Category: Artikel Pengembangan Diri

  • Jangan Mudah Tersanjung

    Pada bulan-bulan yang gersang, sulit bagi gagak untuk menemukan makanan. Dengan perut yang sangat lapar, seekor gagak nekat mengambil sepotong roti yang tersisa di dapur manusia.

    Gagak tersebut menggigit erat roti lalu terbang tinggi sebelum dilempari batu karena telah mencuri. Gagak itu berhenti di sebuah dahan pohon dan bermaksud menikmati roti tersebut di sana.

    Tanpa diketahui oleh gagak, ada seekor rubah yang melihat roti yang belum dimakan oleh sang gagak. Rubah tersebut juga kelaparan dan merancang ide licik untuk mengambil roti tersebut.

    “Hai, gagak..” ujar rubah bermanis-manis kata. “Apa yang bisa aku berikan padamu agar kau mau memberikan roti tersebut padaku?”

    Sang gagak mulai merasa ada yang aneh, dia berpikir kalau sang rubah pasti hendak mengambil roti miliknya. Gagak menggigit rotinya lebih erat.

    Rubah licik tak kehabisan akal, “Hai sobat, apa kabar?” Gagak tetap diam karena sedang menggigit rotinya.

    “Aku dengar.. gagak adalah burung yang sangat menawan, dan baik hati,” ujar rubah dengan nada yang bersahabat dan meyakinkan. “Aku juga sering mendengar bahwa gagak memiliki suara yang merdu dibandingkan burung-burung yang lain. Aku ingin sekali mendengar nyanyian merdumu, sobat!”

    Sang gagak merasa tersanjung dengan pujian tersebut. Dia berpikir bahwa rubah ternyata memiliki kemampuan untuk melihat kecantikan yang sesungguhnya saat banyak yang menghina suara para gagak.

    Tanpa pikir panjang, gagak membuka paruhnya dan mulai bernyanyi. Roti yang digigit erat jatuh dan dengan sigap rubah menangkap roti kemudian kabur. Sang gagak akhirnya menyadari kesalahannya dengan memercayai kata-kata rubah. Mulai saat itu dia mendapat pelajaran bahwa terlalu cepat tersanjung adalah hal yang harus diwaspadai.

  • Pentingnya Punya Teman

    Sekali waktu, elang kesepian tinggal di atas pohon di tepi sungai. Ia masih muda dan tampan, tapi tidak mempunyai teman. Suatu hari, ia melihat seekor elang betina di pohon lain, dan elang itu bermaksud menikahinya. Tapi elang betina itu menolak karena elang jantan itu tak punya teman.

    “Maukah kau menikah denganku jika aku punya tiga teman?” tanya elang jantan. Elang betina pun mengiyakan.

    Elang jantan kemudian pergi mencari teman-teman. Sementara terbang di tepi sungai, ia melihat kura-kura besar. Elang terbang ke arahnya dan berkata, “Kura-kura, maukah kau menjadi temanku dan membantuku jika aku memerlukanmu?” Kura-kura setuju untuk menjadi temannya, dan berkata, “Hubungi aku kapanpun kau membutuhkanku dan aku akan ke tempatmu.”

    Elang juga berjanji kepada kura-kura untuk membantunya setiap saat, kemudian ia terbang untuk mencari teman kedua. Tak lama ia mendapati seekor elang laut. Elang jantan itu pun bertanya apakah ia bisa  menjadi temannya dan membantunya saat ia membutuhkan. Elang laut sangat senang menerima tawaran persahabatan itu dan menawarinya bantuan apabila elang jantan membutuhkannya.

    Elang senang, ia telah memiliki dua teman.

    Ia pun terbang melanjutnya mencari teman ketiga. Ia terbang di atas hutan dan melihat harimau. Ia pun mendekati harimau dan meminta ia untuk menjadi temannya. Harimau siap menerima persahabatan dan berkata, “Mulai sekarang dan seterusnya, aku temanmu. Tak seorang pun akan merugikanmu. Jika ada yang mencoba menyakitimu, hubungi aku dan aku akan bersamamu untuk membantumu.”

    Elang itu sangat bahagia. Ia mengucapkan terima kasih pada harimau, dan terbang kembali mendapati elang betina, dan berkata, “Saya telah mempunyai tiga teman, kura-kura, elang laut, dan harimau. Maukah kau menikah denganku sekarang?”

    Elang betina itu pun setuju menikah dengannya. Segera, pernikahan pun berlangsung dengan dihadiri ketiga teman baru elang jantan. Setelah beberapa bulan mereka mempunyai dua bayi elang. Mereka pun hidup bahagia dalam sarang mereka.

    Suatu hari, dua pemburu datang dan duduk di bawah pohon tempat sarang keluarga elang. Mereka lelah dan lapar. Mereka tidak mampu berburu binatang apapun. Mereka memutuskan untuk menangkap ikan. Tapi mereka tidak bisa melakukannya.

    Hari mulai gelap dan pemburu memutuskan untuk menghabiskan malam di bawah pohon itu. Untuk menghangatkan diri, mereka membuat api unggun. Api membumbung tinggi. Bayi elang yang ada di atas pohon tidak tahan dengan asap dari api unggun. Mereka mulai menangis.

    Pemburu mendengar teriakan mereka. Salah satu dari mereka berkata, “Hei, ada burung di pohon ini. Mari kita tangkap mereka. Dan kita panggang untuk makanan kita.” Pemburu yang lain pun setuju.

    Elang-elang pun mendengar perkataan mereka, yang sangat mengkhawatirkan keamanan bayi mereka. Elang betina menyarankan agar elang jantan mencari bantuan teman-teman mereka. Elang pergi ke tempat elang laut dan menceritakan masalahnya. Elang laut berkata,” Pulanglah dan lindungi bayimu. Aku akan mengatasi pemburu.”

    Elang laut terjun ke sungai dan kemudian terbang di atas api. Air mambasahi api. Ia berulang kali menyelam ke sungai dan terbang di atas api. Api pun padam. Para pemburu menyalakan lagi, namun setiap kali elang laut menyiramnya dengan air.

    Sementara itu, elang jantan pergi menemui kura-kura. Ketika kura-kura mendengar masalah elang, ia berkata padanya, “Jangan khawatir teman, aku akan berada di sana dalam waktu singkat dan mengatasi para pemburu dengan caraku sendiri. Pulanglah dan lindungi keluargamu.”

    Elang terbang ke pohon bersama kura-kura itu. Kura-kura itu cukup dekat dengan tempat pemburu yang mencoba menyalakan api. Para pemburu melihat kura-kura dan salah satu dari mereka berkata, “Lihat ada kura-kura besar. Mari kita lupakan elang dan menangkap kura-kura ini.”

    Pemburu lain setuju. Mereka mencoba membuat tali dengan merobek baju mereka. Lalu mengikat kura-kura dan menariknya. Namun, kekuatan kura-kura itu rupanya jauh lebih besar daripada para pemburu itu. Kura-kura menarik kedua orang itu ke dalam air. Para pemburu berupaya keras melepaskan diri dari kura-kura. Mereka pun memotong tali yang mengikat kura-kura.

    Untuk itu, mereka akhirnya tidak memakai baju. Mereka kembali ke daratan, dan karena kedinginan mereka bermaksud membuat api lagi dengan mengumpulkan ranting dan dahan.

    Elang jantan khawatir melihat ini. Ia terbang ke hutan dan menemui teman ketiganya, harimau. Ia menemukan harimau di tepi hutan. Ketika mendengar masalah elang, ia langsung bergegas menuju tepi sungai.

    Pemburu yang telah menyalakan api dan salah satu dari mereka sedang berusaha memanjat pohon untuk mengambil bayi elang. Saat itu, harimau pun mencapai pohon. Melihat harimau, para pemburu berlarian dan tidak pernah kembali lagi.

    Elang mengucapkan terima kasih kepada ketiga temannya untuk segala bantuan mereka yang tepat waktu. Ia menyadari pentingnya memiliki teman. Sungguh bijaksana elang betina itu yang menasihatinya untuk memiliki teman sebelum menikahinya.

  • Percayalah pada Apa yang Dirasakan!

    Pagi ini di suatu kelas, seorang guru mengajak murid-muridnya berolahraga sambil melakukan sebuah permainan. Ia mengajak muridnya untuk berdiri, menghadap jauh dari teman sekelasnya, lalu menjatuhkan diri ke belakang. Mereka diharapkan mengandalkan teman-temannya untuk menangkap teman yang jatuh tersebut.

    Sebagian besar murid merasa tidak nyaman melakukannya, karena mereka tidak yakin adakah teman yang akan menangkap mereka sebelum jatuh. Setiap kali mencoba, mereka tidak yakin untuk menjatuhkan diri. Akhirnya sambil tersipu-sipu kebanyakan murid tidak berani mencoba lagi.

    Hingga, satu siswa, gadis berambut gelap tipis yang selalu memakai sweater putih besar, dengan tenang maju. Lalu ia menyilangkan lengannya di depan dada, menutup matanya, berdiri tegak, dan tidak gentar melakukannya. Untuk sesaat, ia menjatuhkan diri. Pada detik terakhir, temannya langsung meraih kepala dan bahunya.

    “Waaa…!” beberapa siswa berteriak. Beberapa siswa bertepuk tangan. Sang guru akhirnya tersenyum, “Kalian lihat,” katanya pada gadis itu. “Ia menutup mata. Itu perbedaannya. Kadang-kadang kita tidak percaya apa yang kita lihat. Kita harus percaya pada feeling kita. Pada apa yang kita rasakan. Jika kita memiliki orang yang percaya pada kita, maka kita harus percaya padanya juga. Bahkan ketika kita berada dalam gelap. Bahkan ketika kita sedang jatuh.”

  • Berpikir Positif pada Orang Lain

    Kisah ini bermula dari seorang murid yang setia dalam menempuh berbagai jalan dalam menuntut ilmu.

    Setelah sekian lama si murid berjuang demi mencapai tingkat akademik yang lebih tinggi, tiba akhirnya Sang Guru memberikan ujian terakhir. Jika si murid bisa menjawab pertanyaan yang akan diberikannya, ia akan dinyatakan lulus dan harus pergi untuk mengamalkan segala ilmu yang telah dimilikinya.

    Sang Guru yang tampak arif dan bijaksana bertanya kepada murid kesayangannya.

    “Muridku, hari ini aku akan memberimu satu pertanyaan dan aku harap kamu bisa menjawabnya dengan tepat,” kata Sang Guru.

    “Baik Guru, apa pertanyaannya?”

    “Kamu akan aku beri waktu selama 3 hari untuk mencari makhluk yang dalam pandanganmu sangat buruk.”

    Dengan penuh percaya diri si murid pun pergi meninggalkan gurunya untuk merenung dan mencari jawaban yang diberikan oleh Sang Guru tadi.

    Pada hari pertama, si murid bertemu dengan orang yang gemar berjudi, mabuk-mabukan yang hampir setiap hari tidak pernah berdoa kepada Tuhan.

    Maka terbesitlah dalam hatinya, “Mungkin orang ini lebih buruk dari aku karena dia berbuat maksiat sedangkan aku tergolong ahli ibadat.”

    Maka pulanglah si murid ke rumahnya. Sampai di rumah ia berpikir, apakah benar ia lebih baik dari penjudi dan pemabuk yang dijumpainya tadi? Lantas si murid menyadari, bahwa manusia bukanlah robot yang bisa diprogram dengan satu tingkah laku yang tidak pernah bisa berubah. Manusia adalah makhluk yang dikarunia akal dan pikiran dan diberi kesempatan untuk bertobat kepada Tuhan.

    Maka si murid pun menyimpulkan bahwa dirinya tidak lebih baik dari pemabuk dan penjudi itu selagi masih menjalani hidup di dunia yang penuh dengan cobaan ini. Karena, boleh jadi seorang yang larut dalam dosa-dosa yang melimpah lantas bertobat dan mengakhiri hidupnya dengan akhir yang indah lagi sempurna. Ia akan lebih baik dari seorang ahli ibadah yang tidak pernah ikhlas dalam menjalankan ketaatan kepada Tuhan.

    Pada hari kedua, si murid keluar rumah lagi dan menjumpai seekor anjing jelek buruk rupa dan penyakitan. Si murid bergumam, “Mungkin anjing inilah makhluk yang lebih buruk dari aku di dunia ini.” Dengan semangat si murid merasa mempunyai jawaban untuk pertanyaan gurunya itu. Ia pun kembali ke rumah.

    Sesampainya di rumah, si murid mulai merenung kembali, “Seekor anjing walaupun buruk rupa dan penyakitan, ia tidak lebih buruk dari aku. Karena ketika tiba hari akhir seekor anjing tidak akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah, sedangkan aku akan dimintai pertanggungjawaban. Jika aku tidak bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan selama di dunia ini maka hancur dan habislah diriku. Sungguh, aku tidak lebih baik dari anjing itu.”

    Pada hari ketiga akhirnya si murid menghadap Sang Guru. Maka bertanyalah Sang Guru, “Sudahkah kamu menemukan jawaban dari pertanyaanku, muridku?”

    “Sudah, Guru,” jawab si murid. “Ternyata makhluk yang paling buruk adalah saya, Guru.”

    Sang Guru mengangguk dan tersenyum, “Kamu telah berhasil muridku. Kamu lulus.”

    Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Seseorang tidak berhak menganggap dirinya paling suci dan paling beriman dari orang lain. Karena hanya Tuhanlah yang bisa menilai keikhlasan iman dan pelayanan seseorang. Seringkali kesombongan yang ada dalam diri seseorang akan menghancurkan dirinya sendiri.

    Maka, selama kita masih sama-sama menjalani hidup di dunia ini, mulailah belajar berpikir positif terhadap orang lain. (*)

  • Kekayaan Tidak Bergantung pada Apa yang Kita Miliki

    Ada seorang gadis yang menyewa rumah bersebelahan dengan seorang ibu miskin dengan dua anak.

    Suatu malam saat tiba-tiba mati lampu, dengan bantuan cahaya dari ponsel gadis itu pergi ke dapur hendak mengambil lilin. Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu. Ternyata anak miskin yang tinggal di sebelah rumahnya.

    Anak itu bertanya dengan risau, “Kakak, ada lilin tidak?”

    Gadis itu berpikir, jangan pinjamkan karena nanti jadi satu kebiasaan. Maka gadis itu menjawab, “Tidak ada!”

    Lalu anak miskin itu berkata riang, “Saya sudah duga kakak tidak punya lilin, ini saya punya 2 lilin. Saya bawakan untuk Kakak. Kami bimbang karena kakak tinggal sendirian dan tidak ada lilin.”

    Gadis itu merasa bersalah, dalam linangan air mata, ia memeluk anak kecil itu dengan erat.

    Kekayaan tidak bergantung seberapa banyak kita punya, tetapi seberapa kita mampu untuk berbagi kepada mereka yang tidak mampu. Miskin bukan berarti tidak punya apa-apa dan kayabukan berarti punya segalanya.

  • Hiu Kecil dalam Tangki Hidup Kita

    Orang Jepang selalu menyukai ikan segar. Namun selama beberapa dekade perairan dekat dengan Jepang tidak menyediakan banyak ikan. Jadi untuk makan rakyat Jepang, kapal penangkap ikan pergi semakin jauh mencari ikan. Semakin jauh para nelayan pergi, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk membawa ikan ke darat.

    Jika perjalanan pulang memakan waktu lebih lama, ikan pun sudah tidak segar lagi. Untuk mengatasi masalah ini, perusaahan penangkap ikan memasang freezer di kapal mereka. Mereka akan menangkap ikan dan membekukannya di laut. Freezer memungkinkan kapal untuk pergi lebih jauh dan tinggal lebih lama.

    Tetapi, orang Jepang bisa merasakan perbedaan antara ikan segar dan beku. Mereka tidak menyukai rasa ikan beku. Jadi, ikan beku pun dijual dengan harga yang lebih rendah. Akhirnya, perusahaan perikanan memasang tangki ikan. Mereka akan menangkap ikan dan memasukkan ikan ke dalam tangki. Namun di dalam tangki ikan saling bertabrakan, lelah, dan akhirnya kehilangan rasa segar.

    Kini mereka dapat menangkap ikan dengan rasa segar dan membawanya ke Jepang. Bagaimana caranya mereka berhasil? Untuk menjaga agar rasa ikan segar, perusahaan penangkapan ikan di Jepang tetap menyimpan ikan di dalam tangki tapi dengan ikan hiu kecil. Ikan-ikan tersebut tertantang dan karenanya selalu bergerak.

    Tantangan yang mereka hadapi membuat ikan-ikan itu tetap hidup dan segar. Pernahkah kita menyadari bahwa sebagian dari kita juga hidup dalam kolam tetapi sebagian besar waktu membuat lelah dan membosankan? Pada dasarnya dalam hidup kita, hiu adalah tantangan baru untuk tetap aktif.

    Jika kita terus bisa menaklukkan tantangan, kita merasa senang. Tantangan kita membuat kita berenergi. Jangan ciptakan kesuksesan dan bersenang-senang di dalamnya dalam keadaan semu. Kita memiliki sumber daya, keterampilan, dan kemampuan untuk membuat perbedaan.

    Taruh hiu hidup di tangki kita dan lihat seberapa jauh kita benar-benar bisa pergi jauh.

  • Dokter Ikhlas Tanpa Papan Nama

    Judul asli tulisan ini “Aznan Lelo: Dokter Ikhlas Tanpa Papan Nama: Dokter Mestinya Tak Boleh Pasang Tarif” dari Majalah Intisari edisi September 2013

    Sebuah bangunan tua di kawasan Jln. Puri Medan, Kelurahan Komat, Kecamatan Medan Area, Medan, Sumatera Utara, kerap didatangi orang-orang yang mengendarai becak, sepeda motor, hingga mobil.

    Mereka adalah pasien seorang dokter yang akrab disapa Buya. Nama lengkap sang dokter dengan deretan gelarnya adalah Prof. Dr. Aznan Lelo Ph.D, Sp.FK.

    Di kediamannya itu, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) ini membuka praktik tanpa memasang papan nama.

    Kepada pasiennya dia tidak memasang tarif. Pasien membayar jasa konsultasi dan obat racikannya sesuka hati. Resepnya untuk obat apotek pun terjangkau. Cukup fenomenal, kontras dengan umumnya dokter, apalagi di kota-kota besar.

    Biasanya praktik buka pukul 17.00 WIB. Ada pasien yang datang dan mendaftar sejak siang kemudian pergi, banyak pula yang datang langsung mendaftar dan menunggu giliran.

    Ruang tunggu yang juga bagian dari garasi itu kadang dipenuhi pasien, sesuai giliran mereka masuk ke ruang praktik berukuran minimalis.

    Di meja registrasi di ujung garasi itu disediakan amplop-amplop putih bergaris tepi biru-merah. Pasien yang sudah sering datang tahu cara dan jumlah pengisian amplop untuk tarif “ikhlas hati” itu.

    Amplop yang sudah diisi dibawa masuk ke ruang praktik saat diperiksa, dan seusai pemeriksaan ditinggal di meja dr. Aznan. Bagi yang belum tahu dan menanyakan biaya, ada kalanya kena semprot kegusaran dan ketersinggungan Pak Dokter.

    Kadang dr. Aznan memberikan obat hasil racikannya sendiri, kadang pula menuliskan resep. Obat-obat yang dipilihnya pun generik, bisa diperoleh di banyak apotek dengan harga terjangkau.

    Andi (30), seorang kontraktor yang tinggal di Jln. Eka Rasmi, Kelurahan Gedung Johor Medan, yang datang dengan mobil APV putih, mengatakan, alasan utama membawa tiga anaknya ke dr. Aznan bukan hanya karena sang dokter tidak mematok tarif.

    Tapi ia betul-betul percaya pada kualitas dokter itu. Hari itu ketiga anaknya menderita batuk pilek.

    “Tiga anak saya ini dulu punya penyakit kelenjar di lehernya. Dokter lain yang pernah saya datangi memvonis harus diambil tindakan medis.

    Tapi alhamdullillah, sama Buya tidak. Waktu itu pengobatannya selama enam bulan, dan radang kelenjar pada tiga anak saya sembuh,” kata Andi.

    Ia menuturkan, metode pengobatan yang dilakukan dr. Aznan sangat teratur dan bagus karena punya keahlian meracik obat.

    “Kalau dokter lain resep obatnya mahal. Di sini obat yang diresepkan Buya relatif terjangkau dan kita bisa dapat di apotek mana saja. Komposisi obatnya saya rasa sangat tepat, karena beliau sendiri ahli farmakologi.”

    Sebagai pasien yang sudah sering berobat kepada dr. Aznan, Andi cukup tahu diri mengisi amplop. “Saya sewajarnyalah, apalagi kalau anak kita sudah sehat, maka kalau ada rezeki kita tambah, kalau tak ada ya ala kadarnya,” tutur Andi

    Ia menilai dokter Aznan juga rajin bersedekah. “Karena sudah lama kenal, pernah juga membuka amplop dari pasien di depan saya. Saya lihat bahkan ada yang memberi Rp5.000. Pernah uang dari amplop pasien dibelikan durian untuk dimakan sama-sama,” ujarnya.

    Membandingkan dr. Aznan dengan dokter lain, Andi berkomentar, “Waduh, kalau di luar sana, untuk dokter anak saja sekali konsultasi bisa Rp200 ribu atau Rp250 ribu. Itu lain obat, ya. Terkadang ‘kan ada dokter yang komersil, diresepkan kepada kita brand tertentu yang susah kita cari, mau tak mau kita beli di apoteknya.”

    Pendapat senada diungkapkan Restu Damanik (30) warga Jln. Siriaon, Madala By Pass, Medan. Restu, karyawan di PT Midea Elektronik, mengaku, pada 2005 divonis dokter THT (telinga hidung tenggorokan) mengidap polip pada hidungnya dan harus menjalani operasi kecil.

    Dari temannya ia tahu praktik dokter Aznan, kemudian dia datangi. “Alhamdullilah, setelah minum obat resep dari Buya, polipku sembuh dalam empat bulan.”

    Dari pengalamannya berobat ke dr. Aznan, Restu menceritakan, pasien datang dari pelbagai tempat. Dari Aceh, Sidimpuan (Sumut), Rantauprapat (Sumut), dsb.

    “Ada pasien dimarahi. Dia nanya berapa biaya berobatnya, terus kenak sental (dimarahi) sama Buya, ‘udah nggak usah bayar aja’, kata Buya,” cerita Restu.

    Menurut pengakuan Restu, sekali berobat ia memasukkan Rp25 ribu, kadang Rp30 ribu ke dalam amplop. “Beginilah dokter yang kita inginkan, arif bijaksana, dan tidak komersil.”

    Apa motivasi sang profesor doktor tidak mematok biaya konsultasi, mengingat dari pengakuannya, dia tidak punya rumah sendiri? Memang ada satu rumah BTN yang dibelinya secara kredit sejak 1981 di kawasan Johor, tapi tidak sempat ia nikmati.

    “Oh, aku sampai sekarang tak punya rumah, biar kau tahu. Ini rumah mertuaku, yang ada di kampus USU itu kan rumahnya USU. Ada pun rumah BTN yang dahulu kucicil dari RISPA, tak sempat kunikmati karena disewakan,” ujar Aznan.

    Aznan tak terlalu bernafsu memikirkan harta duniawi. Prinsip hidupnya sederhana, “Aku yang penting tak ada utang, itu saja prinsipku.”

    Prinsip itu telah tertanam di dalam dirinya sejak kecil. Hingga dewasa, prinsip itu terus dia pegang menjadi keyakinan.

    “Allah sudah mengatakan bahwa dia itu Arrahman Arrahim (maha pengasih dan maha penyayang) dan Allah Khairurrazikin (pemberi rezeki yang paling canggih, paling baik, tak ada duanya).

    Dari kecil sudah disampaikan dan hingga sekarang masuk di otakku, masuk di keyakinanku, bahwa langkah, rezeki, pertemuan, maut, hanya Allah yang tahu.

    Aku tak tahu Allah itu telah mempersiapkan berapa banyak rezeki samaku dan seberapa untuk kau.

    Dan aku tidak akan mati, kau juga tidak akan mati sebelum rezeki yang diberi Allah itu kita habiskan,” kata ayah tiga anak yang makin yakin dengan jalan pelayanan yang dia tempuh sepulang meraih gelar Ph.D. di Australia pada 1987.

    Sebelum berangkat ke Australia sekitar 1983, Aznan menghadapi tantangan yang cukup besar. Ia dicekal pemerintah, tidak boleh ke luar negeri karena dituding sebagai ekstremis.

    “Dari tahun 1980 sudah ada panggilan agar aku berangkat ke Australia untuk mengambil Ph.D. Tapi ternyata, di negeriku yang amat sangat tercinta ini, aku disebut ekstremis. Aku kena cekal, dikatakan Islam ekstremis, sama waktu itu dengan orang-orang yang tak boleh bepergian ke luar negeri,” kisahnya.

    Aznan sempat patah arang untuk belajar ke Australia. Namun, setelah ia meminta nasihat kepada ustaz, optimismenya muncul lagi.

    “Kata ustaz, ‘Tak beriman kau Aznan, andaikata rezeki itu memang disiapkan untuk kau ke sana (Australia). Artinya kau akan sampai, walaupun kau ke sana naik kereta api’,” katanya mengenang.

    “Berarti, kalau memang ada rezekiku di Australia, artinya aku akan tetap sampai ke sana. Kalau ada sepiring nasiku di sana, aku harus sampai ke sana untuk menghabiskan sepiring nasi tadi,” tegasnya.

    Hikmah yang dia petik dari pengalaman itu, lanjut Aznan, dalam kehidupan ini manusia tak usah selalu heboh. Sebab pada dasarnya rezeki masing-masing orang sudah ditentukan Yang Maha Esa.

    ”Tak perlu heboh kali, buka praktik di sana-sini. Sudah, kerja ajalah yang baik. Apa kerja kau, wartawan, berprofesilah kau sebagai wartawan. Aku, dokter, berprofesilah aku sebagai dokter.

    Jangan nanti, penampilan ustaz, tapi tujuannya ngambil duit, penampilan wartawan tujuannya ngambil duit, penampilan dokter tujuannya ngambil duit, guru ngambil duit, polisi ngambil duit, hakim mengambil duit, pengacara mengambil duit. Itu salah!”

    Dokter, bagi Aznan, adalah profesi yang tidak boleh menetapkan tarif jasa pembayaran. Sama halnya seperti dua profesi lainnya, yakni pengacara dana guru.

    “Yang datang ke pengacara itu kan orang meminta nasihat, datang ke guru karena orang mau belajar, datang ke dokter karena orang minta pengobatan. Jangan dibilang, eh, sudah kutolong kau, mana duitnya. Itu tak boleh.

    Terkecuali karena ilmu kita dia pintar lalu dia kaya, terus dia memberikan sesuatu tidak kita minta, boleh. Jadi, tiga profesi ini mestinya tak boleh membuat tarif,” katanya.

    Aznan mengaku pasti, prinsip dia diragukan orang. Bagaimana ia membiayai hidup keluarga dan menyekolahkan anaknya hingga tiga anaknya meraih sarjana?

    “Kan bingung juga kau, kok bisa hidup dokter, punya istri, anak sarjana semua, dua orang jadi dokter dan satu sarjana hukum. Berdagang rupanya dokter? Kau tanya semua orang aku tak ada berdagang. Aku dosen, makin tak bisa aku minta duit sama muridku. Lalu dari mana? Oh itu semua buah kasih. Bagaimana bentuknya, ya macam-macam, seperti orang mengucapkan terima kasih,” katanya.

    Praktik dokter Aznan selalu dipadati pasien yang jumlahnya mencapai seratusan. Akibatnya ia sering harus membuka praktik hingga dini hari, terkadang sampai pukul 01.30. Tentu sang profesor dibantu beberapa mahasiswanya yang sedang coass (magang dokter).

    Setiap pasien yang akan masuk ruang praktik dipanggil oleh coass, terkadang istri Aznan, Yanti, juga turut memanggil. Di dalam ruang praktik yang leluasa dilihat, rata-rata pasien diperiksa sekitar 5�15 menit.

    “Minimal sehari 30 pasien. Nggak ada saya pun 30 paling sedikit. Kalau saya ke luar kota, bila ada kejadian yang sulit, anak saya yang dokter bisa menghubungi saya. Pasien juga bisa bertanya langsung melalui telepon,” kata Aznan.

    Selain datang dari pelbagai daerah, pasien dr. Aznan juga beraneka jenis kelamin, tingkat usia, suku bangsa, dan agama. Bahkan seorang biarawati Belanda pernah menjadi pasiennya.

    Soal bayarannya, Aznan mengatakan tidak penting. Dia bilang, “Kalau dia mau datang jauh-jauh jumpai aku, berarti kan dia menghormati aku. Bisa rupanya dibayar penghormatan itu?”

    Kembali ke soal bayaran seikhlasnya tadi, dengan ekspresi datar Azlan mengatakan, “Ada Rp5000, lima ratus rupiah pun ada, yang kosong juga ada.”

    Apakah tidak merasa sakit hati dengan amplop kosong itu?

    “Sama siapa aku harus sakit hati? Nggak mungkin. Bisa rupanya kutandai amplop ini dari si anu, ini dari si anu dari begitu banyaknya amplop tadi?” ia tersenyum.

    Namun Aznan mewanti-wanti tindakannya tidak perlu dicontoh oleh dokter lain. “Kalau aku boleh kasih nasihat sama kawan-kawan dokter, jangan tiru aku. Kalau pun mau kan sudah kujelaskan tadi, bahwa harus yakin dulu dengan keislaman. Bahwa Islam itu rahmatanlil al’amain (rahmat bagi seluruh alam).”

    Dekan Fakultas Kedokteran USU, Prof. dr. Gontar A. Siregar, mengenal sosok Prof. dr. Aznan Lelo Ph.D, SpFK sebagai dosen yang punya kedisiplinan tinggi dalam memberikan kuliah ke mahasiswanya.

    Di kalangan fakultas, Prof. Aznan yang juga Ketua Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK USU dikenal cukup bersahaja di kalangan fakultas yang dipimpinnya.

    “Saya mengenal beliau (Prof Aznan) orang yang punya disiplin dan bersahaja. Ia sangat disiplin dalam memberikan pendidikan,” kata Gontar.

    Aznan juga sering memberikan kritik konstruktif untuk kebaikan fakultas. “Protes iya. ‘Kan bagus daripada ngangguk saja. Misalnya, tentang fasilitas apa saja kurang memadai dan ruangan bagaimana bisa nyaman untuk para dosen dan mahasiswa,” ujarnya.

    Gontar mengakui tidak ada ketentuan baku yang mengatur tarif jasa konsultasi medis untuk dokter, bahkan di Indonesia.

    “Sampai sekarang belum ada. Namun, hal itu sudah pernah menjadi perbincangan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dalam suatu rapat dengar pendapat. Tarif sesuai spesialisasi, angka bervariasi, mulai Rp50 ribu sampai Rp500 ribu atau sesuai dengan kewajaran,” ujar Gontar.

    Gontar meyakini, jasa dokter praktik yang dibebankan ke pasien juga untuk membiayai fasilitas yang secara langsung atau tidak langsung dinikmati pasien. Dokter juga manusia biasa yang sama-sama punya kebutuhan seperti profesi lain. “Dokter juga harus bayar air, listrik, gaji perawat, juga beli bensin,” katanya.

    Bila dokter tidak membebankan biaya kepada pasien, ia nilai hal tersebut tidak merupakan “saingan” bagi dokter lainnya. “Ya itu terserah saja,” tambah Gontar.

  • Menciptakan Teman atau Musuh, Pilihan di Tangan Kita

    Alkisah di suatu waktu pada zaman Tiongkok Kuno ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak dan kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba petani.

    Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia tidak mau peduli. Hingga suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa kambing sehingga terluka parah.

    Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim. Hakim mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata, “Saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?”

    Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.

    “Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi agar domba-domba Anda tetap aman dan tetangga Anda pun akan tetap sebagai teman.” Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.

    Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi dari pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, tentu saja mereka menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

    Untuk menjaga mainan baru anak-anaknya, si pemburu itu pun mengurung anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing sang pemburu tidak pernah lagi menggangu domba-domba pak tani.

    Sebagai rasa terima kasihnya kepada petani atas kebaikan terhadap anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruannya kepada petani. Dan sebagai balasannya, petani pun mengirimkan daging domba dan keju buatannya.

    Dalam waktu singkat, pemburu dan petani itu pun berteman dengan baik.

  • Renungan Untuk Tukang Kebut-kebutan

    Jack melihat speedometer sebelum melambat : 73 di zona 55. Keempat kalinya dalam beberapa bulan. Bagaimana mungkin seorang pria tertangkap begitu sering?

    Ketika mobilnya melambat menjadi 10 kilometer per jam, Jack menepi, tapi tidak persis di pinggir jalan. Polisi itu khawatir tentang bahaya lalu lintas. Polisi itu melangkah keluar dari mobilnya, membawa catatan besar di tangannya.

    Ketika menghampiri mobil itu, Jack melihat orang yang ada di dalamnya, Bob, adalah tetangganya sendiri. Seorang pria yang selalu mengajaknya bermain golf di akhir pekan. Pria itu keluar dari mobil dan menemui tetangganya sendiri yang tak pernah dilihatnya dalam balutan seragam polisi lalu lintas.

    “Hai, Bob, kita bertemu seperti ini.”

    “Hai, Jack.” Tidak ada senyum. “Apa Anda akan menangkap saya? Saya terburu-buru ingin melihat istri dan anak-anak saya setelah seharian bekerja.”

    Jack diam saja. Ia menunduk. Lalu ia berkata, “Tahukah bahwa Anda memiliki reputasi buruk di kantor polisi?”

    Bob mulai berbohong soal kecepatan spedometer yang terlihat di dashboard-nya. Akhirnya polisi itu menyuruh Bob kembali masuk ke mobilnya. Jack menuliskan sesuatu di kertas memo. Mengapa ia tidak meminta surat izin mengemudi pria itu?

    Apapun alasannya, ia akan bertemu kembali dengan pengemudi itu di hari Minggu nanti. Polisi itu mengetuk pintu mobil Bob. Lalu memberikan kertas yang dilipat kepada Bob.

    “Terima kasih,” Bob mencibirkan suaranya.

    Pria itu lalu membuka lipatan kertas. Ia berpikir, berapa biaya yang akan tertulis di kertas itu. Tunggu sebentar. Apa ini? Sekadar lelucon?

    Tentu saja ini bukan tiket. Ia mulai membaca: “Ya, Bob. Aku pernah punya anak perempuan. Ia berusia enam tahun ketika ia terbunuh oleh mobil. Saya kira Anda bisa menebaknya – sopir ngebut. Tiga bulan dipenjara, orang itu bebas. Ia bebas memeluk putrinya, karena ia punya tiga anak perempuan, sementara aku hanya satu. Dan aku harus menunggu sampai ke surga untuk bisa memeluknya lagi. Seribu kali saya mencoba memaafkan orang itu. Seribu kali saya pikir saya punya maaf. Mungkin sudah saya lakukan, tapi saya harus melakukannya lagi. Bahkan sekarang. Berdoalah bagi saya. Dan hati-hati, Bob, saya masih punya anak laki-laki yang tersisa.” – Jack.

    Bob melihat mobil polisi tadi sudah pergi. Ia mengamatinya sampai mobil itu menghilang. 15 menit kemudian, ia melaju perlahan menuju rumahnya, berdoa untuk mohon pengampunan dan memeluk istri dan anak-anaknya ketika ia tiba.

  • Solusi Ada Jika Kita Percaya ‘Dia’ Ada

    Seorang ayah meninggal dan meninggalkan 3 orang anak laki-laki dengan 17 unta.

    Setelah beberapa hari sepeninggal ayah mereka, anak-anaknya membuka surat wasiat. Dalam wasiatnya sang ayah menyatakan bahwa anak sulung mendapatkan setengah dari 17 unta, sementara anak tengah mendapatkan 1/3 nya. Sedangkan si bungsu harus diberikan 1/9 dari 17 unta.

    Karena tidak mungkin untuk membagi 17 unta menjadi setengah atau dibagi menjadi 3 atau 9, ketiga anak itu mulai bertengkar.

    Akhirnya, tiga anak laki-laki itu pun memutuskan untuk mendatangi orang bijak.

    Si bijak mendengarkan dengan sabar tentang kisah mereka. Akhirnya, ia memberikan solusi, membawakan satu unta dan menambahkan pada seluruh unta. Jadi, jumlah unta sekarang menjadi 18 ekor.

    Sekarang, ia mulai membaca wasiat almarhum ayah mereka. Setengah dari 18 menjadi 9. Lalu, ia memberikan si sulung 9 ekor unta. Sepertiga dari 18 adalah 6, jadi ia memberikan si tengah 6 ekor unta. Dan sepersembilan dari 18 adalah 2, jadi ia memberikan si bungsu 2 ekor unta.

    Nah, sekarang jumlahkan kembali, 9 ditambah 6 ditambah 2 hasilnya adalah 17. Sisa satu ekor unta, akhirnya si bijak kembali mengambil untanya.

    Untuk mencapai solusi, langkah pertama adalah percaya bahwa ada solusi. Jika kita berpikir tidak ada solusi, maka kita tidak akan dapat mencapai apapun.