Author: stefano

  • Kutipan Hari Ini

    When you have nothing to say, it’s better to stay silent rather than saying something that will haunt you back.

    Ketika kamu tidak mempunyai hal untuk disampaikan, lebih baik tetap diam daripada mengatakan sesuatu yang akan menghantuimu kemudian hari.

  • Uang vs Bahagia

    Sebuah iklan pembalut wanita yang aneh. Iklannya berisi makna kehidupan yang bagus, namun tidak ada pesan untuk menjual produknya.

    Ada 5 orang ibu-ibu yang lagi ngerumpi sambil ngafe. Mereka lagi memamerkan kesuksesan anaknya. Ada yang anaknya jadi pilot, ada yang anaknya jadi jendral (bukan jendral TNI, tapi jendral manager alias GM :D), dkk. Begitu giliran ibu terakhir, eh ada suara yang manggil dia. Ternyata anaknya datang dgn istri dan cucu si ibu. “Lho, mau kemana?” Ibu-ibu lain bertanya. “Mau merayakan hari ibu” jawab si anak. “Lho, kan udah lewat” protes ibu-ibu itu. “Mereka selalu merayakan hari ibu tiap minggu” jawab si ibu sambil pamitan, lalu pergi. 4 ibu-ibu lainnya cuma bisa bengong aja (mungkin sambil merasa iri dengan si ibu itu).

    Aku rasa ini menjadi gambaran norma kehidupan sekarang. Uang yang banyak dianggap cukup untuk menjustifikasi kurangnya waktu keluarga. Aku ingat ada satu ucapan yang menarik, bahwa orang kaya sebenarnya adalah kelompok orang yang paling tersiksa. Mereka dilarang oleh masyarakat untuk bersedih. Anggapan masyarakat “Punya uang banyak kok sedih?”

    Aku gak bilang kita gak butuh uang. Tapi “More money means more happiness”. Is it true?

    Bagaimana menurut kalian? Ayo berdiskusi dengan menuliskan pikiran kalian di komentar di bawah. Tapi tolong norma kesopanan tetap dijaga. Semua komentar akan aku cek terlebih dahulu, sebelum muncul di halaman blog. Terima kasih 🙂

  • Nilai dari Usaha

    One young man went to apply for a managerial position in a big company. He passed the initial interview, and now would meet the director for the final interview. The director discovered from his CV that the youth’s academic achievements were excellent. He asked, “Did you obtain any scholarships in school?” the youth answered “no”.
    ” Was it your father who paid for your school fees?”
    “My father passed away when I was one year old, it was my mother who paid for my school fees.” he replied.
    ” Where did your mother work?”
    “My mother worked as clothes cleaner.”

    The director requested the youth to show his hands. The youth showed a pair of hands that were smooth and perfect.

    ” Have you ever helped your mother wash the clothes before?”
    “Never, my mother always wanted me to study and read more books. Besides, my mother can wash clothes faster than me.”

    The director said, “I have a request. When you go home today, go and clean your mother’s hands, and then see me tomorrow morning.”

    The youth felt that his chance of landing the job was high. When he went back home, he asked his mother to let him clean her hands. His mother felt strange, happy but with mixed feelings, she showed her hands to her son. The youth cleaned his mother’s hands slowly. His tear fell as he did that. It was the first time he noticed that his mother’s hands were so wrinkled, and there were so many bruises in her hands. Some bruises were so painful that his mother winced when he touched it.

    This was the first time the youth realized that it was this pair of hands that washed the clothes everyday to enable him to pay the school fees. The bruises in the mother’s hands were the price that the mother had to pay for his education, his school activities and his future. After cleaning his mother hands, the youth quietly washed all the remaining clothes for his mother. That night, mother and son talked for a very long time.

    Next morning, the youth went to the director’s office. The Director noticed the tears in the youth’s eyes, when he asked: “Can you tell me what have you done and learned yesterday in your house?”

    The youth answered,” I cleaned my mother’s hand, and also finished cleaning all the remaining clothes. I know now what appreciation is. Without my mother, I would not be who I am today. By helping my mother, only now do I realize how difficult and tough it is to get something done on your own. And I have come to appreciate the importance and value of helping one’s family.

    The director said, “This is what I am looking for in a manager. I want to recruit a person who can appreciate the help of others, a person who knows the sufferings of others to get things done, and a person who would not put money as his only goal in life.”

    “You are hired.”

    This young person worked very hard, and received the respect of his subordinates. Every employee worked diligently and worked as a team. The company’s performance improved tremendously.

    A child, who has been protected and habitually given whatever he wanted, would develop an “entitlement mentality” and would always put himself first. He would be ignorant of his parent’s efforts. When he starts work, he assumes that every person must listen to him, and when he becomes a manager, he would never know the sufferings of his employees and would always blame others. For this kind of people, who may be good academically, they may be successful for a while, but eventually they would not feel a sense of achievement. They will grumble and be full of hatred and fight for more.

    If we are this kind of protective parents, are we really showing love or are we destroying our children instead? You can let your child live in a big house, eat a good meal, learn piano, watch on a big screen TV. But when you are cutting grass, please let them experience it. After a meal, let them wash their plates and bowls together with their brothers and sisters. It is not because you do not have money to hire a maid, but it is because you want to love them in a right way. You want them to understand, no matter how rich their parents are, one day their hair will grow gray, same as the mother of that young person. The most important thing is your child learns how to appreciate the effort and experience the difficulty and learns the ability to work with others to get things done.

  • Namaku Uang

    Wajahku biasa saja, fisikku juga lemah, namun aku mampu merombak tatanan dunia.
    Aku juga “bisa” merubah Perilaku, bahkan sifat Manusia’ karena manusia mengidolakan aku.
    Banyak orang merubah kepribadiannya,­­­­ mengkhianati teman, menjual tubuh, bahkan meninggalkan keyakinan imannya, demi aku!

    Aku tdk mengerti perbedaan orang saleh & bejat, tapi manusia memakai aku menjadi patokan derajat, menentukan kaya miskin & terhormat atau terhina.

    Aku bukan iblis, tapi sering orang melakukan kekejian demi aku.

    Aku juga bukan org ketiga, tapi banyak suami istri pisah gara2 aku.
    Anak dan orangtua berselisih gara2 aku.

    Sangat jelas juga aku bukan Tuhan, tapi manusia menyembah aku spt Tuhan, bahkan kerap kali hamba2 Tuhan lebih menghormati aku, padahal Tuhan sudah pesan jgn jadi hamba uang..

    Seharusnya aku melayani manusia, tapi kenapa malah manusia mau jadi budakku?

    Aku tdk pernah mengorbankan diriku untuk siapa pun, tapi banyak orang rela mati demi aku.

    Perlu aku ingatkan, aku hanya bisa menjadi alat bayar resep obat anda, tapi tdk mampu memperpanjang hidup anda.

    Kalau suatu hari anda dipanggil Tuhan, aku tdk akan bisa menemani anda, apalagi menjadi penebus dosa2 anda, anda harus menghadap sendiri kpd sang Pencipta lalu menerima penghakimanNYA.

    Saat itu, Tuhan pasti akan hitung2an dgn anda, APAKAH SELAMA HIDUP ANDA MENGGUNAKAN aku dgn baik, atau sebaliknya MENJADIKAN aku sebagai TUHAN?

    Ini informasi terakhirku:
    Aku TIDAK ADA DI SURGA,
    Jadi jangan cari aku disana.

    Salam sayang,

    Ttd

    U A N G

  • Hidup adalah…

    Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
    Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
    Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
    Hidup adalah tantangan, hadapi itu.
    Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
    Hidup adalah pertandingan, jalani itu.
    Hidup adalah mahal, jaga itu.
    Hidup adalah kekayaan, simpan itu.
    Hidup adalah kasih, nikmati itu.
    Hidup adalah janji, genapi itu.
    Hidup adalah kesusahan, atasi itu.
    Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.
    Hidup adalah perjuangan, terima itu.
    Hidup adalah tragedi, hadapi itu.
    Hidup adalah petualangan, lewati itu.
    Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.
    Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.
    Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.

    SaudaraKu yang paling hina (yang termiskin di antara kaum miskin) ialah mereka :
    • yang lapar dan kesepian – tidak hanya lapar akan makanan, tetapi juga akan Sabda Allah.
    • yang haus dan disingkirkan – tidak hanya untuk segelas air tetapi juga untuk pengetahuan, perdamaian dan kebenaran serta keadilan dan cinta.
    • yang telanjang dan tak dicintai – tidak hanya untuk pakaian, melainkan juga untuk harga diri.
    • yang tak dikehendaki, bayi-bayi yang digugurkan, korban diskriminasi, tuna wisma bukan hanya membutuhkan sebuah rumah dari bata, tetapi juga sebuah hati yang penuh pengertian, melindungi dan
    mencintai.
    • orang miskin yang sakit, sekarat dan para tahanan, juga yang sakit jiwanya, tak bersemangat hidup.
    • semua yang telah kehilangan harapan dan iman.
    • pecandu obat bius dan minuman keras.
    • dan mereka semua yang telah kehilangan Tuhannya (bagi mereka Tuhan adalah masa lampau, padahal Tuhan selalu ada) dan mereka yang telah kehilangan harapan akan kekuatan Roh.

    “Dalam hidup ini, kita tidak dapat melakukan hal yang besar, kita hanya dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar.
    In this life, we cannot do great things. We can only do small things with great love.”

  • [Gambar] Semua Pilihan adalah Salah

    Apapun pilihan kita, pasti akan ada saja orang yang melihat sisi negatif dari kita. Jadi jujurlah kepada diri sendiri, dan pilihlah apa yang kamu yakini benar 🙂

  • [Gambar] I am blesses

    I’ve seen better days, but I’ve also seen worse.
    I don’t have everything that I want, but I do have all I need.
    I woke up with some aches and pains but I woke up.
    My life may not be perfect but I am blessed.

  • Terima Kekurangan-Kekurangan Anda

    Mari saya mulai dengan salah satu cerita kesukaan saya

    Pada suatu hari dalam perjalanan pulang, seorang wanita berjalan di tepi jalan.  Ia melihat seekor burung kakaktua di jendela sebuah toko hewan peliharaan.  Dengan melihat kepada wanita itu, si kakaktua
    berkata, “Ibu, Anda jelek sekali!”. Merasa terkejut, wanita itu berjalan pergi dengan perasaan tersinggung. Hari berikutnya, ia berjalan di jalan yang sama lagi.  Ia melihat lagi kakaktua yang mengintip lewat jendela toko.  Dan hampir pasti, ketika kakaktua itu melihatnya, kakaktua itu berkata, “Ibu, Anda jelek sekali!”

    Wanita itu tidak tahan lagi. Ia menerobos ke dalam toko dan berkata pada pemilik toko, “Burung Anda telah berkata pada saya bahwa saya jelek.  Sebaiknya Anda melakukan sesuatu terhadap kakaktua itu. Kalau besok saya lewat di sini, dan burung itu mengatakan hal yang sama tentang saya, saya akan menuntut Anda!”  Pemiliknya meminta maaf dengan sungguh-sungguh dan berkata, “Hal itu tidak akan terjadi lagi, Bu.” Hari berikutnya, ia berjalan pulang di jalan yang sama.  Sekali lagi, ia melihat kakaktua itu, dan kakaktua itu melihatnya.  Ia berhenti dan dengan tatapan dingin bertanya, “Ya?” Burung itu, sambil berjalan mondar-mandir, berkata, “Anda tahu.”

    Anda Tidak Perlu Menjadi Sempurna
    Untuk Mencintai Diri Sendiri

    Teman, banyak dari kita memiliki seekor kakaktua dalam diri kita yang mengatakan pada kita, “Anda jelek.” Kita memiliki seekor kakaktua dalam diri kita yang kita bawa ke mana-mana, kejam dan kasar.  Sebenarnya kita tidak lagi membutuhkan iblis untuk menuduh dan menyumpahi kita ke Neraka.  Karena kita sendiri melakukannya. Perasaan-perasaan malu ini membawa kita kepada ketergantungan kita. Teman, bakar kakaktua dalam diri Anda.  (Lebih baik lagi, goreng dia dengan minyak zaitun, sedikit bawang putih, dan cabe.)

    Mulai katakan pada diri Anda kebenaran: Bahwa Anda adalah anak Tuhan dan indah di luar yang dapat dibayangkan. Dan bahwa Tuhan bahkan akan memakai kelemahan Anda yang terburuk. Ingat:  Anda tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai.

    Kelemahan Anda Adalah Sebuah Anugerah

    Dalam Alkitab, Santo Paulus berbicara sombong tentang “Duri dalam Daging”-nya. Itu adalah kelemahannya. Tapi apapun itu, tentang kelemahan ini, ia mengatakan kalimat yang kekal dan membingungkan ini.  “Penyakit itu diberikan untuk memukul saya supaya saya tidak menjadi sombong. Tiga kali saya berdoa kepada Tuhan supaya penyakit itu diangkat dari saya. Tetapi Tuhan menjawab, “Aku mengasihi engkau dan itu sudah cukup untukmu; sebab kuasaKu justru paling kuat kalau kau dalam keadaan lemah.” (2Korintus 12:7-10 ~ Alkitab Terjemahan Sehari-hari). Bagaimana mungkin kelemahan Anda menjadi anugerah?

    Kelemahan Anda Memberkati Anda Dalam 3 Cara Besar

    Pertama, kelemahan saya membuat saya rendah hati.  Kelemahan itu membuat saya jauh lebih bergantung pada Tuhan.  Dan saya melihat bagaimana Dia memakai saya dengan luar biasa sekalipun saya memiliki banyak kelemahan!  Itulah sebabnya Alkitab berkata, apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat.  (1Korintus 1:27)

    Kedua, kelemahan saya membuat saya lebih berbelas kasih terhadap orang lain.  Saya percaya bahwa seseorang yang dengan mudahnya menghakimi orang lain belum menerima kelemahan-kelemahannya sendiri. Jika sudah, ia tidak akan bersikap menghakimi. Tapi karena ia belum, ia memproyeksikan kemarahannya terhadap diri sendiri kepada orang lain.

    Ketiga, kelemahan saya menghubungkan saya dengan orang lain dengan suatu cara yang tidak dapat dilakukan oleh yang lain.  Ketika saya membagikan kisah masa lalu saya dan keterikatan saya kepada seseorang, saya menanggalkan pertahanan diri saya dan menjadi terbuka terhadapnya.  Dengan cara ini, saya juga memberi ijin pada orang itu untuk juga menanggalkan pertahanan dirinya.

    Teman, bersyukurlah pada Tuhan atas kelemahan Anda, pergumulan Anda, dan masalah Anda. Semua itu adalah anugerah luar biasa yang akan memberkati Anda dan orang lain.

    Semoga impian Anda menjadi kenyataan,

    Bo Sanchez
    (Diterjemahkan oleh: Jessica Jeanne Pangestu)

  • 3 Level Kebahagiaan: Menantang, Mengakomodasi, dan Santai

    Mari kita berbicara tentang sebuah misteri. Kita menghabiskan banyak waktu dengan televisi. Menonton televisi mungkin merupakan kegiatan menghabiskan waktu terpopuler di dunia dan merupakan kegiatan yang paling banyak memakan waktu kita, setelah tidur dan kerja. Di Amerika Serikat, orang menghabiskan waktu lebih dari empat jam sehari untuk menonton televisi. Menonton acara yang bagus bisa menjadi sumber kepuasan yang besar. Namun, biasanya gonta-ganti siaran adalah kegiatan yang paling sering dilakukan, yang sebenarnya tidak banyak menambah kebahagiaan kita – tapi kita tetap menonton juga. Jadi bagaimana televisi bisa masuk ke dalam konsep kebahagiaan?

    Untuk menjawab pertanyaan ini, aku akan membagi “kebahagiaan” dalam tiga tipe:
    1. Kebahagiaan yang menantang
    2. Kebahagiaan dalam mengakomodir
    3. Kebahagiaan yang santai

    Kebahagiaan yang menantang adalah kebahagiaan yang paling besar efeknya, dan yang paling banyak menuntut. Belajar untuk bermain golf misalnya, adalah kebahagiaan yang menantang. Pertama kamu harus belajar tentang peralatan, aturan, istilah, dan gerakannya. Kamu merasa frustasi. Kamu harus melakukan banyak hal. Kegiatan ini membutuhkan banyak waktu untuk bisa menguasainya. Tapi lama kelamaan, kegiatan ini menjadi menyenangkan. Kamu berada di luar rumah, bersama teman-teman, kamu semakin ahli dalam bermain, kamu pergi ke tempat-tempat baru – dan itu menyenangkan! Kebahagiaan yang menantang membutuhkan kesabaran, waktu, tenaga, keuletan, dan pemikiran masa panjang.

    Yang biasanya lebih tidak menantang, tapi masih membutuhkan usaha dalam mengerjakannya adalah kebahagiaan dalam mengakomodir. Pergi ke kebun binatang dengan keluarga adalah kebahagiaan tipe ini. Pergi ke acara keluarga, pergi ke acara kantor, pergi makan dan nonton dengan teman-teman, semua membutuhkan akomodasi. Kamu memperkuat hubungan, menciptakan kenangan, bersenang-senang – mungkin tidak sebahagia kalau kamu bisa menentukan segala-galanya. Kebahagiaan tipe ini membutuhkan banyak tenaga, pengaturan, kerjasama dengan orang lain, dan (yang pasti) akomodasi.

    Kebahagiaan yang santai bisa dibilang tidak membutuhkan usaha. Kebahagiaan ini menyantaikan kita. Dia hanya membutuhkan sedikit tenaga. Kamu tidak harus mengasah kemampuan atau melakukan banyak kegiatan. Sedikit sekali kerjasama dengan orang lain atau persiapan yang dibutuhkan. Duduk di pinggir kolam renang, membaca majalah, dan menonton televisi adalah contoh kebahagiaan yang santai.

    Kebahagiaan yang menantang dan kebahagiaan yang mengakomodir, dalam jangka panjang, membawa lebih banyak kebahagiaan, karena mereka adalah sumber dari elemen-elemen yang membuat orang menjadi lebih bahagia: ikatan pribadi yang kuat, keahlian, dan suasana bertumbuh. Kebahagiaan yang santai lebih pasif.

    Jadi kalau kebahagiaan yang santai membawa paling sedikit kebahagiaan, kenapa menonton televisi sangat populer? Karena ketikaa kita mendapat banyak kesenangan dari kesenangan tipe 1 dan tipe 2, kita juga harus mengeluarkan usaha yang banyak. Kebanyakan aktifitas yang menghasilkan banyak kebahagiaan akan membutuhkan banyak tenaga, waktu, dan perencanaan. Tapi pada akhirnya, mereka akan membawa banyak kebahagiaan. Jadi untuk meningkatkan kebahagiaan anda, jika kebanyakan waktu anda diisi dengan kebahagiaan yang santai, cobalah untuk menambahkan beberapa aktivitas menantang atau aktivitas mengakomodir di dalamnya.

    Kegiatan tipe mana yang kamu pasti lakukan di dalam harimu? Apakah kamu kesulitan membatasi waktu nontonmu (atau waktu dengan layar-layar yang lain)?

    Sumber The Happiness Project

  • Pandangan Gereja Katolik Mengenai Fenomena “Mujizat” di Naju dan Medjugorje

    Peringatan!!! Tulisan ini berisi materi mengenai agama Katolik. Mohon maaf bagi pembaca dari agama lain.

    Aku baru menemukan tulisan menarik di situs Katolisitas mengenai “mujizat” di Naju dan Medjugorje. Kenapa aku menulisnya sebagai “mujizat”? Karena sampai sekarang, peristiwa di Medjugorje masih dalam pemantauan dan penyelidikan Vatikan, sehingga belum bisa dipastikan apakah peristiwa-peristiwa yang diklaim itu adalah mujizat dari Allah atau sebuah buatan manusia. Sedangkan untuk kasus di Naju, Vatikan sudah dengan resmi mengeluarkan pernyataan bahwa kejadian itu adalah buatan manusia belaka dan bukan sebuah mujizat.

    Ulasan oleh Katolisitas mengenai fenomena Julia Kim di Naju, Korea Selatan

    Ulasan dari Katolisitas mengenai fenomena Medjugorje

    Untuk yang belum tahu mengenai 2 kasus ini, bisa membacanya melalui tautan diatas. Jangan lupa membaca bagian komentarnya, karena beberapa informasi tambahan terdapat disana juga.

    Sebagai pembanding, kalian bisa membaca cerita mengenai Santa Bernadetha dari Lourdes di tautan ini.

    Sebagai intinya saja, banyak sekali orang yang mengaku bahwa mereka mendapatkan wahyu pribadi dari Allah. Bagaimana cara kita menanggapinya? Secara resmi, kita harus menunggu ketetapan resmi dari Vatikan, karena mereka akan melakukan penyelidikan mendalam, yang diisi anggota-anggota yang mempunyai kemampuan discernment (mengartikan wahyu dari Tuhan). Tapi apa yang bisa kita pribadi lakukan agar tidak terjebak selagi menunggu ketetapan Vatikan? Ada dua hal yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan sebelum mempercayai “mujizat” tersebut:
    1. Semua wahyu dari Tuhan pasti tidak akan bertentangan dengan ajaran-ajaranNya. Ketika ada sebuah wahyu yang menyimpang dari ajaranNya, maka kita harus mulai waspada.
    2. Bagaimana tindakan si penerima wahyu setelah dia menyebarkan wahyu tersebut? Apakah dia lebih tekun lagi dalam melayani Tuhan, atau dia lebih tekun mencari ketenaran? Ada pepatah yang berkata “Jangan percayai ucapan seseorang, tetapi percayai tindakannya. Tindakannya mencerminkan maksud sesungguhnya.” Sebagai pembanding, lihat lah tindakan Santa Bernadette ketika dia mendapat pewahyuan. Dia tidak berusaha melawan gereja yang kala itu belum mengakui wahyu yang diterimanya. Walau mendapat banyak cibiran dan hinaan, dia tidak melawan. Dia tetap bertekun dalam Allah, dan memilih masuk biara. Hasilnya? Allah bekerja melalui dirinya, baik semasa hidup mau pun ketika dia sudah meninggal. Belum ada yang bisa menjelaskan kenapa jasad Santa Bernadetha sampai sekarang tidak membusuk sama sekali? Dia tampak seperti sedang tidur.

    Ada sebuah kalimat menarik dari sebuah pembaca di artikel Katolisitas. Dia berkata “Jangan lah mencari jauh-jauh kalau mau melihat mujizat. Bagaimana alis dan bulu mata kita tidak tumbuh semakin panjang seperti rambut di kepala kita? Bagaimana kita bisa bangun setiap pagi? Masih banyak mujizat yang dilakukan Tuhan di dalam kehidupan kita, tapi kita yang tidak menyadarinya”

    Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua yang membaca 🙂