Tag: cerita

  • Kisah Si Penjual Ikan

    Seseorang pedagang ikan memulai berjualan di pasar di pagi hari. Agar dapat menarik pembeli, ia memasang papan pengumuman bertuliskan “HARI INI DI SINI DIJUAL IKAN SEGAR”. Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan tentang tulisannya. “Mengapa kau tuliskan kata HARI INI? Bukankah kau memang hari ini berjualan, bukan kemarin atau besok?” Pedagang ikan itu berpikir dan menjawab, “Iya, kau benar.” Kemudian ia menghapus tulisan “HARI INI” dan di papan tersebut tulisan berkurang menjadi “DISINI JUAL IKAN SEGAR”

    Beberapa saat kemudian datang pembeli kedua. Pembeli tersebut juga menanyakan tulisan di papan, “Mengapa kau tulis kata DI SINI ? Bukankah semua orang sudah tau kalau kau berjualan DI SINI , bukan DI SANA atau di tempat lain?”
    “Benar juga!” pikir si pedagang ikan tersebut, lalu dihapusnya kata “DI SINI” dan tinggallah tulisan “JUAL IKAN SEGAR”.

    Tidak lama kemudian datang pengunjung ketiga yang juga menanyakan tulisannya. “Mengapa kau pakai kata SEGAR? Bukankah semua orang sudah tau kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?”
    “Benar juga” pikir si pedagang ikan, lalu dihapusnya kata “SEGAR” dan tinggallah tulisan “JUAL IKAN”

    Sesaat kemudian datanglah pengunjung keempat yang juga menanyakan tulisannya, “Mengapa kau tulis kata JUAL? Bukankah semua orang sudah tahu kalau ikan ini untuk dijual, bukan dipamerkan atau dibagikan?”
    “Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata JUAL dan tinggalah tulisan “IKAN”

    Selang beberapa waktu kemudian, datangpengunjung ke lima, yang juga menanyakan tulisannya : “Mengapa kau tulis kata IKAN? Bukankah semua orang sudah tau kalau ini Ikan, bukan Daging atau Sayur?”
    “Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu. Tinggallah pedagang ikan tersebut berjualan tanpa memasang papan tulisan, dan keinginan menarik pembeli gagal sudah.

    Pelajaran:
    Yakinlah bahwa tidak mungkin kita bisa memuaskan setiap orang. Sudah menjadi fitrah manusia untuk berbeda pendapat. Jadi utamakan suara hati anda. Biarlah orang lain berpendapat. Jangan mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain bila anda merasa itu sudah sesuai dengan tujuan anda.

  • Perangkap Tikus

    Sepasang suami istri petani pulang kerumah
    sehabis berbelanja di pasar. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus
    memperhatikan dengan seksama sambil menggumam, “Hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??” Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang.

    Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak, “Ada Perangkap Tikus di rumah!!! Di rumah sekarang ada perangkap tikus!!” Ia mendatangi ayam dan berteriak, “Ada
    perangkap tikus”. Sang Ayam berkata, “Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”.

    Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Lalu sang Kambing pun berkata, “Aku turut bersimpati.. . tapi maaf, tidak ada yang bisa aku lakukan”.

    Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat
    jawaban sama, “Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”.

    Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata, “Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”.

    Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri. Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya yang berbunyi. Menandakan perangkapnya telah memakan korban. Namun ketika melihat perangkap tikusnya, seekor ular berbisa telah terjebak di sana. Ekor ular yang terjepit membuatnya
    semakin ganas dan menyerang istri si Petani. Walaupun sang Suami berhasil membunuh ular tersebut, namun sang istri sempat tergigit dan teracuni oleh bisa ular tersebut.

    Setelah beberapa hari di rumah sakit, sang istri sudah diperbolehkan pulang. Namun selang beberapa hari kemudian demam tinggi yang tak turun-turun juga. Atas saran kerabatnya, ia membuatkan isterinya sup ayam untuk menurunkan demamnya. Semakin hari bukannya semakin sembuh, justru semakin tinggi demam isterinya. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk diambil hatinya. Istrinya tidak sembuh juga dan akhirnya meninggal dunia.

    Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga ia harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat. Dari kejauhan sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi di rumah itu.

    Pelajaran dari kisah di atas, “suatu ketika Anda mendengar seseorang sedang dalam kesulitan atau masalah dan Anda mengira itu bukan urusan Anda, maka pikirkanlah sekali lagi”.

  • Karangan si Bakar

    Alkisah di sebuah sekolah dasar, tercatatlah seorang siswa kelas satu. Sebut namanya Bakar. Ia anak konglomerat ternama. Bukan cuma bapaknya yang pedagang besar. Kakek moyangnya pun demikian. Mereka adalah rezim saudagar terkenal sejak era abad pertengahan. Ketika Pires berkata, ”Tuhan menciptakan Timor untuk pala, Banda untuk lada, dan Maluku untuk cengkih,” di sanalah kakek moyang Bakar berperan.

    Bakar masih menikmati warisan kebesaran itu. Ia bersekolah di SD unggulan berstandar internasional dan bilingual, sekitar 2 kilometer dari rumah (mobil senilai Rp 1 miliar yang ia pakai hanya mencatatkan perjalanan 4 kilometer setiap hari). Seorang sopir dan ”baby sitter” mengantar dan menungguinya setiap hari saat ia belajar.

    Laiknya sekolah mahal dan unggulan lainnya, mengarang adalah pelajaran yang diposisikan amat penting di SD tersebut. Anak-anak didik, sejak kelas satu, sudah dilatih untuk mengekspresikan isi kepala mereka dengan kata-kata yang tertata baik, namun dengan isi yang mencerminkan kebebasan pikiran.

    Sampailah, suatu ketika, sang guru meminta siswa kelas I membuat karangan tentang kehidupan keluarga yang sangat miskin di seberang benteng sekolah. Sang guru, yang berasal dari keluarga menengah, berharap dapat menumbuhkan empati anak-anak didiknya yang serba berada terhadap nasib kelompok lain yang tak berpunya.

    Bakar masih kelas satu SD. Tapi, ia penulis yang andal. Ia sefasih bapaknya saat harus melontarkan kata-kata. Ia pun secerdas ibunya saat harus membuat hitung-hitungan dan perbandingan. Ia menulis, seperti saran gurunya, dengan penuh perasaan. “Menulislah dengan hati,” begitu kata-kata sang guru yang selalu ia ingat. Lalu, dengan sesekali menerawang dan membayangkan kehidupan keluarga miskin, Bakar menggoreskan pensilnya dengan huruf-huruf yang belum sempurna benar. Ia menamai tokoh dalam karangannya sebagai Pak Abu.

    “Pak Abu,” tulisnya, “adalah orang yang sangat miskin. Benar-benar miskin, sampai-sampai pembantunya juga miskin, sopirnya miskin, dan tukang kebunnya pun miskin. Karena sering tak punya uang, Pak Abu jarang membersihkan kolam renang di rumahnya. Ia juga hanya bisa memelihara ikan-ikan kecil di akuarium seperti lou han yang makannya sedikit, tidak seperti arwana dan koi di rumahku. Kucing siam punya Pak Abu juga kurus, soalnya kurang makan. Ayam yang ia pelihara juga yang kecil-kecil, jenis kate.”

    Bakar yang berpikir bebas menulis karangannya itu dengan penuh haru. Ia sesekali mengernyitkan dahi. Ia berpikir dirinya tak mungkin bisa menanggungkan kemiskinan seperti yang terjadi pada keluarga Pak Abu. Alangkah malangnya keluarga Pak Abu, pikirnya. Jangan-jangan anak-anaknya harus berebut saat bermain PS3, karena alat permainan itu hanya ada satu di ruang keluarga. Lain dengan di rumahnya, setiap kamar ada. Di kamar Bakar, di kamar kakak-kakaknya, bahkan di kamar ibu-bapaknya .

    Sopir dan pembantu Pak Abu pun, pikirnya, pasti sedih karena tidak seperti pembantu dan sopir dirinya. Bakar membandingkan handphone yang dipegang sopir dan pembantu Pak Abu mungkin jenis monophonic yang ketinggalan zaman, lain dengan handphone pembantu dan sopirnya yang polyphonic dan bisa kirim MMS bahkan ber-video-call. Ia membayangkan kepala urusan dapur di rumah Pak Abu mungkin hanya bisa belanja di pasar yang becek atau supermarket kecil di perempatan jalan. Padahal, pembantu di rumahnya sangat biasa berbelanja ke hypermarket Prancis dan mal-mal.

    “Anak-anak Pak Abu,” tulisnya dengan empati penuh, “kalau liburan tidak bisa ke Eropa atau Amerika seperti aku. Mereka hanya bisa berlibur ke Bali. Itu pun pakai pesawat yang murah, low cost carrier.”

    ———————————————-

    Pesan yang mau saya bagikan: jangan biarkan anak anda terkurung dalam “tempurung”nya. Tunjukkan bagaimana dunia memiliki banyak aspek kehidupan. Jangan sampai empatinya mati karena terlalu dimanja.

  • Kentang, Telur, dan Kopi

    Ini adalah sebuah cerita tentang pentingnya berpikir positif jika menghadapi masalah. Suatu ketika seorang anak perempuan mengeluh pada ayahnya bahwa hidupnya sangat susah dan dia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Ia merasa lelah menghadapi sulitnya hidup yang dijalaninya dan tampaknya masalah selalu datang bertubi-tubi, selesai satu masalah, datang masalah yang lain lagi.

    Sang ayah yang seorang koki kemudian mengajaknya ke dapur. Ia mengambil tiga buah panci dan mengisinya dengan air serta meletakkannya di atas api. Setelah ketiga panci mulai mendidih ia meletakkan sebuah kentang ke dalam panci pertama, telur pada paci ke dua dan biji kopi di panci ketiga. Sang ayah kemudian duduk dan diam menunggu tanpa mengucap satu katapun pada putrinya. Putrinya yang tak sabar dengan apa yang dilakukan ayahnya mengeluh, tampak gusar dan gelisah sambil bertanya dalam hatinya, “apa yang akan dilakukan ayah?”

    Setelah kurang lebih dua puluh menit berlalu, sang ayah mematikan kompor. Dia mengambil kentang dari panci dan meletakkannya dalam mangkok. Lalu mengambil telur dan meletakkannya dalam mangkuk yang lain. Dia kemudian menyendok kopi dan menuangkannya dalam sebuah cangkir. Pandangan sang ayah beralih pada putrinya dan ia bertanya, “Putriku, apa yang kamu lihat?”
    “Kentang, telur dan kopi,” jawab putrinya dengan terburu-buru dan setengah hati.
    “Lihat lebih dekat”, kata sang ayah, “cobalah untuk menyentuhnya.”

    Dia melakukan dan menyadari bahwa kentangnya telah berubah menjadi lembut. Sang ayah kemudian memintanya untuk mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya, ia mengamati telur rebus. Akhirnya, sang ayah memintanya untuk mencicipi kopi dalam gelas dan tercium aroma yang harum dan membuat anak perempuan tersebut tersenyum pada ayahnya.

    “Ayah, apa artinya ini semua?” tanyanya.

    Sang ayah kemudian menjelaskan bahwa kentang, telur dan biji kopi masing-masing menghadapi kesulitan pada air mendidih. Namun, masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Kentang yang keras saat dimasukkan tetapi dalam air mendidih, menjadi lunak dan lembut. Telur itu rapuh, dengan kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya saat dimasukkan ke dalam air mendidih bagian dalam telur menjadi keras. Namun, biji kopi yang unik. Setelah mereka terkena air mendidih, biji tersebut
    mengubah warna air dan menciptakan
    sesuatu yang baru.

    “Yang manakah dirimu?” tanya ayah pada putrinya. “Ketika kesulitan menderamu, bagaimana kamu menyikapinya? Apakah kamu seperti sebuah kentang, telur, atau kopi?”

    Dalam kehidupan, banyak hal terjadi disekitar kita. Tetapi satu-satunya hal yang benar-benar penting adalah apa yang terjadi dalam diri kita. Tipe yang manakah Anda? Ketika datang sebuah masalah (dan akan datang masalah yang lain lagi) bagaimana kita bereaksi? Apakah problema yang datang akan membuat kita lemah, keras hati atau menyebabkan kita berubah menjadi sesuatu yang berharga?

    Sebuah pelajaran berharga: “Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang Anda temukan, itu adalah sesuatu yang Anda buat.”

  • Arti Keadilan

    Suatu pagi, seorang ayah memberi uang saku kepada kedua anaknya. Seorang anak perempuan kelas 6 SD dan seorang anak laki-laki kelas 3 SD. Dia memberikan uang saku dengan jumlah yang berbeda kepada mereka. Tentu saja anak perempuan mendapat jumlah
    uang saku yang lebih banyak. Mengetahui
    hal ini, saat sepulang sekolah si anak laki-laki protes kepada ayahnya.
    “Pa, kok uang sakuku lebih sedikit dari punyanya kakak? Gak adil”
    Kemudian si ayah melemparkan sebuah pertanyaan kepadanya, “Menurutmu adil itu
    yang seperti apa?”
    Dengan polosnya si anak yang baru
    berusia 9 tahun itu menjawab, “Ya harus sama jumlahnya. Kalo kakak dapat banyak, aku juga harus dapat jumlah yang sama juga.”
    Dengan tersenyum si ayah meninggalkan dia.
    Sesaat kemudian dia menemui si anak lelaki dengan membawa dua buah gelas minum, gelas pengukur, dan sebotol air. Kedua gelas itu memiliki ukuran berbeda. Yang pertama gelas besar dan yang kedua gelas kecil.
    “Baik nak. Sekarang ayah minta, tolong masing-masing gelas kamu isi dengan air sebanyak 240 mL!”
    Dengan sedikit pengarahan dari si ayah, dia
    mulai mengisikan air ke dalam gelas pengukur hingga mencapai angka 240 mL dan menuangkannya ke dalam gelas besar.
    Pada gelas yang besar, air hampir memenuhi isi gelas. Namun, pada saat dia mengisi gelas yang kecil airnya tumpah. Kemudian si ayah meminta anaknya untuk mengosongkan gelas-gelas tersebut. Dan sekarang dia memberi instruksi yang berbeda.
    “Sekarang isikan air ke dalam masing-masing gelas hingga penuh!”
    Dia mulai menuangkan air ke dalam masing-masing gelas hingga penuh. Dan sekarang tidak ada air yang tumpah.

    Satu pelajaran yang bisa kita ambil dari
    cerita di atas : Keadilan itu bukan tergantung dari jumlahnya tetapi dari ukurannya.

    Sering diantara kita mengeluh kepada Allah. “Ya Allah mengapa dia memiliki harta yang lebih banyak dari aku? Pada dia memiliki pekerjaan yang sama, ibadah kita juga sama. Bahkan terkadang aku lebih baik dari dia.” Sadarkah kita bahwa Allah itu Maha Mengetahui? Dia tahu akan ukuran setiap hamba-Nya. Dia tidak akan memberikan sesuatu kepada hamba-Nya kecuali sesuai ukuran sang hamba.

    Jadi kalau kita merasa tidak puas dengan kondisi kita sekarang, jangan salahkan orang lain. Gunakan waktu yang ada untuk membesarkan “ukuran” kita 🙂

  • Bakso dan Mangkoknya

    Pada suatu kali Andi mengikut acara rekreasi sebuah komunitas. Saat acara makan tiba, salah satu makanan favorit peserta adalah bakso. Maka, anak-anak kecil pun mengantri di depan panci bakso.Tiba-tiba terdengar suara pertengkaran. Ternyata, dua orang anak berebut.

    Andi pun datang melerai, “Kenapa berebut mangkok? Bukankah masih banyak mangkok kosong yang lain?” Rupanya kedua anak itu sama-sama ingin memakai mangkok yang bergambarkan tokoh kartun favorit mereka.  Aneh ya, kenapa malah mangkok yang diributkan, padahal yang  akan dimakan ‘kan baksonya.

    Terkadang kita pun sama seperti anak-anak itu. Kita direpotkan oleh banyak hal yang tidak penting dan menomorduakan hal yang penting. Kita meributkan “mangkok”, dan justru  mengabaikan “baksonya”. Kita sering merasa iri dengan “mangkok” milik tetangga dan tidak bahagia dengan mangkok kita. Akibatnya, kita jadi tertekan dan sulit untuk bersyukur.

    Kehidupan itu ibarat bakso, sedangkan karir, kekayaan, jabatan adalah mangkok. Mangkok hanyalah alat untuk menampung bakso. Seberapa pun bagusnya mangkok itu tidak akan mengubah rasa baksonya.

    Maka, marilah kita merawat kehidupan kita, dengan memfokuskan hidup kita pada kebenaran. (SD)

     

     


    Tambahan:
    Semoga tulisanku bukan sekedar menghabiskan waktu kalian, tapi bisa berguna buat kalian.

    Kalian bisa mendaftarkan diri dengan cara mengisi alamat surel kalian di kolom pendaftaran di bagian kanan atas blog ini. Kalian akan mendapatkan surel setiap kali ada tulisan baru.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

  • Manusia Memang Aneh

    Seorang laki-laki bertanya pada teman saya, Jaime Cohen, “Apa sifat yang paling aneh pada manusia?”

    Cohen berkata, “Sifat-sifat kita yang serba bertolak belakang.

    Waktu masih kecil, kita ingin cepat-cepat dewasa, lalu setelah dewasa kita merindukan masa kecil yang telah hilang.

    Kita mencari uang sampai sakit-sakitan, lalu uang itu kita habiskan untuk berobat supaya sembuh.

    Kita begitu cemas memikirkan masa depan, sampai-sampai kita mengabaikan masa kini, sehingga kita tidak benar-benar hidup di masa kini maupun di masa depan.

    Kita hidup seolah-olah kematian tidak berkuasa atas diri kita, dan kita mati seolah-olah kita tidak pernah menjalani hidup.” (Paulo Coelho dalam “Seperti Sungai yang Mengalir”. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama)

  • Setiap Orang Punya Cerita

    Hidup itu terbungkus oleh banyak lapisan. Terkadang kita hanya melihat lapisan luarnya saja dan tidak tahu bagaimana isi di dalamnya.

    Kita hanya melihat seorang pengusaha hebat, rumahnya besar, mobilnya mewah, hidupnya bahagia. Padahal dia mungkin sedang stres dan hidupnya penuh hutang, kerja kerasnya hanya untuk membayar bunga pinjaman, semua asetnya sudah menjadi milik bank.

    Lalu, pasangan anggun yang hadir di sebuah acara reuni begitu serasi dan mempesona, mereka pasti hidup harmonis dan bahagia. Padahal, hidup mereka penuh dengan kebencian, saling menuduh, mengkhianati, dan menyakiti, bahkan sudah dalam proses perceraian dan bagi harta.

    Ada juga seorang pemuda, lulusan sekolah terkenal dengan nilai tertinggi, pasti mudah memperoleh pekerjaan, dengan gaji besar, hidupnya pasti bahagia. Padahal, ia sudah terkena PHK sepuluh kali, jadi korban fitnah di lingkungan kerjanya. Dan sudah dua bulan belum mendapakan pekerjaan baru.

    Ada seorang ibu muda, yang selalu pergi ke diskotik, punya banyak waktu, tidak pernah pusing dengan pekerjaan rumah, hidupnya sangat santai. Dia pasti bahagia. Padahal, batinnya hampa dan kesepian, jiwanya merintih, karena suaminya tidak pernah menghargai dan menggasihinya.

    Begitu juga dengan tetangga. Anaknya sudah besar-besar, bapak-ibunya sudah boleh santai dan tenang. Mereka pasti bahagia. Namun kenyataannya orangtua mereka tak pernah bisa tidur nyenyak, karena kelakuan anak-anaknya yang tidak bermoral dan menyalahgunakan narkoba.

    Kita selalu tertipu oleh keindahan di luar dan tidak tahu bagaimana realita yang ada di dalam. Sesungguhnya semua keluarga punya masalah. Semua orang punya cerita duka. Begitulah hakekat hidup.

    Janganlah membicarakan masalah orang lain, sebenarnya siapapun tidak mau mengalami masalah. Tapi, manusia tak luput dari masalah.

    Jangan mengeluh karena masalah. Hayatilah makna di balik semua masalah karena semua masalah akan membuat hidup menjadi bermakna.

    Jangan bandingkan hidup kita dengan orang lain, karena orang lain belum tentu lebih bahagia dari kita. (*)

  • [Cerita] Kura-kura dan Kalajengking

    Suatu hari, karena tak mampu berenang, seekor kalajengking meminta kepada seekor kura-kura agar memberinya tumpangan di punggungnya untuk menyeberangi sungai.

    “Apa kamu gila?” teriak kura-kura, “Kamu pasti akan menyengatku pada saat aku berenang dan aku akan tenggelam.”

    Kalajengking itu tertawa sambil menjawab, “Kura-kura yang baik, jika aku menyengatmu, kamu akan tenggelam, dan aku akan ikut bersamamu. Kalau begitu, apa gunanya? Aku tak akan menyengatmu karena ini berarti kematianku sendiri!”

    Untuk beberapa saat, kura-kura itu berpikir tentang logika dari jawaban tersebut. Akhirnya ia berkata, “Kamu benar…. Naiklah!”

    Kalajengking itu naik ke punggung kura-kura tadi. Namun baru setengah jalan, ia menyengat kura-kura itu dengan sengit.

    Sementara kura-kura mulai tenggelm perlahan-lahan menuju dasar sungai dengan kalajengking di atas punggungnya, ia mengerang dengan sedih, “Kamu ‘kan sudah berjanji, tapi sekarang kamu menyengatku! Mengapa? Sekarang kita sama-sama celaka.”

    Kalajengking yang tenggelam itu menjawab dengan sedih, “Aku tidak dapat menahan diri. Memang sudah tabiatku untuk menyengat.”

    Sahabat, ingatlah! Pelajari karakter seseorang sebelum menjadikannya sebagai teman. Peran yang dia mainkan akan mempengaruhi kehidupan Anda. Bagaikan tombol lift, teman itu akan membawa kita naik atau turun. Siapa bergaul dengan orang bijak akan menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal akan malang.

  • [Cerita]Dosen Cerdas

    Ada 4 orang mahasiswa yang kebetulan telat ikut ujian semester karena bangun kesiangan. Mereka lantas menyusun strategi untuk kompak kasih alasan yang sama agar dosen mereka berbaik hati memberi ujian susulan.

    Mahasiswa A: “pak, maaf kami telat ikut ujian semester.”

    mahasiswa B: “iya pak. Kami berempat naik angkot yg sama dan ban angkot…nya meletus.”

    Mahasiswa C: “iya kami kasihan sama supirnya…. Jadinya kami bantu dia pasang ban baru.”

    Mahasiswa D: “oleh karena itu kami mohon kebaikan hati bapak untuk kami mengikuti ujian susulan.”

    Sang dosen berpikir sejenak dan akhirnya memperbolehkan mereka ikut ujian susulan. Keesokan hari ujian susulan dilaksanakan, tapi keempat mahasiswa diminta mengerjakan ujian di 4 ruangan yg berbeda.

    “Ah, mungkin biar tidak menyontek,” pikir para mahasiswa. Ternyata ujiannya cuma ada 2 soal. Dengan ketentuan mereka baru diperbolehkan melihat dan mengerjakan soal kedua setelah selesai mengerjakan soal pertama.

    Soal pertama sangat mudah dengan bobot nilai 10. Keempat mahasiswa mengerjakan dengan senyum senyum.

    Giliran membaca soal kedua dengan bobot nilai 90. Keringat dingin pun mulai bercucuran.

    Di soal kedua tertulis:

    “Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus..?

    =====

    Dalam kehidupan perkuliahan, seorang mahasiswa juga sering melakukan tindakan kebohongan dengan berbagai tujuan dan alasan. Salah satu tujuannya adalah melindungi teman atau bertujuan untuk kebaikan.

    Contohnya seperti tindakan “titip” absen yang sering dilakukan oleh beberapa mahasiswa. Seorang mahasiswa sering meminta temannya untuk memalsukan tanda tangan daftar hadir (absen) ketika tidak bisa menghadiri kelas. Tindakan seperti ini merupakan salah satu tindakan yang dapat berupa kebohongan langsung ataupun kebohongan demi kebaikan tergantung pada alasan dari penindak kebohongan.

    Sekecil apapun kebohongan yg kita lakukan tetap akan terungkap. Dan sebuah kebohongan bukanlah solusi dalam menyelesaikan masalah namun akan menambah masalah. Dan kejujuran itu lebih indah, setidaknya akan membuat kita lega setelah jujur.