Category: Artikel Pengembangan Diri

  • Rahasia Kebahagiaan

    Seorang pemilik toko menyuruh anaknya untuk belajar tentang rahasia kebahagiaan dari orang paling bijaksana di seluruh negeri. Anak itu melintasi padang pasir selama 40 hari, dan akhirnya tiba di sebuah kastil yang indah, tinggi di puncak gunung. Di sanalah orang bijak itu tinggal.

    Alih-alih mencari orang bijak tersebut, Si Anak malah melihat kesibukan yang sangat di dalam kastil tersebut: pedagang datang dan pergi, orang-orang bercakap-cakap di sudut-sudut, orkestra kecil sedang memainkan musik lembut, dan ada meja ditutupi dengan piring-piring makanan paling lezat di seluruh dunia. Si orang bijak berbicara dengan setiap orang, dan anak muda itu harus menunggu selama dua jam sebelum tiba gilirannya untuk dapat bertemu dengannya.

    Orang bijak mendengarkan dengan seksama penjelasan anak itu mengapa ia datang, tetapi orang bijak tersebut mengatakan bahwa ia tidak punya waktu saat itu untuk menjelaskan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan agar anak itu melihat-lihat istana dan kembali dalam dua jam. “Sementara itu, saya ingin meminta Anda untuk melakukan sesuatu”, kata orang bijak, sambil menyerahkan anak itu sebuah sendok teh berisi dua tetes minyak. “Saat Anda berjalan-jalan, bawa sendok ini bersama Anda dan jangan membiarkan minyaknya tumpah”.

    Anak itu mulai mendaki dan menuruni banyak anak tangga dalam istana, sambil matanya tertuju pada sendok. Setelah dua jam, ia kembali ke ruang di mana orang bijak itu berada. “Nah”, kata si orang bijak, “Apakah Anda melihat permadani Persia yang tergantung di ruang makanku? Apakah Anda melihat taman yang butuh waktu sepuluh tahun untuk menciptakan? Dan apakah Anda melihat perkamen indah dan koleksi di perpustakaan? ” Anak itu merasa malu, dan mengaku bahwa ia tidak sempat melihat apapun. Satu-satunya kekhawatirannya adalah menumpahkan minyak yang telah
    dipercayakan kepadanya. “Kembali dan ulangi lagi, amati dan nikmati lingkungan dan keindahan rumah ini”, kata orang bijak. “Anda tidak bisa mempercayai seseorang, kalau tidak mengenal rumahnya”.

    Merasa lega, anak itu mengambil sendok
    dan kembali menjelajahi istana, kali ini dia
    mengamati semua karya seni di langit-
    langit dan dinding. Dia melihat kebun,
    pegunungan di sekelilingnya, keindahan
    bunga-bunga, dan mencoba menikmati apa yang telah dilihatnya. Setelah itu ia kembali ke orang bijak, ia bercerita tentang apa-apa yang telah dilihatnya.

    “Tapi di mana tetes minyak yang saya percayakan kepada Anda?” tanya si orang bijak. Melihat ke bawah ke sendok di tangannya, anak itu melihat bahwa minyak telah hilang. “Nah, hanya ada satu nasihat yang bisa kuberikan Anda”, kata orang paling bijak.
    “Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjubkan di dunia dan tidak pernah melupakan tetes-tetes minyak di sendok”.

    Penulis: Paul Coelho dalam “The Alchemist”

  • Refleksi Diri

    Suatu hari 4 orang praktisi zen yang bersahabat sedang berjalan bersama. Lalu salah satu dari mereka mengajukan ide untuk bermeditasi bersama malam itu. Semuanya setuju. ‘Tapi kita harus buat kesepakatan. Supaya meditasinya berjalan khidmat, tidak boleh ada yang berbicara atau menimbulkan bunyi berisik apapun, setuju?’. Semuanya menyetujuinya.

    Malam itu, seperti dijanjikan, mereka berkumpul di rumah salah satu praktisi untuk bermeditasi bersama, dengan ditemani sebatang lilin kecil. Tiba-tiba angin kencang bertiup, dan memadamkan lilin kecil tersebut.

    Praktisi 1: Oh tidak, lilinnya sudah mati tertiup angin….
    Praktisi 2: sssstttt, bukannya kita dilarang berbicara apa-apa?
    Praktisi 3: Mengapa kalian berdua melanggar kesepakatan kita?!?!?!
    Praktisi 4: Hehehe, hanya saya yang tidak melanggar kesepakatan

    Betapa mudahnya kita ‘menyoroti’ kesalahan dan kelemahan orang lain, dan betapa sulitnya kita ‘bercermin’ pada kesalahan dan kelemahan diri kita sendiri. Bercermin tentang kesalahan dan kelemahan diri sendiri, adalah sebuah langkah pertama dalam proses pengembangan diri sendiri, menuju hasil yang lebih baik.

    Kalau langkah pertamanya saja sulit kita laksanakan, bagaimana kita mau gembar-gembor bahwa kita sedang ‘berkembang’ atau ‘mengejar nilai kehidupan yang lebih baik’ ?

  • Asah Kapak Anda

    Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran pekerjaan seorang untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin. Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

    Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

    Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan.

    “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi. Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”

    “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”, kata si penebang. “Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

    Istirahat bukan berarti berhenti Tetapi mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan
    menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !

    Dari cerita motivasi kerja diatas, kiranya Anda semua dapat menyimpulkan bagaimana cara kerja yang baik, tanpa harus selalu menguras tenaga terus menerus, untuk mendapatkan hasil kerja yang maksimal. Semoga sedikit cerita motivasi kerja ini dapat menginspirasi kita semua. Amien

    sumber: Andrie Wongso

  • Si Penjual Kerupuk

    Kisah ini diceritakan oleh Bp Chappy Hakim
    (mantan KSAU).

    Pada tahun 1969, saya mengikuti latihan para dasar, terjun payung statik di pangkalan Udara Margahayu Bandung. Menjalani latihan yang cukup berat bersama dengan lebih kurang 120 orang dan ditampung dalam dua barak panjang tempat latihan terjun tempur.

    Setiap makan pagi, siang dan malam hari yang dilaksanakan di barak, kami memperoleh makanan ransum latihan yang diberikan dengan ompreng dan atau rantang standar prajurit. Diujung barak tersedia drum berisi sayur, dan disampingnya ada sebuah karung plastik berisi kerupuk milik seorang ibu setengah baya warga sekitar asrama prajurit yang dijual kepada siapa saja yang merasa perlu untuk menambah lauk makanan yang terasa kurang lengkap bila tidak ada kerupuk.

    Sang ibu paruh baya ini, tidak pernah menunggu barang dagangannya. Setiap pagi, siang dan malam menjelang waktu makan, dia meletakkan karung plastik berisi krupuk dan disampingnya diletakkan pula kardus bekas rinso untuk uang, bagi orang yang membeli kerupuknya. Nanti setelah selesai waktu makan dia datang dan mengemasi karung plastik dengan sisa kerupuk dan kardus berisi uang pembayar kerupuk.

    Iseng, saya tanyakan, “apakah ada yang nggak bayar Bu?” Jawabannya cukup mengagetkan, dia percaya kepada semua siswa latihan terjun, karena dia sudah bertahun-tahun berdagang kerupuk di barak tersebut dengan cara demikian. Hanya meletakkan saja, tidak ditunggu dan nanti setelah semuanya selesai makan, dia baru datang lagi untuk mengambil sisa kerupuk dan uang hasil jualannya. Selama itu, dia tidak pernah mengalami defisit. Artinya tidak ada satu pun pembeli kerupuk yang tidak bayar. Setiap orang memang dengan kesadaran mengambil kerupuk, lalu membayar sesuai harganya. Bila dia harus bayar dengan uang yang ada kembaliannya, dia bayar dan mengambil sendiri uang kembaliannya di kotak rinso kosong tersebut. Demikian seterusnya.

    Beberapa pelatih terjun bercerita bahwa dalam pengalamannya, semua siswa terjun payung yang berlatih disitu dan menginap di barak latihan tidak ada yang berani mengambil kerupuk dan tidak bayar. Mereka takut, bila melakukan itu, khawatir payung nya tidak mengembang dan akan terjun bebas serta mati berkalang tanah.

    Sampai sekarang, saya selalu berpikir, mengapa orang sebenarnya bisa jujur dan dapat dipercaya, hanya karena pintu kematian berada didepan wajahnya. Yang saya pikirkan, bagaimana caranya membuat manusia setiap saat berada dalam kondisi atau suasana latihan terjun, mungkinkah?

  • Letakkan Gelas Anda

    Suatu hari seorang profesor memulai sebuah kelas dengan mengangkat gelas berisi air. Ia mengangkat gelas tersebut dan bertanya kepada siswanya, “Berapa kira-kira berat gelas ini?”
    “Satu ons!” “Dua ons!” Tiga ons!” terdengar jawaban bersahutan dari siswa-siswanya. ”Saya tidak begitu pasti sampai saya menimbangnya,” kata profesor, “tapi pertanyaan saya adalah apa yang terjadi jika saya mengangkatnya selama semenit?”

    “Tak kan terjadi apa-apa”, kata siswa-siswa tersebut.

    “Baik, jika saya mengangkatnya selama satu jam?” tanya professor.

    “Tangan Anda akan terasa pegal”, jawab para siswa.

    “Kalau saya angkat selama seharian penuh?”

    “Tangan Anda akan sakit, bahkan mungkin bisa terluka otot-ototnya dan Anda harus dirawat di rumah sakit tentunya”, jawab salah satu siswa dan disambut tawa seluruh siswa di kelas tersebut.

    “Tepat sekali”, jawab professor. “Tapi apakah kesakitan saya tersebut disebabkan karena berat gelas tersebut berubah?” lanjut profesor. “Tidak,” jawab siswa serentak, “itu karena otot-otot Anda menerima tegangan yang terlalu lama”.

    Profesor kembali bertanya, “Lalu apa yang harus saya lakukan?” Seisi kelas terdiam. Tiba-tiba salah seorang siswa menjawab, “Letakkan gelas tersebut”.

    “Excactly, tepat sekali!” jawab sang profesor. “Problem dan masalah dalam hidup dapat diibaratkan mengangkat gelas ini. Camkan kata-kata ini, mengangkatnya lebih lama akan membuatmu merasa pegal. Mengangkat lebih lama lagi dapat membahayakanmu, bahkan dapat membunuhmu.”

    “Sangat penting berpikir tentang tantangan-tantangan dalam hidup, tapi akan LEBIH PENTING meletakkannya sejenak setiap, mengakhiri hari saat kalian semua beranjak tidur dan tidak membawanya bersama tidurmu. Dengan begitu kalian tidak akan merasa tertekan, kalian bangun di pagi hari dengan rasa segar, kuat dan tegar menghadapi setiap tantangan dan masalah yang datang.”

    Pelajaran:
    “Kegagalan bukanlah suatu masalah yang besar. Anda harus pernah merasakannya untuk mengetahui apa arti sebuah kesuksesan. Banyak orang tidak siap dengan sebuah situasi kegagalan. Belajarlah dari kegagalan meski itu terjadi berkali-kali!”

  • Siapa yang Bodoh?

    Suatu hari, ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka. Tukang cukur berkata, “Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal”
    “Masak, apa iya?” jawab pengusaha. Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu menyuruh Benu memilih, “Benu, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!”
    Benu melihat ke tangan tukang cukur dimana ada uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp.1.000.

    Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, “Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang yang nilainya lebih kecil.”

    Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Benu dan bertanya, “Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp.2.000 dan Rp.1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp.1.000, kenapa tak ambil yang Rp.2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp.1.000?”

    Benu pun tertawa kecil berkata, “Saya tidak akan dapat lagi Rp.1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil uang Rp.2.000 . Kalau saya ambil yang Rp.2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari…”

    Catatan : Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga
    mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya kita jika tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. Di atas langit masih ada langit yang lain.

  • Inspirasi dari One Direction

    Tahu kan boyband asal inggris bernama One Direction? Gak tau? Buka Youtube dulu deh 😀

    Habis menonton dokumenter mereka yang berjudul One Direction – This Is Us, aku menemukan beberapa hal menarik

    1. Salah seorang anggotanya (aku lupa namanya) pernah mengikutu audisi X Factor Inggris pada tahun 2010, tapi ditolak karena dia dianggap terlalu muda dan belum bagus. Apakah dia menyerah? Tidak! 2 tahun kemudian dia kembali, dan membuktikan kehebatannya yang bahkan diakui Simon Cowell.
    Apakah dia akan menjadi anggota One Direction kalau saat itu dia menyerah dan mengubur impiannya? Jelas TIDAK!!!
    Pelajaran untuk kita : Jangan pernah menyerah ketika kita jatuh.

    2. Salah satu anggota yang lain (lupa namanya juga) sebenarnya pada pagi hari H audisi, malas pergi audisi. Tapi mamanya memaksa dia terus untuk pergi audisi. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya.
    Apakah dia akan menjadi anggota One Direction andaikan saat itu mamanya malas memotivasi anaknya, dan si anak keras kepala? Jelas TIDAK!!!
    Pelajaran untuk kita : Dalam hidup, kita membutuhkan orang lain juga. Kadang bantuan Tuhan datang melalui mereka.

    3. Mereka awalnya tidak lolos babak akhir audisi. Mereka tidak terpilih untuk lolos ke babak selanjutnya. Namun atas keputusan kilat dari Simon Cowell, dia menyatukan lima “orang gagal” ini menjadi sebuah grup. Grup para “orang gagal” itu ternyata tidak begitu gagal ya? 😀
    Pelajaran untuk kita : Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh.

    4. Mereka bisa saja menolak ide Simon Cowell. Bayangkan kondisi mereka saat itu. Mereka gagal lolos audisi sebagai penyanyi solo, dan tiba-tiba Simon mengusulkan mereka bersatu sebagai grup. Ego mereka bisa berkata “Aku hebat! Aku gak perlu orang-orang ini untuk bisa menjadi hebat!”. Tapi mereka menekan ego mereka, dan lihat hasilnya.
    Pelajaran untuk kita : Kadang hal yang membatasi kita dan rejeki kita adalah ego kita. Lepaskan ego kita, maka hal-hal indah akan datang.

    5. Ketika mereka berlima akhirnya disatukan oleh Simon Cowell, mereka adalah lima orang yang tidak saling mengenal, tapi harus bekerja sama dalam waktu singkat. Tahu apa yang dilakukan pada hari pertama mereka berkumpul? Bermain sepak bola!!! Mungkin kedengarannya bodoh, tapi prinsip mereka adalah “To be a colleague, we need to be friends”. Untuk menjadi rekan kerja yang baik, kita harus menjadi teman.
    Pelajaran untuk kita : luangkan waktu untuk bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar anda. Rekan kerja, keluarga, anak, teman, dan lain-lain. Semakin kita mengenal mereka, kadang akan banyak keajaiban yang terjadi di hidup kita

  • Kisah Si Penjual Ikan

    Seseorang pedagang ikan memulai berjualan di pasar di pagi hari. Agar dapat menarik pembeli, ia memasang papan pengumuman bertuliskan “HARI INI DI SINI DIJUAL IKAN SEGAR”. Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan tentang tulisannya. “Mengapa kau tuliskan kata HARI INI? Bukankah kau memang hari ini berjualan, bukan kemarin atau besok?” Pedagang ikan itu berpikir dan menjawab, “Iya, kau benar.” Kemudian ia menghapus tulisan “HARI INI” dan di papan tersebut tulisan berkurang menjadi “DISINI JUAL IKAN SEGAR”

    Beberapa saat kemudian datang pembeli kedua. Pembeli tersebut juga menanyakan tulisan di papan, “Mengapa kau tulis kata DI SINI ? Bukankah semua orang sudah tau kalau kau berjualan DI SINI , bukan DI SANA atau di tempat lain?”
    “Benar juga!” pikir si pedagang ikan tersebut, lalu dihapusnya kata “DI SINI” dan tinggallah tulisan “JUAL IKAN SEGAR”.

    Tidak lama kemudian datang pengunjung ketiga yang juga menanyakan tulisannya. “Mengapa kau pakai kata SEGAR? Bukankah semua orang sudah tau kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?”
    “Benar juga” pikir si pedagang ikan, lalu dihapusnya kata “SEGAR” dan tinggallah tulisan “JUAL IKAN”

    Sesaat kemudian datanglah pengunjung keempat yang juga menanyakan tulisannya, “Mengapa kau tulis kata JUAL? Bukankah semua orang sudah tahu kalau ikan ini untuk dijual, bukan dipamerkan atau dibagikan?”
    “Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata JUAL dan tinggalah tulisan “IKAN”

    Selang beberapa waktu kemudian, datangpengunjung ke lima, yang juga menanyakan tulisannya : “Mengapa kau tulis kata IKAN? Bukankah semua orang sudah tau kalau ini Ikan, bukan Daging atau Sayur?”
    “Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu. Tinggallah pedagang ikan tersebut berjualan tanpa memasang papan tulisan, dan keinginan menarik pembeli gagal sudah.

    Pelajaran:
    Yakinlah bahwa tidak mungkin kita bisa memuaskan setiap orang. Sudah menjadi fitrah manusia untuk berbeda pendapat. Jadi utamakan suara hati anda. Biarlah orang lain berpendapat. Jangan mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain bila anda merasa itu sudah sesuai dengan tujuan anda.

  • Perangkap Tikus

    Sepasang suami istri petani pulang kerumah
    sehabis berbelanja di pasar. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus
    memperhatikan dengan seksama sambil menggumam, “Hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??” Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang.

    Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak, “Ada Perangkap Tikus di rumah!!! Di rumah sekarang ada perangkap tikus!!” Ia mendatangi ayam dan berteriak, “Ada
    perangkap tikus”. Sang Ayam berkata, “Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”.

    Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Lalu sang Kambing pun berkata, “Aku turut bersimpati.. . tapi maaf, tidak ada yang bisa aku lakukan”.

    Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat
    jawaban sama, “Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”.

    Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata, “Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”.

    Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri. Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya yang berbunyi. Menandakan perangkapnya telah memakan korban. Namun ketika melihat perangkap tikusnya, seekor ular berbisa telah terjebak di sana. Ekor ular yang terjepit membuatnya
    semakin ganas dan menyerang istri si Petani. Walaupun sang Suami berhasil membunuh ular tersebut, namun sang istri sempat tergigit dan teracuni oleh bisa ular tersebut.

    Setelah beberapa hari di rumah sakit, sang istri sudah diperbolehkan pulang. Namun selang beberapa hari kemudian demam tinggi yang tak turun-turun juga. Atas saran kerabatnya, ia membuatkan isterinya sup ayam untuk menurunkan demamnya. Semakin hari bukannya semakin sembuh, justru semakin tinggi demam isterinya. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk diambil hatinya. Istrinya tidak sembuh juga dan akhirnya meninggal dunia.

    Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga ia harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat. Dari kejauhan sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi di rumah itu.

    Pelajaran dari kisah di atas, “suatu ketika Anda mendengar seseorang sedang dalam kesulitan atau masalah dan Anda mengira itu bukan urusan Anda, maka pikirkanlah sekali lagi”.

  • Karangan si Bakar

    Alkisah di sebuah sekolah dasar, tercatatlah seorang siswa kelas satu. Sebut namanya Bakar. Ia anak konglomerat ternama. Bukan cuma bapaknya yang pedagang besar. Kakek moyangnya pun demikian. Mereka adalah rezim saudagar terkenal sejak era abad pertengahan. Ketika Pires berkata, ”Tuhan menciptakan Timor untuk pala, Banda untuk lada, dan Maluku untuk cengkih,” di sanalah kakek moyang Bakar berperan.

    Bakar masih menikmati warisan kebesaran itu. Ia bersekolah di SD unggulan berstandar internasional dan bilingual, sekitar 2 kilometer dari rumah (mobil senilai Rp 1 miliar yang ia pakai hanya mencatatkan perjalanan 4 kilometer setiap hari). Seorang sopir dan ”baby sitter” mengantar dan menungguinya setiap hari saat ia belajar.

    Laiknya sekolah mahal dan unggulan lainnya, mengarang adalah pelajaran yang diposisikan amat penting di SD tersebut. Anak-anak didik, sejak kelas satu, sudah dilatih untuk mengekspresikan isi kepala mereka dengan kata-kata yang tertata baik, namun dengan isi yang mencerminkan kebebasan pikiran.

    Sampailah, suatu ketika, sang guru meminta siswa kelas I membuat karangan tentang kehidupan keluarga yang sangat miskin di seberang benteng sekolah. Sang guru, yang berasal dari keluarga menengah, berharap dapat menumbuhkan empati anak-anak didiknya yang serba berada terhadap nasib kelompok lain yang tak berpunya.

    Bakar masih kelas satu SD. Tapi, ia penulis yang andal. Ia sefasih bapaknya saat harus melontarkan kata-kata. Ia pun secerdas ibunya saat harus membuat hitung-hitungan dan perbandingan. Ia menulis, seperti saran gurunya, dengan penuh perasaan. “Menulislah dengan hati,” begitu kata-kata sang guru yang selalu ia ingat. Lalu, dengan sesekali menerawang dan membayangkan kehidupan keluarga miskin, Bakar menggoreskan pensilnya dengan huruf-huruf yang belum sempurna benar. Ia menamai tokoh dalam karangannya sebagai Pak Abu.

    “Pak Abu,” tulisnya, “adalah orang yang sangat miskin. Benar-benar miskin, sampai-sampai pembantunya juga miskin, sopirnya miskin, dan tukang kebunnya pun miskin. Karena sering tak punya uang, Pak Abu jarang membersihkan kolam renang di rumahnya. Ia juga hanya bisa memelihara ikan-ikan kecil di akuarium seperti lou han yang makannya sedikit, tidak seperti arwana dan koi di rumahku. Kucing siam punya Pak Abu juga kurus, soalnya kurang makan. Ayam yang ia pelihara juga yang kecil-kecil, jenis kate.”

    Bakar yang berpikir bebas menulis karangannya itu dengan penuh haru. Ia sesekali mengernyitkan dahi. Ia berpikir dirinya tak mungkin bisa menanggungkan kemiskinan seperti yang terjadi pada keluarga Pak Abu. Alangkah malangnya keluarga Pak Abu, pikirnya. Jangan-jangan anak-anaknya harus berebut saat bermain PS3, karena alat permainan itu hanya ada satu di ruang keluarga. Lain dengan di rumahnya, setiap kamar ada. Di kamar Bakar, di kamar kakak-kakaknya, bahkan di kamar ibu-bapaknya .

    Sopir dan pembantu Pak Abu pun, pikirnya, pasti sedih karena tidak seperti pembantu dan sopir dirinya. Bakar membandingkan handphone yang dipegang sopir dan pembantu Pak Abu mungkin jenis monophonic yang ketinggalan zaman, lain dengan handphone pembantu dan sopirnya yang polyphonic dan bisa kirim MMS bahkan ber-video-call. Ia membayangkan kepala urusan dapur di rumah Pak Abu mungkin hanya bisa belanja di pasar yang becek atau supermarket kecil di perempatan jalan. Padahal, pembantu di rumahnya sangat biasa berbelanja ke hypermarket Prancis dan mal-mal.

    “Anak-anak Pak Abu,” tulisnya dengan empati penuh, “kalau liburan tidak bisa ke Eropa atau Amerika seperti aku. Mereka hanya bisa berlibur ke Bali. Itu pun pakai pesawat yang murah, low cost carrier.”

    ———————————————-

    Pesan yang mau saya bagikan: jangan biarkan anak anda terkurung dalam “tempurung”nya. Tunjukkan bagaimana dunia memiliki banyak aspek kehidupan. Jangan sampai empatinya mati karena terlalu dimanja.