Kita dipanggil oleh Tuhan bukan untuk menjadi ikan salmon yang mahal, bukan daging wagyu, bukan juga lobster, tapi hanya menjadi garam. Bumbu makanan yang murah, tapi diperlukan hampir di semua masakan. Namun walau diperlukan, jarang orang berkata “makanan ini enak karena garamnya”. Orang akan berkata “makanan ini enak karena dagingnya” atau “kokinya hebat”.
Yesus mengajak kita menjadi pribadi yang bisa membaur dengan siapa saja, bisa berkarya dalam hal apa saja, dan tidak pernah meminta pujian. Walau mungkin kita belum mendapat pujian dari karya kita di rumah, di sekolah/kampus, di kantor, di gereja, atau pun di masyarakat, percayalah kita sudah bekerja sesuai keinginan Tuhan, dan itu yg penting.
Tag: Renungan
-
Renungan Injil 9 Februari 2014
-
Uang vs Bahagia
Sebuah iklan pembalut wanita yang aneh. Iklannya berisi makna kehidupan yang bagus, namun tidak ada pesan untuk menjual produknya.
Ada 5 orang ibu-ibu yang lagi ngerumpi sambil ngafe. Mereka lagi memamerkan kesuksesan anaknya. Ada yang anaknya jadi pilot, ada yang anaknya jadi jendral (bukan jendral TNI, tapi jendral manager alias GM :D), dkk. Begitu giliran ibu terakhir, eh ada suara yang manggil dia. Ternyata anaknya datang dgn istri dan cucu si ibu. “Lho, mau kemana?” Ibu-ibu lain bertanya. “Mau merayakan hari ibu” jawab si anak. “Lho, kan udah lewat” protes ibu-ibu itu. “Mereka selalu merayakan hari ibu tiap minggu” jawab si ibu sambil pamitan, lalu pergi. 4 ibu-ibu lainnya cuma bisa bengong aja (mungkin sambil merasa iri dengan si ibu itu).
Aku rasa ini menjadi gambaran norma kehidupan sekarang. Uang yang banyak dianggap cukup untuk menjustifikasi kurangnya waktu keluarga. Aku ingat ada satu ucapan yang menarik, bahwa orang kaya sebenarnya adalah kelompok orang yang paling tersiksa. Mereka dilarang oleh masyarakat untuk bersedih. Anggapan masyarakat “Punya uang banyak kok sedih?”
Aku gak bilang kita gak butuh uang. Tapi “More money means more happiness”. Is it true?
Bagaimana menurut kalian? Ayo berdiskusi dengan menuliskan pikiran kalian di komentar di bawah. Tapi tolong norma kesopanan tetap dijaga. Semua komentar akan aku cek terlebih dahulu, sebelum muncul di halaman blog. Terima kasih 🙂
-
Renungan Harian 10 Nov 2012
Mutiara Iman, Sabtu 10 November 2012
Pw. St.Leo Agung, PausPujG (P)“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar”(Luk. 16:10)
…
LECTIO :Flp. 4:10-19;
Mzm. 112:1-2,5-6,8a,9;
Luk. 16:9-15;MEDITATIO : Suatu kali saya bertemu dengan seorang pengusaha. Kebetulan saat ini perusahaannya bertumbuh dengan baik. Ketika saya tanyakan, bagaimana ia awalnya dia terjun dalam dunia usahanya ini dan cara mengembangkannya. Menurut ceritanya, dia mengawali usahanya karena didesak oleh kebutuhan menyediakan susu untuk anak-anaknya. Sebagai langkah awal dia membuat produk yang mudah namun banyak dibutuhkan orang. Dia menekuni yang sederhana itu dan sekarang ini diapun mampu membuat hal-hal yang sangat rumit dan bermutu dengan kuantitas yang sangat besar.
Yesus bersabda, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar”. Kadang kita meremehkan perkara-perkara kecil, entah karena bila melakukan hal tersebut gengsi kita tidak terangkat, entah karena kita terobsesi pada hal-hal besar ataupun alasan-alasan yang lain. namun mengerjakan perkara-perkara kecil dengan setia akan melatih kita agar teliti, cermat dan berdaya tahan. Pelatihan ini akan membentuk karakter kita. Dan bila hal itu kita lewati, kita akan bisa melakukan yang lebih besar lagi. Bila ingin mengerjakan yang besar dengan baik, lewatilah dahulu hal-hal kecil dengan sempurna. (Petrus noegroho Agoeng,Pr)
CONTEMPLATIO : Bayangkan Yesus berdiri di hadapanmu dan bertanya: “Apakah yang telah kau lakukan dengan talenta yang Kuberikan padamu? Apakah kamu mengembangkan atau malah menyembunyikannya?” Apa jawabanmu pada Yesus? Rasakan suasana hatimu … bersyukurlah selalu …
ORATIO : Tuhan terimakasih atas rahmat dan talenta yang Kau berikan kepadaku. Semoga aku makin bisa mengembangkannya dengan tekun dan setia. Amin.
MISSIO : Aku akan mempercayai bahwa Tuhan telah memberi bekal talenta pada diriku untuk hidup sehingga aku akan lebih percaya diri dan mengembangkannya dengan tekun dan setia.
Dikutip dari Renungan Harian Mutiara Iman 2012 Tahun B/II.
-
Renungan Harian 9 Nov 2012
Renungan oleh Romo Ign Sumarya SJ
Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran
Yeh 47:1-2,8-9,12 atau 1Kor 3:9b-11,16-17; Yoh 2:13-22
“Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat
rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan”.Gereja Basilik Lateran adalah kapel atau gereja pribadi Paus. Telah menjadi kebiasaan juga bahwa setiap kardinal yang baru dilantik pada umumnya juga ‘diserahi’ kapel tertentu di Vatican, meskipun kemudian kardinal yang bersangkutan tidak mengunjungi kapel tersebut. Kitab Hukum Kanonik (KHK) mengatakan bahwa “dengan sebutan gereja dimaksudkan bangunan suci yang diperuntukkan bagi ibadat ilahi dimana kaum beriman berhak untuk masuk melaksanakan ibadat ilahi, terutama
ibadat yang dilangsungkan secara publik” (KHK kan 1214). Lebih lanjut dikatakan bahwa “Hendaknya semua orang yang bersangkutan berusaha agar di gereja-gereja dipelihara kebersihan dan keindahan yang layak bagi rumah Allah dan agar segala sesuatu yang tidak cocok dengan kesucian tempat itu dijauhkan dari padanya” (KHK kan 1220 $ 1). Maka dalam rangka mengenangkan Pemberkatan Gereja Basilik Lateran, hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mengusahakan dan menjaga kesucian dan kebersihan tempat-tempat ibadat, dan untu itu marilah kita renungkan atau refleksikan sabda Yesus di bawah ini.“Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yoh 2:6).
Entah secara kebetulan atau sungguh merupakan panggilan Tuhan bagi saya: yang menurut catatan tgl 9 November, pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran, juga merupakan hari jadi atau ulang tahun saya (9 Nov 2012: hut saya ke 60) dan saya selama kurang lebih 10 (sepuluh tahun) bertugas sebagai Ekonom KAS, yang antara lain bertugas merencanakan, merawat dan memperhatikan pembangunan gedung gereja atau kapel. Memang selama bertugas sebagai Ekonom KAS maupun sampai kini saya merasa terpanggil untuk mengusahakan dan menjaga kesucian dan kebersihan tempat ibadat, entah itu gereja atau kapel, termasuk tempat-tempat ziarah. Selama bertugas menjadi Ekonom saya pribadi belajar banyak hal berhubungan dengan bangunan (arsitektur, lingkungan hidup dst..). Sabda Yesus di atas senantiasa mengiang-iang dalam diri saya setiap kali memasuki tempat-tempat ibadat. Apakah masih ada orang-orang yang menjadikan tempat ibadat untuk berjualan atau berbisnis alias mencari keuntungan pribadi? Hemat saya sampai kini masih ada. Ada juga yang mengkomersielkan ibadat atau Perayaan Ekaristi, misalnya pengumpulan dana atau sumbangan dengan Perayaan Ekaristi. Bahkan selama bertugas sebagai Ekonom saya juga pernah
menegor dengan keras panitia pembangunan kapel dan seksi-seksi sosial paroki, karena pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya sungguh komersial. Kami mengajak dan mengingatkan anda semua untuk menjaga dan mengusahakan kesucian dan kebersihan tempat ibadat, maka jangan ada seorangpun yang bersikap mental materialistis atau bisnis memfungsikan tempat ibadat apalagi melakukan tindakan maksiat alias tak bermoral.Para pengurus dan pengelola tempat-tempat ibadat atau ziarah kami harapkan bertindak tegas dengan meneladan Yesus: mengusir mereka yang ‘berjualan’
atau berbisnis serta mencari keuntungan pribadi tempat-tempat ibadat atau ziarah yang menjadi tanggungjawabnya. Kami juga berharap kepada siapapun bahwa dengan memasuki tempat ibadat atau ziarah anda semakin suci, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Apa-apa yang dijual di lingkungan tempat ibadat hendaknya juga mendorong atau memotivasi pembelinya semakin suci, entah itu berupa makanan atau minuman, sarana berdoa maupun tempat penginapan atau istirahat. Ada kemungkinan tempat ziarah digunakan untuk pacaran rekan-rekan muda-mudi: baiklah hal itu diawasi agar jangan melakukan tindakan amoral, dan semoga dengan berpacaran di tempat zairah anda juga semakin diperjelas dan dijernihkan serta diteguhkan dalam saling mengasihi. Kepada kita semua yang memasuki tempat ibadat atau ziarah serta beribadat atau berdoa, semoga semakin suci, semakin hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Maka selanjutnya marilah kita renungkan sapaan atau peringatan Paulus di bawah ini.
“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu” (1Kor 3:16-17)Paulus mengingatkan kita semua bahwa diri kita, tubuh kita, adalah bait Allah, dan dengan demikian kita dipanggil untuk mengusahakan dan menjaga kebersihan dan kesucian tubuh kita masing-masing. Pertama-tama marilah kita sadari dan hayati bahwa kita semua diciptakan oleh Allah karena kasihNya dengan bekerjasama dengan orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi. Dengan kata lain bukankah masing-masing dari kita adalah ‘buah kasih’ atau ‘yang terkasih’? Maka mengusahakan dan menjaga agar tubuh kita tetap sebagai ‘bait Allah’ alias suci, hendaknya kita fungsikan seluruh anggota tubuh kita untuk mengasihi alias membahagiakan dan menyelamatkan orang lain.
Kami berharap juga tidak ada orang yang mengkomersialkan tubuhnya atau mencemari diri dengan tindakan amoral. Pencemaran tubuh secara pribadi dapat terjadi dengan tindakan yang terkait dengan kenikmatan seksual, misalnya masturbasi atau onani. “Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. ‘Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat bertentangan dengan ketertiban’, karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apapun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya’. Kenikmatan seksual yang dicari karena dirinya sendiri tidak mempunyai ‘tujuan susila yang dituntut oleh hubungan seksual, yaitu yang melaksanakan arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga satu pembuahan manusiawi yang sebenarnya di dalam cinta yang
sebenarnya” (Kamus Gereja Katolik no 2351). Kami juga berharap kepada rekan-rekan suami-isteri untuk saling setia satu sama lain, tidak berselingkuh, karena dengan berselingkuh berarti mencemari relasi suami-isteri; demikian juga hendaknya entah suami atau isteri menyeleweng dengan caranya sendiri, berganti pasangan dalam hubungan seksual. Ingatlah dan sadari penyakit kelamin atau HIV mengincar anda yang suka berselingkuh, dan dengan demikian mencemari tubuhnya sendiri. Menjaga dan mengusahakan kebersihan anggota tubuh tetap bersih kiranya juga penting, karena ketika kita menghadirkan diri di muka umum dimana secara fisik tubuh kita tidak bersih, misalnya bau tidak sedap, pasti akan mencemari pergaulan dan orang lain, karena orang lain akan menggerutu dan mengeluh, yang berarti mencemari kesucian dirinya.Pada masa kini juga marak usaha medis atau teknis dalam rangka mengusahakan dirinya tampan atau cantik, antara lain dengan adanya intervensi sarana medis atau teknis ke dalam tubuh, entah itu berupa suntikan atau operasi. Segala bentuk intervensi medis dan teknis ke dalam tubuh pasti akan memperlemah daya tahan tubuh dan dengan demikian juga mencemarkan tubuh. Marilah kita terima pada anggota tubuh yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita, dan hendaknya diingat bahwa yang penting adalah kebersihan dan keindahan serta kecantikan hati dan jiwa, bukan tubuh.
“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.” (Mzm 46:2-3.5-6)
Ign 9 November 2012