Author: stefano

  • Pendidikan, Antara Budaya Menghukum dan Merangsang Minat Siswa

    Lime belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

    BUDAYA MENGHUKUM

    Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

    “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

    “Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

    Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa
    depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

    ***

    Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

    Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

    Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

    MELAHIRKAN KEHEBATAN

    Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah. Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.

    Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

    Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti..

    Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI).

  • Rahasia Di Balik Doa

    Αdα seseorang pemuda yg rajin berdoa, minta sesuatu sama Tuhan. Tapi doa tak kunjung terkabul. Sebulan menunggu masih belum terkabul juga. Tetap dia setia berdoa. Tiga bulan juga belum. Tetap dia setia berdoa. Hingga hampir 1 tahun dia berdoa, belum terkabul juga.

    Dia melihat teman kantornya. Orangnya biasa saja. Tak istimewa. Ibadah ke gereja pun jarang. Kelakuannya juga sering nggak beres, sering menipu, bohong sana-sini. Tapi anehnya, apa yg dia doain, semuanya dipenuhi. Pemuda ini pun heran. Akhirnya, dia pun datang ke seorang pendeta. Ceritalah dia permasalahan yg sedang dihadapi. Tentang doanya yg sulit terkabul padahaal dia taat dan setia, sedangkan temannya yg bandel, malah dapat apa yg dia inginkan.

    Tersenyumlah pendeta ini. Bertanyalah si pendeta ke pemuda ini: “Kalau anda lagi duduk di warung, kemudian datang pengamen, tampilannya urakan, maen musik gak bener, suara fals, bagaimana?” Pemuda tadi menjawab, “segera saya kasih pak pendeta, gak nahan ngeliat dan dengerin dia lama2 disitu, sambil nyanyi pula.”

    Pendeta bertanya lagi, “kalau pengamennya rapi, main musiknya enak, suaranya merdu, bawain lagu yg kamu suka, bagaimana?” Pemuda ini pun menjawab, “wah kalo itu saya dengerin pak pendeta. Saya biarin dia nyanyi sampai habis. Lama pun tidak masalah. Kalau perlu saya suruh nyanyi lagi. Nyanyi sampai sealbum pun saya rela dengerinnya. Kalau pengamen urakan tadi saya kasih 500, yang ini 100rb pun saya rela.”

    Pak pendeta tersenyum. “Begitulah nak, Tuhan ketika melihat engkau yang taat dan setia datang menghadapNya, Tuhan betah dengarin doamu. Melihat kamu. Dan Tuhan pengen sering ketemu kamu dalam waktu yg lama. Buat Tuhan, ngasih apa yg kamu mau itu gampang betul. Tapi Dia pengen nahan kamu lebih lama, biar lebih intim sama Dia. Coba bayangin, kalo doamu cepat dikabulin, apa kamu bakal sedekat ini? Dan dipenghujung nanti, apa yg kamu dapatkan jauh lebih besar dari apa yg kamu minta & indah pd wkt NYA. Percaya & sabar.”

  • Mempercayai Kebutuhan Anda

    MEMPERCAYAI KEBUTUHAN ANDA
     
    Beberapa tahun lalu, saya punya keyakinan rohani yang tidak waras. Saya percaya bahwa jika saya ingin menjadi seorang yang kudus, saya TIDAK boleh mempercayai kebutuhan saya.  Karena saya memikirkan keinginan saya sebagian besar dari kedagingan, bukan dari Roh Kudus.
    Pesan yang saya terima adalah ini: “Takutlah akan dirimu.  Takutlah akan keinginanmu.  Takutlah akan keegoisanmu.  Jangan percayai dirimu.  Sebaliknya, percayalah kepada Tuhan.  Percayalah kepada kelompokmu.  Percayalah kepada pemimpinmu.  Percayalah kepada jaringan…”  (Inilah sebabnya mengapa ada begitu banyak pelecehan rohani yang terjadi dalam kelompok-kelompok rohani.)
    Oh, hal yang mengerikan untuk dipercaya! Pendeta, pengkotbah, dan pastor senang menekankan pesan ini: “Jangan percayai dirimu!”  Secara langsung atau tidak langsung, mereka akan meminta anggota mereka untuk percaya saja pada kebijakan dan keputusan pemimpinnya.  Secara tidak sengaja, mereka menghasilkan orang-orang yang tidak bertumbuh secara emosional dan rohani, seperti bayi-bayi.
    Bukannya memberi kebebasan, agama malah membelenggu kita menuju ketidakdewasaan.  (Tuhan memanggil kita untuk menjadi seperti anak-anak, bukan kekanak-kanakan.)
     
     
    Tuhan Mempercayai Anda –
    Kapan Anda Akan Belajar Mempercayai Diri Sendiri?

     
    Sebaliknya, kita perlu mendengar sebuah pesan baru. Pesan apa?  Bahwa Anda diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan!  Bahwa Anda tidak hanya baik.  Anda sangat baik!  Jadi percayalah pada diri Anda karena Tuhan mempercayai Anda.  Ia mempercayai Anda dengan menyebut Anda sebagai anakNya.  Ia mempercayai Anda dengan menanamkan KerajaanNya di dalam Anda.  Ia mempercayai Anda dengan berdiam di dalam diri Anda.  Ia mempercayai Anda dengan mengutus Anda menjadi bukti kehadiranNya di dunia.  Ia mempercayai Anda untuk mengasihi dengan cara Ia mengasihi…”
    Wow!  (Percayalah pada saya, ketika saya berdoa, ketika saya membaca Alkitab, ketika saya mendengarkan suara Tuhan di kedalaman hati saya, saya mengatakan “Wow!” berulang-ulang kali.) Dan salah satu cara untuk mempercayai diri Anda adalah dengan mempercayai kebutuhan Anda. Bukan kebutuhan dosa Anda.  (Itu adalah apa yang perlu Anda sangkal.)  Tapi kebutuhan yang benar, sah, dan ditanamkan Tuhan.
    Penuhi kebutuhan-kebutuhan itu.  Bahkan kebutuhan Anda untuk gembira. Beberapa orang memandang semua kesenangan adalah buruk.  Moto mereka: “Jika itu terasa menyenangkan, itu pasti tidak baik.”  Itu tidak benar. Saya percaya hidup yang diberikan Tuhan harus dinikmati dengan maksimal.  Untuk dinikmati dengan sukacita.  Maka cicipilah.  Hiruplah.  Sukai.  Menarilah.  Menyanyilah.  Hiduplah!
    Ketika kita menikmati hidup, kita juga mengijinkan orang lain untuk menikmatinya.  (Pernahkah bertanya-tanya mengapa beberapa orang rohani begitu sombong, mereka tidak membiarkan siapapun untuk menikmati hidup?)
     
    Cintai diri Anda!
     
     
    Apa yang Menguras Anda?
    Singkirkan Itu Jikan Anda Bisa

     
    Saya tidak bermaksud untuk menulis sebuah daftar lengkap tentang bagaimana Anda perlu memperhatikan diri Anda.  (Saya akan melakukannya dalam tulisan panjang lainnya.) Tapi ini sebuah pertanyaan yang saya ingin Anda tanyakan pada diri sendiri: Apa yang menguras Anda? Orang, hal, kegiatan, kelompok, kebiasaan, situasi, dan tempat apa dalam hidup Anda yang menguras sukacita dan hidup dan energi dan kekudusan Anda?  Apa yang mengisap kebahagiaan Anda? Jika itu adalah sesuatu yang merupakan bagian dari tujuan mulia dalam hidup Anda, maka hadapilah.  Tapi jika bukan, singkirkan itu!
    Dengan melakukan itu, Anda akan bertumbuh dan memiliki lebih banyak hidup dan energi untuk hal-hal yang benar yang Tuhan ingin Anda lakukan. Dengan kata lain, saya meminta Anda untuk menentukan batasan-batasan Anda.
     
     
    Kasihi Orang Berdosa Dan Orang Kudus Di Dalamnya
     
    Kita tergoda untuk hanya melihat pendosa di dalam diri kita. Ingatkan diri Anda bahwa juga ada seorang kudus di dalam diri Anda. Pada ulang tahun saya yang lalu, saya mengadakan pesta dengan beberapa teman-teman dekat. Sudah menjadi tradisi kami bahwa kami menghormati orang yang berulang tahun – maka kali itu menjadi giliran saya duduk di kursi panas.
    Saya harus jujur terhadap Anda.  Selalu terasa mengerikan harus dihormati oleh teman-teman selama satu jam – tapi beberapa waktu sesudahnya, saya merasa Tangki Cinta saya terisi penuh.
    Sebagai contoh, seorang teman menceritakan bagaimana saya membantunya di saat ia mengalami kesusahan.  (Saya melakukannya?  Betulkah?)  Seorang teman lain menceritakan bagaimana ia begitu tersentuh oleh belas kasihan saya.  Seorang teman lain menghormati saya karena saya selalu ada di sisinya sekalipun ketika semua orang lain menolaknya.
    Saya berharap ada kamera yang merekam!  Sehingga saya dapat melihat dan mendengarnya lagi – khususnya ketika saya meragukan diri sendiri.  Ketika saya merasa kurang baik.  Ketika saya merasa saya tidak berharga.  (Ya, saya melalui masa-masa itu.) Ini adalah pengalaman yang umum.

    Mari saya akhiri dengan menceritakan sebuah kisah indah yang saya baca dalam seri Chicken Soup…
     
     
    Ingatkan Diri Anda Bahwa Anda Adalah Seorang Kudus Di Dalam
     
    Suatu hari, seorang guru meminta murid-muridnya untuk menuliskan nama-nama murid yang lain di selembar kertas.  “Dan berikan jarak di antara setiap nama,” instruksinya. Ketika mereka selesai, sang guru berkata, “Di bawah setiap nama, ibu ingin kalian menuliskan hal-hal baik yang kalian lihat dalam diri orang itu.”  Dalam sekejap, anak-anak menyibukkan diri dengan tugas itu dan memakan waktu hingga jam pelajaran usai untuk menyelesaikannya. Guru membawa kertas-kertas itu pulang dan menyortir materinya.  Di atas secarik kertas per anak, ia menulis semua kelebihan yang dituliskan oleh teman-teman sekelas mereka. Pada jam pelajaran berikutnya, ia memberikan kertas-kertas itu kepada anak-anak.  Mereka sangat senang membaca surat itu.  “Wow, betulkah saya orang ini?” beberapa dari mereka berseru.
    Bertahun-tahun kemudian, sang guru menerima sebuah telepon.  Salah seorang mantan muridnya, yang telah menjadi seorang prajurit, terbunuh di medan perang.  Bersediakah ia hadir dalam acara pemakaman? Ia pergi dan melihat banyak dari mantan murid-muridnya yang menyampaikan rasa berdukacita kepada keluarga yang ditinggalkan.  Ketika ia berdiri di sisi peti mati, menatap tubuh seorang pria muda berseragam yang sudah tidak bernyawa, seorang wanita parobaya menghampirinya.
    “Apakah Anda guru SD putera saya?”
    “Ya,” katanya, “Anda pasti ibunya.  Saya turut berdukacita.”
    “Saya ingin menunjukkan sesuatu pada Anda,” kata ibu itu.  “Putera saya menyimpan ini dalam dompetnya ketika ia meninggal.” 
    Ia menarik secarik kertas lusuh.  Jelas kelihatan kalau kertas itu telah dilipat dan dibuka berulang kali. Bahkan sebelum membukanya, guru itu sudah tahu apa itu.  Itu adalah secarik kertas yang berisi daftar kebaikan yang dilihat teman-temannya dalam dirinya.  Disimpan dan dibaca selama bertahun-tahun. Pada saat itu, murid-muridnya yang lain sudah berkumpul di sekeliling mereka berdua.
    Seorang pria muda di sisi sang guru berkata, “Ah, saya juga membawa kertas saya ke manapun saya pergi.”
    Seorang wanita di belakang berkata, “Saya masih menyimpan punya saya.  Tersimpan dalam diary saya.”
    Seorang pria lain berkata, “Saya memasang daftar saya di meja saya di rumah.”
    Seorang wanita lain berkata, “Kelihatannya kita semua menyimpan kertas itu selama ini!”
    Sang guru tersentuh tanpa dapat berkata-kata. Mengapa secarik kertas sederhana itu begitu berarti? Karena inilah kebenarannya:  Hidup dapat terasa kasar.  Pada berbagai waktu, bahkan dapat terasa kejam.  Setiap kali kita gagal, setiap kali kita menerima kritik, setiap kali kita ditolak, kita meragukan apakah kita berharga.  Kita meragukan kebaikan kita. Kita sangat membutuhkan cinta. Kita perlu mengasihi orang kudus dalam diri kita.

    Teman, cintai diri Anda. Setiap hari, rayakan kelebihan dalam diri Anda.  Rayakan kebaikan Anda.  Rayakan keindahan diri Anda. Bersyukurlah pada Tuhan untuk betapa indahnya Ia menciptakan Anda. Kasihi orang berdosa dan orang kudus di dalamnya.
     
    Semoga impian Anda menjadi kenyataan,

    Bo Sanchez

    (Diterjemahkan oleh: Jessica Jeanne Pangestu)
     

  • Siswi hamil dilarang ikut UN, siswi narkoba masih boleh ikut UN?

    Aku baru saja menonton acara debat di salah satu stasiun televisi swasta. Topiknya cukup menarik (walau kasusnya sudah ada sejak lama) “Siswa/i yang hamil atau sudah nikah dilarang ikut UN”. Aku gak akan membahas kasus ini dari unsur etika, karena aku setuju bahwa tindakan mereka sudah jelas merupakan dosa.

    Yang mau aku bahas adalah bagaimana kita tidak konsisten dalam melakukan suatu aturan. Contohnya adalah artikel berita ini. Apakah hubungan seksual di luar nikah melanggar etika? Ya. Apakah siswa/i menggunakan narkoba atau mencuri, itu melanggar etika? Ya juga kan? Jadi kenapa yang satu dilarang UN, sedang yang lainnya boleh mengikuti UN, walau tempatnya di dalam penjara?

    Perlu kita ingat bahwa ketika kita masih muda, kita kadang-kadang masih labil, nilai etika dan norma kita kadang masih belum begitu jelas, kita masih muda dipengaruhi oleh berbuat yang tidak pantas. Mari kita kembali ke tujuan utama pendidikan. Apa sih tujuan utama pendidikan? Bukan kah tujuannya adalah “untuk membimbing dan menuntun murid didiknya agar mampu berkembang menjadi orang yang baik budi pekertinya dan memiliki pengetahuan yang cukup untuk berkarya di dunia”? Bagaimana kalau ada siswa yang berbuat salah? Apakah kita langsung saja mencampakkan mereka, menutup masa depan mereka?

    Beruntunglah menteri pendidikan mengijinkan siswa/i yang terkena kasus tersebut untuk mengikuti UN. Semoga sekolah-sekolah di seluruh wilayah Indonesia bisa mematuhi himbauan menteri tersebut. Dan juga sebenarnya di dalam aturan UN, tidak pernah ada larangan bagi siswa/i yang hamil atau sudah nikah untuk dapat mengikuti UN.

    Aku jadi ingat sebuah ucapan dari Yesus “Bukan orang sehat yang membutuhkan dokter, melainkan orang sakit”. Pada saat ada anak yang terjerat kasus, baik kasus pencurian, narkoba, hamil di luar nikah, atau yang lainnya, harusnya ini adalah waktu bagi pihak sekolah dan keluarga untuk lebih memberikan perhatian kepada siswa tersebut, bukannya malah mengeluarkan dia dari sekolah. Aku tidak bilang bahwa mereka tidak boleh diadili. Biarkan proses peradilan berjalan, tapi jangan sampai masa depan mereka tertutup cuma karena itu. Manusia jatuh dalam dosa itu wajar. Tapi bagaimana manusia bersikap setelah itu, itu lah yang penting. Mereka masih bisa bertobat. Jangan lah karena satu kesalahan saja, masa depan mereka tertutup. Jika Tuhan saja tidak menghakimi mereka, kenapa kita berhak menghakimi mereka?

    Itu menurutku. Bagaimana menurut anda?

  • Apakah Orang Katolik Menyembah Patung?

    Aku rasa hal ini banyak kita dengarkan dari orang-oran non Katolik, yang mengatakan bahwa orang Katolik menyembah patung.

    Aku menemukan artikel bagus yang menjelaskan dengan bagus argumen untuk menjawab tuduhan tersebut. Beberapa poin penting yang aku rangkum:
    1. Patung Bunda Maria, patung Yesus, patung santo/santa, dkk sebenarnya dibuat agar kita mengingat pribadi yang tergambar, bukan untuk disembah. Kalau itu tidak boleh, lalu mengapa kita boleh memasang foto keluarga, foto pacar, atau foto teman-teman kita? Apakah itu berarti kita menyembah teman-teman kita? Bagaimana dengan patung proklamasi yang merupakah perwujudan Sukarno-Hatta? Apakah kita menyembah Sukarno-Hatta? Tidak bukan? Selama tujuan kita adalah demi memudahkan kita dalam mengingat pribadi dan perbuatan-perbuatan baik yang dibuat orang tersebut, tidak ada yang salah.
    2. Sebenarnya kalau kita mau melihat Perjanjian Lama, Allah sendiri menggunakan patung sebagai simbolisasi Allah. Di Tabut Allah, dibuat dua buah patung kerub yang melambangkan kebesaran Allah. Ada juga kisah Musa yang membuat patung ular sebagai peringatan akan dosa umat Israel.

    Jadi sikap umat Katolik adalah jelas, kita menolak menyembah patung-patung apa pun. Yang kita lihat dari patung-patung atau pun gambar-gambar yang ada adalah pribadi yang digambarkan.

    Untuk lebih lengkapnya, silahkan membuka tautan diatas untuk membaca artikel lengkapnya.

  • Perihal Penghormatan Kepada Leluhur

    Begitu banyak budaya di dunia ini yang mengajarkan kita tentang penghormatan kepada leluhur. Aku akan sedikit menjabarkan budaya tionghoa tentang penghormatan leluhur, yang dikenal dengan Tradisi Cheng Beng, dimana orang tionghoa pergi membersihkan kuburan leluhur, bersembayang sambil memberikan sesajian dan membakar uang kertas.

    Apa sih pandanga gereja mengenai penghormatan leluhur ini? Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan:
    1. Gereja Katolik memang mengajarkan kita untuk mendoakan arwah orang yang meninggal. Tapi perlu diingat apa isi doa kita. Gereja mengingatkan kita untuk mendoakan arwah-arwah agar mereka cepat melalui api penyucian, dan segera bersatu dengan Tuhan di Surga.

    2. Apakah kita boleh meminta arwah-arwah untuk mendoakan kita? Ya, boleh saja, asalkan kita menganggap mereka sebagai perantara doa kita kepada Tuhan. Ingat, Tuhan lah yang akan mengabulkan permohonan-permohonan kita, dan bukan arwah-arwah itu.

    3. Apakah kita boleh memberikan sikap penghormatan kepada foto, plakat nama, atau peti jenazah? Ya, boleh saja, selama tidak disertai dengan membakar dupa atau hio. Dupa atau hio di dalam Gereja, hanya boleh dibakar kepada seseorang yang amat agung, dalam hal ini Allah.

    4. Apakah kita boleh memberikan buah atau makanan di depan plakat nama atau di kuburan? Ya boleh saja, selama makna pemberian buah atau makanan adalah hanya sebagai simbol hidup baru, sama seperti ketika kita memberikan karangan bunga.

    5. Apakah kita diperbolehkan membakar uang kertas, rumah kertas, atau barang-barang lain seperti tradisi awal tionghoa? Tidak boleh, karena pembakaran ini mempunyai makna tahyul.

    Masih banyak lagi budaya-budaya di dunia sehubungan dengan penghormatan kepada leluhur. Pada intinya, Gereja tidak melarang umatnya melakukan budaya-budaya tersebut, selama tidak melanggar iman Katolik. Ingat, Tuhan sendiri berkata “Hormatilah orang tuamu”. Membersihkan kuburannya, mendoakan agar mereka cepat masuk Surga, masih dalam batas-batas kewajaran bakti seorang anak kepada orang tuanya. Tapi jangan lebih dari pada itu, seperti mensakralkan kamar tempat tidurnya dahulu. Mereka sudah tenang di alam lain, jangan lah kita berusaha menahan-nahan mereka di dunia ini.
    Semoga tulisan ini bermanfaat.

  • Apakah anda sudah siap meninggal?

    Hari ini ada kejadian mengejutkan di lingkungan teman-teman orang tuaku. Ada salah satu temannya yang meninggal. Dua hari lalu dia tiba-tiba jatuh di kamarnya, dan tadi siang meninggal dunia. Cukup mengejutkan karena aku masih ketemu dengan dia hari sabtu sebelum misa Sabtu suci. Bahkan ada yang bertemu dengan dia hari Selasa ketika melayat di meninggalnya orang lain. Sebuah bukti bahwa tidak ada yang bisa tahu kapan kita akan dipanggil Tuhan.

    Pertanyaannya adalah sudah siapkah kita untuk dipanggil Tuhan? Aku pernah duduk membayangkan, seperti apa sih rasanya meninggal. Aku membayangkan bagaimana kita bisa tiba-tiba saja kehilangan nyawa kita. Ibarat komputer, tanpa melalui proses shut down yang normal, tapi langsung dicabut kabel listriknya. Jujur aku merasa seram juga. Seram apakah aku udah cukup “menabung” upah Surgaku. Apa artinya uang, rumah, emas, kekuasaan, gelar, kalau pada akhirnya, semua itu akan kita tinggalkan kelak?

    Aku rasa artikel ini bagus sebagai referensi kita. Janganlah kita melihat kematian sebagai sebuah bencana, tapi mari kita melihatnya sebagai undangan untuk bertemu Yesus secara langsung. Selama ini kita hanya bertemu dengan Yesus melalui Alkitab, melalui doa, melalui bantuan-bantuan visual dan audio, tapi kenapa kita tidak senang ketika diijinkan bertemu langsung dengan Dia?

    Jujur saja, kematian masih merupakan konsep yang menakutkan buat aku. Tapi mari kita bersama-sama mengubah pikiran kita.

  • Pacaran tidak seiman, bolehkah?

    Aku rasa banyak dari kita yang mengalami hal ini, apapun agama kita. Memang sekarang, di era keterbukaan dan kebebasan, agama tidak lagi dilihat sebagai pembatas sebuah hubungan. Tapi apakah pandangan Gereja Katolik mengenai hal itu?

    Pada intinya, ada beberapa hal penting untuk untuk kamu pikirkan:
    1. Apakah kamu yakin bisa mempertahankan kualitas imanmu? Apakah dengan berpacaran atau sampai menikah dengan orang yang tidak seiman, kamu yakin kualitas imanmu tidak terganggu? Ketika dua orang yang tidak seiman bersatu, akan ada perbedaan-perbedaan dalam nilai hidup. Nah, bagaimana cara kalian menyikapi perbedaan itu? Biasanya yang dilakukan adalah berkompromi. Dengan berkompromi, berarti salah satu atau kalian berdua harus sedikit menyimpang dari ajaran masing-masing.

    2. Pernikahan menurut Katolik adalah proses menyatukan dua orang menjadi satu didalam Tuhan. Pernikahan sebegitu sakralnya sehingga yang sudah disatukan Tuhan, tidak bisa lagi dipisahkan oleh manusia. Apa yang terjadi ketika kedua orang tersebut memiliki pandangan yang berbeda mengenai pernikahan? Setahuku, agama-agama lain tidak ada yang memiliki konsep pernikahan seketat Katolik. Mereka mengijinkan adanya perceraian dan kawin ulang.

    3. Apa yang akan kamu lakukan dengan anak-anakmu kelak? Ajaran apa yang akan kamu ajarkan kepada mereka? Kalau kamu beriman Katolik, berarti kamu yakin kalau Katolik bisa membawa kita lebih dekat kepada Allah dibanding agama lain, walau agama lain pun bisa saja membawa mendekat kepada Allah. Apakah kamu hendak meneruskan imanmu kepada anakmu, atau kamu membiarkan saja dia diajari iman yang menurutmu tidaklah sebagus Katolik? (asumsinya orang tua akan selalu menginginkan yang terbaik bagi anak)

    Pada akhirnya, kalau kalian merasa yakin bisa melewati semua itu, ya gereja pun tidak bisa melarang, karena memang tidak ada larangan bahwa orang Katolik tidak boleh menikah dengan orang non-Katolik.

    Sumber Katolisitas

  • Kenapa anjing hidup lebih singkat dibandingkan manusia

    WHY DOGS LIVE LESS THAN HUMAN ? ANSWER OF A 6 YEAR OLD

    Being a veterinarian, I had been called to examine a ten-year-old Irish Wolfhound named Belker. The dog’s owners, Ron, his wife Lisa, and their little boy Shane, were all very attached to Belker, and they were hoping for a miracle.

    I examined Belker and found he was dying of cancer. I told the family we couldn’t do anything for Belker, and o
    (more…)

  • Asal Mula Istilah Easter

    Memang ada orang yang menduga bahwa Easter berasal dari nama dewi Isthar (dari Sumeria) atau dewi Eostre/ Astarte (dari Teutonik). Memang sekilas bunyinya mirip, seperti halnya juga, bahwa besar kemungkinan kata “ Easter” berakar dari kata “Eostur”, yang berarti “musim kebangkitan” (season of rising) yang mengacu kepada musim semi. Maka kata “ Easter” digunakan di Inggris, “Eastur” di bahasa Jerman kuno, sebagai kata lain musim semi. Sedang di negara-negara lain, digunakan istilah yang berbeda: “Pascha” (bagi Latin dan Yunani), ”Pasqua” (Italia), “Pascua” (Spanyol), “Paschen” (Belanda), …dst yang semua ber asal dari kata Ibrani (“Pesach”) yang artinya “Passover”.

    Jika kita melihat kepada bahasa Jerman, kata Ostern (yang artinya Easter) berasal dari kata Ost (east atau terbitnya matahari), dan berasal dari bentuk kata Teutonik yaitu erster (artinya yang pertama/first) dan stehen (artinya berdiri/ stand) yang kemudian menjadi ‘erstehen’ (bentuk kuno dari kata kebangkitan/resurrection), yang kemudian menjadi ‘auferstehen’ (kata kebangkitan dalam bahasa Jerman sekarang). Jadi kata Ester/Eostur dalam bahasa Inggris yang berubah menjadi Easter, adalah setara dengan kata Oster dalam bahasa Jerman yang kemudian menjadi Ostern. Dengan demikian bukan berarti karena sebutan Easter mirip dengan Isthar atau Eostre, maka ucapan “Happy Easter” berkaitan dengan penyembahan berhala. Sebab bagi umat Kristen, perayaan Easter/ Pascha/ Paska itu bersumber dari penggenapan nubuat Perjanjian Lama di dalam kurban Salib Kristus yang memberikan buah Kebangkitan.

    Jangan lupa bahwa sedikit banyak nama hari-hari dalam bahasa Inggris semua dapat dihubungkan dengan asal- usul pagan. Sebab Sunday, berkaitan dengan matahari (Sun), Monday, dengan bulan (moon), Tuesday dengan dewa Tiu, Wednesday dengan dewa Woden, Thursday dengan dewa Thor, Friday dengan Freya, Saturday dengan Saturnus. Jadi jika mau konsisten, sebaiknya mereka yang menolak menyebut Easter, juga menolak semua nama hari dalam bahasa Inggris yang kedengarannya juga berbau pagan.

    Mungkin menarik untuk diketahui bahwa William Tyndale (1494-1536), seorang tokoh pemimpin Protestan, ahli dan penerjemah Kitab Suci yang terkenal, adalah yang pertama kali memasukkan kata “ Easter” di dalam Kitab Suci terjemahan bahasa Inggris, dan bersamaan dengan itu ia juga menyebutkan kata Passover. Jadi penggunaan kata “ Easter” itu bukan ‘penemuan’ Gereja Katolik.

    Selanjutnya perlu diketahui bahwa secara prinsip, Gereja menguduskan hal-hal yang dulunya mengacu kepada pagan, dengan memberi arti/makna baru dan mengkonsekrasikannya kepada Tuhan. Seperti bangunan gereja- gereja pada abad- abad pertama yang tidak mereka bangun sendiri, melainkan dulunya bekas kuil-kuil pagan yang sudah ditinggalkan, lalu dirombak dan disesuaikan dengan prinsip dan kebutuhan ibadah Kristiani, dan dikonsekrasikan kepada Kristus.

    Dengan demikian, tidak perlulah kita risau jika menggunakan kata “ Easter”, karena bagi kita umat Kristiani kata itu tidak mengacu kepada Isthar, tetapi kepada “Eostur”, “erster- stehen/erstehen” yang artinya mengacu kepada kebangkitan, yaitu Kebangkitan Kristus. Jangan lupa bahwa Kitab Suci menyebutkan tanda kelahiran Kristus dengan bintang di timur (Mat 2:2,9) sehingga makna Terang di Timur (East) memperoleh makna yang baru dan sempurna, setelah kelahiran dan terutama Kebangkitan Kristus.

    Sumber Katolisitas.org