Blog

  • Pernah Belajar?

    Seorang cendikiawan menumpang perahu di sebuah danau & bertanya pada tukang perahu, “Saudaraku, pernahkah belajar matematika ?”
    “Tidak”, jawab si tukang perahu
    “Sayang sekali, berarti telah kehilangan 1/4 dari kehidupan ini. Pernahkah belajar ilmu filsafat ?” Tanya si cendikiawan
    “Itu juga tidak”, jawab si tukang perahu
    “2X sayang, berarti telah kehilangan lagi 1/4 dari kehidupan ini. Sejarah ?” Tanya si cendikiawan
    “Juga tidak”, jawab si tukang perahu
    “Artinya, 1/4 lagi kehidupan ini telah hilang”, ucap si cendikiawan
    Tiba-tiba angin bertiup kencang & terjadi badai. Danau yg tadinya tenang menjadi bergelombang, perahu yang ditumpangi pun oleng. Si Cendikiawan pucat ketakutan. Dengan tenang si tukang perahu bertanya, “Apakah pernah belajar berenang ?”
    “Tidak” jawab si cendikiawan
    “Sayang sekali, berarti akan kehilangan seluruh kehidupan ini”, ucap si tukang perahu

    MORAL : Jangan sombong. Sehebat apapun, tidak mungkin menguasai semua ilmu, apalagi ketrampilan. Kita butuh orang lain, tidak peduli seberapa rendah pendidikan orang itu.
    Kalau memandang kegagalan diri & orang lain sebagai “gagal total”, kiamat & tamat riwayat, maka akan berhenti pada kegagalan & tidak akan pernah melihat keberhasilan.
    Dalam hidup, yang dikenang orang adalah
    keberhasilan & bukanlah kegagalan. Mereka yang berhasil adalah yang mampu membuat sebuah pondasi yang kokoh dari batu-batu yang dilemparkan orang lain padanya.

  • Ayat Alkitab mengenai kekuatiran

    Matius 6:27, 34
    27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
    34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

  • Think Positive

    Lebih mudah mana? Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di setiap jalanan, atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka?
    Lebih mungkin mana? Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman, atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri?
    Lebih mudah mana? Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan, atau menjaga hati kita sendiri agar tak mudah tersinggung?
    Lebih penting mana? Berusaha menguasai orang lain, atau belajar menguasai diri sendiri?
    Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku, melainkan bagaimana aku berusaha baik pada semua orang. Karena bukan orang lain yg membuat aku bahagia, tapi Sikapkulah yg menentukan, aku bahagia atau tidak.

  • Mencari Sumbernya

    Ada seorang dermawan yang menebar uang Rp. 5.000, Rp. 10.000, Rp. 20.000, Rp. 50.000, dan Rp. 100.000 dari atas gedung. Dibawah gedung berkerumun banyak orang sibuk saling berebut memunguti uang yg berserakan TANPA ADA YG PEDULI sumber uang itu dari SIAPA.
    Suatu saat, Sang Dermawan naik lagi keatas gedung tsb dan kali ini beralih menebar kerikil-kerikil kecil kedalam kerumunan orang dibawah; ada yg terkena di kepala, bahu, tangan, punggung dan anggota tubuh lainnya, mereka panik & marah, menengadah keatas berusaha MENCARI TAHU sumber dari krikil dijatuhkan.
    Itulah sikap dari kebanyakan manusia,
    saat BERKAT ( hal yg menguntungkan ) datang, semua sibuk tanpa peduli siapa yang MEMBERI dan sedikit sekali yang Mampu dan Mau mengucap SYUKUR.
    Namun saat MASALAH datang, maka semua akan spontan mencari sumber Masalah dan BIANG KEROK dan marah menyalahkan orang lain tanpa mau cari solusi lagi.
    “Apakah kita hanya mau menerima yang baik saja, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Tanpa mau tahu bahwa hidup ini sudah satu paket, baik & buruk, senang & susah, semuanya satu kesatuan yang tak terpisahkan.
    Bila suatu ketika anda “kena giliran” menjalani hal-hal buruk dan susah , maka jalanilah dgn tabah dan tetap Bersyukurlah ……. karena hanya itu kuncinya .

  • Memberi kepada pengemis

    DARIPADA HANYA MEMBERI ORANG SEKANTUNG UANG, LEBIH BAIK MENYADARKAN KEBAIKAN HATINYA.

    Simak cerita berikut ini:
    Ada seorang pengemis memohon sedekah kepada seorang guru. Tanpa sungkan sang guru berkata, “Tolong kamu bantu saya memindahkan batu bata itu ke halaman belakang.”
    “Saya hanya memiliki 1 tangan, Bagaimana dapat memindahkan?”
    Lalu dengan 1 tangan, sang guru memberi contoh mengambil sebuah batu bata. Si pengemis akhirnya menggunakan 1 tangannya memindahkan batu bata. Sang guru itu memberi sedikit uang.
    “Terima kasih…”
    “Tak perlu berterima kasih, ini adalah uang hasil jerih payahmu sendiri.”
    “Budi baik anda ini akan saya ingat…”

    Beberapa hari kemudian, datang lagi pengemis lain kepada guru tersebut, “Pindahkan batu bata ini ke halaman depan, saya akan memberimu uang.” Tapi pengemis yang memiliki 2 tangan ini menganggap hina pekerjaan ini, lalu di tinggalnya pergi.

    Para murid bertanya kepada sang guru,
    “Kemarin dulu anda menyuruh memindahkan batu bata dari halaman depan ke halaman belakang. Kali ini anda juga menyuruh untuk memindahkan dari halaman belakang ke halaman depan. Sebenarnya batu bata ini ingin anda letakkan dimana?”
    “Bata bata itu di letakkan di depan atau di belakang adalah sama saja, tapi mau memindahkan atau tidak bagi pengemis itu tidaklah sama.”

    Beberapa tahun kemudian, Pengemis yang memiliki 1 tangan itu berpenampilan luar biasa datang ke guru tersebut. Ia menjadi orang kaya yang ternama di daerahnya. Sebab ia bekerja dengan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri walau hanya punya 1 tangan untuk berjuang. Tapi pengemis yang memiliki 2 tangan lengkap, masih meminta sedekah.

    Di sini bisa di lihat, MENYELAMATKAN MANUSIA HARUS MENYELAMATKAN HATINYA. Dengan pengetahuan intuitif menyadarkan KEJUJURAN dan KEBAJIKAN yang ada dalam hati manusia, barulah bisa menolong manusia terlepas dari KESENGSARAAN.

    Catatan: memberi sedekah cuma-cuma kepada pengemis bukan menolong malahan mendorong ke jurang yang dalam.

  • Seseorang yang Harus Dua Kali Dihukum Gantung

    Pada masa kekuasaan Tsar Nicolas I di kekaisaran Rusia, pecah sebuah pemberontakan yang dipimpin seorang bernama Kondraty Ryleyev. Namun, pemberontakan itu berhasil ditumpas. Ryleyev, sang pemimpin, ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung.

    Namun saat tali sudah diikatkan di lehernya dan eksekusi dilaksanakan, tiba-tiba tali gantungan itu putus. Di masa itu, kejadian luar biasa seperti itu biasanya dianggap sebagai bukti bahwa terhukum tidak bersalah dan Tsar mengampuninya.

    Ryleyev yang lega dan merasa di atas angin pun menggunakan kesempatan itu untuk mengkritik, “Lihat, di pemerintahan ini sama sekali tidak ada yang betul. Bahkan, membuat talipun tidak becus!”

    Seorang pembawa pesan yang melihat peristiwa putusnya tali ini kemudian melaporkan pada Tsar. Sang penguasa Rusia itu bertanya, “Lalu, apa yang Ryleyev katakan?”

    Ketika pembawa pesan itu menceritakan komentar Ryleyev di atas, Tsar pun menjawab, “Kalau begitu, mari kita buktikan bahwa ucapannya tidak benar.”

    Ryleyev pun menjalani hukuman gantung kedua kalinya dan kali ini tali gantungannya tidak putus. Bukan hukuman yang membinasakannya, tapi ucapannya sendiri.

    Lidah itu seperti kekang kuda, kemudi sebuah kapal, yang hanya benda kecil tapi bisa mengendalikan benda raksasa. Lidah dapat menjadi seperti api kecil di tengah hutan, bahkan lebih buas dari segala hewan liar.

    Apa yang kita ucapkan sangat sering menentukan arah hidup kita. Apa saja yang kita ucapkan pada orang lain dan pada diri sendiri sangat berpengaruh terhadap kejadian-kejadian yang akan kita alami kemudian.

    Apa yang kita ucapkan seringkali menentukan apa yang kemudian kita terima. Karena itu jagalah lidah kita agar tidak berucap sembarangan.

  • Gadis dengan Setangkai Mawar

    John Blanford berdiri tegak di atas bangku di Stasiun Kereta Api sambil melihat ke arah jarum jam, pukul 6 kurang 6 menit. John sedang menunggu seorang gadis yang dekat di hatinya, tetapi dia tidak mengenal wajahnya. Seorang gadis dengan setangkai mawar.

    Lebih dari setahun yang lalu, John membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan. Rasa ingin tahunya terpancing saat ia melihat coretan tangan yang halus di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku tersebut adalah seorang gadis bernama Hollis Molleoin. Hollis tinggal di New York dan John di Florida. John mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk saling bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim ke medan perang, Perang Dunia II. Mereka terus saling menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat seperti layaknya bibit yang jatuh di lantai yang subur dalam hati masing-masing dan menumbuhkan jalinan cinta di antara mereka.

    John berkali-kali meminta agar Hollis mengiriminya sebuah foto. Akan tetapi sang gadis selalu menolak, kata sang gadis, “Kalau perasaan cintamu tulus, John. Bagaimanapun paras saya tidak akan mengubah perasaan itu. Kalau saya cantik, selama hidup saya akan bertanya tanya apakah mungkin perasaanmu itu hanya dikarenakan kecantikan saya saja. Kalau saya biasa-biasa atau cenderung jelek, saya takut kamu akan terus menulis hanya karena kamu merasa kesepian dan tidak ada orang lain lagi tempat kamu mengadu. Jadi, sebaiknya kamu tidak usaha mengetahui paras saya. Sekembalinya kamu ke New York, kita akan bertemu muka. Pada saat itu, kita akan bebas menentukan apa yang akan kita lakukan.”

    Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun Pusat di New York pada pukul 6 sore setelah perang usai. “Kamu akan mengenali saya, John. Karena saya akan menyematkan setangkai bunga mawar merah pada kerah baju,” kata Hollis.

    Pukul 6 kurang 1 menit, sang perwira muda semakin gelisah. Tiba-tiba, jantungnya serasa hampir copot, dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik berbaju hijau lewat di depannya, tubuhnya langsing, rambutnya pirang bergelombang, matanya biru seperti langit, luar biasa cantiknya. Sang perwira mulai menyusul sang gadis, dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang gadis tidak mengenakan bunga seperti yang telah disepakati. Hanya tinggal 1 langkah lagi ketika John melihat seorang wanita berusia 40 tahun mengenakan sekuntum mawar merah di kerahnya. “O… itu Hollis!!!”

    Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis berbaju hijau hampir menghilang. Perasaan sang perwira mulai terasa terbagi dua, ia ingin berlari mengejar sang gadis cantik. Di sisi lain, ia tidak ingin menghkhianati Hollis yang lembut dan telah menemaninya selama masa perang. Tanpa berpikir panjang, John berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah baya itu dan menyapanya. “Nama saya John Blanford, Anda tentu saja Nona Hollis. Bahagia sekali bisa bertemu dengan Anda. Maukah Anda makan malam bersama saya?”

    Sang wanita tersenyum ramah dan berkata, “Anak muda, saya tidak tahu apa arti semua ini. Tetapi seorang gadis berbaju hijau yang baru saja lewat memaksa saya untuk mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau Anda mengajak saya makan, maka saya diminta untuk memberitahu Anda bahwa dia menunggu Anda di restoran di ujung jalan ini. Katanya semua ini hanya untuk menguji Anda.”

    Kita tidak bisa benar-benar yakin akan suatu hal, sebelum hal itu diuji. Seperti halnya ketika kita harus melewati ujian agar bisa dinyatakan menguasai suatu ilmu. Obat akan diuji sebelum diakui dan dipergunakan.

    Demikian halnya dengan perasaan cinta.

    Suatu hubungan mencapai kesejatiannya setelah mengalami berbagai ujian. Termasuk ujian kesetiaan. Apakah kita cukup setia dengan pilihan kita atau dengan mudah berpaling kepada yang lain?

  • Sebuah Pensil

    Dua orang profesor sedang berlomba untuk mencari sebuah penemuan. Seorang astronot meminta mereka untuk membuatkan alat tulis agar bisa digunakan saat menjelajah ruang angkasa.

    Profesor yang pertama telah menghabiskan banyak waktu dan uang untuk mencari tinta berkualitas namun tetap gagal juga. Sedangkan profesor yang kedua hanya menggunakan sebuah pensil karena karbon tidak terpengaruh dengan ruang hampa udara sehingga tetap bisa digunakan untuk menulis.

    Demikianlah, terkadang kita telah membuang banyak waktu untuk menunggu sebuah kehidupan yang berkualitas. Kita pun kerap berdoa kepada Tuhan dengan susah payah agar Tuhan memberikan kepada kita talenta yang luar biasa.

    Kehidupan yang berkualitas akan kita dapatkan ketika kita tidak “menunggu” untuk mendapatkan hasil yang sempurna, melainkan ketika kita mulai bertindak dan mengerjakan segala hal yang kita temui.

    Mulailah dari hal kecil, karena jika kita setia maka kualitas hidup itu akan berkilau dengan sendirinya.

  • Renungan Injil 9 Februari 2014

    Kita dipanggil oleh Tuhan bukan untuk menjadi ikan salmon yang mahal, bukan daging wagyu, bukan juga lobster, tapi hanya menjadi garam. Bumbu makanan yang murah, tapi diperlukan hampir di semua masakan. Namun walau diperlukan, jarang orang berkata “makanan ini enak karena garamnya”. Orang akan berkata “makanan ini enak karena dagingnya” atau “kokinya hebat”.
    Yesus mengajak kita menjadi pribadi yang bisa membaur dengan siapa saja, bisa berkarya dalam hal apa saja, dan tidak pernah meminta pujian. Walau mungkin kita belum mendapat pujian dari karya kita di rumah, di sekolah/kampus, di kantor, di gereja, atau pun di masyarakat, percayalah kita sudah bekerja sesuai keinginan Tuhan, dan itu yg penting.

  • Kebahagiaan Diperoleh dengan Memberi

    Kisah ini berawal dari seorang wanita cantik bergaun mahal yang mengeluh kepada psikiaternya bahwa dia merasa seluruh hidupnya hampa tak berarti.

    Si psikiater kemudian memanggil seorang wanita tua penyapu lantai dan berkata kepada si wanita kaya, “Saya akan menyuruh Mary di sini untuk menceritakan kepada Anda bagaimana dia menemukan kebahagiaan. Saya ingin Anda mendengarnya.”

    Si wanita tua meletakkan gagang sapunya dan duduk di kursi dan menceritakan kisahnya: “Baik. Suamiku meninggal akibat malaria dan tiga bulan kemudian anak tunggalku tewas akibat kecelakaan.

    Aku tidak punya siapa-siapa. Aku kehilangan segalanya. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, aku tidak pernah tersenyum kepada siapapun, bahkan aku berpikir untuk mengakhiri hidupku.

    Sampai suatu sore seekor anak kucing mengikutiku pulang. Sejenak aku merasa kasihan melihatnya.

    Cuaca dingin di luar, jadi aku memutuskan membiarkan anak kucing itu masuk ke rumah. Aku memberikannya susu dan dia minum sampai habis. Lalu si anak kucing itu bermanja-manja di kakiku dan untuk pertama kalinya aku tersenyum.

    Sesaat kemudian aku berpikir jikalau membantu seekor anak kucing saja bisa membuat aku tersenyum, maka mungkin melakukan sesuatu bagi orang lain akan membuatku bahagia.

    Maka di kemudian hari aku membawa beberapa biskuit untuk diberikan kepada tetangga yang terbaring sakit di tempat tidur.

    Tiap hari aku mencoba melakukan sesuatu yang baik kepada setiap orang. Hal itu membuat aku bahagia tatkala melihat orang lain bahagia. Hari ini, aku tak tahu apa ada orang yang bisa tidur dan makan lebih baik dariku. Aku telah menemukan kebahagiaan dengan memberi.”

    Ketika si wanita kaya mendengarkan hal itu, menangislah dia. Dia memiliki segala sesuatu yang bisa dibeli dengan uang namun dia kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.

    Dengan membuat seseorang bahagia, maka kitapun akan berbahagia.