Blog

  • “Cahaya” Makin Terang Saat Kita Berbagi

    Di sebuah kota, tinggal satu keluarga dengan dua orang anak laki-laki. Si sulung berusia 15 tahun, sedangkan si bungsu berusia 10 tahun.

    Karena keluarga itu tidak terlalu kaya, kedua anak mereka tidur dalam satu kamar. Mereka selalu akrab, si sulung adalah anak yang cerdas, nilai-nilainya selalu baik dan si bungsu selalu ingin tahu akan segala hal, nilai-nilai sekolahnya juga sama baiknya dengan sang kakak.

    Pada suatu malam, si bungsu bertanya pada si sulung, “Kakak, kenapa kita harus berbagi dengan orang lain. Kalau kita sering memberi dan berbagi pada orang lain, apa yang kita miliki akan habis diberikan pada orang lain, iya kan?” ujarnya dengan polos.

    Sang kakak tersenyum mendengar pertanyaan dari adiknya, dia selalu senang jika mendapat sebuah pertanyaan, berarti dia akan belajar satu hal baru dari pertanyaan tersebut.

    “Sebelum kakak menjawab, kita akan melakukan sebuah percobaan kecil,” ujar si sulung. Dia langsung mengambil lima batang lilin kecil dan korek api yang tersimpan di dalam meja belajar. Orang tua mereka sengaja menyimpan benda tersebut agar pada saat pemadaman listrik, mereka berdua tidak bingung mencari lilin di dapur.

    Si sulung membuat empat lilin tersebut berdiri di sudut kamar dan memegang satu lilin. “Sekarang, matikan lampu kamar!” perintah si sulung pada adiknya dengan nada lembut.

    Pada saat lampu telah mati, si sulung bertanya pada adiknya, “Apa yang bisa kamu lihat sekarang?”

    “Aku tidak melihat apa-apa, kak, kamar kita jadi gelap,” jawab si bungsu.

    “Baiklah…” si sulung lalu menyalakan lilin yang dia pegang dengan sebatang korek. Ruangan sudah sedikit terang, tetapi belum sepenuhnya terang. “Sekarang, lilin yang aku pegang akan membagikan sinarnya pada lilin yang lain,” Si sulung menyalakan satu lilin dengan lilin yang dia pegang. Ruangan lebih terang. Lalu lilin kedua, ruangan lebih terang lagi. Begitu seterusnya hingga lilin kelima menyala.

    “Lihat, sekarang ruangan kita sudah terang,” ujar si sulung sambil tersenyum. “Kamu bisa menyimpulkan apa yang sudah kakak lakukan?”

    Si bungsu mengangguk, “Aku mengerti, jika kakak tidak membagi sinar lilin pada lilin yang lain, kamar kita tidak akan terang. Tetapi karena kakak membagi sinar lilin pada lilin yang masih mati, kakak secara tidak langsung mendapat sinar yang lebih terang. Lilin bisa menyala, dan ruangan semakin terang,”

    Sang kakak tersenyum, “Ya, itulah kekuatan dari memberi. Percayalah, kita tidak akan kekurangan karena memberikan sesuatu baik dari segi materi, pikiran atau tenaga pada orang lain. Karena apa yang kita berikan akan menjadi umpan balik yang jauh lebih besar. Tetapi ingat, saat memberi, jangan menghitung apa yang telah kita berikan, karena Tuhan selalu punya perhitungan dengan cara-Nya sendiri.”

    Keduanya tersenyum. Malam itu, sang adik mendapat pelajaran baru yang sekiranya bisa menjadi sebuah pelajaran agar kita semua tidak pelit untuk saling berbagi pada orang lain dan lingkungan yang ada di sekitar kita.

  • Sebuah Renungan Tentang Bosan

    Pada awalnya manusialah yang menciptakan kebiasaan. Namun lama kelamaan, kebiasaanlah yang menentukan tingkah laku manusia.

    Alkisah, ada seorang yang hidupnya amat miskin. Namun walaupun ia miskin ia tetap rajin membaca. Hingga suatu hari secara tak sengaja ia membaca sebuah buku kuno. Buku itu mengatakan bahwa di sebuah pantai tertentu ada sebuah batu yang hidup, yang bisa mengubah benda apa pun menjadi emas. Setelah mempelajari isi buku itu dan memahami seluk-beluk batu tersebut, iapun berangkat menuju pantai yang disebutkan dalam buku kuno itu.

    Dikatakan dalam buku itu bahwa batu ajaib itu agak hangat bila dipegang, seperti halnya bila kita menyentuh makhluk hidup lainnya. Setiap hari pemuda itu memungut batu, merasakan suhu batu tersebut lalu membuangnya ke laut dalam setelah tahu kalau batu dalam genggamannya itu dingin-dingin saja.

    Satu batu, dua batu, tiga batu dipungutnya dan dilemparkannya kembali ke dalam laut. Satu hari, dua hari, satu minggu, setahun ia berada di pantai itu. Kini menggenggam dan membuang batu telah menjadi kebiasaannya.

    Suatu hari secara tak sadar, batu yang dicari itu tergenggam dalam tangannya. Namun karena ia telah terbiasa membuang batu ke laut, maka batu ajaib itupun tak luput terbang ke laut dalam.

    Lelaki miskin itu melanjutkan ‘permainannya’ memungut dan membuang batu. Ia kini lupa apa yang sedang dicarinya.

    Pernahkah kita merasakan kalau hidup ini hanyalah suatu rentetan perulangan yang membosankan? Dari kecil, kita sebenarnya sudah dapat merasakannya, kita harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah, lalu siang harinya kita pulang, mungkin sambil melakukan aktivitas lain seperti belajar, menonton TV, tidur, lalu pada malam harinya, makan malam, kemudian tidur. Dan keesokan harinya kita kembali bangun pagi untuk bersekolah, dan seterusnya. Hal itu kita lakukan berulang kali bertahun-tahun. Hingga akhirnya kita bekerja pun, sejumlah aktivitas kita lakukan berulang-ulang bertahun-tahun.

    Sampai kapan kita melakukannya? Pernahkah kita merasa bosan dengan aktivitas hidup kita? Bila hiidup ini hanyalah sebuah renteta perulangan yang membosankan, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menemukan nilai baru di balik setiap peristiwa hidup.

    Janganlah melihat aktivitas kita sebagai suatu kebiasaan atau rutinitas. Tapi, maknailah setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang baru, yang berlum pernah kita ketahui sebelumnya.

  • Kita Selalu Bisa Memilih

    Hidup ini begitu indah. Karena banyak pilihan yang ada di depan mata, semuanya tergantung kepada kita.

    Ketika bangun pagi, kita selalu punya pilihan untuk menyikapi hari tersebut, apakah dengan suka cita atau dengan beban yang berat.

    Ketika berada di kemacetan, kita punya pilihan untuk mengeluh atau menikmati duduk di mobil sambil mendengarkan lagu.

    Ketika dimarahi atasan, kita bisa memilih untuk membencinya atau menganggapnya sebagai guru yang memberi nasihat kepada muridnya.

    Kalau seseorang mengatakan saya tidak punya pilihan dalam hidup ini, dan akhirnya mencoba mengakhiri hidupnya, berarti orang tersebut belum memaknai hidupnya dengan baik dan benar.

    Apa pun yang kita alami saat ini, lihatlah selalu dari sudut pandang yang positif. Jangan terlalu bereaksi dengan hal yang negatif yang justru memperkeruh situasi dan  merusak pola pikir kita.

    Jika kita sedang kebingungan, sehingga tidak tahu ada pilihan lain, tenangkan sejenak pikiran kita. Ambil waktu untuk melakukan refleksi diri dengan melihat satu masalah dari dua pandangan. Pilihan kita untuk melihat sisi positif akan mengubah hidup kita dan keputusan kita.

    Ingatlah, keputusan besar dimulai dari pikiran kita sendiri.

  • Kisah Dua Kuda

    Di dekat rumah ada sebuah bidang tanah, dengan dua ekor kuda di tanah itu. Dari kejauhan, masing-masing kuda tidak ada bedanya dengan kuda lain. Tetapi jika Anda melihat lebih dekat, Anda akan melihat sesuatu yang sangat menarik. Ya, salah satu kuda itu buta.

    Pemiliknya sebenarnya tidak ingin memiliki kuda itu, tetapi ia telah membuatkan kandang yang aman dan nyaman untuk kuda itu. Ini belum cukup. Jika Anda berdiri di dekatnya dan mendengarkan, Anda akan mendengar suara bel. Itu berasal dari kuda yang satunya lagi. Melekat pada kalung kuda, sebuah lonceng kecil berwarna tembaga. Ini memungkinkan temannya yang buta tahu di mana kuda lain berada, sehingga ia bisa mengikuti kuda itu.

    Ketika kita berdiri melihat kedua ekor kuda itu, kita akan melihat kuda yang buta selalu  mengikuti kuda yang satunya lagi dengan mendengarkan suara lonceng kecil. Kuda buta itu percaya bahwa temannya tidak akan menyesatkannya. Ketika mereka akan kembali ke kandang setiap malamnya, kuda yang sehat itu akan berhenti sesekali untuk melihat ke belakang, memastikan temannya yang buta tidak terlalu jauh di belakangnya.

    Seperti halnya pemiliki kedua kuda itu, Tuhan pun tidak akan membuang kita hanya karena kita tidak sempurna. Atau karena kita memiliki masalah dan tantangan yang besar. Dia selalu  mengawasi kita bahkan membawa orang lain ke dalam hidup kita untuk membantu ketika kita membutuhkan bantuan.

    Kadang-kadang kita seperti kuda buta, yang perlu dibantu oleh suara lonceng kecil yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita. Di lain waktu, kita seperti kuda yang satunya lagi, yang membantu orang lain untuk menemukan jalan keluar bagi mereka.

  • Ternyata, Hidup Ini Sederhana

    Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh yang mewawancarai, akhirnya dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

    Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

    Ada seorang murid bekerja di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tersebut. Selain memperbaiki sepeda, anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Teman-temannya menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, anak ini diajak bekerja di tempat si empunya sepeda.

    Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

    Seorang anak berkata kepada ibunya, “Ibu hari ini sangat cantik.” Sang Ibu bertanya, “Mengapa?” Anak menjawab, “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah.”

    Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

    Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja dengan giat di sawah. Temannya berkata, “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.” Petani menjawab, “Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku.”

    Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.

    Seorang pelatih bola berkata kepada anak didiknya, “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?” Ada yang menjawab, “Cari mulai dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab, “Cari di rerumputan yang cekung ke dalam.” Dan ada yang menjawab, “Cari di rumput yang paling tinggi.” Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat, “Setapak demi setapak cari dari ujung rumput yang sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana.”

    Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat – loncat.

    Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan , “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.” Katak di pinggir jalan menjawab, “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.” Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa katak itu sudah mati dilindas mobil yang lewat.

    Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.

    Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya, “Mengapa engkau begitu santai?” Dia menjawab sambil tertawa, “Karena barang bawaan saya sedikit.”

    Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.

  • Putus Asa Karena Gagal? Jangan!

    Dua orang bersaudara memutuskan untuk menggali lubang di belakang rumah mereka. Saat mereka bekerja, beberapa pria melihat apa yang mereka lakukan.

    “Apa yang kalian lakukan?” tanya seorang pria.

    “Kami berencana untuk menggali lubang untuk membuat jalan di bawah tanah,” jawab salah seorang saudara itu penuh semangat.

    Para pria yang menonton mulai menertawakan mereka, mana mungkin menggali jalan di bawah tanah.

    Setelah diam beberapa saat, salah satu penggali mengambil botol penuh laba-laba, cacing, dan berbagai macam serangga. Ia membuka tutup dan menunjukkan isinya kepada orang yang mengejek mereka.

    Lalu ia berkata pelan dan penuh percaya diri, “Jika kita tidak menggali semua jalan di bawah tanah, lihat apa yang kami temukan di sepanjang  galian.”

    Tujuan merek memang terlalu ambisius. Tujuan membuat kita bergerak ke arah yang telah kita pilih, kita telah diatur untuk menggali.

    Tetapi tidak setiap tujuan akan tercapai. Tidak setiap pekerjaan akan berakhir dengan sukses. Tidak setiap hubungan akan bertahan. Tidak setiap harapan akan terjadi. Tidak setiap cinta akan berlangsung terus. Tidak setiap usaha akan selesai. Tidak semua mimpi akan terwujud.

    Tetapi ketika kita tidak mencapai tujuan, mungkin kita bisa mengatakan, “Ya, tapi lihatlah apa yang saya temukan di sepanjang jalan! Lihatlah hal-hal indah yang datang ke dalam hidup saya, karena saya mencoba melakukan sesuatu!”

  • Jangan Lukai Diri Sendiri

    Suatu malam seekor ular mencari makanan, ia masuk ke bengkel tukang kayu. Tukang kayu, adalah seorang pria yang tidak rapi, selalu meninggalkan peralatan tergeletak di lantai. Salah satunya adalah gergaji.

    Ular itu berputar-putar di dalam bengkel, ia melingkari gergaji, yang ternyata memberinya luka kecil. Ular itu berpikir, gergaji itu menyerangnya, maka ia berbalik menggigitnya begitu keras hingga mulutnya mulai berdarah.

    Ini membuat ular itu sangat marah. Ia pun menyerang lagi dan lagi sampai gergaji itu berlumuran darah dan tetap tidak bergerak.

    Sekarat karena luka-lukanya sendiri, ular itu memutuskan untuk memberikan satu gigitan keras lalu pergi. Keesokan paginya, tukang kayu itu terkejut menemukan ular mati di depan pintu rumahnya.

    Kadang-kadang bila kita mencoba menyakiti orang lain, kita hanya menyakiti diri kita sendiri.

  • Kualitas Pensil

    Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat, “Nenek sedang menulis tentang pengalaman kita ya? Atau tentang aku?”

    Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Sebenarnya Nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang Nenek pakai”.

    “Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar si nenek lagi.

    Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si Nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang Nenek pakai.

    “Tapi Nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya,” ujar si cucu.

    Nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini.”
    “Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.”

    Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

    “Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya” .

    “Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.

    “Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.

    “Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.

    “Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”.

  • Air “Versus” Besi

    Ada dua benda yang bersahabat karib yaitu besi dan air. Besi seringkali berbangga akan dirinya sendiri. Ia sering menyombong kepada sahabatnya, “Lihat ini aku, kuat dan keras. Aku tidak seperti kamu yang lemah dan lunak.” Air hanya diam saja mendengar tingkah sahabatnya.

    Suatu hari besi menantang air berlomba untuk menembus suatu gua dan mengatasi segala rintangan yang ada di sana. Peraturannya, barang siapa dapat melewati gua itu dengan selamat tanpa terluka maka ia dinyatakan menang.

    Besi dan air pun mulai berlomba. Rintangan pertama mereka ialah harus melalui penjaga gua itu, yaitu batu-batu yang keras dan tajam. Besi mulai menunjukkan kekuatannya, Ia menabrakkan dirinya ke batu-batuan itu. Tetapi karena kerasnya bebatuan itu mulai “menyerang” dan besi pun banyak terluka di sana sini karena melawan bebatuan itu.

    Air melakukan tugasnya, ia menetes sedikit demi sedikit untuk melawan bebatuan itu, ia lembut mengikis bebatuan itu sehingga bebatuan lainnya tidak terganggu dan tidak menyadarinya, ia hanya melubangi seperlunya saja untuk lewat tetapi tidak merusak lainnya.

    Skor air dan besi 1 : 0 untuk rintangan ini. Rintangan kedua mereka ialah harus melalui berbagai celah sempit untuk tiba di dasar gua. Besi merasakan kekuatannya, ia mengubah dirinya menjadi mata bor yang kuat dan ia mulai berputar untuk menembus celah-celah itu. Tetapi celah-celah itu ternyata cukup sulit untuk ditembus, semakin keras ia berputar memang celah itu semakin hancur tetapi iapun juga semakin terluka.

    Air dengan santainya mengubah dirinya mengikuti bentuk celah-celah itu. Ia mengalir santai dan karena bentuknya yang bisa berubah ia bisa dengan leluasa tanpa terluka mengalir melalui celah-celah itu dan tiba dengan cepat di dasar gua. Skor air dan besi 2 : 0

    Rintangan ketiga ialah mereka harus dapat melewati suatu lembah dan tiba di luar gua.  Besi kesulitan mengatasi rintangan ini, ia tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia berkata kepada air, “Skor kita 2 : 0, aku akan mengakui kehebatanmu jika engkau dapat melalui rintangan terakhir ini!”

    Airpun segera menggenang. Sebenarnya ia pun kesulitan mengatasi rintangan ini, tetapi kemudian ia membiarkan sang matahari membantunya untuk menguap. Ia terbang dengan ringan menjadi awan, kemudian ia meminta bantuan angin untuk meniupnya ke seberang dan mengembunkannya. Maka air turun sebagai hujan. Air menang telak atas besi dengan score 3 : 0.

    Air selalu berubah bentuknya sesuai dengan lingkungannya, ia fleksibel dan tidak kaku karena itu dapat diterima oleh lingkungannya dan tidak ada yang bertentangan dengannya. Air tidak putus asa, ia tetap mengalir meskipun melalui celah terkecil sekalipun. Dan sekalipun air mengalami suatu kemustahilan untuk mengatasi masalahnya, ia masih dikaruniakan kemampuan untuk mengubah dirinya menjadi uap.

    Hati seseorang hanya dapat dibuka dengan kelembutan dan kasih, bukan dengan paksaan dan kekerasan. Kekerasan hanya menimbulkan dendam dan paksaan hanya menimbulkan keinginan untuk membela diri.

  • Berani Melepaskan Sesuatu

    Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Saat ia menginjakkan kakinya ke tangga bis, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi.

    Bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

    Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, “Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan, Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga?”

    Si bapak tua menjawab, “Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.”

    Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup – jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.

    Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita. Seperti bapak tua dalam kisah tadi, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu.

    Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.

    Satu sepatu hilang, dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan.

    Berkeras hati dan berusaha mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal, suatu keadaan atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.

    Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya. Karena tiada badai yang tak berlalu. Tiada pesta yang tak pernah usai. Semua yang ada didunia ini tiada yang abadi.