Things (bad or good) aren’t happened TO you. They are happened FOR you. There is always a lesson behind everything.
Kejadian (baik atau buruk) bukan terjadi KEPADA kamu. Mereka terjadi UNTUK kamu. Selalu ada pelajaran dibalik semuanya.
Things (bad or good) aren’t happened TO you. They are happened FOR you. There is always a lesson behind everything.
Kejadian (baik atau buruk) bukan terjadi KEPADA kamu. Mereka terjadi UNTUK kamu. Selalu ada pelajaran dibalik semuanya.
Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.104.000 kali selama setahun?”
“Ha?!” seru jam terperanjat, “Mana sanggup saya?”
“Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?” tanya pembuat jam tangan lagi.
“Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” tanya jam tangan penuh keraguan.
“Oke, bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?” tanya pembuat jam itu lagi.
“Dalam satu jam harus berdetak 3.600 kali? Banyak sekali ‘kan itu,” jawab jam tangan tetap dengan ragu-ragu atas kemampuan dirinya.
Pembuat jam itu dengan penuh kesabaran kemudian berbicara lagi kepada si jam tangan itu. “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?”
“Nah, kalau begitu, aku sanggup!” jawab jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu pun berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu. Dan jam itu sungguh luar biasa karena ternayta selama setahun penuh ia telah berdetak tanpa henti. Itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31.104.000 kali.
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang terasa begitu berat. Namun sebenarnya, kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan sekalipun.
Maka, jika kita ingin melakukan hal yang besar, lakukanlah mulai dari hal kecil. Perlahan-lahan tapi pasti semua bisa tercapai dan terlewati.
Seorang pria bertemu Tuhan yang memberinya pekerjaan mendorong batu besar di depan pondoknya dengan seluruh kekuatannya.
Pria itu mengerjakannya setiap hari, sejak matahari terbit hingga terbenam. Namun, batu itu tak kunjung bergeser. Hingga pria itu merasa lelah, sedih, dan sia-sia.
Ketika ia mulai putus asa, iblis pun mengacaukan pikirannya dan mulai menggodanya, “Tugas itu sangat tak masuk akal. Engkau tidak akan pernah dapat memindahkannya.”
Pikiran tersebut membuat pria itu makin putus asa. “Lebih baik aku berhenti berusaha.”
Namun, suara kecil di hatinya mengajaknya berdoa, membawa kesedihannya kepada Tuhan.
“Tuhan,” katanya, “Aku telah bekerja keras melayaniMu dengan segenap kekuatanku. Tetapi sampai sekarang aku tidak dapat menggerakkan batu itu setengah milimeterpun. Mengapa aku gagal, Tuhan?”
Tuhan berkata dengan penuh kasih, “Anakku, ketika Aku memintamu melayaniKu, yang Kuminta adalah mendorong batu itu dengan seluruh kekuatanmu. Tak sekalipun Aku memintamu menggesernya. Tugasmu hanya mendorong. Dan kini kau datang padaKu, berpikir kau gagal. Benarkah? Lihatlah dirimu! Lenganmu kuat berotot, punggungmu tegap, dan kakimu menjadi kokoh. Kau bertumbuh dan kemampuanmu melebihi sebelumnya. Meski batu itu belum tergeser, panggilan hatimu adalah menuruti perkataanKu, terus mendorong, belajar setia, dan percaya akan hikmatKu. Anakku, sekarang Aku yang akan memindahkan batu itu.”
Kita cenderung memakai pikiran dan logika untuk menganalisa keinginanNya, bukan dengan hati.
Dua malaikat sedang bepergian, lalu berhenti untuk bermalam di rumah keluarga kaya.
Keluarga itu dengan kasar menolak untuk memperbolehkan para malaikat itu menginap di kamar tamu rumah itu. Sebaliknya, para malaikat itu diberi ruang kecil di ruang bawah tanah yang dingin.
Ketika mereka hendak tidur di lantai yang keras, malaikat yang lebih tua melihat sebuah lubang di dinding, maka ia memperbaikinya. Malaikat yang lebih muda bertanya mengapa, malaikat yang lebih tua menjawab, “Ini tidak selalu apa yang tampak.”
Malam berikutnya, kedua malaikat itu memutuskan untuk beristirahat di rumah seorang petani dan istrinya yang sangat miskin, tapi sangat ramah.
Setelah berbagi sedikit makanan yang mereka punya, pasangan petani itu membiarkan kedua malaikat itu tidur di tempat tidur mereka tempat mereka biasa beristirahat malam, sementara mereka berdua tidur di lantai. Ketika matahari datang keesokan harinya, kedua malaikat menemukan petani dan istrinya menangis. Sapi mereka satu-satunya, yang menjadi pendapatan mereka dari memerah susunya, mati di lapangan.
Malaikat yang lebih muda memarahi malaikat yang lebih tua, “Bagaimana kau bisa membiarkan ini terjadi? Pria pertama yang memiliki segalanya, kau bantu. Tapi keluarga ini hanya memiliki sedikit tapi bersedia berbagi segala sesuatu dan kau membiarkan sapi keluarga ini mati.”
Malaikat yang lebih tua hanya menjawab, “Hal-hal ini tidak selalu apa yang tampak.”
“Ketika menginap di ruang bawah tanah keluarga kaya, aku melihat ada emas yang disimpan di dalam lubang di dinding. Karena pemilik rumah begitu terobsesi dengan keserakahan dan tidak mau berbagi nasib baiknya, aku menutup dinding sehingga ia tidak akan menemukannya. Lalu tadi malam saat tidur di tempat tidur petani, malaikat maut datang untuk menjemput istri petani itu. Aku memberinya sapi sebagai gantinya. Hal-hal yang terjadi tidak selalu apa yang tampak.”
Kadang-kadang itulah yang terjadi ketika hal-hal terjadi tidak sesuai dengan rencana. Kita hanya perlu mempercayai bahwa setiap hasil selalu untuk sebuah keuntungan kita. Tapi mungkin kita tidak mengetahuinya hingga beberapa waktu kemudian.
Jika kita mengalami hari yang buruk di tempat kerja, bayangkan orang yang dikeluarkan dari pekerjaannya sementara ia harus memberi nafkah bagi keluarganya. Jika kita merasa sulit untuk tidur malam, bayangkan keluarga tunawisma yang tidak memiliki tempat tidur untuk berbaring. Jika kita melihat rambut uban di cermin, bayangkan pasien kanker yang melakukan kemoterapi karena ingin memiliki rambut lagi.
Jika kita menemukan diri kita pada kerugian dan merenungkan bagaimana hidup kita. Bersyukurlah, masih ada orang-orang yang tidak cukup mendapatkan kesempatan.
Seorang pemuda berkata, “Wanita itu seperti sandal jepit, ia akan diganti dan dibuang saat ditemukan sandal lain yang lebih bagus dan pas.”
Mendengar hal itu, kakek tua yang duduk di sebelahnya berkata, “Benar, wanita itu memang seperti sandal jepit, itu karena engkau menganggap dirimu sebagai kaki, sebagai ceker! Tapi bagiku, wanita itu seperti Mahkota, yang kuletakkan di atas kepala, kuhormati, kurawat dan kujaga sepenuh hati, takkan pernah kuganti. Itu karena aku menganggap diriku sebagai Raja.”
Saat seseorang memperlakukan orang lain dengan buruk, karena memang pada dasarnya ia menganggap dirinya sendiri juga buruk.
Manusia masih bisa hidup tanpa kaki, tapi tanpa kepala ia takkan lagi bernyawa. Karena itu bagi para wanita, jadikanlah dirimu seperti mahkota dengan menjaga kehormatan dan kesucian Anda dari perbuatan tidak terpuji. Dan untuk para pria, hormatilah wanita sebagaimana Anda menghormati Ibu Anda.
“Berani” bukan hanya berani bertindak, tapi juga berani menerima konsekuensi dari tindakan yang kita lakukan. “Berani” bukan hanya melakukan tindakan untuk orang lain, tapi juga berani memperjuangkan apa yang kita yakini dan jujur kepada diri sendiri – Andi F. Noya
Banyak orang hanya mau melakukan hal yang pertama (berani bertindak), tapi tidak mau melakukan hal yang kedua (berani mnerima konsekuensi). Bagaimana dengan anda? 🙂
Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawanya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.
Sayang sekali, ketika tiba saatnya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan ia menyalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.
Amarahnya mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam rumah ibadat. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.
Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.
Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.
Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Dengan masih penuh kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, “Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.”
Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis.
Lalu Tuhan berkata, “Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju.” Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.
Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.
Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu.

‘GOSSIP KILLS.’ Pope Francis denounces gossip as murder. File photo by Luca Zennaro/EPA/Pool
1. Don’t gossip.
It’s one of our hobbies. For Francis, it’s also one of the most evil activities.
The Catholic leader denounces gossip as “murder.”
He feels so strongly about it that in less than a year as pontiff, Francis has preached against gossip in at least 6 different instances. Read the following homilies by Francis as well as a recent speech:
(READ: Be professional and don’t gossip, Pope tells Church officials)
He says when we gossip, we “are doing what Judas did,” and “begin to tear the other person to pieces.”
“Every time we judge our brother in our hearts or worse when we speak badly of them with others, we are murdering Christians,” Francis says. “There is no such thing as innocent slander.”

FOR THE POOR. Voicing concern for the neglected, Pope Francis slams the ‘culture of waste’ that leads to the ‘globalization of indifference.’ Francis speaks with migrants during his visit to the island of Lampedusa, southern Italy, on July 8. File photo by Alessandra Tarantino/EPA/Pool
2. Finish your meals.
No leftovers, please.
Named after a 12th-century saint who lived in poverty, Francis slams a “culture of waste” that neglects the plight of the hungry. (READ: Pope: Wasting food is stealing from the poor)
Nearly 870 million people suffer from chronic malnutrition, says the Food and Agriculture Organization. (VISIT: #HungerProject)
The Pope says: “We should all remember… that throwing food away is like stealing from the tables of the poor, the hungry! I encourage everyone to reflect on the problem of thrown away and wasted food to identify ways and means that, by seriously addressing this issue, are a vehicle of solidarity and sharing with the needy.”

WISH GRANTED. Pope Francis invites and chats with Leandro Martins, a non-Catholic biker who randomly requests a meeting with him. Photo courtesy of Leandro Martins
3. Make time for others.
Tending to 1.2 billion members, Francis seems too busy for anything else.
That is, until he calls up strangers. Or entertains a random biker. Or sends a handwritten letter to a Jesuit he has never met.

FROM THE POPE. Fr James Martin gets a handwritten ‘thank you’ note from Pope Francis. Photo courtesy of Fr James Martin
The Jesuit who got the letter, Fr James Martin, says Francis inspires him “to be more generous in my own life with my time.”
Martin says: “If the Pope can find time to be kind to others, if he can pause to say thank you, if he can take a moment make someone feel appreciated, then so can I. So can we.” (READ: Making time for others: the Pope’s way)

‘HUMBLE CAR.’ This handout picture released by the Vatican Press Office on September 10 shows Pope Francis speaking with collaborators next to a white Renault 4L offered by Fr Don Renzo Zocca (unseen) on September 7 at the Vatican. File photo by Ossevatore Romano/AFP
4. Choose the ‘more humble’ purchase.
Take it from the head of state who rides a 29-year-old Renault.
In July, he warns against luxurious lives that seek “the joy of the world in the latest smartphone, the fastest car.” (READ: Pope hits priests, nuns with brand-new cars)
“Cars are necessary,” he says, “but take a more humble one. Think of how many children die of hunger and dedicate the savings to them.”
The Pope preaches against materialism. “Certainly, possessions, money, and power can give a momentary thrill, the illusion of being happy, but they end up possessing us and making us always want to have more, never satisfied. ‘Put on Christ’ in your life, place your trust in him, and you will never be disappointed!” (READ: Pope warns youth against materialism)
He calls for a “sober and essential lifestyle.” (READ: Pope: Choose ‘sober’ lifestyle, share wealth)

‘IN THE FLESH.’ This handout picture released by the Vatican press office shows Pope Francis (R) kissing the feet of a young offender after washing them during a Mass at the church of the Casal del Marmo youth prison on the outskirts of Rome as part of Holy Thursday. Photo by Osservatore Romano/AFP
5. Meet the poor ‘in the flesh.’
Sure, we donate to charity. But this is not enough for Francis.
Commitment to the poor, he says, must be “person to person, in the flesh.” (READ: #ReliefPH: Pope Francis on disaster, charity)
Known as pro-poor even when he was archbishop, he explains more in the book On Heaven and Earth, which was published 3 years before he became pontiff. “It is not enough to mediate this commitment through institutions, which obviously help because they have a multiplying effect, but that is not enough. They do not excuse us from our establishing personal contact with the needy. The sick must be cared for, even when we find them repulsive and repugnant. Those in prison must be visited.”
He calls for long-term commitment. “Hospitality in itself isn’t enough. It’s not enough to give a sandwich if it isn’t accompanied by the possibility of learning to stand on one’s own feet. Charity that does not change the situation of the poor isn’t enough.” (READ: Pope Francis and Zamboanga’s refugees)

‘DON’T JUDGE.’ Pope Francis reminds priests and bishops to avoid prejudice. File photo by Antonio Lacerda/EPA
6. Stop judging others.
In the same way he denounces gossip, Francis condemns prejudice.
He reminds “intolerant” Catholics, for one, to respect atheists. “If we, each doing our own part, if we do good to others, if we meet there, doing good, and we go slowly, gently, little by little, we will make that culture of encounter: we need that so much. We must meet one another doing good.” (READ: Pope to ‘intolerant’ Catholics: Good atheists exist)
He also says of gays: “If someone is gay and seeks the Lord with good will, who am I to judge?” (READ: Pope Francis is gay magazine’s Person of the Year)
Francis urges us “to keep watch over ourselves.” “Let us not forget that hatred, envy, and pride defile our lives!” (READ: Pope’s 1st clarion call: Protect creation)
CHARISMATIC PONTIFF. Pope Francis even prays for one of his worst critics. File photo from Luca Zennaro/EPA/Pool
7. Befriend those who disagree.
What can we do to our worst critics? We can take our cue from Francis.
In November, Francis surprises Mario Palmaro, a traditionalist who wrote the article, ‘The Reason Why We Don’t Like This Pope.’” “He just wanted to tell me that he is praying for me,” says Palmaro, who is gravely ill, in an article by the Catholic News Agency.
Francis does this in line with what he calls a “culture of encounter.”
He says in July: “When leaders in various fields ask me for advice, my response is always the same: dialogue, dialogue, dialogue. It is the only way for individuals, families, and societies to grow, the only way for the life of peoples to progress, along with the culture of encounter, a culture in which all have something good to give and all can receive something good in return. Others always have something to give me, if we know how to approach them in a spirit of openness and without prejudice.”

FRUIT OF MARRIAGE. Pope Francis holds a baby, the fruit of a sacrament that he says is not ‘out of fashion.’ File photo by Vincenzo Pinto/AFP
8. Make commitments, such as marriage.
Don’t be afraid to say “forever.”
Francis advises the youth, for instance, not to fear marriage. (READ: Pope: Marriage not ‘out of fashion’)
The Pope says: “Today, there are those who say that marriage is out of fashion; in a culture of relativism and the ephemeral, many preach the importance of ‘enjoying’ the moment. They say that it is not worth making a life-long commitment, making a definitive decision, ‘forever,’ because we do not know what tomorrow will bring.”
“I ask you, instead, to be revolutionaries, to swim against the tide; yes, I am asking you to rebel against this culture that sees everything as temporary and that ultimately believes that you are incapable of responsibility, that you are incapable of true love. I have confidence in you and I pray for you. Have the courage ‘to swim against the tide.’ Have the courage to be happy,” he says.

SEEKING THE LORD. Pope Francis leads the global day of prayer and fasting for Syria in September. File photo by Alessandro di Meo/EPA
9. Make it a habit to ‘ask the Lord.’
Bothered about the future?
Pray, the Pope urges us especially the youth.
“Dear young people,” he says, “some of you may not yet know what you will do with your lives. Ask the Lord, and he will show you the way. The young Samuel kept hearing the voice of the Lord who was calling him, but he did not understand or know what to say, yet with the help of the priest Eli, in the end he answered: ‘Speak, Lord, for I am listening’ (cf. 1 Sam 3:1-10). You too can ask the Lord: What do you want me to do? What path am I to follow?”

‘JOY OF THE GOSPEL.’ Challenging his flock to share joy with others, Pope Francis embraces a disfigured man in November. Photo by Claudio Peri/EPA
10. Be happy.
The true Christian, says the Pope, exudes great joy. He says keeping this joy to ourselves “will make us sick in the end.”
So important is joy to him that his first apostolic exhortation, the first major document he wrote on his own, is titled “Evangelii Gaudium” (The Joy of the Gospel).
“Sometimes these melancholy Christians’ faces have more in common with pickled peppers than the joy of having a beautiful life,” Francis says in a homily. “Joy cannot be held at heel: it must be let go. Joy is a pilgrim virtue. It is a gift that walks, walks on the path of life, that walks with Jesus: preaching, proclaiming Jesus, proclaiming joy, lengthens and widens that path.”
Francis says, “The Christian sings with joy, and walks, and carries this joy.”
This joy, he reminds us, should translate to love of neighbor.
A joyful New Year to all!
Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.
“Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.”
Si ibu terdiam, sejenak, “Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan “kerang biasa” menjadi “kerang luar biasa”. Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah “orang biasa” menjadi “orang luar biasa”.
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa’ yang disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara’.
Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja’.
Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka. Cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan katakan dalam hatimu “Air mata ku diperhitungkan Tuhan dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara!”
Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.
“Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan,” gerutunya dalam hati. “Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!”
Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.
“Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang,” jawabnya tersipu malu.
“Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak.”
Putri pun segera duduk di dalam.
Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, “Lho, kenapa menangis, neng?” tanya si abang.
“Saya jadi ingat ibu saya, nang. Sebenarnya… hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang.”
“Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho.”
Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,
“Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu.”
“Ibu, maafkan Putri, Bu,” Putri pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.
=====================================================
Saat kita mendapat pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang diberikan oleh orangtua dan saudara tidak tampak di mata kita. Seolah menjadi kewajiban orangtua untuk selalu berada di posisi siap membantu, kapan pun.
Bahkan, jika hal itu tidak terpenuhi, segera kita memvonis, yang tidak sayanglah, yang tidak mengerti anak sendirilah, atau dilanda perasaan sedih, marah, dan kecewa yang hanya merugikan diri sendiri. Maka untuk itu, kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orangtua, saudara, dan dengan masyarakat lainnya.
Sumber : andriewongso.com