Begitu banyak budaya di dunia ini yang mengajarkan kita tentang penghormatan kepada leluhur. Aku akan sedikit menjabarkan budaya tionghoa tentang penghormatan leluhur, yang dikenal dengan Tradisi Cheng Beng, dimana orang tionghoa pergi membersihkan kuburan leluhur, bersembayang sambil memberikan sesajian dan membakar uang kertas.
Apa sih pandanga gereja mengenai penghormatan leluhur ini? Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan:
1. Gereja Katolik memang mengajarkan kita untuk mendoakan arwah orang yang meninggal. Tapi perlu diingat apa isi doa kita. Gereja mengingatkan kita untuk mendoakan arwah-arwah agar mereka cepat melalui api penyucian, dan segera bersatu dengan Tuhan di Surga.
2. Apakah kita boleh meminta arwah-arwah untuk mendoakan kita? Ya, boleh saja, asalkan kita menganggap mereka sebagai perantara doa kita kepada Tuhan. Ingat, Tuhan lah yang akan mengabulkan permohonan-permohonan kita, dan bukan arwah-arwah itu.
3. Apakah kita boleh memberikan sikap penghormatan kepada foto, plakat nama, atau peti jenazah? Ya, boleh saja, selama tidak disertai dengan membakar dupa atau hio. Dupa atau hio di dalam Gereja, hanya boleh dibakar kepada seseorang yang amat agung, dalam hal ini Allah.
4. Apakah kita boleh memberikan buah atau makanan di depan plakat nama atau di kuburan? Ya boleh saja, selama makna pemberian buah atau makanan adalah hanya sebagai simbol hidup baru, sama seperti ketika kita memberikan karangan bunga.
5. Apakah kita diperbolehkan membakar uang kertas, rumah kertas, atau barang-barang lain seperti tradisi awal tionghoa? Tidak boleh, karena pembakaran ini mempunyai makna tahyul.
Masih banyak lagi budaya-budaya di dunia sehubungan dengan penghormatan kepada leluhur. Pada intinya, Gereja tidak melarang umatnya melakukan budaya-budaya tersebut, selama tidak melanggar iman Katolik. Ingat, Tuhan sendiri berkata “Hormatilah orang tuamu”. Membersihkan kuburannya, mendoakan agar mereka cepat masuk Surga, masih dalam batas-batas kewajaran bakti seorang anak kepada orang tuanya. Tapi jangan lebih dari pada itu, seperti mensakralkan kamar tempat tidurnya dahulu. Mereka sudah tenang di alam lain, jangan lah kita berusaha menahan-nahan mereka di dunia ini.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Leave a Reply