Judul asli tulisan ini “Aznan Lelo: Dokter Ikhlas Tanpa Papan Nama: Dokter Mestinya Tak Boleh Pasang Tarif” dari Majalah Intisari edisi September 2013
Sebuah bangunan tua di kawasan Jln. Puri Medan, Kelurahan Komat, Kecamatan Medan Area, Medan, Sumatera Utara, kerap didatangi orang-orang yang mengendarai becak, sepeda motor, hingga mobil.
Mereka adalah pasien seorang dokter yang akrab disapa Buya. Nama lengkap sang dokter dengan deretan gelarnya adalah Prof. Dr. Aznan Lelo Ph.D, Sp.FK.
Di kediamannya itu, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) ini membuka praktik tanpa memasang papan nama.
Kepada pasiennya dia tidak memasang tarif. Pasien membayar jasa konsultasi dan obat racikannya sesuka hati. Resepnya untuk obat apotek pun terjangkau. Cukup fenomenal, kontras dengan umumnya dokter, apalagi di kota-kota besar.
Biasanya praktik buka pukul 17.00 WIB. Ada pasien yang datang dan mendaftar sejak siang kemudian pergi, banyak pula yang datang langsung mendaftar dan menunggu giliran.
Ruang tunggu yang juga bagian dari garasi itu kadang dipenuhi pasien, sesuai giliran mereka masuk ke ruang praktik berukuran minimalis.
Di meja registrasi di ujung garasi itu disediakan amplop-amplop putih bergaris tepi biru-merah. Pasien yang sudah sering datang tahu cara dan jumlah pengisian amplop untuk tarif “ikhlas hati” itu.
Amplop yang sudah diisi dibawa masuk ke ruang praktik saat diperiksa, dan seusai pemeriksaan ditinggal di meja dr. Aznan. Bagi yang belum tahu dan menanyakan biaya, ada kalanya kena semprot kegusaran dan ketersinggungan Pak Dokter.
Kadang dr. Aznan memberikan obat hasil racikannya sendiri, kadang pula menuliskan resep. Obat-obat yang dipilihnya pun generik, bisa diperoleh di banyak apotek dengan harga terjangkau.
Andi (30), seorang kontraktor yang tinggal di Jln. Eka Rasmi, Kelurahan Gedung Johor Medan, yang datang dengan mobil APV putih, mengatakan, alasan utama membawa tiga anaknya ke dr. Aznan bukan hanya karena sang dokter tidak mematok tarif.
Tapi ia betul-betul percaya pada kualitas dokter itu. Hari itu ketiga anaknya menderita batuk pilek.
“Tiga anak saya ini dulu punya penyakit kelenjar di lehernya. Dokter lain yang pernah saya datangi memvonis harus diambil tindakan medis.
Tapi alhamdullillah, sama Buya tidak. Waktu itu pengobatannya selama enam bulan, dan radang kelenjar pada tiga anak saya sembuh,” kata Andi.
Ia menuturkan, metode pengobatan yang dilakukan dr. Aznan sangat teratur dan bagus karena punya keahlian meracik obat.
“Kalau dokter lain resep obatnya mahal. Di sini obat yang diresepkan Buya relatif terjangkau dan kita bisa dapat di apotek mana saja. Komposisi obatnya saya rasa sangat tepat, karena beliau sendiri ahli farmakologi.”
Sebagai pasien yang sudah sering berobat kepada dr. Aznan, Andi cukup tahu diri mengisi amplop. “Saya sewajarnyalah, apalagi kalau anak kita sudah sehat, maka kalau ada rezeki kita tambah, kalau tak ada ya ala kadarnya,” tutur Andi
Ia menilai dokter Aznan juga rajin bersedekah. “Karena sudah lama kenal, pernah juga membuka amplop dari pasien di depan saya. Saya lihat bahkan ada yang memberi Rp5.000. Pernah uang dari amplop pasien dibelikan durian untuk dimakan sama-sama,” ujarnya.
Membandingkan dr. Aznan dengan dokter lain, Andi berkomentar, “Waduh, kalau di luar sana, untuk dokter anak saja sekali konsultasi bisa Rp200 ribu atau Rp250 ribu. Itu lain obat, ya. Terkadang ‘kan ada dokter yang komersil, diresepkan kepada kita brand tertentu yang susah kita cari, mau tak mau kita beli di apoteknya.”
Pendapat senada diungkapkan Restu Damanik (30) warga Jln. Siriaon, Madala By Pass, Medan. Restu, karyawan di PT Midea Elektronik, mengaku, pada 2005 divonis dokter THT (telinga hidung tenggorokan) mengidap polip pada hidungnya dan harus menjalani operasi kecil.
Dari temannya ia tahu praktik dokter Aznan, kemudian dia datangi. “Alhamdullilah, setelah minum obat resep dari Buya, polipku sembuh dalam empat bulan.”
Dari pengalamannya berobat ke dr. Aznan, Restu menceritakan, pasien datang dari pelbagai tempat. Dari Aceh, Sidimpuan (Sumut), Rantauprapat (Sumut), dsb.
“Ada pasien dimarahi. Dia nanya berapa biaya berobatnya, terus kenak sental (dimarahi) sama Buya, ‘udah nggak usah bayar aja’, kata Buya,” cerita Restu.
Menurut pengakuan Restu, sekali berobat ia memasukkan Rp25 ribu, kadang Rp30 ribu ke dalam amplop. “Beginilah dokter yang kita inginkan, arif bijaksana, dan tidak komersil.”
Apa motivasi sang profesor doktor tidak mematok biaya konsultasi, mengingat dari pengakuannya, dia tidak punya rumah sendiri? Memang ada satu rumah BTN yang dibelinya secara kredit sejak 1981 di kawasan Johor, tapi tidak sempat ia nikmati.
“Oh, aku sampai sekarang tak punya rumah, biar kau tahu. Ini rumah mertuaku, yang ada di kampus USU itu kan rumahnya USU. Ada pun rumah BTN yang dahulu kucicil dari RISPA, tak sempat kunikmati karena disewakan,” ujar Aznan.
Aznan tak terlalu bernafsu memikirkan harta duniawi. Prinsip hidupnya sederhana, “Aku yang penting tak ada utang, itu saja prinsipku.”
Prinsip itu telah tertanam di dalam dirinya sejak kecil. Hingga dewasa, prinsip itu terus dia pegang menjadi keyakinan.
“Allah sudah mengatakan bahwa dia itu Arrahman Arrahim (maha pengasih dan maha penyayang) dan Allah Khairurrazikin (pemberi rezeki yang paling canggih, paling baik, tak ada duanya).
Dari kecil sudah disampaikan dan hingga sekarang masuk di otakku, masuk di keyakinanku, bahwa langkah, rezeki, pertemuan, maut, hanya Allah yang tahu.
Aku tak tahu Allah itu telah mempersiapkan berapa banyak rezeki samaku dan seberapa untuk kau.
Dan aku tidak akan mati, kau juga tidak akan mati sebelum rezeki yang diberi Allah itu kita habiskan,” kata ayah tiga anak yang makin yakin dengan jalan pelayanan yang dia tempuh sepulang meraih gelar Ph.D. di Australia pada 1987.
Sebelum berangkat ke Australia sekitar 1983, Aznan menghadapi tantangan yang cukup besar. Ia dicekal pemerintah, tidak boleh ke luar negeri karena dituding sebagai ekstremis.
“Dari tahun 1980 sudah ada panggilan agar aku berangkat ke Australia untuk mengambil Ph.D. Tapi ternyata, di negeriku yang amat sangat tercinta ini, aku disebut ekstremis. Aku kena cekal, dikatakan Islam ekstremis, sama waktu itu dengan orang-orang yang tak boleh bepergian ke luar negeri,” kisahnya.
Aznan sempat patah arang untuk belajar ke Australia. Namun, setelah ia meminta nasihat kepada ustaz, optimismenya muncul lagi.
“Kata ustaz, ‘Tak beriman kau Aznan, andaikata rezeki itu memang disiapkan untuk kau ke sana (Australia). Artinya kau akan sampai, walaupun kau ke sana naik kereta api’,” katanya mengenang.
“Berarti, kalau memang ada rezekiku di Australia, artinya aku akan tetap sampai ke sana. Kalau ada sepiring nasiku di sana, aku harus sampai ke sana untuk menghabiskan sepiring nasi tadi,” tegasnya.
Hikmah yang dia petik dari pengalaman itu, lanjut Aznan, dalam kehidupan ini manusia tak usah selalu heboh. Sebab pada dasarnya rezeki masing-masing orang sudah ditentukan Yang Maha Esa.
”Tak perlu heboh kali, buka praktik di sana-sini. Sudah, kerja ajalah yang baik. Apa kerja kau, wartawan, berprofesilah kau sebagai wartawan. Aku, dokter, berprofesilah aku sebagai dokter.
Jangan nanti, penampilan ustaz, tapi tujuannya ngambil duit, penampilan wartawan tujuannya ngambil duit, penampilan dokter tujuannya ngambil duit, guru ngambil duit, polisi ngambil duit, hakim mengambil duit, pengacara mengambil duit. Itu salah!”
Dokter, bagi Aznan, adalah profesi yang tidak boleh menetapkan tarif jasa pembayaran. Sama halnya seperti dua profesi lainnya, yakni pengacara dana guru.
“Yang datang ke pengacara itu kan orang meminta nasihat, datang ke guru karena orang mau belajar, datang ke dokter karena orang minta pengobatan. Jangan dibilang, eh, sudah kutolong kau, mana duitnya. Itu tak boleh.
Terkecuali karena ilmu kita dia pintar lalu dia kaya, terus dia memberikan sesuatu tidak kita minta, boleh. Jadi, tiga profesi ini mestinya tak boleh membuat tarif,” katanya.
Aznan mengaku pasti, prinsip dia diragukan orang. Bagaimana ia membiayai hidup keluarga dan menyekolahkan anaknya hingga tiga anaknya meraih sarjana?
“Kan bingung juga kau, kok bisa hidup dokter, punya istri, anak sarjana semua, dua orang jadi dokter dan satu sarjana hukum. Berdagang rupanya dokter? Kau tanya semua orang aku tak ada berdagang. Aku dosen, makin tak bisa aku minta duit sama muridku. Lalu dari mana? Oh itu semua buah kasih. Bagaimana bentuknya, ya macam-macam, seperti orang mengucapkan terima kasih,” katanya.
Praktik dokter Aznan selalu dipadati pasien yang jumlahnya mencapai seratusan. Akibatnya ia sering harus membuka praktik hingga dini hari, terkadang sampai pukul 01.30. Tentu sang profesor dibantu beberapa mahasiswanya yang sedang coass (magang dokter).
Setiap pasien yang akan masuk ruang praktik dipanggil oleh coass, terkadang istri Aznan, Yanti, juga turut memanggil. Di dalam ruang praktik yang leluasa dilihat, rata-rata pasien diperiksa sekitar 5�15 menit.
“Minimal sehari 30 pasien. Nggak ada saya pun 30 paling sedikit. Kalau saya ke luar kota, bila ada kejadian yang sulit, anak saya yang dokter bisa menghubungi saya. Pasien juga bisa bertanya langsung melalui telepon,” kata Aznan.
Selain datang dari pelbagai daerah, pasien dr. Aznan juga beraneka jenis kelamin, tingkat usia, suku bangsa, dan agama. Bahkan seorang biarawati Belanda pernah menjadi pasiennya.
Soal bayarannya, Aznan mengatakan tidak penting. Dia bilang, “Kalau dia mau datang jauh-jauh jumpai aku, berarti kan dia menghormati aku. Bisa rupanya dibayar penghormatan itu?”
Kembali ke soal bayaran seikhlasnya tadi, dengan ekspresi datar Azlan mengatakan, “Ada Rp5000, lima ratus rupiah pun ada, yang kosong juga ada.”
Apakah tidak merasa sakit hati dengan amplop kosong itu?
“Sama siapa aku harus sakit hati? Nggak mungkin. Bisa rupanya kutandai amplop ini dari si anu, ini dari si anu dari begitu banyaknya amplop tadi?” ia tersenyum.
Namun Aznan mewanti-wanti tindakannya tidak perlu dicontoh oleh dokter lain. “Kalau aku boleh kasih nasihat sama kawan-kawan dokter, jangan tiru aku. Kalau pun mau kan sudah kujelaskan tadi, bahwa harus yakin dulu dengan keislaman. Bahwa Islam itu rahmatanlil al’amain (rahmat bagi seluruh alam).”
Dekan Fakultas Kedokteran USU, Prof. dr. Gontar A. Siregar, mengenal sosok Prof. dr. Aznan Lelo Ph.D, SpFK sebagai dosen yang punya kedisiplinan tinggi dalam memberikan kuliah ke mahasiswanya.
Di kalangan fakultas, Prof. Aznan yang juga Ketua Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK USU dikenal cukup bersahaja di kalangan fakultas yang dipimpinnya.
“Saya mengenal beliau (Prof Aznan) orang yang punya disiplin dan bersahaja. Ia sangat disiplin dalam memberikan pendidikan,” kata Gontar.
Aznan juga sering memberikan kritik konstruktif untuk kebaikan fakultas. “Protes iya. ‘Kan bagus daripada ngangguk saja. Misalnya, tentang fasilitas apa saja kurang memadai dan ruangan bagaimana bisa nyaman untuk para dosen dan mahasiswa,” ujarnya.
Gontar mengakui tidak ada ketentuan baku yang mengatur tarif jasa konsultasi medis untuk dokter, bahkan di Indonesia.
“Sampai sekarang belum ada. Namun, hal itu sudah pernah menjadi perbincangan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dalam suatu rapat dengar pendapat. Tarif sesuai spesialisasi, angka bervariasi, mulai Rp50 ribu sampai Rp500 ribu atau sesuai dengan kewajaran,” ujar Gontar.
Gontar meyakini, jasa dokter praktik yang dibebankan ke pasien juga untuk membiayai fasilitas yang secara langsung atau tidak langsung dinikmati pasien. Dokter juga manusia biasa yang sama-sama punya kebutuhan seperti profesi lain. “Dokter juga harus bayar air, listrik, gaji perawat, juga beli bensin,” katanya.
Bila dokter tidak membebankan biaya kepada pasien, ia nilai hal tersebut tidak merupakan “saingan” bagi dokter lainnya. “Ya itu terserah saja,” tambah Gontar.
Leave a Reply