Category: Artikel Pengembangan Diri

  • Hal yang Paling Indah di Dunia

    Dalam suatu masa hiduplah seorang pelukis yang ingin melukis sesuatu yang paling indah di dunia. Ia membaca kotak peralatan lukisnya dan berangkat untuk mengadakan perjalanan ke seluruh negeri, mencari hal yang paling indah di dunia tersebut.

    Suatu hari, ia bertemu dengan seorang pejuang, dan ia bertanya, “Apa hal yang paling indah di dunia itu?” Prajurit itu menjawab, “Damai.” Pelukis itu menggeleng dengan kekecewaan karena ia tidak bisa melukis perdamaian.

    Lalu ia meneruskan perjalanan, dan menemui seorang gadis muda cantik, ia bertanya lagi, “Apa hal yang paling indah di dunia?” Gadis itu menjawab tanpa ragu-ragu, “Cinta.” Pelukis itu kecewa lagi karena ia tidak bisa melukis cinta.

    Akhirnya, ia bertemu dengan seorang pengajar agama, dan ia pun bertanya, “Apa hal yang paling indah di dunia ini?” Pengajar itu menjawab, “Iman.” Pelukis itu hanya bisa menggelengkan kepala dalam kekecewaan lagi karena ia tidak bisa melukis iman. Setelah gagal menemukan hal yang paling indah di dunia, ia sedih terpaksa harus pulang.

    Saat ia tiba di depan pintu gerbang rumahnya, anaknya berlari keluar rumah dengan wajah berseri-seri dan sukacita bertemu dengannya sambil menangis, “Ayah… Ayah…” Istrinya mengikuti dan memberinya ciuman menyambutnya pulang.

    Tiba-tiba pelukis menyadari bahwa ia telah menemukan hal yang paling indah di dunia. Dari anaknya, ia menemukan iman seorang anak kecil kepada ayahnya, dan dari ciuman istri tercinta, ia menemukan cinta seumur hidup. Dan dalam cinta ini, kehangatan dan sukacita dalam keluarganya, ia menemukan kedamaian.

    Akhirnya pelukis itu pun menyelesaikan lukisan tentang hal yang paling indah dunia ini. Tak lain adalah rumahnya.

  • Hidup Saling Berkaitan

    Ada seorang petani yang memenangkan tender ekspor jagung karena kualitas jagunya yang baik. Setiap tahun ia mengekspor jagung ke sebuah negara besar.

    Seorang reporter datang mewawancarainya dan belajar sesuatu yang menarik tentang bagaimana ia berhasil. Reporter itu menemukan bahwa petani itu berbagi benih jagung dengan tetangganya.

    “Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung terbaik dengan tetangga Anda, padahal mereka juga bersaing dengan Anda setiap tahunnya?” tanya reporter itu.

    “Kenapa?” tanya petani itu. “Kau tidak tahu? Angin mengambil serbuk sari dari kebun jagung dan berputar-putar dari ladang yang satu ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung tidak berkualitas, penyerbukan silang tentunya akan menurunkan kualitas jagung saya. Jika saya bermaksud menanam jagung yang baik, maka saya pun harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung berkualitas yang baik.

    Ia sangat menyadari keterkaitan kehidupan. Jagungnya tidak bisa berkualitas baik kecuali jagung tetangganya pun berkualitas baik.

    Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang memilih untuk hidup dalam damai harus membantu tetangga mereka untuk hidup dalam damai. Mereka yang memilih untuk hidup dengan baik harus membantu orang lain untuk hidup dengan baik, nilai kehidupan diukur dengan kehidupan yang bersentuhan dengannya.

    Dan mereka yang memilih untuk menjadi bahagia harus membantu orang lain untuk menemukan kebahagiaan. Kesejahteraan masing-masing berkaitan dengan kesejahteraan semua. (*)

  • Menyia-nyiakan Hidup

    Berikut ini percakapan antara seorang gembala muda dengan seorang pria yang berpendidikan tinggi tentang apa itu menyianyiakan hidup.

    Seorang gembala yang berusia 20-an tahun sedang beritirahat di bawah pohon.

    Seorang pria yang berpendidikan baik datang dan berujar, “Anda telah menyianyiakan hidup Anda.”

    Gembala: Mengapa?

    Pria: Lihat diri Anda. Anda adalah seorang pengembara tanpa tujuan. Anda masih muda, ini saatnya Anda bekerja keras, menemukan passion­ Anda dan melakukan sesuatu yang besar…

    Gembala: Ohh, lalu selanjutnya apa yang terjadi jika aku melakukannya?

    Pria: Anda dapat membangun rumah yang besar, memiliki banyak uang dan menjadi orang yang sukses.

    Gembala: Kemudian apalagi?

    Pria: Kemudian Anda dapat bersantai dan hidup dengan bahagia.

    Gembala: Tapi…Saya sudah melakukannya saat ini juga. (InspiringShortStories)

  • Kisah Tentang Penyesalan

    Dikisahkan dua bersaudara yang tinggal di apartemen tingkat 80. Suatu hari saat pulang ke rumah, mereka menyadari lift tidak dapat dipakai, jadi mereka harus menaiki tangga darurat. Akhirnya mereka meninggalkan tas mereka yang berat di lantai bawah untuk kemudian menaiki tangga.

    Ketika berjuang sampai tingkat ke-40, sang adik mulai menggerutu dan keduanya mulai bertengkar. Mereka terus menaiki tangga sambil bertengkar hingga sampai ke lantai 60.

    Mereka kemudian menyadari bahwa tinggal 20 tingkat lagi untuk naik tangga dan memutuskan untuk berhenti bertengkar. Mereka terus mendaki dalam damai. Dalam diam mereka naik terus dan akhirnya sampailah di apartemen mereka.

    Masing-masing berdiri di depan pintu dan menunggu yang lain untuk membukakan pintu. Namun, mereka menyadari kunci mereka ada di dalam tas yang tertinggal di lantai 20.

    Cerita ini mungkin sebagai refleksi pada kehidupan kita. Banyak dari kita hidup di bawah harapan orangtua, guru, dan teman-teman kita. Kita jarang bisa melakukan hal-hal yang benar-benar kita sukai dan cintai karena berada di bawah begitu banyak tekanan dan stres. Sehingga saat usia kita 20, kita sudah merasa lelah dan memutuskan untuk meninggalkan beban ini.

    Ingin bebas dari stres dan tekanan, kita terlalu antusias dan bermimpi dengan keinginan yang ambisius. Tetapi pada saat kita mencapai usia 40 tahun, kita mulai kehilangan visi dan impian kita. Kita mulai merasa tidak puas dan mulai mengeluh serta mengkritik. Kita hidup dalam kesengsaraan karena kita tidak pernah puas.

    Mencapai usia 60, kita menyadari bahwa kita memiliki sedikit waktu yang tersisa untuk mengeluh dan mulailah berjalan dalam episode terakhir dalam damai dan ketenangan. Kita berpikir bahwa tidak ada yang tersisa untuk mengecewakan kita, hanya menyadari bahwa kita tidak bisa beristirahat dalam damai karena memiliki mimpi yang tak terpenuhi. Mimpi yang kita tinggalkan beberapa puluh tahun lalu.

    Lalu bagaimana? Ikuti impian Anda sehingga Anda tidak akan hidup dalam penyesalan.

  • Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

    Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal, pagi itu menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

    Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

    “Tuhan menciptakan semuanya?” tanya Profesor sekali lagi.

    “Ya, Pak, semuanya,” kata mahasiswa tersebut.

    Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

    Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama adalah sebuah mitos.

    Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

    “Tentu saja,” jawab si Profesor,

    Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

    “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” tanya si Profesor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

    Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu – 43 derajat Celcius adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

    Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

    Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

    Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi, Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

    Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

    Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

    Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Prof,  kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

    Profesor itu pun terdiam.

    Dan, nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

  • Cukup Terangkah Pelita Kita?

    Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera. Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? ‘Kan percuma buat saya! Saya bisa pulang kok.”

    Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.” Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!” Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

    Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!” Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!” Si buta tertegun…. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.”

    Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

    Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?”

    Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.” Senyap sejenak… secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?” Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya…,” sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

    Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”

    Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

    *Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

    *Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.

    *Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

    *Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

    *Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

    Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? Jadilah Pelita, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

    Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi. (YDA)

  • Keegoisan

    Ada satu keluarga kura-kura yang memutuskan untuk pergi bertamasya. Memang sudah dari sananya serba lambat, maka untuk mempersiapkan piknik ini saja mereka membutuhkan waktu 7 tahun. Akhirnya keluarga kura-kura ini meninggalkan hunian mereka, pergi mencari tempat yang cocok untuk kegiatan piknik mereka. Baru di tahun kedua mereka menemukan lokasi yang sesuai dan cocok.

    Selama enam bulan mereka membersihkan tempat itu, membongkari semua keranjang-keranjang perbekalan piknik, membenahi tempat tersebut. Lalu mereka tersadar saat melihat bekal piknik, mereka lupa membawa garam. Waduh, piknik tanpa garam? Mereka serempak setuju dan berteriak itu bisa menjadi bencana luar biasa.

    Setelah panjang lebar berdiskusi, kura-kura termuda pun dipilih untuk mengambil garam di rumah mereka. Meskipun ia termasuk kura tercepat dari semua kura-kura yang lambat, kura-kura kecil ini merengek, menangis, dan meronta-ronta dalam batoknya. Ia setuju pergi dengan satu syarat, kalau tidak satu pun boleh makan sampai ia kembali. Keluarga kura-kura itu pun setuju dan kura-kura kecil ini pun berangkatlah.

    Tiga tahun lewat dan kura-kura kecil masih juga belum kembali. Lima tahun… enam tahun… Memasuki tahun ketujuh kepergian kura kecil, kura-kura tertua sudah tak tahan menahan laparnya. Ia pun mengumumkan bahwa ia begitu lapar dan akan mulai membuka bekalnya dan memakan rotinya.

    Saat itulah, tiba-tiba muncullah si kura-kura kecil dari balik sebatang pohon dan berteriak, “Lihat tuh… benar ‘kan… Aku tahu kalian memang tak akan menunggu. Ah, kalau begini caranya aku tidak mau pergi mengambil garam.”

    Terkadang sebagian dari kita memboroskan waktu sekadar cuma menunggu sampai orang lain memenuhi harapan kita. Sebaliknya, kita begitu khawatir, prihatin, sering-sering malahan terlalu mempedulikan apa yang dikerjakan orang lain hingga kita hanya berpangku tangan tanpa berbuat apapun. (BMSPS)

  • Sesuatu yang Lebih Baik Akan Datang

    Seorang wanita didiagnosis menderita penyakit pada stadium akhir dan divonis waktu hidupnya tinggal tiga bulan. Ia meminta seorang pemuka agama datang ke rumahnya untuk mendiskusikan keinginan terakhirnya. Ia mengatakan keinginannya agar lagu dinyanyikan pada saat pemakamannya, ingin membaca kitab suci, dan ingin dikuburkan dengan berpakaian lengkap.

    Lalu, ia berkata, “Satu hal lagi… saya ingin dikubur dengan garpu di tangan saya.”

    Pemuka agama itu terkejut.

    Wanita itu menjelaskan, “Selama bertahun-tahun, saya menghadiri kegiatan amal dan makan malam seadanya. Saya selalu ingat setiap kali piring hidangan utama sedang diangkat oleh pelayan, seseorang pasti mengatakan kepada semua orang, ‘pegang garpunya’. Itu adalah waktu favorit saya saat makan malam, karena saya tahu sesuatu yang lebih baik datang. Seperti kue cokelat atau pai apel dalam piring kecil. Sesuatu yang indah. Jadi, saya ingin orang melihat saya yang ada di dalam peti mati dengan garpu di tangan saya dan bertanya-tanya, ‘Ada apa dengan garpu?’ Lalu saya ingin Anda memberitahu mereka, ‘Pegang garpu, karena yang terbaik belum datang’.”

    Mata pemuka agama itu mengalir air mata suka cita saat ia mendengar permintaan wanita itu. Ia menyadari bahwa wanita itu memiliki pemahaman yang lebih baik tentang surga daripada dirinya dan tahu sesuatu yang lebih baik akan datang.

  • Manusia Memang Aneh

    Seorang laki-laki bertanya pada teman saya, Jaime Cohen, “Apa sifat yang paling aneh pada manusia?”

    Cohen berkata, “Sifat-sifat kita yang serba bertolak belakang.

    Waktu masih kecil, kita ingin cepat-cepat dewasa, lalu setelah dewasa kita merindukan masa kecil yang telah hilang.

    Kita mencari uang sampai sakit-sakitan, lalu uang itu kita habiskan untuk berobat supaya sembuh.

    Kita begitu cemas memikirkan masa depan, sampai-sampai kita mengabaikan masa kini, sehingga kita tidak benar-benar hidup di masa kini maupun di masa depan.

    Kita hidup seolah-olah kematian tidak berkuasa atas diri kita, dan kita mati seolah-olah kita tidak pernah menjalani hidup.” (Paulo Coelho dalam “Seperti Sungai yang Mengalir”. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama)

  • Pentingnya komunikasi

    Suatu ketika di dalam kereta bawah tanah di New York, di suatu stasiun perhentian, masuklah seorang bapak dan tiga orang anaknya yang masih kecil ke dalam kereta. Sang ayah langsung duduk dan menutup matanya, sedang tiga anaknya berteriak, lari kesana kemari, sehingga membuat penumpang lain terganggu. Setelah beberapa menit hal ini terjadi dan si ayah tidak mencoba menenangkan anak-anaknya, penumpang-penumpang yang lain mulai marah.

    Akhirnya seorang penumpang menegur si ayah “Kenapa kamu enak-enaknya tidur sedang anak-anakmu mengganggu penumpang-penumpang lain?”
    Sang ayah menjawab “Saya minta maaf. Istri saya baru saja meninggal, dan semalaman saya tidak tidur menemani istri saya di rumah sakit. Mungkin anak-anak saya belum bisa menerima kematian ibunya dengan baik”
    Setelah mendengar jawaban itu, sikap para penumpang mulai berubah. Mereka tidak lagi marah, namun mereka berusaha untuk menenangkan anak-anak itu dengan penuh kasih. Dan mereka membiarkan si ayah untuk beristirahat sebentar.

    Apakah komunikasi menyelesaikan masalah? Tidak selalu. Anak-anak itu tetap ribut, sang ayah tetap membutuhkan tidur. Namun komunikasi yang baik akan membantu menyamakan sudut pandang kita, sehingga kita bisa memahami masalah itu dengan lebih baik, dan bertindak dengan lebih tepat sasaran. Kadang, masalah susah dipecahkan karena pihak-pihak yang terkait memiliki sudut pandang yang tidak sama.