Category: Artikel Pengembangan Diri

  • Bersyukur adalah Kunci dari Kebahagiaan

    Alkisah, seorang pria muda sedang menyusuri jalan sepi dekat hutan. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang pemuda lain yang berpenampilan lusuh dan berwajah murung. Karena ingin tahu, si pria muda mensejajarkan langkah dan bertanya, “Hai teman, kenapa kau bersedih? Ada masalah?”

    Sambil menghela napas panjang, pemuda itu
    menjawab, “Hah. Hidupku begitu malang. Aku
    hanya punya tas ini dgn sedikit pakaian dan
    makanan. Cuma itu… Aku tak tahu harus berbuat apa.”

    Mendengar kata-kata itu, si pria mendadak punya ide. Lantas ia bertanya, “Boleh aku lihat tasmu sebentar saja?”

    Tanpa curiga, si pemuda menyerahkan tasnya. Dan begitu tas diterima, pria itu langsung melesat lari membawa tas tersebut, meninggalkan pemuda itu melongo kaget tidak percaya. Sadar tasnya dicuri, sambil bereaksi hendak mengejar si pencuri, pemuda itu meratap.
    “Oooh.. Nasibku sungguh sial. Tas satu-satunya hartaku hilang. Aduhhh..”

    Pria yg membawa lari tas, ternyata tidak benar-benar berniat mencuri tas yang dibawanya. Tak jauh dari situ, ia berhenti dan mengintip dari balik semak, melihat keadaan si pemuda, Kemudian dia meletakkan tas si pemuda di pinggir jalan, dan sembunyi lagi di balik semak.

    Si pemuda, yang berjalan dengan lesu dan
    langkah gontai, tiba-tiba ia melihat tasnya
    tergeletak di pinggir jalan. Dengan penuh
    semangat, ia berlari, mengambil kembali tas dan memeriksa isinya. Ternyata masih lengkap! Betapa bahagianya pemuda tadi. Kini, ia melanjutkan perjalanan dengan bersiul riang dan wajah berseri-seri. Pria yang tadi membawa lari tas si pemuda, melihat sambil tersenyum. Katanya dalam hati,
    “Hari ini aku membuatnya jadi orang paling
    bahagia!”

    Friends, Kita biasanya kurang menghargai,
    apalagi mensyukuri apa yang kita miliki. Dan ketika yang dimiliki tiba-tiba hilang, kita baru menyesal, sedih dan merasa kehilangan. Sesungguhnya, begitu banyak yang bisa kita syukuri, yakni: sisa waktu yang masih kita miliki, keluarga dan orang-orang yang kita sayangi, kesehatan, pekerjaan, harapan… dan masih banyak lagi


    Tambahan:
    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • Top 5 regrets people make on their deathbed

    For many years I worked in palliative care. My patients were those who had gone home to die. Some incredibly special times were shared. I was with them for the last three to twelve weeks of their lives.
    People grow a lot when they are faced with their own mortality. I learnt never to underestimate someone’s capacity for growth. Some changes were phenomenal. Each experienced a variety of emotions, as expected, denial, fear, anger, remorse, more denial and eventually acceptance. Every single patient found their peace before they departed though, every one of them.
    When questioned about any regrets they had or anything they would do differently, common themes surfaced again and again. Here are the most common five:

    1. I wish I’d had the courage to live a life true to myself, not the life others expected of me.
    This was the most common regret of all. When people realise that their life is almost over and look back clearly on it, it is easy to see how many dreams have gone unfulfilled. Most people had not honoured even a half of their dreams and had to die knowing that it was due to choices they had made, or not made.
    It is very important to try and honour at least
    some of your dreams along the way. From the moment that you lose your health, it is too late. Health brings a freedom very few realise, until they no longer have it.

    2. I wish I didn’t work so hard.
    This came from every male patient that I nursed. They missed their children’s youth and their partner’s companionship. Women also spoke of this regret. But as most were from an older generation, many of the female patients had not been breadwinners. All of the men I nursed deeply regretted spending so much of their lives on the treadmill of a work existence.
    By simplifying your lifestyle and making conscious choices along the way, it is possible to not need the income that you think you do. And by creating more space in your life, you become happier and more open to new opportunities, ones more suited to your new lifestyle.

    3. I wish I’d had the courage to express my feelings.
    Many people suppressed their feelings in order to keep peace with others. As a result, they settled for a mediocre existence and never became who they were truly capable of becoming. Many developed illnesses relating to the bitterness and resentment they carried as a result.
    We cannot control the reactions of others. However, although people may initially react when you change the way you are by speaking honestly, in the end it raises the relationship to a whole new and healthier level. Either that or it releases the unhealthy relationship from your life. Either way, you win.

    4. I wish I had stayed in touch with my friends.
    Often they would not truly realise the full benefits of old friends until their dying weeks and it was not always possible to track them down. Many had become so caught up in their own lives that they had let golden friendships slip by over the years. There were many deep regrets about not giving friendships the time and effort that they deserved. Everyone misses their friends when they are dying.
    It is common for anyone in a busy lifestyle to let friendships slip. But when you are faced with your approaching death, the physical details of life fall away. People do want to get their financial affairs in order if possible. But it is not money or status that holds the true importance for them. They want to get things in order more for the benefit of those they love. Usually though, they are too ill and weary to ever manage this task. It is all comes down to love and relationships in the end. That is all that remains in the final weeks, love and relationships.

    5. I wish that I had let myself be happier.
    This is a surprisingly common one. Many did not realise until the end that happiness is a choice. They had stayed stuck in old patterns and habits. The so-called ‘comfort’ of familiarity overflowed into their emotions, as well as their physical lives.
    Fear of change had them pretending to others, and to their selves, that they were content. When deep within, they longed to laugh properly and have silliness in their life again.
    When you are on your deathbed, what others think of you is a long way from your mind. How wonderful to be able to let go and smile again, long before you are dying.

    Life is a choice. It is YOUR life. Choose consciously, choose wisely, choose honestly. Choose happiness.


    Tambahan:
    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • Permulaan dan Akhir Hidup

    Life only has one beginning and one end, and the rest is just a whole lot of middle.

    Hidup hanya mempunyai satu permulaan dan satu akhir, dan sisanya hanya lah tumpukan dari “bagian tengah”

    Ketika suatu hal buruk terjadi, itu bukanlah AKHIR dari hidupmu. Itu masih pertengahan dari hidupmu. Maju terus, lewati terus bagjan tengahmu, sampai pada akhirnya ketika kamu sampai di titik akhir 🙂


    Tambahan:
    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • Profesor Kodok

    Di pinggir kali, ada anak berusia 5 tahun, seorang profesor, dan anak jalanan berumur 14 tahun yang setiap hari ada di pinggir kali itu.
    Anak 5 tahun tanya ke profesor, “Berapa kali lompatan yang dibutuhkan kodok untuk melompat ke seberang kali?”
    Si profesor kodok menjawab, “Kita ukur dahulu lebarnya, kemudian diukur jarak sekali lompatan kodok itu, baru bisa diketahui berapa lompatan yang dibutuhkan”.

    Jawaban profesor ini dibantah oleh anak 14 tahun. Anak itu bilang, “Bapak salah, kodok itu hanya perlu melompat dua kali. Karena, setelah melompat sekali dan menyentuh air, kodoknya akan berenang. Kemudian, dia melompat sekali lagi ke daratan. Saya melihatnya melompat setiap hari”.

    “Teori” melawan “Praktek”.
    “Menurut teori yang saya pelajari….” melawan “Menurut yang terjadi di lapangan..”.
    “Harusnya sih….” melawan “Selama ini sih..”


    Tambahan:
    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • Original atau Tiruan?

    John Mason, seorang penulis buku An Enemy Called Average, berkata, “Semua orang lahir original tapi kebanyakan mati sebagai tiruan.”

    Mengapa demikian? Karena banyak orang tidak melihat keunikan dan kelebihan yang ada pada diri sendiri. Mereka lebih suka melihat kelebihan orang lain, dan meniru orang lain; mulai dari gaya berpakaian, gaya rambut, cara berbicara, cara berjalan, bahkan sampai gaya hidup orang lain ditiru habis-habisan.

    Padahal Tuhan sudah mendesain hidup kita begitu sempurna pada pemandanganNya. Kita masing-masing, berharga dimataNya, dan diberikan keunikan yang berbeda satu sama lain.

    Demikian juga apa yang cocok untuk orang lain, belum tentu cocok untuk kita. Karena kita semua didesain dan diciptakan berbeda satu sama lain. Begitu uniknya kita diciptakan, hingga semua manusia yang diciptakan Tuhan di seluruh jagad raya ini, tidak akan pernah ada, yang sama persis dengan kita. Yang kembar identik saja, tetap ada perbedaan dan keunikan sendiri.

    Dalam hidup kita dituntut untuk memaksimalkan keahlian kita, mengembangkan kelebihan yang sudah Tuhan ciptakan dalam diri kita. Bukan untuk mengubah apa yang sudah diciptakan Tuhan dengan berusaha menjadi tiruan orang lain.

    Jika selama ini kita tidak pernah tahu keunikan dan kelebihan kita, inilah waktunya untuk menggali dan mengembangkannya. Bersyukurlah kepada Tuhan yang sudah mendesain diri kita sebagaimana adanya kita yang sekarang. Dia pasti sudah menciptakan kita untuk maksud yang mulia, bahkan sejak dalam kandungan ibu kita.

    Jangan menjadi korban tren. Jangan menjadi manusia tiruan. Barang tiruan itu murah, yang asli atau original itu sudah pasti lebih mahal. Tidak peduli gemuk, kurus, hitam, atau putih, kita semua berharga bagi Tuhan.


    Tambahan:
    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • Bakso dan Mangkoknya

    Pada suatu kali Andi mengikut acara rekreasi sebuah komunitas. Saat acara makan tiba, salah satu makanan favorit peserta adalah bakso. Maka, anak-anak kecil pun mengantri di depan panci bakso.Tiba-tiba terdengar suara pertengkaran. Ternyata, dua orang anak berebut.

    Andi pun datang melerai, “Kenapa berebut mangkok? Bukankah masih banyak mangkok kosong yang lain?” Rupanya kedua anak itu sama-sama ingin memakai mangkok yang bergambarkan tokoh kartun favorit mereka.  Aneh ya, kenapa malah mangkok yang diributkan, padahal yang  akan dimakan ‘kan baksonya.

    Terkadang kita pun sama seperti anak-anak itu. Kita direpotkan oleh banyak hal yang tidak penting dan menomorduakan hal yang penting. Kita meributkan “mangkok”, dan justru  mengabaikan “baksonya”. Kita sering merasa iri dengan “mangkok” milik tetangga dan tidak bahagia dengan mangkok kita. Akibatnya, kita jadi tertekan dan sulit untuk bersyukur.

    Kehidupan itu ibarat bakso, sedangkan karir, kekayaan, jabatan adalah mangkok. Mangkok hanyalah alat untuk menampung bakso. Seberapa pun bagusnya mangkok itu tidak akan mengubah rasa baksonya.

    Maka, marilah kita merawat kehidupan kita, dengan memfokuskan hidup kita pada kebenaran. (SD)

     

     


    Tambahan:
    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • 25 Kutipan Dari Film

    1. Be determined. Instead of intending to just try, do it.

    Do, or do not. There is no “try”. – Yoda, from Star Wars

    2. Learn to let go and be clear of where you really want to head for.

    Love cannot be found where it doesn’t exist,
    nor can it be hidden where it truly does. – David Schwimmer, from Kissing a Fool

    3. Your past experiences are valuable lessons to you now, learn from them.

    Oh yes, the past can hurt. But you can either
    run from it, or learn from it. – Rafiki, from The Lion King

    4. Just be yourself because you’re unique and you’ll shine.

    Why are you trying so hard to fit in when you were born to stand out? – from What a Girl Wants

    5. Life’s too short to miss out anything, try to take it slowly.

    Life moves pretty fast. If you don’t stop and look around once in a while, you could miss it. – Ferris, from Ferris Bueller’s Day Off

    6. You should love and take care of yourself because after all, it’s your own life.

    You can’t live your life for other people. You’ve got to do what’s right for you, even if it hurts some people you love. – from The Notebook

    7. Everyone has a choice. You can choose your own path in life.

    We are who we choose to be. – Green Goblin, from Spider-Man

    8. You deserve what you want when you’re trying your best to fight for it, no one can take that right from you.

    Don’t let anyone ever make you feel like you don’t deserve what you want. – Heath Ledger, from 10 Things I Hate About You

    9. There’s no perfect time for anything, do it now or you’ll regret later.

    I don’t regret the things I’ve done, but those I did not do. – from Empire Records

    10. You don’t need to hide yourself because you’re afraid of what others think of you. You have the choice to live your own life.

    It is not our abilities that show what we truly are… it is our choices. – Dumbledore, from Harry Potter and the Chamber of Secrets

    11. Just keep going, you’ll make it one day.

    “Run, Forrest, run!” – from Forrest Gump

    12. The least expected things happen at your least expected time in life.

    My momma always said, “Life is like a box of chocolates, you never know what you’re gonna get.” – from Forrest Gump

    13. Never give up on your dream, fight your hardest for it.

    Don’t ever let somebody tell you you can’t do something, not even me. Alright? You dream, you gotta protect it. People can’t do something themselves, they wanna tell you that you can’t do it. If you want something, go get it. Period. – Chris Gardner, from The Pursuit of Happyness

    14. Don’t stuck in your own little world because the purpose of life is to explore and experience.

    “To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, to draw closer, to find each other and to feel. That is the purpose of life.” – from The Secret Life of Walter Mitty

    15. Stop trying to please everyone because it’s impossible. Do what makes you comfortable.

    You cannot live your life to please others. The choice must be yours. – White Queen, from Alice in Wonderland

    16. Believe in yourself. Your confidence will lead you to success and happiness.

    After a while, you learn to ignore the names people call you and just trust who you are. – from Shrek

    17. In order to achieve your dreams and goals, you’ll go through tough times for sure but hold on!

    If you’re going to try, go all the way. Otherwise don’t even start. This could mean losing girlfriends, wives, relatives, jobs. And maybe your mind. It could mean not eating for three or four days. It could mean freezing on a park bench. It could mean jail. It could mean derision. It could mean mockery, isolation. Isolation is the gift. All the others are a test of your endurance. Of how much you really want to do it. And you’ll do it, despite rejection in the worst odds. And it will be better than anything else you can imagine. –
    from Factotum

    18. Make every moment count, enjoy your life time and don’t waste it.

    All we have to decide is what to do with the time that is given to us. – from Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring

    19. The little things you do today could make a great difference in future.

    It’s what you do right now that makes a difference. – from Black Hawk Down

    20. Don’t take missing any opportunities as a bad thing, you never know what life is trying to teach you.

    Our lives are defined by opportunities, even the ones we miss. – from The Curious Case of Benjamin Button

    21. Achieving greatness is all about how much effort you make throughout the time.

    Great men are not born great, they grow great. – Mario Puzo, from The Godfather

    22. Instead of seeking for happiness, live the moment and that’s where happiness exists.

    Me, I still believe in paradise. But now at least I know it’s not some place you can look for because it’s not where you go. It’s how you feel for a moment in your life when you’re a part of something and if you find that moment, it lasts forever. – from The Beach

    23. If you wait for others to complete you, you’ll never be able to have peace in your mind whenever you’re alone.

    Only if you find peace within yourself will you find true connection with others. – from Before Sunrise

    24. Always have hope. Be optimistic for your future.

    I know what I have to do now, I’ve got to keep breathing because tomorrow the sun will rise. Who knows what the tide could bring? – from Cast Away

    25. Before you do anything, be clear of why you want to do it. The purpose is an important reason to support what you’ll do.

    To find something, anything, a great truth or a lost pair of glasses, you must first believe there will be some advantage in finding it. – from All the King’s Men


    Tambahan:
    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • Apakah Pintar Akademis Saja Cukup?

    Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya. Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.
    Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit. Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

    Hadiah orangtua
    Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success , menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.
    Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya. Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya. Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.
    Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah. Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
    Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah. Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”. Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak.
    Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak
    keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya. Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar. Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

    Panggung orang dewasa
    Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif. Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.
    Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui. Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.
    Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya. Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.
    Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.
    Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang. Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.
    Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan. Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup. Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan. Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

    Oleh: Rhenald Kasali

    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • Syukuri Hidupmu

    Berapa banyak dari kita yang mengucap syukur kepada Tuhan karena kita masih bisa hidup sampai sekarang, terlepas dari segala masalah yang kita hadapi?

    Banyak orang suka mengeluh kepada Tuhan “kenapa begini, kenapa begitu, aku maunya begini, aku mau itu”, tapi mereka tidak pernah berkata “Terima kasih untuk hidupku hari ini”.

    Jangan menganggap remeh kehidupan kita, sebelum kita menyesalinya suatu ketika.

    Sebuah kutipan yang selalu menempel di kepalaku

    Yesterday is history. Tomorrow is mystery. Today is a gift.

    That’s why they call it Present

  • Kutipan Motivasi 20140401

    “For every minute you are angry, you lose 60 seconds of happiness.”

    Untuk setiap menit kemarahanmu, kamu sudah kehilangan 60 detik kebahagiaan