harian Minggu, 11 November 2012

    Renungan oleh Romo Ign Sumarya SJ :

    Mg Biasa XXXII : 1Raj 17:10-16; Ibr 9:24-28; Mrk 12:38-44

    “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.”

    Ketika saya ditahbiskan menjadi imam kurang lebih 29 tahun yang lalu, saya ditawari untuk mempersembahkan Perayaan Ekaristi pertama kali bagi umat paroki saya oleh pastor paroki. Saya ditawari untuk mempersembahkan di gereja induk, paroki Wedi, atau di kapel stasi Gondang, yang sekarang sudah menjadi paroki sendiri. Dan saya cenderung memilih di kapel stasi. Mendengar pilihan ini pastor paroki memberi penjelasan bahwa kondisi kapel stasi Gondang sedang amburadul karena sedang direnovasi. Mendengar penjelasan tersebut saya jawab bahwa tidak apa-apa, toh zaman Yesus dulu ketika mengadakan perjamuan malam terakhir juga di
    tempat yang sangat sederhana. Pilihan saya disetujui dan kemudian diinformasikan ke umat stasi Gondang pada umumnya dan secara khusus kepada umat
    wilayah Sumyang, desa asal saya. Sungguh pengalaman yang mengesan bahwa ketika umat
    wilayah mendengar hal itu, umat kemudian bergotong-royong untuk menyelesaikan renovasi kapel dalam waktu satu minggu (maklum mayoritas umat desa saya bekerja sebagai ‘tukang batu’, buruh bangunan, termasuk bapak saya). Mereka bergotong-royong dari pagi hari sampai malam, yang berarti mereka tidak bekerja selama seminggu, tidak memperoleh pendapatan selama seminggu. Bukankah mereka bagaikan janda miskin, yang dikisahkan dalam warta gembira hari ini, “yang memberi lebih banyak dari semua orang”. Maka kami mengajak anda sekalian untuk merenungkan sabda Yesus di bawah ini.

    “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:43-44)

    Persembahan kepada Tuhan dalam bentuk apapun merupakan symbol persembahan diri kepada Tuhan.
    Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak
    anda sekalian untuk meneladan janda miskin di atas, yaitu bukan memberi persembahan dari kelebihan, melainkan dari kekurangan. Hanya memberi dari kelebihan hemat kami bagaikan membuang sampah, dengan kata lain memperlakukan si penerima pemberian sebagai ‘tempat sampah’ alias melecehkan atau merendahkan harkat martabat manusia, melanggar hak azasi manusia. Orang yang memberi persembahan atau sumbangan yang demikian itu berarti orang pelit dan tidak sosial. Orang yang bersikap mental ‘memberi dari kelimpahan’ pada umumnya ketika diberi tugas pekerjaan juga tak pernah selesai pada waktunya atau sekiranya selesai pasti selesai pada detik terakhir atau ‘deadline’. Sebagai orang beriman yang berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, marilah kita tanpa syarat sungguh mempersembahkan diri kepadaNya dalam atau melalui cara hidup dan cara bertindak kita sejak sadar bangun pagi sampai menjelang istirahat malam, bahkan selama istirahat atau tidur pun hendaknya juga pasrah diri sepenuhnya kepadaNya, sehingga dapat tidur nyenyak dan ketika bangun menjadi segar bugar.

    Kami berharap kepada orang-orang kaya akan harta benda dan uang tidak pelit dalam hal memberi sumbangan atau persembahan. Ingatlah dan hayati
    bahwa kekayaan anda tidak pernah terlepas dari orang-orang yang membantu anda dalam berkarya, misalnya para pegawai atau buruh, demikian juga peran konsumen produk usaha anda juga sangat membantu perolehan kekayaan atau uang anda. Sebagai contoh produk mie instant atau rokok, yang pada umumnya konsumennya adalah orang-orang miskin atau pedesaan dan pegunungan. Anda dapat menaikkan harga seenaknya dan para konsumen pun akan tetap membelinya. Maka ingatlah orang-orang miskin, pedesaan dan pegunungan. Demikian juga kami berharap kepada para pejabat atau petinggi pemerintahan, entah yang ada di badan legislatif,
    eksekutif, maupun yudikatif untuk mengingat dan menyadari bahwa anda harus melayani rakyat, dan gaji atau imbal jasa yang anda terima berasal dari
    pemasukan pajak, yang juga tak terlepas dari peran orang-orang miskin, pedesaan, pegunungan yang menjadi konsumen produk aneka usaha. Semoga anda
    yang duduk atau berkarya dalam pemerintahan tidak melakukan korupsi atau cari enaknya sendiri.

    “Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.” Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.” (1Raj 17:13-16)

    Kutipan di atas ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam hal memberi sumbangan atau persembahan atau dalam kehidupan bersama kita dengan siapapun dan dimana pun. Kita diharapkan senantiasa untuk mendahulukan orang lain maupun
    memperhatikan para pelayan umat atau gembala umat. Dalam hal ini kami percaya rekan-rekan ibu
    sebagai perempuan pasti memiliki pengalaman dalam hal mendahulukan yang lain, misalnya anak-anaknya, yang dianugerahkan oleh Tuhan. Saya pribadi memiliki pengalaman yang mengesan terhadap ibu atau
    ‘simbok’ saya, dimana ketika memperoleh rezeki berupa makanan senantiasa anak-anaknya yang pertama-tama harus menikmatinya atau mengkosumsi, dan jika perlu ibu saya sama sekali
    tidak mencicipinya alias berpuasa atau matiraga. Kepedulian atau kepekaan kepada yang lain kiranya
    perlu dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga, sehingga ketika mereka tumbuh
    berkembang menjadi orang dewasa akan menjadi pribadi yang peduli atau peka terhadap orang lain. Jika dicermati dalam hidup sehari-hari kiranya harus diakui
    bahwa pembinaan kepedulian atau kepekaan kepada orang lain dalam diri anak-anak kurang memperoleh
    perhatian yang memadai, ada kecenderungan generasi muda masa kini bersikap mental egois, kurang atau tidak peduli pada orang lain maupun lingkungan hidupnya. Hal ini kami cermati juga di antara para seminaris di Seminari Menengah Mertoyudan. Ada kemungkinan hal ini disebabkan oleh korban keluarga berencana, yang difahami secara sempit yaitu pembatasan kelahiran: satu atau dua anak cukup. Jika dalam keluarga hanya ada satu atau dua anak pasti ada kecenderungan untuk memanjakan anak-anak dan kemudian anak-anak tumbuh berkembang menjadi orang yang egois.

    Memang pada masa lalu pada umumnya di dalam keluarga tidak hanya satu atau dua anak saja, tetapi empat atau lebih. Memang dalam hal memenuhi kebutuhan fisik atau financial sungguh berat dan penuh dengan tantangan, namun demikian ada suatu
    pengalaman menarik dan tak terlupakan, yaitu secara otomatis terjadi pembinaan kepedulian atau social pada diri anak-anak, antar kakak-adik. Pengalaman saling memperhatikan antar kakak-adik inilah yang kemudian akan menjadi modal untuk terus diperkembangkan dan diperdalam dalam kehidupan bersama yang lebih luas, di dalam masyarakat maupun tempat kerja.

    “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa
    banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk
    menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” (Ibr 9:27-28).

    Kutipan ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi siapapun yang beriman kepada Yesus Kristus, yaitu “mengorbankan diri untuk menanggung dosa banyak orang”

    “Yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN
    mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya
    Sion, turun-temurun! Haleluya” (Mzm 146:7-10)

    Ign 11 November 2012

  • Renungan Harian 10 Nov 2012

    Mutiara Iman, Sabtu 10 November 2012
    Pw. St.Leo Agung, PausPujG (P)

    “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar”(Luk. 16:10)


    LECTIO :

    Flp. 4:10-19;
    Mzm. 112:1-2,5-6,8a,9;
    Luk. 16:9-15;

    MEDITATIO : Suatu kali saya bertemu dengan seorang pengusaha. Kebetulan saat ini perusahaannya bertumbuh dengan baik. Ketika saya tanyakan, bagaimana ia awalnya dia terjun dalam dunia usahanya ini dan cara mengembangkannya. Menurut ceritanya, dia mengawali usahanya karena didesak oleh kebutuhan menyediakan susu untuk anak-anaknya. Sebagai langkah awal dia membuat produk yang mudah namun banyak dibutuhkan orang. Dia menekuni yang sederhana itu dan sekarang ini diapun mampu membuat hal-hal yang sangat rumit dan bermutu dengan kuantitas yang sangat besar.

    Yesus bersabda, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar”. Kadang kita meremehkan perkara-perkara kecil, entah karena bila melakukan hal tersebut gengsi kita tidak terangkat, entah karena kita terobsesi pada hal-hal besar ataupun alasan-alasan yang lain. namun mengerjakan perkara-perkara kecil dengan setia akan melatih kita agar teliti, cermat dan berdaya tahan. Pelatihan ini akan membentuk karakter kita. Dan bila hal itu kita lewati, kita akan bisa melakukan yang lebih besar lagi. Bila ingin mengerjakan yang besar dengan baik, lewatilah dahulu hal-hal kecil dengan sempurna. (Petrus noegroho Agoeng,Pr)

    CONTEMPLATIO : Bayangkan Yesus berdiri di hadapanmu dan bertanya: “Apakah yang telah kau lakukan dengan talenta yang Kuberikan padamu? Apakah kamu mengembangkan atau malah menyembunyikannya?” Apa jawabanmu pada Yesus? Rasakan suasana hatimu … bersyukurlah selalu …

    ORATIO : Tuhan terimakasih atas rahmat dan talenta yang Kau berikan kepadaku. Semoga aku makin bisa mengembangkannya dengan tekun dan setia. Amin.

    MISSIO : Aku akan mempercayai bahwa Tuhan telah memberi bekal talenta pada diriku untuk hidup sehingga aku akan lebih percaya diri dan mengembangkannya dengan tekun dan setia.

    Dikutip dari Renungan Harian Mutiara Iman 2012 Tahun B/II.

  • Renungan Harian 9 Nov 2012

    Renungan oleh Romo Ign Sumarya SJ

    Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran
    Yeh 47:1-2,8-9,12 atau 1Kor 3:9b-11,16-17; Yoh 2:13-22
    “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat
    rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan”.

    Gereja Basilik Lateran adalah kapel atau gereja pribadi Paus. Telah menjadi kebiasaan juga bahwa setiap kardinal yang baru dilantik pada umumnya juga ‘diserahi’ kapel tertentu di Vatican, meskipun kemudian kardinal yang bersangkutan tidak mengunjungi kapel tersebut. Kitab Hukum Kanonik (KHK) mengatakan bahwa “dengan sebutan gereja dimaksudkan bangunan suci yang diperuntukkan bagi ibadat ilahi dimana kaum beriman berhak untuk masuk melaksanakan ibadat ilahi, terutama
    ibadat yang dilangsungkan secara publik” (KHK kan 1214). Lebih lanjut dikatakan bahwa “Hendaknya semua orang yang bersangkutan berusaha agar di gereja-gereja dipelihara kebersihan dan keindahan yang layak bagi rumah Allah dan agar segala sesuatu yang tidak cocok dengan kesucian tempat itu dijauhkan dari padanya” (KHK kan 1220 $ 1). Maka dalam rangka mengenangkan Pemberkatan Gereja Basilik Lateran, hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mengusahakan dan menjaga kesucian dan kebersihan tempat-tempat ibadat, dan untu itu marilah kita renungkan atau refleksikan sabda Yesus di bawah ini.

    “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yoh 2:6).
    Entah secara kebetulan atau sungguh merupakan panggilan Tuhan bagi saya: yang menurut catatan tgl 9 November, pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran, juga merupakan hari jadi atau ulang tahun saya (9 Nov 2012: hut saya ke 60) dan saya selama kurang lebih 10 (sepuluh tahun) bertugas sebagai Ekonom KAS, yang antara lain bertugas merencanakan, merawat dan memperhatikan pembangunan gedung gereja atau kapel. Memang selama bertugas sebagai Ekonom KAS maupun sampai kini saya merasa terpanggil untuk mengusahakan dan menjaga kesucian dan kebersihan tempat ibadat, entah itu gereja atau kapel, termasuk tempat-tempat ziarah. Selama bertugas menjadi Ekonom saya pribadi belajar banyak hal berhubungan dengan bangunan (arsitektur, lingkungan hidup dst..). Sabda Yesus di atas senantiasa mengiang-iang dalam diri saya setiap kali memasuki tempat-tempat ibadat. Apakah masih ada orang-orang yang menjadikan tempat ibadat untuk berjualan atau berbisnis alias mencari keuntungan pribadi? Hemat saya sampai kini masih ada. Ada juga yang mengkomersielkan ibadat atau Perayaan Ekaristi, misalnya pengumpulan dana atau sumbangan dengan Perayaan Ekaristi. Bahkan selama bertugas sebagai Ekonom saya juga pernah
    menegor dengan keras panitia pembangunan kapel dan seksi-seksi sosial paroki, karena pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya sungguh komersial. Kami mengajak dan mengingatkan anda semua untuk menjaga dan mengusahakan kesucian dan kebersihan tempat ibadat, maka jangan ada seorangpun yang bersikap mental materialistis atau bisnis memfungsikan tempat ibadat apalagi melakukan tindakan maksiat alias tak bermoral.

    Para pengurus dan pengelola tempat-tempat ibadat atau ziarah kami harapkan bertindak tegas dengan meneladan Yesus: mengusir mereka yang ‘berjualan’
    atau berbisnis serta mencari keuntungan pribadi tempat-tempat ibadat atau ziarah yang menjadi tanggungjawabnya. Kami juga berharap kepada siapapun bahwa dengan memasuki tempat ibadat atau ziarah anda semakin suci, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Apa-apa yang dijual di lingkungan tempat ibadat hendaknya juga mendorong atau memotivasi pembelinya semakin suci, entah itu berupa makanan atau minuman, sarana berdoa maupun tempat penginapan atau istirahat. Ada kemungkinan tempat ziarah digunakan untuk pacaran rekan-rekan muda-mudi: baiklah hal itu diawasi agar jangan melakukan tindakan amoral, dan semoga dengan berpacaran di tempat zairah anda juga semakin diperjelas dan dijernihkan serta diteguhkan dalam saling mengasihi. Kepada kita semua yang memasuki tempat ibadat atau ziarah serta beribadat atau berdoa, semoga semakin suci, semakin hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Maka selanjutnya marilah kita renungkan sapaan atau peringatan Paulus di bawah ini.
    “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu” (1Kor 3:16-17)

    Paulus mengingatkan kita semua bahwa diri kita, tubuh kita, adalah bait Allah, dan dengan demikian kita dipanggil untuk mengusahakan dan menjaga kebersihan dan kesucian tubuh kita masing-masing. Pertama-tama marilah kita sadari dan hayati bahwa kita semua diciptakan oleh Allah karena kasihNya dengan bekerjasama dengan orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi. Dengan kata lain bukankah masing-masing dari kita adalah ‘buah kasih’ atau ‘yang terkasih’? Maka mengusahakan dan menjaga agar tubuh kita tetap sebagai ‘bait Allah’ alias suci, hendaknya kita fungsikan seluruh anggota tubuh kita untuk mengasihi alias membahagiakan dan menyelamatkan orang lain.

    Kami berharap juga tidak ada orang yang mengkomersialkan tubuhnya atau mencemari diri dengan tindakan amoral. Pencemaran tubuh secara pribadi dapat terjadi dengan tindakan yang terkait dengan kenikmatan seksual, misalnya masturbasi atau onani. “Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. ‘Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat bertentangan dengan ketertiban’, karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apapun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya’. Kenikmatan seksual yang dicari karena dirinya sendiri tidak mempunyai ‘tujuan susila yang dituntut oleh hubungan seksual, yaitu yang melaksanakan arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga satu pembuahan manusiawi yang sebenarnya di dalam cinta yang
    sebenarnya” (Kamus Gereja Katolik no 2351). Kami juga berharap kepada rekan-rekan suami-isteri untuk saling setia satu sama lain, tidak berselingkuh, karena dengan berselingkuh berarti mencemari relasi suami-isteri; demikian juga hendaknya entah suami atau isteri menyeleweng dengan caranya sendiri, berganti pasangan dalam hubungan seksual. Ingatlah dan sadari penyakit kelamin atau HIV mengincar anda yang suka berselingkuh, dan dengan demikian mencemari tubuhnya sendiri. Menjaga dan mengusahakan kebersihan anggota tubuh tetap bersih kiranya juga penting, karena ketika kita menghadirkan diri di muka umum dimana secara fisik tubuh kita tidak bersih, misalnya bau tidak sedap, pasti akan mencemari pergaulan dan orang lain, karena orang lain akan menggerutu dan mengeluh, yang berarti mencemari kesucian dirinya.

    Pada masa kini juga marak usaha medis atau teknis dalam rangka mengusahakan dirinya tampan atau cantik, antara lain dengan adanya intervensi sarana medis atau teknis ke dalam tubuh, entah itu berupa suntikan atau operasi. Segala bentuk intervensi medis dan teknis ke dalam tubuh pasti akan memperlemah daya tahan tubuh dan dengan demikian juga mencemarkan tubuh. Marilah kita terima pada anggota tubuh yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita, dan hendaknya diingat bahwa yang penting adalah kebersihan dan keindahan serta kecantikan hati dan jiwa, bukan tubuh.

    “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.” (Mzm 46:2-3.5-6)

    Ign 9 November 2012