Blog

  • [Humor] Toko yang Menjual Istri

    Sat, 02 Nov 2013 21:00:00
    Intisari-Online.com – Sebuah toko yang menjual istri baru saja dibuka di sebuah kota besar. Para pria dapat memilih seorang istri di dalamnya.

    Di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan peraturan untuk memilih wanita yang ada di toko tersebut.

    “Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini di setiap lantai satu kali.”

    Toko tersebut terdiri dari 6 lantai. Di setiap lantainya terdapat sebuah kelompok calon istri. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai calon istri tersebut.

    Pria yang datang dapat memilih wanita di lantai satu atau lantai berikutnya, tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya, kecuali keluar dari toko.

    Alkisah, seorang pria datang ke toko istri tersebut untuk mencari calon istri.

    Di lantai 1, terdapat tulisan seperti ini: “Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat kepada Tuhan.” Pria itu tersenyum merasa senang. Kemudian ia naik ke lantai selanjutnya.

    Di lantai 2, terdapat tulisan seperti ini: “Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat kepada Tuhan, dan senang anak kecil.” Pria itu makin bersemangat dan berpikir di lantai atas pasti lebih bagus lagi, dan ia pun naik ke lantai selanjutnya.

    Di lantai 3, pria itu menemukan tulisan seperti ini: “Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, dan cantik sekali.” Pria itu menggumam, “Wah, sudah oke banget sih, tapi kan masih ada dua lantai lagi, naik lagi ah…. Lihat lagi.”

    Sampailah pria itu di lantai 4, dan ia menemukan tulisan seperti ini: “Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cantik sekali, dan suka memasak.”

    Pria itu berseru, “Wow! Aku hampir-hampir tak percaya.”

    Namun, ia tetap melanjutkannya ke lantai 5. Dan, ia menemukan tulisan seperti ini: “Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cantik sekali, suka memasak, dan humoris.”

    Pria itu tergoda untuk berhenti, tetapi rasa penasarannya membuat ia naik lagi. Gumamnya, “Ah, siapa tahu ada satu tambahan yang oke lagi.”

    Ia pun melangkah menuju ke lantai 6 dan mendapati tulisan seperti ini: “Anda adalah pengunjung yang ke-3.888.999. Tidak ada wanita di lantai ini. Lantai ini membuktikan bahwa para pria di dunia tidak pernah puas. Terima kasih telah berbelanja di toko ‘istri’.”

    Semoga dengan membaca ilustrasi pengalaman tadi, kita semakin mengucap syukur dalam segala hal.

  • Kekayaan Bukan Jaminan Kebahagiaan

    Dikisahkan, ada seorang karyawan yang masih muda usia, rajin, dan pekerja keras. Selama bekerja, pantang bagi dia tiba terlambat dan pulang lebih awal. Setiap hari dia berangkat pagi-pagi sekali dan tiba di rumah hingga larut malam. Hal itu dilakukan enam hari dalam seminggu selama bekerja di perusahaan itu. Suatu hari, karena lelah dan ngantuk luar biasa, dia mengalami kecelakaan yang mengharuskannya beristirahat di rumah sakit.

    Di sana dia bersebelahan ranjang dengan seorang pria paruh baya. Setelah saling bersapa, tidak berapa lama, mereka pun terlibat obrolan seru. “Anak muda, dari ceritamu, bapak tahu kamu serorang pekerja keras dan bersemangat. Apa yang membuatmu begitu?” tanya pria tersebut pada si pemuda.

    “Saya termotivasi oleh bos saya. Dia orang yang sangat sukses. Kelak saya pun ingin sukses seperti dia, maka saya meneladani sikap dan perilaku bos, agar suatu hari saya bisa sesukses beliau.”Jawab anak muda itu dengan penuh semangat.

    “Darimana kamu menilai kesuksesan bosmu?”

    “Bosku di usia yang sangat muda sudah menghasilkan harta yang berlimpah, memiliki beberapa perusahaan, dan banyak karyawan. Punya relasi orang-orang hebat. Penampilannya juga sangat menawan, dia selalu berpakaian indah. Pokoknya aku sangat mengagumi dan mengidolakan dia.”

    Lalu, pria itu pun bertanya “Apakah bosmu adalah orang yang bahagia?”

    Setelah terdiam sesaat, si pemuda menjawab “Eh…saya kira tidak! Saya jarang sekali melihat atau mendengarnya tertawa. Bahkan tersenyum pun bukan hal yang mudah baginya. Dia menderita sakit maag akut. Keluarganya juga berantakan, istrinya pergi meninggalkan dia. Beberapa kali saya   pernah ke rumah bos untuk mengantarkan dokumen dan lainnya. Biarpun rumahnya besar, megah dan mewah, tetapi terasa kosong, sepi, dan tampak suram.”

    Pemuda itu melanjutkan berbicara, “Pak, jujur saja, selama ini saya tidak pernah memikirkan tentang kebahagiaan. Bagi saya, sukses adalah kaya, hebat, dan keren. Tetapi, sekarang saya tahu, memiliki rumah dan uang yang banyak, ternyata tidak menjamin kebahagiaan.”

    “Lihatlah anak muda, Tuhan begitu sayang kepadamu. Kecelakaan kecil hari ini, memberimu waktu untuk berpikir dan membenahi diri. Kerja kerasmu selama ini adalah sikap yang baik dan positif, asalkan kamu tahu untuk apa itu semua. Ingin kaya tidaklah salah, tapi usahakan menjadi orang kaya yang bahagia!”

    Memiliki kekayaan sebanyak apapun tidak menjamin kebahagiaan orang. Apalagi bila memperolehnya dengan jalan yang tidak halal atau melanggar hukum alam, hukum negara, serta mengorbankan nama baik dan kehormatan diri sendiri dan keluaga. Rasanya, semua nantinya akan sia-sia.

    Mari tetap semangat dalam berkarya dan berikhtiar dengan cara yang positif, baik, dan halal! Bangun kesuksesan dengan seimbang tanpa mengesampingkan kebahagiaan diri sendiri apalagi keluarga. (BMSPS)

  • Siklus Kejahatan

    Pernah ada seorang raja yang begitu kejam dan tidak adil memimpin sebuah kerajaan. Sampai-sampai rakyatnya merindukan kematian raja atau penurunan dari tahta. Hingga suatu hari raja mengejutkan rakyatnya dengan sebuah pengumuman bahwa ia akan membuka lembaran baru.
    “Tidak ada lagi kekejaman, tidak ada lagi ketidakadilan,” janjinya. Banyak janji-janji bagus yang ia lontarkan. Ia pun dikenal menjadi seorang Raja yang lembut.

    Satu  bulan setelah transformasi, salah satu menterinya punya cukup keberanian untuk bertanya apa yang membuat perubahan dalam diri raja itu.

    Raja itu menjawab, “Ketika aku sedang berlari melalu hutan, aku melihat seekor rubah dikejar oleh anjing. Rubah melarikan diri ke dalam lubang, tapi anjing itu sempat menggigit kakinya dan membiarkannya hidup. Kemudian aku melewati sebuah desa dan melihat anjing yang sama di sana. Ia menggonggong pada seorang pria. Saat aku melihat, pria itu mengambil batu besar dan melemparkannya pada anjing itu mengenai kakinya. Tidak jauh pria itu beranjak, ia ditendang oleh seekor kuda.  Lututnya hancur karena ia jatuh ke tanah, akhirnya pria itu cacat seumur hidup. Kuda itu pun lari tapi terperosok ke dalam lubang dan kakinya patah. Berkaca pada semua yang telah terjadi, aku berpikir bahwa kejahatan akan melahirkan kejahatan. Jika aku terus memerintah dengan cara yang jahat, aku pasti akan dikalahkan oleh kejahatan. Jadi, aku memutuskan untuk berubah.”

    Menteri yang sangat yakin akan menggulingkan rajanya dan merebut tahtanya itu pun berlalu. Tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia tidak melihat jalan di depannya. Ia pun jatuh ke dalam lubang, dan lehernya patah.

    Apa yang kita berikan kepada orang lain akan kembali kepada kita. Jika kita berbuat baik kepada orang lain, baik kepada kita pun akan terjadi. Jika kita memperlakukan orang lain dengan buruk, giliran kita juga akan datang.

  • Menukar Yang Berharga

    Untuk memperingati ulang tahun pernikahan mereka, sepasang suami istri makan malam di sebuah restoran. Semua berjalan dengan lancar, makanan enak, suasana romantis, mereka bicara tentang hal-hal menyenangkan dan bernostalgia. Ketika hendak membayar tagihan, sang istri terkejut melihat ada kesalahan sebesar 10 ribu rupiah.

    Ia menanyakan hal tersebut dan mendapat jawaban yang tidak memuaskan dari si pelayan. Sang suami memilih untuk mengajak istrinya pulang saja, tidak usah diperdebatkan. Namun, di dalam mobil, sang istri tetap mengomel, termasuk kepada suaminya yang menurutnya tidak membela dirinya. Malam yang sedianya indah itu mendadak jadi tegang. Saat itulah, suaminya berkata, “Sayang, sadarkah bahwa kamu sudah menukar sukacita dan keindahan malam ini hanya dengan 10 ribu rupiah?”

    Berapa banyak kita sering bersikap demikian. Sukacita kita “tukar” dengan ucapan seseorang. Sepuluh tahun persahabatan di hapus hanya oleh sepuluh menit perselisihan. Sepuluh tahun kerjasama yang baik hancur oleh masalah uang sekian juta. Hubungan keluarga putus oleh masalah rupiah.

    Banyak hal besar dan penting tanpa sadar kita tukar begitu saja dengan hal-hal yang nilainya sebenarnya sama sekali tak sebanding. Tanpa sadar pada akhirnya hanya bisa menyesal karena telah menyia-nyiakan hal penting karena hal kecil, banyak orang juga pada akhirnya hanya bisa menyesal saat perselisihan telah terjadi, hubungan telah rusak dan sukacita menjadi hilang.

    Berapa banyak konflik dan kemarahan yang kita rasakan sebenarnya hanya terjadi karena hal yang tak layak dan tak penting seperti itu. Sesungguhnya saat kita marah karena hal-hal seperti kebiasaan, sikap atau ucapan seseorang sampai membuat hubungan kita dengannya menjadi rusak, maka kita sudah menukar posisi orang itu dengan hal-hal tadi.

    Layak kah?

  • Belajar dari Merpati

    Merpati adalah burung yang tidak pernah mendua hati. Mari kita perhatikan, apakah ada merpati yang suka berganti pasangan? Jawabannya adalah “tidak”! Pasangannya cukup satu seumur hidupnya.

    Merpati adalah burung yang tahu ke mana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain? Jawabannya adalah “tidak”!

    Merpati adalah burung yang romantis. Mari kita perhatikan, ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci? Jawabannya, “tidak”!

    Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Mari kita perhatikan, ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya? Jawabannya, “tidak”!

    Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan “kepahitan” sehingga tidak menyimpan dendam.

    Jika seekor burung merpati bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa manusia tidak bisa? Hidup itu indah jika kita saling mengerti, berbagi, dan menghargai.

    Bukankah demikian?

  • Mundur untuk Meloncat Lebih Tinggi

    Suatu hari seorang murid dan Gurunya berjalan menuruni gunung menuju ke kota. Di dalam perjalanan, mereka menemukan anak sungai yang aliran airnya tidak terlalu deras. Saat itu Sang Guru melangkahi sungai dengan sangat mudahnya meski sungai tersebut cukup lebar.

    Sang murid yang melihat hal tersebut sangat kagum dengan gurunya. Gurupun memintanya untuk mengikuti langkahnya. Murid itu merasa tidak mampu melangkahi sungai tersebut hanya dengan satu langkah lebar, maka ia pun berjalan mundur dua langkah dan berlari kecil melompati sungai tersebut. Hap! Ia pun berhasil melompati sungai tersebut.

    Semakin jauh perjalanan, rintangan yang dihadapi pun semakin berat. Murid itu mengikuti gurunya di belakang dengan sangat hati-hati.

    Tibalah mereka di sebuah jurang yang cukup terjal, namun tidak terlalu lebar. Di ujung jurang tersebut Sang Guru melangkahkan kaki dengan yakin dan pasti berhasil menyeberangi jurang. Sang murid yang melihatnya sangat terkejut, Guru pun berkata.

    “Ayo melangkahlah menuju sisi jurang ini. Lebar jurang ini sama seperti sungai yang kita lalui sebelumnya.”

    Murid itu menunjukkan raut keraguan di wajahnya. Dengan seksama ia memperhatikan lebar jurang serta kedalamannya dan melihat ke belakang.

    Dengan pasti ia mengambil lima langkah ke belakang dan bersiap menyeberangi jurang tersebut dengan berlari dan meloncat sekuat tenaga. Tepat sekali perhitungannya. Ia pun berhasil menyeberangi jurang berkar kecerdikannya.

    Sesampainya di seberang jurang, Sang Guru mengelus lembut kepala muridnya sambil berkata, “Wahai muridku, tahukah engkau yang membedakan loncatanmu saat di sungai dan di tepi jurang? Walaupun dengan lebar yang sama, namun kau dapat melihat rintangan yang berbeda dari kedua hal. Karena itu kau mengambil langkah mundur yang lebih banyak saat loncat di tepi jurang untuk memastikan keselamatanmu.

    Begitu juga dengan kehidupan. Saat tantangan hidup di depanmu lebih besar, kau harus melangkah mundur sedikit lebih banyak agar mampu  mengatasi segala kemungkinan yang ada dan meloncat lebih tinggi.

    Saat kamu mengalami suatu kemunduran dalam hidup, entah itu kegagalan, jatuh, dikhianati, mungkin itulah langkah mundurmu agar dapat melompat lebih tinggi dan meraih setiap kesuksesan.”

  • Gunakan Potensi yang Kita Miliki

    Suatu kali ada seorang konglomerat pengusaha yang kekayaannya diperolehnya dari nol. Apa yang dilakukannya mampu menginspirasi banyak orang.

    Karena penasaran, seorang pemuda ingin belajar menimba pengalaman dari sang konglomerat tersebut. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya pemuda tersebut berhasil menemui pengusaha sukses itu.

    “Terima kasih Bapak mau menerima saya. Terus terang saya sangat ingin menimba pengalaman dari Bapak sehingga bisa sukses seperti Bapak,” ujar pemuda itu.

    Mendengar permintaan itu, sang pengusaha tersenyum sejenak. Kemudian, ia pun meminta anak muda tadi menengadahkan satu tangannya.

    Pemuda itu terheran-heran. Lantas, pengusaha itu pun menjelaskan maksudnya, “Biar aku lihat garis tanganmu. Simaklah baik-baik apa pendapatku tentangmu sebelum aku memberikan pelajaran seperti yang Kau minta.”

    Setelah menengadahkan kedua tangannya, pengusaha itu pun berkata, “Lihatlah telapak tanganmu ini. Di sini ada beberapa garis utama yang menentukan nasib. Di sana ada garis kehidupan. Kemudian, di sini ada garis rezeki dan ada pula garis jodoh. Sekarang, genggamlah tanganmu. Di mana semua garis tadi?”

    “Di dalam telapak tangan yang saya genggam,” jawab si pemuda dengan penasaran.

    “Nah, apa artinya itu? Artinya, bahwa apapun takdir dan keadaanmu kelak, semua itu ada dalam genggamanmu sendiri. Kamu lihat bukan? Bahwa semua garis tadi ada di tanganmu. Dan, begitulah rahasi suksesku selama ini. Aku berjuang dan berusaha dengan berbagai cara untuk menentukan nasibku sendiri,” jelas si pengusaha sukses itu.

    “Kini coba lihat kembali genggamanmu. Bukankah masih ada garis yang tidak ikut tergenggam? Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu. Karena di sanalah letak kekuatan Allah Sang Maha Pencipta yang kita tidak akan mampu lakukan dan itulah bagianNya.”

    “Genggam dan lakukan bagianmu dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh, dan serahkan kepada Allah bagian yang tidak mampu engkau lakukan!”

    Semangat dan gunakan potensi kita secara maksimal yang telah dititipkan Tuhan bagi kita.

  • Inilah Bedanya Doa Ibu dan Anak

    Pada suatu hari, seorang pemuda yang bernama Daniel terlibat dalam kecelakaan. Dia ditabrak oleh sebuah taksi di sebuah jalan raya.

    Akibat dari kecelakaan itu dia cedera parah. Kepalanya luka, tangannya patah dan perutnya terburai. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter menemukan bahwa sakitnya terlalu parah dan memperkirakan dia tidak ada harapan lagi untuk hidup. Ibunya, segera dihubungi dan diberitahu tentang kecelakaan yang menimpa anaknya.

    Hampir pingsan sang Ibu mendengar berita tentang anaknya itu. Dia segera bergegas ke rumah sakit tempat anaknya dirawat. Berlinang air mata ibu melihat kondisi anaknya. Meskipun telah diberitahu bahwa anaknya sudah tiada harapan lagi untuk diselamatkan, Ibu ini tetap tidak henti-hentinya berdoa dan memohon kepada Tuhan agar anaknya itu selamat.

    Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, kondisi Daniel tidak banyak berubah. Saban hari sang Ibu menunggui anaknya itu tanpa jemu. Saban malam pula Ibu itu terbangun mendaraskan doa memohon keselamatan anaknya. Dalam keheningan malam, sambil berlinangan air mata, sang Ibu merintih meminta agar anaknya disembuhkan.

    Keyakinan sang Ibu terhadap kekuasaan Allah sangat kuat meskipun tubuh anaknya hancur cedera dan dikatakan sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup. Namun, Allah benar-benar mau menunjukkan kebesaran dan kekuasaanNya.

    Setelah 5 bulan terlantar, mukjizat itu pun terjadi, atas doa doa seorang ibu yang tak pernah putus, akhirnya Daniel menampakkan tanda-tanda kesembuhan dan akhirnya dia sembuh sepenuhnya. Berkat doa seorang ibu yang ikhlas.

    Daniel dapat terus hidup sampai berumah tangga dan mempunyai anak. Ibunya, seorang janda semakin hari semakin tua dan uzur.

    Suatu hari, sang Ibu yang berusia hampir 75 tahun jatuh sakit dan masuk rumah sakit. Awalnya, Daniel masih mengunjungi dan menjaga ibunya di rumah sakit. Tetapi semakin hari semakin jarang dia datang menjenguk ibunya sampai pada suatu hari pihak rumah sakit menghubunginya untuk memberitahukan kondisi ibunya yang semakin parah.

    Daniel segera bergegas ke rumah sakit. Di situ, Daniel menemukan kondisi ibunya semakin lemah. Nafas ibunya turun naik. Dokter memberitahu bahwa ibunya sudah tidak ada waktu yang lama untuk hidup. Ibunya bisa saja setiap saat menghembuskan napasnya yang terakhir.

    Melihat kondisi ibunya yang demikian dan konon beranggapan ibunya sedang tersiksa, lantas Daniel terus menadah tangan dan berdoa seperti ini, “Ya Allah, seandainya dia Engkau panggil menghadapMu lebih baik untuk ibu, maka Engkau panggilah ibuku! Aku tidak sanggup melihat penderitaannya. Ya Allah, aku akan merelakan dengan ikhlas dengan kepergiannya. Amin.”

    Begitulah bedanya doa ibu terhadap anak dan doa anak terhadap orang tuanya. Ketika anak sakit, seburuk apapun kondisinya, walau badan hancur sekalipun, namun orang tua akan tetap mendoakan semoga anaknya diselamatkan dan dipanjangkan umurnya.

    Tetapi anak-anak yang dikatakan ‘baik’ pada hari ini akan mendoakan agar ibu atau bapaknya yang sakit agar segera diambil oleh Allah, padahal orang tua itu baru saja sakit. Mereka meminta pada Allah agar segera di panggil ke surga karena konon sudah tidak tahan melihat ‘penderitaan’ orang tuanya.

    Apa yang akan Anda lakukan saudara jika menghadapi situasi yang seperti ini?

  • Dia Bukan Bebanku, Dia Saudaraku

    Ada seorang anak lelaki kurus berjalan sambil menggendong adiknya yang lumpuh di punggungnya. Melihat itu, seseorang berkomentar dengan penuh rasa iba, “Kasihan kau, nak. Bebanmu pasti berat!”

    Lalu anak itu menjawab secara spontan sambil tersenyum, “Dia bukan beban buatku pak, dia adalah saudaraku.”

    Itulah ilustrasi di balik lirik lagu pop karangan Bobby Scott dan Bob Russel; “He Ain’t Heavy, He’s My Brother.”

    Suatu perbuatan yang kadang dipandang sebagai beban oleh seseorang, ternyata tidak bagi orang lain. Tergantung alasannya untuk apa ia melakukan hal tersebut, jika ia melakukannya karena rasa cinta, pasti akan berbeda.

    Kekuatan terbesar dalam hidup ini adalah cinta. Banyak hal yang tampak menjengkelkan, melelahkan, dan dihindari orang lain ternyata dapat dilakukan dengan setia oleh pelakunya. Karena Cinta membuat cara pandang mereka berbeda.

    Merawat suami/istri/anak/orangtua atau anggota keluarga yang sakit. Mendampingi anak belajar meski kita sendiri lelah.  Mengantar orangtua berobat rutin. Mengerjakan pekerjaan kantor yang bertumpuk, mengejar target yang diinginkan, merapikan rumah yang selalu berantakan, dll.

    Semua hal di atas tentu akan terasa sebagai beban dan berat bila dilakukan dengan keterpaksaan, namun akan terasa berbeda jika dilakukan “dengan penuh cinta”.

    Mari menjalankan kehidupan ini dengan semangat dan cinta, agar kita mampu melakukan aktivitas sehari-hari selalu dengan penuh kegairahan dan sukacita.

  • Bersyukur Atas Anugerah Hari Ini

    Kisah berikut ini diceritakan oleh Clara, bagaimana penglihatannya dapat menipu dirinya dan membuatnya iri pada orang lain.

    Sebagian besar remaja tidak sabar untuk belajar mengemudi. Tidak demikian halnya dengan saya. Mengemudi selalu membuat saya gugup. Saya tidak pernah mendapatkan surat izin mengemudi sampai saya berusia 24 tahun.

    Akibatnya, ketika saya menikah, kami hanya memiliki satu mobil dan hanya dipakai untuk bekerja. Waktu bekerja saya dan suami pun berbeda satu jam, jam kerja saya lebih duluan daripada suami. Jadi, kalau berangkat bekerja, ia menurunkan saya, lalu ia pergi ke restoran untuk ngopi sampai waktu kerjanya datang.

    Lalu, saat sore hari sepulang kerja, saya berjalan sejauh 3 kilometer ke tempat kerjanya, kemudian menunggu di tempat parkiran mobil, dan membaca buku.

    Suatu hari saat menunggunya pulang kerja, saya melihat sebuah mobil mewah idaman berwarna biru lewat di depan saya. Saat sedang sibuk mengagumi mobil itu, saya melihat pengemudinya. Jujur, ia benar-benar wanita tercantik yang pernah saya lihat, mirip bintang film.

    Rambutnya hitam legam dan kulitnya bak pualam. Mata kami beradu dan ia tersenyum padaku. Matanya sebiru langit, dan giginya bagaikan barisan mutiara. Ia mengenakan blus biru muda, cocok sekali dengan warna mobilnya. Saya bisa melihat anting-anting emas mewahnya ketika tersibak rambut hitamnya. Ah, cantik sekali wanita ini.

    Tak lama kemudian, seorang pria ganteng keluar gedung, memasuki mobilnya, membungkuk, dan mencium wanita itu. Lalu mereka pun melaju pergi.

    Duduk di parkiran dengan kemeja dan rambut ekor kuda, saya menangis. Ah, bagaimana mungkin orang memiliki semuanya?

    Saya berusaha melupakan wanita itu, tapi minggu berikutnya, saya melihatnya lagi. Kemudian hampir rutin seminggu sekali saya melihat wanita itu. Ia tampak ramah dan selalu melambaikan tangan padaku, berkedip, dan tersenyum lebar. Saya benar-benar iri kalau berlama-lama melihatnya.

    Hampir setiap malam saya memikirkan wanita cantik itu. Saya selalu membayangkan ia dan suaminya yang ganteng itu makan keluar rumah, di mana ya mereka makan, dan apa yang mereka kenakan. Ah, ingin rasanya saya melihat ia keluar dari mobil dan melihat tubuh wanita cantik itu. Apakah ia mengenakan sepatu hak tinggi dengan roknya yang manis.

    Saya pun mendapatkan jawabannya dalam beberapa minggu kemudian.

    Duduk di parkiran menunggu suami saya pulang, seperti biasa, saya membaca buku. Saya mengawasi wanita cantik itu. Ia sedang menunggu suaminya menghampiri mobilnya. Mereka berbicara beberapa kata dan membukakan pintu mobilnya untuk wanita itu melangkah keluar. Pria itu mengambil lengan istrinya dan membantunya keluar dari mobil. Saya bisa melihat dengan baik bagaimana wanita itu keluar dari mobil. Ia mengenakan rok. Cantik sekali.

    Saya melihat wanita cantik itu pelan-pelan duduk menyamping dan memegang tongkat untuk berjalan. Ia mengangkat satu kaki dengan tangannya dan kemudian kaki yang lain. Ah, rupanya wanita cantik itu memakai kaki palsu di sebelah kiri dan kanan.

    Saya benar-benar tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Selama berminggu-minggu saya iri melihat wanita cantik ini. Sementara saya bisa berjalan tiga kilometer ke mobil kami.

    Ketika suami saya tiba dan menemukan saya menangis, ia bertanya apa yang salah dengannya. Sambil menangis, saya menceritakan wanita soal wanita cantik itu. Rupanya suami saya mengenal suami wanita itu dan tahu jalan cerita hingga wanita cantik itu mengenakan kaki palsu. Rupanya wanita cantik itu saat masih berusia 12 tahun bersama kedua orangtuanya di dalam mobil yang tertabrak kereta api. Orangtua wanita itu meninggal seketika, dan ia terluka parah.

    Sepanjang jalan pulang, aku berdoa memohon ampun padaNya. Wanita yang saya pikir punya segalanya, ternyata tidak. Saya bersyukur pada Tuhan berulang kali untuk kaki, lengan, dan penglihatan saya, dan untuk memberikan pelajaran di awal kehidupan.

    Ketika kita bertemu dengan seseorang yang tampaknya jauh lebih baik daripada kita, jangan tertipu. Seperti halnya yang saya lihat, saya ternyata lebih beruntung, masih mempunyai orangtua, serta kemampuan untuk berjalan, berlari, atau menari di kehidupan saya. Uang tidak bisa membeli apa yang saya miliki sekarang.

    —————————————–

    Catatan : Sekarang di sisi kanan halaman blog, aku sudah menambahkan fitur baru sehingga anda bisa mengikuti blog ini lewat email anda. Setiap ada tulisan baru, akan ada email yang masuk ke inbox anda untuk memberitahukan tentang tulisan baru itu. Terima kasih 🙂