Peringatan!!! Tulisan ini berisi materi mengenai agama Katolik. Mohon maaf bagi pembaca dari agama lain.
Aku baru menemukan tulisan menarik di situs Katolisitas mengenai “mujizat” di Naju dan Medjugorje. Kenapa aku menulisnya sebagai “mujizat”? Karena sampai sekarang, peristiwa di Medjugorje masih dalam pemantauan dan penyelidikan Vatikan, sehingga belum bisa dipastikan apakah peristiwa-peristiwa yang diklaim itu adalah mujizat dari Allah atau sebuah buatan manusia. Sedangkan untuk kasus di Naju, Vatikan sudah dengan resmi mengeluarkan pernyataan bahwa kejadian itu adalah buatan manusia belaka dan bukan sebuah mujizat.
Ulasan oleh Katolisitas mengenai fenomena Julia Kim di Naju, Korea Selatan
Ulasan dari Katolisitas mengenai fenomena Medjugorje
Untuk yang belum tahu mengenai 2 kasus ini, bisa membacanya melalui tautan diatas. Jangan lupa membaca bagian komentarnya, karena beberapa informasi tambahan terdapat disana juga.
Sebagai pembanding, kalian bisa membaca cerita mengenai Santa Bernadetha dari Lourdes di tautan ini.
Sebagai intinya saja, banyak sekali orang yang mengaku bahwa mereka mendapatkan wahyu pribadi dari Allah. Bagaimana cara kita menanggapinya? Secara resmi, kita harus menunggu ketetapan resmi dari Vatikan, karena mereka akan melakukan penyelidikan mendalam, yang diisi anggota-anggota yang mempunyai kemampuan discernment (mengartikan wahyu dari Tuhan). Tapi apa yang bisa kita pribadi lakukan agar tidak terjebak selagi menunggu ketetapan Vatikan? Ada dua hal yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan sebelum mempercayai “mujizat” tersebut:
1. Semua wahyu dari Tuhan pasti tidak akan bertentangan dengan ajaran-ajaranNya. Ketika ada sebuah wahyu yang menyimpang dari ajaranNya, maka kita harus mulai waspada.
2. Bagaimana tindakan si penerima wahyu setelah dia menyebarkan wahyu tersebut? Apakah dia lebih tekun lagi dalam melayani Tuhan, atau dia lebih tekun mencari ketenaran? Ada pepatah yang berkata “Jangan percayai ucapan seseorang, tetapi percayai tindakannya. Tindakannya mencerminkan maksud sesungguhnya.” Sebagai pembanding, lihat lah tindakan Santa Bernadette ketika dia mendapat pewahyuan. Dia tidak berusaha melawan gereja yang kala itu belum mengakui wahyu yang diterimanya. Walau mendapat banyak cibiran dan hinaan, dia tidak melawan. Dia tetap bertekun dalam Allah, dan memilih masuk biara. Hasilnya? Allah bekerja melalui dirinya, baik semasa hidup mau pun ketika dia sudah meninggal. Belum ada yang bisa menjelaskan kenapa jasad Santa Bernadetha sampai sekarang tidak membusuk sama sekali? Dia tampak seperti sedang tidur.
Ada sebuah kalimat menarik dari sebuah pembaca di artikel Katolisitas. Dia berkata “Jangan lah mencari jauh-jauh kalau mau melihat mujizat. Bagaimana alis dan bulu mata kita tidak tumbuh semakin panjang seperti rambut di kepala kita? Bagaimana kita bisa bangun setiap pagi? Masih banyak mujizat yang dilakukan Tuhan di dalam kehidupan kita, tapi kita yang tidak menyadarinya”
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua yang membaca 🙂
Leave a Reply