Category: Artikel Religius

  • [Kutipan] Jangan percaya hanya karena…

    Versi Inggris

    Do not believe in anything simply because you have heard it.
    Do not believe in anything simply because it is spoken and rumored by many.
    Do not believe in anything simply because it is found written in your religious books.
    Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders.
    Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations.
    But after observation and analysis, when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.

    Versi Indonesia

    Jangan percaya pada apapun hanya karena kamu mendengarnya.
    Jangan percaya pada apapun hanya karena itu dibicarakan banyak orang.
    Jangan percaya pada apapun hanya karena itu tertulis di Kitab Suci agamamu.
    Jangan percaya pada apapun hanya karena pengaruh dari guru-guru dan tetua-tetuamu.
    Jangan percaya pada tradisi karena mereka telah diturunkan dari banyak generasi.
    Tapi setelah kamu mengamati dan menganalisa, jika kamu menemukan bahwa hal itu mempunyai alasan yang jelas dan bertujuan demi kebaikan dan manfaat bagi satu dan semua, maka terimalah hal itu dan hiduplah sesuai hal itu.

  • Sebuah Koin Kuno

    Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dgn rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu. Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. “Uh, hanya sebuah koin kuno yg sudah penyok”. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank. “Sebaiknya koin ini dibawa ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dollar.

    Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dollar utk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yg dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dollar utk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak utk membawa pulang lemari itu.

    Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita melihat lemari yg indah itu dan menawarnya 200 dollar. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawaran nya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju, dan mengembalikan gerobaknya. Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Tiba-tiba seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya bertanya, “Apa yg terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yg diambil oleh perampok tadi?” Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

    Demikianlah Tuhan mengatur hak-hak kita. Bila kita sadar kita tak pernah benar2 memiliki apapun, kenapa saat kehilangan kita harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Bersyukurlah.

    Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya

  • Pernikahan

    Mengapa orang menikah? Karena mereka jatuh cinta. Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia ? Apakah karena jatuh cinta ? Bukan. Tapi karena mereka terus bangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa. Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup.

    Mengapa jatuh cinta gampang? Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita. Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi. Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap.

    Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai. Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel. Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan ber-sama2 mencari solusi yang dapat diterima semua pihak.

    Cinta yang dewasa tak menyimpan unek-unek, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah sex. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut.

    Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah, bukan surga lagi tapi neraka. Apakah kondisi ini bisa diperbaiki? Tentu saja bisa, saat masing2 mengingat KOMITMEN awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan ??

    Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.

    Mau punya teman hidup ? Jatuh cintalah. Tetapi sesudah itu, bangunlah cinta. Jagalah KOMITMEN awal.

    1. KETIKA AKAN MENIKAH, Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita.
    Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

    2. KETIKA MELAMAR, Anda bukan sedang meminta kepada orang tua si gadis, tapi meminta kepada TUHAN melalui wali si gadis.

    3. KETIKA MENIKAH, Anda berdua bukan menikah di hadapan negara, tetapi menikah di hadapan TUHAN.

    4. KETIKA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA, Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri.

    5. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG, Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.

    6. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK, Jangan bagi cinta anda kepada suami/isteri dan anak Anda, tetapi cintailah isteri atau suami Anda 100% & cintai anak-anak Anda masing-masing 100%.

    7.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI, Boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.

    8.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI, Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

    9.KETIKA MENDIDIK ANAK, Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.

    10.KETIKA ANAK BERMASALAH, Yakinilah bahwa tidak ada seorang anak pun yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

    11.KETIKA ADA “PIL” / Pria Idaman lain, Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.

    12.KETIKA ADA “WIL” / Wanita Idaman lain, Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

    13.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA, Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.

    14.KETIKA INGIN LANGGENG dan HARMONIS, GUNAKANLAH FORMULA 7K
    1.Ketakutan akan Tuhan
    2.Kasih sayang
    3.Kesetiaan
    4.Komunikasi dialogis
    5.Keterbukaan
    6.Kejujuran
    7.Kesabaran

    Meski kita telah menikah dengan orang yang benar (tepat), tetapi kalau kita memperlakukan orang itu secara keliru, maka kita akhirnya akan mendapatkan orang yang keliru. Kebahagiaan dalam sebuah pernikahan tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan. Pernikahan bukanlah tanaman bunga mekar harum semerbak yang sudah jadi. Pernikahan adalah lahan kosong yang harus kita garap bersama-sama. Tidak cukup hanya dengan memilih dan menikah dengan orang yang tepat, tetapi jadilah pasangan yang TEPAT, yang memperlakukan pasangan kita dengan TEPAT pula.

    Kita juga harus yakin kalau kita tidak salah memilih pasangan hidup. Kalau TUHAN sudah mengizinkan pernikahan itu terjadi, maka itu berarti IA mempercayakan tanggung jawab rumah tangga itu kepada kita dan pasangan kita. Berbuatlah sesuai dengan apa yang telah engkau janjikan di hadapan TUHAN dan Imam, untuk tetap setia dan saling mengasihi dalam segala keadaan.

    MENIKAH DENGAN ORANG YANG BENAR (ATAU SALAH), ITU TERGANTUNG DARI “CARA” KITA MEMPERLAKUKAN PASANGAN. Manusia cenderung lebih pintar menilai orang lain daripada memeriksa diri sendiri, Padahal, ketika satu jari menunjuk kepada orang lain, empat jari yang lain mengarah ke diri sendiri. Jangan suka menghakimi tetapi baiklah kita saling mengasihi. Pernikahan adalah tiket sekali jalan, jadi pastikan bahwa bersama pasangan kita, kita bersama-sama menuju ke tempat yang lebih baik dari saat ini.

    Pernikahan adalah tempat dimana kita dituntut menjadi dewasa, dan salah satu tanda dewasa adalah SIAP memikul tanggung jawab. Pernikahan bukan masalah feeling suka tidak suka, tapi tentang komitmen. Masalah dalam pernikahan biasanya karena kita tidak memahami perbedaan pria & wanita. Jangan tuntut pasangan untuk berubah, kitalah yang
    harus berubah lebih dulu.

    Ingat !! Better me = Better we.

    3 kesalahan umum yang sering dilakukan suami :
    A. Tidak perhatikan perasaan istri. Laki lebih pakai logika , wanita pakai feeling.
    B. Lebih fokus memikirkan solusi daripada mendengar. Wanita biasanya ingin didengarkan, dia ingin suami merasakan apa yang dia rasakan.
    C. Seringkali setelah bicara, suami pergi tanpa beri kepastian/jawaban.

    3 kesalahan umum yang sering dilakukan istri :
    A. Memberi petunjuk tanpa diminta. Mungkin bagi istri menunjukan perhatian , tapi bagi
    suami merasa dikontrol.
    B. Mengeluhkan suami d¡ hadapan orang lain.
    C. Mencoba membenarkan pada saat suami melakukan kesalahan. (istri merasa lebih benar)

    Selama berumah tangga, milikilah komitmen-komitmen ini :
    1. Komitmen untuk tetap berpacaran.
    2. Komitmen memiliki sexual intimacy regularly.
    3. Komitmen untuk saling membantu (jangan mengkritik pasangan).
    4. Komitmen untuk punya romantic get away (liburan berdua)
    5. Komitmen berkomunikasi dengan jelas (saling cerita, terbuka, jangan biasakan bilang tidak dapat apa-apa bila ada apa-apa, pasangan kita bukan dukun)
    6. Komitmen untuk bicara hal yang baik tentang pasangan (puji pasangan)
    7. Komitmen untuk jadi pribadi yang lebih sehat dari sebelumnya. (Fisik yang sehat adalah kado buat pasangan)
    8. Komitmen untuk mudah mengampuni pasangan.
    9. Komitmen untuk bergandengan dan berpelukan.
    10. Komitmen untuk h¡dυp dalam kebenaran.

    10 Hukum Pernikahan Bahagia:
    1. Jangan marah pada waktu yang bersamaan. (Efesus 5:1)
    2. Jangan berteriak pada waktu yang bersamaan. (Matius 5:3)
    3. Jikalau bertengkar cobalah mengalah untuk menang. (Amsal 16:32)
    4. Tegurlah pasangan Anda dengan kasih. (Yohanes 13:34-35)
    5. Lupakanlah kesalahan masa lalu. (Yesaya 1:18 ; Amsal 16:6)
    6. Boleh lupakan yang lain tapi jangan lupakan Tuhan dan pasangan Anda. (Kidung Agung 3:1-2)
    7. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam. (Efesus 4:26-27)
    8. Seringlah memberi pujian pada pasangan Anda. (Kidung Agung 4:1-5 ; 5:9-16)
    9. Bersedia mengakui kesalahan. (I Yohanes 1:9)
    10. Dalam pertengkaran yang paling banyak bicara,dialah yang salah. ( Matius 5:9)

    Pernikahan yang bahagia membutuhkan jatuh cinta berulang-ulang dengan pasangan yang sama.

    Kidung Agung 8:7 “Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta. Sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya.Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.”

    Konfliks dan perselisihan menggerus cinta perlahan-lahan seperti abrasi mengikis pantai. Waktu atas sebuah pernikahan membuat cinta menjadi pudar, padahal asal muasal cinta begitu kuat tak terpadamkan, cinta sejati tidak bisa dibayar dengan harta benda.

    Bangun pagi ini katakan kepada pasangan kita ” I LOVE YOU ” biarlah ini menjadi pupuk yang akan menyuburkan kembali cinta kepada pasangan kita. Tujuan pernikahan bukanlah berpikiran sama, tetapi berpikir bersama.

    Matius 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.

    Kenapa kita disatukan dengan pasangan kita, agar kita saling melengkapi. Pasangan yang tepat adalah yang dapat melengkapi
    kekurangan kita, bukan yang sama seperti kita. Ketahuilah! Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa menemukan pasangan yang memiliki pikiran yang sama. Ketika kita bangun pagi ini pandang pasangan kita lalu katakan “saya membutuhkan kamu. Tanpa kamu, hidup jadi tidak sempurna”. Lalu mulailah merangkai perbedaan-perbedaan dengan pasangan kita agar menjadi satu sehingga menjadi suatu kekuatan yang luar biasa. Percayalah ! Mulai saat ini keluarga kita menjadi keluarga yang diberkati TUHAN.

    Tuhan Yesus memberkati.

  • Pohon Yang Tidak Berguna

    Suatu ketika, Lao Tsu sedang bepergian dengan murid-muridnya dan mereka menemukan hutan dimana para penebang pohon sedang menebangi semua pohon, kecuali sebuah pohon besar dengan ribuan cabang. Pohon itu begitu rindang hingga banyak orang bisa berteduh di bawahnya. Waktu murid-murid Lao Tsu disuruh bertanya kenapa pohon itu tak ditebang, para penebang berkata, “Pohon ini sama sekali tak berguna. Mau bikin apa dari pohon seperti ini karena setiap cabangnya penuh benjolan dan tidak lurus”.

    Waktu jawaban itu disampaikan pada guru, Lao Tsu tertawa.
    “Jadilah seperti pohon itu. Bila kau tampak cantik dan tanpa cacat benjolan kau akan menjadi komoditi di pasar. Jadilah seperti pohon yang tak ditebang ini yang meskipun kelihatan tak berguna, tapi sesungguhnya ia memberi kesejukan bagi banyak orang”.

  • Kelirumologi “Kristen dan Katolik”

    Kelirumologi adalah istilah humoris untuk merujuk kepada beberapa kekeliruan logika dalam pembentukan frasa dan kata yang sudah terlalu sering dipakai pengguna Bahasa Indonesia sehingga dianggap benar. Dari judul artikel ini, tentulah yang akan saya bahas adalah kekeliruan logika dalam pembentukan istilah “Kristen dan Katolik”.

    Banyak umat Katolik di Indonesia terjebak pada istilah yang salah kaprah yaitu “Kristen dan Katolik” di mana umat Katolik berpikir bahwa Katolik bukanlah Kristen. Ada pula yang ditanya, “Anda seorang Kristen?”; tetapi umat Katolik tersebut malah menjawab “Bukan, saya seorang Katolik”. Salah kaprah di Indonesia termasuk dalam pembuatan KTP menyebabkan istilah yang tidak tepat “Kristen dan Katolik” mendarah-daging di mana pemahamannya nama “Kristen” itu merujuk kepada Protestan sementara “Katolik” kepada Katolik. Sayangnya, karena kesalahkaprahan yang sudah mendalam ini, sulit sekali untuk mengoreksinya secara luas. Meskipun begitu, umat Katolik hendaknya berprinsip membiasakan yang benar daripada membenarkan kebiasaan.

    Permasalahan ini ternyata sudah pernah dijelaskan dan dipecahkan oleh seorang Bapa Gereja, St. Pacianus (310-391 M), Uskup Barcelona dari tahun 365-391 M. St. Pacianus menulis sebuah surat-surat (epistula) kepada Sympronianus yang berisi Seruan Pertobatan dan Penjelasan Mengenai Pembaptisan. Pada surat pertamanya, St. Pacianus berbicara mengenai nama “Katolik”.

    St. Pacianus berkata:
    “Kristen adalah nama saya, tetapi Katolik adalah nama belakang saya (my surname). Yang pertama memberikan saya sebuah nama, yang terakhir membedakan saya. Oleh yang satu saya diterima, oleh yang lainnya saya ditandai.”

    St. Pacianus melanjutkan:
    “Dan bila pada akhirnya kita harus memberikan pertanggungjawaban atas kata “Katolik” dan mengambilnya dari bahasa Yunani oleh interpretasi Latin; [makna] “Katolik” adalah “di seluruh” atau sebagaimana orang terpelajar pikir “ketaatan dalam semuanya” yaitu dalam semua perintah Allah. Yang dari Rasul [Paulus], “apakah kamu taat dalam segala sesuatu” (2 Kor 9:12) dan lagi “sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.” (Rom 5:19). Oleh karena itu, barangsiapa adalah Katolik, orang yang sama adalah taat. Barangsiapa adalah taat, orang yang sama adalah seorang Kristen dan dengan demikian Katolik adalah Kristen. Oleh karena itu, umat kita (our people), ketika dinamai Katolik, dipisahkan oleh sebutan ini dari nama yang sesat (heretical name).”

    Dari pernyataan St. Pacianus dari Barcelona di atas, kita dapat melihat bahwa seorang Katolik pastilah seorang Kristen. Perlulah umat Katolik pahami bahwa identitas kita adalah Kristen Katolik, yaitu Pengikut Kristus (Kristen) di dalam Gereja Katolik yang kita imani sebagai satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus.

    Sebagaimana yang dinyatakan St. Pacianus dari Barcelona di atas, nama “Katolik” digunakan untuk membedakan Gereja Kristus yang benar dari kelompok-kelompok sesat. Memang benar bahwa Gereja Kristus ini pada mulanya belum memiliki nama. Tetapi, kemunculan kelompok-kelompok yang mengajarkan ajaran sesat (di mana mereka juga mengaku Kristen) pada abad-abad pertama akhirnya membuat Gereja yang didirikan Kristus ini bernama Katolik. Santo Pacianus dari Barcelona menjelaskannya:
    “Ketika setelah masa Para Rasul, ajaran sesat telah meledak dan menyebar dengan berbagai nama untuk merobek sedikit demi sedikit dan memecahbelah. Bukankah umat Apostolik memerlukan nama mereka sendiri untuk menandai kesatuan orang-orang yang tidak rusak? Misalkan, hari ini, saya masuk ke sebuah kota yang padat. Ketika saya menemukan Marcionit, Apolinarian, Catafrigian, Novasian dan berbagai macam dari mereka yang menyebut diri mereka Kristen; dengan nama apa saya harus mengenal jemaat saya sendiri bila bukan diberi nama Katolik?”

    Arti kata “Kristen” adalah “Pengikut Kristus”. Saat ditanya “Apakah anda seorang Kristen?”, perlu diperhatikan bahwa bila kita umat Katolik menjawab “Saya bukan Kristen, saya seorang Katolik.” maka akan muncul dua hal yang keliru yaitu:
    1. Anda menyangkal diri anda seorang pengikut Kristus (Kristen).
    2. Anda menunjukkan bahwa Katolik bukanlah pengikut Kristus (Kristen).

    Nah, apakah kita umat Katolik mau menyangkal diri kita seorang pengikut Kristus? Tentu tidak bukan. Kalau begitu, mari kita biasakan yang benar. Katolik adalah Kristen. Kita adalah Kristen Katolik, pengikut Kristus di dalam Gereja Katolik. Mungkin akan muncul pertanyaan dari non-Katolik, “Kamu tadi bilang kamu seorang Kristen tapi kenapa kamu ikut Misa di Katolik? Kan Kristen itu beda dari Katolik.” Ya dijelaskan saja kesalahkaprahan tersebut agar orang tersebut mengerti.

    Jadi, saya tanya kepada anda umat Katolik: “Apakah anda seorang Kristen?” ^_^ Silahkan jawab dengan benar.

    Tambahan:
    1. Gereja Katolik sejak dari awal sampai sekarang memang seringkali diserang dengan berbagai ajaran yang salah dan menyimpang (bidaah). Beberapa ajaran tersebut dapat dilihat di artikel ini.

    2. Pada masa sekarang ternyata muncul juga Gereja atau persekutuan gerejawi yang menggunakan nama “Katolik” tetapi sebenarnya bukan “Katolik”. Perlu diketahui bahwa ciri yang pasti dari Katolik adalah persatuan penuh dengan Paus, Uskup Roma. Mereka yang tidak bersatu dengan Paus bukanlah umat Gereja Katolik.

    3. In fact, kata “Katolik” ada dalam Kitab Suci. Silahkan baca artikel ini.

    Sumber : Indonesian Papist

  • But How To Do It?

    “But how to do it?”, itu adalah ucapan seorang tamu di acara Oprah Show. Si wanita ini adalah penderita anorexia. Dia diundang oleh Oprah untuk tampil ke acaranya. Seorang tamu lainnya mencoba untuk menasihati si wanita ini “Kamu harus mengisi otakmu dengan hal-hal yang positif. Jangan biarkan otakmu mati”. Dan jawaban wanita itu sungguh simpel “But how to do it?”.

    Aku rasa dalam hidup kita, kita sering sekali menyuruh atau menasihati atau menceramahi orang lain. “Kamu tuh harus gini, harus gitu, jangan gini, jangan gitu”. Tapi satu hal yang kita lupakan, kita tidak mengajari mereka bagaimana cara melakukannya. Contoh saja, kalau ada teman kita yang baru putus dengan pacarnya, kalimat yang paling sering diucapkan adalah “lupakan saja dia. Jangan tangisi dia”. But how to do it? Bukan kah lebih baik kalau kita menemani dia, mengajak dia pergi nonton Iron Man 3, pergi makan enak, atau hal-hal lain yang memang bisa membantu teman kita merasa lebih baik, dibanding dengan hanya berkata dan membiarkan temanmu memikirkan sendiri cara melakukannya.

    Semoga ini bisa menjadi pembelajaran buat kita. Ketika kita mencoba menolong orang lain, mungkin lebih baik kalo kita lebih terperinci dan turut andil dalam membantu dia, dibanding hanya dengan bisa memberi pesan-pesan yang umumnya disampaikan. 🙂

  • Dikuburkan atau Dikremasi? Pandangan Gereja Katolik Mengenai Hal Ini

    Sebenarnya hal ini sempat terlintas di pikiranku sih. Seperti yang kita ketahui, lahan untuk pemakaman semakin susah saja, terutama di kota-kota besar. Di kotaku sekarang (Manokwari) pun, agak susah untuk mendapatkan lahan untuk pemakanan. Selain masalah lahan, masalah tetek bengek yang lain juga banyak. Jadi memang aku sempat kepikiran, bagaimana ya kalo kremasi?

    Kemarin malam kebetulan nemu tulisan ini di facebook. Intinya adalah:
    1. Gereja menghimbau sebaiknya dikuburkan kalau tidak ada halangan apa pun. Kenapa dikuburkan? Ada dua alasan. Pertama, kita percaya bahwa pada akhir jaman, kita akan dibangkitkan lagi oleh Tuhan, bukan cuma bangkit secara roh tapi termasuk badan kita (bagian “kebangkitan badan” di doa Aku Percaya”. Kedua, karena tubuh manusia semasa hidupnya merupakan tempat tinggal Roh Kudus, maka ketika dia sudah meninggal, hendaknya tubuh itu diperlakukan dengan hormat. Dan secara kebudayaan, manusia sejak dahulu kala selalu menguburkan orang yang meninggal. Menguburkan dan memberikan batu nisan akan memberi kehormatan kepada yang meninggal, serta merupakan pengingat kepada kita akan orang tersebut. Secara sejarah, biasanya kalau kita tidak menyukai seseorang, maka jasadnya akan dibakar.
    2. Jika memang tidak dimungkinkan untuk dikuburkan, atau ada alasan-alasan lain, misal keinginan pribadi dari orang yang meninggal, maka Gereja tidak melarang proses kremasi, selama bukan dilakukan karena tidak percaya akan Kebangkitan Badan (lihat atas). Walau pun sudah dikremasi, hendaknya abu itu masih tetap diperlakukan dengan hormat, seperti diletakkan di wadah yang layak, dan disimpan di tempat yang dikhususkan (mausoleum atau sejenisnya).
    3. Proses menaburkan abu jenazah di laut, di gunung, di udara, atau dimana pun tidak disarankan, karena mengurangi penghormatan kepada yang sudah meninggal.

    Bagi yang ingin membaca lebih lengkap penjelasan mengenai hal ini, bisa membuka tautan ini.

    Semoga bermanfaat 🙂

  • Apakah Gubukmu Terbakar?

    Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal terdampar di pulau yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya, dan setiap hari dia mengamati langit mengharapkan pertolongan, tetapi tidak ada sesuatu pun yang datang.

    Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai. Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar, asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah, hilanglah semuanya.

    Dia sedih dan marah. “Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?” dia menangis. Pagi-pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya. “Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?” tanya pria itu kepada penyelamatnya. “Kami melihat tanda asapmu”, jawab mereka.

    Mudah sekali untuk menyerah ketika keadaan menjadi buruk. Tetapi kita tidak boleh goyah, karena Tuhan bekerja di dalam hidup kita, juga ketika kita dalam kesakitan dan kesusahan. Ingatlah, ketika gubukmu terbakar, mungkin itu “tanda asap” bagi kuasa Tuhan. Ketika ada kejadian negatif terjadi, kita harus berkata pada diri kita sendiri bahwa Tuhan pasti mempunyai jawaban yang positif untuk kejadian tersebut.

    Kamu berkata, “Itu tidak mungkin.”
    Tuhan berkata, “Tidak ada hal yang tidak mungkin.” (Lukas 18:27)

    Kamu berkata, “aku terlalu capai.”
    Tuhan berkata, “Aku akan memberikan kelegaan padamu.” (Matius 11:28)

    Kamu berkata, “Tidak ada seorangpun yang mencintai aku.”
    Tuhan berkata, “Aku mencintaimu.” (Yohanes 3:16-Yohanes 13:34)

    Kamu berkata, “Aku tidak bisa meneruskan.”
    Tuhan berkata, “Kasih karuniaKu cukup.” (2 Korintus 12:9 – Mazmur 91:15)

    Wartakanlah ini pada siapa yang membutuhkan, percayalah ada saat-saat di mana kita merasa bahwa “gubuk” kita terbakar.

  • Kutipan hari ini

    Decide to be a blessing to everyone you meet today. Forgive anyone who has hurt you, and leave unresolved circumstances in God’s hands.

  • Namaku Uang

    Wajahku biasa saja, fisikku juga lemah, namun aku mampu merombak tatanan dunia.
    Aku juga “bisa” merubah Perilaku, bahkan sifat Manusia’ karena manusia mengidolakan aku.
    Banyak orang merubah kepribadiannya,­­­­ mengkhianati teman, menjual tubuh, bahkan meninggalkan keyakinan imannya, demi aku!

    Aku tdk mengerti perbedaan orang saleh & bejat, tapi manusia memakai aku menjadi patokan derajat, menentukan kaya miskin & terhormat atau terhina.

    Aku bukan iblis, tapi sering orang melakukan kekejian demi aku.

    Aku juga bukan org ketiga, tapi banyak suami istri pisah gara2 aku.
    Anak dan orangtua berselisih gara2 aku.

    Sangat jelas juga aku bukan Tuhan, tapi manusia menyembah aku spt Tuhan, bahkan kerap kali hamba2 Tuhan lebih menghormati aku, padahal Tuhan sudah pesan jgn jadi hamba uang..

    Seharusnya aku melayani manusia, tapi kenapa malah manusia mau jadi budakku?

    Aku tdk pernah mengorbankan diriku untuk siapa pun, tapi banyak orang rela mati demi aku.

    Perlu aku ingatkan, aku hanya bisa menjadi alat bayar resep obat anda, tapi tdk mampu memperpanjang hidup anda.

    Kalau suatu hari anda dipanggil Tuhan, aku tdk akan bisa menemani anda, apalagi menjadi penebus dosa2 anda, anda harus menghadap sendiri kpd sang Pencipta lalu menerima penghakimanNYA.

    Saat itu, Tuhan pasti akan hitung2an dgn anda, APAKAH SELAMA HIDUP ANDA MENGGUNAKAN aku dgn baik, atau sebaliknya MENJADIKAN aku sebagai TUHAN?

    Ini informasi terakhirku:
    Aku TIDAK ADA DI SURGA,
    Jadi jangan cari aku disana.

    Salam sayang,

    Ttd

    U A N G