Author: stefano

  • Siapa yang Bodoh?

    Suatu hari, ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka. Tukang cukur berkata, “Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal”
    “Masak, apa iya?” jawab pengusaha. Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu menyuruh Benu memilih, “Benu, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!”
    Benu melihat ke tangan tukang cukur dimana ada uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp.1.000.

    Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, “Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang yang nilainya lebih kecil.”

    Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Benu dan bertanya, “Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp.2.000 dan Rp.1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp.1.000, kenapa tak ambil yang Rp.2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp.1.000?”

    Benu pun tertawa kecil berkata, “Saya tidak akan dapat lagi Rp.1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil uang Rp.2.000 . Kalau saya ambil yang Rp.2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari…”

    Catatan : Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga
    mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya kita jika tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. Di atas langit masih ada langit yang lain.

  • Inspirasi dari One Direction

    Tahu kan boyband asal inggris bernama One Direction? Gak tau? Buka Youtube dulu deh 😀

    Habis menonton dokumenter mereka yang berjudul One Direction – This Is Us, aku menemukan beberapa hal menarik

    1. Salah seorang anggotanya (aku lupa namanya) pernah mengikutu audisi X Factor Inggris pada tahun 2010, tapi ditolak karena dia dianggap terlalu muda dan belum bagus. Apakah dia menyerah? Tidak! 2 tahun kemudian dia kembali, dan membuktikan kehebatannya yang bahkan diakui Simon Cowell.
    Apakah dia akan menjadi anggota One Direction kalau saat itu dia menyerah dan mengubur impiannya? Jelas TIDAK!!!
    Pelajaran untuk kita : Jangan pernah menyerah ketika kita jatuh.

    2. Salah satu anggota yang lain (lupa namanya juga) sebenarnya pada pagi hari H audisi, malas pergi audisi. Tapi mamanya memaksa dia terus untuk pergi audisi. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya.
    Apakah dia akan menjadi anggota One Direction andaikan saat itu mamanya malas memotivasi anaknya, dan si anak keras kepala? Jelas TIDAK!!!
    Pelajaran untuk kita : Dalam hidup, kita membutuhkan orang lain juga. Kadang bantuan Tuhan datang melalui mereka.

    3. Mereka awalnya tidak lolos babak akhir audisi. Mereka tidak terpilih untuk lolos ke babak selanjutnya. Namun atas keputusan kilat dari Simon Cowell, dia menyatukan lima “orang gagal” ini menjadi sebuah grup. Grup para “orang gagal” itu ternyata tidak begitu gagal ya? 😀
    Pelajaran untuk kita : Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh.

    4. Mereka bisa saja menolak ide Simon Cowell. Bayangkan kondisi mereka saat itu. Mereka gagal lolos audisi sebagai penyanyi solo, dan tiba-tiba Simon mengusulkan mereka bersatu sebagai grup. Ego mereka bisa berkata “Aku hebat! Aku gak perlu orang-orang ini untuk bisa menjadi hebat!”. Tapi mereka menekan ego mereka, dan lihat hasilnya.
    Pelajaran untuk kita : Kadang hal yang membatasi kita dan rejeki kita adalah ego kita. Lepaskan ego kita, maka hal-hal indah akan datang.

    5. Ketika mereka berlima akhirnya disatukan oleh Simon Cowell, mereka adalah lima orang yang tidak saling mengenal, tapi harus bekerja sama dalam waktu singkat. Tahu apa yang dilakukan pada hari pertama mereka berkumpul? Bermain sepak bola!!! Mungkin kedengarannya bodoh, tapi prinsip mereka adalah “To be a colleague, we need to be friends”. Untuk menjadi rekan kerja yang baik, kita harus menjadi teman.
    Pelajaran untuk kita : luangkan waktu untuk bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar anda. Rekan kerja, keluarga, anak, teman, dan lain-lain. Semakin kita mengenal mereka, kadang akan banyak keajaiban yang terjadi di hidup kita

  • Kisah Si Penjual Ikan

    Seseorang pedagang ikan memulai berjualan di pasar di pagi hari. Agar dapat menarik pembeli, ia memasang papan pengumuman bertuliskan “HARI INI DI SINI DIJUAL IKAN SEGAR”. Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan tentang tulisannya. “Mengapa kau tuliskan kata HARI INI? Bukankah kau memang hari ini berjualan, bukan kemarin atau besok?” Pedagang ikan itu berpikir dan menjawab, “Iya, kau benar.” Kemudian ia menghapus tulisan “HARI INI” dan di papan tersebut tulisan berkurang menjadi “DISINI JUAL IKAN SEGAR”

    Beberapa saat kemudian datang pembeli kedua. Pembeli tersebut juga menanyakan tulisan di papan, “Mengapa kau tulis kata DI SINI ? Bukankah semua orang sudah tau kalau kau berjualan DI SINI , bukan DI SANA atau di tempat lain?”
    “Benar juga!” pikir si pedagang ikan tersebut, lalu dihapusnya kata “DI SINI” dan tinggallah tulisan “JUAL IKAN SEGAR”.

    Tidak lama kemudian datang pengunjung ketiga yang juga menanyakan tulisannya. “Mengapa kau pakai kata SEGAR? Bukankah semua orang sudah tau kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?”
    “Benar juga” pikir si pedagang ikan, lalu dihapusnya kata “SEGAR” dan tinggallah tulisan “JUAL IKAN”

    Sesaat kemudian datanglah pengunjung keempat yang juga menanyakan tulisannya, “Mengapa kau tulis kata JUAL? Bukankah semua orang sudah tahu kalau ikan ini untuk dijual, bukan dipamerkan atau dibagikan?”
    “Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata JUAL dan tinggalah tulisan “IKAN”

    Selang beberapa waktu kemudian, datangpengunjung ke lima, yang juga menanyakan tulisannya : “Mengapa kau tulis kata IKAN? Bukankah semua orang sudah tau kalau ini Ikan, bukan Daging atau Sayur?”
    “Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu. Tinggallah pedagang ikan tersebut berjualan tanpa memasang papan tulisan, dan keinginan menarik pembeli gagal sudah.

    Pelajaran:
    Yakinlah bahwa tidak mungkin kita bisa memuaskan setiap orang. Sudah menjadi fitrah manusia untuk berbeda pendapat. Jadi utamakan suara hati anda. Biarlah orang lain berpendapat. Jangan mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain bila anda merasa itu sudah sesuai dengan tujuan anda.

  • Perangkap Tikus

    Sepasang suami istri petani pulang kerumah
    sehabis berbelanja di pasar. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus
    memperhatikan dengan seksama sambil menggumam, “Hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??” Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang.

    Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak, “Ada Perangkap Tikus di rumah!!! Di rumah sekarang ada perangkap tikus!!” Ia mendatangi ayam dan berteriak, “Ada
    perangkap tikus”. Sang Ayam berkata, “Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”.

    Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Lalu sang Kambing pun berkata, “Aku turut bersimpati.. . tapi maaf, tidak ada yang bisa aku lakukan”.

    Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat
    jawaban sama, “Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”.

    Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata, “Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”.

    Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri. Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya yang berbunyi. Menandakan perangkapnya telah memakan korban. Namun ketika melihat perangkap tikusnya, seekor ular berbisa telah terjebak di sana. Ekor ular yang terjepit membuatnya
    semakin ganas dan menyerang istri si Petani. Walaupun sang Suami berhasil membunuh ular tersebut, namun sang istri sempat tergigit dan teracuni oleh bisa ular tersebut.

    Setelah beberapa hari di rumah sakit, sang istri sudah diperbolehkan pulang. Namun selang beberapa hari kemudian demam tinggi yang tak turun-turun juga. Atas saran kerabatnya, ia membuatkan isterinya sup ayam untuk menurunkan demamnya. Semakin hari bukannya semakin sembuh, justru semakin tinggi demam isterinya. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk diambil hatinya. Istrinya tidak sembuh juga dan akhirnya meninggal dunia.

    Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga ia harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat. Dari kejauhan sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi di rumah itu.

    Pelajaran dari kisah di atas, “suatu ketika Anda mendengar seseorang sedang dalam kesulitan atau masalah dan Anda mengira itu bukan urusan Anda, maka pikirkanlah sekali lagi”.

  • Karangan si Bakar

    Alkisah di sebuah sekolah dasar, tercatatlah seorang siswa kelas satu. Sebut namanya Bakar. Ia anak konglomerat ternama. Bukan cuma bapaknya yang pedagang besar. Kakek moyangnya pun demikian. Mereka adalah rezim saudagar terkenal sejak era abad pertengahan. Ketika Pires berkata, ”Tuhan menciptakan Timor untuk pala, Banda untuk lada, dan Maluku untuk cengkih,” di sanalah kakek moyang Bakar berperan.

    Bakar masih menikmati warisan kebesaran itu. Ia bersekolah di SD unggulan berstandar internasional dan bilingual, sekitar 2 kilometer dari rumah (mobil senilai Rp 1 miliar yang ia pakai hanya mencatatkan perjalanan 4 kilometer setiap hari). Seorang sopir dan ”baby sitter” mengantar dan menungguinya setiap hari saat ia belajar.

    Laiknya sekolah mahal dan unggulan lainnya, mengarang adalah pelajaran yang diposisikan amat penting di SD tersebut. Anak-anak didik, sejak kelas satu, sudah dilatih untuk mengekspresikan isi kepala mereka dengan kata-kata yang tertata baik, namun dengan isi yang mencerminkan kebebasan pikiran.

    Sampailah, suatu ketika, sang guru meminta siswa kelas I membuat karangan tentang kehidupan keluarga yang sangat miskin di seberang benteng sekolah. Sang guru, yang berasal dari keluarga menengah, berharap dapat menumbuhkan empati anak-anak didiknya yang serba berada terhadap nasib kelompok lain yang tak berpunya.

    Bakar masih kelas satu SD. Tapi, ia penulis yang andal. Ia sefasih bapaknya saat harus melontarkan kata-kata. Ia pun secerdas ibunya saat harus membuat hitung-hitungan dan perbandingan. Ia menulis, seperti saran gurunya, dengan penuh perasaan. “Menulislah dengan hati,” begitu kata-kata sang guru yang selalu ia ingat. Lalu, dengan sesekali menerawang dan membayangkan kehidupan keluarga miskin, Bakar menggoreskan pensilnya dengan huruf-huruf yang belum sempurna benar. Ia menamai tokoh dalam karangannya sebagai Pak Abu.

    “Pak Abu,” tulisnya, “adalah orang yang sangat miskin. Benar-benar miskin, sampai-sampai pembantunya juga miskin, sopirnya miskin, dan tukang kebunnya pun miskin. Karena sering tak punya uang, Pak Abu jarang membersihkan kolam renang di rumahnya. Ia juga hanya bisa memelihara ikan-ikan kecil di akuarium seperti lou han yang makannya sedikit, tidak seperti arwana dan koi di rumahku. Kucing siam punya Pak Abu juga kurus, soalnya kurang makan. Ayam yang ia pelihara juga yang kecil-kecil, jenis kate.”

    Bakar yang berpikir bebas menulis karangannya itu dengan penuh haru. Ia sesekali mengernyitkan dahi. Ia berpikir dirinya tak mungkin bisa menanggungkan kemiskinan seperti yang terjadi pada keluarga Pak Abu. Alangkah malangnya keluarga Pak Abu, pikirnya. Jangan-jangan anak-anaknya harus berebut saat bermain PS3, karena alat permainan itu hanya ada satu di ruang keluarga. Lain dengan di rumahnya, setiap kamar ada. Di kamar Bakar, di kamar kakak-kakaknya, bahkan di kamar ibu-bapaknya .

    Sopir dan pembantu Pak Abu pun, pikirnya, pasti sedih karena tidak seperti pembantu dan sopir dirinya. Bakar membandingkan handphone yang dipegang sopir dan pembantu Pak Abu mungkin jenis monophonic yang ketinggalan zaman, lain dengan handphone pembantu dan sopirnya yang polyphonic dan bisa kirim MMS bahkan ber-video-call. Ia membayangkan kepala urusan dapur di rumah Pak Abu mungkin hanya bisa belanja di pasar yang becek atau supermarket kecil di perempatan jalan. Padahal, pembantu di rumahnya sangat biasa berbelanja ke hypermarket Prancis dan mal-mal.

    “Anak-anak Pak Abu,” tulisnya dengan empati penuh, “kalau liburan tidak bisa ke Eropa atau Amerika seperti aku. Mereka hanya bisa berlibur ke Bali. Itu pun pakai pesawat yang murah, low cost carrier.”

    ———————————————-

    Pesan yang mau saya bagikan: jangan biarkan anak anda terkurung dalam “tempurung”nya. Tunjukkan bagaimana dunia memiliki banyak aspek kehidupan. Jangan sampai empatinya mati karena terlalu dimanja.

  • Kentang, Telur, dan Kopi

    Ini adalah sebuah cerita tentang pentingnya berpikir positif jika menghadapi masalah. Suatu ketika seorang anak perempuan mengeluh pada ayahnya bahwa hidupnya sangat susah dan dia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Ia merasa lelah menghadapi sulitnya hidup yang dijalaninya dan tampaknya masalah selalu datang bertubi-tubi, selesai satu masalah, datang masalah yang lain lagi.

    Sang ayah yang seorang koki kemudian mengajaknya ke dapur. Ia mengambil tiga buah panci dan mengisinya dengan air serta meletakkannya di atas api. Setelah ketiga panci mulai mendidih ia meletakkan sebuah kentang ke dalam panci pertama, telur pada paci ke dua dan biji kopi di panci ketiga. Sang ayah kemudian duduk dan diam menunggu tanpa mengucap satu katapun pada putrinya. Putrinya yang tak sabar dengan apa yang dilakukan ayahnya mengeluh, tampak gusar dan gelisah sambil bertanya dalam hatinya, “apa yang akan dilakukan ayah?”

    Setelah kurang lebih dua puluh menit berlalu, sang ayah mematikan kompor. Dia mengambil kentang dari panci dan meletakkannya dalam mangkok. Lalu mengambil telur dan meletakkannya dalam mangkuk yang lain. Dia kemudian menyendok kopi dan menuangkannya dalam sebuah cangkir. Pandangan sang ayah beralih pada putrinya dan ia bertanya, “Putriku, apa yang kamu lihat?”
    “Kentang, telur dan kopi,” jawab putrinya dengan terburu-buru dan setengah hati.
    “Lihat lebih dekat”, kata sang ayah, “cobalah untuk menyentuhnya.”

    Dia melakukan dan menyadari bahwa kentangnya telah berubah menjadi lembut. Sang ayah kemudian memintanya untuk mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya, ia mengamati telur rebus. Akhirnya, sang ayah memintanya untuk mencicipi kopi dalam gelas dan tercium aroma yang harum dan membuat anak perempuan tersebut tersenyum pada ayahnya.

    “Ayah, apa artinya ini semua?” tanyanya.

    Sang ayah kemudian menjelaskan bahwa kentang, telur dan biji kopi masing-masing menghadapi kesulitan pada air mendidih. Namun, masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Kentang yang keras saat dimasukkan tetapi dalam air mendidih, menjadi lunak dan lembut. Telur itu rapuh, dengan kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya saat dimasukkan ke dalam air mendidih bagian dalam telur menjadi keras. Namun, biji kopi yang unik. Setelah mereka terkena air mendidih, biji tersebut
    mengubah warna air dan menciptakan
    sesuatu yang baru.

    “Yang manakah dirimu?” tanya ayah pada putrinya. “Ketika kesulitan menderamu, bagaimana kamu menyikapinya? Apakah kamu seperti sebuah kentang, telur, atau kopi?”

    Dalam kehidupan, banyak hal terjadi disekitar kita. Tetapi satu-satunya hal yang benar-benar penting adalah apa yang terjadi dalam diri kita. Tipe yang manakah Anda? Ketika datang sebuah masalah (dan akan datang masalah yang lain lagi) bagaimana kita bereaksi? Apakah problema yang datang akan membuat kita lemah, keras hati atau menyebabkan kita berubah menjadi sesuatu yang berharga?

    Sebuah pelajaran berharga: “Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang Anda temukan, itu adalah sesuatu yang Anda buat.”

  • Arti Keadilan

    Suatu pagi, seorang ayah memberi uang saku kepada kedua anaknya. Seorang anak perempuan kelas 6 SD dan seorang anak laki-laki kelas 3 SD. Dia memberikan uang saku dengan jumlah yang berbeda kepada mereka. Tentu saja anak perempuan mendapat jumlah
    uang saku yang lebih banyak. Mengetahui
    hal ini, saat sepulang sekolah si anak laki-laki protes kepada ayahnya.
    “Pa, kok uang sakuku lebih sedikit dari punyanya kakak? Gak adil”
    Kemudian si ayah melemparkan sebuah pertanyaan kepadanya, “Menurutmu adil itu
    yang seperti apa?”
    Dengan polosnya si anak yang baru
    berusia 9 tahun itu menjawab, “Ya harus sama jumlahnya. Kalo kakak dapat banyak, aku juga harus dapat jumlah yang sama juga.”
    Dengan tersenyum si ayah meninggalkan dia.
    Sesaat kemudian dia menemui si anak lelaki dengan membawa dua buah gelas minum, gelas pengukur, dan sebotol air. Kedua gelas itu memiliki ukuran berbeda. Yang pertama gelas besar dan yang kedua gelas kecil.
    “Baik nak. Sekarang ayah minta, tolong masing-masing gelas kamu isi dengan air sebanyak 240 mL!”
    Dengan sedikit pengarahan dari si ayah, dia
    mulai mengisikan air ke dalam gelas pengukur hingga mencapai angka 240 mL dan menuangkannya ke dalam gelas besar.
    Pada gelas yang besar, air hampir memenuhi isi gelas. Namun, pada saat dia mengisi gelas yang kecil airnya tumpah. Kemudian si ayah meminta anaknya untuk mengosongkan gelas-gelas tersebut. Dan sekarang dia memberi instruksi yang berbeda.
    “Sekarang isikan air ke dalam masing-masing gelas hingga penuh!”
    Dia mulai menuangkan air ke dalam masing-masing gelas hingga penuh. Dan sekarang tidak ada air yang tumpah.

    Satu pelajaran yang bisa kita ambil dari
    cerita di atas : Keadilan itu bukan tergantung dari jumlahnya tetapi dari ukurannya.

    Sering diantara kita mengeluh kepada Allah. “Ya Allah mengapa dia memiliki harta yang lebih banyak dari aku? Pada dia memiliki pekerjaan yang sama, ibadah kita juga sama. Bahkan terkadang aku lebih baik dari dia.” Sadarkah kita bahwa Allah itu Maha Mengetahui? Dia tahu akan ukuran setiap hamba-Nya. Dia tidak akan memberikan sesuatu kepada hamba-Nya kecuali sesuai ukuran sang hamba.

    Jadi kalau kita merasa tidak puas dengan kondisi kita sekarang, jangan salahkan orang lain. Gunakan waktu yang ada untuk membesarkan “ukuran” kita 🙂

  • Guru dan Wanita Cantik

    Alkisah, di masa lampau di negeri Jepang, ada sebuah perguruan silat yang terkenal. Suatu saat seorang pendeta tua, yang juga adalah guru besar di perguruan tersebut, dan muridnya yang masih muda melakukan suatu perjalanan. Suatu ketika mereka melewati sebuah sungai yang lebar dan berarus deras, di tepian sungai tampak ada seorang wanita cantik yang takut untuk menyeberangi sungai itu dan menunggu orang-orang untuk membantunya menyeberangi sungai itu. Sang murid yang jarang bertemu wanita di perguruannya, terpesona sekali melihat wanita tersebut, namun ia memilih diam saja, demi menghormati sang guru dengan apa yang diajarkannya selama ini.

    Melihat orang yang butuh bantuan, sang guru bijak pun mendekati wanita tersebut dan menawarkan bantuannya untuk menyeberangkannya melewati sungai. Sang gadis pun menerima tawaran tersebut, akhirnya wanita tersebut digendong oleh guru bijak itu menyeberangi sungai dan menurunkannya di pinggir seberang sungai. Kemudian Guru bijak itu meneruskan perjalanannya diikuti oleh muridnya. Dalam perjalanan, murid muda itu menggerutu dalam hati dan gemas akan perilaku sang guru itu yang menggendong wanita itu yang menurutnya tak dipantas dilakukannya. Ia berpendapat, seharusnya sebagai seorang guru yang bijak, tidak selayaknya menggendong wanita cantik itu, karena akan menurunkan wibawa dan kharismanya.

    Sesampainya di perguruan maka sang murid itu menumpahkan semua kekesalannya kepada Guru Bijak itu karena perilakunya menggendong perempuan cantik di tepi sungai tadi.
    ”Bapak Guru , kenapa engkau menggendong perempuan cantik, bukankah engkau sebagai seorang pendeta telah melanggar ajaran yang selama ini engkau ajarkan kepada kami, murid-muridmu untuk tidak menyentuh wanita. Kenapa engkau tidak memberi contoh yang baik, tindakanmu menggendong perempuan cantik itu sangat tidak cocok dengan posisimu sebagai guru dan pendeta di perguruan ini ”, keluh dan gerutu si murid kepada guru bijak.

    Guru Bijak itu dengan lembut tanpa marah berkata kepada muridnya ”Anakku, wanita cantik itu tadi sudah lama saya turunkan di pinggir sungai, saya bantu dengan hati yang bersih dan telah kulupakan, tetapi kenapa engkau hingga sampai kini tetap menggendongnya dalam pikiranmu? Bersihkanlah pikiranmu, murid ku, tadi saya membantunya dengan hati yg bersih. Jangan engkau kembangkan pikiran-pikiran yang lain yang membuat kalut di pikiran, sebab kadangkala setan membisikkan pikiran-pikiran jelek, jika kita pelihara pikiran jelek tersebut, maka akan membuat kita terjebak dalam pikiran yang kotor tersebut dan tidak menemukan kedamaian. Jangan pelihara (gendong) segala pikiran jelek berlama-lama, letakkanlah pada tempatnya, bersihkanlah pikiran mu. Kebanyakan kita masih sering menggendong masalah masa lalu kita walau sebenarnya sudah selesai, dan ini menimbulkan ketidaknyamanan hati.
    ( Sumber, cerita lama dari Jepang )

    Cerita lama di atas adalah juga semacam cerita simbolik yang menggambarkan bagaimana manusia perlu kejernihan hati dan kebersihan pikiran dalam menempuh kehidupan di dunia ini. Wanita cantik dalam cerita diatas yang membuat sang murid begitu terpesona, adalah juga gambaran pesona dunia yg begitu menawan hati, dalam realita kehidupan pesona dunia tersebut bisa dalam bentuk silau atas pesona harta kekayaan, jabatan yg tinggi, harta benda seperti rumah, kendaraan yang besar mewah, kekuasaan, dan berbagai bentuk kenikmatan dunia lain nya, yang secara naluriah jadi pengharapan dan impian kebanyakan manusia.

    Seorang manusia yang memiliki prinsip hidup dilandasi pemahaman agama yg kuat, tak akan mudah silau dengan pesona nikmat dunia tersebut, karena ia tahu itu semua hanyalah kenikmatan yang sementara. Kenikmatan dunia yang kita terima patut disyukuri, namun itu hanyalah jadi sarana dalam menempuh jalan hidup ini, bukan menjadi tujuan. Itu semua bisa dipahami kalau kita memiliki hati yang jernih dan niat yang ikhlas.

  • Kopi dan Cangkir

    Suatu hari, sebuah kelompok alumni universitas yang terdiri dari para sarjana sukses, berkumpul bersama untuk mengadakan acara reuni dengan mantan
    profesor mereka. Acara yang diadakan di kediaman sang profesor tersebut dihiasi hiruk pikuk dan canda tawa hingga tanpa mereka sadari pembicaraan berubah menjadi ajang curhat berisi keluh-kesah, stres dan kerasnya kehidupan.

    Untuk menghangatkan suasana, sang profesor pergi ke dapur untuk meracik kopi. Sekembalinya dari dapur, ia membawa sebuah teko besar dan berbagai macam cangkir yang terbuat dari keramik, plastik, kaca, kristal dan beberapa cangkir murahan. Ia mempersilakan tamu-tamu beliau untuk menghidangkannya sendiri.

    Ketika setiap mahasiswa menikmati sajian
    kopi, sang profesor berujar: “Kalau kalian perhatikan, cangkir-cangkir yang bagus dipakai semua, yang tersisa hanyalah cangkir yang jelek dan murahan. Walaupun wajar bagi kalian untuk mengambil yang terbaik bagi diri kalian, itulah sumber stres dan masalah di dalam kehidupan kalian.

    Tahukah kalian bahwa cangkir itu sendiri
    tidak merubah cita rasa kopinya. Terkadang cangkirnya lebih mahal dan menyembunyikan nilai kopi yang kita minum. Sebenarnya yang kalian inginkan hanyalah kopi, bukan cangkirnya, tapi tanpa kalian sadari kalian mengambil cangkir yang paling bagus dan kalian mulai membandingkannya dengan cangkir orang lain.

    Sekarang pertimbangkan hal ini: Jika kehidupan kita andaikan sebagai kopi; karir, uang dan jabatan sebagai cangkir. Mereka (karir, uang dan jabatan) hanyalah alat yang berfungsi untuk menampung kehidupan, dan jenis cangkir yang kita miliki tidak dapat menentukan atau pun merubah kualitas kehidupan yang kita miliki. Begitu sering, karena terfokus pada cangkir, kita gagal menikmati kopi yang dihidangkan oleh Tuhan.” Tuhan mendidihkan kopinya, bukan cangkirnya.

    Selamat menikmati kopinya!

  • Mencari yang Sempurna

    Seorang pemuda yang hidup di Perth telah mencapai usia dimana ia merasa harus mencari pasangan hidup. Jadi ia mencari gadis sempurna di seluruh negeri untuk dinikahinya. Setelah berhari-hari, berminggu-minggu mencari, ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik, jenis gadis yang bisa menghiasi sampul majalah perempuan bahkan tanpa make-up atau kosmetik! Namun, meski dia kelihatan sempurna, pemuda itu tak ingin menikahinya. Sebab gadis itu tidak bisa masak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya.

    Lalu ia mencari lagi, selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan akhirnya ia menemukan gadis yang bahkan lebih cantik lagi, dan kali ini masakan gadis itu luar biasa
    lezat, lebih baik dari yang bisa Anda dapatkan
    di restoran terbaik di Australia, bahkan lebih
    baik dari yang bisa Anda dapatkan di
    restoran keluarga. Gadis ini bahkan menjalankan usaha restorannya sendiri! Namun pemuda ini tak ingin menikahinya pula. Sebab kekurangan gadis itu adalah dia bodoh. Dia tak bisa menjalin percakapan sama sekali, sama sekali tidak cerdas. Dia belum menamatkan pendidikan, segala yang ia tahu cuma memasak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya.

    Maka ia mencari selama berminggu-minggu,
    berbulan-bulan, hingga ia akhirnya menemukan gadis yang satu ini! Ia begitu cantik, masakannya melebihi restoran bintang lima, bahkan ia punya tiga restoran sendiri: ala Thai, ala Jepang dan ala Italia. Dan ia begitu cerdas, ia punya dua gelar doktor, pengetahuannya begitu luas, bisa menjalin percakapan begitu hebat, begitu baik, begitu welas asih. Ia sempurna! Tapi, pemuda ini tak bisa menikahinya.

    Sebab gadis ini mencari pria yang sempurna!